Sekitar pukul 11 pagi di hari Minggu, Kyungsoo berjalan menelusuri toko anggur dalam diam, matanya menjelajah label-label botol wine seiring dengan pencariannya akan anggur yang ia inginkan. Ia kehabisan stok pinot noir di rumah, jadi ia memutuskan untuk pergi membeli beberapa dan berjalan-jalan sebentar sebelum bertemu dengan Baekhyun untuk pesta minum teh mereka sore ini.
Sayangnya, Baekhyun terjebak di dalam studio hari ini, mempersiapkan perilisan album barunya, yang artinya Kyungsoo harus menunggu untuk mendengar cerita kencan temannya itu. Jadi ia memaksakan dirinya untuk bersabar, tahu bahwa penantiannya akan terbayar.
"Mari kita lihat… Zinfandel, chardonnay, shiraz-Ah! Pinot Noir." Gumam Kyungsoo sembari mengambil sebotol King Estate, mempelajari stiker dan labelnya sebelum menggegam leher botol tersebut dengan hati-hati dan melihat sekeliling toko, memeriksa apakah ada sesuatu yang ia inginkan atau butuhkan ketika ia menyadari kehadiran seseorang di dekatnya.
Membalikkan badannya, ia ingin memukul tubuhnya dengan bodoh.
"Apa kau yakin ini bukan 'murni kebetulan' lagi?" tanyanya.
"Kau tahu, kebanyakan orang saling bertukar sapa dengan mengatakan 'hai' atau 'halo' atau mungkin 'apa kabar'" ucap Jongin sembari meraih tangannya untuk mengambil sebotol merlot wine dari raknya.
"Well kalau begitu, kita tidak seperti kebanyakan orang, kan?"
Jongin menatapnya dengan sebuah garis tersungging pada bibirnya. "Kurasa tidak." Ucapnya sebelum berjalan ke arah yang berlainan dengan postur malas dan rileks.
Kyungsoo tampak ragu-ragu selama beberapa saat, ada sebuah pertanyaan yang ingin sekali ia lontarkan dari mulutnya. Ayolah, Kyung, lakukan saja. Ini saatnya.. hal terburuk yang dapat ia lakukan adalah menolakmu. Lagipula, siapa peduli jika ia menolak?
"Jongin?" panggilnya.
Sang model berbalik dan menunggunya berbicara lagi.
"Umm…" Kyungsoo memalingkan wajahnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Maukah kau uh- maukahkaupergikepentasmusikalbersamakujumatnanti?"
Jongin menatapnya bingung. "Well, aku tak tahu kau ngomong apa." Ucapnya sembari terkikih. "Bisa kau ulangi lagi?"
Wajah Kyungsoo merona merah, matanya melebar. "Maukah kau," Ia memulai dengan pelan, mengingatkan dirinya sendiri untuk bernafas. "Pergi ke pentas musical bersamaku hari jumat nanti?"
Jongin berkedip, pikirannya langsung kosong ketika Kyungsoo mengucapkan kalimat tersebut. "Kau mengajakku kencan?"
Kyungsoo berubah kaku. "Tentu saja tidak!" ia segera menyangkal anggapan tersebut, berharap Jongin luluh dengan aktingnya. "Hari itu adalah pembukaan pementasan temanku Jongdae dan aku ingin mengajak seseorang pergi bersamaku. Jongdae memberikan dua tiker gratis kepada semua teman dekatnya."
"Dan kau ingin pergi denganku? Kau yakin ini bukan kencan?"
"Tidak, ini bukan kencan. Pikirkan saja itu sebagai, uh, a proses 'mengenalmu lebih baik'"
Jongin mengernyitkan alisnya. "Jadi ini kencan?"
Kyungsoo memutar bola matanya. "Dengar, kau mau atau tidak? Kalau tidak aku akan memberikan tiket gratis ini ke orang lain."
Pria yang lain menatap ke arahnya sebelum memberikan sebuah sengiran mungil. "Tentu." Ucap Jongin. "Aku sangat senang bisa mengawalimu ke pemestasan itu. Dimana tempatnya?"
"Teater Broadway dan kau bukan pengawalku." Ucap Kyungsoo dengan nada tajam.
"Baiklah. Sekarang, jam berapa pementasan itu dimulai dan apa kau mau aku menjemputmu?" tanya Jongin, mengabaikan apa yang baru saja dikatakan Kyungsoo.
Pria yang lain berpikir sejenak. "Um, kau bisa langsung bertemu denganku disana. Pementasan dimulai sekitar pukul 7:45"
Jongin mengangguk. "Kedengarannya seperti sebuah rencana." Ucapnya sembari tersenyum.
"Jadi, sampai bertemu hari jumat?"
"Jumat." Jongin mengkonfirmasi. Ia berbalik untuk pergi, namun kemudian ia berbalik lagi untuk melihat Kyungsoo. "Oh dan Kyungsoo, kalau kau ingin pergi kencan denganku, jujur saja."
"T-tapi, ini bukan kencan!" Untuk siapa sebenarnya ia ingin bersikeras mengenai hal ini? Dirinya atau Jongin?
Lagipula sekarang hal tersebut sudah tak penting lagi. Jongin sudah berada jauh darinya, bersiul-siul sembari mengeluarkan seringai saat ia kembali mengabaikan Kyungsoo.
Madeline adalah tempat minum teh yang sangat mahal di daerah fifth avenue. The dituangkan ke dalam secangkir emas, beige, putih, silver, dan abu-abu samar yang menghiasi cangkirnya. Baekhyun membuat pengecualian akan kebenciannya pada tempat-tempat mewah untuk Madelaine karena sandwich, cake, teh, dan terkadang cocktail sangat enak untuk dinikmati.
Makanan dan atmosfernyalah yang membawa orang masuk dan harganya membuat beberapa orang tetap berada di luar.
Kyungsoo dan Baekhyun duduk di dekat jendela, kandil kristal tergantung di atas mereka saat langit mulai berubah menjadi gelap.
Mereka telah mengajak Luhan untuk bergabung bersama mereka namun laki-laki itu menolak dengan halus. Jadwal Luhan sedang padat akhir-akhir ini, koleksi terbarunya akan segera dirilis dan ia membutuhkan sebanyak-banyaknya waktu yang ia bisa dapatkan. Kyungsoo dan Baekhyun hanya menyuarakan pengertian mereka dan mendoakan laki-laki itu supaya beruntung.
Seorang pelayan mendatangi mereka, membawa sebuah nampan dengan hati-hati sebelum meletakkan dua gelas mimosas di hadapan mereka. Ia membungkuk singkat sebelum berjalan menjauhi mereka.
Kyungsoo meraih salah satu gelas cocktail dihadapannya. "So, hampir setiap headline website dan tabloid selebriti berisikan 'Penyanyi Baekhyun Byun ditemukan sedang makan malam dengan seorang pria misterius.'" Ucap Kyungsoo sembari meneguk cocktailnya. "Sebenarnya mereka mendapatkan hal tersebut di waktu yang tepat." Gumamnya, lidahnya merasakan rasa pahit alkohol yang ia sukai.
Baekhyun meraih gelas yang lain dan mencoba minuman tersebut untuk dirinya. Menyeka bibirnya sekali, ia mengangguk setuju. "Mereka melakukannya… Tapi ya, aku tahu tentang headline itu. Hell, aku bahkan tidak tahu ada orang berkamera di sekitar kami. Dan yang benar saja, kencan kami itu baru kemarin malam! Bagaimana orang-orang bisa segera mengetahuinya?" serunya. "Apa rahasia mereka, Kyungsoo?"
Pria yang lain hanya mengedikkan bahunya sambil meneguk mimosanya lagi. "Aku tak menulis cerita itu, Baek. Aku hanya membenahinya."
"Terserahlah." Ucap Baekhyun sambil memutar bola matanya. "Lagipula, semalam Chanyeol bersikap seperti seorang gentleman dan kau bahkan tak akan mengiranya." Ucapnya sembari berganti meminum tehnya, dengan menggunakan sebuah jepitan kecil, ia memasukkan dua buah kubik gula ke dalam cangkir sebelum mengaduknya.
"Dia berbuat apa?" tanya Kyungsoo sembari meraih tangannya untuk mengambil sandwich ham yang tergeletak manis pada rak penyaji tiga tingkat di tengah meja.
Baekhyun berpikir sejenak. "Ia membukakan pintu untukku, menarikkan sebuah kursi untukku, memujiku semalaman, mencium punggung tanganku, dan sebagainya. Ibunya membesarkannya dengan baik, aku hanya bisa mengatakan itu padamu." Semburnya sebelum menyesap tehnya dengan penuh perhatian.
"Wow. Kau terdengar seperti gadis remaja."
"Well Soo, aku tak pernah mendapati seseorang berbuat gentle padamu." Ia memberikannya sebuah tatapan tajam. "Lagipula, aku bersenang-senang. Ia lucu dan gampang diajak bicara."
"Dan aku bahagia untukmu." Ucap Kyungsoo setelah ia menghabiskan sandwichnya. "Jadi apakah kalian merencanakan kencan kedua?"
"Yep. Aku mengundangnya untuk datang ke pementasan Jongdae Jumat depan." Jawab Baekhyun sembari meraih potongan sandwich terakhir, membuat Kyungsoo menyesal.
Alis Kyungsoo berkerut saat ia mengangkat cangkirnya, bau harum black tea yang baru saja diteduh menghangatkan tubuhnya "Pementasan itu? Baek, kau tahu aku juga akan ada disana, kan?"
"Tentu saja." Ucapnya sembari menggigit potongan sandwich tersebut. "Semua orang yang kita kenal akan ada disana. Mmm, dan aku tak tahu apa masalahnya." Kunyah, kunyah, dan telan. "Kau harus mencari teman kencan."
Kyungsoo terpaku selama beberapa saat sebelum bergerak lagi, jepitan di tangannya menjatuh sekubik gula ke dalam cangkirnya. "Tidak terima kasih" ucapnya sebelum mengaduk pemanis tersebut. Ia menolak untuk memberitahu Baekhyun tentang dirinya dan Jongin. rasanya tidak adil bagi pria yang lebih tua, dengan melihat bagaimana ia menceritakan semua detail kencannya kemarin malam namun ia merasa sekarang bukanlah saat yang tepat.
"Aku tak masalah hanya pergi dengan Jongdae." Ucap Kyungsoo sembari mengangkat cangkir tersebut ke bibirnya.
"Terserah kau saja."
Keheningan menghinggapi mereka sebelum Kyungsoo memutuskan untuk bersenda gurau sedikit, berharap bisa mengubah topik.
"Kau tahu, old sport, kau selalu bilang bahwa kau membenci tempat-tempat mewah namun disinilah kita, New York, menyesap teh dari cangkir porselin China dan dikelilingi oleh orang-orang yang mampu menghabiskan 50 dollar hanya untuk membeli camilan." Ujarnya, suara kekehan ringan keluar dari mulutnya saat ia meraih tangannya untuk mengambil sepotong cake coffee marble di rak paling atas.
Baekhyun mengerang. "Dengar Kyungsoo, aku tahu kau adalah seorang editor dan seorang kutu buku sastra dan penggemar The Great Gatsby, tapi tolong jangan bersikap seperti orang tahun 1920an denganku." Ia menatap saat Kyungsoo tengah mengunyah cakenya, ekspresi geli terpancar di wajahnya. "Dan jangan panggil aku old sport, itu membuatku merasa… tidak muda." Ia menyelesaikan kalimatnya dengan tertegun.
Kyungsoo hanya terkikih lembut. "Hey, bayangkan kalau kita hidup di tahun 1920? Kau tahu, flapper girl, surat-WWI-"
"Larangan menjual minuman keras." Ucapnya tegas. "Kalau kita hidup di tahun 1920, hell, aku tak akan menjadi seorang penyanyi, aku akan menjadi penyelendup minuman keras. Begitu juga denganmu!" seru Baekhyun sedang Kyungsoo tertawa terbahak-bahak sembari meraih tangannya untuk mengambil cream puff.
"Aku benar-benar akan menjadi penyelendup minuman keras." Ucapnya setuju sedangkan Baekhyun sibuk mengunyah macaroonnya, menelannya dengan tehnya yang telah dingin.
5 Mei 2015
Apakah aku baru saja mengajak kencan tuan misterius?
Kenapa, ya aku melakukannya. Aku yang duluan mengajaknya. (Walaupun aku tidak mengakui padanya bahwa ini adalah sebuah kencan.)
Tampaknya ia hanya mengikuti arusnya dengan mudah.
Tapi beneran, apa yang baru saja kulakukan? Apa yang aku katakan pada diriku sendiri dan kalian tentang berhati-hati? Well, semua itu baru saja terlempar keluar melalui jendela.
Kami akan pergi melihat pementasan yang temanku, Jongdae Kim (Kau tahu, artis broadway itu) tampilkan. Aku tak tahu kenapa namun aku benar-benar gugup. Aku sudah lama tidak berkencan dan hal itu membuatku sedikit canggung ketika orang-orang membahas masalah percintaan denganku. Pekerjaanku selalu menyita kebanyakan waktuku dan aku tahu hal tersebut tak dapat diterima oleh beberapa orang, tapi hey, aku punya tagihan untuk dibayar dan hal-hal yang harus kukerjakan layaknya setiap orang di dunia ini. (Ngomong-ngomong, aku punya pekerjaan lain selain blogging. Ada beberapa orang yang masih belum mengetahuinya.)
Tapi lagi-lagi, untuk beberapa alasan, aku mendapati ada hal yang berbeda dengan pria ini. ini bukan cinta (Sh*t, terlalu cepat untuk itu) namun sebuah perasaan pengertian yang aneh. Aku merasa bahwa ia sadar bahwa aku tak bisa terus-terusan menghabiskan waktu bersamanya dan aku bukanlah tipe orang yang mendahulukan kepentingan orang lain sebelum diriku sendiri setiap waktu, namun ia rela menerimanya. Sebut saja aku gila tapi aku memang merasakannya.
Aku tak tahu harus bicara apa lagi mengenai hal ini jadi mari kita ubah topiknya.
Untuk kalian yang tidak tinggal di bawah batu, kalian pasti tahu bahwa Baekhyun ditemukan di sebuah restaurant dekat Lexington Avenue dengan seorang pria misterius.
Well, kalian benar.
Pria misterius akan segera menjadi 'tuan'nya Baekhyun (Well, panggil saja dia tuan sampai kalian mengetahui namanya, okay?)
Aku bertemu Baekhyun untuk sebuah pesta minum teh dan dia bilang bahwa dia bersenang-senang dan mereka sedang merencanakan sebuah kencan kedua. Whoa, aku melihat sebuah percintaan yang indah bersemi di kejauhan.
Rupanya, pria ini merupakan seorang gentleman bagi Baek, tapi aku berani bersumpah demi Tuhan, jika ia menyakiti perasaan Baek kecilku dengan cara apapun, aku akan mengebirinya dan melempar penisnya ke laut.
Wow. Bagaimana kita bisa sampai kesitu?
Aku bersumpah, aku tidak mabuk.
Postingan ini akan tampak lebih berantakan jika aku mabuk.
Lagipula, aku harus pergi! Pekerjaanku tengah meraung-raung minta dikerjakan sekarang.
Kuharap kalian semua mengalami hari yang baik, Happy Cinco de Mayo dan sekarang, aku pamit.
With Love,
D.O.
Jumat
10 Mei 2015
7:10
Minggu ini berjalan lebih cepat dari yang Kyungsoo perkirakan.
Ia diam-diam berharap atasannya akan memberikan beberapa tugas dan artikel untuk dikerjakan, sebuah laporan, apapun yang ia bisa gunakan sebagai alasan untuk tidak pergi ke pementasan ini. Namun sisi tidak egois dirinya mengatakan bahwa ia harus pergi untuk Jongdae, dan lagipula Jongin ada disampingnya agar ia tidak merasa kesepian.
Yeah. Itu alasannya.
Ia mengenakan jeans hitam dengan batu akik menghiasinya dan sebuah atasan gelap dan sebuah pelengkap, jaket jean abu-abu. Orang-orang selalu berkomentar tentang gaya penampilan Kyungsoo, ia terlalu banyak menggunakan warna abu-abu dan hitam, yang mana adalah warna yang hampir memenuhi isi lemarinya, ditambah beberapa kemeja bercorak. ("Kelihatannya kau akan mengadakan sebuah fashion show pemakaman setiap hari" hal itulah yang selalu dikatakan Baekhyun.) Namun Kyungsoo tak pernah memperdulikan pendapat orang-orang. Ia selalu merasa warna-warna cerah itu mengganggu, pengecualian untuk beberapa kali.
Berlari ke arah dapur, ia memastikan bahwa mangkuk anjing sekali, memastikan bahwa Max punya persedian air dan makanan yang cukup. Menimang anjing tersebut untuk berpamitan, ia berjalan dengan cepat ke jalan masuk apartemennya dan segera memakai sepatunya.
Dompet, Ponsel, Kunci, Tiket, Permen karet…
Hal itulah yang ia butuhkan. Bernafas cepat, ia meneriakkan, "Bye Max! berkelakuanlah yang baik!" Anjing corgie itu menggonggong dari arah ruang keluarga. Dan dengan itu, ia melangkahkan kaki keluar dan mengunci pintu apartemnnya.
Ia memakai elevator untuk turun dan mendapatkan taxi dari lobby apartemennya.
"Mau kemana kita, bocah?" tanya sang supir, bau rokok merayapi mobil tersebut.
"Tolong ke teater Broadway."
"Broadway. Kau mau menonton pementasan?" Tanya sang supir santai sembari membawa mobil tersebut melaju ke jalanan.
"Ya, salah satu temanku membintanginya."
Perjalanan menuju teater lancar dan cepat, membuat Kyungsoo lega saat ia memberikan sang supir segepok uang.
Tapi itu berarti ia harus pergi mencari Jongin. Ugh.
Hal itu juga tak butuh waktu lama. Saat Kyungsoo berjalan menerobos kerumunan orang di teater, ia mendapati pria yang ia cari tengah bersandar pada dinding abu-abu gedung tersebut dengan ponsel di tangannya. Ia mengenakan skinny jeans hitam dengan dibalut t-shirt baseball biru, biru tua, dan hitam dan sepasang hight tops kulit converse. Rambutnya tampak lembut dan lemas, disisir kesamping seperti biasa.
Rasanya aneh bagi Kyungsoo melihat Jongin terlihat… normal. Ia telah sangat terbiasa dengan "Model Jongin" sampai-sampai ia melupakan laki-laki muda dibawah pakaian mewah dan seringai bodoh. Entah bagaimana, Kyungsoo lebih menyukai Jongin yang ini.
Pikirannya terbuyarkan ketika ia mendapati ponselnya bordering. Setelah mengeluarkan ponselnya dari kantong, ia memeriksa siapa yang menelepon, ia menaikkan alisnya ketika mengetahui siapa yang menelepon, Jongin.
Daripada mengangkat panggilannya, ia lanjut berjalan sampai ia berhenti di hadapan Jongin. "Aku ada disini sedari tadi." Ucapnya.
Jongin hanya mencerca. "Seharusnya kau datang lebih awal. Aku pikir kau akan kabur dariku. Ini sudah pukul 7:50."
"Tadi macet dan bukan aku yang melakukannya." Jawab Kyungsoo gelisah, menyadari jawaban yang sebenarnya. "Lagipula," ia merogoh dompetnya, mengeluarkan dua buah tiket yang terjepit di antara nota dan uang kemudian menyerahkan salah satu ke Jongin. "Ini tiketnya."
"Keren. Mau mencari tempat duduk?"
"Yah, ayo."
Jongdae telah mempersiapkan tempat untuk teman-temannya di mezzanine. Jongin dan Kyungsoo menempati tempat duduk tepat dibelakang pagar pembatas. Mereka duduk memperhatikan ketika orang-orang mulai masuk dan mencari kuris mereka masing-masing. Terlihat jelas bahwa Jongdae berusaha keras untuk menempatkan semua temannya di mezzanine.
Ia melihat sekeliling dan mendapati Joonmyeon duduk di belakang sendiri dengan ponsel di tangan. Yixing duduk di sebelah Minseok, mereka berada satu baris di kanan belakang Kyungsoo dan Jongin. seorang perempuan duduk di sebelah sisi lain Yixing, menggenggam tangannya saat mereka bercengkrama, tersenyum dan tertawa bersama. Ia terkikih ketika Minseok pindah satu kursi lebih jauh dari mereka.
"Apa yang lucu?" tanya Jongin.
Kyungsoo melambaikan tangannya. "Tak ada." Ia menoleh ke arah lain ketika orang-orang mulai berdatangan kembali. Ia mendapati Kris dan Zitao turun ke arah mereka, Luhan dan Sehun mengikuti di belakang, pasti mereka datang bersama.
Tiba-tiba, hembusan angin menerpa wajahnya dan ia merasakan adanya pergerakan mendadak di sebelah Kyungsoo, dan ketika ia menoleh ke arah kirinya, Baekhyun berada di sebelahnya, wajah datar, kaki disilangkan dan tangan terkepal di pangkuannya. Di sebelah Baekhyun terdapat Chanyeol yang melambaikan tangannya dan menyapa Jongin. Kedua orang tersebut bersandar di kurisnya sembari bercengkrama, mengabaikan Kyungsoo dan Baekhyun yang ada di tengah.
"Kapan kau akan memberitahuku?" Tanya Baekhyun tenang.
Kyungsoo memandangnya sekilas. "Segera."
"Seberapa segera?"
"Sesegera mungkin." Ucap Kyungsoo. "Baek, aku sudah bilang padanya ini bukan kencan."
"Tapi ini kencan!" Seru Baekhyun.
"Aku tahu, aku tahu. Aku hanya tidak ingin mengakuinya sekarang." Jelas Kyungsoo. "Aku akan menceritakannya padamu besok."
Baekhyun mendecakkan lidahnya. "Kau benar. Aku masih harus memaksamu walau kau tak ingin menceritakannya." Lampu di dalam teater mulai berubah suram ketika pembicaraan mereka berakhir. Chanyeol dan Jongin menatap ke depan, memperhatikan ketika cahaya lampu mulai menyoroti panggung. Kyungsoo melihat Baekhyun menyandarkan dirinya pada Chanyeol.
Ia menyeringai. "Tentu saja. Jangan bercumbu di sebelahku."
"Oh, diamlah." Baekhyun mengerang, namun ia tertawa lembut.
Tak lama kemudian, permainan orchestra dimulai, suara musik mulai mengeras dan mengeras. Tirai mulai terbuka lalu munculah Jongdae. Ia mulai bernyanyi dan Kyungsoo mulai larut ke dalam alunan musik serta aroma parfum Jongdae. Tanpa sadar ia bergerak mendekat.
Pementasannya benar-benar mengagumkan.
Jongdae sangat cocok memerankan karakter pahlawan yang tragis, scene terakhir menunjukkan bagaimana ia sekarat di lengan sang kekasih saat ia menyanyikan kalimat terakhirnya pada gadis itu.
Ketika tirai tertutup, semua penonton berdiri dan bertepuk tangan saat para pemain muncul dengan bergandengan tangan dan membungkuk ke arah penonton.
Kyungsoo ingin sekali tinggal dan melihat Jongdae di belakang panggung, namun melihat banyaknya orang yang berbondong-bondong keluar membuatnya memikirkan kembali niatannya. Pada akhirnya, ia mengingatkan dirinya sendiri untuk pergi melihat Jongdae keesokan harinya. Ia mencengkram bahu Baekhyun saat mereka berjalan dengan susah payah untuk keluar.
Segera setelah mereka keluar, Baekhyun mengingatkan Kyungsoo bahwa mereka mempunyai pembicaraan serius besok sebelum pergi bersama Chanyeol, jemari mereka bertautan dan Kyungsoo tak bisa melakukan apa-apa selain tersenyum dan menarik nafas panjang melihat mereka.
Setelah mengucapkan salam perpisahan pada semua temannya, ia berniat untuk pergi dan menelepon taxi ketika ia menyadari bahwa Jongin masih berdiri di sampingnya. Lampu kuning yang terpancar dari jalan masuk serta cahaya terang diatas mengiluminasinya melawan gelapnya malam. Ia tampak hampir sempurna. Kyungsoo mendengar suara kebisingan New York memudar dan semuanya tampak kabur kecuali Jongin. Rasanya seluruh dunia di sekitar mereka berjalan lambat dan mereka ada di tengah-tengahnya.
"Kyungsoo, kau baik-baik saja?"
Membuyarkan lamunannya, Kyungsoo panik. Apa-apaan tadi itu?! "Yeah?" ucapnya parau.
Jongin mengangkat sebelah alisnya. "Itu lebih seperti pertanyaan daripada jawaban."
Well, sialan dia. "A-Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terusikkan. Itu saja." Ujarnya cepat.
Jongin tetap mengangkat alisnya sebelum mengubah topik. "Ngomong-ngomong, mau kuantar? Mobilku kuparkirkan dekat sini."
"Oh tidak, tidak usah! Aku akan menggunakan taksi saja." Kyungsoo melambaikan tangannya dengan penuh perjuangan. Setelah lamunan kecilnya tadi, hal terakhir yang ingin ia lakukan adalah berada di mobil yang sama dengan Jongin.
"Tak masuk akal. Kenapa kau harus menunggu taksi?" Ia menawarkan tangannya pada Kyungsoo. "Ayolah. Aku akan membawamu pulang dengan aman. Aku berjanji."
Kyungsoo menatap tangan tersebut hingga ke pemiliknya, menghitung setiap gerakannya dengan hati-hati. Apa yang membuatnya berkata, "Baiklah, ayo.", Tak akan ada yang tahu jawabannya.
Ia masih merenungkan pilihannya lima menit kemudian ketika kedua laki-laki itu berada di dalam sapphire blue Aston Martin Vantage S milik Jongin yang melaju melewati Central park, musik jazz mengalun pelan melalui speaker.
"Pementasannya cukup mengagumkan." Jongin membuka pembicaraan.
Kyungsoo mengangguk. "Benar. Jongdae benar-benar berbakat."
"Aku setuju. Terima kasih sudah mengajakku."
Pria yang lain mengedikkan bahu. "Terserahlah." Ucapnya pelan, diam-diam menyampaikan terima kasih pada Tuhan karena telah mengirimkan kegelapan untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Apa kau pikir kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi lain kali?"
"Apa?"
"Apa kau akan membiarkanku mengajakmu kencan lain kali? Kencan sungguhan kali ini?" tanya Jongin, matanya terfokus pada jalanan. "Kau tahu, satu kencan yang rela kau akui kali ini."
Kyungsoo menyandarkan punggungnya, melamun. "U-um aku tidak tahu. Kau masih mau?"
"Tentu aku masih mau. Kenapa juga aku bertanya jika aku tidak mau?" ucapnya jelas sebelum melembutkan nada bicaranya. "Dengar, aku tahu kita tidak bertemu di saat yang tepat namun aku ingin menjalin sebuah hubungan denganmu. Jadi bagaimana menurutmu?" mereka sudah hampir tiba di apartemen Kyungsoo.
Mulut Kyungsoo terasa kering. Hal inilah yang telah kau tunggu akhir-akhir ini, kan Soo? Kenapa kau tak mengambil kesempatan ini? Kau bisa bilang kalau kau akan mencoba jika hal-hal berjalan seperti seharusnya.. Ini saatnya kau melempar kehati-hatianmu keluar jendela.
"Kau tahu?" ujarnya sembari menatap Jongin. "Aku rasa aku akan menerima tawaranmu."
Jongin mencuri pandang ke arahnya sekilas, matanya melebar melebihi piring cawan sebelum kembali memfokuskan diri ke jalan. "Kau serius?"
Apa kau benar-benar serius, Kyungsoo? "Ya." Kyungsoo mengangguk. "Kau ingin pergi minum kopi atau semacamnya?"
Jongin masih terlihat sedikit shock sebelum mengatakan, "Ya, ya tentu saja. Kapan kau senggang?"
"Aku tak harus berada di kantor sampai pukul satu di hari Selasa. Bagaimana kalau di Mocha jam 10 pagi? Kau tahu, toko yang ada di Easth 70th Street?"
"yeah, aku pernah kesana beberapa kali. Selasa kedengarannya sempurna." Ia tampak berseri-seri ketika ia memarkirkan mobilnya di depan apartemen Kyungsoo, penjaga pintu berdiri di depan seperti biasa. "Jadi, kali ini adalah sebuah kencan?"
Kyungsoo mengangguk sekali. "Ini kencan. Sungguhan kali ini." Kemudian Jongin hanya tersenyum ke arahnya. "Terima kasih tumpangannya."
"Tak masalah. Selamat malam!"
"Malam." Kyungsoo memberikannya sebuah senyuman singkat sebelum keluar dari mobil. Ia hampir saja masuk ke dalam apartemen ketika Jongin membuka kaca jendela mobilnya dan berteriak,
"Kyungsoo!" pria yang dipanggil berbalik ke arahnya. "Terima kasih!" teriaknya sebelum melaju pergi.
Kyungsoo hanya melambaikan tangannya canggung sebelum berlari masuk apartemen, mengabaikan pandangan orang-orang yang melintas.
Pada Sabtu pagi, Kyungsoo bangun karena suara dering ponselnya. Mengerang dengan keras, ia menggerakkan tangannya ke sekitar laci di dalam kegelapan sebelum meraih alat menyebalkan tersebut dan menekan tombol hijau di atasnya.
"Hello?" Suara Kyungsoo terdengar sengau dan tampak jelas bahwa ia kurang tidur. Di suatu tempat di ranjang, Max mengubah posisi tidurnya, anjing tersebut terlihat terganggu selama beberapa saat oleh dering ponsel Kyungsoo.
Sebuah suara yang sangat energetik menjawab panggilannya. "Kyungsoooooooooo!"
Meringis, Kyungsoo menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya selama beberapa saat. "Baekhyun." Ia mengerang gelisah saat ia melihat jam alarmnya. "Ini masih pukul enam pagi. Di hari Sabtu disaat aku tidak ada pekerjaan untuk dilakukan."
"Aku tahu. Aku tak bisa tidur." Pria yang lain menjawab di seberang, mengabaikan semua rutukan Kyungsoo.
"Dan kenapa kau harus menggangguku?"
"Well, lagipula kau akan meneleponku nanti jadi aku rasa aku akan mengambil keputusan untuk meneleponmu lebih dulu." Ucap Baekhyun terlalu riang.
Mengerang sekali lagi, Kyungsoo menenggelamkan dirinya lebih dalam ke dalam selimut abu-abunya. Hal ini akan benar-benar menyeretnya.
Untungnya, Kyungsoo berhasil memutuskan sambungan teleponnya dengan Baekhyun pada jam delapan pagi, setelah bercengkrama selama dua jam, menjelaskan apa yang terjadi dengannya dan Jongin. Setelah itu, ia berjanji akan terus memberitahu Baekhyun jika sesuatu yang besar terjadi antara dirinya dengan si model.
Yang benar saja, kenapa aku berteman dengannya?
Setelah itu, Kyungsoo dapat melakukan aktifitas paginya seperti biasa. Menarik tubuhnya sendiri dari atas ranjang, ia pergi ke dapur untuk memberi makan Max sebelum pergi mandi dan menggosok giginya. Lalu, setelah mengenakan celana training, sweater, dan juga sneakers, ia mengajak Max berjalan-jalan pagi.
Udaranya masih sejuk, matahari mulai naik ketika orang-orang mulai mengawali aktifitasnya. Central Park terlihat ramai dengan para pejogging dan orang-orang yang membawa anjing mereka jalan-jalan seperti dirinya. Ada beberapa orang yang melakukan yoga di tengah lapangan, matrass mereka terlihat kontras dengan warna rumput.
Dalam perjalanan pulang, Kyungsoo membeli secangkir kopi di Dunkin' Donuts terdekat sebelum berjalan pulang ke rumah. Setelah sampai di dalam gedung, ia berhenti sejenak untuk mengambil surat-surat yang masuk. Membuka kotak baja kecil miliknya dengan sedikit usaha, ia menyelubungi tiap-tiap amplop yang ada disana, pengikat anjing ada di pergelangan tangannya sedangkan Max duduk manis di dekat kakinya.
"Tagihan, tagihan, tagihan, tagihan lagi, ikl- apa ini?" ia bergumam sendiri. terdapat sekotak amplop hitam di antara surat tagihan dan iklan dengan selembar kupon gratis makan yang bertuliskan nama serta alamatnya di tinta putih. Setelah menutup dan mengunci kotak suratnya, Kyungsoo menggenggam kunci apartemennya dan menggunakan elevator untuk naik.
Segera setelah mereka sampai di dalam, dengan cepat ia mengisi mangkuk Max sebelum kembali berjalan menuju tumpukan surat di meja kopi. Surat tagihan itu bisa menunggu sebentar…
Membuka amplop hitam itu dengan hati-hati, ia mengeluarkan selembar kartu berwarna vanilla. Dicetak dengan tinta hitam, di bagian depan kartu tersebut adalah isi pesannya.
Untuk Kyungsoo Do,
Kau diundang untuk menghadiri Masquerade Ball untuk merayakan peluncuran koleksi "Black pearl" terbaru merek fashion Luhan, EXO-Men pada hari Sabtu, 25 Mei. Perayaan akan dimulai pada pukul 7:00PM dan berakhir pada pukul 11:00PM.
Diharap mengenakan pakaian formal dan sebuah topeng sesuai keinginanmu (Berkreasilah!)
Jika menghadiri, RSVP Sehun Oh.
(212)546-8796
Kami mengharapkan kehadiranmu!
Dibawah cetakan pesan tersebut, terdapat tulisan tangan Luhan yang rapi seperti biasa dengan tinta biru.
Kau harus datang, Kyungsoo :D Berjanjilah kau akan berpakaian yang bagus supaya member kesan! Dan juga, jangan pertanyakan logikaku. Aku sangat ingin mengadakan sebuah Masquerade Ball setelah aku menonton salah satu episode Gossip Girl ~Luhan.
"Jadi karena inilah ia sibuk.." Kyungsoo berkata pada dirinya sendiri sebelum memasukkan kartu tersebut kembali ke amplopnya.
Paling tidak sekarang ia punya alasan untuk mengenakan setelan yang ia simpan di bagian belakang lemarinya.
Well, im really sorry i couldn't manage to post this chap last week since i was sooo stress with all that damn mid-term and i was too occupied with those emazing thing and i just dont think i can see any english that moment. im so sorrry everyone, forgive me.
and for the one who request the original link, here it is gurl
www . asianfanfics story/view/510285/4/manhattan-s-elite-exo-hunhan-t aoris-baekyeol-kaisoo
remove the space and add the 'com', kay?
and di cerita ini ada beberapa kiasan yang sengaja nggak aku ubah bahasanya karena well, jadinya bakalan aneh. jadi aku memutuskan untuk menerangkannya disini.
old sport : itu sama aja kaya kita manggil dengan sebutan 'bro' and well, bagi kalian yang pernah nonton/baca the great gatsby kalian pasti ga bakal asing sama kalimat ini.
flapper girl : sebutan untuk gadis-gadis modern di jaman 1920an.
Cinco de Mayo : festival beer yang biasanya diadakan pada tanggal 5 Mei. festival ini kebanyakan dirayakan oleh warga Mexico yang tinggal di Amerika.
well, kurasa kalimat asingnya hanya segitu saja ya? kalau kalian menemukan kalimat asing lagi, tinggal komen aja nanti aku jelaskan c:
reviews are so much loved! ;)
