"Uwaah! Besar sekali!"
Tiga kilometer dari tempatnya berdiri, seorang pangeran berambut pirang dapat melihat sebuah kastil tua masih berdiri dengan kokohnya di tengah bukit-bukit hijau dan sungai yang meliuk-liuk. Meskipun dinding-dindingnya telah dirambati oleh sulur-sulur berduri, namun tak satupun bagian yang keropos apalagi runtuh dimakan waktu. Semuanya menghitam, membuat kastil tersebut menjadi sangat mencolok layaknya bidak catur ditengah-tengah lukisan pemandangan alam. Pemuda itu menebak, pasti dulunya kastil tersebut sangat mewah, dan tentu saja seluruh rakyatnya bahagia dan sejahtera karena banyaknya kekayaan alam yang dapat mereka dapat. Mungkin sekarang mereka sudah pindah ke kerajaan lain, mengingat banyak rumah-rumah penduduk yang kini terasingkan layaknya kota mati. Satu-satunya yang dapat ia teliti dengan jelas hanyalah gerbang masuk kerajaan tersebut –tulisan penandanya sudah pudar, tak ada penjaga, maklum saja. Ia sudah mendengar cerita berbagai versi dari orang-orang yang pernah memasuki kawasan ini, dan ia sudah mempersiapkan fisik dan mentalnya untuk segala kemungkinan terburuk. Namun apa yang tersaji di hadapannya itu fakta –kalau seorang putri yang akan ia selamatkan sedang tertidur di kota tak berpenghuni ini, lebih tepatnya di kastil tua yang baru saja ia kagumi. Sesaat timbul rasa pesimis di hatinya kalau sang putri masih hidup, namun sudah kepalang basah, langkah kuda hidam yang ia kendarai sudah menuju ke dalam kerajaan tersebut.
Naruto meneguk saliva.
Tak main-main, suasananya bahkan lebih seram daripada hutan yang baru saja ia lewati. Rumah-rumah penduduk yang kosong melompong itu seakan-akan menatapnya dengan padangan bertanya-tanya, bahkan mungkin ada juga yang merasa terganggu. Salah satunya kucing hitam yang menggeram di atas tong, tak suka dengan kehadiran pendatang. Berkali-kali Naruto menghela napas dan memacu kudanya lebih cepat lagi. Tujuannya bukan di sini, tak perlu ia berlama-lama di perjalanan. Baru setelah ia terlepas dari kawasan permukiman, mata safirnya menemukan kastil tua itu dalam versi yang lebih dekat dari sebelumnya. Jembatan penyeberangan dan pintunya terbuka begitu saja, membuat Naruto berasumsi kalau kastil ini pernah dimasuki orang sebelumnya. Setelah meninggalkan kudanya di depan pintu, sang pangeran masuk ke dalam dengan hati-hati. Seakan-akan diawetkan dengan formalin, kastil hitam itu masih utuh, tak bercacat, hingga Naruto menyesali pendapatnya sendiri ketika melihat lubang besar dari atas –lubang menganga itu menjadi sumber masuknya cahaya yang mencolok, membuat Naruto yang sebelumnya bergantung hanya dengan obor harus menyipitkan mata. Terletak di sebelah pintu kayu, dan tanga putar yang mengarah langsung ke sana, alias ruangan tertinggi di kastil, Naruto tak ambil pikir. Ditapakinya satu-persatu anak tangga sambil berlari tanpa kelelahan sama sekali. Tentu saja, dia kan, pangeran! Latihan fisik adalah makanan sehari-harinya.
Naruto tak menyangka, menyelamatkan seorang putri itu ternyata semudah ini.
Setelah matanya terbiasa dengan cahaya, Naruto langsung melangkahi lubang tersebut, tak mau membuang tenaga untuk menembus ruangan melalui pintu yang tertutup. Tak main-main, calon istrinya persis seperti yang dikatakan orang-orang, tidur manis di atas ranjangnya dengan raut wajah yang damai layaknya bidadari. Tak ada dengkuran, tak ada gerakan, bahkan Naruto sangsi kalau sang putri masih hidup kalau tidak dilihat dadanya yang naik-turun perlahan meski pelan dan adanya uap air yang keluar dari lubang pernapasannya. Perlahan-lahan jari Naruto bergerak ke arah dahi Hinata, lalu ke pipi, memposisikan diri senyaman mungkin sebelum bibirnya bersentuhan...
GROOOAAAAAARRRRR
Terkesiap, Naruto terlonjak dari ranjang yang tadi diduduki. Asal suara itu di luar kastil, ia melihatnya melalui lubang kedua yang menghubungkan kamar sang putri dengan halaman belakang. Sesosok makhluk seperti gabungan ular dan kadal raksasa dan bersayap bangkit dari tidurnya, hingga benar-benar bangkit seutuhnya dan melayang di udara. Tak lupa dengan semburan api yang membelah atmosfir, disusul dengan suara geramannya yang seakan-akan mengguncang seisi kastil.
GRRRRROOOOOOOOOAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRR
Bisakah Naruto menarik ucapannya sendiri kalau menjemput sang putri tidak sesulit yang ia bayangkan?
Hell, nyawanya dipertaruhkan disini!
.
.
.
The Princess That Sleeps in the Tower of Roses
[薔薇の塔で眠る姫君]
Naruto © Masashi Kishimoto
(NaruHinaSasu, fantasy/scifi/crime/mystery/supernatural/romance, T, AU)
-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making them. Read it, or just leave it-
.
.
.
"SIAPAAAAAAA KAAAAAAAAUUUUUUU?"
Na-naganya bisa bicara! batin Naruto kaget. Ia tahu naga karena ia sering diceritakan oleh kerabat-kerabatnya jika ada perjamuan besar, dan bagaimana mereka melawannya, namun tak pernah Naruto melihatnya dengan mata kepala sendiri, apalagi sampai benar-benar berbicara seperti manusia. Suaranya bercampur geraman dan dengusan seperti naga, namun masih layak didengar dan dijawab.
"Aku, Naruto Uzumaki, pangeran dari negeri Uzumaki, akan menyelamatkan putri Hinata Hyuuga dari naga jelek sepertimu!" tantang Naruto dengan gagah berani, sekaligus nekat karena hanya pedang dan perisai yang ia punya saat ini. Kudanya ia tinggalkan di luar, jadi opsi melarikan diri sudah pasti dicoret dari daftar. Hidup selamat sambil membawa pulang sang putri atau mati di kastil tua ini, dan sudah jelas mana pilihan yang akan ia ambil.
"TIDAAAAAAK BISAAAAAAAAAAAAAAA, HINATA ADALAAAAAAAAH MILIKKUUUUUUUUUU!"
Seusai berkata demikian, sang naga terbang ke arah Naruto, sementara Naruto sendiri menuruni dinding kastil melalui sulur-sulur berduri tersebut. Tak peduli dengan titik-titik darah di sekujur permukaan kulitnya yang tak terlindungi, Naruto memutar posisinya sambil mengayunkan pedang ke arah naga tersebut. Meskipun saat ini kondisi Naruto sangat tak menguntungkan, namun mata pedangnya berhasil mengenai moncong sang naga. Nagai itu menggeram keras, sebelum ia berbalik dan bersiap untuk menyerang Naruto. Kesempatan yang sangat langka ini dimanfaatkan Naruto untuk segera menginjak daratan meskipun jaraknya masih lumayan tinggi, lalu berlindung di bawah patung singa saat naga tersebut menyemburkan api. Ia bisa merasakan panas yang merembet di punggungnya, membuat Naruto bersyukur bahwa ia bisa turun dengan selamat dan bersembunyi di tempat ini tepat pada waktunya. Ia berlari lagi, namun naga itu terus mengejarnya dan melayangkan sebelah kaki ke arahnya. Naruto tersungkur, pedang yang menjadi tumpuan hidupnya terlempar begitu saja. Tak ada waktu untuk mengasihani diri sendiri, cepat-cepat ia bangkit dan berlari demi mengambil pedangnya kembali. Langkah kaki naga yang membayangi di belakangnya membuat Naruto semakin bergegas, diraihnya pedang tersebut dan langsung diayunkan begitu ia menoleh ke belakang. Sabetannya kini menggores leher sang naga, meskipun tak cukup untuk membuatnya terpenggal. Naga yang masih kesakitan itu ditinggalkannya demi naik ke menara yang tak jauh dari arena pertempuran mereka. Meskipun harus menguras tenaga sekali lagi demi menaiki tangganya, namun menara yang mungkin dulunya sebagai sinyal pemberitahuan akan bahaya itu adalah tempat yang sangat menguntungkan bagi Naruto karena ia bisa menyerang dari atas, dan ada banyak tempat berlindung karena menara tersebut tak tertutup seutuhnya, bentuknya seperti pilar-pilar dengan tangga putar di dalamnya. Sesuai dugaan, naga tersebut menerjang ke arah Naruto bahkan sebelum ia mencapai setengah dari tiang, dihunuskannya lagi pedang tersebut meski meleset. Naga itu kembali menyemburkan api, dan berhasil dielakkan oleh Naruto sambil pelan-pelan menaiki tangga hingga ke puncak.
"GRRRRROOOOOOOOAAAAAAAAAARRRRRRRRRR!"
Naga itu menggeram lagi, kini posisi mereka berdua sejajar. Naruto bahkan bisa menatap mata naga tersebut yang hitam, sehitam tubuhnya yang bersisik berkilauan. Tanpa gentar, ia melompat, melayang di udara sepersekian detik dalam ketinggian sepuluh meter hingga ia mendarat di kepala sang naga. Naga itu menggeleng-gelengkan kepalanya keras, berusaha membuat Naruto turun, namun Naruto semakin kukuh berpegangan dan hanya bisa meluncur sedikit-sedikit menuju leher. Sang naga terbang tak tentu arah, meskipun semakin lama semakin mendekati tanah, dan akhirnya Naruto mengayunkan pedangnya sekali lagi setelah naga tersebut benar-benar mendarat.
CRAAAASSSSSSHHHHH
Kepala yang tadi ia duduki jatuh begitu saja, menimbulkan suara berdebam yang amat keras sebelum Naruto meloncat turun untuk kembali ke kamar sang putri. Tak ada niatan sama sekali untuk melihat kondisi sang naga saat ini, prioritasnya hanyalah Hinata yang ada di atas sana. Tak makan banyak waktu lama untuk kembali ke kamar tersebut, dan menciumnya sesegera mungkin. Lebih mudah kalau Hinata dibawa pulang saat dalam keadaan sadar, karena tidak ada kemungkinan ia akan jatuh dari kuda saat mereka berboncengan dan mereka juga bisa saling berkenalan lebih jauh selama perjalanan nantinya.
Perlahan-lahan, Hinata membuka mata.
Naruto tersenyum lebar, tak peduli penampilannya sudah sangat berantakan, tubuhnya terluka di beberapa bagian, jubah kesayangannya sobek dimana-mana. Ditunggunya sang putri menggosok-gosok mata dan duduk untuk mengambil nyawa, lalu ia bertanya,
"Siapa kau?"
"Aku adalah Naruto Uzumaki, pangeran dari kerajaan Uzumaki yang telah menyelamatkanmu dari sang naga."
Hinata menatapnya lagi dari atas ke bawah, sementara Naruto masih nyengir. Kentara sekali safir birunya tak mau dialihkan dari sosok seorang Hinata Hyuuga, yang terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya.
"Mana Sasuke?"
"Hah?"
Baru saja Naruto akan mengatakan kalau ia mencintai gadis yang ada di hadapannya dan ingin melamarnya, Hinata sudah menanyakan keberadaan pria lain. Senyum yang sebelumnya secerah mentari langsung raib.
"Aku tidak tahu, aku saja baru sampai sini!" bantah Naruto mendadak sewot. Bayangkan saja, setelah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sang putri, putri itu justru mencari orang lain yang namanya saja baru ia dengar hari ini?
"Ha-harusnya kau tahu! Sasuke adalah pangeran yang telah menyelamatkanku!"
"Dengar, Tuan Putri," omel Naruto, kesopanannya melayang entah kemana. "Biar aku, Pangeran Uzumaki yang sudah melawan naga demi menyelamatkan Anda yang sudah tertidur ratusan tahun lamanya yang akan mengatakan fakta. Tidak ada jejak manusia di dalam kastil ini selama ratusan tahun kecuali aku, dan karena Anda sedang tertidur, bagaimana mungkin Anda bisa tahu kalau aku bukanlah pangeran yang datang menyelamatkan Anda? Jelas-jelas aku datang di sini, di hadapan Anda, berlumuran darah naga yang telah menjaga kastil keramat ini, dan aku berhasil membangunkan tidur panjang Anda. Bagaimana bisa Anda mengatakan kalau aku bukan pangeran yang menyelamatkan Anda?"
"Pangeran Sasuke..." gumam Hinata pelan. "Pangeran Sasuke pernah mendatangiku sebelum aku jatuh tertidur. Ia sungguh tampan, dengan kuda putih dan jubah kerajaannya yang berlambang kipas. Bahkan pada saat tidurpun, ia selalu hadir di dalam mimpi-mimpiku. Ia bilang, ia akan selalu menemani di sisiku, bahkan jika seandainya aku tidak bisa terbangun lagi. Ia minta maaf –juga dalam mimpi –kalau dulu ia pernah mencoba membunuhku demi kekuatan yang diperolehnya dari penyihir jahat, namun sekarang ia menyesali perbuatannya dan sebagai permintaan maaf karena ia tak bisa membangunkanku, ia akan menemaniku di kastil ini. Menjagaku dari orang lain. Bahkan jika orang terakhir yang ada di kastil ini mati, dan zaman telah berganti... ia tetap ada di sini. Aku cinta padanya, meski hanya lewat mimpi. Jadi aku berharap, jika aku bisa bangun suatu hari nanti, aku akan menemukan penjagaku di sisiku, tersenyum kepadaku, dan kita akan menjalani hari-hari indah layaknya mimpi dulu. Namun apa yang kini kulihat bukan pangeran Sasuke, melainkan kau! Pasti kau tahu kehadirannya karena ia pasti berada di dalam kastil ini tak peduli apapun yang terjadi!"
"Tunggu, jangan bilang kalau naga yang kulawan itu adalah..."
Naruto tak sanggup melanjutkan perkataannya. Hinata menutup mulut.
"Na-naga?"
"Iya. Naga itu kutemukan tidur di halaman belakang dengan posisi bergelung, sepertinya tidak bergerak dalam waktu yang lama. Tapi begitu aku memasuki kamar Anda, naga itu langsung menyerangku jadi aku tak punya pilihan lain selain melawannya... ayo kita ke sana!"
Hnata berusaha berdiri, namun otot-ototnya yang kaku tak sanggup untuk digerakkan seperti biasa. Naruto yang tanggap langsung menawarkan punggungnya, dan gadis tersebut tanpa ragu memeluk leher Naruto sementara sang pangeran menahan beban Hinata dengan punggungnya sambil berjalan menuruni kastil. Tiba di taman belakang, mereka berdua ternganga untuk alasan yang berbeda. Naga tersebut sudah tidak ada, namun seorang pemuda dengan ciri-ciri yang telah dideskripsikan Hinata sebagai gantinya. Satu-satunya persamaan hanyalah kepalanya yang terbelah. Melupakan rasa kakunya, Hinata langsung loncat dari punggung Naruto begitu saja, berlari sambil mengangkat ujung gaunnya, dan terisak-isak sambil memeluk mayat Sasuke yang tanpa kepala. Naruto tak sanggup berbuat apa-apa, bahkan untuk sekadar menghibur sang putripun ia tak sanggup. Tubuhnya seperti terpaku di patas permukaan, berdiri tanpa perasaan jijik ketika kepala yang menggelinding tak jauh dari tempat Hinata terduduk dan meraung-raung itu menatapnya dengan hampa. Bahkan gadis berambut indigo itu tak peduli dengan likuid berbau besi yang mengotori gaunnya, ia terus meneriakkan nama Sasuke sekuat tenaga seakan-akan semua kesedihannya bisa mengembalikan kepala Sasuke ke tubuh asalnya.
"Ini."
Hinata mendongak, dan menemukan sebuah tangan yang mengulurkan kepala sang pangeran Uchiha ke dirinya. "Mungkin kau akan melakukan sesuatu padanya sebelum kita menguburkan mayatnya dengan layak, yah, tentu saja dengan posisi yang... 'benar'," kata Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri, kesulitan mencari paduan kata-kata yang pas. Hinata langsung meraih kepala tersebut, dan setelah dirasa pas di tubuh asli serta pelukannya, ia menyentuhkan bibirnya ke bibir Sasuke.
Bahkan pria setangguh Narutopun tak dapat menahan diri untuk tak menitikkan airmata setelah melihat kejadian tragis itu. Sang putri yang mencium pangeran tak berkepala, siapa pula yang tak tersentuh hatinya? Sambil tersedu sedan, Hinata menenggelamkan seluruh wajahnya di tubuh Sasuke, seluruh air matanya tumpah di sana. Naruto yang hanya melihat pergerakan punggung Hinata yang naik-turun tiba-tiba terkejut, sebuah cahaya menyilaukan keluar dari tubuh pangeran Uchiha, membuat pria bermarga Uzumagi harus menggunakan sebelah tangannya untuk meminimalisir efeknya. Hinata sendiri juga terkejut, namun tak dapat bergerak dari tempatnya, hanya bisa termangu saat cahaya tersebut yang belakangan diketahui lebih terang di sekeliling leher Sasuke kini seperti laser yang menyambungkan kepalanya kembali, dan setelah transformasi yang membuat jantung mereka berdebar-debar, mata hitam itu akhirnya terbuka.
"SASUKE!" teriak Naruto dan Hinata bersamaan. Sang putri yang masih memangku Sasuke jelas memeluknya terlebih dahulu, disusul Naruto yang kini berlutut sambil memeluk mereka berdua. Sasuke yang bingung atas kejadian ini hanya bisa diam, tapi tak urung sebuah senyum tipis terukir juga di bibirnya. Di bawah lindungan langit biru, sebuah persahabatan telah terjalin, sebuah cinta telah terbentuk, dan meskipun Naruto belum rela membawa pulang seorang putri yang diinginkan kembali ke negaranya, namun ia bersyukur, akan ada pasangan baru yang kini memajukan negeri nan hijau itu... dan lebih istimewanya lagi, pasangan baru itu adalah...
Sahabatnya.
"Huaah! Akhirnya selesai juga aku membacanya! Bagaimana Hinata, bagus kan? Yah, meskipun aku lebih suka pangeran Uzumaki itu yang mendapatkan putri Hyuuga, tapi tak apalah. Ngomong-ngomong, nama tokohnya bukankah hampir mirip dengan kita, ya, Hinata?"
Hinata masih diam. Tentu saja, di dunia nyata, koma yang dialaminya tak semudah itu pulih hanya dengan ciuman. Naruto sudah berkali-kali membuktikannya, namun tak ada respon. Mata itu tetap terpejam, enggan memperlihatkan warna irisnya yang ia duga pasti seperti milik putri Hyuuga di dalam dongeng.
"Ah, Hinata... aku ingin sekali melihat warna matamu..." Sebuah tangan yang besar dan hangat itu ditangkupkannya di pipi putih Hinata sementara pemiliknya masih terpejam. "Aku selalu membayangkan kalau aku adalah pangeran yang ada di dalam novel itu, dan kau adalah putrinya... karena Sasuke tidak ada, jadi kitalah yang berbahagia selamanya..."
Kini Naruto merebahkan kepalanya di atas dada Hinata, merasakan detak jantungnya yang berdenyut pelan, memastikan ada kehidupan disana. Hanya dengan begini saja, pria berambut pirang itu bisa merasakan kedamaian barang sejenak, di tengah-tengah kesibukan pekerjaan. Tidak, ia tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, Naruto justru lebih bahagia jika Hinata bangun saat ini juga daripada terus-menerus menghabiskan waktu dalam keheningan. Setelah puas menenggelamkan wajahnya di dada tersebut, Naruto bangkit, lalu kembali menyelimuti gadis berambut indigo yang tadi sempat tersingkap. Tak lupa diciumnya dahi Hinata sebelum ia mengenakan kembali jas labnya dan berangkat menuju Tower of Rose lagi.
"Kau terlambat lagi, Naruto," tegur Shikamaru sambil menguap, sementara pria berambut pirang itu hanya cengar-cengir saja, tak peka dengan ekspresi bosan pemimpinnya yang sudah menunggu sejak lama.
"Ehehe, maaf maaf. Setidaknya aku tidak tersasar di jalan yang bernama 'kehidupan'..."
"Ehem, itu kalimatku, Nak." Sebuah sahutan dari punggung Naruto sukses membuat ia terlonjak. Buru-buru sang dokter muda itu minta maaf ke orang yang bersangkutan.
"Eh, ma-maaf, Sensei, kukira Sensei terlambat juga..."
"Tidak kali ini, Naruto," kata Kakashi serius, lalu menatap gedung Tower of Rose yang kini telah dipagari oleh garis polisi. Berbeda jauh kondisinya dengan yang Naruto lihat pertama kali, kini reruntuhan rumah sakit itu jauh lebih ramai dan sedikit lebih terang, suasananya juga tidak sesuram dulu. Selain karena rumput-rumput liarnya juga sudah dibabat untuk mempermudah perjalanan, tinggi gedungnya juga berkurang drastis, membuat sinar matahari bebas mengekspos tempat tersebut, dan tentu saja mempermudah para penyidik.
"Jadi... bagaimana penyelidikannya?" tanya Naruto berbasa-basi, tak lupa dengan deheman formalnya.
"Tidak terlalu mengejutkan. Karena gedungnya sendiri juga sudah hancur, sedikit sekali data-data tertulis yang kami peroleh. Mayat-mayat disana juga sudah diidentifikasi, dan diperkirakan semuanya mati disaat yang sama. Mayoritas pasien, tapi ada juga yang pengunjung dan pegawai rumah sakit. Oh iya, dan kami juga baru saja menemukan serpihan detonator di lantai atas. Mungkin itulah yang membuat reruntuhan tua ini meledak."
"Detonator?"
"Iya, jadi bom yang meledakkan rumah sakit ini berasal dari detonator yang bereaksi terhadap tekanan. Mungkin saat kau terakhir kali datang kemari, secara tidak sengaja kau melakukan sesuatu yang membuat detonator tersebut aktif dan membuat seluruh tempat ini hancur. Jadi, Naruto..."
Saat Kakashi mengatakan hal tersebut, dua pasang mata menatapnya bersamaan, membuat sang dokter muda merasa tak nyaman.
"Apa yang kaulakukan disana?"
"Hei, seharusnya aku yang menanyakan itu terhadap kalian berdua!" elak Naruto sambil mendorong mereka berdua menjauh. "Kenapa juga kalian sengaja mengerjai aku sejauh ini sehingga aku harus terlibat di dalam kasus? Aku memang dokter forensik, tapi aku juga tidak ingin berurusan dengan polisi secara pribadi! Sudah cukup aku diinterogasi semalaman kemarin!"
Shikamaru dan Kakashi berpandangan, lalu tertawa bersamaan sementara Naruto semakin memberengut.
"Ini tidak lucu! Maaf saja ya, aku tidak seperti kalian yang terbiasa bekerja di lapangan dan bertemu dengan orang-orang berwajah sangar!" omel Naruto lagi, yang untung saja cukup membuat tawa mereka berdua mereda.
"Maaf, maaf, Naruto, awalnya saat itu kami berdua hanya iseng karena kukira kau butuh bertemu dengan manusia-manusia asli, yang masih hidup maksudnya," kata Kakashi, jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda V lalu menggerak-gerakkannya sebagai simbol kutip. "Tapi aku tidak tahu kalau kau benar-benar menganggapnya serius, bahkan masuk ke dalam sementara aku sendiri saja tidak berani. Sungguh! Saat itu aku dan Shikamaru hanya menduga kalau kau langsung kembali ke rumah sakit dan menemui kami secara langsung, lalu mencak-mencak seperti biasa. Kami tidak menyangka kau seberani –"
"Maksudnya nekat," potong Shikamaru sambil menguap lebar. "Jadi... masih mau membantu kami menyelesaikan kasus ini? Sebagai dokter forensik, maksudnya, bukan sebagai saksi."
"TIDAK," tolak Naruto tegas. "Tidak akan! Kalian jahat sekalii~" Naruto menutul-nutulkan kelopak mata, pura-pura menyeka air mata yang tak nampak. "Lagipula tadi kaubilang sudah diidentifikasi, kan?"
"Iya, iya, bercanda," jawab Kakashi sambil tersenyum dari balik maskernya. "Cuma... ada satu yang belum."
"Hah?" seru Naruto dan Shikamaru bersamaan. Naruto menoleh ke arah kawan lamanya sekaligus pemimpinnya kini, bahkan sang pemalas itu baru tahu dengan berita yang dibawakan oleh Kakashi. Pria berambut putih itu menarik napas dalam-dalam, merasa berat untuk membicarakannya.
"Jadi... aku menemukan suatu fakta menarik dari peristiwa ini. Tidak ada yang tahu kecuali aku dan segelintir orang-orang yang menjadi tim khususku. Nah, karena kalian kuanggap teman baik –dan kuharap kalian juga ikut membantu menyelesaikannya, maka akan kujelaskan. Tapi maaf, aku tidak bisa melakukannya disini. Ehm... warung ramen Teuchi saat makan siang?"
"Boleh!" Gampang ditebak, yang suaranya paling keras dan paling bersemangat tentu saja Naruto. Shikamaru hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang tak berubah sejak SMA dulu.
"Ckckck... baiklah. Oh iya, mumpung kalian disini, ayo ikut aku masuk ke dalam. Tenang saja, di dalam akan ada banyak penyidik, mayat-mayatnya juga sudah diangkut, beberapa tempat juga sudah dibersihkan, meski tidak semua..." jelas Kakashi begitu dilihatnya Naruto mulai bergidik. "Lagipula, aku ingin menunjukkan sesuatu ada kalian. Sesuatu yang berhubungan dengan cerita nanti siang, dan kurasa kalian lebih baik melihatnya langsung. Mari..."
Shikamaru berjalan masuk duluan, diikuti dengan Naruto yang masih bersembunyi ketakutan di punggungnya. Kakashi yang berjalan paling akhir hanya bisa menebar senyum terhadap para penyidik dan polisi yang masih bertugas. Memang benar, ketakutan Naruto berkurang begitu dilihatnya rumah sakit itu sudah tidak seseram dulu, lampu-lampu juga dinyalakan sehingga lebih terang, dan jika suasananya tidak berantakan, mungkin pemuda berambut pirang itu menganggap mereka berada di dalam rumah sakit biasa. Tanpa pasien dan pegawai, tentunya.
Langkah demi langkah, Naruto semakin tercekat. Entah mengapa, hawa dingin menjalari tubuhnya ketika ia melewati lorong yang sama. Tangga yang sama. Meskipun suasananya berbeda, namun seakan-akan ia berjalan sendirian, dengan segala keangkeran yang dulu pernah melingkupinya. Berusaha menepis semua itu semua, Naruto menatap punggung Shikamaru lurus-lurus, berusaha tidak menoleh kesana-kemari seperti sebelumnya. Berkat ketegangan yang selama ini menguasai tubuhnya, ia sampai tak sadar dengan suara Kakashi yang mengatakan kalau mereka telah sampai.
"Ini tempatnya."
Naruto benar-benar terhenyak sekarang. Ruangan itu adalah bekas laboratorium dimana ia pernah menemukan Hinata, dan tentu saja, mengusik 'sesuatu' yang tidak suka atas perbuatannya. Pasti Kakashi menemukan kejanggalan dengan alat-alat medis yang sangat modern pada zaman tersebut, dan tak lama lagi pasti akan menghubungkannya dengan rumor percobaan manusia buatan yang heboh di koran. Sang dokter muda itu masih bingung dengan benang-benang kusut yang ada di kepalanya ketika Kakashi justru menyodorkan sebuah buku usang ke hadapan mereka berdua alih-alih membicarakan hal yang ditakutkan Naruto.
"Aku menemukan buku ini di bawah lemari di ruangan ini. Seperti yang kalian lihat, laboratorium ini adalah ruangan yang mengalami kehancuran paling parah dari semuanya, bahkan nyaris semua atapnya terbuka dan salah satu sisi dindingnya bolong, jadi aku kesulitan untuk mencari bahan-bahan bukti disini. Tapi justru disiindigoh aku menemukan bukti utama yang sangat penting –serpihan detonator di bawah ranjang dan buku itu sendiri. Ngomong-ngomong, ranjangnya juga ikut hancur, tapi bekas lantainya masih kelihatan jadi aku bisa tahu. Dan..." Kakashi berhenti sejenak untuk mengambil napas. "Laboratorium ini berbeda dengan laboratorium biasa."
"Berbeda maksudnya?" tanya Shikamaru.
Kakashi berdehem. "Jadi, ada beberapa alat-alat kedokteran yang bisa kuselamatkan dari ruangan ini dan kuidentifikasi, ternyata peralatan tersebut termasuk modern pada zamannya. Terlalu modern, malah. Pertanyaannya, bagaimana bisa mereka mendapatkannya dan untuk apa?"
Naruto tidak suka dengan pertanyaan menggantung dan keheningan tanpa ujung ini. Shikamaru jelas takkan bersuara karena sang doker muda itu tahu, sahabatnya takkan memberikan pendapat sebelum ia punya bukti dan alasan yang jelas. Untung saja Kakashi tidak memaksa, melainkan mengajak mereka semua turun dan keluar dari gedung tersebut, lalu menelepon taksi. Tak lama kemudian, taksi yang dimaksud datang, dan mereka bertiga duduk di dalam. Dalam lantunan lagu di radio yang disetel oleh supir, Naruto membaca buku tersebut dengan berhati-hati dalam membuka tiap lembarnya. Ternyata itu adalah sebuah buku harian.
Maret 1964
Akhirnya aku mendapat pekerjaan. Meskipun orangnya agak aneh, tapi dia memberiku gaji yang lumayan dan aku juga membutuhkan sesuatu darinya. Sesuatu yang penting dan berharga bagiku.
April 1964
Orang itu semakin aneh. Tapi aku tak bisa berkomentar, apalagi protes. Mungkin keanehannya untuk memberikanku sesuatu yang lebih baik lagi untukku. Sementara itu, aku terus berlatih keras agar bisa menjalani pekerjaanku dengan baik.
Mei 1964
Setelah dua bulan mati-matian berlatih, akhirnya orang itu memberikan kepercayaan untuk menjalani tugas pertamaku. Tidak terlalu sulit ternyata, apalagi dengan sesuatu yang ia berikan padaku. Itu sangat membantu, meskipun ia bilang jangan terlalu memaksakan diri.
Juni 1964
Perlahan-lahan, orang itu bereksperimen dengan sesuatu yang sudah kumiliki. Maksudnya, bagaimana cara menggunakan agar bisa mencapai optimal, segala macam urusan tekniklah pokoknya. Jelas, aku yang menjadi percobaannya. Tapi aku tak keberatan, asal aku bisa memilikinya selamanya. Lagipula, aku semakin mendapat banyak tugas, dan itu artinya semakin banyak uang yang kudapatkan. Jadi sejauh ini, hubungan kami berdua saling menguntungkan satu sama lain. Ia dapat data, aku dapat pengalaman, uang, dan sesuatu yang semakin disempurnakan.
Naruto membalik halaman berikutnya, ternyata kosong. Dibalik lagi, kosong lagi. Pria berambut pirang itu sudah hampir mengira tulisannya sudah berakhir ketika ia menemukan lanjutannya di tengah buku.
November 1964
Akhirnya sesuatu yang kumiliki itu telah sempurna. Aku juga sudah beradaptasi dengannya, menggunakannya, seakan-akan sesuatu tersebut telah menjadi bagian dalam diriku. Orang itu berkata, "Terima kasih atas kerjasamanya selama ini. Kekuatanmu sekarang sudah sempurna dan menjadi milikmu seutuhnya. Hanya ada satu cara untuk mengujinya, dan ini akan menjadi tugas terberat sekaligus terakhir, karena setelah kau melakukannya, kita akan berpisah. Aku akan mengomersialkan kekuatan ini, dan kau juga harus hidup bersembunyi karena pasti akan ada orang yang mengincarmu, meskipun kau tidak ketahuan saat melakukan tugasnya."
Aku jelas bingung, tapi aku tidak berkata apa-apa sebelum ia selesai.
"Berbeda dengan tugas-tugas yang selama ini diberikan oleh klien, tugas ini berasal dariku secara pribadi. Aku dulu berasal dari rumah sakit pusat, namun teman karibku mengadakan sebuah proyek rahasia bersama teman-temannya yang lain tanpa mengajak aku. Padahal dulu akulah yang diajak berdiskusi soal proyek itu, dan akulah spesialis di bidang yang mereka geluti. Aku jadi dendam pada mereka, dan aku mengacaukan hasil eksperimen mereka begitu mereka nyaris berhasil. Mereka takkan bisa menemukanku karena aku langsung mengundurkan diri setelah itu dan aku meninggalkan segala kemewahan yang telah kumiliik untuk memudahkan dalam bersembunyi. Jadi itulah alasan mengapa aku menciptakan obat untuk meningkatkan kekuatan, kelincahan, kecepatan manusia hingga batas maksimal dan mengapa aku mengujicobakannya padamu, itu semua kulakukan untuk hari bersejarah ini. Kau akan masuk ke sana, mengaktifkan kembali obat yang dulu pernah kuberikan pada obyek percobaan itu, dan keluar tanpa meninggalkan jejak. Jadi obat itu sempat dinonaktifkan oleh salah satu ilmuwan disana, dan hanya bisa diaktifkan kembali melalui rangsangan dari luar. Kalau kau sampai ketahuan, bahkan oleh satu orang saja..."
Aku menunggu.
"Kau harus menghabisi semua yang ada di rumah sakit itu dengan kekuatanmu sendiri."
Tak perlu waktu lama untuk mencerna semua ini, tapi aku butuh waktu untuk memberikan keputusan. Ternyata orang aneh itu memang memanfaatkanku untuk membalas dendamnya sendiri dan tidak mau mengotori tangannya untuk melakukannya, seharusnya aku bisa menduga kelakuan liciknya dari awal. Tapi setidaknya ia sudah buka kartu di akhir, bahkan menceritakan masa lalunya juga sementara aku tetap tutup mulut tentang tragedi yang pernah terjadi dalam keluargaku dan bagaimana bisa aku ditemukan sebatang kara. Dia juga tidak pernah bertanya, tapi kurasa ia cukup pintar untuk menelusuri latar belakangku, dan mungkin juga ia tahu kalau aku tidak benar-benar sendirian di dunia ini, masih ada kakakku yang harus kucari dan kubunuh. Mungkin juga itu adalah salah satu alasan mengapa dia memilihku menjadi kelinci percobaannya, karena margaku bukan orang-orang sembarang. Bahkan kalau boleh bisa kubilang, ras berkualitas tinggi...
Catatan itu akhirnya benar-benar berhenti. Naruto memang tidak sejenius Shikamaru dan tidak secerdik Kakashi, namun secara ringkas, ia bisa menebak kalau penulis buku harian ini sangatlah pintar. Ia bahkan tidak menuliskan namanya sendiri maupun orang-orang yang bersangkutan di dalam kisahnya, bahkan catatan terakhirnya dibiarkan menggantung untuk membuat semua orang menebak-nebak bagaimana nasib sang penulis buku harian selanjutnya, ataupun 'orang aneh' yang menjadi guru sekaligus ilmuwan bagi pemilik buku tersebut. Memang banyak sekali kata kunci yang sengaja ditulis di akhir halaman, dan membuka banyak cabang kemungkinan baru, namun itu tetap saja membuat Naruto bingung karena ketidakmasukakalannya. Obat untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan dan kelincahan manusia hingga batas maksimal? Memangnya obat semacam itu ada?
Sang dokter muda memijit kepalanya sendiri setelah menyerahkan buku itu ke Shikamaru sementara Kakashi menerangkan, "Oh iya, aku lupa memberitahu kalau ada satu mayat pria yang ada di dalam laboratorium itu, dan kemungkinan besar buku harian itu adalah miliknya. Sayang kami belum selesai mengidentifikasinya, sehingga kami belum tahu identitas pria itu..."
Shikamaru mengembalikannya lagi ke Kakashi hanya dengan beberapa kali membolak-balik halaman, lalu menguap.
"Bagaimana tanggapanmu, Shikamaru?"
"Merepotkan," dengus pria berambut jabrik yang kini melipat kedua tangannya di belakang kepala, lalu menyandarkannya di sofa. "Aku punya beberapa teori tentang hal ini, tapi apa yang kauharapkan dari direktur rumah sakit sepertiku? Tanya Sasori saja, bukankah ia juga kemarin datang ke TKP bersamamu? Aku bahkan menebak kalau kau memperlihatkan buku harian itu terlebih dahulu padanya sebelum kami."
"Ahaha, tenang saja. Ia sekarang sudah ada di warung ramen, menunggu kita. Aku hanya ingin mendengar pendapat dari berbagai sudut pandang, Shikamaru. Ayo."
"Haah, baiklah..." putus Shikamaru akhirnya. "Seperti yang sudah kalian baca, pria yang menulis ini sungguh jenius karena tidak mencantumkan informasi personal maupun orang-orang yang pernah berhubungan dengannya. Berdasarkan gambaran dari catatan tersebut, pria itu –yang anggap saja si A –awalnya sebatang kara karena tragedi yang terjadi di dalam keluarganya, dan ia membutuhkan kekuatan untuk membunuh kakakknya. Entah apa yang terjadi diantara mereka, tapi aku menduga si kakak itu yang menyebabkan adiknya sebatang kara dan ingin membunuhnya, jadi motifnya dendam... kebetulan si 'orang aneh' yang mulai sekarang kita panggil B ini datang dengan menawarkan kekuatan yang si A inginkan, dengan syarat bersedia menjadi kelinci percobaannya karena si B adalah ilmuwan gila... paham sampai disini?"
Baik Naruto dan Kakashi mengangguk.
"Kebetulan si B juga punya rencana sendiri... ia tahu si A bukan orang sembarangan, jadi kemungkinan besar si A bisa menahan efek yang mungkin terjadi di dalam obat buatannya, berbeda dengan manusia normal. Karena itulah si A dianggap pantas untuk membalaskan dendam si B melalui obat tersebut. Intinya, mereka berdua saling membalaskan dendam mereka masing-masing. Kronologisnya sudah tertulis di buku itu, kan? Jadi aku tak perlu menceritakannya lagi," terang Shikamaru malas-malasan. Kakashi bertepuk tangan.
"As expected from Shikamaru," puji Kakashi sambil tersenyum dari balik maskernya, sementara yang dipuji hanya menaikkkan sedikit alisnya. "Masih ada lagi informasi yang bisa kaugali?"
"Ada, sebenarnya. Tentang masa lalu si B, menurut buku harian itu ia berasal dari rumah sakit pusat. Menurut database yang kupunya, pada tahun 1964 itu hanya ada satu rumah sakit di Konoha, ya Tower of Rose itu. Mungkin nanti kau bisa mencocokkannya dengan daftar para dokter yang pernah berpraktek di Tower of Rose, Kakashi..." saran Shikamaru kemudian. "Lalu dia mengasingkan diri dengan meninnggalkan semua kehidupan lamanya, termasuk jabatannya sebagai dokter di rumah sakit tersebut... meskipun catatan ini pertama ditulis pada bulan Maret 1964, namun ada kemungkinan juga si B mengundurkan diri sebelum bulan itu... jadi, kalau kau punya datanya, bisa juga kaucari data para dokter yang pernah mengundurkan diri pada bulan itu. Selain itu..."
Shikamaru kini membolak-balik halaman buku harian, memastikan sesuatu yang tercantum di dalamnya sebagai bukti atas pendapatnya. "Di bulan November 1964, jelas sekali si A melakukan sesuatu yang besar terhadap rumah sakit itu, terutama terhadap obyek percobaan yang bersembunyi di dalamnya. Kurasa sulit dipercaya kalau beberapa dokter melakukan eksperimen rahasia di rumah sakit sipil, namun mengingat kasus-kasus yang telah terjadi belakangan ini, apalagi dengan penemuan Kakashi tentang alat kedokteran yang terlalu canggih pada zaman tersebut, bisa jadi alat-alat itu digunakan sebagai proyek rahasia yang dimaksud, dan detonator itu... untuk berjaga-jaga jika seandainya ada yang mengetahuinya, maka seluruh barang bukti akan hancur tanpa sisa."
"Ta-tapi... bukan itu, kan, yang menjadi penyebab terbunuhnya orang-orang di dalam Tower of Rose?" potong Naruto, setelah sekian lama ia tak mengutarakan pendapatnya. "Lagipula, bom itu baru meledak sesaat setelah aku datang ke sana! Yah, meski aku tidak melakukan sesuatu yang aneh disana sih... ahahahaha..."
Tawa Naruto perlahan-lahan semakin datar, mengingat justru ialah yang melakukan kesalahan paling fatal di dalam sana. Untung saja mereka tidak tahu tentang Hinata maupun rincian mengenai percobaan yang pernah dilakukan di rumah sakit itu, jadi sementara ini posisi Naruto aman jaya.
"Kita bisa lanjutkan pembicaraan ini di dalam, Naruto, sekarang ayo keluar dulu," ujar Kakashi sambil menyerahkan sejumlah uang untuk sopir, sementara Shikamaru sudah membanting pintu taksi dari luar. Buru-buru sang dokter muda itu melakukan hal yang sama, dan mereka bertiga akhirnya memasuki warung ramen Teuchi bersama-sama. Sebetulnya kurang tepat jika disebut 'warung', karena tempat yang mereka masuki kini sama besar dan mewahnya seperti restoran bintang empat. Memang dulunya tidak sebesar sekarang, bahkan Naruto masih ingat saat ia makan di bangku panjang yang berdempet-dempetan terakhir karena sempitnya lahan saat SMA dulu. Berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Teuchi bisa membeli beberapa tanah di sekelilingnya untuk memperbesar usahanya, dan mengubah seluruh konsep warung makan itu menjadi restoran yang menjadi destinasi kuliner setiap kali mengunjungi Konoha, tentu saja tanpa kehilangan kesan tradisionalnya. Asap mengepul dari beberapa tempat, pertanda semangkuk ramen hangat baru saja disajikan. Tanpa kesulitan, mereka berhasil menemukan tempat duduk sang pemuda berambut merah, berkat pesanan yang baru saja datang.
"Kebetulan sekali kalian datang bersamaan dengan makanannya." Senyum yang biasa di bibir Sasori kini berganti dengan manyun, sementara tangannya menyingkirkan lembaran dokumen penting dari atas meja untuk tempat meletakkan mangkuk-mangkuk tersebut. "Makan dulu, nanti kalau sudah selesai akan kugelar lagi. Capek, tahu, membereskannya."
"Haha, maaf Sasori, tapi setidaknya kami kemari tidak dengan tangan kosong," kata Kakashi sambil tersenyum meminta permakluman.
"Oh ya? Kalian bawa apa saja?"
"Bukan barang, tapi lebih tepatnya... pemikiran baru." Kali ini Shikamaru yang menjawab duluan setelah menjamah salah satu kursi, diikuti dengan Naruto yang sudah tidak sabar untuk menghabiskan jatahnya, terlihat sekali dari sumpit yang baru saja dipatahkannya dengan terburu-buru. "He'eh!"
"Santai saja, Naruto, kita masih punya waktu banyak disini." Kakashi hanya tertawa ketika dilihatnya sang dokter muda itu kini menyeruput ramennya dengan penuh semangat, sampai-sampai hanya bisa mengangguk setuju saja tanpa bisa berkata apa-apa karena mulutnya yang terisi penuh. "Setidaknya, Sasori, mereka sudah tahu garis besarnya, jadi kau tidak perlu menjelaskannya dari awal."
"Hmm, baguslah kalau begitu," ujar Sasori sambil menyumpit ramennya perlahan, menunggu hawa panasnya membaur bersama udara. "Jadi aku hanya perlu menceritakan temuan baruku ini. Kurasa mereka juga sudah tahu latar belakang Orochimaru?"
"Orochimaru?" Alis Naruto naik sebelah.
"Nama ilmuwan gila yang menjadi guru si penulis buku harian?" sambar Shikamaru dengan ramen yang masih menggantung dari balik bibirnya. Sasori mengangguk.
"Ya, itu namanya. Aku sudah punya daftar para dokter yang pernah berpraktek di Tower of Rose dan siapa yang mengundurkan diri pada tahun 1964, dari situlah aku menemukan namanya. Profil lengkapnya... hmm... dia hanyalah dokter spesialis organ dalam biasa, tapi dikenal sebagai penghobi reptil terutama ular. Hanya itu saja yang kumiliki, karena setelah ia menghilang, tidak ada yang mengetahui kabarnya maupun informasi terkini mengenainya."
"Ia benar-benar serius, kalau begitu," komentar Kakashi pelan. "Kalau ia bisa melakukan eksperimennya tanpa bisa diketahui masyarakat, berarti ia tinggal di pinggir kota, terutama lingkungan yang memiliki sedikit tetangga sehingga aksinya tetap lancar. Lalu untuk pasokan alat dan bahan-bahan kimianya... mungkin Orochimaru juga punya akses ke black market, atau punya kenalan orang-orang tertentu yang menyuplaikan untuknya."
"Tidak heran, ia licik sekali," sahut Shikamaru kali ini, bersamaan dengan sumpit yang diletakkan di atas mangkuk, pertanda isinya telah berpindah ke perut. Dilihatnya mangkuk Kakashi sudah habis dari tadi, begitu pula dengan Sasori, hanya Naruto yang masih berkutat dengan ramennya. "Jadi... bisa kita lanjutkan?"
"Swebenthar, akhu bewlhum sheleswai," cegah Naruto dengan pipi menggembung, berusaha mengunyah secepat mungkin agar bisa ditelan dengan mudah. "Oke, lanjutkan."
Sasori mengangkat sebelah tangannya, yang disambut oleh sang pelayan untuk membawa bekas mangkuk dan gelas. Setelah yakin mejanya rapi tanpa noda, pria berambut merah itu menggelar kembali dokumen-dokumen yang telah dipersiapkannya.
"So, here it is, gentlemen." Sasori membentangkan tangannya di atas dokumen-dokumen yang sebagian berstempel 'top secret' itu, berpose seperti pesulap yang baru saja mengeluarkan burung merpati dari topinya. "Bukti dari seluruh dongeng kita. Silakan posisikan tubuh Anda senyaman mungkin, karena cerita ini akan panjang."
"Ba-bagaimana kaubisa mendapatkan barang-barang ini, Sasori?" tanya Naruto terkejut. "Lagipula apa tidak apa-apa memperlihatkannya di tempat umum seperti ini?"
"Tenang saja, sebenarnya tempat ini sudah kusewa secara khusus agar tidak ada orang sipil yang masuk, hehe. Yang tadi keluar-masuk itu anak buahku, untuk membuat suasana terlihat ramai saja," jawab Sasori sambil tersenyum lebar. "Nah kita mulai dengan catatan terakhir di buku harian itu. Sebenarnya, catatan itu tidak benar-benar 'berakhir', justru akhir yang sebenarnya ada di depan mata kita."
Jemari Sasori kini membalik salah satu dokumennya, memperlihatkan sebuah judul yang familiar. Hei, bukankah itu koran merah yang dulu pernah dibacanya? Dan mengapa bisa masuk ke dalam dokumen paling rahasia?
"Seperti ketentuan yang sudah disepakati oleh sang penulis buku harian dan gurunya, jika ada satu orangpun yang memergoki aksinya, maka seluruh penghuni rumah sakit harus dibantai," terang Sasori. "Dan itulah yang terjadi. Si penulis buku harian itu gagal. Kalian sudah lihat, kan, bagaimana mereka semua terbunuh dalam keadaan tidak wajar? Itu semua karena ulahnya. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa tubuhnya sendiri justru ditemukan di laboratorium itu sementara seharusnya saat itu ia bisa kabur dan mengganti identitas seperti yang telah disuruh?"
Pertanyaan yang dilemparkan ke mereka bertiga membuat suasana hening sejenak, hingga Shikamaru angkat suara.
"Mungkin... mungkin si penulis buku harian itu berubah pikiran," jawab Shikamaru sambil menopang dahi dengan kepalan tangan. "Lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud tulisan 'Kau akan masuk ke sana, mengaktifkan kembali obat yang dulu pernah kuberikan pada obyek percobaan itu'"
"Itu karena kalian tidak mengerti apa yang tepatnya mereka lakukan, maksudku, apa percobaan rahasia yang dilakukan oleh dokter-dokter di Tower of Rose waktu itu," terang Sasori sambil menyeringai. "Percobaan rahasia yang bahkan sampai membuat Orochimaru iri dan membalas dendam dengan mengirim si penulis buku harian itu untuk mengacaukannya. Eksperimen rahasia itu adalah... membuat manusia artifisial."
"WHAT?" seru mereka bertiga bersamaan, bahkan Shikamaru yang terkenal paling sedikit atensinya terhadap apapun. Tak peduli dengan ekspresi kaget yang mereka sampaikan, Sasori kembali melanjutkan kata-katanya,
"Iya, jadi mereka akan membuat sebuah manusia yang benar-benar hidup dan bernapas, namun tidak berasal dari rahim wanita dan segala pembuahannya. Tubuhnya menggunakan android alias robot yang fungsi-fungsi dasarnya menyerupai manusia, dan gennya diambil dari salah satu istri peneliti yang telah meninggal. Konsep dasarnya sama seperti bayi tabung, bedanya setelah embrionya jadi, mereka meletakannya di dalam tubuh android tersebut, sehingga perkembangannya tidak melaui bayi dan kanak-kanak hingga dewasa. Pola pikirnya juga sudah diatur sehingga obyek percobaan ini akan mirip seperti tubuh yang ditumpanginya, bahkan objek percobaan itu sendiri tidak tahu kalau ia bukan manusia sungguhan."
"Seharusnya megaproyek berkode 'Aurora' itu berjalan dengan lancar dibawah tangan karena tentu saja, apa yang mereka lakukan itu melanggar hukum dan agama. Namun kenyataannya, mereka berhasil, meskipun menurut buku harian itu, Orochimaru berusaha menggagalkannya. Entah dengan cara apa, aku juga tidak tahu, tapi yang jelas ia ingin melakukanya lagi dengan melibatkan si penulis buku harian."
"Lalu... apa yang terjadi dengan obyek percobaan itu?" tanya Kakashi penasaran, diikuti dengan anggukan ingin tahu dari Shikamaru.
"Karena menurut fakta yang terjadi di lapangan si penulis buku harian itu membunuh semua penghuni rumah sakit, maka jelas, ia ketahuan. Tapi tidak dijelaskan kalau ia berhasil 'membunuh' objek percobaan tersebut. Aku bilang 'membunuh' dalam tanda kutip karena aku tidak begitu mengerti apa yang diinginkan Orochimaru terhadap proyek percobaan itu, tapi kemungkinannya besar," jawab Sasori. "Anggap saja Orochimaru ingin obyek percobaan itu dibunuh. Kalaupun benar, dimana jasadnya sekarang? Seharusnya jasad itu yang ada di dalam Tower of Rose, bukan si penulis buku harian itu sendiri. Kehadirannya juga sama-sama membingungkan, mengingat ia tidak berusaha untuk melarikan diri, bahkan sepertinya ia berencana untuk terus berada di situ. Tapi sebenarnya apa yang akan ia lakukan? Mengapa obyek percobaan itu menghilang begitu saja? Apa mungkin si penulis buku harian itu sengaja menyembunyikannya dan menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan jika ada yang menemukan, atau justru ia menculik obyek rahasia itu untuk diteliti oleh Orochimaru? Sampai disini aku benar-benar tersesat, tidak ada petunjuk pasti."
Keempat pria berbeda profesi itu terdiam di meja yang sama, dengan pemikiran baru yang sama-sama rumitnya, namun sepertinya hanya Naruto yang berkeringat dingin saja. Tak ada yang tahu kalau obyek percobaan itu masih tertidur di kamarnya, hidup dan sehat sebagai manusia artifisial, dan semua dugaan yang dilontarkan oleh sang detektif itu tidak ada yang mendekati kenyataan. Meski ia sendiri juga tidak mengerti mengapa si penulis buku harian itu 'menunggui' Hinata, bahkan hingga arwahnya bergetayangan dan mengejar Naruto waktu itu, tapi bom yang dulunya difungsikan untuk menghancurkan barang-barang bukti aktif begitu ia membawa gadis artifisial itu pulang, jadi bukan karena kemarahan sang penulis buku harian. Mungkin juga bom itu berfungsi untuk mencegah siapapun yang ingin memindahkan Hinata dari tabungnya, dan si penulis buku harian itu tidak berani melakukannya. Apapun kemungkinan yang terjadi, insting Naruto mengatakan untuk segera pergi dari warung itu sekarang juga sebelum ia diinterogasi lagi dan tidak sengaja memberitahukan kenyataan.
"Ehm, maaf sebelumnya... tapi kepalaku mendadak pusing. Semua ini begitu sulit dimengerti dan bahkan sangat tidak nyata. Bisakah kita segera akhiri pembicaraan ini dan melanjutkan dugaan masing-masing di rumah? Siapa tahu kita bisa saling berpendapat lebih lancar begitu beristirahat," usul Naruto setelah menyusun kata-kata dengan teliti. Shikamaru mengangguk.
"Benar kata Naruto. Masalah ini terlalu berat untuk dipecahkan beberapa jam saja. Sebaiknya kita semua beristirahat untuk menyegarkan pikiran. Aku juga ingin kasus ini selesai secepatnya," sahut Shikamaru sambil menguap lagi. Sasori mengangguk, lalu merapikan semua dokumennya dalam satu map besar.
"Baiklah, kurasa cukup disini pertemuan kita. Nanti akan kuberitahu kapan dan dimana pertemuan selanjutnya, jadi kuharap kalian semua mengosongkan jadwal saat hari itu tiba. Kita semua sudah terlibat di dalam kasus ini terlalu dalam, tadi tidak ada cara lain untuk keluar selain menyelesaikannya. Baiklah, selamat sore, semuanya."
"Selamat sore."
"Haah, akhirnya aku sampai juga." Naruto menghela napas lebar-lebar sambil bersandar di pintu apartemennya begitu pandangannya bertemu dengan tempat tinggalnya yang nyaman, meskipun tidak terlalu luas. "Kurasa aku harus tidur setelah mengecek kondisi Hinata..."
Sambil berjalan ke dalam kamar, dilepasnya dua kancing atas kemeja pria itu dan melonggarkan dasinya, lalu membuka pintu kamar. Kantuknya kini benar-benar hilang setelah ranjang itu kosong!
"Hinata!"
Naruto langsung berlari masuk ke dalam, mencari gadis artifisial itu ke segala penjuru kamar. Tidak ada bekas-bekas ia diculik ataupun melarikan diri, lagipula mungkinkah ia sadar saat Naruto tidak ada?
Baru saja sang dokter muda itu keluar dari kamar untuk mencari di ruangan lain, sosok yang dimaksud sudah berdiri di hadapannya. Rambut indigo panjangnya tergerai basah di punggungnya, tetes-tetes air masih menggantung di sekujur kulit putih yang tidak tertutup handuk, dan bibir merah jambunya itu hanya bisa menganga sebelum kesadarannya pulih.
"KYAAAAAAAAAAAAAA!"
.
.
.
TO BE CONTINUE
[bersambung]
.
.
.
-Behind the Scene-
[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]
Kalau ada yang protes mengapa tiap chap panjang-panjang, tenang saja, saya sendiri juga lelah ngetiknya :" entah kenapa, fic ini menjadi melar banget setelah dapet masukan dari para readers. Sebenarnya saya harus bersyukur, sih, tapi saya ga nyangka di chapter 2 ini belum benar-benar selesai ;w; awalnya saya berencana untuk membuat sekuel yang full fantasy, dan satu lagi yang full scifi. Tapi begitu ditulis, ternyata porsi fantasy-nya dikit, jadi saya gabungkan dengan timeline scifi. Ada penambahan genre & karakter juga disini, untuk menjelaskan semua yang tidak masuk akal. Sekarang... paling tidak, plothole di chater pertama sudah ketutup semua :"3 sekarang tugas saya untuk memikirkan lebih lanjut apa yang akan dilakukan Naruto selanjutnya. Mungkin kalau ada yang mau membantu lagi seperti dulu juga silakan~ saya bukan author sempurna jadi butuh banyak masukan ^^
Review?
