"Aku masih tidak bisa mempercayai foto-foto itu masih tersebar. Apakah jika aku tengah menjalani suatu hubungan setabu itu?" tanya Baekhyun sembari menggenggam Starbucks coffeenya sedang tangan yang lain menggenggam majalah yang baru saja ia beli di jalan. Sepasang aviator bertengger di hidungnya.
Ini hari Kamis yang cerah dan Kyungsoo sedang berjalan-jalan dengan Baekhyun mengitari Central Park sebelum pergi bekerja. Matahari menyinari mereka ketika kedua laki-laki itu melintasi taman serta pohon-pohon yang tampaknya semakin menghijau kian hari. Mawar pohon Sharon baru saja mulai bermekaran. Tentu saja, kedua laki-laki itu mewaspadai setiap kamera yang membidik Baekhyun namun seiring berjalannya waktu, Kyungsoo mulai terbiasa dengan hal itu.
Ia melihat ke foto yang dipegang Baekhyun, menyesap frappucinonya dan mengedikkan bahu. Halaman yang tengah Baekhyun baca menampilkan dengan jelas foto Baekhyun meninggalkan tempat pesta dansa bersama Chanyeol. Mereka berdua tidak mengenakan topeng dan Chanyeol berada di depan Baekhyun, tangan mereka bertautan ketika laki-laki yang lebih jangkung menariknya menjauh dari keramaian. Tatapan mereka sama-sama berada di bawah pada foto tersebut.
"Maksudku yang benar saja, aku manusia! Aku juga bisa berpacaran." Seru Baekhyun sembari meneguk habis sisa kopinya dan membuang wadah kosong kopi tersebut ke tempat sampah. Sembari membalik halaman majalah tersebut, Baekhyun berkata, "Aku merasa bersalah pada Chanyeol."
"Kenapa?" tanya Kyungsoo.
Baekhyun menghela nafas berat. "Jika kita terus berpacaran, ia harus melewati semua ini." ia menggoyangkan pipa di udara. "Secara konstan."
Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar hal ini. "Kau tidak berpikir untuk putus dengannya, kan?"
"Tidak, tentu saja tidak." Laki-laki yang lain menggelengkan kepalanya, sinar matahari menyinari rambut ungunya. "Jika aku putus dengannya, yang mana tidak akan kulakukan, hal tersebut tak akan terjadi hanya karena masalah sepele ini."
Laki-laki yang lebih tua mengangguk dalam diam. "Kurasa ia memaksakan dirinya untuk melalui hal ini hanya untukmu." Ucap Kyungsoo. "Ia jelas-jelas sangat mencintaimu, jadi kurasa masalah ketenaran serta paparazzi ini hanya masalah kecil baginya."
Baekhyun memikirkan perkataan Kyungsoo sebelum menghela nafas lagi. "Kurasa." Akunya. "Aku hanya khawatir ia tidak dapat menanganinya."
"Aku yakin ia bisa." Kyungsoo menenangkan Baekhyun sebelum melempar wadah kopinya ke tempat sampah terdekat. "Lihatlah aku. Aku sudah berteman denganmu selama bertahun-tahun, aku mulai terbiasa dengan hal ini."
Baekhyun hanya berdengung sebelum bertanya, "Jadi, bagaimana denganmu dan Jongin?"
Laki-laki yang lebih tua menggigit bibir bawahnya, tidak yakin dimana dia harus mulai. "Baek…" ucapnya hati-hati. "Kurasa aku jatuh cinta padanya." Ia menyelesaikan perkataannya, ekspresi malu tampak di wajahnya.
"Itu bagus!" ucap Baekhyun dengan sebuah senyuman. "Apa buruknya itu?"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Aku tak tahu- kurasa- kurasa rasanya sedikit aneh kembali menjalin suatu hubungan. Maksudku, kau tahu aku tidak berpacaran dengan siapa pun beberapa waktu ini." laki-laki yang lain mengangguk, mengikuti alur pembicaraan Kyungsoo. "Dan terlebih lagi ini dengan laki-laki yang kurasa tidak akan, tidak akan pernah kusukai. Bisakah kau lihat betapa hilangnya aku akan semua ini?"
Baekhyun kembali mengangguk. "Aku mengerti, benar-benar mengerti. Meninggalkan kewaspadaanmu dan jatuh cinta bisa jadi menakutkan. Tapi kurasa kau melakukan hal yang benar dengan memberikan Jongin kesempatan. Dan, ayolah, terlihat jelas bahwa kau dan Jongin saling mencintai satu sama lain. Ada suatu kecocokan yang aneh di antara kalian berdua." Ujarnya sembari menggoyangkan jemarinya untuk menekankan maksud perkataannya.
"Kau pikir ini hal yang bagus?"
"Sangat bagus." Ucapnya sembari membenahi letak kacamatanya.
Kyungsoo berhenti dan menatap sahabatnya itu, mengingat-ingat alasan mengapa ia sangat menyukai Baekhyun. Selain berbakat dalam bidang musik, berisik, terkadang menyebalkan, dan terbuka, Baekhyun juga sangat pintar untuk seseorang dengan umur sepertinya, benar-benar setia, dan yang pasti, teman yang baik bagi Kyungsoo.
Laki-laki yang lain meringis ke arah sang penyanyi. "Terima kasih banyak." Ucapnya tulus.
"Tak masalah." Jawab Baekhyun. "Jika ia menyakitimu maka aku punya alasan untuk memotong kejantanannya dan membuangnya ke tengah laut."
Kyungsoo tertawa. "Lucu, aku cukup yakin aku menulis sesuatu seperti itu tentang Chanyeol dalam salah satu postingan blogku."
Satu hal lain yang ia sukai dari Baekhyun adalah fakta bahwa mereka punya pemikiran yang sama.
"Oh dan ngomong-ngomong, Jongin dan aku pergi berkencan di café kemarin dan merencanakan untuk mengadakan makan malam bersama sabtu malam nanti." Sebut Kyungsoo cepat, gugup akan reaksi Baekhyun.
Namun laki-laki yang lain hanya mencerca. "Kau melakukan semua yang kulakukan bersama Chanyeol dengan orang yang berbeda." Ia memberi tatapan tajam palsu pada Kyungsoo. "Pastikanlah kau menceritakan padaku esok harinya."
Kyungsoo memukul lucu lengan Baekhyun dengan sebuah kekehan. "Tentu saja."
Mereka berjalan melewati para pejogging dan seniman serta musisi yang bekerja di taman. Baekhyun memecahkan keheningan di antara mereka dengan bertanya, "Apakah aku sudah memberitahumu aku ingin kembali ke Stacey's nanti?"
"Tidak, kenapa?"
"Aku ingin memotong dan menyemir ulang rambutku. Aku suka warna ungu ini tapi kini rasanya terkesan tua."
"Kau pasti menyadari kau hanya memakai warna tersebut selama beberapa hari saja, kan?"
"Lalu?"
Kyungsoo mendengus dan memutar bola matanya. "Baiklah. Kau ingin warna apa?"
"Aku memikirkan warna blonde kemerah-merahan."
"Ya Tuhanku…" Kyungsoo mengerang.
Sabtu
June 1, 2015
6:05 PM
Mengatakan bahwa Kyungsoo tidak begitu bersemangat mengenai kencan ini rasanya sedikit bohong.
Ia tidak akan mengakui hal ini kecuali pada dirinya sendiri dan Max tapi Kyungsoo bahagia bisa menemui Jongin lagi.
Saat ini telah memasuki hari pertama bulan Juni dan cuacanya sedikit terlalu panas untuk musim semi. Kyungsoo menemukan dirinya menyalakan pendingin ruangan dengan suhu lebih dingin dibanding biasanya. Ia harus berpakaian sewajarnya untuk cuaca panas seperti ini.
Ia memakai sepasang celana pensil berwarna biru tua serta kemeja biru dengan lengan tergulung. Pakaian tersebut cukup santai.
Jongin telah menyuruhnya untuk turun pada pukul 17:55, namun Kyungsoo mengambil beberapa menit untuk memeriksa penampilannya sekali lagi serta mengisi mangkuk makanan Max dan ketika ia sampai di lobby, jam telah menunjukkan pukul 18:05.
Penjaga pintu membukakan pintu dengan sopan dan Kyungsoo berterima kasih padanya. Jongin tengah berdiri di salah satu sisi jalan masuk gedung, dengan tangan tersembunyi di dalam kantong celana jeans abu-abunya serta kemeja yang cukup kebesaran.
Yeah, pikir Kyungsoo, penampilan santai benar-benar membuatnya terlihat lebih baik.
"Jongin!" panggilnya sembari berjalan mendekati laki-laki yang lain.
Jongin berbalik ke arahnya dan meringis. "Hey yang disana."
"Hi." Kyungsoo menyapa balik sebelum memandang sekeliling, mengharapkan Aston Martin biru terparkir di suatu tempat namun ia terkejut ketika ia tak menemukannya. "Mana mobilmu?"
"Oh, aku kesini naik taksi." Ucap Jongin sembari mulai berjalan menyusuri jalanan, Kyungsoo mengikuti di belakang sampai ia bisa menyamakan langkahnya dengan laki-laki itu. "Tempat yang kita tuju cukup dekat jadi kurasa kita bisa berjalan saja dan lagi pula, kurasa ini cuaca yang tepat untuk berjalan-jalan."
Kyungsoo mengangguk sembari berjalan disampingnya, diam-diam mengagumi siluet Jongin di bawah sinar matahari terbenam.
Ternyata tempat yang Jongin tuju adalah Bar dan Restaurant Prancis di East 60th Street. Tempat itu hening serta redup dan beberapa minggu lalu, Kyungsoo tidak akan pernah mau berada di tempat seintim dan sedekat ini dengan Jongin. Namun kini, ia tidak mempermasalahkannya. Terlebih lagi, tempat ini romantis.
Terdapat banyak sekelompok orang di meja bundar serta persegi namun kedua laki-laki itu berhasil mendapatkan dua kursi di bar. Mereka berdua memesan minuman serta makanan dengan cepat sebelum untuk kali kedua, ditinggalkan sendirian di area kecil mereka.
Kyungsoo menyesap French 75 dari gelasnya dengan hati-hati.
Jongin memperhatikannya dengan menopang pipi seperti biasa. "Jadi bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Kau tahu, kita baru saja bertemu tiga hari lalu." Kyungsoo meningatkannya.
Jongin mengedikkan bahu. "Aku tahu. Tapi banyak hal bisa terjadi dalam tiga hari ini."
Laki-laki yang lebih tua hanya tertawa lembut. "Well, akhir-akhir ini banyak sekali berita menarik. Gerakan siput Albeit, Cuaca yang sedang panas akhir-akhir ini, dan sekarang dunia tahu mengenai Chanyeol dan Baekhyun."
"Aku bertanya tentangmu, bodoh." Ucap Jongin, nada menggoda terdengar dalam suaranya.
"Aku telah mengatakan semuanya padamu, idiot." Jawab Kyungsoo dengan nada bicara yang sama. "Kenapa kau tidak menceritakan padaku apa yang terjadi padamu sekali-kali?"
"Well," mulai Jongin sebelum meneguk cardinal cocktailnya. "Tidak ada yang istimewa. Photoshoot disini dan disana, meeting disini dan disana. Oh! Tapi aku akan pergi ke Los Angeles."
"Secepatnya?"
"Aku belum tahu pasti. Agensiku masih membicarakan hal ini tapi mungkin aku akan berangkat beberapa minggu lagi."
"Tapi kau akan kembali, kan?"
Jongin menyeringai. "Kenapa? Kau akan merindukanku?"
Kyungsoo melebarkan matanya kemudian berpaling, berani bertaruh mukanya pasti lebih merah daripada minuman Jongin sedangkan laki-laki yang lain hanya tertawa dan mengulurkan tangannya untuk menepuk lengannya dengan lembut.
"Aku hanya bercanda, Kyungsoo. Ini perjalanan bisnis. Aku akan kembali ke kota dalam seminggu."
Jongin memperhatikan saat Kyungsoo menatapnya malu-malu dan mengangguk. Ia tidak bisa menatap mata Jongin saat itu.
"Kau tahu, aku merasa Kyungsoo yang aku temui pertama kali benar-benar berbeda dengan laki-laki di hadapanku saat ini." ucapnya. Kyungsoo mendongakkan matanya dengan alis berkerut, membentuk lipatan pada keningnya. Huh, itu mudah. Pikir Jongin.
"Apa maksudmu?" tanya Kyungsoo.
"Aku tidak tahu Kyungsoo yang aku temui di bar Minseok bisa bersikap sangat… imut." Ia menyelesaikan kalimatnya dengan tertegun, tertawa ketika Kyungsoo mengulurkan tangannya dan memukul lengan miliknya.
"Kau mengerikan.." ucap Kyungsoo, tidak bermaksud sama sekali.
Mereka lebih banyak berbincang pada saat makan malam. Jongin menceritakan lebih banyak kisah bodoh yang membuat Kyungsoo mendengus sekali dua kali dan ia menceritakan pada Jongin tentang dirinya sebanyak yang ia bisa sampai-sampai ia menyadari bahwa tidak ada yang tersisa.
Setelah memakan sepiring Club Steak dan Ravioli, kedua laki-laki tersebut menikmati sajian dessert mereka dengan tiga lapis coklat kue macaroon. Kyungsoo bukanlah penggemar berat makanan manis dan begitu pula dengan Jongin, namun rasanya tidak enak jika harus mengakhiri acara makan malam tanpa adanya sesuatu yang manis.
Ketika makanan telah dibayar (Jongin akhirnya membiarkan Kyungsoo membayar setengahnya setelah berkali-kali merengek) dan mereka telah berada di luar, jam telah menunjukan pukul 19.21 dan sinar matahari terakhir mulai menghilang. Cuaca tiba-tiba berubah menjadi lebih dingin dan lebih nyaman untuk berjalan-jalan.
Mereka berdiri di jalan dan membiarkan orang-orang melihat mereka selama beberapa saat. "Jadi, kau ingin aku mengantarkanmu pulang sekarang?" tanya Jongin.
Kyungsoo memperhatikan gerombolan orang yang berada di jalanan kemudian memeriksa jam tangannya sekali lagi. Malam ini tidak bisa berakhir. Belum waktunya. "Sejujurnya, aku tidak ingin pulang. Paling tidak, tidak sekarang."
"Baiklah. Kau mau pergi kemana?"
Kyungsoo mengedikkan bahu. "Aku membiarkanmu memilih."
Senyuman tersungging pada bibir Jongin. "Ok kalau begitu. Ayo." Ia mengisyaratkan Kyungsoo untuk mengikutinya ke pinggir Jalan sebelum memanggil sebuah taksi.
Mereka duduk di tangga merah di antara kerumunan orang ketika sinar lampu Times Square berkedip dan bergerak mengelilingi mereka. Sinar merah serta emas mencolok bertubrukan dengan dinding hijau dan biru. Warna putih menari-nari di sekitar warna abu-abu dan oranye dengan berbagai macam warna yang Kyungsoo tak tahu namanya.
Mereka duduk berdekatan, paha mereka bersentuhan. Kyungsoo melihat sekeliling, tangannya berada dalam pangkuannya, dan ia menghirup nafas dalam-dalam. Ia menghela nafas semabri mengeluarkan desahan.
"Tempat ini adalah kota yang tidak pernah tidur." Gumam Jongin di sela-sela.
Kyungsoo terdiam selama beberapa saat. "Ya, tapi aku tak mau tinggal di lain tempat."
"Kau tinggal disini sepanjang hidupmu?"
"Yeah. Kau?"
Jongin menggelengkan kepalanya. "Nope. Aku lahir dan dibesarkan di San Francisco. Setelah aku mulai menjadi model, aku pindah kemari."
"Kenapa? San Fran adalah tempat yang bagus."
Laki-laki yang lain mengerucutkan bibirnya. "Pusat agensi berada di New York dan itu akan memudahkan pekerjaanku. Lagipula aku ditendang keluar oleh kedua orang tuaku."
Kyungsoo berbalik ke arahnya, pandangan matanya menyorotkan rasa keprihatinan. "Kenapa?"
"Aku membuka rahasiaku kepada mereka dan bisa dibilang mereka tidak terlalu bisa menerimanya." Cerca Jongin sembari terkekeh getir saat ia mengacak-acak rambutnya. Kyungsoo bisa melihat matanya menerawang jauh. "Jadi," Jongin menghela nafas berat. "Aku berakhir dengan tinggal bersama temanku selama waktu yang lama dan ketika aku memulai karir modelku, aku pindah dari California dan datang kemari. Ibuku telah mencoba berkali-kali untuk membawaku pulang ke rumah namun aku tidak ingin kembali ke tempat yang tidak menginginkanku."
"Well, bukankah kau bilang ibumu tinggal bersamamu di kota?"
Jongin mengangguk. "Logikanya adalah, jika aku tidak pulang bersamanya, ia akan mendatangiku. Jadi, ia memutuskan untuk meninggalkan ayahku dan terbang menyebrangi Negara. Ia tinggal bersamaku sampai ia menemukan tempat tinggalnya sendiri."
Kyungsoo bertanya, "Tapi apakah ia menerimamu sekarang?"
Jongin mengerutkan wajahnya. "Meh, dia tetap menganggapku sebagai anaknya. Namun ia masih belum bisa menerima anaknya tidak tertarik pada perempuan."
"Bagaimana dengan ayahmu?"
"Ayah apa?" ucap Jongin pahit, seolah-olah kata-kata tersebut menyakitinya ketika mereka keluar dari mulut Jongin.
Laki-laki yang lebih tua menatap lurus ke arah orang-orang yang melintasi perempatan, tidak yakin bagaimana ia harus berekasi mengenai cerita Jongin. Ketika ia memberitahu rahasianya pada kedua keluarganya, butuh waktu lama bagi mereka semua untuk menerima perbedaan seksualitasnya namun pada akhirnya semua orang menyetujuinya, termasuk kedua orang tuanya.
"Aku turut menyesal, Jongin." adalah yang bisa ia katakan.
Jongin hanya mengedikkan bahu. "Tak apa. sejujurnya aku juga tidak peduli. Setidaknya aku masih mempunyai ibuku di sisiku. Sedikit." Sembari menggelengkan kepalanya, ia melanjutkan, "Lagipula, aku punya satu orang lagi yang membuatku ingin tinggal di kota. Jika ia menerimaku." Ia melirik Kyungsoo.
Laki-laki yang lebih tua segera mengerti maksud Jongin. ia tersenyum pada dirinya sendiri, merasakan rona merah kembali menyeruak di pipinya sekali lagi. Tak lama kemudian senyumannya menghilang.
"Aku sudah lama tidak menjalin hubungan, Jongin." ujar Kyungsoo. "Dan aku tahu dengan padatnya jadwal kerja kita, hal ini mungkin takkan berhasil. Dengan kau harus pergi kesana kemari dan aku tinggal di kantor sampai larut malam…" jelasnya.
"Aku mengerti." Ucap Jongin sembari bergerak mendekat. Tidak ada celah di antara mereka ketika Jongin mencodongkan dirinya mendekat, berbicara dengan nada rendah, "Tapi apakah itu berarti kau tak ingin mencobanya?"
Kyungsoo berbalik menghadapnya. "aku tidak mengatakannya." Bisiknya.
Wajah mereka berdekatan, tetapi tidak cukup dekat. Salah satu tangan Jongin terangkat untuk membuai wajah Kyungsoo sebelum ia menutup jarak di antara mereka.
Bibir Jongin terasa hangat dan lembut, sama seperti yang Kyungsoo ingat. Matanya terpejam, bibirnya merespon dengan sendirinya. Ia menelengkan kepalanya untuk mendapat sudut yang lebih baik dan ia bisa merasakan datangnya udara dari hidung Jongin saat ia menghirup nafas.
Bibir mereka bergerak lambat, bertautan dan menari-nari pada bibir masing-masing.
Setelah mengingatkan dirinya sendiri bahwa mereka berada di tempat umum, Kyungsoo menarik diri dengan lembut namun ia menempelkan keningnya dengan kening Jongin.
"Apa kau masih butuh jawaban?" tanyanya, terdengar kehabisan nafas walaupun ciuman mereka tidak berlangsung lama.
Jongin terkekeh dan Kyungsoo tersenyum lebar.
"Kurasa ya." Ucap Jongin sembari membelai pipi Kyungsoo dengan ibu jarinya.
"Hmm." Kyungsoo bersenandung saat ia menyandarkan kepalanya pada bahu Jongin. "Bagus."
Mereka terdiam dalam kenyamanan, kota di sekitar mereka menciptakan cukup kebisingan yang bisa menenggelamkan mereka. orang-orang sibuk pada urusannya masing-masing tanpa perduli waktu dan mereka terlalu terhipnotis oleh cahaya lampu yang kini bersinar lebih terang.
"ngomong-ngomong, aku menyukai tawamu." Kyungsoo berkata tiba-tiba dengan nada manis.
Jongin meringis. "Aku menganggapnya sebagai pujian pertamamu." Gumamnya balik sembari terkekeh pelan.
"Diamlah." Ucap Kyungsoo, namun pada akhirnya ia juga ikut tertawa.
Sayangnya, malam yang indah ini harus berakhir.
Mereka memanggil sebuah taksi untuk mengantarkan Kyungsoo pulang terlebih dahulu, jemari mereka bertautan sepanjang perjalanan. Ia mengecup bibir Jongin singkat di bagian belakang taksi sebelum berjalan kembali ke apartemennya.
Penjaga pintu selalu berdiri disana seperti biasa untuk menyapanya. "Hey, Kyungsoo. Apa harimu baik?"
Ia bahkan tidak berpikir dua kali. "Ya, ya." Jawab Kyungsoo dengan sebuah senyuman. "Selamat malam." Ucapnya sebelum berjalan melewati pintu.
Di dalam kamar apartemennya, Kyungsoo disambut oleh Max yang sedang tertidur di atas sofa, anjing itu terbangun oleh suara pintu yang terbuka dan tertutup. Setelah menyapa peliharaannya, Kyungsoo mengangkat Corgie tersebut dan berjalan ke kamar tidur setelah mengunci pintu dan mematikan semua lampu.
Setelah meletakkan Max di atas ranjang, Kyungsoo mengambil tempat di sebelah anjingnya, membelai bulu-bulu halusnya. Ia menemukan macbooknya tergeletak manis di atas meja tempat ia meninggalkannya. Ia ingin menulis sebuah postingan blog tentang apa yang terjadi hari ini namun segera mengurungkan niatnya.
Ada beberapa hal yang ingin ia simpan untuk dirinya sendiri.
"Aku akan hubungi Baekhyun besok, aku yakin ia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi." Ucap Kyungsoo pada dirinya sendiri. Max menelengkan kepalanya ke arah Kyungsoo.
Sembari meringis, Kyungsoo menggaruk bagian belakang telinganya sebelum beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk bershower.
un-edit, mungkin kalian akan menemukan beberapa typo (seperti biasa) dan maaf sekali lagi aku baru bisa update malam-malam begini. tasks are killing me slowly for sure. disini hanya ada satu kalimat asing so just let me explain it. it will be short, i swear.
alviator itu sejenis kacamata hitam, biasanya dipake oleh pilot.
so, selain kata itu, apa masih ada kalimat asing lainnya, atau mungkin chapter kali ini tidak mudah dipahami?
note to my lovely readers, aku bener-bener ga ada bakat ngetranslate adegan intim. aku bingung memilih penggunaan yang tepat, but just let me try okay? kalian akan menemukan beberapa adegan smut di chapter depan (mungkin) karena Jongin dan Kyungsoo sekarang sudah berpacaran hoho,
dan banyak dari kalian yang sudah betul, artbitrage. lol. karena begitu banyak yang request minta artbitrage di translate, jadi aku berusaha nyari-nyari personal account fumerie (author artbitrage) dan dapet izin darinya sekitar sebulan- dua bulan lalu. agak susah minta izin sama author dari live journal, y'know T_T
ada yang bilang udah ada yang pernah ngetranslate, ya? well aku gatau dan karena udah terlanjur dapet izin jadi sayang kalau ga di translatein lol
so, i will be back with artbitrage and another kaisoo story. however, i need to finish this story first haha.
reviews are so much love ;)
