Gelap. Di mana ini? Aku yakin, mataku sudah terbuka sepenuhnya, tapi aku tak bisa melihat apa-apa. Kugerakkan kedua tanganku ke depan, berusaha menggapai sesuatu yang di sekitarku. Tak ada barang apapun, lalu aku ada di mana sebenarnya?

"Jangan main dengannya, dia 'kan anak yatim piatu."

Dare?

"Ah, tapi yang kudengar, ia dibuang ibunya karena hubungan terlarang."

"Eeeh? Hontou ni?"

Dari jauh aku bisa melihat sesosok anak kecil berambut merah tengah tertunduk. Apa suara itu tengah membicarakannya? Samar-samar, terlihat tangan kanannya menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Menangis. Tak salah lagi. Anak itu menangis.

"Hiks, j-jangan bicara seperti i-itu tentangku, m-minna."

"Tapi kenyataannya begitu, kan? Sekarang kau tak punya siapa-siapa lagi."

"A-aku masih—hiks—punya kalian."

"He? Memang kau pikir, kami mau berteman denganmu? Jangan bercanda!"

Anak berambut merah itu terisak lagi dan lagi. Aku sepertinya mengenal suara isakannya. Tapi siapa? Dan lagi, kenapa suara-suara itu tak mau berteman dengannya hanya karena ia anak yatim piatu, begitu? Tidak adil. Ya, siapa pun tahu kalau hal itu tak adil. Terlebih untuk anak sepolos dirinya.

"K-kenapa? P-padahal... aku ingin—hiks—berteman dengan kalian."

"Cih! Sudah, sudah! Kita teruskan mainnya! Acuhkan saja dia!"

"Hiks, hiks, kalian j-jahat, hiks."

Tiba-tiba kucing hitam yang kuketahui bernama Cecil datang mendekati bocah tersebut. Walau si kucing terus menatapnya, tapi keberadaannya seperti tidak terlihat dan ia terus menangis sambil berjongkok. Kedua mata emerald-nya menatap ke arahku. Lama aku berpikir tentang apa yang terjadi, sekarang aku mulai mengerti.

Bocah laki-laki berambut merah itu adalah... Otoya Ittoki.

Benarkan, Cecil?

Seolah ia bisa membaca pikiranku, Cecil menundukkan kepalanya sedikit.

Aneh, tapi... terima kasih. Setidaknya aku mulai mengerti sedikit tentang Otoya yang sebenarnya tak ingin kuketahui apapun tentangnya. Toh, kontrak kami sudah selesai, kan? Tapi... kenapa kau perlihatkan ini padaku, Cecil? Sepertinya, aku mulai gila karena bertanya pada seekor kucing, terlebih di tempat gelap yang aku sendiri pun tak tahu di mana ini sebenarnya.


Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli

Laki-Laki Sewaan by Oto Ichiiyan

Rate : T semi M

Genre : Romance, Drama, Humor (Garing)

Pairing : (Just) OtoyaxTokiya

Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.


Tak terasa sudah tiga minggu lebih sejak seorang Tokiya Ichinose bertemu dengan laki-laki berambut merah bernama Otoya Ittoki yang mengaku sudah disewa oleh Ren Jinguji—sang sahabat tercinta—untuk menjadi temannya. Memang, masa sewanya hanya sampai dua belas jam, terhitung sejak mereka bertemu di café. Tapi siapa sangka kalau si laki-laki sewaan itu terus menghantui hari-hari Tokiya.

Untuk kesekian kalinya ia berdencih melihat sebuah pesan di ponselnya.

'Tokiya-kun, hari ini aku ingin bertemu denganmu sore ini di café biasa. Bisa, kan?'

Tangannya meremas rambut karena frustasi. "Semua ini salahmu, Ren."

"Eeeh? Kenapa aku yang dibawa-bawa ke dalam masalahmu, Ichii?"

Kedua mata Tokiya berputar, pertanda jengah dengan sikap laki-laki yang dipanggil Ren tadi. Ia menghela napas seraya membenarkan kacamatanya yang sempat melorot. "Bisakah bermesra-mesraannya nanti saja saat kalian pulang ke rumah kalian?" tanya—atau lebih tepatnya sindir—Tokiya sambil menutup mata karena tak mau melihat adegan yang—cukup—membuat nafsu makannya dan—mungkin—beberapa mahasiswa lainnya berkurang.

Bayangkan saja, Ren secara terang-terangan mencium sang tunangan yang tengah duduk di sampingnya. Memang tidak masalah jika mencium tunangan sendiri, tapi yang jadi masalahnya itu sang tunangan memiliki gender yang sama dengannya. Mereka sama-sama laki-laki. Oh, dan jangan tanya kenapa mereka bisa mendapat persetujuan dari orang tua mereka untuk bertunangan.

"Jinguji, sudah kubilang berkali-kali untuk tidak menciumku di depan umum."

Tuh kan, tunangannya saja tidak terima dengan perbuatan Ren.

"Ahaha, oke, oke." Kedua bola mata sapphire-nya bergulir ke depan. "Jadi?"

"'Jadi' apa?" kesal Tokiya.

"Sudah sampai mana hubungan kalian?"

Kali ini bukan Ren yang bertanya, tapi sang tunangan yang sering dipanggil Ren dengan sebutan 'Masa' tersebut. "Tidak Ren, tidak tunangannya, semua sama saja. Membuatku kesal," gumam Tokiya dengan nada lumayan keras sehingga bisa didengar oleh keduanya.

Ren tersenyum dan menyangga dagu. "Sudah, jawab saja, Ichii."

"Sudah kubilang berapa kali, hubungan kami biasa-biasa saja."

"Lalu kenapa Ittoki-san mau menjemputmu hampir tiap hari di depan gerbang?"

"Mana kutahu. Tanya saja pada orangnya," sahut Tokiya asal untuk menjawab pertanyaan Masato, si Heir keluarga Hijirikawa sekaligus tunangan Ren.

"Oh iya, aku juga sering melihat kalian makan malam di café itu," celetuk Ren.

"Padahal sudah sedekat itu, tapi tetap tak ada perubahan, ya?" tambah Masato lagi.

"Kalian berdua... sebenarnya apa yang sudah kalian rencanakan, hah? Mau menjodohkanku dengan Otoya?" geram Tokiya untuk kesekian kalinya. Melihat keduanya mengangguk secara bersamaan, tentu saja membuat ia semakin kesal. "Mattaku...," gumamnya sambil menepuk kening. "Kalian tahu? Hidupku jadi semakin tidak tenang setelah kau memberikan nomor ponselku padanya, Ren," curhat Tokiya pada akhirnya.

"Ahaha, ternyata Ikki lumayan agresif, ya?" canda Ren.

"Bukan lumayan lagi," sahut Tokiya tanpa sadar.

Baik Ren dan Masato saling menengok satu sama lain lalu menatap sosok laki-laki lain di depan mereka yang tengah menyeruput segelas jus alpukat yang katanya bagus untuk kesehatan tubuh, terutama kulit. "Kau ini sama anehnya dengan Masa, di luar bilang benci atau apalah, tapi akhir-akhirnya kalian melakukannya juga. Maksudku seperti kemarin, berulang kali kau mengeluh, tapi tetap saja kau datang menemuinya," kata Ren seraya bersandar pada sandaran kursi.

Masato berdeham sebentar. "Jangan samakan aku dengannya, Jinguji."

"Memangnya kau pikir, aku mau disamakan denganmu?" sahut Tokiya.

Sepertinya Ren salah berucap. "Oke, oke. Kita kembali ke topik."

"Topik apa maksudmu?" tanya Tokiya dengan nada tidak suka karena dirinya dijadikan topik pembicaraan lagi.

"Kau mau menemuinya lagi, kan?" tanya balik Ren dan menghiraukan pertanyaan Tokiya. Jujur, ia suka—sangat suka—melihat sosok sahabatnya ini yang sekarang. Perlahan tanpa Tokiya sadari, ia mulai berubah kembali seperti dirinya yang dulu. Wajahnya pun bisa berubah-ubah jika membicarakan tentang hubungan dirinya dengan Otoya. Tentu saja Ren sadar, Tokiya sedikit-sedikit mulai terbuka lagi pada orang lain, termasuk dirinya dan itu semua berkat Otoya.

Nampak yang ditanya tak mau menjawab.

"Tsundere-mu keluar lagi," gumam Ren.

Tentu saja Tokiya tak terima. "Tsundere janai," desisnya.

Kedua mata Masato menangkap sepasang manusia yang sangat tak asing baginya tengah berjalan melewati cafeteria. Mereka tertawa riang dan—jujur—ia tak suka melihat keduanya terlihat bahagia. Tapi bukan berarti ia iri, Masato juga bisa seperti itu dengan Ren. Tiba-tiba sebuah tangan berukuran lebih besar darinya menggenggam tangan kirinya yang tengah terkepal. Ia menengok namun yang terlihat hanya Ren yang sedang sibuk meledek Tokiya dan disahuti berbagai macam desisan tak enak didengar dari si korban.

Drrrt! Drrrttt!

Sebuah pesan datang di ponsel Tokiya.

Dengan cepat ia membaca pesan tersebut.

'Tokiya-kun, balas pesanku dong! T^T Kau masih marah, ya? Gomeeen! #Bow'

Diam-diam Ren sudah berdiri di samping Tokiya dan membaca pesan dari laki-laki yang pernah ia sewa. Senyum nakal tercetak jelas di wajah tampannya yang membuatnya semakin terlihat seksi. Ehem, lupakan pikiran sesaat Masato dan fans Ren. "Eeeh? Memang apa yang Ikki lakukan padamu, Ichii?" tanyanya seraya mengambil ponsel Tokiya, bermaksud untuk membalas pesan itu.

"Ren!?" Tangan Tokiya berusaha untuk mengambilnya lagi.

"Ya ampun, kalian ini..." Masato menghela napas melihat tingkah kekanak-kanakkan keduanya dan tersenyum tipis.

.

.

.

Tomochika Shibuya menatap seseorang yang tengah duduk berhadapan dengannya. Orang itu nampaknya tidak sadar jika sedari tadi terus diperhatikan. Gadis yang akrab dipanggil Tomo tersebut menatap keadaan sekitarnya lalu memakan stik kentang yang dipesannya. "Haruka, sampai kapan kau mau begini terus?" tanya Tomo khawatir.

"Maksudnya 'begini'?" sahut gadis lainnya tanpa menatap si lawan bicara.

"Kau seperti orang yang frustasi karena ditinggal pacar."

Haruka Nanami tertawa pelan. "Mana mungkin seperti itu?"

"Serius deh. Kau begitu sejak... putus dari Tokiya," kata Tomo dengan suara direndahkan pada bagian akhir. Ya, sahabat yang satunya ini pernah pacaran dengan Tokiya Ichinose. Laki-laki terpandai di jurusan Medical dan menjadi salah satu mahasiswa terpopuler seangkatannya.

"Sudahlah, itu hanya masa lalu, Tomo-chan," sahut Haruka sambil tersenyum.

Ekspresi sedih tampak di wajah sang sahabat. "Aku masih tidak percaya ini."

"Masih tidak percaya?" bingung Haruka.

"Iya, aku... kenapa kalian mesti putus sih!? Padahal kalian sangat serasi," kesalnya.

Pandangan Haruka teralih keluar kaca café. Banyak orang yang barlalulalang di sana dan entah kenapa ia rindu saat-saat seperti ini. Saat-saat di mana mereka berdua diam membisu sambil menatap pejalan kaki di luar café. Ya, mereka berdua, ia dan Tokiya. "Tomo-chan, keputusanku sudah bulat. Ichinose-san saja bisa menerima keputusanku, kenapa Tomo-chan tidak?" Sebuah senyuman manis masih terlihat di wajahnya.

"Karena kau terlihat lebih bahagia dengan Tokiya dibanding dengan Ryuuga-sensei."

Gadis berambut kejinggaan itu menggelengkan kepalanya. "Aku bahagia kok."

"Bohong," sahut Tomo cepat.

"Yaaah, walau terkadang seperti itu, tapi itukan hal biasa untuk sepasang kekasih. Kau juga sering 'kan, bertengkar dengan Yamato-san?" Tomo terlihat ingin membantah pernyataannya, namun Haruka sudah lebih dulu berucap. "Dan lagi, sepertinya Ichinose-san sudah menemukan yang lain, yang pastinya bisa membuatnya lebih bahagia dibanding denganku dulu. Hampir tiap hari kami bersama, tapi kami jarang bicara." Ia sempatkan diri untuk tertawa pelan, walau kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Bukankah hubungan yang seperti itu bisa membuatmu lebih cepat bosan?"

Kini Tomo yang menggelengkan kepala. "Aku yakin, Tokiya seperti itu karena ia merasa nyaman denganmu. Bukannya ia pernah bilang begitu padamu, Haruka?"

"Tetap saja... semakin lama semakin membosankan."

Percikan emosi muncul di kedua mata Tomo.

Ia tahu, Haruka—sahabat terbaiknya—mulai berubah secara perlahan.

Srak. Tomo mulai muak melihat kenaifan Haruka, jelas-jelas ia masih mencintai Tokiya dan berharap untuk bisa kembali bersamanya lagi. Tapi kenapa? Kenapa Haruka terus berbohong di depannya dan dengan dirinya sendiri? "Kenapa? Kenapa kau tak mau jujur dengan perasaanmu sendiri, Haruka? Kau tahu? Kau mulai berubah sejak pacaran dengan Ryuuga-sensei. Bahkan sekarang, aku sampai tak bisa mengenali siapa gadis di hadapanku ini." Perlahan ia berbalik dan berjalan keluar café setelah membayar pesanannya di meja kasir, meninggalkan Haruka yang mulai terisak dalam diam.

"Gomen, gomen."

Drrrt! Drrrttt!

Ponsel slip-nya bergetar di atas meja. Tertera nama 'Ryuuga-san' di layar.

Matanya meredup seketika sebelum memutuskan untuk pergi dari café. Ia menggigit kecil bibir bawahnya yang mulai bergetar karena menahan tangis. "Kenapa? Kenapa?" Berulang kali ia bertanya seperti itu, namun tak pernah ia dapatkan sebuah jawaban dari manapun. Setelah membayar pesanan, Haruka langsung berjalan pintu keluar café. Namun karena tak melihat ke depan dan terus menundukkan kepala, ia menabrak seseorang yang ingin masuk ke dalam café.

"A-ah! G-gomenasai! Gomenasai!" Ia membungkukkan badan sambil menahan isakan tangis dan menutupi mulutnya dengan tangan kanan.

"Nanami?"

Kedua mata Haruka membulat dan sontak mendongakkan kepala. "I-Ichinose-san?"

Mendengar nama marganya yang disebut membuat wajah Tokiya sedikit tertunduk.

Buru-buru Haruka hapus air matanya seraya tersenyum. "M-maaf karena menabrakmu, Ichinose-san." Ia memandang ke sekitarnya karena bingung sekaligus menghilangkan rasa curiga Tokiya karena sempat melihat matanya yang berair. "K-kenapa Ichinose-san datang ke café ini?"

Tokiya awalnya sempat khawatir melihat sang mantan menangis, namun egonya yang tinggi memaksanya untuk tidak peduli. "Ingin bertemu dengan seseorang," jawabnya dingin.

"S-sou ka. S-sou da yo ne."

Kepala gadis itu tertunduk.

"Kalian bertengkar?" tebak Tokiya tanpa menatap Haruka.

Haruka diam tak menjawab, pertanda tebakan laki-laki itu benar.

Pluk. "Padahal persahabat kalian lebih tua dari persahabatanku dengan Ren," kata Tokiya sambil menepuk pelan kepala gadis tersebut. Sebenarnya ia pernah melihat mereka bertengkar akhir-akhir ini hanya karena Tomo tidak terima jika mereka berdua putus. "Berbaikanlah. Tak baik marahan berlarut-larut dengan sahabat sendiri," tambahnya lagi.

Ia mengangguk kecil setelah berdiam beberapa saat.

Kedua mata Tokiya sempat melirik ke arahnya sebelum pergi ke tempat meja kosong yang ada di pojok café. Tempat ia biasa duduk dengan Otoya. Laki-laki itu menghela napas seraya melepas kacamata hitamnya kemudian menaruh kacamata itu di saku kemeja berwarna kremnya.

Pandangan Haruka terus tertuju pada sosok Tokiya sampai ia mulai duduk membelakanginya. "Bertemu... seseorang ya?" lirihnya sambil tersenyum kecil.

"Aaa! Telat lima menit lagi," gerutu seseorang yang baru saja masuk ke café.

Perhatian Haruka teralih ke orang tersebut yang terlihat panik sendiri.

Ia menatap ke dalam café tepat di depan Haruka yang masih berdiri di ambang pintu.

"A-ara, dia sudah datang ternyata," gumamnya lagi dan sedikit kaget melihat Haruka.

Sang gadis menganggukkan kepalanya sedikit lalu pergi dari café. Otoya Ittoki, laki-laki yang sempat diperhatikan Haruka tadi menatapnya heran sebelum berjalan menghampiri Tokiya. Rasa bingung nampak di wajah tampannya. "Tumben kau duduk membelakangi pintu keluar?" tanya Otoya seraya duduk di hadapan laki-laki yang pernah tidur dengannya tiga minggu yang lalu.

"Tidak apa-apa, hanya ingin saja."

Dengan sekali lihat, Otoya tahu.

Sosok di hadapannya ini tengah mengkhawatirkan sesuatu. "Ada apa?"

"Hm? Apa?" tanya Tokiya balik.

"Kau... sedang mencemaskan sesuatu. Apa kau mau menceritakannya padaku?"

Tokiya memalingkan wajahnya keluar café, berusaha memutuskan kontak mata dengan Otoya yang bisa membaca perubahan ekspresi di wajahnya. "Aku tidak mencemaskan sesuatu. Mungkin hanya kelelahan," sahut Tokiya seraya menyangga dagu dengan tangan kanan.

Senyum perih nampak di wajah Otoya. "Oh, oke."

Keduanya diam membisu untuk beberapa menit.

"Kau mau pesan apa?" tanya Tokiya, berusaha merubah suasana.

"Samakan saja pesananku dengan pesananmu."

Seorang maid datang untuk mencatat pesanan mereka setelah Tokiya memanggilnya. Maid itu pun pergi, keduanya tak berbicara lagi. Apa aku harus bercerita kalau baru saja aku bertemu dengan mantanku? gumam Tokiya dalam hati. Jujur, ia ragu untuk bercerita karena dilihat dari manapun laki-laki yang mengalungkan headphone merah di lehernya itu benar-benar tertarik dengannya. Mengertikan maksudnya? Otoya terlihat serius menyukai Tokiya dan Tokiya tak mau membuatnya sakit hati.

Yaaah, anggap saja ia tak mau melihat Otoya menangis lagi.

Ah, Tokiya jadi teringat mimpi itu.

Mimpi di mana Cecil berusaha menceritakan tentang masa lalu Otoya padanya.

"Sudahlah, tak perlu dipikirkan lagi," suruhnya seraya tersenyum.

Wajah laki-laki yang tengah memakai kaos merah gelap dan jeans hitam panjang itu menatap Tokiya dengan wajah mau menangis. Childish-nya keluar lagi tiap mereka bertemu. Karena sikapnya itu juga yang membuat Tokiya tak tega. "Benar, kau tidak apa-apa? Aku khawatir denganmu, Tokiya."

Oh great! Tokiya juga tak bisa untuk tidak memerah tiap kali Otoya berkata jujur.

"Kau benar-benar semakin mirip dengan Ibuku sekarang."

Tangan kecil Otoya menyentuh pipi Tokiya. "Aitakatta."

Otoya tertawa begitu melihat ekspresi tertegun di wajah laki-laki itu. "Padahal baru dua hari tidak bertemu, rasa rinduku terus bertambah tiap kali ingat denganmu. Kau tahu? Tiap aku kirim pesan, di saat itulah rasa rinduku bertambah lagi dan lagi. Dalam hati, aku ingin sekali melihatmu secara langsung di saat itu juga. Aneh, ya?" ceritanya dan diakhiri tawa lagi.

"... kau... benar-benar menyukaiku?"

"Aku sendiri juga... tidak tahu."

Tokiya memandangi Otoya secara intens, berusaha membaca pikirannya.

"Kalau 'iya', mungkin cinta ini hanya jadi cinta tak berbalas. Apalagi jika bayang-bayang seseorang di masa lalumu terus menghantui pikiranmu," kata Otoya dengan nada putus asa. "Ah, tapi bagaimana pun juga kau 'kan straight, Tokiya. Mana mungkin kau bisa menyukaiku. Sejak awal kau juga bilang kalau kau normal," tambahnya seraya menjauhkan tangannya dari pipi Tokiya. Tak lupa tawa hambar terdengar diakhir.

"Aku memang tak bisa melupakannya," aku Tokiya.

"..."

"Tapi jika denganmu, mungkin aku bisa."

"Eh?"

Perlahan senyum khas seorang Otoya nampak di wajahnya. "Hontou ni, Tokiya-kun?" Laki-laki itu hanya tersenyum. Ya, tersenyum seperti biasanya. Rasa sesak dalam hatinya semakin bertambah. Berulang kali ia menyatakan perasaannya, selalu perkataan itu yang keluar dari mulut Tokiya. Otoya sadar dan tahu, memang sejak awal ia takkan mampu menggantikan sosoknya. Ia juga tak bisa sepenuhnya mengembalikan sosok Tokiya seperti semula, seperti apa yang diminta Ren Jinguji.

Tapi untuk hari ini saja, bolehkah ia bertindak sedikit egois?

Napas Otoya memburu secara mendadak.

Reflek ia menutupi mulutnya dengan tangan kiri.

"Otoya, kau kenapa?" tanya Tokiya dengan khawatir.

"A-aku... s-se-sesak, hah, hah." Perkataannya tidak begitu jelas di telinga Tokiya, namun laki-laki itu mengerti. Tangannya menggenggam tangan Tokiya yang berbalut kemeja panjang. Perlahan air matanya mengalir ke kedua pipinya. "B-berhenti... hiks, k-kumohon, b-berhenti—hah, hah." Napasnya masih tersendat-sendat dan membuat Tokiya kalang kabut.

"Apa maksudmu 'berhenti'? Kau punya penyakit asma?"

Ia menggeleng pelan. "Aku..."

Tokiya menunggu ucapan Otoya.

"B-berhenti tersenyum s-seperti padaku, kumohon."

"..."

Otoya menghapus air matanya sambil menunduk. "A-aku... hatiku... tak bisa, hah, hah, melihat senyummu yang di-dipaksakan, hah." Lagi, ia terisak dan menutupi sebagian wajahnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih menggenggam tangan Tokiya. Tiba-tiba tangan lainnya menarik dagu Otoya hingga wajah keduanya saling terlihat. "T-Toki—mmph!"

"Uwooo!"

"Mereka... kisu?"

"Kyaaa! Mereka kisuuu~!"

Banyak pengunjung yang tercengang dan histeris. Ternyata banyak dari mereka yang mengaku sebagai fujoshi dan fudanshi, sama seperti sang author yang ikut-ikutan fangirling melihatnya dari ujung pintu kamar mandi(?). Bahkan karena terlalu heboh, beberapa pejalan kaki sempat berhenti di depan café untuk melihat apa yang terjadi. Maid yang bertugas membawakan pesanan mereka pun pingsan karena terlalu kaget. Oh, darah juga keluar dari hidungnya yang membuat si manager café panik.

Persetan dengan orang-orang yang melihat mereka berciuman dan menganggapnya aneh, tapi Tokiya tak bisa menahan rasa sesak di dadanya yang tiba-tiba muncul.

Kedua tangan Otoya meremas kemeja Tokiya dan mendorongnya untuk mundur.

Namun, semakin lama ia mencoba, tubuh Tokiya tetap tak bergerak.

Menyerah, hanya itu yang bisa Otoya lakukan.

Hampir satu menit ciuman mereka bertahan, Tokiya perlahan menjauhkan wajahnya. Dengan pandangan dan ekspresi serius ia berucap. "Jangan pernah kau anggap senyumku hanya senyum paksaan, Otoya. Aku tersenyum karena aku ingin, dan itu semua karena kau ada di sampingku." Pengakuan Tokiya tentu saja membuat café semakin heboh. Otoya sendiri hanya bisa menutupi sebagian wajah karena terlalu malu, tanpa sedikit mengeluarkan sepatah kata untuk laki-laki itu. Tokiya berdencih dengan wajah merona dan mengikuti Otoya dengan menutup sebagian wajahnya. Aku... kelewatan, gawat! Di depan umum pula! Apa yang kupikirkan sih, sebenarnya!? histerisnya dalam hati.

"Tokiya..."

"Cium! Cium! Cium!"

"Kyaaa! Ayo, balas ciuuum!"

Para pengunjung semakin heboh dan meminta Otoya untuk mencium Tokiya balik. Melihat hal itu, tentu saja Otoya jadi lebih panik dari sebelumnya. Srak! Kursi bergeser dan membuat wajah para pengunjung kecewa karena sepertinya Otoya lebih memilih untuk kabur keluar café dan meninggalkan Tokiya yang malu setengah mati. Namun dugaan mereka salah, seorang Otoya tak mungkin kabur begitu saja.

Tap. Otoya berdiri di sisi kanan Tokiya yang membuat laki-laki itu mendongak.

"Arigatou..."

Chuuu~

Semua bertepuk tangan melihat sepasang manusia yang ber-gender sama akhirnya bersatu. Begitulah pikiran mereka, tapi tidak untuk keduanya. Ciuman seperti ini sudah sering mereka lakukan dan tak pernah ada ajakan untuk menjalin hubungan secara jelas dari kedua belah pihak. Baik Otoya dan Tokiya, mereka sama-sama nyaman dengan hubungan mereka yang sekarang. Walau jauh dari dalam hati, ia ingin sekali saja mendengar kata 'suka' dari Tokiya, apalagi ajakan untuk menjalin hubungan secara serius seperti Ren dan Masato, misalnya?

Sampai kapan...

.

.

.

...aku harus menunggumu?

Menunggu kata 'suka' meluncur dari mulutmu...

.

.

.

...sampai kapan?

Berulang kali tangan itu menyentuh bibirnya yang memerah. Kedua pasang mata yang sedari tadi mengobrol agak risih juga melihatnya. Terutama Syo Kurusu. Ah, rona merah juga nampak di wajah imutnya yang membuat Natsuki Shinomiya gemas dan ingin memakannya hidup-hidup.

"Oi, Otoya! Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya si penggemar topi tersebut.

"Apa?" tanya balik Otoya dengan wajah innocent-nya.

"Araaa, sepertinya terjadi sesuatu dengan Otoya kita, Syo-kun," sahut Natsuki.

Syo mendengus kecil. "Tidak salah lagi."

Otoya tertawa kecil. "Ahaha, tidak terjadi apa-apa kok. Sungguh!" Ia tersenyum kecil seperti biasanya. Mata ruby-nya sedikit melirik ke komputer yang selama ini dipakai Natsuki sebagai resepsionis Shining Soine-ya Prime. Sedang Syo sendiri sahabat mereka berdua yang sering kali datang untuk berkunjung. Sebenarnya laki-laki chibi dan stylish itu tengah berhubungan serius—istilahnya sih pacaran—dengan sang resepsionis. Tapi jika ditanya, tak ada yang mau mengaku.

Mungkin malu karena mereka gay?

Laki-laki berambut merah itu terdiam.

Benar juga, ia dan Tokiya melakukan kissing di depan banyak orang. Sehingga otomatis mereka akan dibilang gay. Otoya mulai berpikir ulang. Jika aku meminta hubungan yang serius lalu Tokiya meng-iya-kannya, pasti teman-teman di kampus Tokiya akan menjauhinya. Kalau untukku... aku tak mempermasalahkannya. Jika tak ada pelanggan yang meminta jasaku juga, aku tak apa-apa. Aku bisa berhenti bekerja di tempat ini dan mencari pekerjaan yang lain, pikirnya dalam hati.

"Tuh kan, melamun lagi," celetuk Syo sambil menepuk kepala Otoya dengan koran.

"Ittai yo, Syo~," rengek laki-laki itu.

Natsuki tertawa pelan lalu menatap komputernya sebentar.

"Kau sedang ada masalah, Otoya?" tanya Syo khawatir karena tak biasanya sang sahabat banyak berpikir. Kalau laki-laki itu sedang ada masalah memang dirinyalah yang menjadi tempat mengadu. Walau umur Otoya lebih tua beberapa bulan dari Syo, tetap saja Syo yang terlihat seperti seorang kakak. Dan Otoya sangat suka sosok Syo yang seperti itu karena ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya mempunyai kakak laki-laki maupun perempuan.

"Ah! Aku baru ingat!" seru Natsuki tiba-tiba.

"Ingat apa, Natsu-nii?" tanya Otoya.

"Otoya-kun, bagaimana kerjamu dengan Ichinose-san?"

Kedua mata Syo melotot. "Nama itu... laki-laki, kan?"

"Eeeh? Syo-kun tidak tahu? Beberapa minggu yang lalu, Otoya-kun dapat klien laki-laki lho. Bukannya aku sudah cerita, ya?" jelas Natsuki. Namun Syo hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Ia belum pernah mendengar berita sebelumnya. "Jadi, bagaimana? Ceritakan dong pada kami, Otoya-ku~n. Ne, ne, ne?"

Yang ditanya tak menjawab, tapi wajahnya terlihat bersemu.

"Heeeh? Wajahmu merah lho, Otoya," usil Syo.

"M-mou! Futari-domo! Yamete yooo!"

"Ahaha, pasti terjadi sesuatu yang menarik. Ayo ceritakan padaku!" pinta Syo.

Bibir Otoya mengerucut. "Mengaku dulu kalau kalian sedang pacaran."

"..."

"..."

Bibir laki-laki itu semakin maju. "Baik, baik. Aku takkan meminta hal itu, tapi aku juga tak mau cerita apa yang terjadi pada kalian berdua. Oh iya, apa ada klien untukku hari ini?" tanya Otoya, berusaha mengalihkan pembicaraan sepertinya?

Senyum mengembang di wajah Natsuki, begitu juga dengan Syo.

Tapi mendadak tangan Natsuki menarik wajah si chibi untuk mendekat.

Cup! Ciuman kilat mendarat di bibir Syo.

Sontak Otoya dan si korban terbelalak. Antara kaget dan malu. T-ternyata... malu juga melihat mereka ciuman, apalagi para pengunjung waktu itu yang melihatku dan Tokiya ciuman ya, pikir Otoya.

"O-o-o-o-omae! A-apa yang kau l-lakukan, Natsuki!?" seru Syo malu.

"Seharusnya Otoya-kun sudah tahu dengan melihat saja," kata Natsuki pada Otoya.

"Ehe, aku hanya ingin kalian mengaku padaku, itu saja!"

Gumaman tak jelas keluar dari mulut laki-laki yang memakai jepitan berwarna sama dengan cat di kuku tangannya. Natsuki dan Otoya hanya tertawa melihat sosok Syo yang salah tingkah. Jarang-jarang melihat laki-laki itu salah tingkah dengan wajah yang mirip seperti kepiting rebus.

"Apa... kalian malu jika orang lain tahu hubungan kalian yang sebenarnya?"

Pertanyaan Otoya membuat sepasang kekasih itu menenengok.

Sedang yang ditatap hanya menunduk.

Ah, dari semua hal yang terjadi pada Otoya, hanya ada satu kesimpulan yang didapat. Syo menatap laki-laki yang identik dengan warna merah itu dengan wajah serius. "Kau... sedang menjalin hubungan dengan klien laki-lakimu itu, Otoya?" tanyanya dengan nada hati-hati. Bagaimana pun juga, laki-laki itu punya perasaan yang lebih sensitif dari kebanyakan orang.

Pandangannya meredup dalam hitungan detik. "Aku... juga tidak tahu."

"Otoya-kun..." Natsuki memandang sedih sang sahabat.

Grep. Syo dengan mudahnya membawa sosok itu ke dalam pelukannya.

"Kami tidak malu kok, hanya... kami tak mau orang terdekat kami terutama kau, menjauh. Itu saja, Otoya," jawab Syo dengan nada berbisik. Tak lupa senyum kecil muncul di wajahnya.

"Jadi, Tokiya akan dijauhi jika teman-temannya tahu kejadian kemarin?"

"Eh?"

"Kejadian kemarin?"

Syo dan Natsuki saling tatap. Pasti tindakan mereka berdua terlihat di depan umum. Itu yang dipikirkan Natsuki. Syo mengelus rambut Otoya yang tak bergerak sama sekali di pelukannya. Mereka mengerti perasaan Otoya, laki-laki itu tak mau membuat Tokiya jadi kesusahan karena dirinya.

.

.

.

Tiga hari berlalu sejak kejadian di café. Keduanya tak pernah bertemu lagi, bahkan Otoya tak pernah mengajak dirinya untuk bertemu seperti biasa. Tokiya berulang kali menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Hari ini tak ada pesan dari laki-laki itu yang biasanya selalu mengirimi pesan tiap jam makan siang atau saat ia sedang luang. Ia membalikkan halaman buku yang dibacanya dengan tatapan bosan.

Drrrt! Drrrttt!

Dengan cepat ia membuka pesan tersebut.

'Menunggu pesan dari Ikki, ya? ;)'

"Sialan," desisnya seraya melirik ke sekitar dan benar. Ada sepasang manusia tengah memperhatikannya dari ujung perpustakaan. Sepertinya sepasang Jinguji—ingat, mereka sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah—ingin meregistrasi kehadiran mereka. Tak bisakah mereka tidak menggangguku sedetik saja? kesalnya dalam hati. Sekali lagi ia menengok ponsel berwarna ungu miliknya. Apa anak itu marah?

Drrrt! Drrrttt!

Rasa malas langsung menyergap dirinya, takut-takut dari Ren lagi.

'Tokiya-kun, apa kau merindukanku? :D'

Tanpa sadar senyum kecil terlihat di wajah tampan Tokiya.

Dengan cekatan ia mengetik beberapa kata untuk dikirim ke Otoya lewat balasan pesan. 'Percaya diri sekali kau, Otoya. Tumben baru kirim pesan sekarang? Sibuk?' Klik! Pesan pun terkirim.

Tak lama kemudian, pesan balasan datang.

'Ehe, kau bertanya begitu berarti kau merindukanku, Tokiya~ XD Ureshii na!'

Sekarang ia terkekeh pelan.

"Hubungan mereka semakin membaik, ya?" bisik Ren pada Masato.

"Ehm, mungkin." Cup. Masato mencuri ciuman di pipi kiri Ren.

Laki-laki berambut jingga panjang itu hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Tokiya dengan dunianya sendiri. Ia membalas pesan tersebut. 'Kubilang tidak ya tidak. Dasar kau ini-_-'

Send! Tokiya memandang lurus ke depan dan tersenyum.

Kenapa... rasanya berbeda, ya? tanyanya dalam hati.

Drrrt! Drrrttt!

'Ahaha, iya, iya. Ngomong-ngomong, Tokiya-kun selesai kuliah kapan? :)))'

"Kalau kau tanya begitu, tentu saja aku akan menjawab," 'Masih dua tahun lagi, kenapa?' Ia ingin menekan kata 'send' namun tiba-tiba layar ponselnya berubah. Tertera tulisan nama 'Haruka Nanami' di sana tengah menelpon ke nomornya. Ia menghela napas sebelum mengangkat telepon. "Hai, Tokiya desu," jawabnya dengan nada sopan.

"T-Tokiya-san..."

Kedua mata itu menyipit, panggilannya berubah lagi. "Ada apa?"

"K-kau... sedang ada di mana? Su-sudah pulang, kah?"

Dari suaranya terdengar jelas kalau gadis itu tengah menahan tangis. "Kau menangis, Nanami?" tanyanya. Kenapa ia selalu mengingat semua tentang gadis itu sampai sekarang? Lalu ke mana perginya sosok Otoya yang selalu ada di pikirannya tiga hari ini. Seolah lenyap tak tersisa begitu mendengar suara Haruka.

"K-kau di mana?"

Gadis ini tak menjawab sebelum mereka bertemu secara langsung sepertinya.

"Di perpustakaan. Kau di mana?"

"A-aku akan ke sana. Tut, tut, tut."

Tokiya menatap ponselnya dengan wajah bingung. Namun tak bisa dipungkiri, hatinya mulai resah dengan keadaan Haruka. Dengan terburu-buru ia menaruh lagi buku-buku yang sempat ia baca dan merapikan alat-alat tulisnya lalu memasukkannya ke dalam tas selempang berwarna hitam miliknya. Tanpa sedikit pun terpikirkan olehnya sebuah pesan dari Otoya yang belum sempat ia balas.

To Be Continued

Areee!? T^T Nggak nyangka mereka ciuman di tempat café pertama kali mereka bertemu! #Geplaked Kyaaa! , Bagaimana dengan chap ini? Saya ngetik dengan kecepatan penuh lho~ Gak nyampe seharian udah jadi! Aaah, kalo soal OtoToki feel-nya dapet banget, tapi masih mikir dua kali. Sifat mereka di fanfic ini termasuk IC atau OOC, ya? ._. Saya serahkan jawabannya kepada para readers saja. Yaaah, kalo soal si Masa Lalu Tokiya, gak jauh-jauhlah dari kedua gadis itu—si Haruka dan Tomo—karena chara female yang terkenal cuma mereka berdua-_-

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Haruka?

Kenapa Tomo gak terima dengan hubungan mereka berdua?

Mungkinkah Tomo menyukai Haruka? #Geplaked *IniBukanGenreYuriDAHO!

Ahaha, oke, oke. Saya usahain untuk update secepat yang saya bisa karena chap depan adalah chap akhir. Doain aja ya, mudah-mudahan selesai di chap 5. :D

Ah, kalo boleh jujur, fanfic ini banyak clue yang saya kasih untuk fanfic baru saya yang masih dalam proses pembuatan sinopsisnya. *Uuuuups!

Terima kasih ya buat para readers semua yang menyempatkan diri untuk baca fanfic saya. Para silent readers dan reviewers : yuna [wah, makasih buat review-nya sebelumnya :D Ini udah continue tapi saya gak bisa perpanjang chapter-nya sampe 10 ke atas, mungkin di chapter depan juga udah saya tamatin. Ohoho, of course, Otoya jadi uke. Uke tipe-tipe menggoda gitu, keliatan dari luar seperti seme tapi sebenarnya Otoya yang uke. :3 Walau saya fans berat Otoya, tapi gak rela juga kalo Otoya yang jadi seme, wk!], 12hellgril [kejadian lebih ya? Hmm, adegan di atas termasuk lebih, kah? Kan mereka kissing di depan umum _ Ini udah dilanjutin, :) makasih buat review-nya, ehehe. Soal Maji Love STARISH, masih dalam proses. :3 Ditunggu aja ya :D], Ya-chan [ehe, arigatou untuk review-nya :D wah, bagus deh kalau Ya-san suka :) Ini udah kulanjutin, bersedia untuk membaca lagi? :3] Arigatou gozaimasu! #Bow

Ah, saya gak bisa cuap-cuap lebih lama lagi, kaki mau diistirahatin dulu karena seharian jalan terus. #Curcol Sekarang-sekarang ini Indonesia terkena bencana banjir. Yang paling parah daerah Jakarta. Mudah-mudahan para korban bisa tabah dan sabar menghadapinya. #Pray

Yosh! Minna, Keep Pray For Our Country and Our City!

See You Next Order(?)!