Dua minggu telah berlalu, dan Kyungsoo menemukan dirinya semakin menempel pada Jongin.
Mungkin ini karena sekarang mereka telah benar-benar menjalani suatu hubungan, namun selama empat belas hari ini, Kyungsoo berada di beberapa tempat dengan Jongin. Mereka lebih sering berkencan di café, yang mana membuat Kyungsoo mulai menyukainya. Mereka juga pergi berkencan bersama peliharaan mereka dimana Max berkesempatan untuk bertemu Molly dan Jake dan sebuah acara makan malam.
Kyungsoo bisa mengatakan bahwa dirinya benar-benar telah jatuh hati pada Jongin, namun sampai sekarang, tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan, 'aku mencintaimu.'
Yang mana membuat Kyungsoo wajib merasa panik saat ia melihat salah satu artikel yang tertinggal di mejanya.
Jongin Kim Telah Berpindah ke Lain Hati?
Dengan semua rumor selingkuh dan kebohongan yang didapat oleh sang model, haruskah kita merasa terkejut?
Aku tidak begitu yakin apakah ia dan pria yang selalu ditemukan bersamanya di perkotaan tengah menjalani sebuah hubungan atau apapun itu namanya. Namun sepertinya, hubungan apapun yang terjalin di antara mereka telah berakhir.
Jongin ditemukan berjalan kaki di Little Italy, bergandengan tangan dengan seorang perempuan.
Ya, kali ini adalah seorang perempuan.
Kyungsoo merasakan matanya menelaah ke bawah saat ia melihat foto di bawah artikel tersebut.
Foto tersebut menampakkan seorang laki-laki yang tak diragukan lagi adalah Jongin. Kyungsoo dapat mengenali wajahnya dimana pun, walaupun dengan Ray Bans menutupi wajahnya. Seorang wanita muda berada di sampingnya, lengannya tertaut pada Jongin. Ia tinggi, langsing, dengan rambut panjang coklat bergelombang, dan wajah yang cantik.
Sembari menghisap nafasnya, Kyungsoo menyusuri sisa kata-kata pada artikel tersebut, namun yang ia ingat hanyalah kata-kata 'berkencan' dan 'mereka terlihat saling jatuh cinta-' (Ia mencerca dirinya saat membaca ini) dan juga kalimat, '-lalu bagaimana dengan pria yang ditemuka sedang bersamanya beberapa hari lalu?'
"Pria itu sedang duduk disini menanti penjelasan.." Kyungsoo mengerang pelan. Memandang sekeliling dengan hati-hati, ia mengeluarkan ponselnya dan memotret artikel tersebut lalu segera mengirimkannya pada Baekhyun dengan sebuah pesan singkat yang berupa:
Untuk: Baek.
Aku akan meneleponmu pada jam makan siang dan sebaiknya kau mengangkatnya.
Tak terasa, pukul 13.00 telah tiba dan Kyungsoo segera meletakkan segala peralatannya kemudian mengambil tas selempang yang ia letakkan di bawah mejanya. Setelah mengangkat tas tersebut ke bahunya dan meletakkan ponselnya di saku, Kyungsoo berjalan ke arah kafetaria gedung tempatnya bekerja.
Kafetaria kantornya merupakan tempat yang cukup besar dengan dua lantai. Berkarpet merah, dan dinding berwarna kuning di salah satu sisi serta sebuah jendela besar di sisi lain. Sebuah tangga yang membawamu ke lantai dua dengan sebuah balkon yang menakjubkan. Kyungsoo mengambil tempat sendirian di salah satu meja putih bundar di dekat jendela, sinar matahari menerangi saat ia memeriksa ponselnya, sebuah sandwich sama sekali tak tersentuh dan tergeser ke sisi lain. Ia membutuhkan sedikit privasi, jadi ia menolak dengan sopan ketika ada seseorang yang menawarinya tempat duduk ataupun seseorang yang meminta duduk bersamanya.
Akhirnya Baekhyun membalas pesannya dengan huruf kapital besar. Pesannya bertuliskan,
Dari: Baek.
WELL, APA-APAAN SAMPAH ITU?
Ia mengirimkan satu pesan lagi beberapa menit kemudian.
Dari: Baek.
Yea kau harus segera menelepon karena kita harus berdiskusi ketika aku mendapatkan kesempatan untuk melempar penis kekasihmu ke east river dan membuatnya mengambang ke mother effin.
Kyungsoo tertawa canggung sembari menekan speed dial di ponselnya dan setelah tiga dering, ia mendengar suara familiar di sisi lain.
"Soo?"
"Yeah?"
"Apa kau pikir itu beneran? Maksudku, Jongin dan perempuan itu?"
"Sejujurnya aku tak tahu harus berpikir bagaimana.." ucap Kyungsoo sembari menggosokkan telapak tangannya pada wajahnya, tiba-tiba merasa lelah. "Salah satu bagian dari diriku tidak mempercayai artikel ini tapi.. hal ini kelihatannya memungkinkan. Aku tak tahu!"
"Lagipula, siapa perempuan ini?" tanya Baekhyun.
"Siapa tahu? Siapa peduli?"
"Bisa saja dia saudara atau teman Jongin?"
"Tak mungkin. Gadis itu berkulit putih. Dan Jongin adalah orang Korea." Jelas Kyungsoo. "Dan mana mungkin teman berjalan seperti itu?" ia dapat melihat Baekhyun mengerutkan bibirnya dalam pikirannya.
"Aku tak tahu, Kyungsoo. Hey, atau mungkin hal ini telah direncanakan atau semacamnya."
"Seperti apa?"
"Hell, jika aku tahu.." ucap Baekhyun. Di belakang, Kyungsoo bisa mendengar suara anjing mendekat.
"Hiiii!" ia mendengar Baekhyun berseru semangat sebelum ia mendengar sebuah suara yang terdengar seperti kecupan.
"Apa yang terjadi disana?" tanya Kyungsoo dengan hati-hati.
"Oh, maaf untuk itu. Aku sedang berada di studio dan Chanyeol datang mengunjungiku. Ia membawakan makanan!"
"Oh, well… aku sebaiknya meninggalkanmu pergi."
"No, no! Tidak masalah. Ia tak akan mengganggu kita."
"Nah, tak apa. Aku baru ingat ada beberapa pekerjaan tambahan yang harus segera kukerjakan." Ia berbohong. "Sebaiknya aku harus segera mengerjakannya."
"Oh." Baekhyun terdengar kecewa. "Tak masalah kalau begitu. Sampai jumpa lagi, yeah?"
"Tentu. Terima kasih sudah mendengarkanku."
"Hei, apa gunanya teman? Dan juga, jangan terlalu memikirkan hal ini. Perempuan itu mungkin bukan siapa-siapa. Jongin tak akan selingkuh di belakangmu." Ucap Baekhyun enteng. "Bye, Soo."
"Bye, Baek." Kyungsoo menekan layar dan memutuskan sambungannya, tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Ia mulai mengambil sandwichnya satu persatu dengan jarinya sebelum memandangi makanan itu dengan jijik dan mengembalikannya kembali ke kotak.
Poselnya bergetar beberapa detik kemudian, tanda pesan masuk. Setelah memeriksanya, Kyungsoo mendapati Baekhyun mengiriminya sebuah pesan lagi.
From: Baek.
Kau pembohong yang buruk.
Kyungsoo tidak terlalu terkejut mendapati foto Jongin dan perempuan itu tersebar dimana-mana.
Ia juga tidak terlalu senang dengan itu.
Mereka ditemukan di berbagai belahan New York, entah itu di Manhattan atau tidak. Jongin telah mencoba menghubunginya untuk mengajak berkencan, namun Kyungsoo selalu menolaknya dengan menggunakan pekerjaan sebagai alasan. Ia menghindari masalah ini layaknya sebuah penyakit, tidak tahu bahwa hanya ini yang ia bisa lakukan.
Namun memendam pikiran dan emosinya sendirian bukanlah perkara yang bagus saat ia mendapati dirinya duduk di sendirian di apartemennya pada hari Sabtu. Max telah jatuh tertidur di sampingnya ketika ia tengah menjelajah internet, perutnya bergejolak setiap kali foto baru dari duo tersebut muncul di website gossip.
"Yang benar saja…" gumam Kyungsoo. "Ia hanya seorang model, ia tidak begitu terkenal.."
Dan setelah berlusin-lusin foto candid serta video paparazzi, Kyungsoo segera mematikan laptopnya. Ia tak bisa menerimanya lagi.
Memandang sekeliling, ia merasa tercekat mengetahui ruang apartemennya secara tidak biasa terasa sempit dan penuh. Setelah meletakkan macbooknya di meja kopi, ia segera mengambil kunci serta dompetnya dan memakai sepatunya sebelum berjalan keluar melalui pintu.
Meninggalkan gedung dengan cepat, ia menghirup nafas dalam dua kali, paru-parunya terisi dengan udara segar serta dingin.
Ia mulai melangkah menulusuri jalanan, mengambil arah secara tak tentu saat pikirannya mulai berputar-putar.
Jika Jongin berjalan-jalan bersama perempuan itu sebagai kekasihnya, maka semua yang ia utarakan pada Kyungsoo hanyalah kebohongan belaka. Tapi lagi-lagi, perempuan itu bisa saja hanyalah temannya. Walaupun, sahabat yang benar-benar canggung. dengan anehnya Jongin terlihat senang di foto tersebut. Faktanya, kedua orang itu terlihat senang akan satu sama lain.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya sembari berjalan dengan cepat melewati orang-orang. Cara terbaik untuk mencari tahu dan memakan pikiran buruknya adalah dengan menanyakan hal tersebut langsung kepada Jongin. dengan cara itu, pikirannya bisa berubah menjadi sedikit tentram. Jongin masih kekasihnya, kan? Perpisahan sama sekali tak pernah dibicarakan oleh mereka berdua. Faktanya, tak pernah ada yang mereka diskusikan.
Kyungsoo berhenti dan berdiri di samping beranda sebuah toko. Ia memutuskan untuk mengambil ponselnya sebelum menyadari bahwa ia meninggalkannya di apartemen ketika ia buru-buru pergi. Sembari merutuk dalam hati, ia memandang sekeliling sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah, dimana ia akan menelepon Jongin dan membicarakan hal ini dengan Jongin dan meluruskan masalah ini.
Setelah berbalik untuk pulang, ia terpaku ketika melihat sebuah pasangan berjalan keluar dari Starbucks.
Jongin berkedip ketika ia berjalan di bawah terikanya sinar matahari, ia lebih memilih tinggal di dalam sejuknya suasana di Starbucks. Ia mengerang saat ia mengikuti perempuan berambut coklat itu keluar dari toko.
"Yang benar saja, Stephanie. Kau bisa minum berapa sehari?" tanyanya.
"Banyak." Jawab Stephanie sedang Jongin hanya bisa mengerang. "Oh berhentilah bersikap seperti kakek-kakek."
"Mungkin aku bersikap seperti kakek-kakek karena aku terjebak bersamamu seharian. Dan lagi, pria yang menjalin hubungan bersamaku menolak bertemu denganku."
Stephanie mencerca sembari menyesap Frappucinonya dari sedotan berwarna hijau. "Maksudmu adalah laki-laki jelek bermata besar itu."
Jongin menatapnya tajam. "Jangan pernah mengejeknya seperti itu atau aku bersumpah pada Tuhan.." Ketika ia dan Kyungsoo mulai berpacaran, ia telah meminta ibunya untuk berhenti menjodohkannya dengan berbagai macam gadis namun ibunya tak mau mendengarkan perkataan anak laki-lakinya itu. Ia mengenalkannya dengan Stephanie beberapa hari setelahnya, memaksa mereka untuk pergi berkencan. Setiap kali paparazzi berada di sekitar mereka, Jongin memasang ekspresi palsu dimana ia ingin sekali melepaskan lengan itu dari lengannya dan berulang kali mengatakan pada gadis tersebut bahwa ia sudah memiliki kekasih.
Perempuan itu memutar bola matanya. "Kau akan melakukan apa?" ia menantangnya, melangkah mendekat. "Kau tak akan pernah bisa lepas dariku. Ibumu tampaknya mulai menyukaiku." Lengannya yang bebas mulai melingkari leher Jongin dan ia berjalan mendekat.
Jongin menyeringai saat wajahnya bergerak mendekat, tak bisa mendorong wajahnya minggir dari hadapannya ketika mereka berada di tempat umum dan paparazzi berada di sekitar mereka. ia memaksa dirinya untuk membiarkan hal tersebut saat Stephanie mencium pipinya dan tertawa. Memutar bola matanya, ia memalingkan pandangannya supaya ia tidak merutuk di hadapan gadis itu.
Matanya bertemu dengan sepasang mata di seberang jalan dan ia merasa tercekat.
Kyungsoo…
Stephanie merasakan tubuhnya menegang. "Ada apa?" tanyanya. Sembari mengikuti arah pandangan Jongin, perempuan itu mendapati laki-laki muda, pendek, langsing memandang Jongin balik. "Oh. Dia." Ia memberengut.
Jongin melepaskan lengan gadis itu dan segera berlari ketika lampu hijau telah menyala, menandakan bahwa orang-orang di kedua sisi jalan dapat menyebrang. Ia berjuang melewati lautan manusia sembari memfokuskan pandangannya pada Kyungsoo yang tengah berjalan menjauh.
"Kyungsoo! Kyungsoo! Tunggu!" dengan satu langkah panjang, ia dapat menangkap laki-laki yang lebih pendek yang tengah berusaha melepaskan dirinya dengan tangan mungilnya. "Tolonglah!" Ia mengulurkan tangannya dan mencengkram bahu Kyungsoo.
"Jangan sentuh aku!" sentak Kyungsoo, melepaskan Jongin dengan paksa dari dirinya. "Jangan pernah sentuh aku, sialan." Ia mengulang perkataannya dengan nada suara yang lebih rendah.
Jongin hanya memperhatikan ketika bahunya bergoyang dan ia dapat merasakan kukunya hampir patah. Ia pernah melihat Kyungsoo kecewa sebelumnya, namun tidak separah ini. "Dengarkan aku, kau tak mengerti apa yang baru saja kau lihat."
Kyungsoo menatapnya geram. "Aku tak mengerti apa yang baru saja aku lihat? Apa yang kulihat adalah kau dengan seorang perempuan- si jalang itu!" ia menunjuk ke arah Stephanie yang kini tengah menghampiri kedua laki-laki tersebut, high heelsnya berkeletak-keletak di jalanan. "-bermesraan!" Kyungsoo tidak peduli apakah dia sedang berada di tempat umum atau ia baru saja memanggil seorang wanita dengan sebutan jalang. Ia terlalu kecewa untuk peduli mengenai hal tersebut.
Jongin melangkah mendekat dan Kyungsoo mengambil dua langkah mundur. "Kyungsoo, tenanglah. Tolong. Kami tidak sedang bermeesraan."
Laki-laki yang lain tidak dapat berpikir lurus, ia terlalu capek dan stress. Ia hampir mencapai puncak kemarahannya.
Ia menghela nafas sakit saat bahunya mulai berguncang sekali lagi, air mata mulai membasahi wajahnya. Menolak untuk mendongakkan kepalanya, ia bergumam. "Apakah ini semua hanya sebuah lelucon bagimu?"
"Apa?"
"Apa ini hanya sebuah lelucon bagimu?!" tangis Kyungsoo. "Apakah semua yang pernah kita lakukan bersama berarti bagimu? Apakah semua hal yang kau ceritakan padaku hanya bohong belaka?"
Jongin terkejut. "What the hell? Tidak, aku menceritakan yang sebenarnya padamu!"
"Lalu siapa dia?"
"Aku akan memberitahumu jika kau mendengarkan!"
Kyungsoo mendongak menatapnya, matanya basah dan terasa panas. "Oh, simpan saja. Aku tak ingin mendengarnya." Ia berbalik untuk pergi menjauh lagi sebelum Jongin menghadangnya.
"Bisakah kau memberiku-"
"Memberimu apa? Kesempatan? Ya, aku sudah melakukannya. Dan lihat apa yang kau lakukan, yeah, kau menghancurkannya." Ia terisak. "Kita baru bersama kurang dari sebulan.. kau bisa minta putus denganku lebih dulu."
Jongin mulai merasa frustasi lagi dan lagi. "Mungkin ini karena aku tak mau putus denganmu!"
"Oh, dan kau pikir menduakanku akan lebih baik? Kau tahu apa, persetan denganmu! Aku tak bisa melakukan ini lagi." Ia mulai berjalan cepat meninggalkan Jongin, tidak memperdulikan pejalan kaki yang berbisik dan menunjuk ke arahnya.
"Kyungsoo, tahan! Tunggu!" Jongin mencoba untuk menangkapnya lagi.
"Aku bilang jangan sentuh aku! Sekarang aku tahu-" Ia menelan ludah. "Rumor itu benar. Dan aku akan mengakhirinya disini. Kita putus." Ia menatap Jongin tajam dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Stephanie. Setelah berbalik, ia berlari menjauh dari Jongin yang hanya bisa terpaku menatapnya pergi dengan hati hancur berkeping-keping.
Kyungsoo tak pernah menatap balik satu kali pun.
Ketika ia sampai di rumahnya yang aman, di balik kunci besi ruang apartemennya, semua air mata yang ia tahan sepanjang waktu mulai mengalir deras. Sembari menutupi mulutnya dengan tangan, ia menahan isakannya,capek dan terkalahkan. Ia merosot turun di balik pintu, terduduk di lantai jalan masuk ruangannya dengan lutut tertekuk sampai ke dadanya saat ia melanjutkan tangisannya. Telinganya terasa berat dan semuanya menyakitkan.
Max menghampirinya, merengek dan mendengking saat ia menyundul tuannya. Ia menggonggong sekali namun segera tenggelam dalam tangisan Kyungsoo.
Hari selanjutnya, hujan turun.
Kyungsoo duduk di ranjangnya dengan berbalut boxer serta T-Shirt putih, sebotol Jack Daniel tergeletak di ambang jendela dekat ranjang, sepuntung rokok terapitkan di antara jemarinya ketika ia menghisapnya. Matanya merah dan kantung mata tebal dapat terlihat dari wajahnya. Sembari menghembuskan asap rokok, ia memperhatikan asap tersebut mengapung di udara keluar melalui jendela yang terbuka ke arah langit mendung sedangkan suara musik lembut mengalun dari laptop di sampingnya. Ia menepuk debu rokok tersebut ke dalam nampan kecil di dekat botol Whiskey.
Kamar tidurnya berukuran medium, ranjangnya memenuhi sebagian tempat. Salah satu sisi kamar tidurnya berisikan kloset miliknya sedangkan sisi yang lain terpenuhi oleh jendela. Ranjangnya hampir berdekatan dengan ambang jendela namun ia membuat sedikit jarak di antaranya supaya ia bisa menutup gorden saat malam. Max berbaring dkaki ranjang, mengunyah mainan anjingnya. Di salah satu sudut kamarnya terdapat sebuah meja, setumpuk tergeletak sembarangan di atasnya.
Kyungsoo telah menelepon kantornya pagi ini, suaranya parau ketika ia meminta izin tidak masuk, mengatakan bahwa ia mempunyai masalah keluarga darurat dan ia akan kembali pada hari Kamis. Atasannya mengizinkannya, namun ia juga memperingatkannya tentang berapa hari yang bisa ia lalui untuk berlibur dan mendoakan yang terbaik untuknya. Kyungsoo tidak peduli. Ia membutuhkan banyak waktu untuk dirinya sendiri.
23 Juni, 2015
Aku benar-benar idiot.
Dengan cinta,
D.O.
"Chanyeol, kau harus melihatnya. Ia benar-benar hancur. Aku sudah mencoba meneleponnya berkali-kali namun selalu tersambung ke mailbox." Ucap Jongin saat ia melipat sebuah pakaian dan memasukkannya ke dalam koper. Ia harus pergi ke Los Angeles pada Selasa pagi namun ia membutuhkan seseorang untuk mendengar curahan hatinya tentang masalahnya dengan Kyungsoo. Sehun sedang bersama Luhan saat itu dan Joonmyeon sedang pergi bekerja. Untungnya, Chanyeol bersedia datang dan mendengarkan masalahnya.
Si jangkung mengangguk. "Dan ia tak membiarkanmu menjelaskan?"
"Nope." Ia memandang serius pakaian-pakaian serta barang-barang penting yang berserakan di sekitarnya. "Ia bahkan tidak mau mendengarkan. Ia sangat marah padaku."
"Uh-huh lalu apa yang terjadi dengan Stephanie?"
Jongin terkekeh getir. "Aku menyuruh ibu lepas darinya. Jangan tanya bagaimana aku melakukannya." Ia memperingatkan.
"Baiklah, baiklah." Ucap Chanyeol. Tiba-tiba keheningan canggung menyelimuti mereka ketika Jongin melipat lebih banyak pakaian ke dalam kopernya.
Jongin bertanya pelan, "Apakah kau dan Baekhyun pernah bertengkar hebat?"
Chanyeol berpikir selama beberapa saat. "Kami pernah berargumen namun tidak separah ini. Kami selalu mencoba menenangkan diri dan membicarakannya baik-baik."
"Yeah tapi bagaimana kalau salah satu dari kalian tak ingin membicarakannya baik-baik?"
"Aku yakin aku bisa meminta Baekhyun membuat Kyungsoo mau bicara denganmu."
Jongin menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Kenapa harus? Ia tak menginginkanku lagi. Aku siapanya sampai-sampai mau menentang keinginannya?"
Chanyeol mengerang. "Dengarlah dirimu sendiri!" ujarnya. "Ini hanya kesalahpahaman. Ia jelas-jelas masih menyukaimu. Bahkan mungkin mencintaimu.." Jongin tidak mendongakkan wajahnya, dengan tenang ia menata pakaian terakhirnya, jauh berbeda dengan suasana hatinya. "Dan lagi, Tak ada satu hal pun yang dapat menghalangi Baekhyun menemui sahabatnya."
Rabu
26 Juni 2015
11:00 AM
Baekhyun berjalan enteng menyusuri ruang masuk gedung apartemen Kyungsoo.
Ketika ia mengetahui apa yang terjadi pada Jongin dan Kyungsoo, ia sangat marah, namun ketika Chanyeol memberitahukan apa yang terjadi, ia tahu hanya dialah yang dapat diajak bicara dengan temannya. Ia telah menelepon kantor Kyungsoo namun orang yang mengangkatnya mengatakan bahwa Kyungsoo tidak masuk selama beberapa hari karena urusan keluarga mendadak.
"Urusan mendadak, pantatku…" gumamnya ketika ia sampai di pintu yang benar dan mulai mengetukkan tangannya pada pintu tersebut. "Hey! Kyungsoo! Aku tahu kau ada di dalam dan sebaiknya kau harus segera membuka pintu sialan sekarang!" ia mengetuk pintu tersebut beberapa kali. Di suatu tempat di dalam apartemen tersebut, ia dapat mendengar jelas suara gonggongan penuh semangat Max namun tak ada satupun yang membukakan pintu.
Setelah memejamkan matanya serta menghirup nafas dalam-dalam selama beberapa saat, Baekhyun berjinjit dan mencari kunci cadangan yang biasa Kyungsoo letakkan di ventilasi pintu apartemennya. Ketika jemarinya berhasil mendapatkan kunci besi itu, dengan cepat ia membuka pintu dan berjalan masuk, menutup pintunya dan berbalik menatap apartemen Kyungsoo. Pemandangan yang ia temui cukup menyedihkan.
Max menggonggong dan melompat-lompat semangat sementara tuannya hanya berdiri di ujung ruang masuk, berbalut boxer merah polos serta T-Shirt abu-abu, mata sembab dan tidak mengesankan. Sepuntung rokok terangkat sampai ke depan mulutnya.
"Kau tidak merokok lagi selama bertahun-tahun." Ucap Baekhyun terengah-engah. Bau asap rokok mengambang di udara.
"Penghilang stress. Aku selalu menyimpan beberapa bungkus jikalau sesuatu terjadi." Jawab Kyungsoo. "Sekarang, jika kau hanya akan menampakkan dirimu, aku akan kembali ke kamar."
"Kyungsoo, aku harus memberitahumu sesuatu soal Jongin."
Laki-laki yang lain berbalik tajam. "Jangan menyebutkan namanya di hadapanku." Ucapnya geram. "Aku tak ingin mendengarnya!"
"Tung-"
"Bye!" Kyungsoo memotong perkataannya.
"Dia dan Stephanie tak pernah berpacaran!" teriak Baekhyun.
Kyungsoo tidak berbalik memandang temannya. "Kau mengharapkanku mempercayainya?"
"Mereka tak pernah berpacaran." Ulang Baekhyun. "Chanyeol mengetahuinya. Semua ini rencana ibu Jongin."
Kyungsoo terpaku. "Apa?"
Baekhyun memutar bola matanya. "Oh sekarang aku mendapat perhatianmu?"
"Ya, kau mendapatkan perhatianku dan sekarang kau harus segera melanjutkan ucapanmu!"
"Tidak sampai kau mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, baru aku memberitahumu sisanya."
"Baekhyun, bisakah kau-"
"Mandi. Dulu." Ucap laki-laki yang lain dengan kejam, seolah-olah ia sedang berbicara dengan anak kecil, salah satu jemarinya menunjuk kamar mandi.
Kyungsoo mengerang sebelum berjalan. Baekhyun tersenyum puas ketika ia mendengar ucapan 'Penyanyi sialan' keluar dari bibir Kyungsoo.
Saat ia sudah selesai, ia berjalan kembali ke kamar, berbalut celana abu-abu manis serta T-Shirt hitam. Ia mendapati Baekhyun tengah mengganti seperai ranjangnya. Kaleng bir yang ia koleksi beberapa hari ini tergeletak di kantong sampah dekat pintu. Di mejanya, laptopnya sedang discharge, layarnya terbuka dengan memainkan Video Games milik Lana de Ray secara berulang. Jendela kamarnya terbuka, sinar matahari masuk melaluinya.
Rambutnya masih basah ketika ia mengambil tempat di kuris putar di samping mejanya. "Bagaimana kau tahu dimana seperaiku?"
"Aku sudah sering datang kemari, kau tahu." Ucap Baekhyun pelan sembari menarik seperai Kyungsoo. "Sekarang kita harus menghilangkan bau rokok ini."
Kyungsoo menghela nafas berat. "Aku tidak ingin kembali lagi ke itu- tapi aku tak tahu apa-apa lagi."
Baekhyun mendengung sembari bekerja. "Ceritakan padaku bagaimana perasaanmu."
"Seperti kotoran. Aku merasa… tersesat. Terkhianati, di satu tempat. Aku merasa aku telah dibohongi." Jawab kyungsoo, suaranya terdengar lembut dan sedih. "Aku merasa aku membiarkan diriku terlalu jatuh hati padanya. Aku tidak berhati-hati dan lihatlah aku sekarang." Ia tertawa getir.
Baekhyun tetap terdiam. Ia mulai merapikan serta menghilangkan kerutan-kerutan yang ada pada seperai tersebut. Keheningan yang mengganggu mulai menghinggapi mereka sampai-sampai Kyungsoo harus memecahkannya, "Kau tahu sesuatu, sekarang kenapa kau tidak memberitahuku?"
Laki-laki yang lain membiarkan punggungnya berhadapan dengan Kyungsoo sembari menghela nafas. "Well, kau tahu bahwa Jongin dan Stephanie tak pernah berpacaran."
"Ok, lalu?"
"Apakah Jongin pernah memberitahumu tentang ibunya?"
Kyungsoo mengangguk, menyadarinya sedikit lebih lambat dan Baekhyun tidak mengetahuinya. "Ia bilang ibunya jauh-jauh datang dari California tapi ia tidak terlalu percaya anaknya adalah seorang gay. Apa hubungan dia dengan ini?"
"Semuanya." Ucap Baekhyun sembari berbalik dan duduk di ranjang Kyungsoo yang telah rapi. Berhadapan dengannya. "Ibunyalah yang menjodohkannya dengan Stephanie, dank au tahu bagaimana Jongin sangat menghormati ibunya, jadi ia melakukannya, tapi ia tak pernah mencintainya. Jika kau tanya aku, Jongin membenci Stephanie sebanyak kau membencinya. Tapi ya, hubungan mereka hanyalah sebuah pertunjukkan yang ibunya rencanakan. Kemudian media mengetahuinya dan membuat semuanya jauh di luar kenyataan yang sebenarnya."
Kyungsoo terkejut ketika ia mendengar informasi yang didengarnya. "Ibunya menjodohkannya?"
Baekhyun mengangguk. "Ya. Ia merencanakan beberapa kencan buta untuk Jongin berharap supaya salah satu dari gadis-gadis itu akan menghilangkan sifat homonya. Para perempuan itu cukup gila."
Kyungsoo kembali duduk di kursinya, merasakan gejala pusing yang tba-tiba menghinggapinya saat perutnya mulai bergejolak. Jika saja ia tahu… Tapi Jongin sudah pernah mencoba untuk memberitahunya. "Jongin-" Suaranya pecah sedikit. "Jongin sudah pernah mencoba untuk menjelaskan namun aku tak memperbolehkannya."
"Sebenarnya, aku tak menyalahkanmu. Jika aku mendapati Chanyeol mencium wanita yang tidak aku kenal, aku juga akan marah."
Sembari menggosok keningnya, Kyungsoo mengerang. "Aku harus bicara dengan Jongin…" ia bergumam pada dirinya sendiri namun Baekhyun mendengarnya. "Apakah Chanyeol yang memberitahumu semua ini?"
"Yeah. Ia pergi menemui Jongin pada Minggu malam ketika Jongin sedang mengepak-" Baekhyun berhenti berbicara.
"Apa? Baekhyun? Apa yang Jongin lakukan?"
"Um, ia sedang mengepak barang-barang.. untuk perjalanannya." Ucap Baekhyun tak yakin.
Mata laki-laki yang lain terbelalak. Los Angeles.
"Jongin sudah bersiap-siap pergi ke LA?" tanyanya.
Baekhyun menatapnya, ekspresi keragu-raguannya dapat terlihat jelas oleh Kyungsoo. "Sebenarnya, ia sudah berangkat kemarin."
"Tapi, kau tahu kapan ia akan kembali, kan? Kau tahu, kan?"
Sembari mengeluarkan ekspresi sedih miliknya, Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku, Kyungsoo."
Seluruh tubuh Kyungsoo bergetar saat ia merasakan tangisnya pecah, membasahi wajahnya. Ia merasa muak sekali lagi. Jongin berada di seberang negara dan ia tak tahu kapan ia akan kembali.
Baekhyun berdiri dan melingkarkan lengannya memeluk tubuh gemetar pria yang lain, laki-laki yang lebih muda menangis di bahunya, kesedihan menghinggapi dirinya dengan cepat.
Di sela-sela isakan tangisnya, Baekhyun mendengar Kyungsoo kerap mengulangi perkataan yang sama.
"Ini semua salahku.. Ini semua salahku.. Ini semua salahku…"
chap udate! huff, chapnya lumayan panjang dan maaf kalo ada typo. aku ga sempat ngececk dan im so fucking exhausted today so sorry ;;
daaaan, ga terasa ff ini bakal segera selesai. kurang dua chap lagi kemudian selesai. hoho.
and guess what, next chapter bakalan ada smutty smutty moments di dalamnya hoho hope y'all excited abt that, kay. friendly reminder, aku ga bakat ngetrans ff smut karena pemilihan bahasaku kacau dan ga sexy untuk adegan seperti itu. kuharap kalian mengerti, tapi aku bakal tetep usaha supaya feelnya bener-bener dapet _
so, that's it. i shall take my leave now.
reviews are so much loved ;)
