"Hinata..."

Kelopak mata itu membuka, memperlihatkan manik mutiara yang bersembunyi di dalam. Seorang pria tampan menjadi pandangan pertamanya, membuat Hinata sedikit tergagap mengingat jarak diantara mereka yang begitu dekat.

"Akhirnya kau bangun juga..." ujar pria itu menghela napas lega. Mengabaikan tatapan heran dan bingung dari Hinata, pria tersebut melanjutkan kalimatnya.

"Maafkan aku, Hinata, karena aku telah membiusmu waktu itu. Sebenarnya aku ditugaskan untuk membunuhmu setelah itu, tapi... aku berubah pikiran. Sekarang semuanya kuserahkan padamu, apakah kau ingin melanjutkan kehidupanmu di masa yang tak kaukenal atau kembali ke dalam takdir yang telah digariskan?"

"Apa... maksudmu –?"

Salahkan dirinya yang membutuhkan waktu lama untuk mencerna kata-kata pemuda berambut hitam itu, apalagi Hinata masih berada di dalam kondisi yang belum prima, logikanya belum berjalan dengan baik setelah bangun dari tidur panjang. Gadis berambut indigo itu hanya menatap sang pria yang asyik mengoceh di depannya, memikirkan ulang kapan ia pernah bertemu dengannya seperti yang tercantum di ceritanya.

Oh.

OH.

Beberapa detik kemudian, memori itu kembali terlintas. Tentang bagaimana seorang pria membungkamnya dari belakang, dan bagaimana Hinata bisa kehilangan kesadaran setelahnya. Ia tak tahu apa-apa, tapi hanya ada satu hal yang pasti setelah manik mutiaranya menjelajahi sekeliling; mereka berdua berada di suatu tempat yang jauh dari kamar tidurnya. Semuanya putih, kosong, lapang, dan hanya ada satu ranjang yang menjadi tempatnya berbaring tadi.

"Jarum yang awalnya kugunakan untuk membunuhmu sekarang ada di sakumu. Kau bebas menggunakannya untuk alasan apa saja, jarum itu kini milikmu seutuhnya. Cukup tusukkan ke kulit, dan racun mematikan yang ada disana akan melebur bersama dengan sistem peredaran darahmu... mungkin sekitar setengah jam kau akan ditemukan tak bernyawa. Maaf, aku tak bisa menjelaskan tentang yang lain... waktuku hampir habis. Aku harus pergi."

Bersamaan dengan kalimat terakhir, sang pria dengan pakaian serbahitam itu membalikkan tubuhnya. Refleks Hinata meraih tangannya, menanyakan sesuatu yang masih menyangkut di pikirannya.

"Tu-tunggu! Siapa kau? Dan mengapa kau tidak jadi membunuhku?"

Dua pertanyaan, satu permintaan. Alih-alih menuruti dan menjawab semuanya, pria itu berbalik dan menyentuhkan bibirnya yang dingin ke bibir Hinata secepat kilat.

"Karena aku mencintaimu. Selamat tinggal, Hinata."

.

.

.

The Princess That Sleeps in the Tower of Roses

[薔薇の塔で眠る姫]

Naruto © Masashi Kishimoto

(NaruHinaSasu, fantasy/scifi/crime/mystery/romance, T, AU)

-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making them. Read it, or just leave it-

.

.

.

"Ma-maafkan aku!" Berkali-kali Hinata membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, sementara Naruto hanya bisa menggaruk kepalanya. Bingung dan girang bercampur di dalam dadanya, siap meledak dalam dadanya kalau ia tak bisa menahan diri.

"Eh, tidak apa-apa. Tapi... bagaimana bisa kau bangun?" tanya Naruto akhirnya, setelah memastikan gadis yang ada di depannya ini sudah lebih tenang dan mengambil tempat duduk sehingga bisa bisa berbicara secara berhadapan. Kini tubuhnya sudah tak dibalut handuk setengah basah, namun kemeja putih yang kedodoran sehingga menutupi sebagian pahanya. Hinata menunduk, dimainkannya ujung kemeja itu sehingga sedikit memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya. Jujur Naruto merasa panas dingin, bukan karena jawabannya, namun karena sifat gugup gadis itu yang 'mengundang'.

"Tidak tahu. Langsung bangun saja."

Tidak mungkin, kan, Hinata menceritakan mimpinya?

"Hmm," Telapak tangan itu bertumpu di bahu, pertanda pemiliknya sedang mendengarkan dengan seksama. "Tapi... apa kau tahu sudah berapa lama kau tertidur?"

"Entah." Hinata memandang sekeliling, pemandangan kamar dan segala furniturnya terasa lebih... berbeda. Lebih modern. Meskipun ia tak pernah berkunjung ke rumah sama sekali, namun ia sering membaca buku-buku fiksi yang dulu dibawakan oleh para perawat sehingga Hinata bisa mmebayangkannya dengan mudah. Mungkin imajinasinya tak selalu benar, tapi... detil-detil yang biasa ditemukan di furnitur rumah seperti ukiran rumit tidak ada disini. "Hal terakhir yang kuingat adalah saat aku dibungkam dari belakang dengan menggunakan obat bius."

"Bius?"

Ini informasi baru bagi Naruto. Ia tak menyangka gadis yang ada di hadapannya tertidur selama berpuluh-puluh tahun hanya dengan obat bius. Atau mungkin Hinata saja yang tidak tahu perihal 'obat bius' itu?

"Hinata." Naruto berdehem. Mungkin ini saatnya untuk mengatakan kebenaran. "Apa kautahu sekarang tahun berapa?"

"Eh? 1964, kan?"

Naruto menggeleng, membuat Hinata semakin bingung. Ditunjuknya kalender yang duduk di salah satu meja depan, dan saat gadis itu menghampirinya, wajahnya memucat. Berkali-kali lembarannya dibalik, hanya untuk melihat angka yang tertera di sana masih tahun yang sama. Hinata menoleh ke arah pria berambut pria itu, mengkonfirmasi fakta dengan ekspresi syok yang terbaca jelas.

"Maafkan aku, Hinata." Naruto menunduk, meski tak ada yang harus dimaafkan. Sembari lutut gads berambut indigo itu bertumpu pada lantai, Naruto kembali bersuara. "Semula kukira kau hanya koma, tapi itu juga mengalai proses regenerasi dan kau tidak mengalaminya sama sekali. Apalagi setelah kaubilang kalau kau 'tertidur' sejak tahun 1964... yang artinya lima puluh tahun. TIdak ada koma selama itu. Jadi... kesimpulannya, kau bukan manusia biasa."

Hinata diam mendengarkan, namun airmata tak luput membasahi pipinya tanpa suara.

"Aku menyelamatkanmu dari reruntuhan rumah sakit, jadi mau tak mau aku harus terlibat dalam kasus rumah sakit itu. Berita bagusnya, aku bisa mendapatkan informasi lebih banyak dan lebih cepat mengenai dirimu, serta kebenaran dibalik peristiwa ini. Berita buruknya... kau adalah salah satu korban, ehm... bukan. Korban utama. Aku belum menyerahkanmu pada pihak berwajib karena aku ingin mendengar segala sesuatunya darimu. Tentang siapa dirimu sebenarnya."

"Siapa... diriku... sebenarnya?" Hinata berusaha mengemukakan pikirannya dengan isakan disana-sini. "Aku... hiks! Hinata Hyuuga, pasien rumah... hiks! sakit Tower of Rose. Dokter... hiks! bilang kalau aku menderita... hiks! penyakit langka, jadi aku tak pernah... hiks! meninggalkan rumah sakit."

"Doktermu juga bilang begitu?" Manik sebiru lautan itu membulat, namun sesaat kemudian ia sadar, tak bijak membicarakan 'kasus' sebenarnya dari pasien sepolos ini. "Hmm... apa menurutmu 'penyakit'mu jugalah yang menyebabkanmu bisa tidur selama ini?"

"Entahlah... mungkin."

Naruto menghela napas, mencari jeda yang tepat untuk memberitahu semuanya. "Hinata Hyuuga... mengingat semua kejadian yang menimpamu belakangan ini... apa kau masih percaya kalau kau hanya menderita penyakit langka? Penyakit yang bahkan membuat penderitanya tertidur selama puluhan tahun dan tidak mengalami regenerasi sama sekali?"

"Eh? Apa maksudmu?" tanya Hinata dengan kepala yang sedikit dimiringkan. "Apa kau tidak percaya apa yang dokter Sakura katakan padaku?"

"Bukan begitu, Hinata... kaulihat, aku sendiri juga dokter, dan aku paham betul kalau apa yang kauidap bukanlah penyakit. Kau bahkan tak bisa sakit, mengingat tubuhmu adalah android yang sudah didesain seperti manusia asli, lengkap dengan segala fungsinya."

Hening.

Jarum jam dinding tak peduli.

Tik-tok-tik-tok-tik-tok menggema di udara.

Hinata menganga.

"Kukira aku bisa mempercayaimu, Naruto... tapi... tapi... " Hinata menutup mulutnya. Lagipula, siapa yang mau percaya dengan satu kalimat saja? Naruto kembali menghembuskan karbon dioksida ke udara, mencari cara agar apa yang dikatakannya dapat dipercaya. Diambilnya guntingan koran merah yang telah dikliping sehingga lebih mudah dibaca di dalam laci meja, lalu diserahkannya ke gadis berambut indigo itu.

"Awalnya aku mengetahui tentangmu dari berita di koran merah ini..." Naruto menunjuk sebuah artikel tanpa foto di sudut kiri atas. "Lalu setelah aku menyelamatkanmu dan terlibat dengan kasus ini, yang berarti aku bertemu dengan pihak kepolisian, aku menemukan bukti ini." Kini jemarinya mengarah ke tengah kliping. "Ini adalah berkas resmi dari mereka tentang sejarah Tower of Rose, mulai dari kapan dibangun hingga peristiwa yang menyebabkan disfungsinya rumah sakit itu. Memang samar, karena polisi tidak bisa menemukan banyak bukti sampai kasus ini diungkap kembali ke permukaan. Kali ini, aku sebagai saksi penting mendapat beberapa fakta mengejutkan, termasuk siapa kau sebenarnya dan seberapa besar pengaruhmu dalam tragedi ini. Mungkin besok atau lusa aku sudah mendapatkan berkas resminya, karena aku baru saja pulang setelah mendiskusikan hal ini dengan mereka. Satu lagi, aku punya banyak koneksi ke pihak kepolisian dan rumah sakit sendiri, jadi informasi ini dapat dipercaya dan mereka takkan memperlakukanku seperti saksi biasa."

Hinata masih meneliti klipingan tersebut, manik mutiaranya tak menatap Naruto yang sudah berbusa-busa menjelaskan semuanya. Seberapa banyak yang ia lewatkan saat ia terlelap? Kata-kata seperti 'hancur', 'pembunuhan', 'korban' bertebaran dimana-mana, tak peduli media mana yang menuliskannya. Semuanya tertuju pada satu topik yang sama, meski terkadang ada beberapa informasi yang bertabrakan.

"Dengar, Hinata," ujar Naruto sambil mencengkeram bahu gadis itu. "Aku tahu kau masih bingung dengan semua ini... tapi kita harus bergerak cepat. Belum banyak orang yang tahu kalau kau adalah manusia setengah android, bahkan teman-temanku yang saat itu menginterogasiku tidak tahu kalau saat ini kau berada di kamarku. Jika kau tertangkap oleh mereka, bukan tidak mungkin kau dipenjara dan dijadikan eksperimen percobaan mengingat tidak ada manusia yang bisa menciptakan makhluk hidup sebelumnya. Aku juga ikut dipenjara, bahkan hukuman mati karena berusaha menyembunyikan barang bukti hidup dan bergerak. Media akan heboh tentang ini, kehidupanku takkan sama lagi jika hal itu terjadi."

"Maafkan aku, Naruto... kurasa... kurasa... aku butuh waktu untuk... berpikir," putus Hinata setelah beberapa saat. Tanpa berkata apa-apa, pria berambut pirang itu berjalan menuju kamarnya, dan menutupnya. Meninggalkan gadis itu dalam keheningan malam buta. Hinata yang sadar telah diabaikan, berjalan menuju jendela yang menjadi pemisah antara dirinya dan dunia luar. Di kamar ini, ia bisa jutaan lampu dengan berbagai macam ukuran dan warna terbentang di bawah sana. Sebagian bergerak lamban dengan mengikuti alur yang sudah tersedia, malam tak benar-benar sunyi disana meskipun jarum jam tak bisa berdusta. Hinata masih ingat, pemandangan yang biasa dilihatnya pada malam hari adalah taman rumah sakit yang sepi dan sedikut menyeramkan, karena lampunya yang temaram dan jarangnya orang yang lewat sana meski sudah didesain secantik mungkin. Langit pada zamannya juga lebih gelap, sehingga bintang-bintang yang mengapung disana tampak lebih mencolok, berbeda dengan semburat keunguan yang mendominasi atap dunia, kerlip pindahnya pindah ke jalanan kota, menjadikannya artifisial.

Hinata menghela napas.

Mungkin memang seharusnya ia tak tinggal di dunia yang berbeda dengan miliknya.


"Hoahm..."

Naruto merentangkan kedua tangannya ke atas kepala setelah keluar dari kamar, dengan kelopak mata yang masih belum terbuka benar. Tiba-tiba sepasang alisnya bertemu, mengrenyit keheranan.

Hinata terlelap di sofa dengan posisi seadanya.

Tak tega dengan kondisi gadis itu, Naruto mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk punggung bahu Hinata pelan. "Hinata, ayo bangun, sudah pagi."

Sempat ada gerakan yang terdeteksi, namun gadis itu masih enggan meninggalkan dunia mimpinya. Naruto mengguncang bahu Hinata lebih keras. Entah ia mendapat mimpi buruk atau bagaimana, manik mutara itu membulat lebar, bersamaan dengan tubuhnya yang langsung bangkit dalam posisi dukuk.

"E-eh? Kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Naruto kebingungan, sementara Hinata sendiri menatapnya dengan penuh semangat dan tanpa ragu meraih kedua tangannya untuk digenggam.

"A-aku sudah membuat keputusan, Naruto-kun! Ayo kita jalan-jalan!"

Heeeeeeeeeeh?

"Hinata, apa kau lupa kalau –"

"Justru karena itu!" potong Hinata. "Aku ingin, setidaknya sehari saja... melihat Konoha setelah lima puluh tahun berlalu. Sedikit nostalgia. Besoknya baru kita pikirkan kembali langkah berikutnya. Mungkin ada yang terlintas di pikiran, Naruto?"

"Hmm... bukankah sedikit, tidak, SANGAT berisiko?" Nada suara sang dokter muda meninggi, penekanan kata-katanya menandakan keraguan yang lebih mendominasi. "Sejauh ini mereka belum mendapat identitasmu, namun aku tak yakin itu akan bertahan lama. Cepat atau lambat wajahmu pasti akan dikenali."

"Karena itulah... kalaupun mereka berhasil menemukan dataku, itu tidak bisa dijadikan patokan karena selama lima puluh tahun pasti banyak yang berubah. Aku tidak membicarakan soal regenerasi, tapi makeover sebelum jalan-jalan. Aku tetap menggunakan nama asli, namun tidak untuk esok hari. Bagaimana? Dua puluh empat jam menyusuri Konoha hingga ke setiap sudutnya, dan besoknya... aku masih memikirkan kemungkinan kabur dan membuat identitas baru, sih," usul Hinata.

"Aku juga berpikir begitu... tapi.. apa kau yakin kita akan kabur bersama-sama dan hidup sebagai buronan yang tak punya tempat tetap? Jika aku menghilang begitu saja, pasti banyak orang curiga dan namaku langsung dinaikkan kastanya menjadi tersangka. Namun tak ada yang tahu tentangmu, setidaknya untuk sekarang. Jika kau mau kabur, maka inilah saatnya."

"Jadi... kesimpulannya, kau menolak ide menarik ini?" Gadis berambut indigo itu memainkan jemarinya di pangkuan, kebiasaannya saat ia merasa gelisah. "Hanya demi keselamatanmu sendiri? Apa kau tega jika membiarkanku berkelana sendirian di dunia yang tak kukenal ini? Kecuali jika kau memiliki ide yang lebih bagus, Naruto, silakan bicara."

"Bu-bukannya begitu! Aku hanya memikirkan setiap kemungkinan yang akan terjadi dari setiap aksi!" Lagipula..." Naruto memelankan suaranya, menyampaikan isi hatinya dalam tundukan kepala. "Aku tidak mungkin berbuat sejauh ini, menyelamatkanmu, menyembunyikanmu dari kejaran mereka, kalau aku tidak memiliki perasaan apa-apa padamu."

Manik mutiara dan kelereng safir bertemu. Bersamaan dengan bibir mereka.

Sinar mentari pagi menembus kaca jendela, memperlihatkan partikel cinta yang berhamburan di sekeliling mereka.

Hinata memejamkan mata, membawa rasa yang baru dan indah itu ke dalam hatinya. Logikanya tak bisa melawan fakta bahwa mereka baru saja bertemu dan berkenalan, namun tangan kekar itu terus menekan kepalanya, memperdalam ciuman mereka. Lebih ganas. Lebih bergairah. Apa ini nafsu? Atau cinta pada pandangan pertama?

Kebutuhan akan udara menghentikan kegiatan mereka.

"Ma-maafkan aku! Aku tidak bermaksud –" Naruto menunduk kikuk, wajahnya yang biasa terlihat selalu percaya diri mendadak merah padam. Hinata terkikik.

"Tidak apa-apa. Jadi... bisakah kita berangkat sekarang?"

"As a couple, yes."

Kali ini, gantian wajah Hinata yang bersemu malu.


Mengenakan kemeja kotak-kotak, celana jins dan sneaker yang masih kebesaran di tubuh Hinata, mereka berdua berjalan menyusuri kerumunan manusia. Ditambah dengan syal abu-abu dan topi rajut, ia lebih mirip seperti orang sakit yang dipaksa keluar dari peristirahatan daripada penyamaran.

"Maafkan aku, Hinata... hanya itu yang kupunya dan yang paling kecil ukurannya. Bertahanlah." Naruto berkali-kali meminta maaf soal ini, namun gadis berambut indigo itu hanya tersenyum lembut.

"Tidak apa-apa, toh sebentar lagi kita akan sampai ke... mana? Mall?"

"Iya, itu adalah pusat perbelanjaan terbesar. Kau bisa membeli baju baru yang pas denganmu dan mengubah penampilanmu disana. Ah, itu dia." Sang dokter muda menunjuk sebuah gedung besar dengan pengunjung yang berlalu-lalang. Sudah lama sekali sejak Hinata tidak meihat keramaian, dan ia takjub melihat orang-orang melewati mereka dengan pakaian dan attitude yang berbeda dengan zamannya. Sebagian menonton balok tipis aneh yang bersinar di tangannya, sebagian lagi membaca buku. Jarang sekali ada yang melihat ke arah Hinata, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak begitu peduli dengan penampilan aneh gadis setelah ia masuk ke sebuah toko dengan banyak cermin dan wangi yang menyengat, seorang gadis menyapanya dengan hangat.

"Selamat siang, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, pacarku ingin mengubah penampilannya supaya ia terlihat lebih manis dihadapanku," jawab Naruto sambil mendorong punggung Hinata, tak lupa dengan cengiran khasnya. Sudah bisa ditebak, siapa yang tersipu malu disaat-saat seperti ini. Gadis dengan rambut merah sepunggung itu hanya tertawa.

"Oke, oke, silakan menunggu diluar, dan kujamin nona ini akan lebih manis daripada yang Anda bayangkan," ujar pegawai salon dengan nama Karin tersemat di dadanya, lalu menggandeng tangan Hinata. "Ayo, Nona. Silakan duduk di kursi ini, saya akan memakaikan kain agar pakaian Anda tidak kotor nanti."

"Uhm... oke."

Sambil membolak-balik majalah wanita yang tidak ia sukai, berkali-kali safir itu melirik ke arah Hinata yang menatap cermin dengan wajah heran. Helai demi helai indigo itu berjatuhan ke lantai dan kain penutup yang ia kenakan, sementara gunting itu masih sibuk bergerak di sekeliling kepala gadis itu. Ckrek ckrek.

Hinata sendiri tak sabar dengan hasilnya.

"Nah, selesai!" Karin menyemprotkan cairan wangi menyengat ke surai indigo itu, lalu melepas kain penutup. "Anda terlihat sangat cantik, Nona, pasti pacar Anda lebih tertarik pada Anda."

"A-ah, tidak juga," Wajah itu kembali memerah, namun aura yang terpancar dari senyumnya terlihat lebih bahagia ketika bayangan dirinya sendiri terpantul di depan cermin. Dari sepunggung, rambut indigonya dipangkas hingga menggantung di atas bahu, namun poni ratanya tetap dipertahankan. Setelah membayar dengan beberapa lembar uang, Naruto menggamit gadis itu tanpa melepas pandangannya.

"Kau cantik."

Kalau Hinata bisa pingsan di tempat, mungkin ia akan melakukannya. Wajahnya terlihat sangat merah sampai-sampai ia tak bisa memperhatikan jalanan dengan jelas.

"Tunggu sampai kita masuk ke toko pakaian," ujar Naruto ceria, lalu berbincang dengan salah satu pegawai yang ada di dalam toko tersebut. Mengulang prosedur yang sama, pegawai berambut coklat sebahu itu menggandeng tangan Hinata lagi dan membawanya ke rak-rak pakaian. Berkali-kali ia masuk ke ruang ganti, memandangi penampilannya sendiri –hingga pada suatu titik, ia menemukan sebuah pakaian yang pantas untuknya. Sebuah jaket abu-abu muda dengan pita berwarna-warni sebagai pengganti kancing, tank top berwarna putih berenda, celana jins sepaha, kaos kaki selutut, dan sneaker putih. Meskipun outfit-nya seperti laki-laki, namun Hinata terlihat manis saat mengenakannya, lagipula ia tidak begitu nyaman saat mencoba rok di ruang ganti tadi karena ia tidak bisa bebas bergerak.

Naruto terpana.

Entah kenapa, lagi-lagi ia tersipu malu saat pandangan matanya bertemu dengan Naruto lagi. Pria berambut pirang itu membawanya ke kasir, dan keluar dari toko tersebut dengan pakaian yang baru saja dibeli melekat di tubuhnya. Mereka berdua terlihat sangat serasi saat berjalan berdampingan, karena hari ini Naruto mengenakan kardigan hitam, kaus putih bergambar, dan celana jins biru gelap. Tak ada yang tahu kalau sang pria pirang adalah dokter forensik yang terlibat dalam kasus rumit, dan sang gadis yang menjadi korban sekaligus buronan. Tanpa terasa langkah mereka menuju food court, Naruto yang menjadi penunjuk jalan mempersilakan Hinata duduk sementara ia berjalan menuju stan terdekat. Tak butuh waktu lama bagi pria berambut pirang itu untuk kembali membawakan senampan makanan dan minuman. Hinata menyambutnya dalam senyuman.

"Kau pasti lapar. Makanlah."

Hinata mengangguk, lalu mengambil semangkuk nasi dan gelas karton berisi minuman. Sambil menyuap beberapa, manik mutiaranya tak lepas dari sekumpulan manusia yang hadir disekeliling mereka. Beberapa menagntre untuk membeli makanan, namun kebanyakan telah duduk di kursi masing-masing dan berbincang dengan lawan bicara. Pasangan, keluarga, teman, kolega, semuanya bercampur di area yang sama, berbagai ekspresi mereka ungkapkan bersamaan dengan kata-kata yang terlontar. Setelah sekian lama dirinya dikurung di rumah sakit, temannya hanyalah para dokter dan suster dengan jas putih membosankan, tempatnya berada sekarang sungguh menyenangkan dan lebih berwarna. Ingi sekali ia tinggal terus selamanya di dunia ini, bersama dengan pemuda yang dicintainya. Tangannya meraba ke kantung celana.

"Hinata? Apa ada tempat yang ingin kaukunjungi setelah ini?" Pertanyaan Naruto membuyarkan pikirannya. Hinata mengangguk.

"Aku ingin melihat seisi kota."


"Haah... tadi itu menyenangkan sekali!" seru Naruto sambil merentangkan kedua tangannya, disambut dengan senyuman Hinata. Mereka baru saja berkeliling kota seperti yang gadis setengah android itu minta, lalu bersenang-senang di taman hiburan. Roller coaster, komidi putar, semua wahana mereka coba dengan tawa dan candaan. Naruto yang jarang berjalan-jalan karena kesibukannya akhirnya bisa melepas penat, apalagi dengan gadis yang dicintainya berada di sisinya.

Matahari terbenam di belakang punggung mereka.

Sepasang siluet itu semakin memanjang.

"Hei... Hinata." Genggaman tangan itu semakin mengerat. "Aku ingin selalu bersamamu seperti ini."

Hinata membalas genggamannya. "Aku juga. Seandainya aku hanyalah manusia biasa... mungkin kita bisa berjalan-jalan dengan santai seperti ini setiap hari."

"Ssshh... jangan berkata seperti itu." Buru-buru Naruto menenangkan Hinata yang matanya mulai berkaca-kaca. "Kita akan melewati semua kesulitan ini bersama-sama, oke? Lihat, kita sudah sampai ke rumah, kita akan membicaran ini di dalam saja."

Setelah mengeluarkan kunci untuk membuka apartemennya, mereka berdua masuk ke dalam. Baru saja Naruto melempar tasnya ke sofa dan merebahkan dirinya sendiri di atasnya, suara ketukan menganggu istirahatnya. Meskipun lelah dan malah setengah mati, tapi ia tetap beranjak dari zona nyamannya dan membuka pintu. Wajah-wajah yang sangat dikenalnya menatapnya dengan tegang, dan tanpa Naruto sempat mengucapkan apapun, lengannya telah terikat sebuah borgol.

"Hei, hei, ada apa ini? Kenapa kalian menangkapku? Apa yang kalian lakukan di apartemenku?" teriak Naruto panik, sementara pasukan polisi pimpinan Kakashi menyerbu masuk dan menggeledah seisi ruangan. Dilihatnya Shikamaru dan Sasori mengekor di belakang pria bermasker itu, menatapnya dengan pandangan tak percaya.

"Naruto Uzumaki, Anda ditahan dengan tuduhan menahan seorang gadis yang menjadi saksi utama kasus pembunuhan di Tower of Rose," titah Kakashi padat dan cepat, seakan-akan menyembunyikan rasa kesedihannya. "Maafkan aku."

"Ah, hei, tapi aku hanya –"

"Hatake-san! Kami menemukan Hinata Hyuuga dalam kondisi tidak sadar!"

Sebuah pernyataan yang terlontar dari salah satu anggota tim penyelidik menghentikan ucapan gagap Naruto. Semua orang tercekat. Semua orang berlari ke kamar tidur, dan mendapati gadis yang dimaksud tergeletak begitu saja di lantai.

Tangannya menggenggam sebuah jarum.

Shikamaru yang bergerak cepat, memeriksa pembuluh darah nadi yang berada di pergelangan tangan dan leher, lalu membuka kelopak matanya yang terpejam. Ia tertegun, namun nada suaranya tetap datar. "Ia telah meninggal beberapa menit yang lalu."

"Apa? Bagaimana bisa? Hinata baru saja bersamaku dan ia masuk ke dalam kamar tidur ketika aku membukakan pintu untuk kalian –" seru Naruto panik, susunan katanya jadi berantakan seperti nasibnya sekarang. Baru saja ia menghabiskan waktunya bersama gadis cantik itu, dan sekarang Hinata telah tak bernyawa? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Pertanyaan-pertanyaan mentalnya belum sempat terjawab karena tangannya yang telah diikat telah diikat menjauh, bersamaan dengan tim Kakashi yang mengevakuasi tubuh Hinata cepat. Hal terakhir yang dilihat Naruto sebelum ia benar-benar keluar dari pintu apartemennya adalah tubuh sang gadis setengah android yang ditutupi selembar kain putih.

"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf karena mungkin ini adalah terakhir kalinya aku bisa berbicara padamu sebagai teman," jelas Kakashi, berharap kata-katanya dapat menenangkan Naruto yang sedang berontak. Seperti yang diharapkan, dokter berambut pirang itu langsung diam menyimak, menunggu setiap informasi yang akan menjelaskan semua keabsurdan ini. "Setelah kau pergi kemarin, kami tetap melanjutkan pembicaraan dan kembali ke Tower of Rose lagi. Kebetulan hasil otopsi tentang mayat pria yang disinyalir sebagai pemilik buku harian itu telah keluar, dan identitasnya sangat mengejutkan kami sekaligus menjelaskan semua yang terjadi. Pria itu bernama Sasuke Uchiha. Apa marga itu terdengar familiar bagimu?"

Naruto menggeleng, manik safirnya kini bertemu dengan segerombolan polisi yang berkeliaran di sepanjang lorong keluar apartemen hingga gerbang depan. Dari kejauhanpun, ia bisa melihat sinar lampu mobil polisi dan suara dengingnya yang memekakkan telinga. Beberapa tetangga yang penasaran dengan keadaan sekitar atau sudah sedari tadi diinterogasi singkat oleh polisi berbisik-bisik curiga, menatap Naruto seolah-olah ia adalah kriminal kelas kakap. Mengabaikan rasa gerahnya, ia kembali memfokuskan diri terhadap kalimat Kakashi.

"Tentu saja, karena hanya ada satu orang yang memiliki marga tersebut setelah semua kerabatnya dimusnahkan secara tragis oleh kakaknya sendiri. Aku masih punya arsip kasus tersebut, namun aku tidak menyangka bahwa Sasuke yang itu yang terlibat ke dalam kasus sekarang. Pembantaian itulah yang menyebabkan Sasuke ingin membalas dendam dengan menjadi mata-mata sekaligus obyek percobaan bagi Orochimaru, seperti yang telah tertulis di buku harian."

"Lalu?" tanya Naruto tak sabar, rasa gerahnya semakin menjadi-jadi ketika pandangannya bertemu dengan suasana terbuka, seluruh sorot cahaya dan kamera mengarah ke arahnya seakan-akan ia adalah selebriti. Ia yakin, tak perlu waktu 24 jam penuh untuk memastikan wajahnya terpampang di berbagai media massa dengan titel yang menghebohkan. Sebelah tangannya melindungi pandangan sekaligus harga diri, satu-satunya hal berharga yang ia miliki sebelum ia benar-benar dinyatakan bersalah. Kali ini, Naruto tak perlu diseret-seret untuk mengikuti ketiga sahabatnya ke dalam mobil polisi.

"Tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam mayat Sasuke. Penyebab kematiannya adalah kelaparan dan kelelahan yang sangat. Dugaanku adalah, ia bertemu dengan sang obyek percobaan dan mengaktifkan obat yang ada di dalam tubuh obyek itu, namun ia berubah pikiran dan menungguinya hingga sadar alih-alih kabur dan membawa sang obyek bersamanya."

"Ia meletakkan obyek percobaan tersebut di dalam tabung kaca berisi cairan antiseptik khusus, dan mencegah siapapun yang datang ke rumah sakit itu dengan memasang berbagai perangkap, salah satunya adalah bom yang tidak sengaja kauledakkan waktu itu. Karena itulah Tower of Rose tidak berfungsi lagi sejak saat itu, dan siapapun yang berani masuk ke dalam sana akan dipastikan Sasuke tidak bisa kembali lagi. Ia juga menyebar gosip-gosip menakutkan, apa saja –asalkan tidak ada yang mengetahui keberadaan Hinata. Cairan antiseptik itu juga memperlambat efek obat yang ada di dalam tubuhnya, sehingga sang obyek percobaan bisa bertahan selama lima dekade sampai sekarang... namun begitu ia dikeluarkan dari tabung kaca tersebut, daya tahan tubuhnya menjadi lebih lemah, sedikit luka saja akan menyebabkan obat yang ada di dalam tubuhnya bereaksi dengan cepat dan membunuh obyek percobaan tersebut hanya dalam beberapa menit saja..." jelas Sasori panjang lebar.

"Aku tak mengerti. Logikanya, dia adalah manusia setengah android, kan? Mengapa ia bisa meninggal? Bukankah ia seharusnya bisa hidup abadi?" tanya Naruto tak habis pikir. Diacak-acaknya surai pirang jabrik itu hingga menjadi lebih berantakan dari sebelumnya.

"Kau lupa satu hal, Bodoh." Shikamaru mengingatkan, nadanya seperti guru taman kanak-kanak yang harus menjelaskan ribuan kali hal yang sama terhadap muridnya. "Sejak awal titel 'Hinata sang Manusia Immortal' sudah rusak karena proses pembuatannya saja sudah dikacaukan oleh obat itu. Kalaupun ia bisa bertahan hidup, umurnya hanya sedikit lebih lama dari manusia biasa, sisanya harus dihabiskan di tabung itu dalam keadaan tidak sadar. Sudahlah, Naruto, memang kita tidak ditakdirkan untuk menjadi Tuhan."

Ceramah sang kepala rumah sakit diakhiri dengan semburan asap nikotin ke udara. Ironis memang, namun Naruto memilih untuk menghindari pandangan iba dari mereka semua dan menatap pemandangan jalan yang dibatas oleh kaca jendela.

Kuning. Oranye.

Merah dan hijau menyala bergantian.

Tapi tidak ada warna indigo di jalan raya.

Air mata itu akhirnya meleleh juga.


Malam keseratus dua.

Tanyakan kepada tahanan dengan rambut pirang acak-acakan mengapa ia hapal hari keberapa yang telah ia lalui di dalam penjara. Setelah melewati serangkaian pengadilan yang melelahkan dan menguras seluruh tabungan serta tenaganya, belum termasuk pengacara yang bolak-balik bertemu dirinya, mengorek fakta yang nantinya akan dipuntir sedemikian rupa sebelum dipasarkan ke masyarakat luas, pada akhirnya ia menghabiskan masa hukumannya di dalam penjara. Tanpa pekerjaan, tanpa teman yang menjenguk, hari-harinya dilalui tanpa melakukan apa-apa selain tidur dan melakukan tugas seadanya.

Seperti malam ini

Seragam birunya sampai kusut karena seringnya gonta-ganti posisi tidur. Konon katanya, salah satu tanda istirahat yang tak berkualitas adalah gerakan gelisah di atas ranjang. Hingga pada suatu titik, saat kedua jarum bertemu bersamaan dalam suatu angka final dalam satuan jam, mata itu terbuka.

Perasaan lelah tersirat dalam kelereng safirnya.

Naruto berdiri dari ranjang tingkatnya, lalu berjalan menuju jendela kecil yang ditutupi oleh jeruji yang sama. Hanya separuh telapaknya yang berhasil menjangkau udara bebas, sebelum tibdakan bodohnya dicegah oleh suara yang familiar.

["Naruto..."]

Sang mantan dokter menoleh.

Seorang gadis yang selalu tersenyum dalam masa lalunya, dalam mimpinya, dalam penyesalannya... kini melakukan hal yang sama di hadapannya. Pendar putih mengeliling seluruh tubuhnya, membuat ia menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam penjara yang suram. Naruto berusaha mendekat, menjulurkan tangannya seolah-olah itu adalah nyata. Alih-alih berjabatan, Hinata justru memeluk Naruto erat, memastikan kebahagiaan yang ada di hadapannya adalah nyata.

Dua pasang mata itu mengalirkan perasaan yang sama.

Setelah puas menenggelamkan wajah di bahu pasangan masing-masing, Hinata undur diri sambil menggosok hidungnya, memaksakan diri untuk tersenyum.

"Kenapa, Hinata? Setelah sekian ini?"

Pertanyaan-pertanyaan selalu ada di dalam benak sang pria pirang, namun semua jawabannya terpedam begitu saja bersama dengan mayat Hinata waktu itu. Gadis bermata mutiara menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. Entah darimana datangnya, meskipun bibir tipis itu tak bergerak sedikitpun, namun ia bisa mendengar suara lemah lembut yang menjadi ciri khas Hinata.

["Maafkan aku. Kalau aku bisa memutarbalikkan waktu..."]

"Hiduplah kembali," pinta Naruto tegas. Tanpa ragu. "Hiduplah bersamaku."

Hinata menggeleng.

["Ini sudah menjadi takdirku. Aku tak seharusnya bertemu denganmu sejak awal. Aku tak seharusnya hidup di dunia ini."]

"Tidak, Hinata!" raung Naruto, tangannya mengguncang-guncang bahu gadis itu frustasi. "Bukankah aku sudah bilang padamu, apapun kondisimu, bagaimanapun latar belakangmu, siapa dirimu sesungguhnya, aku tidak peduli asalkan aku masih bersamamu?"

Hinata kali ini menggeleng, air matanya kembali lumer.

Samar-samar Naruto melihat bayangan yang lebih transparan daripada Hinata muncul di hadapannya. Seorang pria, dengan rambut hitam mencuat ke belakang, tatapan dingin dan tajam, kehadirannya membuat Naruto bergidik untuk beberapa saat. Hinata menoleh ke arah pria itu, dan setelah mengangguk beberapa kali setelah mendengar kalimatnya, gadis berambut indigo itu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Naruto.

["Aku harus pergi."]

"Setelah kau mengunjungiku untuk pertama kalinya di dalam penjara gara-gara kesalahanmu? Tidak bisa, Hinata!" Kali ini teriakan Naruto telah mencapai batas maksimal. Air mata itu masih menggantung di sudut mata Hinata, namun teriakan itu takkan bisa mencegah tubuhnya dan tubuh pria di sebelahnya memudar. Naruto berusaha menangkap gadis itu itu untuk yang terakhir kalinya, dengan ekspresi penuh marah dan kecewa, namun tangan itu hanya berhasil menggenggam udara. Pendar putih itu telah menghilang, penghuninya jatuh terduduk sambil menggenggam terali baja. Tak bisa dipungkiri, air mata kembali menyusuri pipi coklatnya.

Dua orang sipir tergopoh-gopoh mendatanginya.

"Ada apa? Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa," jawab Naruto dingin, disekanya sisa-sisa kesedihan itu sebelum ekspresi wajahnya kembali ke datar seperti biasa. Satu- dua buah umpatan sipir terlontar ke udara sebelum mereka berdua kembali ke atas, namun apa peduli Naruto. Ia merebahkan dirinya ke kasurnya, melanjutkan tidurnya yang tertunda.

["Aku mencintaimu."]

Atau mungkin tidur untuk yang terakhir kalinya?

.

.

.

END

[tamat, selesai, finis]

.

.

.

-Behind the Scene-

[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]

Engg jangan sungkan-sungkan ngoreksi saya kalau ada yang kelupaan dijelaskan :"D

Abis wordnya dikit banget orz, takutnya ada yang kurang gitu. Saya belum buka review sih, tapi seinget saya kayaknya udah semua. Kecuali nama Sasuke yang sampai di ending ini nggak disebut, dan kenapa Sasuke nongol pas Hinata dateng njenguk Naruto (bukan NTR lho haha), itu emang saya sengaja. Awalnya saya rada susah juga sih masukin logika kedalem scifi, soalnya kalo di genre fantasy semua masih bisa masuk akal, tapi kalo scifi, apalagi crime dalam kasus saya, semua ketidakmasukakalan itu harus dijelaskan dengan cara yang ilmiah :"3 mungkin rada ngaco dikit yah di beberapa bagian tapi biarlah, namanya aja fanfiksi /kabur

Oh iya, saya ngucapin makasih banyak buat semua review, masukan, kritik, saran, terutama ambudaff karena challenge beliaulah saya nulis fanfiksi yang awalnya oneshot ini xD ternyata di ending juga saya masukin ke challenge Bad End Festival lol, semoga ini termasuk bad end ya Elpiji /o/

Review?