Kedua mata ruby-nya menatap ponsel jingganya. "Nggak dibalas lagi. Menyebalkan," gumam laki-laki itu seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku jeans birunya. Ia melangkah keluar dari kereta listrik dan pergi menuju pintu keluar stasiun. Tak butuh waktu lama untuknya sampai di tempat tujuan, yaitu Touou Daigaku, tempat kuliahnya Tokiya Ichinose. Beberapa mahasiswa tampak keluar dari tempat tersebut, salah satunya Ren Jinguji. Oh, ada seseorang yang dikenalnya lagi tengah berjalan beriringan dengannya.
"Ren-san! Masato-san!" panggil Otoya sambil berlari kecil menghampiri mereka.
"Oh, Ikki? Mau menjemput Ichii, ya?" tanya Ren to the point.
Otoya nampak malu-malu menjawabnya dan hanya tertawa kecil.
"Hubungan kalian semakin dekat kalau kuperhatikan lagi," kata Masato.
"Hm? Biasa saja kok," jawab Otoya sekenanya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, bermaksud untuk mencari sosok Tokiya yang biasanya selalu dengan kedua makhluk hidup di hadapannya ini. "Ngomong-ngomong, Tokiya di mana? Biasanya kalian selalu bertiga," heran Otoya sambil tetap mencari sosok tersebut.
Ren menengok ke arah gedung kampus. "Tadi sih, Ichii masih ada di perpustakaan."
"Heeeh? Di perpustakaan? Kukira dia masih ada kelas karena tak membalas pesanku."
Alis Masato naik sedikit. "Bukannya Tokiya memang mengirim pesan padamu?"
"Dia cuma membalas dua pesanku, sisanya tidak dibalas. Menyebalkan." Wajah Otoya nampak cemberut. Melihat tingkah laki-laki itu seperti anak kecil, tentu saja membuat sepasang manusia di hadapannya tertawa kecil. Pantas saja Tokiya cepat berubah jadi lebih ekspresif dari sebelumnya, pikir keduanya. "Ah! Aku akan ke perpustakaan saja, sekaligus memberikannya surprise!" seru Otoya bersemangat.
"Belok kanan saja, nanti juga ketemu perpustakaannya," tunjuk Ren.
"Oh, hai! Arigatou gozaimasu!"
Ia pun pergi ke perpustakaan sambil berlari kecil. Namun langkahnya terhenti begitu merasakan ada beberapa tetes air mengenai wajahnya. Sontak ia mendongak. "Eh? Sudah hujan?" Dengan cepat ia berlari menuju gedung perpustakaan yang sepertinya dipisah dengan gedung utama. Lagi-lagi, ada sesuatu yang menahan langkahnya. Tubuh Otoya tak bergerak sama sekali, padahal gedung itu sudah berada satu meter dari tempatnya berdiri.
Deg. Detak jantung berhenti untuk beberapa saat.
"Tokiya..."
Setitik air mata perlahan menggenangi sudut matanya.
Rasa sesak yang sempat ia rasakan tiga hari yang lalu, kini kembali datang. Bahkan lebih menyesakkan dari sebelumnya. "Kenapa...?" lirih Otoya bersamaan dengan menurunnya air mata yang sempat tertahan di sudut matanya. Ia menahan isak tangisnya begitu melihat sepasang manusia tengah berpelukan di depan pintu perpustakaan. Salah satu di antaranya adalah Tokiya Ichinose, laki-laki yang ingin diberikan surprise olehnya tapi sekarang justru dirinya yang diberikan surprise oleh Tokiya.
Tangan kanannya bergetar, tubuhnya pun juga ikut bergetar.
Laki-laki itu masih tak menyadari keberadaannya setelah beberapa menit berlalu.
Apa... gadis itu... seseorang di masa lalu Tokiya? pikirnya.
"Seharusnya kau bilang soal ini sejak awal, Nanami."
Sayup-sayup ia mendengar suara Tokiya yang tengah mengelus rambut sang gadis. Si gadis yang dipanggil Nanami oleh Tokiya hanya terisak dan berucap. Namun suaranya termakan oleh rintikan hujan yang semakin deras sehingga tak terdengar. Melihat betapa serasinya mereka, tentu membuat Otoya menunduk.
"Mereka serasi, kan?"
Otoya menengok ke sisi kirinya, terlihat seorang gadis berambut merah panjang tengah berdiri dengan memegangi payung berwarna putih di tangan kanannya. "S-siapa?" tanya Otoya.
"Sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu."
"..."
"Kau dan Tokiya... sedang pacaran?"
"..." Otoya tak sanggup menjawabnya dan hanya bisa menunduk.
Gadis itu yang diketahui bernama Tomochika tersenyum kecil. "Tapi kalian 'kan sama-sama laki-laki. Mana mungkin bisa bersama." Melihat tubuh laki-laki yang tengah dipayunginya jadi kaku, Tomo semakin melebarkan senyumnya. "Sadarlah, banyak orang yang tak bisa menerima hubungan kalian jika kalian bersama. Lihat," Tomo menatap kedua orang yang tengah berbagi kehangatan di depan mereka. "Sekali lihat pun kau sudah tahu 'kan, kalau mereka masih saling menyukai."
Wajah Otoya berpaling ke sisi kanan, berusaha menghindar dari tatapan Tomo.
"Seharusnya kau sadar, sampai kapan pun Tokiya akan terus menyukai Haruka."
"..."
"Haruka sudah berusaha menjauhi Tokiya, tapi Tokiya selalu tahu kapan Haruka membutuhkannya dan ia langsung pergi menghampiri Haruka." Tomo menatap laki-laki di sampingnya yang masih tak bergerak sama sekali. Matanya teralih pada Tokiya dan Haruka yang terlihat ingin berciuman. "Kau itu bodoh atau apa? Dari awal seharusnya kau sadar, kalau kau hanya dijadikan pelarian sementara oleh Tokiya," katanya lagi.
Otoya menatap lurus ke depan dan isakannya semakin menjadi.
"M-memang aku tahu, tapi... hiks."
Tubuh itu berbalik ingin meninggalkan tempat yang membuat hatinya semakin sesak jika terus berlama-lama di tempat ini. Seharusnya aku tahu, seharusnya aku tidak berharap lebih pada Tokiya. Tapi... tapi kenapa perasaanku tak mau menurutiku? Kenapa? Ia perlahan mulai melangkah pergi, dan berlari keluar area Touou Daigaku. Tangannya mencengkeram kaos hitamnya pada bagian dada. Sakit, sakit. Otoya terus mengeluh sakit di dadanya.
"Jangan pernah kau anggap senyumku hanya senyum paksaan, Otoya. Aku tersenyum karena aku ingin, dan itu semua karena kau ada di sampingku."
Padahal sejak awal aku sadar, Tokiya takkan bisa serius denganku...
"Hiks, hiks, kenapa? Kenapa kau masih berharap, Otoya-baka!?"
Langkahnya terhenti tepat di depan halte bis.
Tokiya... ucapannya waktu itu... bohong, kan?
"Iya, aku tahu! Aku tahu!" serunya dengan wajah menunduk. Orang-orang yang tengah menunggu bis datang memandanginya. Ada beberapa yang berbisik dan berkomentar. Betapa menyedihkannya sosok Otoya sekarang karena ditolak secara tidak langsung oleh orang yang dicinta. Begitulah pemikiran Otoya. Ia kembali berjalan melewati halte dan ingin kembali ke apartemennya dengan menaiki kereta lagi.
Tap, tap, tap.
Tap, tap, tap.
Bruk! Tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang. "Gomen."
Hanya itu yang terucap dari bibir Otoya, tanpa sedikit pun menatap orang yang ditabraknya. Sementara orang tersebut hanya memandang Otoya dengan wajah bingung. Sesaat ia melihat beberapa tetes air mata—yang sempat dikiranya adalah tetesan hujan—mengudara setelah laki-laki itu pergi melewatinya dengan langkah terburu-buru. "Sepertinya anak itu sering ke Touou Daigaku, tapi aku sama sekali tak pernah melihatnya di kelas mana pun," katanya mencoba mengingat-ingat seraya kembali melangkah menuju Touou Daigaku.
Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli
Laki-Laki Sewaan by Oto Ichiiyan
Rate : T semi M
Genre : Romance, Drama, Humor (Garing)
Pairing : (Just) OtoyaxTokiya
Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam ketika Tokiya Ichinose sampai di apartemennya dengan pakaian serba basah. Saat pintu tertutup, ia mulai terserang gejala flu. Berulang kali bersin dan sukses membuat Tokiya ngedumel sendiri. Ia masuk ke dalam kamar dan mengambil beberapa helai pakaian sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku takut... aku takut, Tokiya..."
Suara Haruka kembali terngiang di benaknya.
Gadis itu pada akhirnya bercerita padanya tadi siang.
Kenyataan bahwa ia tak sanggup untuk meneruskan hubungannya dengan sang dosen dari jurusan sastra karena beberapa kali Haruka melihatnya tengah berduaan dengan gadis lain. Sejak awal memang Tokiya tidak terima dengan keputusan gadis itu untuk tetap memilih si dosen. Bukan, bukan berarti ia tidak terima dengan putusnya hubungan mereka berdua. Tapi Tokiya tidak terima jika Ryuuga-sensei yang menjadi pacar Haruka. Ia tahu sejak awal kalau sang dosen sudah memiliki tunangan, dan berulang kali ia coba menjelaskan pada Haruka. Namun gadis itu tak mau mendengarnya dan bilang kalau dirinya tak apa-apa karena ia yakin, pada akhirnya Ryuuga memilih dirinya.
"Dasar gadis naïf," gumam Tokiya seraya berjalan menuju kasurnya yang masih berantakan dengan beberapa lembar kertas di atas kasur.
Ia duduk di ujung kasur dan mengambil ponsel dari dalam tas.
Ada satu pesan masuk dari Otoya.
Segera ia buka pesan tersebut karena baru ingat kalau laki-laki itu ingin menemuinya. 'Tokiya-kun, balas dong! T^T Teganya kau membuatku menunggu lagi~ Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Aku merindukanmu, Tokiya :))) #EmotLoveLove' Tokiya menengok jam dinding yang terpasang di dinding atas kasurnya. "Apa dia masih menungguku di café biasa? Tapi anak itu tidak bilang akan menunggu di café," gumam Tokiya ragu seraya menekan tulisan 'reply'.
'Maaf baru balas, tadi aku sibuk di lab. Kau tidak menungguku di café, kan?'
Rasa ragu sempat masuk ke dalam hatinya.
Haruskah ia berbohong, tapi kalau tidak...
Send. Pesan itu pun dikirim. Tokiya berjalan ke depan cermin lalu menyisir rambutnya yang acak-acakan setelah dikeringkan dengan handuk. Sesekali ia melirik ke ponselnya yang ia geletakan di antara beberapa lembar kertas berisi tesis yang sudah ia buat sebagian.
Sedang di lain tempat...
"Heh? Berbohong padaku, ya?"
Otoya—laki-laki yang mendapat pesan dari Tokiya—hanya tersenyum tipis.
Ia tampak menutupi tubuhnya dengan selimut di atas karpet berbulu sambil bersandar pada kasur. Kamarnya gelap gulita dan hanya cahaya dari ponselnya saja yang menjadi sumber penerangan. Suram. Menyedihkan. Kenapa dirinya harus jadi seorang Otoya Ittoki yang menyedihkan lagi setelah bertahun-tahun hidupnya dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan?
"Aku harus membalasnya atau tidak ya, Cecil?"
Seekor kucing masuk ke dalam kamar dan terduduk di dekat sang majikan.
"C-Cecil, jawab dong... Apa aku harus membalasnya?"
Si kucing yang dinamai Cecil itu berusaha menggerakkan tangan Otoya yang tengah memegangi ponselnya. Mungkin bermaksud untuk menyuruhnya membalas pesan tersebut? Tangan Otoya yang lain mengelus kepala Cecil dengan lembut diiringi air mata yang terus keluar dari kedua matanya. "Baiklah, akan kubalas seolah kejadian itu tak pernah kulihat." Senyum aneh muncul di wajah tampannya.
Cecil menatap laki-laki itu dengan pandangan khawatir. Otoya...
"Ayo, kita mulai sandiwara ini."
Drrrt! Drrrttt!
Sebuah pesan balasan yang ditunggu Tokiya akhirnya datang ke ponselnya.
'^_^ Aku tau kok, Tokiya-kun 'kan orangnya sibuk. Tak apa, aku mengerti. Tapi jangan lama-lama lagi ya, balasnya T^T Aku lelah menunggunya, tahuuu -3- Oh iya, sudah ya, aku ada pekerjaan. Ja, Tokiya! #EmotLove Oyasumi, dan semoga mimpi indah ;) Mimpikan aku juga, ya? :* ^^v'
Pesan yang cukup panjang bagi Tokiya.
Ia membalas pesan tersebut, walau ada rasa aneh menyelimuti hatinya.
'Terima kasih atas pengertiannya, Otoya. Oyasumi. -_-Zettai, muri desu.'
.
.
.
Haruskah aku memutar arah sekarang...
.
.
.
...dan menjadi seorang Otoya Ittoki seperti dulu?
Seperti sebelum mengenalnya?
.
.
.
Natsuki Shinomiya menatap lurus ke depan. Di hadapannya ada seorang laki-laki berambut merah menyala yang entah kenapa memilih pakaian serba hitam untuk ia kenakan hari ini. Berbeda dengan ciri khas sosok itu yang biasanya memakai pakaian serba terang, begitulah pemikiran Natsuki sekarang. Ia memandangi laki-laki tersebut sambil memberikannya segelas jus jeruk. "Kau kenapa, Otoya-kun? Pakaianmu lumayan aneh hari ini," kata sang resepsionis dari Shining Soine-ya Prime tersebut.
Otoya terkekeh pelan. "Dou desu ka? Kakoi ka?" tanyanya dengan nada narsis.
"Seperti bukan Otoya Ittoki yang kukenal."
"Che, aku 'kan hanya mencoba merubah penampilanku sedikit. Kenapa tidak kau hargai sih, Natsu-nii~?" sahut Otoya plus wajah merengek. "Itu sih bukan sedikit, tapi banyak. Sampai-sampai aku tak mengenalimu." Mendengar ucapan Natsuki yang kelewat jujur, tentu membuat ia menyerah. Otoya menghela napas berat kemudian menyeruput jus jeruknya. "Tapi tak apa 'kan kalau bisa membuat klien makin bertambah," kata Otoya lagi.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal klien, hari ini kau bisa bebas, Otoya-kun."
Alis Otoya naik sebelah. "Berarti tak ada klien yang menyewaku?"
Natsuki mengangguk sambil melepas dasi pitanya yang mulai membuatnya sesak.
Mata ruby itu menatap beberapa pekerja lain selain dirinya. Seorang di antaranya adalah Mikaze Ai dan Mikado Nagi yang tengah berjalan beriringan menuju tempatnya duduk. "Yo, Ai-chan, Nagi-chan! Hisashiburi~!" sapa Otoya pada kedua orang yang jarang sekali ia temui akhir-akhir ini.
Ai menatap Otoya dengan tampang datar. "Berhentilah memanggilku seperti itu."
"Eh? Memang kenapa? Kan panggilan itu sesuai denganmu, Ai-cha~n," sahut Nagi.
"Tapi banyak orang yang mengira aku ini perempuan, Nagi."
Wajah Otoya langsung tertekuk. "Jahatnya... Sapaanku langsung dianggap angin lalu oleh mereka," gumamnya dengan background suram.
Tawa kecil terdengar dari Natsuki Shinomiya. "Sudah lama aku tak melihat kalian bertiga berkumpul. Ah, sayang sekali tak ada Syou-kun."
Alis Ai naik sebelah. "Memang kenapa kalau ada Syo?"
"Aku suka melihat trio chibi berkumpul." Natsuki tersenyum lebar.
"Ehehe, benar juga, ya?" Nagi terkekeh pelan dan membuat yang lain ikut tertawa.
"Sebentar lagi aku ada kelas. Maaf ya, aku duluan!" pamit Otoya seraya melangkah keluar dengan agak tergesa-gesa. Ia hiraukan pandangan heran dari ketiga temannya tersebut dan terus melangkah sambil mengutak-atik ponselnya yang barusan menerima sebuah pesan. Pandangan Otoya sempat terpaku begitu melihat siapa si pengirim pesan yang ternyata adalah Tokiya, laki-laki yang tak ingin ia temui akhir-akhir ini.
'Maaf, aku benar-benar sibuk sekarang, Tokiya. ^~^ Lain kali saja, ya?'
Send
Tak lama kemudian ia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya. Tingkahnya sukses membuat Otoya jadi pusat perhatian para pejalan kaki lain. "Sampai kapan? Sampai kapan... aku melarikan diri dari... Tokiya?" lirih Otoya.
.
.
.
'Maaf, aku benar-benar sibuk sekarang, Tokiya. ^~^ Lain kali saja, ya?'
Menghela napas. Hanya itu yang bisa Tokiya lakukan sekarang begitu membaca pesan balasan dari 'laki-laki yang pernah disewa Ren' tersebut. Aneh, pikirnya. Ia bingung dan terkadang gelisah sendiri karena perubahan sikap Otoya yang biasanya hanya dua sampai tiga hari absen untuk tidak mengiriminya pesan, tapi sekarang lebih dari seminggu laki-laki itu tidak mengirim pesan. Bahkan karena—ehem—terlalu cemas, Tokiya rela membuang harga dirinya yang tinggi untuk mengirim pesan lebih dulu.
Ren memperhatikan sang sahabat. "Kenapa? Ada masalah dengan Ikki?"
Check mate. Sekali lihat, Ren sudah tahu kalau mereka berdua sedang ada masalah.
"Entahlah."
Jawaban Tokiya membuat Masato menatapnya heran karena terdengar helaan napas berat setelahnya. Mata dark sapphire-nya menatap Ren yang ikut menatapnya balik. "Kalau ada masalah, kau bisa ceritakan pada kami. Mungkin kami tak bisa membantumu, tapi kami bisa jadi pendengar yang baik," kata Masato seraya memasukkan sesendok sup tofu ke dalam mulut.
"Tidak apa-apa."
"Oh iya." Ren menyangga dagu. "Seminggu yang lalu, Otoya ke kampus."
"...ke kampus?" Nada terkejut terdengar jelas dari suaranya.
Ia mengangguk kecil. "Kalian memang tidak bertemu?"
"..."
Masato menahan sendok di mulutnya, seperti tengah berpikir lalu menaruhnya lagi ke dalam mangkuk. "Kalau dipikir-pikir lagi, aku sama sekali tidak bertemu Ittoki di depan gerbang kampus akhir-akhir ini. Kalian sedang bertengkar atau bagaimana?" bingung laki-laki tersebut.
Tokiya mulai berpikir tentang apa yang diucapkan kedua sahabatnya.
"Ren, bisa kau jelaskan kapan terakhir kau melihatnya di kampus?"
"Mm, seingatku saat kita bertemu di perpusatakaan dan melihatmu tengah kirim-kirim pesan dengan Ikki. Ingat, kan?" jelas Ren dengan bertanya balik di akhir. Kedua alis laki-laki tersebut naik begitu melihat sahabat terbaiknya tiba-tiba berdiri dan memasukkan beberapa buku yang dibawanya ke dalam tas. "Ichii, kau mau ke mana?"
"Tolong kau bayar pesananku, Ren. Aku ganti besok!"
"EEEH!? Ichii, tunggu!" Ren ingin mengejar Tokiya tapi tidak jadi.
Dengan santai Masato berucap, "Biarkan saja dia mengurus urusannya sendiri."
"Kau tahu apa yang terjadi?"
Yang ditanya mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tahu.
.
.
.
Lagi, Otoya menghela napas. Entah kenapa kegiatan yang ia lakukan hari ini sangat membosankan. Terlebih tak ada klien yang datang untuk menyewanya. "Dari kemarin, setelah pulang dari kampus pasti hang out dengan klien sampai malam. Tapi sekarang?" Background suram ditambah mukanya yang terlihat agak mengkerut membuat beberapa pejalan kaki bergedik ngeri dan memilih untuk menjauh.
Drrrt! Drrrttt!
Ia mengambil ponselnya yang bergetar dari saku jeans-nya.
'A new message from Tokiya Ichinose.'
Begitulah tulisan yang tertera di layar ponselnya.
Tanpa membuka pesan tersebut, Otoya memasukkan lagi ponsel jingganya ke dalam saku seraya masuk ke dalam sebuah café. Laki-laki itu tidak sadar kalau café yang ia masuki merupakan café yang tak mau ia singgahi.
Dari semua café yang ada, kenapa aku harus ke sini? pikirnya dalam hati.
"Irrashaimase, Goshuujin-sama."
Laki-laki itu terkesiap karena tiga pelayang sekaligus memberinya ucapan 'selamat datang' padanya. "Anoo..." Ah, sekarang ia makin bingung begitu melihat suasana café yang, err, terlihat agak beda. Mungkin bedanya hanya di... "Fotoku dengan...!?" Otoya memekik dan membuatnya kembali menjadi pusat perhatian. Dengan cepat ia berbalik, "Sepertinya aku salah masuk café. Maaf, permisi..."
Belum sempat melangkah, ia merasa bahu kirinya ditahan.
"Tidak perlu tergesa-gesa seperti itu, Otoya."
"Eh?" Merasa kenal dengan suara tersebut, sontak Otoya menengok.
"Yo."
"S-Satsuki! Sedang apa kau di sini?" tanya Otoya, reflek.
Ya, di hadapannya kini tengah berdiri seorang Satsuki Shinomiya, kakak kembaran Natsuki Shinomiya yang menjadi resepsionis di Shining Soine-ya Prime. Kedua mata ruby-nya menatap Satsuki dari atas ke bawah. "Habis ketemu klien?" tanyanya tidak yakin. Pasalnya café yang mereka singgahi sekarang tidak—sangat tidak!—cocok untuk melakukan meeting dengan klien, kecuali jika laki-laki tanpa kacamata di hadapannya ini ingin melancarkan PDKT pada sang klien.
"Hm? Klien? Tidak."
"Lalu?"
Satsuki menyeringai dan membuat Otoya bergedik seketika. "Aku pemilik café ini, O-to-ya," ucapnya sambil melipatkan kedua tangan ke depan dada.
"...hah?"
"Masih kurang jelas? Apa perlu kuantar ke spesialis THT?"
"...tapi kau? Sejak kapan?" heran Otoya karena ia tak pernah dengar kalau kembaran Natsuki ini membuat café untuk dikelolanya sendiri.
"Tentu saja, sejak café ini dibangun. Awalnya Natsuki yang berinisiatif untuk membuat café, tapi lama-kelamaan bocah itu malah menyuruhku untuk mengurusnya. Menyebalkan, bukan?" jelas Satsuki dengan nada kesal di akhir begitu mengingat tingkah Natsuki yang sempat membuatnya ingin mengamuk di saat itu juga.
Otoya hanya tertawa dipaksakan karena tak ada yang lucu.
"Oh iya, bisa kita bicara sebentar di ruanganku?"
Alis Otoya mengkerut. "Untuk apa?"
"Aku ingin bicarakan sesuatu hal denganmu soal kejadian seminggu yang lalu dan sukses membuat manager-ku kewalahan semua pengunjung yang histeris karena ulah dua manusia yang mengumbar kemesraannya di café-ku."
"Eh?" Keringat dingin meluncur dari dahi menuju bawah dagu. Bukan hanya satu, tapi tak terhitung lagi. 'Ya ampun, Kami-sama... Kenapa harus Satsuki yang menjadi pemilik café ini? Ingin rasanya Otoya kabur sekarang juga dari hadapan Satsuki yang sudah mengeluarkan aura hitam dari sekitar tubuhnya. "E-etoo... a-apa maksudmu, S-Satsuki?" tanya Otoya, pura-pura tidak tahu. Tanpa sadar, ia mulai melangkah mundur.
Kedua mata emerald Satsuki melirik ke sekitar. "Kita ke ruanganku, SEKARANG!"
Mendengar satu kata terakhir Satsuki yang penuh penekanan, tentu saja Otoya tak bisa membantah dan pasrah diseret oleh laki-laki tersebut untuk masuk ke ruangannya.
Tepat setelah keduanya pergi dari ambang pintu café yang sengaja dibuka, sosok Tokiya Ichinose datang dengan napas terengah-engah. Pikirannya kalut saat ini dan tanpa sadar berlari menuju café yang sering dijadikan tempat ketemuan oleh mereka berdua. Ia dengan Otoya Ittoki, laki-laki yang ingin ia temui sekarang. Pandangannya tertuju pada kursi dan meja yang berada di pojok café, tempat mereka biasa menghabiskan waktu untuk makan malam bersama. Namun sosok itu tak ada di sana.
Ia pun berbalik untuk mencari ke K Daigaku, tanpa bertanya pada maid.
Di lain tempat, Otoya hanya bengong mendengar tawaran dari Satsuki.
"Bagaimana?"
"T-tunggu, bisa kau ulangi ucapanmu barusan?" pintanya.
Satsuki menghela napas. "Aku berharap kau bersama pacarmu mau menerima tawaranku untuk jadi model café-ku ini dan di majalah bulanan STARLIGHT yang merupakan cabang dari perusahaan keluargaku." Dengan sabar ia mengulang lagi lalu menyesap jus melon.
"Kau bercanda?"
"Aku serius."
Otoya menunduk dan menatap jus jeruk di depannya. "Sepertinya... tidak mungkin."
"Kenapa? Bukannya bagus untuk langkah pertamamu di dunia hiburan?"
"Bukannya begitu... hanya saja... aku tak yakin Tokiya mau," sahutnya sambil melirik ke samping. Lama-lama ia agak risih jika ditatap secara intens oleh Satsuki. "Dan lagi, kami tak pernah pacaran. Kejadian itu, murni hanya akting," aku Otoya.
"Mana mungkin hanya akting, jelas-jelas kalian saling suka," elak laki-laki itu.
"Serius, Satsuki! Kalau pun 'iya', itu hanya perasaan sepihak dariku."
"Memang kau pernah meminta kepastian darinya?"
Laki-laki itu menggeleng pelan dan meminum jus jeruknya. "Aku sering menyatakan perasaanku pada Tokiya, tapi ia tak pernah menjawab pernyataanku. Menyebalkan, bukan?" tanya Otoya dengan wajah cemberut.
"Heeeh? Sepertinya kau benar-benar menyukainya."
"...m-memang. Tapi... ya begitu..."
"Dia sudah punya pacar perempuan?"
Lagi, Otoya menggeleng. "Tokiya... trauma dengan perempuan."
"Lalu? Apa orang itu masih tak percaya kalau dirinya jadi seme-mu?" Pertanyaan yang cukup blak-blakan dari Satsuki itu tentu membuat wajah Otoya memerah seketika. Nampaknya ia ingin mengelak, tapi Satsuki berujar kembali. "Dilihat dari mana pun kau cocok jadi uke, Otoya."
"Ugh, tapi setidaknya jangan terlalu jujur juga 'kan bisa, Satsuki."
"Maaf saja, aku orangnya terlalu jujur."
Pandangan horror Otoya tunjukkan pada kembaran Natsuki tersebut.
"Jadi, bagaimana?" tanya Satsuki tidak sabar.
"Bisakah beri aku waktu? Aku ingin mencoba untuk bicara padanya."
"Baiklah."
.
.
.
Walau aku tak yakin...
.
.
.
...bisa bertemu dengannya lagi...
.
.
.
Hari sudah malam ketika Otoya Ittoki sampai di gedung apartemennya. Ia menghela napas berat begitu mengingat pembicaraannya dengan Satsuki Shinomiya tadi sore. "Otoya-kun!" Seseorang memanggilnya dari meja resepsionis. Dengan segera ia melangkah untuk menghampirinya. "Ada apa, Shizuka-chan?"
"Kukira Otoya-kun tidak pulang malam ini, jadi aku ingin menghampiri laki-laki asing yang pernah bersamamu ke sini karena sedari tadi menunggumu."
"Laki-laki... yang pernah bersamaku?"
Tak butuh waktu lama untuknya berpikir siapa orang yang dimaksud.
Pasti Tokiya karena hanya dia laki-laki asing yang pernah kubawa ke apartemenku.
"Apa perlu dia mengganggu Otoya-kun? Sepertinya Otoya-kun tidak suka padanya."
Otoya langsung menolak tawaran tersebut seraya tersenyum penuh pesona dan sukses membuat dua resepsionis tersebut merona. "Aku akan mengurusnya sendiri. Terima kasih untuk informasinya." Ia melangkah menjauhi meja resepsionis lalu mengambil ponsel berwarna jingga terangnya yang ada di dalam tas. Dengan cepat ia mencari nama seseorang di kontak teleponnya.
'Tuuut... Tuuut... Tuu—moshi moshi?"
"Ah! Miya-chan! Konbanwa!"
"Konbanwa, Otoya-kun. Ada apa menelponku malam-malam begini?"
Ia agak kesusahan merangkai kata-katanya. "Etoo, aku perlu bantuanmu."
"Bantuan?"
.
.
.
Dalam diam Tokiya mulai mengetik beberapa kalimat di ponselnya untuk dikirim ke email Otoya Ittoki, si pemilik apartemen 515. Sudah hampir tiga jam ia menunggu dengan sabar di depan pintu apartemen tersebut dan sudah puluhan kali ia coba untuk menelpon laki-laki tersebut. Tapi tak satu pun diangkat. Sekarang Tokiya ingin mencoba mengiriminya pesan sebelum pergi karena sepertinya Otoya tidak pulang.
Tap, tap, tap.
"Terima kasih ya, sudah mengajakku hang out lagi hari ini, Miya-chan."
Suara yang sangat dikenal Tokiya terdengar.
Sosok yang ditunggu-tunggunya pun muncul dari ujung koridor. Deg. Jantung Tokiya berhenti mendadak begitu melihat ada seorang gadis cantik tengah bergelayut manja di lengan kiri Otoya. Mereka terlihat bahagia dan saling bertukar senyuman. Walau ia tahu pekerjaan Otoya seperti itu, tapi hatinya terasa sakit sekarang.
"Seharusnya aku yang berterimakasih, Otoya-kun."
Nada manja itu, entah kenapa membuat Tokiya kesal.
"Are? Ada Tokiya? Sedang apa kau di depan apartemenku?"
Pertanyaan Otoya membuat Tokiya tersadar. "Aku ingin bertemu denganmu."
"Eh? Dia siapamu, Otoya-kun? Aku belum pernah bertemu dengannya," sahut gadis yang tadi sempat dipanggil 'Miya-chan' oleh Otoya.
"Ah, dia temanku, Tokiya Ichinose," jawabnya dengan nada biasa.
"Ooh." Gadis berambut serupa dengan Otoya itu tersenyum lalu menunduk sedikit.
Tokiya ikut tersenyum. "Maaf sebelumnya, bisa beri aku waktu untuk bicara berdua dengan Otoya?" tanyanya meminta izin.
Ia mengedipkan matanya beberapa kali lalu nampak meneliti Tokiya dari atas ke bawah. Miya mengangguk sedikit seraya menatap laki-laki di sampingnya. Tatapannya menajam seolah berkata, 'jelas-jelas dia orang baik-baik, kenapa kau sebut dia laki-laki jahat?' Lagi, sang gadis tersenyum manis pada Tokiya. "Tentu, silahkan. Kalau begitu, aku pulang ya, Otoya-kun," pamitnya tiba-tiba yang tentu saja membuat Otoya melotot ketika kakinya mulai melangkah.
"M-Miya-chan! Katanya mau menginap di tempatku malam ini!"
Otoya menatap gadis itu memelas, 'cepat kembali dan bantu akuuu!'
Gadis itu tak berbalik dan hanya melambaikan tangan.
Siaaal! Sepertinya aku salah menelpon klien, pikirnya dalam hati. Seperginya Miya, Otoya tak mau membuka pembicaraan lebih dulu. Ia lebih memilih untuk diam sampai Tokiya yang memuilai. Kepalanya terus menunduk tanpa menatap laki-laki berambut biru kehijauan tersebut.
"Kau berusaha menghindariku dengan membawa klienmu ke sini, kan?"
"Huh? Tidak kok, dia memang klienku hari ini."
"Memangnya aku tidak tahu. Hari ini kau tak ada klien."
Kepala Otoya terangkat sedikit dan menatap Tokiya.
"Aku sempat ke tempat kerjamu dan bertanya pada Shinomiya-san," jelasnya.
Laki-laki berambut merah yang kontras sekali dengan pakaiannya itu menghela napas berat. Kedua tangannya ia lipat ke depan dada. "Aku tidak bermaksud untuk menghindarimu, aku... hanya tak ingin melihatmu dalam waktu dekat-dekat ini saja," sahutnya dengan setengah berbohong.
"Aku juga tahu, kau... melihatnya, kan?"
Pertanyaan melenceng dari Tokiya membuat Otoya menatapnya lekat-lekat.
"Otoya..." Ia melangkah mendekati sosok itu yang nampak terpaku.
"Pfft, ahaha!" Tawa Otoya pecah di saat itu juga. Entah apa yang Otoya tertawakan, ia sendiri juga tidak tahu. Bahkan tawanya terkesan memaksa dan tentu saja membuat Tokiya menatapnya khawatir. Tangannya menghapus setitik air mata di kedua ujung matanya. "M-maaf, maaf! Ahaha, aku hanya tak habis pikir, kenapa kau terdengar seperti mencemaskanku begitu? Dan lagi, memangnya aku melihat apa?" tanyanya yang jelas-jelas seperti orang terngah berbohong.
"Jangan bohong padaku lagi, Otoya." Pandangan Tokiya menajam.
"Eh? Aku tidak berbohong kok. Aku tidak menemuimu di kampusmu."
"Kenapa kau bisa tahu kalau tempat yang kumaksud itu di kampus?"
"..." Crap! Salah bicara, kagetnya dalam hati yang ditutupi oleh tawa kecil dari mulutnya. "Biasanya 'kan, aku menemuimu di kampus atau di café," katanya berdalih.
"Kumohon, jangan berbohong lagi. Kalau kau marah, bilang padaku," pinta Tokiya.
Otoya tersenyum paksa. "Untuk apa aku marah padamu sih? Dasar aneh."
"..." Keras kepala, Tokiya tahu sikapnya yang satu itu.
"Oh iya, mau masuk ke dalam? Suhunya semakin dingin di luar sini," tawarnya seraya berjalan ke depan pintu. Baru saja ia ingin ambil kunci dari tas selempangnya dan memasangnya ke lubang kunci, tapi dua buah tangan mencengkeram kedua bahunya sehingga ia terbentur pintu. Mata melotot melihat sosok Tokiya yang menatapnya dengan sorot mata yang tajam. "T-Tokiya!? Apa yang kau lakukan!? Sakit, tahu!" serunya.
"Tatap aku dan jawab dengan jujur!"
"..."
"Kau melihatku dengan mantanku itu 'kan sewaktu kau ingin mengajakku ketemu?"
"..." Kedua mata Otoya berpaling ke arah yang lain. Berusaha menghindari kontak mata dengan laki-laki tersebut. "Tidak kok, waktu itu... aku benar-benar sedang ada klien." Lagi-lagi, ia berusaha berbohong pada Tokiya. Dengan paksa tangan kanan Tokiya menarik dagunya. Jantung Otoya berdetak tak karuan. Sudah lama ia tak sedekat ini dengan sosok Tokiya seperti sekarang. "T-Tokiya..." Mata ruby-nya mulai berkaca-kaca, emosinya tak bisa ia bendung lagi.
Kepala Otoya menunduk dan bersandar pada dada Tokiya. "Kenapa...?"
"..." Laki-laki itu hanya diam, memfokuskan diri dengan ucapan Otoya.
"Kenapa? Padahal... aku tahu, kau masih mencintainya... tapi kenapa rasanya sakit?"
"Karena kau sungguh-sungguh mencintaiku."
Mendengar ucapan Tokiya membuat air matanya mengalir. "Jahat! Kau tahu itu tapi kenapa kau selalu mempermainkanku? Padahal—hiks—sekarang aku b-berusaha untuk menghindarimu, tapi... tapi... kenapa kau malah—hiks—m-menemuiku? Kenapaaa?" Tangannya memukul sedikit dada tersebut dan berhenti begitu merasakan tangan lainnya melingkar di pinggangnya. Tubuh kecil Otoya menegang seperti terkena arus listrik.
"Dengarkan aku baik-baik, Otoya." Itu perintah, bukan permintaan.
"..."
Tokiya menarik napas, namun hanya aruma rambut Otoya yang tercium.
"Aku memang menciumnya, tapi Nanami yang lebih dulu menciumku." Tubuh itu mulai meronta. "Dengarkan dulu," perintahnya lagi. Setelah tubuh itu sedikit tenang, ia melanjutkan. "Tapi... perasaan itu sudah tak ada, Otoya. Sudah sepenuhnya hilang, hanya ada rasa simpati saat aku melakukannya. Kalau kau tak percaya, kau bisa menatapku sekarang."
Otoya menolak dengan mencengkeram jaket coklat yang dipakai Tokiya.
"Kau percaya padaku, kan?"
Lama ia menjawab, akhirnya Otoya mengangguk kecil.
"Dia cerita padaku. Sekarang, ia takut dan sakit hati pada pacarnya yang sering pergi berdua dengan gadis lain. Padahal dari awal aku sudah bilang padanya kalau pacarnya itu sudah punya tunangan dan sering jalan dengan banyak gadis. Tapi ia tak mau dengar," ceritanya seraya menatap laki-laki yang ada di pelukannya itu. Tokiya tersenyum sesaat sebelum bertanya. "Apa kau tahu alasanku ke sini?"
"Hiks, tentu saja... untuk m-menemuiku. Iya, kan?"
Childish. Sudah lama ia tak melihat sifat Otoya yang seperti itu.
"Benar, kan? Kau... tak bermaksud untuk... berpisah d-denganku?"
Laki-laki yang sering memakai kacamata itu membelai rambut Otoya dengan penuh perasaan. Sama seperti dirinya yang dulu saat ia masih pacaran dengan Haruka Nanami. Pelukannya mengerat. "Jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku, Otoya. Ya, aku memang ingin menemuimu... untuk bilang sesuatu padamu."
"A-apa?" Nada takut terdengar dari pertanyaannya tersebut.
"Aku mencintaimu."
"..." Tangan Otoya mencengkeram jaket itu lagi. "Kau s-serius?" Tokiya menarik dagunya lagi agar mata mereka bertemu. Air matanya mengalir lagi begitu melihat wajah serius Tokiya. Tangan Otoya yang bergetar bergerak perlahan menyentuh pipi laki-laki tersebut. "Kau... benar-benar mencintaiku, kan?" Matanya memohon pada Tokiya, untuk tidak mempermainkannya lagi.
"Aku serius. Bagaimana caranya kau mau percaya padaku?" tanya Tokiya.
"..." Nampak laki-laki itu menunduk.
Tangan Tokiya menarik tengkuk Otoya karena laki-laki tetap diam.
Bibir mereka bertemu karena sang mahasiswa jurusan kedokteran tersebut yang memaksa. Otoya tentu saja tak bisa berkutik, berontak pun percuma karena kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Tokiya. Dan lagi, dalam hatinya ia sungguh merindukan ciuman itu. Terlebih dengan sentuhan-sentuhan Tokiya yang lembut dan mampu membuat tubuhnya seperti terbakar oleh api, atau seperti tersengat arus listrik berkekuatan satu juta volt. Ah, sejak kapan Otoya jadi puitis begini? Desahan kecil keluar dari mulutnya.
"Otoya..." Laki-laki itu melepas ciuman mereka.
Tersenyum, Otoya tersenyum. "Mau melakukannya denganku malam ini?"
Mendengar tawaran Otoya, tentu saja Tokiya melotot. Wajahnya pun memerah.
Laki-laki manis itu mendekatkan dirinya pada Tokiya seraya berbisik. "Tenang, aku takkan minta uangmu sebagai gantinya. Aku lakukan ini sebagai Otoya Ittoki, orang yang mencintaimu, bukan sebagai laki-laki sewaan untukmu. Tapi walau pun bukan uang, aku akan tetap minta ganti darimu."
Dengan ragu Tokiya bertanya. "A-apa itu?"
Cup. Sekilas Otoya mencium bibir itu. "Berikan aku... cintamu. Itu saja."
Rasa ragu pergi seketika. Kedua tangannya menangkup wajah Otoya. "Akan kuberikan sepenuhnya untukmu." Hawa nafsu Tokiya sepertinya sudah tak bisa ditahan lagi, ia ingin mencium Otoya. Ciuman panas itu akan terjadi jika saja sang uke tidak menahan kepalanya untuk mendekat. Tersirat rasa bingung dari wajah Tokiya.
"Jangan lakukan di sini. Di dalam saja, ya?"
Muka Tokiya merah padam mendapat kerlingan mata dari Otoya.
Tanpa berbalik ia membuka kuncinya dengan mudah karena si kunci sudah terpasang di pintu. Cklek. Pintu pun terbuka dan Otoya sukses terkejut saat Tokiya menyerangnya. Bruk! Ia sempat merintih sedikit sebelum dicium lagi oleh Tokiya. Semenit berlalu, Otoya berusaha berontak. "M-mou! Tokiya! Pintunya belum ditutup, tahu!"
Tokiya menghela napas karena dorongan Otoya yang cukup kuat tadi.
"Kita lakukan di kamar. Kau kunci pintunya, aku tunggu di dalam."
"Hah?"
Lagi, Otoya mengerling lalu menciumnya sebelum kabur ke dalam kamar.
"Geez, dasar." Ia pun menuruti kata-kata Otoya, gerakannya sempat terhenti begitu melihat seekor kucing hitam menatapnya jinak di atas sofa. Bahkan kucing itu—yang dinamai Cecil oleh Otoya—mengeong padanya. Tokiya tersenyum kemudian menaruh tas selempangnya tepat di samping Cecil. Ia sendiri baru sadar kalau sedari tadi masih memakai tas. "Boleh?" Ia bertanya, mungkin bermaksud untuk meminta izin. Ah, Tokiya jadi sedikit gila karena bicara dengan kucing.
"Jangan sakiti Otoya lagi, aku mohon."
"Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati, dan takkan kubiarkan ia menangis."
"Aku percayakan Otoya padamu. Terima kasih."
Untuk beberapa detik ia terpejam lalu membuka matanya lagi. Cecil mengeong lagi sambil menatap pintu kamar Otoya yang terbuka. Tokiya membuka jaketnya dan menaruhnya di atas tas. "Aku akan melakukan itu dengannya, bukan semata untuk nafsu belaka. Tapi... aku benar-benar mencintainya dan ingin memiliki Otoya sepenuhnya," lirihnya dan pergi memasuki kamar tersebut.
Terlihat Otoya tengah menunggunya di tepi ranjang.
"Kau yakin?" tanya Tokiya.
Laki-laki yang sudah melepas jaket hitamnya itu terkekeh. "Tidak salah?"
"Hm?" Tokiya berjalan menghampiri kasur tersebut dan duduk di sebelahnya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu seperti itu. Ini 'kan pertama kalinya kau berhubungan secara intim, terlebih lagi dengan laki-laki." Kepala Otoya bersandar pada bahu kiri Tokiya. "Walau ini juga pertama kali untukku melakukannya. Aku belum pernah melakukan sex, jadi... pelan-pelan ya?" Ia meminta dengan wajah menunduk. Malu juga kalau membicarakan hal tersebut sebelum melakukannya.
"Ini juga pertama kali untukku," aku Tokiya.
Otoya memeluk pinggang laki-laki tersebut. "Mau memulainya sekarang?"
"..."
"Ehehe, aku yakin, kau bisa melakukan—mmph!."
Serangan yang cukup agresif dari Tokiya membuat Otoya limbung ke belakang. Tubuh Tokiya agak miring mengikuti tubuh Otoya yang mendarat di atas kasur, berusaha untuk tidak melepas ciumannya. Kedua tangannya ia pakai untuk menahan tubuhnya agar tidak menindih Otoya sepenuhnya. Kaki kanannya naik ke atas dan berada di tengah-tengah kedua kaki Otoya.
"Tokiya... mnh!"
Tangan Tokiya menyentuh dada Otoya yang masih memakai kaos hitamnya.
"Kau serius?"
Otoya mencengkeram lengan Tokiya. "J-jangan tanya lagi... C-cepat—mnh!—lakukan, T-Tokiya...-kun." Ia tersenyum kecil dengan wajah memerah sebelum mendesah lagi. Sentuhan-sentuhan dari Tokiya memang memabukkan. Otoya sempat ragu dengan pernyataan Tokiya yang bilang kalau ini pertama kalinya berhubungan badan dengan seseorang. Tapi... sekarang Otoya tak mau memikirkan apapun. Ia ingin menghabiskan malam yang indah ini bersama Tokiya. Bersama orang yang dicintainya.
END
WAAAH! #BlushingAkut Sumpah demi apa, ini hampir masuk rate M kalau saya terusin! , KYAAA! #GulingGulingDiAtasKasur
Gimana menurut readers? Gak terlalu berbahayakan? ._. Maaf ya, lama update karena ada dua jalur cerita yang mau saya ketik dan akhirnya saya pilih jalur yang ini. :) Kalau readers keberatan dengan ending yang seperti ini, saya bersedia buat sequel-nya, tapi kalau iya berarti saya gak bisa memfokuskan diri untuk melanjutkan chap terbaru MLS saya. u.u Jadi, saya serahkan keputusan di tangan readers.
Readers bisa kirim pendapat lewat review. :)
Sekali lagi terima kasih banyak!
Ah, saya sudah mengutak-atik akun FFn saya dan review para readers yang login akan saya balas lewat PM, kecuali kalau fanfic nya masih berlanjut. Saya agak malas juga kalau balas lewat PM kalau fanfic-nya belum selesai. ._.
Tapi sekarang, saya mau balas review di chap 4 dulu. :D For KimekaHikaru98 [Etoo, terima kasih sebelumnya #GarukGarukPipi Panggil saya Ichi saja kalau Kimeka-san gak keberatan karena nama itu agak aneh kalau dipanggil. ._. Pembaca baru? Wah, selamat datang di fandom UtaPri! :D Kebetulan saya suka dari awal dengan OtoToki, jadi dengan imajinasi saya banyak kalau tentang mereka, teheee. Soal Haruka, jangan terlalu dibenci, kasian chara-nya. ._. Walau saya sendiri gak terlalu suka juga, ahaha. Sip, saya baru update hari ini. Gomen kalau lama ya. :)], 12hellgril [Soal bersatu tidaknya, gril-san bisa baca chap terakhirnya :D Sankyuu!], soraasagi [Maaf kalau saya buat sora-san bingung, u,u Saya sendiri juga galau mikirin alur yang tepat untuk chap terakhirnya. Udah saya update, mau baca lagi kah? :) Sankyuu ne!], Ya-chan [Ahaha, soal kisu, adegan itu tiba-tiba muncul waktu ngetik. Saya aja ampe mimisan liatnya #Joke. Tempat saya gak pernah kebanjiran kok, cuma akses ke mana-mananya yang keputus. Alhasil, saya terkurung di rumah. ._. Terima kasih untuk doa dan review-nya! :D Udah di update nih, masih mau baca? :)], hiroshiyamada132 [Etoo, kalau naikin rate mungkin di fic sequel-nya (kalau readers banyak yang minta), saya gak mau naikin rate di fic ini. :D Oh, baru? Sepertinya saya pernah baca fic hiroshi-san sebelumnya ._. Selamat datang deh di fandom UtaPri! :) Sankyuu ne... #GarukGarukPipi Tenang, perasaan Otoya terbalas kok di chap ini, ehehe. Iya, kecuali beberapa karena menyesuaikan dengan alur cerita. Ahaha, Ryuuya sama Ringo ya, saya pikirin lagi deh. Masalahnya saya gak pernah dapetin feel mereka. :) Sebetulnya saya gak suka Yuri, jadi hubungan Tomo dan Haru itu murni sahabatan, oke? XD Saya suka Yaoi doang, tehe. Saya orangnya juga banyak omong, jadi gak masalah kok. :) Terima kasih ya! Mau baca chap terakhirnya? :D].
Special THANKS for silent readers too! Without you, I can't do everything well! #
See You Again! :)
