Para kerumunan bertepuk tangan ketika lagu telah berakhir, kemudian wanita di atas panggung itu berdiri dan membungkuk dengan anggun.
Kyungsoo memperhatikan ketika wanita tersebut turun dari panggung dan digantikan oleh pemain orchestra yang mengambil peralatan mereka masing-masing sekali lagi untuk mempersiapkan sebuah lagu. Para penari segera membubarkan diri dan Kyungsoo bisa saja merutuk, ia melihat rambut ungu Baekhyun di antara kerumunan tersebut dan dalam hitungan detik, ia kehilangannya.
Dan ia masih tidak tahu kemana penari itu pergi.
Tak ada keraguan lagi dalam dirinya yang mengatakan bahwa penari bertopeng itu adalah Jongin.
Kyungsoo terus berjalan ke sekeliling, mencari-cari pria bertopeng emas. Tak melihat ke arah mana ia pergi, ia bertubrukan dengan seseorang, ia segera meminta maaf sedalam-dalamnya sebelum ia mendengar suara laki-laki itu. "Kyungsoo, kau kah itu?"
Kyungsoo menatap pria di hadapannya, berbalut setelan Burberry London ramping biru laut yang sangat bagus. "Jongdae?"
Pria yang disebut mengangkat topeng Phantom of Opera miliknya dan meringis ke arah Kyungsoo "Yo." Sapanya riang sebelum kembali menutupi dirinya dengan topeng lagi.
"Hey." Sapa Kyungsoo balik sembari memberinya sebuah pelukan singkat. "Kau terlihat tampan malam ini."
"Kau juga tidak buruk. Aku suka rambut baru ini."
Kyungsoo tertawa. "Bagaimana kau tahu ini aku?"
Jongdae mengeluarkan suara 'pfffft'. "Aku bisa mengenali teman-temanku dimanapun." Ia beralasan. "Dan lagi, bibir serta suaramu gampang dikenali."
Laki-laki yang lain merona. Dari semua alasan yang Jongdae utarakan…
"Jadi, kau sendirian disini?"
Kyungsoo menatap Jongdae, merasa hilang untuk beberapa saat sebelum akhirnya menyadari bahwa ia masih harus mencari Jongin. "Well, tidak juga. Aku tidak bisa menemukan orang yang kucari. Kau tahu, pesta dansa bertopeng dan semacamnya." Ucapnya saat ia menubruk seorang pelayan yang terburu-buru pergi ke dapur dengan nampan kosong di tangannya.
"Oh. Teman kencan?"
"Kau bisa menyebutnya begitu."
"Aku tahu. Kau sedang mencari Jongin." Ucap Jongdae yakin.
"Tuhanku, apakah semua orang sudah tahu?"
Artis Broadway tersebut hanya mengangguk. "Aku baru saja mengetahuinya beberapa hari lalu jika hal itu membuatmu merasa lebih baik."
Kyungsoo hanya tersenyum lembut.
"Hey, mau berdansa?" tanya Jongdae tiba-tiba, matanya berlari-lari ke arah orang-orang yang berada di lantai dansa. Bibirnya mulai menyunggingkan senyuman yang bisa menyaingi kucing Chesire.
"Apa?" Mata Kyungsoo terbelalak. "Uh, Tidak. Tidak. Aku tidak berdansa."
Jongdae hanya menggelengkan kepalanya, tangannya meraih Kyungsoo kemudian ia menarik laki-laki itu bersamanya. "Tak masuk akal, kau adalah penari yang baik dan sungguh, kenapa tidak bersenang-senang sembari menunggu Jongin menemukanmu?"
"Um, tidak! Jongdae, tolonglah! Ini bukanlah ide yang bagus!" seru Kyungsoo saat Jongdae berpindah posisi di belakangnya dan mulai mendorong paksa tubuh mungilnya ke arah lantai dansa, Kyungsoo berusaha melawan dengan lemah.
Jongdae tertawa jahat dan Kyungsoo dapat merasakan udara dingin menjalar naik ke tulang belakangnya. Ia benar-benar tak menyukai tawa itu. "Ayolah, Soo. Santailah!" kemudian ia memberikan satu dorongan penuh dan membuat Kyungsoo melayang menuju pelukan laki-laki lain.
Butuh beberapa saat bagi Kyungsoo untuk mengumpulkan nyawanya kembali dan menarik diri dari laki-laki tersebut, mengatakan 'maaf' 'benar-benar minta maaf' terus menerus sampai ia memutuskan untuk menatap laki-laki tersebut. Terkejut, ia menatap mata penari tersebut, tatapan pria yang lain menembus dirinya. Untuk memeriksa keberuntungannya, ia bertanya perlahan yang mana masih bisa didengar. "Jongin? Jongin Kim?"
Untungnya, pria itu tersenyum ke arahnya. "Butuh waktu lama bagimu." Ucap Jongin.
Kyungsoo meringis balik ke arahnya sebelum menatap apa yang di belakang pria itu, bingung dan terkejut. "Tapi bagaimana Jongdae tahu?" ia bertanya pada dirinya sendiri ketika ia menemukan laki-laki tersebut memperhatikan mereka dari salah satu sisi lantai dansa. Ia membentuk jemarinya menjadi pose peace dengan salah satu tangannya sedangkan tangan yang lain mengenggam koktail Campari dan dengan berbalik sekali, ia berjalan menjauh.
Kyungsoo berbalik ke arah Jongin, berkata pada dirinya sendiri bahwa lebih baik ia tidak perlu tahu kemana Jongdae pergi.
"Yeah, Well, ada banyak orang bertopeng dalam satu ruangan." Ucap Kyungsoo, salah satu tangannya berada di pinggul.
Jongin hanya terkekeh sebelum menggenggam tangan Kyungsoo yang bebas dan menariknya mendekat dengan lembut. "Well, Kita bersama sekarang, jadi…" ucapnya, menarik Kyungsoo mendekat ke arah kerumunan, dan tidak seperti apa yang ia lakukan dengan Jongdae, ia membiarkan Jongin. "Kita juga bisa bersenang-senang."
Setelah kalimat tersebut terlontar dari bibir Jongin, pemain orchestra mulai menyiapkan satu lagu lagi dan para kerumunan mulai membubarkan diri dan bersiap-siap dengan posisi mereka. Sinar lampu ruangan sedikit meredup. Kyungsoo panik. Ia terpaku sembari menarik kembali tangannya. "Aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya berdansa seperti ini, Jongin."
"Tak apa. aku tak akan meninggalkanmu sendirian." Jongin menenangkannya. "Dengarkan saja aku dan ikutilah. Lagipula, siapa yang peduli jika kau membuat kesalahan? Tidak ada yang sempurna dan orang-orang tidak dapat mengenalimu." Ia beralasan.
Kyungsoo tidak ada keinginan untuk menjawab. Ia tahu akan sia-sia saja jika ia berusaha untuk berargumen. Jadi ia membiarkan Jongin membawanya ke bagian kecil dari lantai dansa tersebut.
"Okay, begini kita memulainya." Ucap Jongin. "Aku menggenggam kedua tanganmu," Ucapnya sembari menautkan tangan mungil Kyungsoo pada tangannya. "Kau siap?" laki-laki yang lebih mungil mengangguk. "Sekarang, ikuti saja aku." Ucapnya saat pemain orchestra mulai memainkan salah satu versi waltz. "Ke kanan, satu, dua." Bisik Jongin sedikit keras agar Kyungsoo bisa mendengarnya. Laki-laki yang lain mengikuti.
"Kiri, satu, dua.." dan Kyungsoo bergerak ke kiri. "Sekarang, melangkah mundur, satu, dua.. pindahkan tanganmu ke bahuku pelan-pelan."
Kyungsoo memperhatikan setiap gerakannya seperti yang dikatakan Jongin sementara laki-laki itu meletakkan tangannya pada pinggang Kyungsoo. Anehnya, ini sangat mudah.
"sekarang, ulangi saja gerakannya. Kanan, satu, dua. Kiri, satu, dua. Mundur, satu, dua.." ia kerap mengulangi ucapannya sampai Kyungsoo mulai terbiasa. Mereka berdansa pada lingkaran kecil di sekeliling lantai dansa dan Kyungsoo merasakan perasaan hangat yang aneh dalam tubuhnya dan perasaan tersebut berubah semakin hangat tiap kali ia melihat Jongin tersenyum padanya.
Walaupun ada beberapa orang di sekeliling mereka dalam ruangan ini, terdapat sebuah keintiman yang aneh di antara Jongin dan Kyungsoo, dan hal itu adalah sesuatu yang mereka berdua rasakan.
"Kau bukan penari yang buruk." Ucap Jongin tiba-tiba.
"Oh, diamlah." Jawab Kyungsoo ketus. "Ini hanya karena dansa ini mudah."
Laki-laki yang lebih tinggi terkekeh sembari melepaskan tangannya dari pinggang Kyungsoo dan memutar laki-laki itu perlahan. Tak ada cara lain untuk menyembunyikan rona merah yang meruak di pipinya. "Tentu saja ini mudah.. Ini waltz.. ngomong-ngomong, aku suka penampilan barumu." Ucapnya sembari kembali meletakkan tangannya pada pinggang Kyungsoo.
Kyungsoo mengangkat kepalanya karena ini. "Benarkah? Ini semua berkat Zitao dan Luhan."
"Well, mereka mengubahmu dengan baik." Bisik Jongin, menekan tubuhnya mendekat pada Kyungsoo dan laki-laki yang lain sama sekali tidak mengkomplain apapun mengenai hal ini. "Terutama rambutnya."
"Terima kasih." Gumam Kyungsoo. Ia menghirup nafas dalam, matanya terpejam selama beberapa saat ia mencerna harum Jongin. ia berbau seperti rempah-rempah dan sesuatu yang mahal. "Kau juga tak terlihat buruk."
Jongin tersenyum, puas akan pujian setengah hati Kyungsoo. Ini permulaannya.
Lagu akhirnya berhenti dan Jongin mengikuti Kyungsoo meninggalkan lantai dansa. Pemain orchestra meletakkan alat musiknya ketika seorang pria bertopeng dengan setelan putih dan dasi kupu-kupu hitam berjalan menuju mic di tengah panggung. Para kerumunan terdiam saat ia tersenyum malu-malu sebelum melepaskan topeng hitam silvernya dari wajahnya. Kyungsoo tersenyum saat Luhan mulai berbicara.
"Wow. Lihatlah kerumunan ini.. pertama-tama, terima kasih pada para hadirin yang telah datang malam ini untuk ikut merayakan perilisan koleksi terbaruku bersamaku!" semua penonton bertepuk tangan. "Aku harap kalian bersenang-senang dan-"
Saat Luhan menyampaikan pidato terima kasihnya, Kyungsoo melihat Baekhyun menghampiri untuk berdiri di sebelahnya dengan seorang pria bertopeng yang tak lain tak bukan adalah Chanyeol. Mereka berjalan bergandengan tangan, sebuah senyuman merekah di wajah mereka.
Ketika Baekhyun berada tepat di sebelahnya, ia berbisik pada Kyungsoo. "Kurasa kita sudah resmi sekarang."
"Kenapa?" Kyungsoo berbisik balik.
Baekhyun terlihat gelisah. "Well, kami tidak bercumbu, namun kami berciuman dan bibir kami saling bergelayut dan tidak ada permainan lidah jadi kurasa hal itu tidak termasuk bercumbu." Laki-laki yang lain mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu."
Mereka berdua kembali berbalik menghadap Luhan yang masih menyampaikan pidatonya sebelum kembali berhadapan satu sama lain. "Apa kau benar-benar menyukainya?"
Baekhyun mengangguk ketika ia merasakan seseorang meremas tangannya pelan. "Kita mengatakan bahwa kita saling menyukai satu sama lain.."
Kyungsoo terdiam selama beberapa saat sebelum memecahkan sebuah senyuman. "Itu bagus, Baek." Ucapnya, menepuk punggung pria yang lain kemudian kembali memfokuskan perhatiannya pada Luhan.
"-dan aku tak tahu apa yang bisa kulakukan tanpa adanya seseorang yang sangat special yang ingin aku panggil naik ke panggung sekarang. Sehun! Aku tahu kau disana! Kemarilah!" seru Luhan.
Terdengar suara gersak-gersik kerumunan sebelum Sehun naik ke panggung dan berdiri di samping Luhan. Ia mengenakan setelan hitam yang hanya di desain dan dibuat khusus untuknya oleh Luhan. Kyungsoo menyadari ia tidak mengenakan topeng saat ia berdiri di samping Luhan. Mereka berdua sangat cocok dalam artian yang baik. Mereka berdua akan menjadi pasangan yang imut.
Luhan berbalik menghadap Sehun sebelum melanjutkan. "Sehun, kau membantuku membuat malam ini menjadi kenyataan dan aku tidak tahu bagaimana kau berhasil mengabulkan permintaanku namun aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Sungguh, aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa berhasil tanpa bantuanmu dan aku rasa ini saat yang tepat untuk mengumumkan.." ia meraih tangannya pada laki-laki yang lebih muda dan tersenyum bangga. Kyungsoo dan Baekhyun menatap satu sama lain dengan terkejut, memprediksi apa yang akan Luhan lakukan selanjutnya. "Aku mencintaimu." Kemudian mereka berdua berciuman.
Ciuman itu singkat, hanya satu kecupan singkat di bibir namun dapat membuat seluruh kerumunan terdiam. Mereka menarik diri perlahan, tidak memperdulikan keheningan di sekitar mereka. Baekhyun mulai meloncat-loncat gembira, memekik perlahan. Kyungsoo menganggapnya sebagai tanda untuk membuat kegemparan.
"Yeah!" teriaknya, kepalan tangannya meninju udara.
"Panjang umur HunHan!" Baekhyun berteriak di sampingnya. "WooHoo!"
Selang beberapa detik kemudian, Chanyeol ikut bertepuk tangan, kemudian diikuti dengan Jongin. Tak berapa lama, semua orang di sekitar mereka mulai bertepuk tangan dan berseru untuk pasangan yang baru saja resmi go public ini. Kyungsoo melihat sekeliling dan mendapati Joonmyeon serta Jongdae berdiri berdampingan, bertepuk tangan dan mengangguk setuju. Kembali berbalik menghadap Luhan dan Sehun di atas panggung, Luhan mengatakan sesuatu yang segera tenggelam oleh bisingnya suara dan suara tepuk tangan di sekitarnya. Kedua orang di atas panggung tampak sangat bangga setelah berhasil mempublikasi hubungan mereka.
Kyungsoo melepaskan topengnya, bahan topeng tersebut mulai mengganggu kulitnya. Ia menatap Luhan dan Sehun dengan riang-gembira. Tiba-tiba saja, ia merasakan sebuah tangan menyeka tangannya. Sembari menatap ke bawah, ia menyadari tangan Jongin sedikit menyentuh tangannya. Mendongakkan kepalanya, matanya tertuju pada Jongin yang tidak lagi tertutupi oleh topeng, dan ia dapat merasakan getaran aneh menjalari anatnya ketika laki-laki yang lebih muda tersenyum padanya. Kyungsoo memberikan sebuah senyuman singkat sebelum kembali menghadap depan.
Tentu saja, hal tersebut tak menghentikannya untuk melakukan sesuatu yang sedikit lebih berani.
Ketika Jongin mulai bergerak menjauh, Kyungsoo meraih dan menggenggam tangannya, mencengkramnya dengan erat, matanya masih tertuju ke depan. Tetapi bibirnya tersungging ke atas akan perasaan itu.
Jongin menatap ke arah tangan mereka dan mendongak menatap Kyungsoo yang sedang berusaha keras untuk tidak tersenyum lebar. Setelah melepaskan tangan Kyungsoo selama dua detik, ia menautkan jemarinya pada jemari Kyungsoo, kebahagiaannya begitu jelas terlihat.
Tak ada kata yang saling dilontarkan. Mereka berdua tahu perasaan ini saling pengertian.
Satu jam selanjutnya, satu dansa lagi, dan dua gelas tequila sunrise setelahnya, Kyungsoo sangat siap untuk pulang ke rumah.
Baekhyun dan Chanyeol telah pamit undur diri terlebih dahulu dan Kyungsoo bisa memprediksi headline news untuk berita esok hari adalah 'Kekasih Rahasia Baekhyun Telah Terungkap'. Ini karena para paparazzi selalu menunggu di luar gedung acara yang mereka tahu dihadiri oleh selebritis.
Kyungsoo dan Jongin keluar bersamaan, tangan saling bergenggaman, topeng tergeletak manis di tempatnya, dan mereka berjalan menuju lahan parkir tempat dimana ia memarkirkan mobilnya. Udara terasa hangat dan lembab serta tidak ada bintang yang bersinar di langit.
Perjalanan pulang ke apartemen Kyungsoo diisi oleh obrolan ala kadarnya dan pelan. Ia meninggalkan mobil tersebut dengan sebuah janji untuk menelepon Jongin dan merencanakan kencan selanjutnya.
Kyungsoo tidak menyadari betapa letihnya dia hingga dirinya masuk ke dalam apartemen, sepatu di depan pintu, setelan jas di lengan kursi, serta dasi yang berantakan dengan kancing atas dibiarkan terbuka.
Max meloncat di atasnya dengan cepat, cukup istirahat dan terbangun sementara Kyungsoo hanya melangkah ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya. Anjing Corgie tersebut mengikuti setiap gerakan tuannya. "Well, itu tadi melelahkan…" ucapnya pada diri sendiri, sebuah lengan melayang di atas matanya.
Pada akhirnya, ia tertidur di atas sofa dengan Max berisitirahat pada celah kecil antara kakinya dan sofa.
Keesokan paginya, Kyungsoo terbangun dengan leher kaku, seekor anjing berbaring di sebelahnya, pusing kepala, serta harum alkohol dan rempah-rempah yang masih membekas.
May 26, 2015
Luhan benar-benar tahu caranya membuat pesta yang menakjubkan.
Pesta dansa tadi malam benar-benar memenuhi criteria sebuah pesta dansa yang baik: orang kaya, suasana klasik, minuman yang enak, serta pembukaan rahasia yang terencana dengan baik.
Yup. Kalian semua pasti telah mendengarnya jika kalian aktif di twitter. Selama ini Luhan berkencan dengan Sehun Oh dan mereka baru saja mengungkapkannya pada pesta dansa tadi malam.
Whoa. Aku mengucapkan selamat pada mereka berdua karena aku tahu rasanya pasti sulit mengungkapkan hal seperti itu di hadapan banyak orang.
Dan juga, aku sedang membaca berita-berita headline di Koran minggu ini dan, seperti yang aku duga, hubungan Baekhyun juga telah terungkap. Pergilah ke salah satu website gossip dan aku bertaruh banyak uang bahwa kau akan menemukan headline news yang mengatakan: 'Kekasih Baru Baekhyun'. Beberapa paparazzi berhasil mengambil beberapa gambar yang jelas saat mereka keluar dari gedung acara pesta dansa.
Aku bahagia untuk temanku. Mereka semua sukses dan telah memiliki pasangan masing-masing (walaupun Baekhyun gagal mengenalkan kekasihnya padaku dengan benar) dan aku berharap yang terbaik bagi mereka untuk ke depannya.
Lalu bagaimana denganku, tanyamu?
Well, aku pergi dan berdansa dengan tuan Misterius tadi malam. Kami bercakap-cakap, minum-minum, berpegangan tangan, dll. Aku harus mengatakan, aku jatuh hati padanya. Yep. Susah memang untuk dipercaya tapi aku mulai mengembangkan suatu perasaan aneh padanya. Ada sesuatu yang sempurna tapi juga tidak dalam dirinya. Ia menyenangkan jika ia bisa dan ia dewasa jika ia harus.
Ia bergerak dengan begitu tentram anggun dan hal itu sungguh indah.
Ia membuatku memiliki perasaan yang aku tidak bisa tidak sukai. Dan aku punya suatu intuisi yang mengatakan bahwa ia memiliki perasaan yang sama.
Aku tak tahu ke arah mana hal ini akan berjalan… rasanya aku terus-terusan berbicara mengenai pria ini.
Oh well. Aku menyukainya dan kita akan pergi berkencan lagi. Cukup sudah.
Sekarang aku harus pergi. Max sudah menggaruk kakiku minta makan.
Dengan Cinta,
D.O
Hai, maaf banget ini baru bisa aku post malam gini, hari ini aku banyak urusan sampai-sampai ga sempet ngelanjutin translatean yang tertunda ini, heol.
Maaf, aku agak sibuk nonton drama lol jadinya niat untuk mentranslate jadi sedikit berkurang but I tried my best though, how do you think? Apa chapter kali ini mudah dipahami?
Ngomong-ngomong soal drama, aku lagi ngikutin Reply 1994 lol ga ada yang tanya ya tapi ya sudahlah. Ada yang lagi nonton itu juga? Atau mungkin kita di team yang sama, team chilbong? Haha.
He's kinda looks like Sehun and Jin of Bangtan, you know. I mean, Chilbongie.
And anyway, mengenai project aku selanjutnya masih belum ada yang bener. Kebanyakan jawab anterograde tomorrow ya? Lol bukan itu bukan itu. Im going to translate another fic. Bisa dibilang itu 'sepantaran' sama anterograde tomorrow, inisial judulnya juga A. hanya terdiri dari satu kata. tahu kan?
Okay, that's all. Jadi terlalu banyak ngoceh gini lol.
Reviews are so much loved ;)
