Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat ketika Tokiya menghentikan permainan monopoli yang mereka mainkan. Tunggu. Monopoli? Laki-laki itu menghela napas seraya merenggangkan kedua tangannya ke atas. "Mou, aku lelah bermain monopoli. Apa tak ada permainan lainnya, Otoya?" tanyanya dengan nada malas. Kalau boleh jujur, sejak awal Otoya mengajaknya bermain monopoli—setelah aksi drama romantis yang mereka lakukan tadi—rasa bosan itu kembali muncul.

"Bagaimana kalau kita masak makan malam?" tawar Otoya.

"Kita? Kau tak bisa masak?"

Bibir itu mengerucut yang justru membuat Tokiya gemas seketika. "Tentu saja bisa!"

"Lalu kenapa kau juga mengajakku? Ne, bukannya memasakkan makanan untuk klien itu adalah pekerjaanmu? Setidaknya masuk ke dalam servis, kan?" Tokiya membantu laki-laki berambut merah itu membereskan mainan monopolinya. Sejenak ia memandangi Otoya yang tengah fokus dengan uang-uangannya dan teringat kejadian beberapa jam lalu. Aku... Apa benar perasaan itu muncul lagi? pikir Tokiya tidak percaya.

"Aku... sepertinya... mulai menyukaimu, Tokiya-kun."

"Otoya."

Yang dipanggil menengok lalu menelengkan kepalanya ke samping kiri. "Apa?"

"Iya, nandemonai." Sosoknya berdiri, hendak meninggalkan Otoya yang kembali sibuk dengan monopolinya. "Aku mau pinjam kamar mandi. Di mana letaknya?" tanya Tokiya seraya melangkah masuk lebih dalam.

"Di dapur juga ada kamar mandi, pakai saja!" seru Otoya.

Tap, tap, tap.

Suara langkah kakinya menggema dan tak butuh waktu lama untuknya sampai di kamar mandi yang dimaksud sang pemilik apartemen bernomor 515 itu. Cklek. Ia berbalik membelakangi pintu namun kaki kanannya yang beralaskan sandal khusus kamar mandi yang ia pakai menginjak sesuatu. Saat ingin menengok ke bawah, tiba-tiba saja beberapa benda tajam—atau lebih tepatnya taring hewan—menancap di kaki kanannya.

"MEOOONG!"

"ITTAI!"

Kedua suara itu terdengar bersamaan. Ah, tak lupa sebuah cakaran ikut menyapa kaki kanan Tokiya yang masih tertutupi kaos kaki berwarna putihnya.


Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli

Laki-Laki Sewaan by Oto Ichiiyan

Rate : T semi M

Genre : Romance, Drama, Humor (Garing)

Pairing : (Just) OtoyaxTokiya

Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.


Tawa kecil menyelimuti ruang makan sekaligus dapur milik Otoya Ittoki. Sesekali suara mengaduh kesakitan ikut mengisi ruangan tersebut. Dengan hati-hati Otoya mengobati luka yang didapat Tokiya saat berada di kamar mandi. "Ahaha, aku terkejut begitu tahu Cecil bisa membuat kejutan tak terduga untukmu, Tokiya-kun," ungkapnya sambil menahan tawa.

"Cecil?" Sontak ia menengok pada seekor kucing hitam yang entah kenapa bisa akur dengan Ichi yang notabene-nya adalah anjing.

Otoya mengikuti arah pandang Tokiya lalu tersenyum. "Mereka cepat akur, ya?"

"Tidak merasa aneh?"

Pertanyaan Tokiya dijawab oleh gelengan. "Cecil memang gampang akur."

Mendengar penuturan yang menurutnya kurang logis, ia kembali menengok kedua hewan tersebut. Sang kucing hitam itu berhenti memainkan bola dan menengok pada Tokiya. Mungkin merasa risih terus diperhatikan oleh orang asing sepertinya. Namun dari kedua mata berwarna emerald itu, tersirat dengan jelas kalau ia tak menyukai kehadiran Tokiya. "Jangan bilang, kucing itu membenciku karena sudah menginjak buntutnya," gumam Tokiya yang entah kenapa ngeri sendiri melihat suasana background-nya yang menghitam.

"Mungkin." Otoya tersenyum melihat perban di kaki Tokiya yang ia buat. "Luka dari Cecil lumayan parah, maaf ya," katanya sambil mendongak.

"Kenapa kau yang harus minta maaf?" heran Tokiya.

"Tentu saja karena aku ini majikannya. Mana mungkin Cecil bisa bicara?"

"Benar juga."

Otoya sweat drop melihat kepolosan Tokiya. Tapi senyum manis mengembang lagi di wajahnya seraya berdiri dari posisinya semula. "Tokiya-kun sudah lapar?" Ia menengok pada laki-laki tersebut dan dijawab anggukan kecil. "Ja! Waktunya masaaak!" Otoya mulai menggulung kaos polos berlengan panjang warna putih yang dipakainya setelah menaruh kotak P3K di lemari. Tak lupa sebuah apron merah ia kenakan.

Sepasang mata lainnya terus memperhatikan Otoya dari belakang. Lama ia menatap laki-laki itu sampai tak sadar kalau dirinya juga tengah diperhatikan seekor kucing dari bawah kakinya.

"Meooong."

Pandangan itu berpindah ke bawah.

"Ada apa?" tanya Tokiya sambil mengangkat Cecil dan menaruhnya di pangkuannya. Sekilas sang kucing menatapnya kemudian melompat ke atas meja makan. "Hei! Tidak sopan seekor kucing berkeliaran di atas meja makan, tahu!" Kedua tangannya berusaha menangkap Cecil tapi kucing itu langsung kabur. Kening Tokiya nampak berkedut begitu mendapat juluran lidah dari Cecil. Kucing itu menjulurkan lidah padaku!? Yang benar saja!

"Ahaha, mou yamete kudasai, Cecil," perintah Otoya dengan nada lembut.

Tokiya men-death glare Cecil yang sudah berada di bawah kaki sang majikan.

"Tokiya-kun suka sup tofu tidak?" tanya Otoya sambil menengok ke belakang.

"Lumayan suka, asal kau tak memasak makanan laut—minus ikan dan gurita—aku akan memakannya," sahut Tokiya seraya menengok ke bawah, lebih tepatnya ke arah Ichi yang tengah menjulurkan lidah dan mengibas-ibaskan ekornya. Ia angkat tubuh itu lalu menaruhnya di pangkuannya. Anak anjing itu sepertinya kelelahan dan mulai menutup matanya setelah menguap.

"Otoya, kau tadi tidak membelikan tempat tidur untuk Ichi?"

"Taruh saja di sofa ruang tamu, Cecil biasanya tidur di sana."

"Oh."

Otoya mulai memasukkan tahu serta bahan lainnya ke dalam panci berisi air yang mendidih dan sudah dibumbui. Sambil menunggu supnya matang, ia ikut duduk berhadapan dengan Tokiya yang tengah sibuk mengelus bulu Ichi. Cecil mengikutinya dari belakang dan terduduk tepat di dekat kakinya. Namun Otoya hanya bisa meringis ketika memperhatikan wajah datar Tokiya. "Masih belum bisa tersenyum bebas, ya?" tanya retoris Otoya seraya menyangga dagu.

"Maaf saja, memang beginilah aku," ketus Tokiya.

"Sepertinya pekerjaan ini terlalu sulit dari yang kubayangkan."

"Hmm." Tangan itu berhenti mengelus bulu si anjing jenis Siberia Husky lalu menatap lurus pada laki-laki berambut merah di depannya. "Boleh kutanya sesuatu?" Melihat ia mengangguk, Tokiya melanjutkan. "Kau pernah ditinggalkan oleh orang yang kau cintai?"

Rasa ragu terbesit di hatinya sebelum menjawab. "Mm, sejak lahir aku ditinggalkan."

"Sejak... lahir? Maksudmu, oleh orang tuamu?"

Ia mengangguk sambil tersenyum canggung. Entah apa yang membuatnya canggung tapi Otoya tak pernah membicarakan soal ini kepada kliennya. Kedua mata ruby-nya menatap nanar beberapa buah apel yang berada di tengah-tengah meja. Hening melanda keduanya sampai Otoya mulai membuka mulutnya untuk berbicara. "Kau tahu, Tokiya-kun? Aku sempat frustasi karena hal itu, tapi... untungnya aku bertemu mereka." Senyum yang—lagi-lagi—membuat Tokiya terpaku kembali mencuat di wajah manisnya. "Maksudku, mereka... teman-temanku di panti. Mereka baik sekali padaku, bahkan sampai sekarang."

"Masih sering menemui mereka?"

"Ya, tiap bulan lebih tepatnya di panti asuhan."

Tokiya terdiam karena tak tahu lagi harus bicara apa.

Rona merah samar-samar terlihat di wajah Otoya. Ia kembali teringat kejadian—ehem—romantis mereka. Rasa gelisah plus canggung tiba-tiba muncul dan membuatnya salah tingkah. Bahkan bernapas saja sulit ketika kedua mata itu menatapnya heran.

"Kau kenapa, Otoya?" tanya Tokiya, khawatir.

Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala sambil menunduk.

Kalau boleh jujur, sosok Otoya saat ini makin terlihat manis di mata Tokiya. Mau tak mau membuatnya ikut menunduk dan memilih menatap Ichi yang terlelap dengan pulas di pangkuannya. "Aku... sepertinya... mulai menyukaimu, Tokiya-kun." Entah sudah ke berapa kalinya kalimat yang dikeluarkan Otoya kembali menghantui pikirannya. Keadaan hening ini membuat Tokiya tak bisa bernapas lega seperti biasa. Canggung. Itu yang ia rasakan sekarang.

"Ne, Tokiya-kun."

Setelah beberapa detik, ia menjawab tanpa menatapnya. "Apa?"

"Kau... trauma dengan perempuan, ya?"

"...kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu?"

Gerakan Otoya mulai terlihat santai. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala untuk dijadikan bantal. "Akhir-akhir ini banyak yang mengalaminya. Rata-rata... klienku yang lain juga trauma dengan lawan jenis. Mereka bilang jika denganku tidak apa-apa, karena ini hanya sementara." Laki-laki itu merapikan sedikit poninya yang menutupi mata kirinya sebelum melanjutkan. "Tapi... banyak dari mereka yang justru terobati karenaku. Mereka jadi tak takut lagi untuk memulai hubungan."

Tokiya menyangga dagu dengan tangan kanan. "Lalu, bagaimana denganmu?"

"Heeeh? Kenapa kau malah bertanya balik? Padahal aku berniat untuk membuatmu menceritakan ten—mmph!" Reflek, Otoya menutup mulut karena kelepasan.

"Sou... ka."

Glek. Otoya menelan ludahnya dengan susah payah.

Tatapan Tokiya berubah tajam secara perlahan lalu tersenyum tipis.

Senyumnya... entah kenapa malah membuatku merinding, pikir Otoya dalam hati dan tanpa sadar memundurkan tubuhnya sampai punggungnya mengenai sandaran kursi dengan suara yang cukup keras. "Hmp!" Terdengar tawa tertahan dari lawan bicaranya, sontak Otoya mengedipkan beberapa kali kedua matanya. Tawa kecil pun keluar dari Tokiya, tawa lepas lebih tepatnya. "M-mou, Tokiya-kun! You're so mean!"

"Ahaha, e-ekspresimu—hahaha—seharusnya kau lihat perubahan ekspresimu tadi, haha." Tokiya tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanan.

"Tokiya menyebalkan."

Tawanya langsung terhenti. "Gomen, gomen. Sepertinya tawaku berlebihan."

Senyum tipis muncul di wajah Otoya saat memperhatikan wajah Tokiya yang masih menahan tawa. "Demo maa ii ka. Aku bisa apa kalau melihat wajah klienku sebahagia ini?" Kini Otoya yang menyangga dagunya. Sadar kalau dirinya diperhatikan, Tokiya benar-benar berhenti tertawa setelah berdeham sebentar. "Haya—," gumam Otoya sweat drop.

"Jadi, kapan kita mulai makan malamnya?"

Alis Tokiya terangkat sedikit karena Otoya tak merespon.

"Ceritakan dulu masa lalumu, Tokiya. Onegai!" pintanya tiba-tiba.

Terdiam lalu mengalihkan pandangannya ke jendela yang ada di sebelah kirinya. "Kalau aku ceritakan, memangnya kau mau apa?"

"Oh ayolah, Tokiya~. Sedikiiit saja," pinta Otoya lagi dengan puppy eyes no jutsu.

Laki-laki itu menghela napas setelah berpikir. "Baiklah."

Mendengar balasan Tokiya, sontak Otoya berdiri dari kursi layaknya anak kecil yang ingin mendengar sebuah dongeng. "YEAY! Ehe, jadi, jadi?" Ia kembali duduk dengan manis dan menyilangkan kedua tangan di atas meja. "Tapi... tak apa, kan? Etoo, maksudku, kau takkan menangis 'kan kalau bercerita padaku?" Rasa ragu mulai menyelinapi hatinya. Terpancar jelas dari kedua mata ruby-nya kalau ia juga merasa khawatir pada Tokiya.

"Setelah kau paksa aku, sekarang kau malah ragu? Dasar aneh," ejek Tokiya.

"Aku 'kan hanya khawatir padamu," akunya.

"Tak perlu khawatir, tapi kau tidak akan bercerita ke orang lain seperti Ren, kan?"

Tawa kecil terdengar. "Tentu saja! Serahkan padaku!"

"Sebelumnya, apa kau pernah pacaran, Otoya?" Pertanyaan yang diajukan Tokiya membuat Otoya berkedip beberapa kali. Kedua alisnya bertautan, pertanda ia sedang berpikir. Sedang menghitung berapa mantan, kah? tebak Tokiya dalam hati.

"Kalau pacaran sih, belum."

"Hah?"

Tangan kanan Otoya membentuk gaya 'peace'. "Duarius deh, belum pernah."

"Lalu apa kau pernah jatuh cinta atau semacamnya?"

Senyum Otoya yang nampak berbeda bagi Tokiya cukup membuat alisnya berkerut sedikit. "Pernah, dengan seseorang yang ada di hadapanku sekarang."

Anak ini... sampai kapan mau menggodaku?

"Kalau dikhianati?" Tokiya kembali mengajukan pertanyaan.

"A-a, kalau itu... pernah. Lalu? Apa kau trauma dengan perempuan karena orang yang ada di masa lalumu sudah mengkhianatimu?" tebak laki-laki berambut merah tersebut. Beberapa detik berlalu, Tokiya sama sekali tak menjawab atau berucap lagi. Itu berarti tebakannya benar, kan?

Srak. Otoya bangun dari posisi duduknya.

Dalam diam, Tokiya memperhatikan gerak-gerik sang tuan rumah.

Sruk, sruk.

Kedua mata biru kehijauannya turun ke bawah, tepat ke kaki kanannya diperban oleh Otoya. Cecil menatapnya yang justru membuat Tokiya bingung. Ia menggendong Ichi di depan dada kemudian berjongkok. Tangan kanannya yang bebas, ia gunakan untuk mengelus kepala Cecil. "Kau menatapku seperti itu, aku merasa aneh sendiri," gumamnya.

"Masakan sudah siaaap! Ayo kita makan malam!"

"Hm," sahut Tokiya singkat seraya berdiri dari posisi jongkoknya.

"Ah, tapi sayang, aku tak punya lilin."

"Untuk apa? 'Kan nggak mati lampu."

"Yang membuat suasana jadi romantis 'kan lilin, Tokiya-kun."

"Sekali lagi kau bicara hal-hal yang berhubungan dengan romantis atau semacamnya, aku akan pergi dari sini."

"O-oke, oke. Aku 'kan hanya bercanda, Tokiya-kun."

.

.

.

Sejenak Otoya termangu dengan pandangan terarah pada pintu kamar mandi di kamarnya. Di dalam sana ada seseorang yang sejak tadi siang terus bersamanya tengah mandi. Ia meringis dan bergumam, "Entah kenapa rasanya seperti pengantin baru." Mata ruby-nya bergulir ke sebelah kiri di mana Tokiya akan tidur malam ini.

"Kalau kau paksa aku untuk menginap, aku akan tidur di sofa."

"Eeeh!? Iya! Kau harus tidur denganku, Tokiya~!"

"Tidak, terima kasih. Lebih baik aku tidur dengan Ichi, ketimbang denganmu."

"Tsk, itu aturan mainnya, Tokiyaaa. Kita. Harus. Tidur. Bersama."

"Che? Walaupun dengan sesama laki-laki?"

"Kan hanya tidur bersama, memang kau pikir kita mau berbuat apa?"

"..."

"Ehehe, ternyata otak Tokiya-kun mesum juga. Hihihi."

"Berisik!"

Ckleeek. Pintu kamar mandi terbuka, terlihat sosok Tokiya sudah memakai kaos biru berlengan pendek miliknya dengan celana training hitam sebagai bawahannya. Ia duduk di tepi kasur king size berwarna soft merah sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Melihat hal itu, tentu saja Otoya tak tinggal diam.

"Sini, biar aku yang keringkan." Tangannya ingin mengambil alih handuk tersebut.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri, Otoya," tolak Tokiya dengan nada datar.

"Ini salah satu servis yang kuberikan padamu," sahut Otoya, keras kepala.

Mau tak mau Tokiya membiarkan Otoya untuk mengeringkan rambutnya. Di saat itu, tak ada satu pun kata-kata yang terucap di antara mereka. Sesekali alunan nada lagu keluar dari mulut Otoya dan sempat membuat Tokiya mengantuk. Baginya, alunan tersebut seperti lagu penghantar tidur, dan—jujur—ia suka dengan suaranya yang entah kenapa terdengar lembut di telinga.

"Rambutmu sepertinya sudah lumayan kering," kata Otoya seraya berhenti mengeringkan rambut Tokiya.

"Terima kasih."

Senyum simpul menjawab ucapan terima kasihnya.

Rasa penasaran menghantui pikiran Tokiya. Sesaat ia menatap Otoya sebelum mengalihkan pandangan ke arah jendela kamar yang tidak tertutupi tirai. Nampak hujan masih betah mengguyur daratan. Langit pun terlihat enggan membuka tempat untuk bintang-bintang memancarkan sinarnya. "Otoya, tadi kau bilang, kau belum pernah pacaran," kata Tokiya membuka pembicaraan.

"Ehm—hm? Lalu ada apa dengan itu?"

"Tidak apa-apa, aku hanya tidak percaya."

Grep! Tiba-tiba kedua tangan Otoya melingkar di lehernya. Ia memeluk Tokiya dari belakang. "Kalau Tokiya mau jadi pacarku, berarti Tokiya adalah pacar pertamaku, ehe," ucapnya diiringi nada canda.

"Sampai kapan kau mau bercanda denganku, Otoya?" jengah Tokiya.

"Aku tidak bercanda, aku serius. Bukannya kau juga serius denganku?"

"Kapan aku serius denganmu?"

Pelukan itu mengendur dan tubuh Otoya menjauh. "Kau mengatakannya saat kita berciuman tadi sore. Semudah itu kau melupakannya? Jahat," lirihnya seraya duduk bersimpuh membelakangi sang klien. Tokiya sendiri hanya diam lalu melirik ke belakang. Senyum. Ia tersenyum lagi dengan mudahnya melihat ke-childish-an Otoya. Perlahan punggung Tokiya bersandar pada punggung Otoya dan membuat laki-laki berambut merah itu sedikit terdorong ke depan karena kaget.

"Kau menganggap itu serius?"

Sebuah anggukan kecil Otoya menjawab pertanyaannya.

Tokiya menutup kedua matanya. "Kalau kubilang karena terbawa suasana, apa kau akan marah?" Otoya menggeleng pelan. "Kenapa?" Mendadak sandaran punggungnya menghilang sehingga membuat punggung Tokiya mendarat di atas kasur. Masih dengan wajah datar, ia menatap Otoya yang tersenyum manis sambil menatapnya balik. Rasa tak nyaman menguasai hati Tokiya saat wajah itu mengeliminasi jarak di antara mereka.

"Oto—"

"—ternyata wajah Tokiya lebih tampan kalau dilihat dari dekat seperti ini."

"—ya..." Perasaan lega muncul di hati Tokiya karena ia sempat mengira Otoya akan menciumnya lagi.

"Ne, Tokiya-kun." Senyum manis masih tersemat di wajahnya.

"Apa?"

"Boleh aku memangku kepalamu? Anggap saja in—"

"—servis. Terserah kau saja." Walau Tokiya memotong ucapan Otoya dengan nada ketus dan wajah datar, tapi tubuhnya bergerak mendekati Otoya dan meringkuk membelakanginya dengan kepala ia biarkan berada di atas pangkuan laki-laki berambut merah itu. Rasa nostalgia bercampur déjà vu memenuhi benak Tokiya. Beberapa ingatannya bersama sang ibu sewaktu ia masih kecil kembali teringat. Ia sering meminta untuk tidur di pangkuan sang ibu, sama seperti yang ia lakukan dengan Otoya. Walau sekarang bukan ia yang meminta.

"Dou?" tanya Otoya, meminta pendapat sang klien.

"Mengingatkanku pada Kaa-san," aku Tokiya sambil menutup mata.

Pandangan Otoya menerawang ke langit-langit kamar. "Aku senang karena bisa berbagi kehangatan denganmu di saat hujan turun seperti sekarang ini. Dan aku juga senang, kalau yang kau ingat adalah ibumu, bukan orang lain," katanya dengan nada berbisik.

"Kau berbeda, Otoya."

Ia tahu, Tokiya sedang membandingkan dirinya dengan seseorang.

Seseorang yang—sebenarnya—tak ingin diingat lagi oleh laki-laki itu.

Otoya sadar, ia mengerti, sangat mengerti perasaan kliennya tersebut. Bolehkah... jika aku berharap agar orang itu tak ada di kehidupannya lagi? Bukan berarti aku berharap ia mati atau semacamnya... sebenarnya yang kuinginkan sekarang yaitu... perasaan Tokiya untuk orang itu yang dihilangkan.

"Sekarang, apa yang kau pikirkan?"

Lamunan Otoya buyar saat Tokiya bertanya sambil menengok padanya.

"Iya, nandemonai~ yo!" sahut Otoya seraya tersenyum. Tangan kanannya bergerak mendekati rambut Tokiya yang terlihat kusut. Ia tersenyum tipis. "Rambutmu lebih halus, ya? Seperti klienku yang lain," katanya sambil memainkan rambut Tokiya. Namun gerakannya dihentikan oleh tangan yang warnanya lebih pucat darinya, siapa lagi kalau bukan tangan milik Tokiya. "Ada apa?"

Kini Tokiya menatap wajah Otoya dengan mendongak ke atas sedikit.

Mereka saling berpandangan lalu Otoya berpaling ke samping.

"Jangan menatapku dengan wajah aneh seperti itu, Tokiya," keluhnya.

Samar-samar laki-laki yang tengah terbaring di pangkuan Otoya itu bisa melihat rona merah di kedua pipinya. Ia memilih untuk merubah posisi dan duduk di samping Otoya yang menatapnya bingung. "Entah kenapa rasanya kurang nyaman kalau tidur di pangkuan laki-laki," gumamnya menjawab pertanyaan yang tercetak jelas dari wajah Otoya. Gumamannya itu membuat Otoya cemberut.

"Segitu anehnya?"

Ia mengangguk seraya menatap laki-laki berambut merah itu sebentar.

"A-apa lagi?" tanya Otoya gugup.

"Aku benar-benar tak habis pikir denganmu, kenapa aku harus tidur denganmu dan di kasur yang sama pula. Dan lagi, kalau kita tidak melakukannya pun takkan ada yang melihat," kata Tokiya, mengeluarkan semua uneg-uneg yang sedari tadi terus tersangkut di benaknya.

"Aku akan merasa bersalah seumur hidup karena tak bisa bekerja dengan baik."

"Segitu bermasalahnya?"

Otoya menggembungkan kedua pipinya karena Tokiya mengikuti gaya bicaranya tadi.

"Baiklah, tak ada pilihan lain selain tidur di sini, kan?" Laki-laki itu mulai bersiap untuk tidur dengan badan membelakangi Otoya. Ia menarik selimut dan hampir menutupi semua tubuhnya. Melihat hal itu, tentu saja membuat Otoya cemberut untuk ke sekian kalinya untuk hari ini.

"Ya sudah, terserah saja!" serunya kesal seraya meringkuk membelakangi Tokiya.

Hampir saja kedua mata Tokiya tertutup kalau saja punggungnya tidak didorong-dorong oleh orang yang ada di belakangnya. "Otoya..."

"Apa!?" sahut laki-laki itu galak.

"Nggak jadi."

"..."

"..."

Set, set. Kaos yang dipakai Tokiya ditarik pelan sebanyak dua kali oleh si pemilik kaos tersebut. Ia tahu, tarikannya itu bermaksud untuk menyuruhnya berbalik. "Baik, baik." Tokiya pun berbalik saat kaosnya ditarik lagi. Laki-laki itu sempat memundurkan kepalanya secara reflek karena wajah mereka terlalu dekat. "Tak bisakah kau mundur sedikit?"

Dengan polosnya Otoya menggelengkan kepala. "Gomen."

"Untuk?"

"Untuk memaksamu tidur denganku."

"...sebenarnya tidak masalah untukku," sahut Tokiya cepat sambil menatap langit-langit kamar. Namun belum sempat ia menengok, tangan kanan Otoya menyentuh pipinya untuk tidak berpaling darinya. Tubuh Tokiya tak bergerak saat wajah Otoya mendekat.

Cup.

Sebuah ciuman lembut mendarat di kening Tokiya.

"Oyasumi, Tokiya-kun," ucap Otoya dan tersenyum manis.

Awalnya Tokiya tak bergerak sama sekali karena terlalu kaget, tapi perlahan tangan kirinya bergerak menyentuh pipi laki-laki yang ada di hadapannya. Ia menarik wajah itu untuk mendekat dan menempelkan kening mereka seraya menutup mata. Rasanya Tokiya tak sanggup membuka matanya lagi. Ia terlalu lelah dan ingin cepat-cepat pergi ke alam mimpi diiringi kehangatan yang disalurkan oleh Otoya padanya.

"Oyasumi... Otoya."

Sekali lagi, Otoya tersenyum sambil memejamkan mata.

"Aku... sepertinya semakin menyukaimu, Tokiya..."

Keduanya mulai terlelap dan tanpa mereka sadari seseorang sudah memperhatikan mereka sedari tadi dari balik pintu kamar. Ia tersenyum seraya membuka pintu. Perlahan dan tanpa suara, ia berjalan mendekati kedua laki-laki itu. Langkahnya terhenti tepat di belakang Otoya yang tertidur berhadapan dengan Tokiya. Tangannya mendekati wajah Otoya yang tertidur pulas bagaikan bayi lalu tersenyum.

"Aku senang melihat wajahmu sekarang, Otoya."

Mata emerald-nya bergulir ke arah Tokiya.

"Terima kasih, Tokiya Ichinose."

Ia sedikit membungkukkan kepala dan kembali tersenyum pada Otoya.

"Sekarang tidurlah dengan nyenyak. Semoga mimpi indah," bisiknya.

To Be Continued

Yo! :3 Ah, akhirnya saya bisa update chapter terakhir fanfic ini! #Geplaked Ahaha, ternyata di luar harapan saya, fanfic ini bukan Three-Shoot karena dari chap 1-3 malah saya buat full OtoToki tanpa konflik.

Untuk konflik dan si Masa Lalu Tokiya, saya nggak bisa tepatin janji untuk mengungkapkannya di chap 3 ini. Habis, pas saya cek lagi setelah merasa sudah lewat batas, ternyata saya buat kebanyakan OtoToki. Padahal rencana awal mau kasih clue dengan memperlihatkan sosok itu. Tapi yaaa gitu deh, jadi ditunggu chap depan aja ya, minna?

Pengumuman juga, untuk fic ini saya mau membuat complete dengan sampai chap 5 aja karena nggak mau bikin fic sepanjang Maji Love STARISH. ._.

Sankyuu minna yang sudah me-review dan mampir untuk baca fanfic saya. #Bow Thanks banget buat 12hellgril [jujur, soal rating "M" memang saya kepikiran untuk dibuat di chap akhir. Ehe, itu pun kalau ending-nya happy ending :3], asukakizuno.p4s [bukan adanya lagi, tapi emang ada kok. Coba cari fanpage-nya di facebook :) saya jamin kok! Ahaha, syukur deh kalau fanfic saya buat kamu deg-degan plus buat bad mood-mu hilang :) sankyuu ne #Bow], Gekkouchou [Hohoho, oke, saya akan pikirkan pendapat Yuu :) *Entah kenapa manggil Yuu serasa manggil Yuu di anime Sekaiichi Hatsukoi #Lol* Wah, makasih dibilang manis fanfic-nya #Bow Etoo, kira-kira hubungan MasaRen itu kok bisa jadi rival begitu ya sekarang? padahal dulu si Masa nganggep Ren seperti kakaknya sendiri ._. Onegaishimasu!], thanks too for silent readers, ne! :D

Saya nggak bisa cuap-cuap lebih lama lagi karena mata sudah 5 watt, jadi...

See You Next Order(lagi?)!