Pada Rabu malam, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya, Kyungsoo menyetujui ajakan shopping Baekhyun dan Luhan untuk mencarikan pakaian yang pantas dikenakan Baekhyun saat kencannya.
Hanya butuh lima langkah baginya untuk mencapai toko Gucci di Madison Square dimana mereka akan bertemu sebelum Baekhyun berlari mendekatinya dan mencengkram kerah jaket kulitnya sembari berteriak, "KENAPA KAU TAK BILANG PADAKU KALAU KAU MELAKUKAN ONE NIGHT STAND DE-" ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Kyungsoo menutupi mulutnya dengan tangan mungilnya, sedangkan tangannya yang lain menahan bagian belakang kepala Baekhyun.
"Aku punya alasan." Gumam Kyungsoo. "Sekarang diamlah sebelum kita ditendang keluar." Ia memandang sekeliling dan mendapati bahwa ledakan Baekhyun menarik perhatian pengunjung serta sales-sales di sekitar mereka. Kyungsoo mengabaikan rona merah yang hinggap di leher serta pipinya dan mulai tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tetap meletakkan tangannya pada mulut Baekhyun saat ia mulai berbicara dengan nada bercanda pada semua orang, "Maafkan temanku, semuanya. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan. Hehe! Silahkan bubar!" dengan senyum palsu besar yang tersungging di bibirnya, ia menyeret Baekhyun ke bagian belakang toko, tempat dimana Luhan telah menunggu mereka sembari tertawa terbahak-bahak.
Setelah memastikan orang-orang tidak memperhatikan mereka lagi, Kyungsoo melepaskan tangannya. "What the fuck, Baekhyun!" ia setengah berteriak.
"Kau yang 'what the fuck'! Bagaimana mungkin kau tak pernah memberitahuku tentang apa yang selama ini terjadi padamu dan Jongin?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" Kyungsoo mencoba untuk tetap memelankan suaranya ketika mereka mulai berjalan ke arah toko dengan Luhan mengikuti di belakang.
"Fuckin' Minseok!" jawab Baekhyun kesal.
Seharusnya Kyungsoo menyadarinya dari awal. Walaupun ia kecewa, Kyungsoo tak bisa menyalahkan Minseok karena memberitahukan hal ini pada Baekhyun. Ia memang tak memberitahu Minseok bahwa itu adalah sebuah rahasia, meskipun ia berharap Minseok merahasiakannya.
Kyungsoo melihat sekeliling dengan intens. "Baek, itu hanya one night stand. Itu tak berarti apa-apa. Kau juga pernah melakukannya." Kyungsoo mencoba menjelaskan setenang mungkin.
"Tapi tetap saja, kenapa kau tak memberitahuku?" Baekhyun merengek. "Ini Jongin motherfuckin' Kim!"
Sebelum Kyungsoo sempat membalas, seseorang melerai mereka. "Dengar, kita telah membuang sepuluh menit waktu shopping kita yang berharga dengan semua 'what the fuck' ini. Jadi, kalian berdua sebaiknya diam sebelum aku mematahkan pantat seseorang!" ancam Luhan, tawanya telah hilang ditelan angin dan juga bau Gucci Guilty. Baekhyun dan Kyungsoo tahu bahwa ancaman Luhan tak pernah berakhir baik.
Tatapannya tertuju pada Kyungsoo dan Baekhyun yang kini tengah menunduk. Tak lama kemudian, Kyungsoo mengangguk pada Baekhyun yang juga mengangguk balik.
"Selesai?" tanyanya. (Lebih seperti meminta jika kau tanya Luhan.)
"Selesai." Ujar Baekhyun sembari menjabat tangan mereka. Luhan menarik napas dalam-dalam.
"Baiklah. Sekarang mari kembali ke bisnis!" ucap sang designer dengan nada 'I'll Make a Man Out of You'nya Mulan, moodnya berbalik 180 derajat. "Untuk membuatmu," Luhan menunjuk Baekhyun supaya terlihat dramatis. "tampak seksi." Ucapnya sembari menggoyangkan alisnya.
Baekhyun memutar bola matanya. "Berhati-hatilah. Aku tak ingin kau menyelingkuhi Sehun." Ucapnya acuh tak acuh.
Luhan menatapnya tajam. "Kami tidak berpacaran!"
"Jika kau bilang begitu." Goda Kyungsoo saat ia mulai menelusuri rak demi rak.
Setelah setengah jam mencoba berbagai macam pakaian, Baekhyun menyatakan bahwa mereka hanya membuang-buang waktu di Gucci dan bahwa mereka seharusnya pergi ke tempat lain. Luhan dan Kyungsoo setuju kemudian mereka segera keluar dari toko, mengabaikan pandangan para staff.
Mereka baru saja keluar dari toko ketika berpapasan dengan Zitao yang tampil sempurna seperti biasanya, berbalut jeans putih, kaos putih, dan blazer hitam dengan hiasan emas yang sepertinya ia ciptakan sendiri. Di lehernya terlingkar syal motif leopard. Sebuah topi fedora kulit di kepalanya, serta sepasang high tops berwarna putih dan beige di kakinya. Di kedua tangannya, ia tengah membawa tas belanja bertuliskan Gucci.
"Oh hey Taozi." Sapa Luhan. Zitao menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap teman-temannya dan tersenyum.
"Hi guys!" Ia memberikan ketiga laki-laki itu sebuah pelukan. "Apa yang kalian lakukan?"
Secercik harapan muncul di raut wajah Baekhyun. Jika mereka mencari seseorang untuk membantu mereka memadukan pakaian, Zitao adalah orang yang tepat. Mungkin ia bisa membantu kesulitan kecil mereka. "Mereka membantuku memilih pakaian. Seperti yang kau lihat, aku ada kencan hari sabtu."
Zitao mengangguk mengerti. "Dan kau belum menemukan apapun? Apapun di dalam toko ini?"
"Tidak." Seru Luhan. "Tidak ada yang cocok untuknya. Percayalah padaku Zitao, dari designer satu ke designer lain, Baekhyun bukanlah Gucci."
Zitao berpikir sejenak, ia memperhatikan Baekhyun dari atas ke bawah. "Yeah, kau benar. Dia bukan Gucci. Kau ingin bantuanku? Aku tak punya rencana apapun hari ini."
Baekhyun mengangguk antusias, sampai-sampai kepalanya bisa saja lepas dari lehernya.
"Kris tak akan menunggumu atau semacamnya?" tanya Kyungsoo.
Zitao menggelengkan kepalanya. "Dia ada pemotretan di Brooklyn. Aku punya waktu seharian untuk diriku sendiri." Ia membenahi tas belanjanya. "Sekarang kemarilah. Kita ada kerjaan." Kemudian ia memimpin grup kecil itu menuruni jalanan Madison Square, tampak sebuah tekad dalam matanya.
Sayangnya, jika kau sedang berjalan-jalan dengan dua designer terkenal dan juga seorang penyanyi, maka tak mengherankan jika ada banyak paparazzi membuntutimu. Walaupun hanya ada tiga sampai empat fotografer dan reporter, tak ada satupun dari mereka yang membawa bodyguard dengan mereka sehingga runtutan pertanyaan serta sinar flash menjadi sangat mengganggu.
Jadi, sebagai satu-satunya orang yang tidak terkenal di antara mereka, Kyungsoo memainkan peran sebagai seorang body guard.
"Baekhyun!" panggil seorang reporter. "Bisakah kau menyanyikan satu bait saja dari lagu barumu?"
"Tidak!" teriak Baekhyun tanpa memalingkan mukanya.
"Luhan, apakah kau dan Zitao akan bekerja sama dalam peragaan busana berikutnya?" repoter yang lain bertanya.
"Sebenarnya aku mau saja." Jawab Zitao sembari menoleh ke arah Luhan yang memberinya sebuah senyuman simpul.
Kyungsoo mendorong mundur setiap kamera yang berada terlalu dekat dengan mereka. seorang reporter bertanya padanya, "Dan siapa kau?"
"Seorang teman." Jawabnya kasar. "Bisakah kalian meninggalkan kami sendirian?"
Zitao berbelok dan segera masuk ke dalam Calvin Klein, ketiga laki-laki yang lain mengikuti di belakang. Para reporter telah dipaksa mundur oleh security, namun masih ada beberapa yang membandel dengan mengambil gambar melalui kaca jendela. Zitao memperhatikan sekeliling toko sampai ia menemukan orang yang dia cari.
"Henry! Henry, darling!" panggilnya kepada seorang sales muda yang langsung mengenali mereka.
"Zitao! Bagaimana kabarmu?" mereka berpelukan sejenak sebelum Henry bertanya, "Apa yang bisa aku bantu hari ini?"
"Aku baik-baik saja. Peragaan busana terakhirku berjalan sangat sukses. Tapi bukan itu alasanku kemari. Teman kami, Baekhyun, membutuhkan sedikit bantuan untuk memilih pakaian yang harus ia kenakan untuk ke- Baekhyun, kencan seperti apa yang kau maksud disini?"
"Makan malam dan minum."
Zitao menunjuk pria yang lebih pendek. "Seperti yang ia katakan."
"Oh, mudah saja. Kemarilah," ia menunjuk Baekhyun. "Zitao dan aku akan membuatmu terlihat benar-benar menakjubkan!" Baekhyun memilih untuk mengabaikan pilihan katanya.
Zitao bertepuk tangan dengan semangat. "Ini akan sangat menyenangkan! Oh, dan Henry?"
Pria yang lain bersenandung sebagai jawaban.
"Tidak apa-apa jika kami keluar lewat belakang? Aku tak mau ada kamera yang menghalangi jalanku."
Dua puluh menit setelahnya, Baekhyun mendapatkan baju bermerek baru yang sudah dibayar dan kini telah dibungkus dalam kantong hitam tebal yang ia selipkan di antara kakinya sembari bergerak maju mundur, dihimpit oleh Luhan dan Kyungsoo di bagian belakang taksi, mereka baru saja lolos dari serangan paparazzi. Zitao mengeluh kelaparan, melihat bahwa sekarang waktu telah menunjukkan pukul 7 malam ketika mereka selesai berbelanja, jadi kini mereka sedang dalam perjalanan menuju restaurant mungil di East 80th street.
Luhan menawarkan agar dirinya saja yang membayar ongkos taksinya dan segera setelah itu, mereka telah duduk di sebuah stan kecil yang terpisah dari ruang utama (atas pesanan Zitao yang tampaknya mengenali semua orang di bagian manapun), menu minuman di tangan, kantong belanja di bawah meja, diapit oleh kaki mereka. Zitao telah melepas topi fedoranya, mengacak-acak rambut hitamnya sembari menulusuri menu di tangannya. "Aku ingin segelas Bellini malam ini." Ucapnya sembari meletakkan menu minumannya dan beralih ke menu makanan.
"Bellini kedengarannya bagus. Di luar sangat panas padahal ini baru musim semi." Ucap Luhan, menelusuri menu makanan di tangannya dengan konsentrasi penuh.
"Aku tahu." Baekhyun setuju.
Kyungsoo berdecak. "Karena yang lain ingin minum… aku mau diamond fizz."
Seorang pelayan, yang menurut pendapat mereka sangat mempesona, datang mengambil pesanan mereka dan tak lama kemudian, membawakan minuman mereka. Empat pasang mata memperhatikan dengan intens ketika pelayan itu pergi.
"Ia sungguh mempesona." Ucap Zitao, menyuarakan pikiran semua orang. Ketiga laki-laki yang lain mengangguk.
"Goddamn…" gumam Kyungsoo ketika ia menyesap minuman berwarna putihnya. Minseok bisa membuatnya lebih enak, pikirnya.
"Oh, kenapa, Kyungsoo? Apa kau juga akan jatuh ke tempat tidurnya dengan mudah seperti yang kau lakukan dengan Jongin?" desis Baekhyun.
Zitao hampir saja tersedak dan memuntahkan minumannya sementara Luhan berusaha keras untuk menyembunyikan kejengkelannya yang mana hal itulah yang Kyungsoo rasakan kini.
"Yang benar saja, Baek? Kenapa kau terus saja mengungkit masalah ini?" Kyungsoo memijat keningnya dengan letih.
"Aku akan terus mengungkitnya karena kau tak pernah memberitahuku." Ia mencengkram gelas bellininya lebih kencang.
Kyungsoo mengerang. "Kau tahu? Ini cerita lengkapnya. Suatu malam aku bertemu Jongin Kim di bar Minseok. Aku pergi kesana sendirian, namun tiba-tiba ia datang dan mulai membayar pesananku. Dan setelah semalaman kami bercumbu dan minum-minum, aku pulang ke rumah dengannya dan yeah, kami berhubungan seks." Ia berhenti sejenak untuk melihat ketiga wajah gelisah yang memintanya untuk melanjutkan.
"Aku pergi sebelum ia terbangun dan membuat suatu keputusan fatal dengan meninggalkan nomor teleponku sebagai rasa hormat. Kini, aku bahkan tidak tahu kalau ia akan menelepon ataukah jika ia mungkin tertarik padaku yang mana sepertinya aku benar dan sekarang, ia sedang menungguku untuk meneleponnya balik" ia menyandarkan punggungnya, melihat wajah puas teman-temannya ketika mereka menatapnya dengan mulut ternganga. Ia menunggu salah satu dari mereka berbicara.
Luhanlah yang pertama kali membuka mulut. "kalau dipikir-pikir lagi, ia baru saja putus dengan Krystal."
"Apa?" Kyungsoo segera duduk dengan tegak dalam hitungan detik.
"Oh, benar…" ucap Zitao, ada sesuatu yang aneh dalam ucapannya.
"Guys? Apa yang terjadi? Siapa Krystal itu?"
Luhan memutar bola matanya. "Kyungsoo, kau editor koran. Masa kau tak tahu hal ini sih?"
"Well, mungkin aku melewatkannya." Kyungsoo berbalik menghadap Zitao. "Lanjutkan."
Zitao ragu-ragu untuk sesaat. "Uh, Krystal saat itu adalah… pacar Jongin." ucapnya hati-hati.
Kyungsoo mengernyitkan alisnya. "Pacar? Kukira dia lajang. Siapa lagi Krystal ini?" tanyanya lagi.
"Well," ujar Zitao. "Krystal adalah seorang yang dulu sempat menjadi pacar Jongin. ia pernah menjadi model untuk beberapa peragaan busanaku jadi aku telah bertemu dengannya beberapa kali." Ia mencondongkan badannya mendekat dan berbisik, seolah-olah gadis yang mereka bicarakan ada di dekat mereka. "Dia bisa benar-benar menjadi seorang bitch jika kau memancingnya."
Kembali ke suara asalnya, ia melanjutkan. "Dia terus saja membicarakan bagaimana ia dan Jongin benar-benar saling mencintai satu sama lain. Tapi sebelum kau mengetahuinya, mereka putus dan ia mulai mengamuk dan berteriak-teriak tentang bagaimana Jongin mengakui bahwa ia berselingkuh dengan gadis atau mungkin pria lain di belakangnya. Dan, harus kuakui, Jongin bukanlah seseorang dengan reputasi yang baik dalam hal berpacaran."
"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun, benar-benar larut dalam pembicaraan.
"Maksudku, seperti- um.. Luhan, kau pernah bertemu dengannya juga. Bantu aku."
Luhan kembali bersemangat. "Oh yeah aku pernah. Ia berteman baik dengan Sehun. Menurut dugaanku ia pernah berpacaran selama seminggu, dua minggu mungkin jika beruntung, kemudian ia akan membuangmu begitu saja. Ia juga sering pergi ke club atau bar hanya untuk mencari seseorang yang bisa ia ajak untuk melakukan one night stand dengannya. Kurasa ia hanya ingin sebuah seks yang menakjubkan. Aku tak tahu. Aku belum seberapa mengenalnya, lagipula Sehun tak pernah menyebutkan hal ini."
Seks yang menakjubkan… pikir Kyungsoo. Kata-kata itu sama persis dengan apa yang ia katakan pada Jongin di peragaan busana Zitao.
"Maksudku, ini hanya berdasarkan dengan apa yang beredar di media dan juga menurut apa yang Krystal katakan. Mungkin ia hanya menginginkan sebuah kencan singkat? Kau tahu, pergi kesana kemari, mengencani setiap orang sampai ia menemukan orang yang tepat." Luhan bertanya-tanya.
Namun Kyungsoo sudah tak disana lagi. Pikirannya telah melayang kemana-mana. Bagaimana jika Jongin hanya ingin berhubungan seks dengannya? Bagaimana jika ia sebenarnya tidak menyukai Kyungsoo? Kalau begitu, kenapa ia meneleponnya terus menerus? Apakah ia menyukai Kyungsoo? Well, jika apa yang mereka katakan tadi benar, mungkin Jongin memang tidak menyukainya.
Lamunannya terbuyarkan ketika Baekhyun memanggilnya. "Soo, kau baik-baik saja?"
Mencoba mengalihkan pikirannya, Kyungsoo segera mengangguk sembari menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.
"Apa kau berniat untuk menelepon Jongin balik?" tanya Luhan.
"Psssshhh, apa?" Kyungsoo tertawa. "Tak akan. Aku tak ada niatan untuk masuk ke dalam daftar 'kencan lalu buang'nya." Ia meminum minumannya dalam-dalam, menikmati setiap perasaan dingin yang menjalar di kerongkongannya. Di luar, matahari akan segera terbenam, terlihat dari warna jingga yang terlukis di langit.
Ketiga laki-laki lain hanya melihatnya dengan khawatir, membuat Kyungsoo merasa tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Mungkin, mungkin saja, ia sempat berencana untuk menelepon Jongin balik.
Matanya berbinar ketika ia mendapati sang pelayan telah kembali dengan dua nampan di tangannya. "Oh, lihat. Makanan." Ucapnya, menyambut dengan hangat gangguan yang datang.
Kyungsoo tidak banyak makan hari itu. Ia hanya makan dua suap sebelum menggunakan garpunya untuk bermain-main dengan makanannya. Ia merasa muak, pikirannya melayang kemana-mana.
Tanpa sepengetahuan keempat laki-laki itu, di sisi lain Central Park, di Upper West Side, Jongin sedang menikmati makan malam bersama temannya, Chanyeol, Sehun dan Joonmyeon, di sebuah restauran. Dunia memang sempit.
Mereka mendiskusikan tentang bisnis dan kehidupan dengan sepiring sandwich, burger, semangkuk sup remis kental, dan kentang.
"Sehun, kenapa tidak kau tembak saja Luhan?" tanya Jongin ketika mereka memasuki topik berpacaran sembari menggigit sandwichnya.
Sehun menatapnya dengan aneh. "Aku sudah berpacaran dengan Luhan."
Ketiga pasang mata kini memperhatikannya. "Apa?" adalah jawaban yang ia terima.
"Uhh, yeah. Kami sudah berpacaran selama lebih dari setahun. Luhan ingin menyembunyikannya dari media untuk sekarang, karena itulah ia belum memberitahu siapapun." Ucap Sehun acuh tak acuh sembari menggigit burgernya.
Teman-temannya hanya menatapnya tak percaya.
"Ngomong-ngomong," Joonmyeon segera mengalihkan pembicaraan. "Jadi Chanyeol, kudengar kau ada kencan hari Sabtu ini?" tanyanya sembari mengunyah kentangnya.
Chanyeol tidak mencoba untuk menyembunyikan senyumannya. "Gosip sudah beredar?" tanyanya balik dengan suara beratnya. Sembari tertawa, ia menyesap colanya sebelum berkata, "Yep. Akhirnya aku bisa mengajak laki-laki ini kencan. Kita akan menikmati makan malam di restaurant Italia dekat Lexington. Terima kasih pada Tuhan juga. Aku tak pernah tahu ia akan menyetujuinya."
"Baguslah." Puji Jongin sebelum menggigit sandwichnya lagi. Setelah mengunyah dan menelan, ia bertanya, "Siapa laki-laki beruntung ini?"
"Baekhyun Byun." Ucap Chanyeol sembari memasukkan seiris bacon ke dalam mulutnya.
Sehun berhenti mengunyah, burgernya ia pegang dihadapan mulutnya. "Si penyanyi itu?" ia menatap laki-laki jangkung itu ragu-ragu.
Chanyeol tersenyum bangga saat Jongin menatapnya, tatapannya tampak skeptis sebelum akhirnya ia tersenyum lucu. "Oh Tuhan, Chanyeol. Aku tak pernah tahu kau memiliki standar yang tinggi." Godanya sembari menepuk punggung si jangkung. "Lagipula, selamat. Baekhyun adalah laki-laki yang cantik."
"Ya, kan?" Chanyeol menyetujuinya dengan semangat.
"Tunggu," Joonmyeon mengangkat satu tangannya, tangan yang lain sedang memegang ponselnya. "Aku baru saja memeriksa twitter dan sepertinya Baekhyun sedang berjalan-jalan di Jalanan Madison bersama tiga temannya. Huh."
"Dengan siapa dia?" tanya Chanyeol sembari menyesap supnya.
"Sebentar. Beberapa paparazzi mengikutinya dan tampaknya mereka mendapatkan beberapa foto." Ia menekan ponselnya. "Wow, tempat ini seperti sebuah perkumpulan para seleb." Ucap Joonmyeon kagum. "Sepertinya ia bersama Zitao dan Luhan." Ia bersiul. "Dan tampaknya ada seseorang yang lain lagi. Seharusnya dia salah satu teman mereka. aku tak tahu, fotonya tidak begitu jelas. Tapi dia terlihat seperti Kyungsoo."
"Seperti apa dia?"
Joonmyeon menyerahkan ponselnya pada Jongin supaya laki-laki itu bisa melihatnya sendiri. Jongin memperhatikan mata besar, bibir tebal, dan wajah putih orang tersebut dengan cepat, hanya ada satu orang dengan ciri-ciri seperti itu. "Ya, dia Kyungsoo." Ujarnya cepat.
Chanyeol mengerutkan bibirnya. "Kyungsoo? Bukankah dia laki-laki yang sedang kau obsesikan akhir-akhir ini?" Ia mencondongkan badannya untuk melihat foto tersebut. "Hey, dia ada di peragaan busana sabtu lalu. Dia bersama Baekhyun."
Jongin menatapnya. "Ya, benar." Ucapnya puas. "Aku hanya perlu menunggunya mengakui bahwa ia menyukaiku dan menyetujui ajakan kencanku."
Joonmyeon mengejek. "Memangnya dia mau kencan denganmu jika ia tahu kau seorang playboy?"
"Apa maksudmu?" Jongin membuka salah satu telinganya untuk mendengar cerita Joonmyeon.
Laki-laki yang lain mengangkat bahunya. "Aku tak tahu jika kau sudah menyadarinya atau belum, namun media telah membuatmu terlihat seperti orang brengsek sejak Krystal berkoar-koar, mengatakan bahwa kau selingkuh dan tidur dengan orang lain di belakangnya ketika kalian masih bersama. Dan setelah itu, banyak cerita mengatakan bahwa kau adalah seorang playboy, dan hubunganmu hanya berjalan selama seminggu, paling lama dua minggu, lalu yada yada yada." Joonmyeon melambaikan tangannya dengan sembrono.
Chanyeol bangkit dari kursinya. "Oh yeah, aku juga dengar itu! Dan jika laki-laki bernama Kyungsoo itu mendengar ini, memangnya dia masih mau berkencan denganmu?"
Jongin masih tak beranjak dari kursinya, mulutnya menganga lebar saat ia menatap teman-temannya seolah-olah mereka adalah orang terbodoh yang pernah ada. "Pertama-tama, aku tidak selingkuh di belakang Krystal. Kita putus karena aku tidak bisa bersamanya lagi. Ia jadi sering merengek dan mengganggu. Sebagai seorang pria, aku butuh waktu untuk diriku sendiri! kedua, para media itu berbohong. Hubunganku bisa berjalan lebih lama dari seminggu atau dua minggu. Aku berpacaran dengan Krystal selama enam bulan!" serunya.
"Yeah," mulai Sehun. "Tapi apakah Kyungsoo tahu mengenai hal ini?"
"Aku tak tahu." Ucap Jongin, mencondongkan badannya ke depan, meletakkan sikunya di atas meja.
Meja mereka hening selama beberapa saat, hanya ada suara kunyahan yang keluar dari mulut Sehun. Keheningan mereka tiba-tiba pecah setelah laki-laki itu menanyakan sesuatu, "Tunggu sebentar, Jongin. Bukankah ibumu membuatmu pergi berkencan dengan beberapa gadis selama beberapa hari?"
Jongin mengerang. "Oh, yeah. Itu benar."
"Beberapa gadis?" tanya Chanyol sembari menghabiskan supnya.
"Yeah. Ibuku menjodohkanku dengan beberapa gadis siapa tahu ada salah satu dari mereka yang aku suka. Dia melakukan itu selama beberapa waktu. Anehnya, aku merasa duduk dan berbicara dengan beberapa gadis lebih mudah daripada harus berargumen dengan seorang wanita tua." Jongin terlalu menghormati ibunya sampai-sampai ia tak bisa melawannya.
"Itu benar-benar menyebalkan, man." Ucap Joonmyeon kasihan. Kedua laki-laki lainnya mengangguk setuju, mereka merasakan penderitaan Jongin.
"Dan kalau dipikir-pikir, satu-satunya cara untuk menghentikan ibumu adalah dengan membuat Kyungsoo mengatakan 'ya'" ucap Chanyeol.
Jongin mengerang lagi. "tapi laki-laki itu terlalu keras kepala."
"Kurasa ia akan tertarik padamu." Ucap Joonmyeon dengan sebuah senyuman cerah di wajahnya. Saat ia melihat bahwa semua piring telah kosong, ia memanggil pelayan untuk meminta bill. "Aku yang traktir." Ucapnya sembari mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.
1 Mei 2015
Biarkan aku berkata, berteman dengan Baekhyun mempunyai untung dan ruginya.
Di satu sisi, ia adalah seseorang yang sangat hebat. Loyal, bisa dipercaya (kadang-kadang), lucu, etc. Di sisi lain, ia sangat berisik dan terkadang tidak memperdulikan kesopanan sama sekali.
Hanya itulah yang akan aku bicarakan sekarang.
Ngomong-ngomong, aku baru saja kembali dari berbelanja untuk seorang diva yang sangat berisik. Aku harus membantunya mencari pakaian untuk kencannya hari Sabtu ini dengan si tuan misterius (untuk kalian yang terus-terusan memintaku memberitahu siapa laki-laki ini, aku tak akan memberitahunya. Serius, jika mereka sudah jadian, kau akan tahu siapa dia. Tapi untuk sekarang, bibirku terkunci rapat.)
Tapi yang benar saja. Sesulit itukah mencari pakaian yang pantas untuk seorang pria? Butuh bantuan dua orang designer, seorang sales muda, dan beberapa toko sampai ia menemukan pakaian yang tepat. Ya Tuhanku…
Tapi bukan itulah sorotan kegiatanku hari ini.
Aku dengar bahwa tuan misteriusku adalah seorang playboy, ia tidur dengan beberapa model (pria dan wanita) ketika ia masih berpacaran dengan seorang gadis. Seharusnya ini semua hanyalah sebuah rumor yang disebarkan oleh orang-orang tolol dan media, namun kenapa aku merasa bahwa rumor itu ada benarnya?
Sekarang, mungkin beberapa dari kalian bertanya-tanya, D.O, apakah alasan mengapa kau begitu memperhatikan laki-laki ini adalah karena sebenarnya kau berniat untuk meneleponnya balik dan menyetujui ajakan kencannya?
Mungkin iya. Mungkin tidak.
Tapi jujur saja, aku memang punya niatan untuk melakukannya sampai aku mendengar rumor ini.
Tentu, aku menyukai laki-lakiku nakal sekali-kali, tapi aku tak akan menerima seseorang yang seenaknya saja tidur dengan orang lain dan aku menolak menjadi targetnya yang berikutnya. Uh huh, D.O tidak bekerja seperti itu, guys.
Aku tak tahu apa yang kuinginkan sekarang, namun aku yakin aku pasti akan menemukan jawabannya suatu hari nanti.
Tapi untuk sekarang, aku pamit undur diri terlebih dahulu.
Dengan cinta,
D.O
chap 2 is up, terima kasih telah menunggu. oh yeah, dan berhubung sibuknya jadwal dan mid-term exam yang bakal aku lakuin besok, aku memutuskan untuk mengatur jadwal update ff ini plus ff the silence guides our minds bagi kalian yang juga mengikutinya.
so, the silence guides our minds akan aku update setiap hari sabtu. dan manhattan's elite akan aku update setiap hari minggu.
seminggu sekali, so no more update kilat for a while, kay? thanks for your understanding.
wish me a very good luck for my mid-term exam guys! never get bored to say this orz
reviews are so much loved ;)
