note; ada beberapa kata yang tidak aku ubah ke dalam bahasa Indonesia karena kata-kata tersebut akan terdengar aneh jika diubah ke dalam bahasa Indonesia dan juga memang lebih baik dibiarkan dalam bentuk bahasa Inggris. I demand your understanding for this one.
Bulan Mei datang dengan ditandai oleh harum bunga serta tanaman yang tumbuh subur saat Kyungsoo berjalan ke Central Park, pengikat anjing di tangan, Max memimpin jalannya.
Udara musim semi terasa segar dan bersih ketika hembusan angin menerpa pipi Kyungsoo, sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Hari ini membuatnya depresi. Salah satu kepala editor tidak menyukai cara Kyungsoo menulis artikelnya, membuatnya harus memperbaiki setiap "Kesalahan" yang ia temukan. Pada akhirnya, hal tersebut membuatnya harus bekerja siang dan malam.
Tetapi sekarang, ketika ia telah mempunyai waktu luang, ia memutuskan untuk mengajak Max berjalan-jalan. Matahari hampir terbenam, namun masih ada cahaya bagi mereka untuk berjalan. Kyungsoo berjalan melewati pohon sakura yang telah mekar sempurna, menghirup aroma memabukkan sambil memperhatikan bunga-bunga berwarna merah muda di bawah langit biru keoranyean tersebut.
Mereka terus berjalan hingga sampai di depan air mancur. Kyungsoo menarik Max mendekat, menyuruhnya untuk duduk di atas bangku. Ia mengangkat Corgi kecil itu naik dan meletakkan anjing tersebut tepat di sampingnya, menepuk kepalanya ketika Kyungsoo menyandarkan punggungnya dan menikmati pemandangan air mancur dihadapannya. Masih ada beberapa anak kecil dengan remote control kapal mereka, mainan tersebut meluncur lembut di atas permukaan air. Kyungsoo menghela nafas lega, merasa benar-benar puas dengan kehidupan yang ia jalani saat ini.
Ia mempunyai pekerjaan dengan pendapatan tinggi di kota besar. Ia adalah orang yang bebas. Ia mempunyai sekumpulan teman yang hebat dan juga seekor anjing yang menggemaskan. Hidup benar-benar menyenangkan.
Kyungsoo memejamkan matanya, merasakan kehangatan matahari terbenam, jemarinya menggaruk belakang telinga Max yang mana merupakan bagian favorit sang anjing.
"Seseorang bersenang-senang sendirian."
Kyungsoo membuka matanya perlahan-lahan, mengetahui dengan baik siapa pemilik suara itu. Ia memutar bola matanya, tidak menoleh sama sekali ke arah laki-laki yang duduk di sebelah kanannya. "Kenapa rasanya kau ada dimana-mana?" tanyanya, tangannya menggosok tubuh Max, anjing mungil tersebut bertingkah seperti sebuah halangan di antara Jongin dan Kyungsoo.
"Ini benar-benar suatu kebetulan." Jawab Jongin dengan sebuah cengiran di wajahnya, mengambil tempat duduk dan menjangkau tangannya untuk menepuk Max, jemarinya bersentuhan dengan Kyungsoo secara cepat.
Dengan segera Kyungsoo menarik Max ke pangkuannya. "Jangan sentuh anjingku." Ia memperingatkan, mencoba untuk mengancam Jongin.
Jongin tertawa kemudian mengangkat tangannya ke atas tanda menyerah, "Baiklah! Baiklah! Dan untuk pemberitahuan saja, aku tak akan menyakiti anjing. Aku punya dua anjing di rumah." Ia tertawa lagi sedangkan Kyungsoo mencoba untuk mengabaikan fakta bahwa ia senang mendengar tawa Jongin.
"Kau terlihat begitu damai sebelum aku kemari." Ucap Jongin ketika Kyungsoo bermain-main dengan telinga Max, tak ingin melihat ke arah laki-laki yang lain.
"Well, mungkin karena kehadiranmu ketenanganku terganggu." Jawab laki-laki yang lain tajam. "Lagipula kau ngapain disini?"
Jongin hanya tersenyum. "Tidak bisakah seorang laki-laki berjalan-jalan di taman untuk bersenang-senang?" tanyanya, yang dijawab Kyungsoo dengan memutar bola matanya. "Dan aku baru saja kembali dari rapat untuk kerjaan modelku selanjutnya dan biasanya aku kemari untuk bersantai."
Kyungsoo mengerutkan bibir serta menganggukkan kepalanya, meyakinkan bahwa ia telah melebih-lebihkan responnya. Beranjak dari tempatnya, Kyungsoo menurunkan Max kembali kemudian menggenggam pengikat anjingnya erat. "Baguslah. Aku pergi sekarang. Bye!" ia melambaikan tangannya ke arah Jongin dan mulai berjalan dengan langkah cepat, Max berusaha keras untuk menyamakan langkah tuannya dengan cakar mungilnya.
Sayangnya, Jongin mempunyai keuntungan dengan kaki panjangnya serta sisi lembutnya terhadap anjing. Dengan cepat ia menangkap keduanya, menggendong Max di lengannya serta menyamakan langkahnya dengan Kyungsoo.
Kyungsoo menoleh beberapa kali ketika melihat Jongin berjalan di sampingnya, sedangkan Max di lengannya. Ia berhenti berjalan kemudian berbalik ke arah Jongin, merentangkan telapak tangannya lebar-lebar. "Kembalikan anjingku."
Jongin berpura-pura berpikir selama beberapa saat. "Tidak." Ucapnya kasar sembari berjalan menjauh, membawa Kyungsoo bersamanya, memperhatikan jikalau pengikat anjing tersebut masih ada dalam genggamannya, membuatnya tampak seperti seekor puppy.
"Yang benar saja, Jongin? Berikan saja Max padaku!" seru Kyungsoo.
"Oh, jadi itu namanya?" ucap Jongin tertarik sembari mengelus kepala Max, membuat anjing tersebut merasa lebih nyaman.
Kyungsoo melepas pengikatnya kemudian berlari ke arah pemuda yang tengah menculik peliharaannya. "Jongin, tolonglah. Kembalikan anjingku."
"Tatap aku."
"Apa?" Kyungsoo membelalakkan matanya ketika mendengar permintaan Jongin.
Jongin menyeringai. "Sedari tadi kau menghindari tatapanku. Kau takut, kan? Apa masalahnya? Takut kau akan menyukai apa yang kau lihat?" godanya kekanak-kanakkan.
Kyungsoo mengepalkan tangannya sembari mengerahkan wajah datar terbaiknya sebelum menatap Jongin. Sial baginya, ia menyukai apa yang ia lihat. Rambut coklat yang tampak sempurna dengan wajahnya. Kulit terang kecoklatan yang melumuri tubuhnya, serta tubuh kurus yang terlihat seakan-akan ia dilapisi oleh berbagai macam pakaian. Bibir tebalnya dan juga mata hitamnya yang tampak cerah serta nakal namun serius di waktu bersamaan. Kyungsoo berusaha keras untuk tetap menunjukkan wajah datarnya.
Jongin hanya meringis dan menggumam, "Tak susah, bukan" sebelum mengembalikan Max kepada Kyungsoo yang menyundul bulu-bulu anjing tersebut, dan Jongin berusaha keras untuk tidak tersenyum melihat pemandangan tersebut. Kyungsoo hanya menatap balik ke arahnya, tetap menunjukkan wajah datarnya.
"Dah." Ucapnya acuh tak acuh kemudian berjalan kembali ke rumah. Jongin berlari untuk menggapainya. Kyungsoo tidak perlu melihat hanya untuk mengetahui bahwa Jongin tengah menyengir lebar saat ini, tetapi Kyungsoo sudah tidak punya energi ataupun motivasi untuk mengatakan sesuatu yang kasar lagi, sehingga ia terus berjalan dan menikmati keheningan yang menghinggapinya.
Sampai ketika perutnya mulai mengeluarkan bunyi layaknya suara ikan paus.
Shit. Pikir Kyungsoo. Ia belum makan lagi setelah sarapan dengan hanya sebuah croissant dan dua cangkir kopi. Ia kelaparan.
Tampaknya Jongin tidak mendengar suara perut Kyungsoo, terlalu teralihkan oleh keramaian taman ketika ia berjalan di samping Kyungsoo, tangan di dalam saku. Ia berdoa kepada Tuhan agar suara dalam perutnya bisa berhenti, paling tidak sampai ia berada di luar jangkauan.
Sayangnya, tampaknya Tuhan membencinya karena perutnya mulai berbunyi lagi. Kali ini, suaranya lebih kencang.
Jongin berhenti berjalan kemudian berbalik menatapnya. "Kau lapar?" Kyungsoo tidak mendengar nada sarkastik atau humor dalam nada bicaranya, hanya nada mencemaskan.
"Tak apa." Jawabnya. Ia menggerenyit ketika perutnya mulai mengerang lagi.
Diamlah. Diamlah. Diamlah.
"Kedengarannya tidak seperti 'tak apa'"
Kyungsoo tetap menunjukkan wajah datarnya, sakit di perutnya semakin bertambah. "Aku bersumpah, tak apa-apa. Aku hanya sangat sibuk hari ini sampai-sampai aku belum makan lagi setelah sarapan."
Jongin menggelengkan kepalanya. "Well, itu tidak baik." Memperhatikan sekeliling taman, ia tersenyum ketika mendapati sebuah toko snack di dekat mereka. "Tapi mungkin saja iya." Ia berlari ke arah toko tersebut dan segera membeli sesuatu.
Kyungsoo berpikir bahwa ia bisa menggunakan kesempatan itu untuk lari dan kabur ke rumah. Namun sesuatu dalam dirinya menyuruhnya untuk tinggal dan menunggu apa yang Jongin lakukan. Mengikuti instingnya, ia meletakkan Max kembali ke tanah lalu menggenggam pengikat anjingnya dengan kedua tangannya.
Jongin berlari kembali, satu tangan membawa sekantong hotdog serta beberapa lembar tissue sedangkan tangan yang lain menggenggam sebotol Poland Spring. Dalam perjalanan, ia mendapati Kyungsoo berdiri di tempatnya, mungil, mata besar, dan tampang innocent saat ia menggenggam pengikat anjingnya sedangkan Corgie mungilnya duduk dengan turut di kakinya. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup. Pemandangan tersebut terlihat benar-benar imut di matanya.
"Ini." Ia menyerahkan hotdog serta tissuenya kepada Kyungsoo yang menerimanya dengan hati-hati. Yang ia temukan hanyalah sebuah hotdog dengan mustard, saos tomat, dan irisan acar. "Biarkan aku mengambilnya." Ucap Jongin sembari mengambil pengikat anjing di tangan Kyungsoo. "Kini kita bisa mencari tempat duduk atau mungkin kau mau berjalan-jalan."
Kyungsoo tak yakin ia harus melakukan apa dan mengatakan apa. Ia masih terlalu syok dengan apa yang baru saja Jongin perbuat padanya. Walaupun selama ini Kyungsoo bertingkah laku seperti seorang bajingan padanya, ia tetap berusaha untuk membuat Kyungsoo kenyang dan puas. Ia jadi merasa bersalah.
"Um, kurasa lebih baik kita berjalan saja, aku harus segera pulang." Kyungsoo tertawa canggung. "Ada artikel dan projek yang harus kukerjakan."
"Baiklah." Ucap Jongin sembari menggenggam pengikat anjing di tangannya. "Kau yang memimpin jalannya."
Kyungsoo meringis canggung sebelum mulai berjalan. Membuka sachet saos tomat dengan giginya, ia mengeluarkan cairan merah itu ke atas hotdognya kemudian segera melahapnya. Okay, jadi setidaknya Jongin tidak seburuk itu. Ia membelikan Kyungsoo makanan dan juga menyukai Max, Kyungsoo rasa ia patut menerima penghargaan.
Tapi tak mungkin ia dapat memenangi hati Kyungsoo hanya dengan sebuah roti dan daging, pikirnya keras kepala saat ia mengunyah hotdognya.
Ketika ia selesai, ia merasa lebih baik sebab rasa sakit di perutnya telah hilang, sebuah kelegaan baginya ketika ia membuang bungkus hotdog tersebut ke tempat sampah terdekat.
"Mau minum?" tanya Jongin.
"Ya, tolong." Jawab Kyungsoo setelah menyeka mulutnya dengan selembar tissue yang segera dibuangnya sehabis dipakai.
Jongin menyerahkan botol tersebut. "Wow, kau berperilaku sopan padaku sekarang?" tanyanya sembari menunjukkan ekspresi terkejut. Atau bisa dibilang, Kyungsoo menganggap ekspresi itu hanyalah palsu belaka. Ia tak dapat membedakan apapun lagi.
"Jangan menyia-nyiakan keberuntunganmu." Ancamnya sembari meneguk air tersebut. Jongin tertawa.
"Dan kini kita kembali ke Kyungsoo yang biasanya." Ucap laki-laki yang lebih tinggi.
Perjalanan kembali ke apartemen Kyungsoo terasa lebih cepat dari biasanya.
Atau mungkin, menurut Kyungsoo.
Perjalanan mereka diisi dengan percakapan kecil yang dimulai oleh Jongin dan Kyungsoo yang, dengan terkejutnya, menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan laki-laki itu. Sebenarnya Jongin adalah tipikal orang yang mudah diajak bicara, yang mana merupakan hal yang disenangi Kyungsoo dalam pribadi seseorang. Seseorang yang dapat membuat atau mempertahankan suatu percakapan merupakan hal yang bagus.
Tanpa disadari, mereka mendapati beberapa fakta kecil seperti kenyataan bahwa Kyungsoo setahun dua hari lebih tua daripada Jongin.
"Ugh, aku tidak bisa percaya aku tidur dengan seseorang yang lebih muda dariku." Kyungsoo menjulurkan lidahnya, berpura-pura kelihatan jijik.
"Apakah kau lebih memilih tidur dengan laki-laki tua, berkeriput dengan kulit bergelambir?" balas Jongin.
Kyungsoo tertawa terbahak-bahak yang mana mendapat perhatian dari banyak orang namun siapa peduli?
Jongin juga memberitahu Kyungsoo bahwa ia punya dua ekor anjing.
"Jadi kau punya dua anjing." Kyungsoo mengulang kembali informasi yang ia dapatkan ketika mereka mengitari jalan. Apartemen Kyungsoo sudah ada di depan mata, penjaga pintu apartemen berdiri di depan dengan setelan hitamnya.
"Yep. Seekor dachshund bernama Jake dan seekor poodle bernama Molly. Mereka adalah bayi-bayiku." Ucap Jongin bangga. "Kau tahu, kurasa Max dapat berbaur dengan mereka dengan baik."
"Aku berani bertaruh ya." Jawab yang lebih tua. Ia berhenti berjalan ketika mereka tinggal 10 langkah jauhnya dari gedung apartemennya. Ia berbalik menghadap Jongin. Ia bisa merasakan kehangatan matahari mulai menghilang seiring dengan terbenamnya matahari tersebut. "Well, aku berhenti disini. Umm, Aku ambil ini kembali." Ia mengambil pengikat anjingnya dari tangan Jongin kemudian menggenggam benda tersebut kembali ke tangannya. Berjongkok, ia mengangkat Max yang kelelahan. "Terima kasih untuk hotdognya."
"Sama-sama. Lebih baik daripada kau harus melewatkan makan siang. Walaupun jika kau sedang kerja." Ujar Jongin sembari menepuk kepala Max lembut. Kali ini, ia tidak menarik Max menjauh dari Jongin. Matanya tertuju pada Jongin, dan ketika mata mereka bertemu, Kyungsoo dapat merasakan getaran-getaran halus menjalari sistem tubuhnya, otaknya terdiam selama beberapa saat. Mulutnya terasa kering dan rasanya jantungnya dapat meledak kapanpun ia bisa kalau ia tetap berdegup seperti ini. Ia harus keluar dari ini semua.
"So, umm, sampai jumpa lain waktu?" ujar Kyungsoo tidak yakin.
Jongin tersenyum, sungguh-sungguh dan tulus. "Sampai jumpa juga."
Kyungsoo meringis sebelum berbalik dan berjalan ke arah gedung apartemennya. Mengambil kesempatan, ia berbalik dan mendapati Jongin masih berdiri disana memperhatikannya, kemudian ia memberikan sebuah senyuman lebar ke arahnya, senyuman berbentuk hati yang memamerkan deretan gigi putihnya. Setelah itu, ia buru-buru masuk ke dalam apartemennya, penjaga pintu sudah disana untuk membukakan pintu baginya.
2 Mei 2015
Kau tahu saat-saat ketika kau mempercayai bahwa orang tersebut adalah seorang bajingan sehingga kau memperlakukannya layaknya seorang bajingan, namun tiba-tiba ia melakukan suatu hal yang baik padamu dan mereka tidak tampak seperti bajingan lagi tetapi hal tersebut membuatmu tampak seperti seorang bajingan karena kau memperlakukannya layaknya seorang bajingan padahal sebenarnya tidak?
Yeah, aku mengalaminya.
Ini terjadi karena aku berpapasan dengan Tuan Misterius (Aku akan memanggilnya dengan sebutan itu sekarang) ketika aku sedang mengajak Max berjalan-jalan, dan walaupun aku bersikap brengsek terhadapnya, ia masih memperhatikanku.
Aku bukanlah tipikal orang yang "Jalan menuju hatiku adalah melalui perutku". Oh hell no. ini hanya karena bagaimana cara dia memperlakukanku walaupun ia tahu aku telah bersikap kasar terhadapnya dengan sengaja. Maksudku, beneran. Aku benar-benar bertingkah laku seperti bajingan. Tapi tidak, ia pergi membelikanku makanan. Dan ketika aku tengah menikmati makananku, ia mengurusi Max.
Kini aku merasa sangat bersalah. Seperti, memangnya apa yang telah aku lakukan sampai-sampai aku mendapat perlakuan seperti itu?
Sekarang, apakah hal tersebut mengubah pendapatku tentangnya? Tidak, aku masih akan tetap berperilaku sama terhadapnya karena aku belum mengenalnya lebih jauh. Mungkin saja ia tetaplah seorang playboy seperti yang orang-orang bicarakan.
Sebenarnya hal apa sajakah yang aku tahu tentangnya selain fakta bahwa ia bisa mempertahankan sebuah percakapan dan bahwa ia menyukai anjing?
Tapi untuk saat ini, kurasa ia telah merobohkan sedikit dinding pertahananku.
Postingan ini lebih seperti sebuah update daripada sebuah full entry. Maafkan aku jika ini terlalu pendek namun aku benar-benar ingin menulis sesuatu.
Selamat malam, pembaca kesayanganku!
Dengan Cinta,
D.O
Sabtu
4 Mei 2015
6:10 p.m
Baekhyun duduk di ranjangnya sembari menatap layar laptopnya, menunggu Kyungsoo mengangkat panggilan skypenya.
Akhirnya, suara dering telepon berhenti dan digantikan oleh wajah temannya. Kelihatannya ia sedang berada di dapurnya, tengah menikmati sesuatu dengan sebuah cangkir tergeletak manis di meja konter. "Hey, Baekhyun." Sapanya sembari bekerja.
"Kyungsoo! Akhirnya kau angkat juga." Ucapnya bersyukur. "Minum lagi?"
"Tebak siapa disini!" sebuah suara berseru, dan tak lama kemudian wajah Luhan muncul di layar.
"Luhan? Sedang apa kau di tempat Kyungsoo?" tanya Baekhyun.
"Oh, kami ingin menonton film jam 7:30 nanti, Soo sedang membuat mojitos." Jawab Luhan.
Kyungsoo tertawa. "Aku bukanlah Minseok tapi kurasa aku bisa membuat mojitos ringan." Jelasnya.
Baekhyun tersenyum, berharap dapat bergabung dengan mereka.
Luhan mencondongkan badannya mendekat ke arah laptop Kyungsoo sehingga Baekhyun dapat melihatnya lebih jelas di dalam layar. "Yang lebih penting, kenapa kau tak segera berdandan. Bukankah kau bilang Chanyeol akan menjemputmu pukul 7."
Baekhyun menunduk menatap celana serta tank top yang dipakainya, kemudian ia berubah histeris, menjelaskan alasan mengapa ia menelepon mereka. "Guys aku benar-benar takut sekarang. Terlebih, aku tidak tahu kenapa!"
"Baekhyun, kau pernah berkencan sebelumnya. Ini tidak ada bedanya." Ujar Kyungsoo.
"Aku tahu, aku tahu, Soo. Tapi aku tak tahu kenapa aku takut berkencan dengan Chanyeol." Ucap Baekhyun sembari berjalan ke lemari dan mengambil baju barunya. "Rasanya seperti, laki-laki itu tidak menakutkan lagi."
"Kalau kau masih berpikir levelmu tidak sama dengannya, diamlah. Status sosialmu bahkan lebih tinggi darinya." Ucap Kyungsoo, menuangkan jus lemon ke dalam gelas, kemudian ia menuangkan rum putih. Selanjutnya, ia menambahkan soda, gula, bubuk lemon serta serpihan daun mint.
"Wow, apakah Byun Baekhyun, seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai diva, tengah mengalami masalah kepercayaan diri?" tanya Luhan.
Baekhyun menatapnya tajam. "Diamlah, Luhan." Ujarnya. Tak terlihat dari kamera, ia menyentakkan celananya ke bawah kemudian segera mengenakan jeansnya.
Luhan hanya tertawa sebelum bersikap seperti seorang 'kakak'. "Baekhyun, beneran, rileks sajalah. Cobalah untuk bersenang-senang malam ini dan demi tuhan, percayalah bahwa kau tak menyia-nyiakan waktu Chanyeol karena, jelas-jelas, ia berpikir bahwa kau tak menyia-nyiakan sabtu malamnya."
Baekhyun terdiam sesaat ketika ia mempertimbangkan perkataan Luhan. "Kau tahu? Kau benar juga." Ucapnya, melepaskan tanktopnya dan segera mengenakan t-shirt barunya. "Aku pantas mendapatkannya!" serunya.
"Yeah, semangat Baekhyun!" Kyungsoo berteriak sembari memasukkan potongan buah persik ke dalam minumannya. Menambahkan setangkai daun mint serta sedotan ketika minumannya telah siap untuk disajikan. "Dan disini, kita punya mojitos persik ala Kyungsoo yang terkenal!" ucapnya bersemangat sembari membawakan salah satu minuman tersebut pada Luhan. Mereka mendentingkan gelas mereka, menyemangati Baekhyun, kemudian mulai menyesap minuman tersebut. Di belakang, Baekhyun dapat mendengar suara gonggongan anjing Kyungsoo.
"Terima kasih, guys." Ucapnya dengan senyuman berseri-seri. "Dan Kyungsoo, kau terlihat senang."
Laki-laki yang lain melepaskan bibirnya dari sedotan. "Mm, kenapa kau bilang begitu?"
"Tak tahu. Hanya saja kau terlihat ceria."
Luhan menatap keduanya dengan licik. Ia menatap lurus ke arah kamera dan berkata, "Mungkin karena ia baru saja berkencan dengan Jongin Rabu kemarin." Mata besar Kyungsoo semakin membesar ketika ia mendengar suara keterkejutan di seberang. Menatap Luhan, laki-laki China tersebut hanya menggoyang-goyangkan alisnya nakal.
"Kyungsoo Do, Jelaskan ini!" pinta Baekhyun sembari berjalan ke laci kamarnya dan mengambil cermin serta peralatan make up. Duduk kembali di atas ranjang sembari menyilangkan kakinya, ia mulai menyapukan peralatan make up tersebut pada wajahnya.
"Pertama, itu bukanlah kencan. Kedua, bagaimana kau bisa tahu?" tanya Kyungsoo tidak sabaran, matanya menatap cepat ke arah Luhan dan layar laptop dimana Baekhyun sedang menyapukan Moisterizer dan BB Cream pada wajahnya. Mereka tidak mungkin membaca postingan blognya. Luhan tidak tahu alamat websitenya sedangkan Baekhyun hanya akan mengecek blog Kyungsoo jika ia memintanya. Hanya saja, Baekhyun tak pernah melakukannya.
Luhan menyeringai sembari menyandarkan sikunya pada meja konter. "Mungkin saja Jongin mengatakan sesuatu pada Sehun dan bisa saja Sehun mengatakan sesuatu padaku."
Kyungsoo mengerang, sedangkan Baekhyun menggumamkan sesuatu seperti 'bagaimana kalian bisa tidak berpacaran.' Saat ia mencondongkan tubuhnya untuk mengambil eye liner kepercayaannya. Menggunakan eye liner adalah salah satu keahlian Baekhyun mengingat ia dapat memakai eye liner 90% lebih baik daripada kebanyakan wanita. Ia mulai mengerjakan bagian matanya secara hati-hati.
"Sebenarnya, Baekhyun sayangku, Sehun dan aku sudah berpacaran."
"Apa?!" teriak Baekhyun dan Kyungsoo bersamaan. Kyungsoo memuntahkan minumannya saking syoknya, menakuti Max yang kasihan, sementara Baekhyun mengerang "Oh Shit." Kemudian segera mengambil selembar tissue basah karena ia baru saja menggambar garis aneh di pelipisnya. Sembari membersihkan coretan di pelipisnya, ia bertanya, "Um, Luhan, kenapa kau baru memberitahu kami sekarang?"
Laki-laki yang lain mengedikkan bahunya ke kamera sebelum mengangkat seekor Corgie yang gemetaran dari persembunyiannya di belakang kakinya. "Aku tak tahu. Kurasa sekarang adalah waktu yang tepat."
"Berapa lama kalian pacaran?" Kyungsoo ingin tahu.
"Meh, setahun, aku menyembunyikannya karena aku tak ingin media tahu. TAPI BUKAN ITU MASALAHNYA. Kyungsoo Do, jelaskan ini." Ia mengulang perkataan Baekhyun.
Kyungsoo memijat pelipisnya, merenung apakah ia harus pergi bersama laki-laki ini nanti, sedangkan laki-laki yang ia maksud tengah duduk menunggu di ujung bangku dengan Max di pangkuannya. Baekhyun mengangkat cermin sampai ke atas wajahnya, mencoba membenarkan eye linernya, namun Kyungsoo tahu ia sedang mendengarkan.
Ia menghela nafas. "Rabu sore, aku mengajak Max berjalan-jalan ke Central Park dan tiba-tiba saja Jongin ada disana. Kami berjalan bersama dan ia membelikanku jajanan. Setelah itu, ia mengantarkanku pulang." Kyungsoo tidak memberitahukan fakta bahwa ia bersikap seperti seorang bajingan pada Jongin serta penyesalan yang dirasakannya.
"Itu saja?" tanya Baekhyun, selesai dengan satu mata dan mulai mengerjakan mata lainnya.
"Yeah. Itu. Saja." Kyungsoo menegaskan.
"Ugh, membosankan. Sehun membuatnya seperti sebuah kencan besar dan romantis di saat matahari terbenam." Ucap Luhan, mengutarakan seberapa kecewanya dia dengan cerita Kyungsoo.
"Well, Sehun kecil berbohong padamu." Ucap Kyungsoo sarkastik. "Lagipula kenapa kalian peduli sekali dengan urusanku dan Jongin?"
Baekhyun meletakkan cerminnya, goresan eye linernya tampak sempurna seperti biasa. "Karena sudah lama sejak terakhir kali kau menjalin hubungan dengan seseorang, dan kami rasa Jongin adalah orang yang tepat disamping rumor-rumor buruk tentangnya." Ucapnya.
"Mmm," Luhan setuju, menganggukkan kepalanya. "Mungkin seharusnya kau memberinya kesempatan."
Kyungsoo merenungkan perkataan teman-temannya. "Sejujurnya aku juga memikirkan hal yang sama, tapi tak tahulah. Apa ini saat yang tepat?"
"Aku tak tahu, Kyungsoo. Tapi segera putuskan, karena sebagai seorang model, Jongin bisa datang dan pergi kapan saja. Itu bagian dari pekerjaannya." Ucap Baekhyun sembari meletakkan peralatan makeupnya, mengambil sebuah sisir dan gel rambut.
Luhan mengangguk lagi. "Itu dan juga, bagaimana jika ia menyerah? Kau tak ingin mengambil langkah ketika ia sudah kehilangan ketertarikannya padamu, kan?"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya.
Baekhyun mengangguk. "Benar. Kau tak ingin itu terjadi." Ia mengoleskan gel pada rambutnya kemudian segera menyisir rambutnya; menatap rambut coklat bergelembangnya melalui cermin di tangannya. Setelah memakai jaket terbarunya, ia melihat dirinya sendiri di cermin, memperbaiki setiap kesalahan sampai ia terlihat sempurna.
"Zitao berhasil memilihkan pakaian yang tepat untukmu, babe." Seru Luhan. "Kau seksi!"
Baekhyun tersipu. "Kau juga membantuku, Luhan." Ucapnya sebelum memeriksa jam. Jarum alarmnya telah menunjukkan pukul 6:45. "Yo, Kyungsoo, Luhan. Aku harus pergi. Chanyeol akan tiba sebentar lagi."
"Baiklah! Kalau begitu kita akan pergi melihat film. Dah, Baekhyun!" Luhan melambaikan tangannya yang dibalas oleh Baekhyun. "Bersenang-senanglah!"
"Ingat Baek, jadilah dirimu sendiri, rileks, dan bersenang-senanglah." Ucap Kyungsoo dengan nada keibuannya, melambaikan jari telunjuknya dengan mata terpejam. Kemudian, ia kembali menjadi Kyungsoo yang biasanya, menunjuk Baekhyun melalui kamera. "Dan kau harus menceritakan semuanya padaku besok pagi." Perintahnya.
Baekhyun tertawa. "Baiklah, aku berjanji! Dah!" ia melambaikan tangannya sekali lagi sebelum mengakhiri panggilannya. Setelah mematikan laptopnya, ia bergegas menuju kamar dan buru-buru memperbaiki riasannya. Ia menyemprotkan parfum, memakai kaos kaki beserta sepatunya, tak lupa ia juga mengambil dompet serta kuncinya. Ia duduk di atas sofa, menunggu saat kucingnya, Kali, menatapnya dengan mata hijaunya yang bersinar-sinar.
"Apa? Aku tidak gugup." Ujarnya lirih. Kucing tersebut hanya mengedipkan matanya kemudian bangkit dari posisi nyamannya. Setelah meloncat turun dari sofa, ia berjalan ke dapur untuk memakan makanannya. Baekhyun menghela nafas.
Sekarang ia hanya perlu menunggu telepon dari Chanyeol yang mengatakan bahwa ia sudah tiba.
Chanyeol tiba pukul tujuh tepat seperti yang ia janjikan, dan ketika Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari apartemen, ia tak menyangka ia harus mengambil rahangnya yang terjatuh karena holy shit.
Di depannya, terparkir manis Maserati Gran Turismo S Black edition, cahaya emas yang bersinar melalui jalan masuk lobby membuat mobil tersebut tampak semakin mewah. Mobil itu tampak mahal dan sempurna, Baekhyun bahkan merasa takut untuk berjalan mendekatinya.
Tapi hal yang membuatnya merasa lebih baik adalah sosok pria yang bersandar pada pintu penumpang mobil tersebut, tangan di dalam saku, tengah menunggunya. Chanyeol datang dengan berbalut skinny jeans abu-abu, t-shirt berkerah v putih, dan blazer hitam yang terlihat seperti dibuat khusus untuknya. Di kakinya, terpasang manis sepasang high tops hitam putih. Rambut panjang karamelnya telah dipangkas dan digantikan oleh rambut coklat tua pendek yang sengaja ditata sedemikian rupa, membuatnya tampak lebih muda dan di saat bersamaan, dewasa. Chanyeol terlihat sangat keren dan nyaman, tiba-tiba Baekhyun merasa pundung walaupun pakaian Chanyeol sama sederhananya dengan pakaiannya. Ia harus memperingatkan dirinya sendiri untuk bernafas ketika Chanyeol melihatnya, sebuah senyum mungil tersungging di bibirnya.
Akhirnya Baekhyun berada cukup dekat dengan Chanyeol untuk memulai pembicaraan. "Kau tampak keren." Pujinya, suara beratnya terdengar lebih baik dari sebelumnya.
Laki-laki yang lebih pendek tersipu. Tinggi Baekhyun hanya sedagu Chanyeol, pandangannya hanya setinggi leher Chanyeol. "Kau lebih." Ucap Baekhyun jujur.
Chanyeol mengeluarkan sebuah tawa berat yang mengalihkan perhatian penjaga pintu apartemen Baekhyun. "Tidak masuk akal." Ucapnya lucu sebelum melepaskan sandarannya pada pintu penumpang; ia membukakan pintu tersebut untuk Baekhyun. "Ayo pergi, aku sudah pesan tempat." Ia memperhatikan ketika Baekhyun menatap pintu yang terbuka itu kemudian beralih ke sepatunya, segera memahami keraguan laki-laki yang lain. "Baekhyun, aku tahu ini terlihat seperti mengintimidasi, tapi melangkahkan kakimu masuk ke dalam mobilku tak akan membuatku kecewa dan hal itu tak akan membuat mobil ini runtuh." Ucapnya.
"Ah hehe." Baekhyun terkikih gugup sebelum naik ke dalam mobil. Chanyeol menutup pintu mobilnya dan segera berjalan ke sisi pengemudi sementara Baekhyun mulai memasang sabuk pengaman. Laki-laki yang lain naik, menutup pintunya, mengaitkan sabuk pengaman, dan mulai menyalakan mesin. Tak lama setelah itu, mereka turun ke jalanan.
Keheningan mulai menghinggapi mereka, hanya ada suara rap dari CD yang diputar dengan volume pelan. Suaranya terdengar seperti Jay-Z.
"Kita mau kemana?" tanya Baekhyun ketika mereka menuruni jalanan Upper East Side.
Chanyeol menyalip sebuah taxi. "Dekat Lexington Avenue. Disana ada sebuah restaurant Italia yang sempat kukunjungi beberapa kali. Tak perlu khawatir!" seru Chanyeol riang saat ia mendapati Baekhyun menunduk menatap pakaiannya lagi. "Restaurant ini tidaklah mewah atau semacamnya. Aku ingin kencan pertama ini terasa nyaman bagi kita berdua, dan aku tidak berpikir ruangan besar, terang, dengan orang-orang tua berbalut gaun di dalamnya akan menyenangkan." Candanya. "Kecuali jika kau menyukai hal-hal seperti itu."
Kali ini giliran Baekhyun yang tertawa. "Tentu tidak." Ujarnya.
"Bagus." Chanyeol tertawa kecil sembari mengambil tikungan ke kiri. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat parkir restaurant tersebut. Tempat itu tidaklah besar. Plakat merah besar terang di tempat parkir tersebut bertuliskan 'La Bella'
"Si Cantik..." gumam Baekhyun pada dirinya sendiri.
Chanyeol meringis. "Seseorang mengerti bahasa Italia."
Baekhyun hanya tersipu.
Chanyeol memarkirkan mobil tersebut kemudian mematikan mesinnya, beranjak keluar terlebih dahulu dengan Baekhyun mengikuti setelahnya. Sembari berjalan masuk, Baekhyun merasa senang mendapati sinar lampu suram, tatanan canggih, dan juga sekumpulan orang di ruang makan. Ia juga dapat mendengar alunan lembut musik klasik di belakang. Chanyeol menghampiri pelayan yang berdiri di atas podium. "Hi, aku telah memesan tempat atas nama Park."
Pelayan tersebut segera menyusuri buku di hadapannya sebelum menemukan apa yang ia cari. "Ah, ini dia. Kami telah menantikan kehadiran anda, tuan Park." Ucapnya lembut sebelum mengambil dua buku menu dan mengantarkan kedua laki-laki itu menuju meja mereka. "Nikmati makan malam anda." Ucapnya dengan sebuah senyuman sebelum berjalan pergi. Chanyeol menarik satu kursi untuk laki-laki yang lebih pendek; Baekhyun berterima kasih pada si jangkung sebelum ia duduk di kursinya.
"Jadi," mulai Chanyeol, mengambil buku menu di hadapannya dan menyusuri bagian Wine and Drinks. "Kau ingin minum apa?"
"Umm, mari kita lihat." Matanya menelusuri daftar minuman di menu kemudian dengan mantap memilih satu-satunya minuman yang ia sukai dalam menu tersebut. "Aku akan memesan segelas Rosĕ."
"Kau suka zinfandel putih?"
Baekhyun mengangguk. "Aku tak suka minuman yang terlalu keras kecuali kalau aku sedang stress atau ketika aku sudah terlalu mabuk. Biasanya aku akan memesan wine atau champagne atau sesuatu yang fruity." Ia tersenyum datar, setidaknya ia berkata jujur.
"Oh I see. Aku tidak pernah menemukan seseorang yang begitu menyukai Zinfandel putih sepertiku."
"Kau serius?" tanya Baekhyun.
Chanyeol menganggukkan kepalanya. "Yep. Semua temanku mengatakan bahwa aku terlalu 'girly' karena lebih memilih wine daripada beer." Seorang waiter menghampiri meja mereka, memperkenalkan dirinya dengan nama Antonio kemudian menanyakan minuman apa yang ingin mereka minum malam ini "Bisakah kita minta sebotol rosĕ dan dua gelas kosong? Terima kasih."
"Tentu saja, tuan. Dan ngomong-ngomong, teman kencan anda terlihat sangat tampan malam ini." Ucapnya sebelum berjalan menjauh, meninggalkan Baekhyun yang merona merah.
"Lihat? Kau terlihat mengagumkan!" puji Chanyeol lagi sebelum menelusuri menu pembuka.
"Yah, kurasa aku harus berterima kasih pada teman-temanku. Zitao dan Luhan membantuku memilih pakaian ini."
Chanyeol tertawa kecil, menatap Baekhyun melalui bulu matanya. "Kau tak perlu pakaian yang bagus untuk terlihat mengagumkan." Ucapnya lembut.
Baekhyun tersenyum.
Antonio kembali dengan sebotol wine dan dua gelas kosong di tangannya, meletakkannya manis di atas meja. "Siap untuk memesan?"
Chanyeol menatap Baekhyun yang meletakkan buku menunya di atas meja. "Aku siap. Kau bisa memilih makanan pembuka yang kau mau. Aku tak tahu harus memilih apa."
"Baiklah kalau begitu." Chanyeol tersenyum balik.
Satu jam setelahnya, kedua laki-laki tersebut tampak sibuk menghabiskan makan malam terbaik yang pernah Baekhyun alami. Mereka berbagi tomato and basil bruschettas dengan irisan bacon di atasnya untuk makanan pembuka dan mengenal satu sama lain lebih baik dengan filet mignon beserta pasta dengan udang besar dan saus bombai.
Sekarang, mereka mengakhiri makan malam mereka dengan tiramisu, strawberry cheesecake, dan juga segelas wine.
Baekhyun menyendok sesendok besar tiramisu dan menyuapkannya ke dalam mulutnya, menikmati rasa kue tersebut. "Ya tuhan. Sudah lama aku tidak menikmati three course meal seperti ini. Tak apalah jika kumakan dessertnya."
Chanyeol mengunyah kuenya pelan sebelum menalannya. "Kenapa?"
"Perusahaan menginginkanku berdiet. Sebenarnya aku terlalu banyak makan junk food." Ucapnya sembari memasukkan sesendok penuh tiramisu lagi ke dalam mulutnya.
"Lucu sekali. Kau adalah orang terkurus yang pernah aku lihat. Dan jika kau ingin diet, seharusnya kau menyisakan satu hari dalam seminggu untuk memakan apapun makanan yang kau mau. Hal tersebut membuat seluruh proses dapat ditahan." Jelas Chanyeol. "Itu berhasil untukku."
"Hmm" Baekhyun mendengung. "Kurasa hari Sabtu bisa berhasil bagiku." Ia melahap sesuap dessert lagi.
Chanyeol mengangguk sebelum meletakkan garpunya kembali ke meja, selesai dengan cheesecakenya. "Kau mau final toast?"
"Boleh." Baekhyun menyetujuinya.
"Apakah kau bersenang-senang malam ini?" tanya Chanyeol sembari membuka penyumbat botol, mengisi ulang gelas mereka.
"Aku benar-benar bersenang-senang. Kencan kita tak terasa seperti kencan pertama." Apa yang dikatakan Baekhyun memang benar. Ia tak merasa canggung ataupun malu lagi terhadap Chanyeol. Ia menyukainya.
Sangat menyukainya.
"Well, senang mendengarnya." Ucap Chanyeol dengan sebuah cengiran di wajahnya ketika ia memberikan Baekhyun segelas wine dan mengangkat gelas miliknya. "Untuk malam-malam kita selanjutnya." Mereka mendentingkan gelas masing-masing kemudian meneguk wine mereka. Sembari meletakkan kembali gelasnya, ia berkata pada Baekhyun, "Lanjutkanlah, habiskan dessertmu, aku akan mengurusi billnya."
"Oh tidak. Biarkan aku ikut membayar!" Baekhyun bergegas mengeluarkan dompetnya. Chanyeol menghentikannya ketika ia baru saja akan mengambil kartunya, meletakkan tangannya pada Baekhyun. Laki-laki yang lain terpaku.
"Tak usah." Ujar Chanyeol. "Ini kencan pertama kita dan akulah yang mengajakmu keluar. Jadi biarkan aku yang traktir."
Baekhyun hendak membantah sebelum ia melihat tatapan Chanyeol yang seolah mengatakan bahwa ia tak perlu melakukannya. "Baiklah." Ucapnya sembari mengembalikan kartu tersebut kembali ke dompetnya dan segera memasukkannya kembali ke dalam sakunya.
"Bagus." Puji Chanyeol sebelum memanggil Antonio untuk membayar makanan mereka.
Perjalanan pulang ke apartemen Baekhyun terasa cukup hening dengan suara radio yang memutar musik R&B dan juga percakapan kecil yang terjadi diantara mereka.
Setelah mereka sampai di gedung apartemen, Chanyeol segera memarkir mobilnya di depan sedangkan Baekhyun menyempatkan waktunya untuk melepaskan sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya, mengetahui bahwa Chanyeol akan berjalan untuk membukakan pintu untuknya. Sebuah tangan meraih tangan kecilnya dan Baekhyun menyambutnya malu-malu. Chanyeol membantunya keluar dengan lembut; setelah mereka berdua keluar, ia menutup pintu mobilnya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Baekhyun, dan sejujurnya, Baekhyun tak ingin ia melepasnya.
Tangan besar Chanyeol menutupi tangan mungil, dan lebih lembutnya dan ia dengan mudah dapat merasakan kehangatan yang menyelimuti tangannya dengan sentuhan Chanyeol. Ia memberanikan dirinya sendiri untuk melangkah satu langkah lebih dekat dengan Chanyeol.
Chanyeol tersenyum lembut. "Aku bersenang-senang malam ini." Ucapnya rendah. "Apa menurutmu kita bisa pergi berkencan lagi lain kali?"
Baekhyun tersipu untuk kesekian kalinya dan segera mengingat-ingat jadwalnya minggu ini. Ia mendongak menatap Chanyeol, tatapan si jangkung tampak memohon. "Bagaimana kalau hari Jum'at? Kau tahu, pembukaan show temanku, Jongdae, akan diadakan hari itu dan kurasa ia mengharapkan kehadiranku pada pertunjukkan perdananya. Ia memberikan dua tiket pada beberapa temannya. Maksudku, jika kau mau."
Chanyeol tertawa kecil dan Baekhyun mendapati dirinya semakin mencintai suara tersebut. "Jum'at terdengar bagus." Chanyeol mengambil langkah mundur sembari menatap Baekhyun lekat-lekat. "Apa aku sudah bilang kalau kau terlihat mengagumkan malam ini?"
Baekhyun terkikih. "Ya, bahkan lebih dari satu kali." Ucapnya sembari tersenyum, menarik dirinya sedikit mundur dari Chanyeol hanya untuk membuat si jangkung menariknya mendekat.
"Kalau begitu aku akan mengatakannya sekali lagi, kau terlihat mengagumkan... cantik sebenarnya." Suaranya perlahan menghilang seiring dengan tiap kata yang ia lontarkan. Ia mengangkat tangan Baekhyun kemudian menciumnya singkat. "Dan kau punya tangan yang indah." Tambahnya.
Baekhyun memukul bahu si jangkung lucu. "Norak." Ujarnya. Ia mendongak menatap penjaga pintu yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua sambil tersenyum geli. "Well, aku harus pergi. Sampai jumpa hari Jum'at kalau begitu?"
"Jum'at." Ucap Chanyeol sembari mengangguk mantap. "Hubungi saja aku dan katakan jam berapa pertunjukkan temanmu dimulai, lalu aku akan kemari untuk menjemputmu."
"Okay, selamat malam Chanyeol." Ia melepaskan genggaman tangan Chanyeol dari tangannya.
"Selamat malam, Baekhyun." Balas Chanyeol.
Baekhyun memberikannya sebuah senyuman singkat sebelum berjalan masuk ke dalam apartemen, sentuhan Chanyeol masih dapat dirasakannya, membuat tangannya merasakan sensasi-sensasi menggelitik.
