Dalam diam Tokiya memperhatikan laki-laki berambut merah yang tengah mengambil barang belanjaan dari rak di depannya. Ia sibuk mempertimbangkan barang mana yang akan dibeli untuk keperluan Ichi—nama anak anjing jenis Siberia Husky berwarna hitam putih—yang ada di dalam kotak kardus dan tengah dipegang Tokiya. "Otoya, bisakah kau lebih cepat sedikit?" tegurnya dengan nada jengah.

"Sebentar lagi, aku harus memilih barang berkualitas tinggi untuk Ichi—"

"—dan aku harus membayarnya lagi," tambah Tokiya.

Otoya tertawa singkat. "Tidak kok, Ichi tak ada sangkut pautnya denganmu."

"Oh, bagus deh."

Laki-laki serba merah itu melangkah lagi untuk mencari keperluan Ichi yang lain dengan Tokiya mengekor di belakangnya. "Tokiya-kun," panggil Otoya. Sepertinya ia mulai terbiasa memanggil kliennya dengan panggilan tersebut.

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu."

"Baiklah, Tokiya-kun~."

"Urusai."

"Ehehe."


Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli

Laki-Laki Sewaan by Oto Ichiiyan

Rate : T

Genre : Romance, Drama, Humor (Garing)

Pairing : (Just) OtoyaxTokiya

Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.


Tak terasa sudah setengah jam berlalu, Otoya memutuskan untuk langsung ke apartemennya yang berada di dekat stasiun Shinkawa. Tes, tes. Beberapa air dari langit mulai berjatuhan dan mengenai wajahnya. "Are? Sudah gerimis?" gumam laki-laki tersebut seraya mendongak ke atas.

"Di mana apartemenmu? Masih jauh?"

"Sebentar lagi sampai!"

Keduanya mulai berlari kecil dengan Otoya berjalan di depan Tokiya. Sesampainya mereka di apartemen Otoya, sang klien nampak terkejut melihat gedung bertingkat—mungkin—sepuluh itu merupakan tempat tinggal Otoya. Apartemennya terlihat mewah dan hanya orang-orang elit saja yang bisa tinggal di sana. Terdengar tawa khas Otoya yang membuat Tokiya menengok ke arahnya.

"Terkejut, ya?"

Tokiya menaikkan kacamatanya yang sempat merosot. "Tidak juga."

"Heeeh? Ternyata kalau diperhatikan, Tokiya termasuk tipe-tipe tsundere, ya?"

Mendengar komentar laki-laki yang disewa Ren itu mau tak mau membuat Tokiya terusik. Kalau boleh jujur, ia bukannya tsundere tapi yaaa begitulah Tokiya. Sifatnya berubah drastis sejak saat itu... Memikirkannya saja sudah membuat Tokiya kesal sendiri. Bukan, bukan pada seseorang di masa lalunya, tapi pada dirinya sendiri.

"—kiya? Tokiya-kun? Lohaaa!"

Yang dipanggil nampaknya kaget dan reflek menepis tangan kiri Otoya yang tengah melambai-lambai di depan wajahnya. "Jangan pedulikan aku," kata Tokiya seraya pergi ke sisi kanan dari tempat resepsionis berada.

"O-oi, Tokiya-kun! Lift-nya di sini!" seru Otoya sambil menunjuk arah yang berkebalikan dengan Tokiya.

"Bilang dong dari tadi!"

"Huh!? Jadi, kau menyalahkanku?"

"Memang siapa lagi yang harus kusalahkan?"

"Mou, hidoi~, Tokiya-kun wa."

Kedua resepsionis yang sudah terbiasa melihat sosok Otoya Ittoki keluar-masuk dari apartemennya dengan banyak gadis kini hanya bisa menatap kedua laki-laki itu dengan pandangan bingung, terutama pada Otoya. "Masaka Otoya-kun...," mereka tak mau melanjutkan perkataan mereka dan memilih untuk pura-pura melupakannya.

515. Begitulah angka yang tertera di pintu tempat tinggal Otoya.

Dengan susah payah Otoya mencari kunci di saku celana jeans-nya.

"Bisa tidak?" Sepertinya Tokiya ingin menawarkan bantuan.

"A-a, iya, aku bisa mengambilnya sendiri," sahut Otoya dengan nada takut.

Sebelah alis Tokiya terangkat dan perlahan terlihat seringaian kecil di wajahnya. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu, Baka. Aku hanya ingin membantu membawakan barang belanjaan yang ada di tanganmu, tahu," katanya seraya mengambil salah satu plastik yang dibawa Otoya.

Untuk sesaat kesadaran Otoya melayang dengan pandangan tertuju pada Tokiya.

"Apa?" ketus laki-laki berambut kebiru-biruan itu.

Entah sudah ke berapa kalinya Otoya tersenyum dengan perasaan aneh karena sosok di hadapannya ini. Tanpa sadar, tangan kanannya yang bebas berusaha untuk menggapai wajah Tokiya dengan sedikit menjinjitkan kaki dan menarik wajah itu untuk menatapnya. Bolehkah Otoya memulai pekerjaannya dari sekarang? Cup!—dan servis sebuah kecupan darinya pun mendarat di bibir tipis Tokiya.

"Aku baru tahu, seringaian Tokiya-kun ternyata bisa menggodaku."

SHIII NEEEE! teriak Tokiya dalam hati dan hanya mampu diisyaratkan melalui pandangan mata serta empat sudut yang berkedut di dahinya. Oh man! Bagaimana pun juga itu adalah ciuman pertamanya—dengan sesama jenis!

Cklek.

"Ayo masuk! Anggap saja rumah sendiri, ya!"

Pandangan horor Tokiya tetap tertuju pada sosok Otoya yang masih memasang wajah innocent-nya. Sementara tubuhnya tak bergerak satu inchi pun dari tempatnya berpijak. Bagaimana bisa ada orang sepertinya!? Dan lagi, kenapa aku harus bertemu dengannya!? Ini semua gara-gara Ren! Dalam hati ia terus misuh-misuh tidak jelas dan membuat Otoya tertawa pelan setelah menaruh belanjaannya di atas meja.

"Tokiya-kun, aku tahu ciuman itu tidak cukup untukmu. Tapi kau bisa meminta lebih jika kau masuk ke dalam sekarang," kata Otoya dengan wajah innocent-nya.

"Shi ne," perintah Tokiya dingin.

"Semetai na~, Tokiya-kun."

Otoya mengambil barang belanjaannya dari tangan Tokiya untuk menaruhnya di dapur. Tokiya menaruh kardus yang dibawanya ke atas meja sebelum melepas mantel kremnya. Baginya tidak sopan jika masuk ke rumah orang lain tanpa melepas jaket atau mantel. Kedua matanya nampak sibuk melihat-lihat apa yang ada di dalam ruang tamu milik laki-laki berambut merah itu. Lumayan rapi untuk apartemen laki-laki, begitulah pendapatnya seraya duduk di atas sofa.

Ia menatap jam berwarna merah—lagi?—di dinding. 13.30 waktu setempat. Tangan kanannya menyanggah dagu seraya menengok ke sisi kiri. Di sana terlihat sebuah lemari pajangan berisi berbagai macam penghargaan serta piala dan sertifikat milik Otoya.

Anak itu... punya banyak bakat di bidang musik ternyata.

Karena penasaran, Tokiya beranjak dari sofa dan mendekati lemari tersebut.

Hampir semua piala bertuliskan 'Juara I' dan 'Juara Umum'. Tapi dari sekian banyaknya penghargaan, hanya dua sertifikat yang membuat Tokiya berdecak kagum. "Penghargaan DJ terbaik? Penyelamat Lingkungan?" Laki-laki itu sedikit mengangguk. Pantas saja apartemen tertata rapi, pikirnya lagi.

Bayangan Otoya nampak di kaca, membuat Tokiya berbalik.

"Kau bisa melihat-lihat selagi aku memandikan Ichi." Otoya tersenyum lagi.

"Kau senang sekali tersenyum, ya?"

Gerakan Otoya yang ingin menggendong Ichi terhenti sesaat. "Aku... sangat suka melihat orang tersenyum, makanya aku terus tersenyum." Ia mencium puncak kepala Ichi yang dibalas jilatan di pipi oleh anjing tersebut. "Ne, bukannya senyuman bisa menular? Sama seperti rasa kantuk. Sekali lihat orang menguap karena rasa kantuk, kita juga ikut-ikutan menguap."

Tokiya terdiam beberapa detik lalu berbalik untuk melihat-lihat lagi. Ketika Otoya beranjak pergi, ia kembali menatapnya walau yang terlihat hanya punggungnya. Ada rasa kagum serta perasaan aneh lainnya ketika Otoya menghilang dari pandangan Tokiya. Lagi-lagi, ia teringat sosok pacarnya yang dulu.

"Aku suka melihat orang lain bahagia dan bisa tersenyum dengan bebas."

Sontak ia menutup sebagian wajahnya dengan tangan kanan.

"Kalau seperti ini, bagaimana bisa aku melupakannya?" gumamnya.

.

.

.

"Ternyata ramalan hari ini benar. Hujan turun, deras pula," kata Otoya sambil menatap langit hitam disertai turunnya hujan dari balik tirai. Di kepalanya ada Ichi yang ikut menatap rintikan hujan yang mengenai jendela. Ia mengambil Ichi dari atas kepalanya lalu mendekap anjing itu di depan dada. Mata ruby-nya yang indah bergulir ke jam dinding. "Ternyata baru dua jam kita habiskan tanpa melakukan apa-apa," gumamnya yang masih terdengar di telinga Tokiya.

Tsk! "Tidak melakukan apa-apa katamu?"

"Aa, minus menciummu."

Helaan napas terdengar dari mulut Tokiya. Ia kembali menyangga dagu.

Melihat Tokiya yang terlihat bosan membuat Otoya berlari ke dalam dan meninggalkan Ichi serta kliennya dengan wajah kebingungan. Terdengar suara 'krasak-krusuk' sebelum ia kembali duduk dengan manisnya di samping Tokiya dengan Ichi sebagai pemisah jarak mereka. "Mau main Pocky Game?" tawarnya.

"Iya."

"Kalau main PlayStation?"

"Iya."

"Bagaimana kalau kita nonton anime baru yang kubeli kemarin? Dou?"

Sosok yang ditanya itu menghela napas lagi. "Apa tak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain itu? Tak ada anime yang menarik perhatikanku musim ini," kata Tokiya yang ternyata juga suka menonton anime. "Memang biasanya apa yang kau lakukan dengan klienmu yang lain?" tanyanya balik.

"Hmm, yang pasti sih, melakukan servis seperti yang kulakukan padamu tadi."

"Itu saja?"

Mendadak Otoya menengok dan mendekatkan wajah, seolah ingin mencium Tokiya lagi. Reflek, sang klien menjauh dengan memundurkan kepala. "Tokiya-kun mau mencoba hal yang lebih nakal lagi dari yang tadi?" bisiknya yang entah kenapa terdengar sangat menggoda Tokiya.

"Tidak akan! Lagipula kau hanya menemaniku sebagai teman, kan!?" kesalnya.

Otoya terkekeh pelan mendengar ucapan Tokiya. Ternyata menggoda laki-laki di sampingnya ini tak kalah menyenangkan dengan menggoda klien perempuannya.

"Nah, kalau begitu, bagaimana kalau kau ceritakan alasan 'kenapa kau berhenti tersenyum', hm?"

"Aku menolak."

"Mata!? Terus apa maumu sih, Tokiya-ku~n?" gemas Otoya.

"Entah, pikirkan saja sendiri," sahut Tokiya.

"Kau mau pergi dari apartemenku?" tawa Otoya dan langsung dijawab anggukan oleh laki-laki tersebut. "Kenapa? Padahal baru dua jam lebih kita bersama, apa aku terlalu membosankan untukmu, Tokiya?" Kini tak ada nada serta mimik muka bercanda di wajah Otoya. Ia terlihat sedih karena—jujur—belum ada klien yang mengeluh soal dirinya yang membosankan dan tak bisa menghibur mereka.

Nampaknya Ichi mengerti perasaan Otoya dan langsung mendekatinya.

Anak ini... terlalu polos atau apa? bingung Tokiya.

"Baiklah, kau boleh pergi dari sini, Tokiya-kun."

Hening beberapa detik sebelum sebuah ide muncul dari benak Tokiya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menantangmu?"

"Tantang?" Kedua alis Otoya saling bertaut. "Maksudnya?"

"Hibur aku." Cukup dua kata saja yang keluar dari mulut tipi situ.

"Caranya?"

"Pikirkan sendiri, dan aku hanya memberikanmu waktu selama satu jam."

.

.

.

Otoya berdeham sebentar sambil menyamankan dirinya yang tengah duduk di atas kursi makannya. Saat ini ia ingin menyanyikan sebuah lagu untuk menjawab tantangan dari laki-laki di depannya. Sebuah senyuman nampak di wajah Otoya. "Ini salah satu laguku dan belum pernah kutunjukkan pada orang lain, kecuali kau, Tokiya-kun." Ia mulai memetik gitar akustiknya.

Mendengar petikan halus yang dimainkan Otoya membuat Tokiya merinding.

Aneh, kenapa aku bisa merinding begini?

"Dore dake soba ni ite mo, sou
Kono koe wa mata todoka nakute chuu ni kieta
Rinkaku ga ega ita yokogao no kimi ga utsu kushi kute
Boku wa nijinda yami no naka ochite yuku"

Petikannya berhenti sesaat. Suara Otoya berubah menjadi lebih lembut, namun tak menghilangkan rasa semangat dan keceriaannya yang merupakan ciri khas Otoya di dalamnya.

"Sekai ga chigau da nante ii kikase tatte
Zutto tada kimi wo omoi tsuzuke teru

Itsuka kitto de aeru youna
Sou shinjite shimaun da
Kimi no koe kaze ni notte
Kiko eta ki ga shita yoru

Tato eba hora yume no naka de
Machi awase wo shiyou ka
Boku wa zutto matteru kara
Kimi ga kizuka nakute mo

Kimi niwa waratte hoshii
Boku mo wara eru kara
Kanashii unmei sura
Ima wa sotto daki shime teru"

Tokiya sadar, Otoya sudah menyanyikan lagunya sampai setengah bagian. Ia terpaku pada tiap lirik yang dinyanyikannya. Perasaan ini... Ya. Laki-laki berambut biru kehijauan itu pernah merasakan perasaan ini.

Perasaan ingin bertemu dan bersatu lagi dengan orang terkasih, sekalipun mereka terpisah oleh dua dunia.

Perasaan mencintai seperti ini... adalah perasaan yang belum lama ini ingin ia hilangkan.

Tidak. Lagu ini berbeda dari cerita kehidupannya.

Orang itu... masih hidup sampai sekarang dan ia sering menjumpainya di kampus.

Namun di lagu ini, Otoya seolah ingin menyampaikan pesan bahwa orang yang ia cintai sudah pergi ke dunia lain, dunia yang lebih damai daripada dunia fana ini. Apa... ia pernah merasakan perasaan itu? Apa ia benar-benar ingin menyampaikan perasaannya pada orang itu lewat lagu ini?

"Itazura na tsuki ni awa sete
Odora sare teru douke dane to boku wa itta
Kanashige ni utsu muku yokogao no kimi ni kizu itatte
Fureru koto sae kana wazu ni toono ite"

Pandangan mereka bertemu sesaat sebelum Otoya memperhatikan jari-jarinya yang tengah memetik gitar akustiknya. Ia tersenyum pada Ichi yang terlihat menikmati nyanyiannya lalu berpaling pada Tokiya. Tersenyum sambil bernyanyi. Memandangi lekat-lekat laki-laki yang nyatanya satu tahun lebih tua darinya, seolah ingin menyampaikan sesuatu untuknya. Sebuah pesan tersirat dan—mungkin—takkan disadari Tokiya.

"Kobo rete yuku namida no wake mo shira nai de
Koko de tomo ni naku koto shika dekizu ni

Kono mama zutto ae nai nara
Omoi wa kieru darou ka
Sono hoho ni fureru ame mo
Ura yande shimau noni

Tato eba souda yume no naka de
Yakusoku wo kawasou ka
Itsuno hi ka aeta toki wa
Boku to wakaru youni

Kimi ga odoreru no naraba
Boku mo odoreru kara
Sono te wo totte ageyou
Mou tsuma zuka nai youni to"

Sadar atau tidak, kedua mata ruby itu mulai berkaca-kaca. Suaranya pun sedikit pecah di akhir. Tokiya menutup mata sebentar lalu membukanya lagi. Ia sadar sekarang, sosoknya ini... terlihat mudah rapuh.

Semua senyum yang ia lihat hanya senyum palsu.

Tawanya sekedar akting.

Dan Tokiya sadar itu... sejak awal.

Perasaan ini... Otoya, apa selama ini kau kesepian? Pertanyaan itu tak keluar dari mulutnya. Ia hanya menyimpannya dalam hati. "Hentikan, Otoya," perintahnya. Namun laki-laki itu terus memetik gitarnya.

"Kodou wa zutto
Yama nai
Kimi ga tada ...
itoshii"

Kepala Otoya terus menunduk karena tak mau melihat Tokiya yang sudah menyuruhnya untuk berhenti. Tidak. Ia tak boleh berhenti sampai lagu ini selesai dinyanyikan. Itu prinsipnya.

"Sekai ga chigau da nante ii kikase tatte
Zutto tada kimi wo omoi tsuzuke teru

Itsuka kitto de aeru youna
Sou shinjite shimaun da
Kimi no koe kaze ni notte
Kiko eta ki ga shita yoru

Tato eba konna yume no naka ni
Mirai ga nai toshi tara
Boku wa tada yami no naka de
Kimi no shiawase nega ou

Kimi ga dare ka ni waratta
Boku wa wara eta kana
Kanashii unmei demo
Tada hitotsu no ai ni uta ou"

Petikan itu pun berhenti diiringi tawa pelan dari Otoya. Dengan cepat ia menghapus beberapa titik air mata yang hampir mengalir ke pipinya. "P-payah ya, laguku? Liriknya terlalu suram lagi, kalau begini mana bisa lagu yang kumainkan tadi bisa masuk dapur rekaman. Ne, Tokiya?"

Yang ditanya tak menjawab dan malah berdiri dari sofa.

"Tokiya, kau benar-benar mau pergi?"

Tap, tap, tap.

Hanya tiga langkah, Tokiya sampai di depan Otoya yang kini mendongakkan kepalanya ke atas. Pluk. Tangan besarnya mendarat di atas rambut merah Otoya yang membuatnya sedikit menunduk. Set, set, set. Kedua mata itu membesar karena ia tak menyangka Tokiya akan mengusap kepalanya selembut ini. Perlahan ia menutup mata. "Atatakai...," lirih Otoya bersamaan dengan menurunnya air mata dari sudut mata kirinya.

Tangan itu kemudian merambat turun dan berakhir di pipinya yang basah karena aliran air mata. "Samishii desu ka?" tanya Tokiya seraya berjongkok di depan Otoya.

Keras kepala, Otoya tak mau jujur dan memilih untuk menggelengkan kepala.

"Iya—"

"—jangan bohongi dirimu lagi."

"A-aku tidak berbohong kok, sungguh." Otoya tersenyum.

Kilatan penuh emosi nampak di mata Tokiya. "Jangan tersenyum seperti itu di depanku, Otoya. Aku tahu, senyumanmu itu hanya sebuah topeng." Perkataannya sukses membuat Otoya terdiam dan termenung. Atmosfer mulai berubah menjadi sedikit tegang saat tubuh itu berdiri dari posisinya semula. Ia berniat untuk benar-benar pergi dari hadapan Otoya. Sungguh, ia muak melihat orang sepertinya.

Tap

grep!

Tangan kecil itu menahan pergelangan tangan Tokiya.

"Lepaskan tanganmu. Aku muak melihatmu, Oto—"

"—tidak. Jangan pergi."

Tokiya berbalik sambil berusaha melepaskan genggaman Otoya pada pergelangan tangannya. "Kubilang lepas—!" Ucapannya terputus saat kedua tangan milik laki-laki itu melingkar di sekitar lehernya. Suara barang terjatuh yang ternyata adalah gitar terdengar bersamaan dengan isakan tangis dari Otoya. Ya, ia menangis. Sekarang, bolehkah Tokiya mulai bersimpati padanya?

"Lembut, hangat. A-aku suka. Hiks, aku suka. Makanya, jangan pergi."

Walau suara itu terdengar seperti suara bisikan, tapi Tokiya bisa mendengarnya.

Tangan kanannya tanpa sadar mengusap kepala Otoya lagi.

"Kalau mau menangis, menangis saja. Kalau tak mau tersenyum, tolong jangan dipaksakan. Kalau tak mau tertawa, tolong jangan tertawa dibuat-buat. Ya, Otoya?" Mengangguk, laki-laki itu mengangguk dan membuat Tokiya tersenyum.

Tunggu.

Tersenyum?

Ia tertegun. Benarkah dirinya tersenyum? Tersenyum sungguhan dan tidak dibuat-buat? Dan itu karena sosok yang tengah memeluknya ini?

"N-ne, Tokiya. K-kau takkan pergi 'kan malam ini?"

Lagi, Tokiya tersenyum dengan mudahnya.

"Dasar manja. Iya, aku tidak akan pergi."

"Sankyu, Tokiya," kata Otoya dan terdengar tulus. Laki-laki itu melepas pelukannya lalu tersenyum kecil. Senyum kecil namun membuat perasaan Tokiya tak karuan ketika melihatnya. Sebuah senyuman yang berbeda dari senyuman lainnya. Tanpa sadar, tangan itu meraih leher Tokiya dan menariknya untuk mendekat. Entah apa yang terjadi sampai-sampai Tokiya tak bereaksi atau sekedar melawan walau hanya memundurkan kepala seperti tadi.

"Otoya..." Ia memanggil nama itu dengan nada berbeda dari sebelumnya.

Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Tokiya. Laki-laki yang kini menjadi kliennya dan tak seharusnya ia perlakukan seintim ini. Apalagi mereka sama-sama berjenis kelamin laki-laki. Banyak pertanyaan yang berisyaratkan permintaan darinya di dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi... bolehkah... aku melanggar peraturan? Hanya hari ini... bolehkah? Bolehkah... aku meminta lebih? Ia menutup kedua matanya sambil melingkarkan kedua tangannya lagi di sekitar leher Tokiya.

Tokiya sendiri tidak berkutik sama sekali. Laki-laki itu ikut memejamkan mata dan dengan gerakan ragu-ragu, ia menaruh kedua tangannya di sekitar pinggang Otoya. Lembut. Ciuman yang diberikannya sangat lembut, namun ada perasaan ragu yang terselip di dalam sana. Ya, Otoya merasa ragu. Bukan hanya dirinya, laki-laki itu juga ragu-ragu.

"Mmh..." Otoya mendesah saat Tokiya membalas ciumannya.

Lebih, lebih, lebih. Kata itu terus ada di benak keduanya.

Lagi, perasaan ragu menyelubungi hati Otoya saat Tokiya meminta mulutnya untuk memberikan akses masuk pada lidahnya. Tokiya memeluk tubuh itu semakin erat, seolah tak ingin Otoya menjauh atau melepas ciuman ini yang entah kenapa berubah menjadi panas dan dipenuhi rasa nafsu dari kedua belah pihak. Sesaat Tokiya memilih untuk melepas ciuman itu untuk menetralisirkan detak jantungnya yang berdetak makin tak karuan. "Aku... serius denganmu, Otoya. Jadi jangan ragu-ragu," bisiknya sebelum mencium laki-laki itu lagi.

"Ehmm." Otoya hanya mengangguk.

Tak ada yang mengintrupsi kegiatan mereka termasuk Ichi.

Begitu lama ciuman itu bertahan sampai Otoya memutuskan untuk menyudahinya. Ia masih mempertahankan pelukan di leher Tokiya dan malah mengeratkannya lagi. "Boleh... kuminta lebih, Tokiya?" tanya laki-laki itu dengan nada berani. Tatapannya menyiratkan keseriusan atas pertanyaannya.

Tokiya tak menjawab, ia hanya menempelkan keningnya pada kening Otoya. "Iya."

"Kenapa?"

"Kau lupa kalau kau disewa hanya untuk menjadi temanku?"

Dengan polosnya Otoya menggelengkan kepala. "Aku tahu itu, tapi... aku belum pernah merasakan ini sebelumnya pada klien-klienku. Aku... belum pernah merasakan kehangatan seperti yang kau berikan padaku. Aku... belum pernah—hiks—menceritakan atau berkata jujur tentang apa yang kurasakan pada orang lain, kecuali kau, Tokiya." Ia mulai terisak lagi. "K-kau yang pertama m-membuatku seperti ini, hiks."

Cup.

Sekali lagi, entah setan apa yang memasuki tubuh Tokiya. Ia mulai berani mencuri ciuman dari Otoya, walau hanya sebentar. "Boku mo, Otoya. Boku mo." Sebuah rasa yang memabukkan dan penuh kehangatan kembali mengisi relung hatinya yang sempat kosong, dan itu semua karena seorang Otoya Ittoki. Seseorang yang tak pernah Tokiya pikirkan sebelum hari ini tiba.

Secepat inikah perasaan itu datang?

Otoya kembali memeluk Tokiya sambil berbisik.

"Aku... sepertinya... mulai menyukaimu, Tokiya-kun."

To Be Continued

Ahahaha, nggak nyangka bisa update sekilat ini! :D Yeah karena ini pairing kesukaan saya jadi update bisa lebih cepat dan karena waktu luang juga sih. Ehehe, sepertinya rating mesti dinaikkan, ya? Atau mau cari aman aja dengan semi M? Mungkinkah para readers kecewa dengan adegan di atas yang hanya sekedar kissing saja? Mau tambah lagi adegan berbahayanya? :D Jujur lho, saya sendiri deg-degan waktu ngetiknya. , OH MY! Mulai bisa ngebayangin apa yang terjadi jika mengarah ke sana. :DDD #DiGeplakReadersPakeKamus

Kira-kira, ada yang tau gak lagu yang dinyanyikan Otoya itu lagunya siapa? :D

Oh iya, denger-denger nih, hari ini (tanggal 25 Desember, bertepatan dengan Natal) UtaPri! Bakal release OVA nya, lho! , HAYAAAAAH! Gak sabar menanti OVA nya! Bagaimana dengan readers? Gak sabar juga kan? :D

Special Thanks for reviewer : Gekkouchou [wah, sepertinya jarang fanfic baru ya di fandom UtaPri? ._. kalo naik rating kayaknya bermasalah, tapi kalo chap ini gimana? terlalu berbahayakah? ehehe, soal Maji Love STARISH-nya harus bersabar karena feel MasaRen susah buat saya dapetin u.u apa Gekkoichou mau membantu saya? :D terima kasih buat fave-nya ya :)], 12Hellgril [wah, doumo, sudah suka dengan fanfic saya. :) yap! ini BL dan hampir semua pairing di fandom UtaPri! adalah BL #NengokFandom ehehe, soal si Masa Lalunya Tokiya, saya simpen dulu ya di chap depan. :D yang sabar aja nunggunya, ne? sekali lagi terima kasih :)], hiroshiyamada132 [ehe, baru dapat review dari hiroshi-san, saya sudah update fanfic nya :) makasih ya buat review-nya :D silahkan dibaca lagi chap 2-nya! :DDD], and of course special thanks for silent readers! :D :*

Yeah terakhir, saya akan pertimbangkan permintaan, saran dan kritikan dari para readers lewat review. :)

See You Next Order(again?)!