Sabtu
27 Juli 2015
6:30 P.M.
The Crystal Bar tengah ramai saat Kyungsoo dan Jongin memasukinya, tetap saling berdekatan, lelaki dan perempuan bergaun dan berpakaian semi-formal serta cocktail dipenganggan mereka.
Untuk sebuah bar, tempat tersebut benar-benar indah. Sinar lampu sedikit lebih bersinar dari biasanya malam ini dan meja-meja telah dibersihkan sehingga orang-orang bisa berlalu lalang di sekitarnya. Bar yang sebenarnya lebih panjang dengan dua orang yang menjalankannya, membuat minuman dengan cepat sementara beberapa server berjalan dengan nampan Margarita di tangan mereka. Langit-langit hitam dihiasi dengan lampu Kristal kecil, yang memberikan tempat ini nama, dan malam ini, lampu warna-warni bersinar turun dari pemancarnya, membuat Kristal bersinar dalam warna yang berbeda.
"Seperti sebuah spectrum…" Kyungsoo berucap pada diri sendiri. "Pintar Baek, pintar."
"Apa?" Tanya Jongin, bersandar dekat padanya.
"Bukan apa-apa." Ujarnya sebelum berputar ditempat, menghentikan Jongin di tempatnya. "Cepat. Apakah aku terlihat seperti satu juta dolar?"
Alis lelaki yang lebih tinggi mengernyit bersama-sama dan kening berkerut ketika memperhatikan pakaian Kyungsoo. Kyungsoo mengenakan pakaian ketat, celana panjang berbulu serta kemeja putih dengan lengan terlipat. Di sekililing lehernya terdapat sebuah dasi kecil dan ia mengenakan jas berkancing ganda di atasnya. Di kakinya, ia mengenakan oxfords coklat, masih mengkilap seperti biasa. Rambutnya ia jambul seperti yang Jongin sukai dan aksesori yang ia kenakan hanyalah jam kulit dengan emas.
Jongin tersenyum. "Kau terlihat seperti dua miliar dolar." Ujarnya. "Kenapa kau bertanya?"
"Baekhyun menuntutku untuk datang dan terlihat seperti satu miliar dolar. Sementara kau…" Kyungsoo menyapu badan Jongin dari atas hingga bawah. Kyungsoo memiliki keyakinan yang kuat bahwa Jongin bisa memakai apa saja dan membuatnya terlihat bagus. Malam ini tidak ada pengecualian. Jongin memakai pakaian terusan hitam ketat yang memeluk kakinya dengan bebas dan membuatnya terlihat lebih tinggi dengan kemeja biru gelap beserta jaket kulit coklat menutupinya. Di dalam saku baju terdapat sapu tangan kecil berwarna merah dan putih polkadot. Ia mengenakan oxfords coklat seperti Kyungsoo.
Lelaki yang lebih pendek mengulurkan tangan dan menarik-narik kerah jaket Jongin itu, menariknya mendekat sehingga ia tidak perlu menaikkan volume suaranya di tengah-tengah dentuman music yang keras. "Kau terlihat seperti tiga miliar dolar."
Jongin tersenyum lebar dan menempatkan sebuah kecupan di pipinya.
"Kalian berdua menjijikkan."
Kyungsoo menoleh ke samping kirinya dan melihat Jongdae, kucingnya seperti tersenyum lebar saat melihat mereka berdua seraya menyesap Jack and Coke. Ia mengenakan setelan abu-abu ramping dengan rompi yang cocok, lengan bawahnya ia gelung hingga ke siku. Di bawahnya terdapat kancing yang disusun memanjang dan dasi bergaris putih dan abu-abu. Ia telah memutuskan untuk mengenakan jas.
"Well, Hai juga Jongdae." Kyungsoo menyapa, menarik diri dari Jongin. "Dan bagaimana kabarmu malam ini?"
Jongdae tertawa, satu tangannya dengan santai berada di saku celana. "Aku melakukan dengan baik dan kemudian aku melihat kalian berdua ber-lovey dovey dan kemudian aku seperti, nah, semuanya sudah hancur." Ia bercanda. "Nikmati malam ini, oke?" ia melambaikan tangan pada mereka saat ia mengambil jalannya ke arah bar dimana ia bisa melihat Junmyeon sedang berbicara dengan lelaki lain.
Saat Jongdae berada di luar jangkauan pendengaran, mereka kembali meneruskan langkah mereka di sekitar tempat. "Aku pikir mereka berdua akan menjadi 'sesuatu' cepat atau lambat." Kata Jongin pelan.
"Siapa? Jongdae dan Junmyeon?" sebuah anggukkan. "Oh please, mereka hanya menyangkal satu sama lain. Sekarang ayo. Aku harus menemukan Baekhyun."
"Oh, itu akan mudah. Hanya temukan saja Chanyeol di tengah kerumunan." Kata Jongin ketika ia menuntun Kyungsoo menuju kerumunan.
Mereka akhirnya menemukan Baekhyun sedang beribicara dengan beberapa pembisnis berpenampilan mewah dekat bagian belakang bar, Chanyeol beediri di sampingnya dan mengangguk pada apapun yang mereka bicarakan. Ketika Baekhyun melihat Kyungsoo berdiri di sana, dengan sopan Baekhyun dan Chanyeol izin undur diri sebelum berjalan mendekat dan melingkarkan lengannya di sekitar Kyungsoo dan menekankan bibirnya dengan cepat di pipi Kyungsoo.
"Kalian berhasil!"
Kyungsoo balas memeluknya. "Tentu saja, kita berhasil. Tidak akan melewatkan untuk dunia."
Baekhyun membiarkannya pergi dan berjalan mundur ke arah Chanyeol sekali lagi. "Kau terlihat lebih baik juga."
"Dan aku merasa lebih baik." Ia tersenyum ketika ia merasakan tangan Jongin yang menekan lembut pada punggung bawahnya.
Baekhyun tersenyum dengan perkataan Kyungsoo sebelum ia menyadari alasan kenapa ia membawa Chanyeol. "Oh, Soo, ini Chanyeol. Chanyeol, saatnya secara pribadi kau bertemu Kyungsoo."
Chanyeol mengulurkan tangan bersarnya dan Kyungsoo menjabatnya tegas. "Senang akhirnya bertemu denganmu, Kyungsoo."
"Aku juga." Ia melepaskan tangan Chanyeol. "Dan, hanya untuk catatan, jika kau menyakiti Baekhyun dengan cara apapun, aku akan datang menemuimu." Kyungsoo mengancam.
Chanyeol tertawa sebelum melingkarkan lengannya di sekitar bahu Baekhyun. "Jangan khawatir. Orang terakhir yang mungkin menyakiti Baekhyun adalah aku." Ia tersenyum saat ia menoleh ke arah Jongin. "Dan senang bertemu denganmu, teman lama."
Jongin tersenyum lebar. "Apa kabar, Yeol?"
Ketika dua lelaki lain sedang berbicara, Baekhyun menghentikan seorang server dan mengambil dua minuman dari nampan kemudian menyerahkan satu kepada Kyungsoo.
"White sangria?" tanyanya
"Yep. Strawberry dan peach. Kesukaanmu." Baekhyun berkata dengan sebuah lengkungan kecil di bibir, mengangkat gelasnya naik.
Kyungsoo mendentingkan gelas mereka dan kedua lelaki itu mengambil sebuah sesapan. "Wow. Benar-benar enak." Ia memuji.
"Eh?"
"Terlihat lebih baik jika kalian mengambilkan kami minuman juga." Chanyeol berujar dengan suara luka, meskipun wajahnya menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Baekhyun memutar maniknya dan membuat sebuah air wajah. "Babe, ambil sendiri."
Chanyeol hanya menepuk bahu Jongin dengan sebuah tawa kecil. "Mau ikut denganku?"
"Tentu. Kita akan kembali." Ia berkata pada Kyungsoo dan Baekhyun sebelum berjalan menjauh dengan Chanyeol.
Kyungsoo tertawa pada dirinya sediri sebelum mengambil sebuah sesapan. "Hey Baekhyun?"
"Hmm?"
"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena tetap bersamaku saat Jongin pergi. Itu adalah sebuah kesulitan untukmu tetapi kau tetap membantuku." Ujar Kyungsoo, sebuah pandangan penuh rasa terimakasih terpancar dari wajahnya.
Baekhyun tersenyum ke arahnya, semua gigi putihnya terlihat. "Bukan apa-apa. Kau adalah teman yang sedang membutuhkan dan aku senang membantu orang-orang."
"Psshhh, tidak kau tidak seperti itu." Kyungsoo mengerutkan alisnya, mengangkat gelasnya kembali ke mulutnya.
Baekhyun mengangkat bahu. "Baiklah. Aku ingin membantu orang-orang tertentu. Kau hanya kebetulan berada di daftar itu."
Kyungsoo tertawa dan ia menoleh ke sekeliling bersamaan dengan ia melihat Jongin dan Chanyeol berjalan kembali, masing-masing membawa minuman di tangannya. Jongin membawa Jameson on the rocks sementara Chanyeol membawa Cherry Bomb.
"Baekhyun," ia berujar saat mereka datang mendekat. "Ini waktumu untuk berpidato."
"Ah! Kau benar. Ayo." Dan kemudian Baekhyun menuntun mereka ke tengah-tengah bar dan ia membari isyarat kepada seseorang untuk menghentikan music. Kemudian semua pasang mata beralih kepada dirinya saat Chanyeol berdiri dekat di belakangnya dan Kyungsoo serta Jongin menoleh ke arah kerumunan.
Kyungsoo memandang sekeliling dan ia melihat Luhan melambai penuh semangat kepadanya dari seberang ruangan. Ia balas melambai dan melihat Sehun di samping Luhan tampak acuh seperti biasa. Beberapa orang pergi, di sana berdiri seorang Zitao dan Kris yang mudah dikenali karena tinggi mereka. Yixing berjalan ke samping dengan gadis yang sama yang ia lihat di musikal, lengannya membungkus sekitar gadis tersebut. Minseok berdiri di samping Jongdae dan Junmyeon cahaya lampu menyapu jaket kulitnya.
Dan tentu saja, di sebelahnya, tinggi dan tampan serta bau seperti parfum mahal, adalah Jongin. Kyungsoo mendekatinya dan sedikit tersenyum saat lengan Jongin menangkap dan memeluk pinggangnya.
"Hai semua!" Baekhyun memulai saat suara gaduh mulai mereda. "Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih banyak atas kedatangannya di pesta ini dan terimakasih atas dukungan untukku di sophomore album. Untuk kru saya, terimakasih karena telah bersabar menghadapi kelakuanku untuk beberapa bulan terakhir. Aku tahu aku sulit tapi hey! Kami bekerja mengeluarkan sesuatu!" terdapat sebuah tawa kecil yang mengalir melalui kerumunan.
"Dan juga, terimakasih untuk tim managementku, untuk teman-temanku yang dapat hadir malam ini, dan tentu saja raksasa yang berdiri di belakangku yang mungkin tersenyum seperti idiot." Ia berbalik. "Aku mencintaimu, Chanyeol!" lelaki yang lebih tinggi hanya member hormat dan Baekhyun mengahadap ke depan. "Jika aku melupakan seseorang, aku minta maaf. Tapi perlu diketahui bahwa aku benar-benar berterimakasih pada kalian semua dan aku mencintai kalian semua! Here's to Spectrum!" ia menaikkan gelasnya dan begitu juga dengan orang-orang di bar. Orang-orang bersorak dan minum bersamanya dan orang-orang yang tidak minum bertepuk tangan dan bersorak.
Kyungsoo menatap sekeliling dengan manic bersinar, melihat saat Baekhyun tersenyum dan tertawa bersama dengan orang-orang di sekitarnya dan Chanyeol berbagi ciuman singkat dan ia tidak bisa membendung rasa bersyukur yang meningkat dalam dirinya.
Hidupnya membuncah saat ia berpesta pada malam itu, music sekali lagi dimulai.
Jongin dan Kyungsoo meninggalkan pesta di tengah malam sama seperti orang-orang lainnya dan mereka menaiki taxi kembali ke apartemen Kyungsoo. Jongin telah meminta izin untuk menginap malam ini dan siapa Kyungsoo yang tidak memperbolehkan ini padanya?
Ketika mereka berjalan ke dalam rumah, Max telah menyalak dan meloncat-loncat di sekitar yang meraup Corgie ke dalam pelukannya, tertawa sambil mengusap tubuh gemuk Si Anjing. Ia menyentuh jemari kakinya keluar dari sepatunya.
"Bagus, sekarang anjingku lebih menyukaimu daripada aku." Kyungsoo berkata kasar saat ia melepas sepatunya sebelum berjalan ke tempat tidur. Jongin mengikutinya, tertawa-tawa sendiri.
Saat di dalam, ia menurunkan Max di lantai sebelum melepaskan jaket dan jatuh di tempat tidur, mengerang senang saat punggungnya melakukan kontak dengan ranjang. "Tuhan, kakiku terasa sakit." Ia bergumam, menutup mata.
Kyungsoo hanya memutar matanya saat ia membuka kancing bawah jaketnya. "Siapa yang mau mandi duluan?"
"Kenapa kita tidak mandi bersama?" Jongin balik bertanya, dengan maniknya yang masih tertutup. Ketika Kyungsoo tidak langsung menjawab, ia menoleh canggung dan melihat lelaki itu menggigit bibirnya seraya menatap ke bawah. Bergulir ke depan ia berkata, "Atau kau hanya malu?" dengan cara menggoda.
"Diamlah." Kyungsoo bergumam kembali saat ia berjalan ke pintu. "Yah," ia menengok ke arah Jongin yang masih di tempat tidur. "Bukankah seharusnya kau ikut?"
Jongin tidak pernah bangun secepat ini.
Setelah bershower dengan air panas (dan mungkin beberapa sesi bercumbu), mereka berdua berada di bawah selimut biru tua Kyungsoo. Kyungsoo memakai celana pendek dan T-Shirt seperti biasa tapi ia menemukan bahwa Jongin suka tidur dengan bertelanjang dada selama musim panas dimana terlihat baik-baik saja untuknya. Jongin berbaring telentang, mengamati Kyungsoo yang duduk dan mengetik pada laptop-nya, kacamata di hidungnya, layar terpantul lensa. Max memiliki kebiasaan aneh yaitu selalu tidur di tempat berbeda di dalam apartemen setiap malamnya. Malam ini ia berada di sofa ruang tamu. Semua lampu dimatikan kecuali lampu malam yang berada di samping sisi tempat tidur Kyungsoo.
"Apakah kau menulis sebuah update seputar malam ini?" Tanya Jongin.
"Mhmm. Hanya satu yang cepat." Kyungsoo menjawab. Ia akhirnya memberi tahu Jongin tentang blog ini seminggu yang lalu dan menyaksikan dengan takjub saat Jongin menjelajahi seluruh website, memilih cerita yang dia tahu jelas tenatang dia.
Jongin menguap perlahan. "Bisa tidak itu ditunda hingga besok?"
Lelaki satunya hanya mengangkat bahu. "Aku ingin menyelesaikan sesuatu. Jangan khawatir, aku hampir selesai. Hanya biarkan aku membaca ulang dan mengepos ini." Beberapa menit dan berbagai koreksi kesalahan, kemudian Kyungsoo mematikan laptopnya dan menaruhnya dengan hati-hati di laci, kacamatanya terlipat dengan apik dan tersampir di atas laptopnya.
Jam alarm menunjukkan pukul 01:15. Kyungsoo menoleh ke arah Jongin yang tampaknya telah tertidur. Membatasi gerakan, ia mengulurkan tangan mematikan lampu sebelum berbaring di sisinya, punggungnya menghadap Jongin. Di luar ia bisa mendengar kota masih bergerak maju, tidak pernah mengambil istirahat dan tidak pernah berhenti untuk siapa pun.
Ia hampir tertidur ketika sepasang lengan memeluk pinggangnya, menariknya lebih dekat hingga punggungnya melakukan kontak dengan dada hangat dan bibir lembut menekan sebuah kecupan di lehernya. Menyeringai, ia berguling menghadapi Jongin.
Jongin membuka matanya dan menatap Kyungsoo, sedikit kilatan nakal bersinar di matanya.
"Hi." Ia berkata seraya tertawa kecil.
Kyungsoo tertawa dan balas menjawab. "Hai."
Jongin tersenyum sebelum mencondongkan tubuh ke depan dan mencium Kyungsoo, yang membiarkan ia melakukannnya. Satu ciuman menyebabkan dua dan dua menyebabkan lebih. Sebelum mereka tahu itu, Kyungsoo berada di atas Jongin, kaki berada di kedua sisi pinggul, tangan merayap melalui helai rambut Jongin yang sedang meremas daging lembut pantat Kyungsoo itu.
Ketika mereka terpecah, keduanya terengah-engah dan Jongin menatap Kyungsoo dengan seringai licik. "Masih mengantuk?"
"Diam dan cium aku." Kyungsoo menjawab terengah-engah dan Jongin sudah melakukannya.
July 28th, 2015
Ini adalah update pertamaku dalam beberapa saat dan aku meminta maaf untuk itu tetapi begitu banyak hal yang telah terjadi beberapa minggu ini bahkan aku tidak yakin di mana aku bisa memulainya.
Aku baru saja kembali dari pesta untuk merayakan dirilisnya album Baekhyun. Aku sangat merekomendasikan album ini, bukan karena ia adalah temanku, melainkan karena album itu benar-benar bagus. Kau bisa medapatkannya di toko-toko atau download di iTunes sekarang. Album itu bertakjub 'Spekturm'.
Berita lainnya, malam ini adalah malam pertamaku kembali ke dunia sosial setelah beberapa saat. Aku tidak akan memberitahu mengapa karena ini adalah alasan pribadi yang tidak ingin kualami lagi namun rasanya menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama orang-orangku lagi.
Dan kali ini, aku punya seseorang untuk dipamerkan.
Ya. Aku, D.O., aku sekarang dalam sebuah hubungan. Sulit untuk diproses, aku tahu. Dan ya, hubungan ini dengan seorang lelaki yang selalu aku katakan bahwa aku tidak akan menyukainya tetapi sekarang aku bisa menyatakan bahwa aku mencintainya.
Aku benar-benar berharap aku bisa memberitahu kalian siapa dia tetapi itu berarti identitasku akan segera terungkap dan kita tidak bisa melakukan itu, sekarang bisakah kita? Beberapa rahasia yang harus tetap di jaga.
Tetapi selama perjalanan kecil dan melelahkan untuk menyadarkan diri, aku sampai pada kesimpulan bahwa cinta adalah cukup mungkin suatu hal yang paling aneh dan paling membingungkan yang pernah ada. Namun, kadang-kadang aku telah mempertimbangkan bahwa cinta akan menjadi salah satu kekuatan terbesar di dunia.
Dan terus terang, hal ini membuatku merasa lebih bersyukur untuk hal-hal yang telah aku miliki. Aku hidup di kehidupan yang luar biasa. Aku sedang bekerja di sebuah pekerjaan dengan gaji tinggi di salah satu kota terbesar di dunia. Aku dikelilingi oleh teman-teman yang luar biasa dan sekarang, aku memiliki kekasih yang menurut pemikiranku, ia benar-benar sempurna dari tingginya, kecanggungannya, sampai ke suara tawanya yang membuat candu. (Aku benar-benar berharap aku bisa memposting file audio saat ia tertawa. Aku bersumpah, itu bisa mencerahkan hari siapapun.)
Aku harus pergi sekarang. Aku pikir pra besar disebelahku ini akhirnya tertidur dan melihat waktu, aku pikir ini juga waktunya untuk pergi tidur juga.
Tapi ya, singkatnya seperti itulah kehidupanku akhir-akhir ini. Tetapi aku akan tetap memposting lebih banyak cerita. Mungkin tidak sesering biasanya sejak aku berpikir aku akan benar-benar sibuk mulai dari sekarang dengan pekerjaan dan kehidupanku. Tapi aku berjanji, aku akan menyisakan waktu untuk menceritakan kisah-kisah dan permasalahan utama Manhattan Elite. (Bahkan jika beberapa dari cerita itu sangatlah konyol).
Selamat malam, dunia! Ini adalah blogger tanpa nama datang dari kota yang tak penah tidur. :)
With Love,
D.O.
The End
akhirnya ff ini selesai juga yehet \o/ chapter ini diselesaikan sama rei, dan sekali lagi, aku hanya mengedit beberapa part. terima kasih buat kalian semua yang sudah mengikuti ff ini dari awal sampai akhir dan memberikan review juga. it made my days a lot! Thank you once again ;)
oh, dan ini ada salah satu a.n dari rei :
"i wanna says thanks for the readers who always support your translator fic, and thanks for reader's who favorite and follows your story or account. :)"
and that means i'll be on hiatus until february or march i think, well i am not sure enough :|
dan besok adalah hari pertama uas T_T wish me luck guys ; w ;
reviews will be so much loved ;)
