Kyungsoo tiba di Mocha pada pukul 9:50 PM dan terkejut ketika ia memandang sekeliling dan menemukan Jongin duduk di dekat jendela. Ia sedang melihat ke arah pejalan kaki, mata memandang jauh ke depan saat ia mengistirahatkan dagu di telapak tangannya. Cahaya matahari mengalir melalui jendela menyorot rambut coklat lelaki itu serta membuat kulitnya terlihat bercahaya, membuat seluruh kehadirannya terlihat sempurna, hidup, bernapas seperti karya seni.
Lagu ber-genre lembut mengalun dari pengeras suara :
Oh baby no oh oh
I'm sorry that this is a monologue
Oh, actually I love yoy, yeah
If our long time hidden secrets were revealed
I would hold you in my arms
Kyungsoo berjalan mendekat secara perlahan dan Jongin menyadarinya, ia melambaikan tangan sebelum sepenuhnya memusatkan perhatian kepada lelaki yang lebih pendek itu.
"Hey." Sapa Kyungsoo, walaupun sedikit malu-malu. "Bolehkah aku bergabung denganmu?" ia memaksakan sebuah senyuman.
Jongin terkekeh dan mengisyaratkan agar ia mengambil tempat di hadapannya. "Tentu. Silahkan."
Lelaki satunya hanya tersenyum sebelum duduk. "Kau sudah lama di sini?"
"Belum. Aku baru saja datang lima menit yang lalu." Aku Jongin. "Aku pikir sepertinya datang lebih awal lebih baik daripada terlambat. Apakah kau sudah makan?"
"Apa? Oh, belum."
"Baiklah, kita harus memesan beberapa makanan." Ia memanggil seorang pelayan.
"Apa yang bisa aku bantu hari ini, guys?" ia bertanya dengan senyum cerah, menampakkan gigi putih sempurnanya. Rambut blonde terangnya ia ikat ke belakang dengan kencang menyerupai ekor kuda.
"Kyungsoo?" Jongin bertanya padanya.
Bingung, ia mengatakan hal pertama yang ada di dalam pikirannya. "Uh, cappuccino dan roti bagel dengan krim keju, please." Pelayan itu mengangguk saat ia mencatat pesanan di notesnya sebelum beralih kepada Jongin.
"Aku ingin caramel latte dan sebuah glazed cinnamon bun. Terima kasih."
Ia mencatat kembali sebelum berkata, "Baiklah, aku akan segera kembali." Dan kemudian ia meninggalkan tempat.
Kesunyian menggantung di antara mereka sebelum Jongin memutuskan untuk memecahkan es itu. "Jadi, bagaimana kabarmu?"
Kyungsoo menatap ke arahnya. "Oh, baik, aku rasa aku baik-baik saja. Aku masih memperbaiki kesalahan orang lain dan membuat kalimat demi kalimat terlihat indah. Aku tidak tahu apa lagi untuk dikatakan, serius."
Pelayan kembali datang, membawa nampan berisi minuman mereka. Dengan hati-hati ia menaruh pesanan dua lelaki itu di atas meja, kemudian pergi setelah Jongin dan Kyungsoo mengucapkan terimakasih kepadanya.
Kyungsoo memegang cangkir dengan hati-hati di tangannya dan meniup uap cappuccino sebelum menyesapnya, mengernyit saat ia merasakan kopi panas membakar lidahnya.
Jongin tertawa, latte-nya masih tetap tak tersentuh. "Kau tahu, kali ini sangat aneh melihatmu meminum sesuatu yang tidak mengandung alcohol."
"Diamlah." Kata Kyungsoo, suaranya terdengar memalukan daripada apapun.
Jongin membawa latte-nya ke bibir sebelum berkata, "Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu."
Kyungsoo hanya tersenyum santai. "Benar-benar tidak banyak yang harus kuceritakan selain, 'Hai, aku Kyungsoo dan aku adalah seorang editor surat kabar'."
"Aku ingin sesuatu yang lain." Ujar Jongin, telapak tangan kembali menopang pipinya. "Aku benar-benar yakin ada hal lain dari sekedar berpandangan mata."
"Kalau begitu baiklah. Dari mana kau mau aku mulai?" tanya Kyungsoo.
"Terserah kau mau mulai dari mana." Ujar Jongin dengan sebuah senyuman. "Kita punya banyak waktu."
Duduk di antara dua orang lelaki dengan piring putih dan cinnamon bun yang setengah termakan serta croissant crumbs ditambah dengan cangkir putih yang telah kosong. Kyungsoo dan Jongin berbagi cerita satu sama lain, beberapa serius tetapi kebanyakan dari cerita mereka lucu.
"Aku pernah sekali tersandung dan jatuh di depan model Victoria Secret." Kata Jongin tiba-tiba, air wajah memerah mengingat kejadian waktu itu.
Kyungsoo hampir saja tersedak potongan croissant saat ia mengunyah. "Ya Tuhan, apa?"
"Yups. Aku adalah seorang penari cadangan untuk Victoria Secret fashion show di tahun 2011 dan saat pertama kali aku melihat Miranda Kerr dan Candice Swanpoel di belakang panggung, aku benar-benar tersandung beberapa kabel atau apapun itu, kemudian aku mendaratkan wajahku di lantai, tepat di sebelah kaki mereka!" ia menjelaskan, menertawai dirinya sendiri.
"Ya Tuhan, kau adalah seorang idiot yang ceroboh…" canda Kyungsoo.
Hanya butuh dua cangkir kopi lagi untuk membuat Kyungsoo maupun Jongin lepas kendali, tertawa dan mendengus seperti tidak ada hari esok.
Ketika Kyungsoo akhirnya kenyang, ia menarik napas sembari menatap sekeliling toko hingga ia melihat ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukan pukul 11:20. Kencan ini harus berakhir, dengan berat hati.
Ia mengeluarkan desahan keras. "Okay, okay… heh, Jongin?"
"Yeah?" lelaki yang satunya bertanya, berhenti tertawa nyaring.
"Aku benar-benar minta maaf, tapi aku benar-benar harus pergi. Aku harus pulang, menyiapkan dokumenku dan pergi ke kantor." Ujarnya.
"Baiklah. Kau bisa meninggalkan tagihannya padaku, Kyungsoo." Ujar Jongin saat melihat lelaki itu mengeluarkan dompetnya.
"Kau yakin?"
"Pastinya." Ujarnya. "Aku senang hari ini."
Kyungsoo mengangguk. "Aku juga. Aku pikir lain waktu aku ingin melakukan hal ini lagi."
"Jadi, haruskah aku… kau mau bertemu lagi kapan?" tanya Jongin.
Pertanyaan ini mengingatkan Kyungsoo pada pertanyaan lain yang ingin ia tanyakan pada Jongin. "Sebenarnya, aku mempunyai janji… apakah kau kebetulan mendapatkan undangan ke 'masquerade ball'-nya Luhan?"
Jongin mengerutkan bibirnya dan mengangguk. "Ya. Sehun mengirimkan satu untukku."
Bibir Kyungsoo berbalik melengkung ke atas. "Baiklah kalau begitu, apakah kau tidak ada acara pada tanggal 25 mulai dari jam tujuh sampai delapan?"
"Kenapa, aku tidak ada acara." Jongin menyeringai. "Maukah kau pergi denganku?"
Lelaki yang lebih pendek hanya tersenyum. "Tentu saja. Sampai bertemu di sana?"
"Sampai bertemu di sana." Jongin mengangguk sekali dengan tegas.
"Aku rasa kita harus mengadakan kencan lain." Ujar Kyungsoo, beranjak dari kursi. "Sampai jumpa." Jongin hanya melambaikan tangan saat ia melihat Kyungsoo berjalan menjauh.
Tidak sampai setengah jalan menuju rumahnya, Kyungsoo menyadari bahwa ia tidak tahu di mana tempat acara itu diadakan.
14 Mei 2015
Baiklah, aku akan membiarkan postingan ini pendek dan manis karena aku ada di kantor sekarang, tetapi tadi aku pergi berkencan dengan Tuan Misterius dan aku harus mengatakan, ada banyak sekali hal yang belum kuketahui darinya.
Ia sangat kekanak-kanakakan dan menyenangkan! Kami bercanda dengan ditemani kopi serta kue-kue dan saling berbagi cerita memalukan. Secara mengejutkan, aku sangat mudah terbuka dengannya. Aku tidak tahu apa itu, tetapi aku menyukainya.
Kami mengatur kencan kedua dalam kurun waktu seminggu atau mungkin lebih cepat dari itu. Luhan mengadakan 'masquerade ball' untuk koleksi terbarunya yang dinamai "Black Pearl" dan koleksi terbarunya seharusnya keluar di toko-toko secepatnya.
Berita buruknya, Luhan benar-benar mengacaukan segalanya dengan tidak menyertakan alamat tempat pesta tersebut di kartu undangan. Godammit. Oh baiklah, aku akan mengunjunginya pada hari Jum'at malam di rumahnya dengan Baekhyun dan Zitao mungkin. Aku akan bertanya dengannya nanti.
Tentang Luhan, dia mungkin merencanakan semuanya dan tidak menyertakan alamat tempat acaranya.
Aku harus pergi sekarang tapi sampai bertemu lagi!
With love,
D.O.
Jum'at
17, Mei 2015
6:00 PM
Kyungsoo selalu iri tentang Luhan yang tinggal di Townhouse. Ia ingin tinggal Townhouse semenjak ia sudah cukup matang untuk pindah dari rumah kedua orang tuanya, tetapi waktu itu rumah di kota sedang tidak ada di pasaran dan lagipula ia tidak mempunyai banyak uang pada waktu itu.
Rumah Luhan mempunyai tiga lantai. Lantai satu adalah yang paling kecil. Lantai itu seperti pada umumnya, satu entri yang besar dengan tangga menuju lantai dua yang berisikan ruang tamu, dapur, dan ruang makan. Di ruang tamu terdapat sepasang pintu Prancis yang mengarah ke balkon dengan pagar besi hitam. Lantai ketiga adalah ruangan dengan ukuran sedang yang digunakan Luhan sebagai kamar tidur. Mulai dari lantai hingga langit-langitnya terbuat dari kayu, tirai flowy gelap, serta sprai abu-abu dan putih yang lembut.
Luhan juga melakukan semua desain interior sendiri. Menurut Kyungsoo, bagian dalam rumahnya yang seperti itu tampak seperti di katalog IKEA.
Aku ingin mempunyai townhouse seperti ini suatu hari nanti… pikir Kyungsoo saat ia menyetel NetFlix sebelum mengganti channelnya untuk melihat episode terbaru dari The Game of Thrones. Baekhyun memakai momentum ini dengan duduk di sofa samping Kyungsoo.
"Aku benar-benar membenci Joffrey," katanya pelan, memfokuskan perhatian pada acara.
Kyungsoo mendecakkan lidahnya. "Semua orang membenci Joffrey." Balasnya.
Zitao dan Luhan tiba di ruang tamu kemudian, membawa dua gelas berisikan anggur merah. Luhan memberikan satu untuk Baekhyun dan Zitao memberikan satu untuk Kyungsoo dan lelaki yang sedang duduk-duduk di sofa mengucapkan terimakasih kepada mereka.
"Jadi, bagaimana minggu kalian?" tanya Luhan, mengambil tempat kosong di ujung sofa sementara Zitao mengambil bahu sofa.
"Tidak terlalu sibuk." Kata Baekhyun, tersenyum saat ia mendengar Tyrion Lannister mengatakan sesuatu yang lucu.
"Kurasa aku baik-baik saja. Sebenarnya aku mempunyai waktu untuk bersantai sekarang karena desain baruku sudah selesai." Zitao menjawab, mata terpaku pada layar. Setelah Kyungsoo, Zitao adalah fans terbesar Game of Thrones di antara mereka. Terkadang Baekhyun menyukai acaranya juga, tetapi terkadang Baekhyun kalah dan Luhan lebih suka untuk mengatakan bahwa ia cukup menyukainya.
"Aku pergi berkencan dengan Jongin Selasa lalu." Kyungsoo berujar tanpa berpikir.
Baekhyun mengulurkan tangan menekan tombol pause pada remot control. "Permisi. Apalagi sekarang?"
Kyungsoo menghela napas. "Aku pergi berkencan dengan Jongin Selasa kemarin." Ia mengulangi perkataannya. "Aku baru mengatakan semua ini sekarang karena minggu kemarin aku sangat sibuk sampai-sampai aku tidak punya waktu serta energi untuk menelpon ataupun pergi berkunjung."
Baekhyun hanya mengangkat alisnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Kyungsoo. "Lalu bagaimana? Apakah kau senang?" tanyanya.
Kyungsoo tersenyum, rasa kesal terhadap teman-temannya benar-benar hilang. Terutama pada Baekhyun. Kau tidak akan pernah bisa benar-benar tetap marah padanya. "Kita pergi ke Mocha untuk kopi dan beberapa kue." Jawab Kyungsoo saat ia menekan tombol play. "Sebetulnya ia seorang yang lucu dan menyenangkan untuk diajak berbicara."
"Itu manis. Apakah kalian berdua merencanakan kencan kedua?" Tanya Zitao, menyesap anggur merahnya.
Kyungsoo mengangguk, maniknya melirik Zitao sebelum kembali menatap Jon Snow dan Ygritte bertengkar di layar. "Kencan kedua kita sebenarnya akan berlangsung di acaranya Luhan. Dan aku baru saja ingat, Luhan," ia berbalik ke arah nama yang ia sebutkan. "Jika kau benar-benar menginginkanku datang, seharusnya kau menyertakan alamat di kartu undangan tersebut."
Zitao mengangguk setuju. "Yeah, bagaimana dengan itu?"
Luhan mengambil satu tegukkan sebelum menaruh gelas anggurnya di meja kopi di hadapan mereka. "Oh, aku sudah merencanakannya." Aku tahu itu. "Kau harus meng-RSVP untuk mencari tahu di mana tempatnya."
"Baiklah, anggap saja sekarang kita telah meng-RSVP." Kata Baekhyun.
Luhan memutar bola matanya. "Kalian semua adalah teman dekatku, tentu saja aku akan mengatakannya pada kalian. Acara itu akan diadakan di Grand Ballroom di The Plaza Hotel." Ia berkata dengan bangga. "Dan jangan khawatir. Sehun sudah mengatakan pada Jongin di mana tempatnya."
Zitao menatapnya tidak percaya. "Kau berhasil memesan The Grand Ballroom untuk semalaman? Kau pasti sudah memesannya berbulan-bulan lalu!"
"Tentu saja sudah. Persiapan pesta seperti ini tidak akan selesai dalam waktu semalam." Ia mengatakan dengan suara yang jelas. "Staff yang berkerja di hotel sudah menyiapakan acara ini. Mereka menyingkirkan sebagian besar meja dan kursi, pengecualian untuk beberapa dan mereka memintaku untuk membuat daftar minuman yang akan mereka sajikan pada malam acara."
Ia meraih laci yang tersembunyi di bawah sisi meja kopi dan mengeluarkan buku catatan dan pena. "Aku membutuhkan sesuatu dengan bantuan kalian."
Kyungsoo mencibir. "Apakah kau benar-benar membutuhkan bantuan kami untuk memilih minuman?"
"Well, yeah. Ini adalah pesta formal, jadi aku membutuhkan minuman yang tidak terlalu ekstrim tapi masih enak dan estetis untuk dipandang mata." Kata Luhan saat ia membuka tutup pena. "Untukmu, Kyungsoo, jika kau tahu seseorang yang tahu resep cocktail yang enak, maka itu bagianmu."
Kyungsoo mengatupkan bibirnya. Bukannya mau memuji tanduk sendiri, tapi Luhan ada benarnya. Dari mereka berempat, ialah yang paling sering minum. "Baiklah kalau begitu. Apa yang ingin kau sediakan?"
Luhan mengetuk pena ke bibir. "Champagne, anggur, bellinis karena aku mencintai mereka, Manhattan cocktail… sejauh ini hanya itu."
Kyungsoo berpikir sejenak. "Bagaimana dengan beautifuls? Mereka terlihat anggun dan rasanya enak."
"Baiklah kalau begitu." Luhan mencatat 'beautifuls' di bawah 'Manhattan Cocktails'.
"Oh! Aku punya satu!" Baekhyun berseru, mengangkat tangannya. "Abbey cocktails. Warna kuning yang cantik dengan cherry di atasnya dalam gelas martini. Aku pikir itu pemenangnya."
"Sebenarnya aku menyukai itu juga…" Luhan bergumam. Ia mencatatnya. "Kau tahu, sebenarnya aku sangat suka delilahs juga…" saat ia menulis lebih banyak pilihan ke catatannya, ia bertanya, "Jadi, apakah kalian semua sudah menyiapkan setelan?"
"Yep. Aku menggunakan salah satu dari rancanganku sendiri. Baju, celana, dan semuanya." Zitao tersenyum bangga.
"Bagus, Taozi." Baekhyun memujinya. "Hei Luhan, apakah kau pikir, kau akan membuat pengecualian di pesta 'formal' untuk sepatunya?"
Luhan mendongak dari buku catatannya. "Sepatu? Sepatu apa?"
"Setelanku mengharuskanku memakai sepatu boots."
Sang perancang mengangkat alisnya. "Mengharuskan?" Baekhyun mengangguk. Luhan tampak tidak yakin namun ia tetap memperbolehkan Baekhyun memakainya. "Kau harus membuat boot itu pantas dipakai, Baekhyun. Dan juga, katakan pada Chanyeol untuk menampilkan dirinya yang terbaik."
"Chanyeol akan berada di sana?" Baekhyun berpaling kepadanya, terkejut.
"Tentu saja. Sehun mengundangnya."
Baekhyun membuka mulutnya sampai membentuk huruf 'o'. "Mungkin aku harus membicarakan dengannya." Gumamnya.
Luhan mendengung sebagai tanggapan seraya mencorat-coret di sekitar tepi halaman. "Bagaimana dneganmu Kyungsoo?"
"Oh… Um," Ujar Kyungsoo, tiba-tiba gugup. "Aku, uh, Aku mempunyai setelan yang aku gunakan di acara dua tahun yang lalu?" Jawabnya pasrah.
Luhan mendongak dengan mata yang melebar, pena jatuh ke karpet dengan bunyi dentuman kecil. Baekhyun perlahan berpaling ke arahnya, air wajah yang terkejut saat Zitao hanya menggelengkan kepala dengan menghela napas sedih.
"Apa? Aku tidak membutuhkan setelan baru hanya untuk satu malam!" ia beralasan.
Zitao mengangkat tangannya. "Itu dia! Kami akan melakukan makeover secara menyeluruh padamu. Rambut, baju, semuanya! Kau tidak usah membayar, aku akan membayar semuanya! Jika aku bisa membuatmu terlihat memukau untuk satu malam, maka itu tidak akan sia-sia."
"Tunggu, apa—"
Luhan memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk bergabung. "Aku setuju. Kita bisa pergi ke Empirio Armani dan mencarikanmu sebuah merek setelan terbaru besok dan tidak!" ia mengangkat tangannya saat Kyungsoo membuka mulut untuk membantah. "Kau tidak boleh membantah untuk hal ini dan juga, jangan menggunakan pekerjaan sebagai alasan, besok hari Sabtu dan itu satu-satunya hari di mana kita semua mempunyai waktu senggang."
Terkejut dan kesal, Kyungsoo memutar pandangan ke arah Baekhyun yang sedang menonton seluruh cobaan dengan senyum kecil. "Baek, apakah kau serius membiarkan mereka melakukan ini semua padaku?!"
Baekhyun tidak melakukan apapun kecuali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Percayakan padaku, Soo." Kata Zitao, berdiri dan berjalan mendekat ke arah Kyungsoo. "Aku sudah mempunyai ide di pikiranku. Hal pertama, rambutmu. Panjang tampaknya tidak apa-apa. Hanya perlu lebih ringan…" ia berhenti untuk berpikir. "Aku yakin penata rambutku bisa membuatnya lebih baik. Kami akan membelikanmu sebuah setelan besok dan juga pagi sebelum acara kita akan menata rambutmu."
Kyungsoo hanya mencoba untuk menyembunyikan kepanikan batinnya.
this chapter was done by raein, i just edit some parts so you won't be confuse.
there's nothing to comment for this chapter so i just wanna ask, do you enjoy it?
reviews are so much loved! ;)
