REMEMBER ME
Pairing : Yewon
Genre : Yaoi, romance, hurt/comfort, drama etc.
Rate : T ( akan berubah seiring berjalannya cerita)
Disclaimer : Yesung and Siwon belong to each other ^^
Summary : Yesung, namja berusia 19 tahun yang tinggal di panti asuhan dan selalu menjadi korban pem -bully-an. Sampai suatu hari, seorang namja bernama Choi Siwon datang 'menyelamatkannya'. Namun bagaimana jika ternyata kedatangan Siwon justru membawa masalah yang lebih besar untuknya?
Warning : BL, Un-official Pair, aneh, alur maksa, ribet, etc.
A Yewon Fanfiction © 2013 by Fairy_Siwoonie
.
~ HAPPY READING ~
.
Yesung mengikuti langkah Siwon memasuki sebuah rumah yang tidak terlalu besar dengan membawa tas berwarna hitam di tangannya.
Siwon terus berjalan memasuki rumahnya tanpa mempedulikan Yesung yang berjalan di belakangnya. Sejak dari Cheonan pagi tadi, Siwon memang terus bersikap dingin pada Yesung. Sesekali Yesung mencoba mengajaknya bicara dengan bertanya sesuatu, namun ia sama sekali tidak menjawabnya, sehingga akhirnya Yesung memilih untuk ikut diam.
"Kau sudah lama pindah ke Seoul, hyung?" Tanya Yesung seraya menarik tasnya masuk ke dalam rumah Siwon.
"2 bulan," Jawab Siwon singkat, sama sekali tidak peduli darimana Yesung mengetahui jika ia sebelumnya tidak tinggal di Seoul.
Yesung mengangguk mengerti.
"Itu kamarmu," Ujar Siwon seraya menunjuk pintu yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri, "Bereskan barang-barangmu, setelah itu kita makan malam," Lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Yesung dan masuk ke dalam kamar yang tidak jauh dari kamar Yesung tadi.
"Baik, hyung. Terima kasih," Ucap Yesung seraya tersenyum lebar.
Yesung baru saja akan kembali melangkahkan kakinya, namun terhenti ketika matanya menangkap sebuah foto berukuran besar yang terpajang di dinding ruang tamu. Tiba-tiba raut wajahnya berubah begitu melihat foto yang memperlihatkan Siwon bersama seorang wanita dan pria paruh baya itu. Kebencian dan kemarahan terpancar jelas dari kedua caramel-nya yang menyorot tajam.
Kedua tangan Yesung mengepal erat, "Akan aku perlihatkan kalau aku belum kalah," Desis Yesung tajam. Ia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh Siwon tadi.
"Hah~ aku lelah~~" Gumam Yesung seraya menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dengan bed cover bermotif awan di kamar itu.
Yesung mengamati langit-langit kamarnya. Sebuah senyuman manis segera terukir di wajahnya. Tiba-tiba ia bangkit dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah foto dirinya bersama kura-kuranya yang diambil beberapa tahun yang lalu. Yesung masih terlihat begitu kecil dan polos di dalam foto itu.
Yesung tersenyum lebar lalu meletakkan bingkai foto tadi di atas meja di samping tempat tidurnya.
"Ddangkoma, aku sudah bertemu dengan Siwon hyung. Kalau saja Kyuhyun jelek itu tidak membuangmu, pasti kau juga akan bertemu dengannya. Hah~ dia sangat tampan, Ddangkoma~~"
Yesung terkekeh pelan. Ia merasakan ada rasa hangat menjalar di kedua pipinya hanya dengan membayangkan wajah Siwon.
"Ah iya, aku harus segera mandi dan makan malam bersama Siwon hyung," Yesung menepuk keningnya sendiri. Ia lalu mengambil handuk dari dalam tasnya dan pergi ke kamar mandi yang juga berada di dalam kamar itu.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung menghampiri Siwon yang sudah berada di ruang makan. Ia kemudian duduk dengan posisi menghadap namja bermata obsidian itu.
"Wow~~ apa kau yang memasak semua ini, hyung?" Tanya Yesung seraya menatap takjub makanan yang ada di atas meja.
"Tidak, aku memesannya dari restaurant," Jawab Siwon dingin.
"Ah iya, kau kan tidak bisa memasak," Gumam Yesung lalu terkekeh pelan.
Siwon hanya memutar bola matanya lalu kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat terganggu.
"Ah iya, mulai besok kau akan menjalani terapi, Yesung-ah," Ujar Siwon, membuat Yesung yang baru saja akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya langsung menatap namja tampan di hadapannya itu.
Yesung mengangkat alisnya, "Terapi?"
"Ya, kemoterapi sekaligus terapi radiasi. Aku memiliki teman seorang dokter spesialis. Kau masih memiliki kemungkinan yang besar untuk bisa sembuh," Jawab Siwon lalu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Yesung menundukkan kepalanya, "Aku tidak pernah melakukan terapi,"
"Kau masih belum terlambat untuk menjalani terapi. Setelah kau sembuh nanti, kau harus pergi dari sini,"
Yesung langung mengangkat kepalanya dan menatap Siwon terkejut, "Apa?"
"Kau tau dengan pasti aku membawamu ke sini hanya karena aku kasihan padamu, Yesung-ah. Mrs. Lee mempercayakanmu padaku. Aku akan membayar semua biaya pengobatanmu, tetapi setelah kau benar-benar sembuh, kau harus pergi dari sini. Aku tidak peduli kau akan kembali ke panti asuhan atau kemana pun. Yang pasti aku tidak mau kau tinggal di sini selamanya,"
Yesung merasakan matanya memanas, "Aku tidak mau," Ucapnya dengan suara pelan. Berusaha menyembunyikan getaran dalam suara husky-nya.
"Aku tidak memintamu. Aku menyuruhmu. Jadi aku tidak menerima penolakan,"
"Aku tidak mau, hyung.." Yesung menatap Siwon memohon, "Biarkan aku bersamamu sebelum aku mati. Aku tidak mau sembuh kalau akhirnya aku harus hidup tanpamu. Aku mohon, hyung.. aku tidak mau terapi.."
Siwon mengerutkan keningnya, "Kau gila, Yesung. Semua orang yang sakit pasti ingin sembuh. Sedangkan kau?"
"Aku lebih baik mati daripada harus hidup tanpamu, hyung," Ucap Yesung dengan mata mulai berair. Yesung bukan namja yang cengeng. Ia tidak pernah menangis ketika teman-temannya di panti asuhan mem-bully-nya. Namun entah mengapa, setiap kata-kata tajam yang diucapkan Siwon selalu terasa begitu menyakitkan hingga ia tidak sanggup untuk menahan air matanya.
"Kau hanya punya 2 pilihan, Yesung. Ikuti terapi atau pergi dari rumah ini sekarang juga," Ujar Siwon lalu bangkit dan meninggalkan Yesung yang menatapnya dengan mata melebar.
Air mata mulai membuat jalannya di kedua pipi Yesung yang masih terus menatap punggung Siwon hingga akhirnya namja tampan itu menghilang di balik pintu dapur. Ia tidak mengira Siwon akan sedingin ini padanya. Saat di rumah sakit selama satu minggu, Siwon bahkan selalu memanjakannya. Siwon benar-benar berubah saat mengetahui ia adalah seorang gay.
"Apa kau benar-benar membenciku karena alasan itu, hyung? Apa yang membuatmu berubah? Apa yang mereka lakukan?" Isak Yesung pelan.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Pagi itu Siwon terbangun karena mendengar suara berisik dari arah dapurnya. Siwon berdecak. Ia baru saja tertidur 2 jam yg lalu, dan sekarang suara berisik itu sudah mengganggu tidurnya. Ia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan bagaimana cara agar Yesung berhenti mencintainya. Ia benar-benar merasa tidak nyaman mengetahui kenyataan ada seorang namja yang mencintainya dan memaksa untuk selalu berada di sampingnya.
Siwon menghela nafas berat. Ia bangkit dari atas tempat tidurnya lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
30 menit kemudian, Siwon sudah siap dengan pakaian rapi. Ia keluar dari kamarnya dan bergegas untuk segera pergi ke perusahaan. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan saat ini hanya menghindar dari Yesung sebisa mungkin. Melihat Yesung benar-benar membuat mood-nya menjadi buruk.
"Siwon hyung!" Suara baritone Yesung yang terdengar dari arah dapur membuat langkah Siwon terhenti. Siwon mendengar suara langkah kaki mendekat lalu tidak lama kemudian Yesung sudah berdiri di sampingnya.
"Aku membuatkan sarapan untukmu, hyung," Yesung tersenyum seraya menunjukkan nampan berisi secangkir espresso dan waflle.
"Aku tidak biasa sarapan," Ujar Siwon dingin lalu beranjak membuka pintu rumahnya.
"Tapi sarapan bagus untuk kesehatanmu, hyung. Lagipula kau sangat menyukai espresso dan waffle, kan? Aku sengaja membuatkan ini untukmu," Bujuk Yesung masih dengan tersenyum.
"Aku tidak lapar, Yesung-ah. Aku harus segera berangkat!" Seru Siwon kesal.
Yesung mengerucutkan bibirnya, "Paling tidak makan sedikit saja, hyung. Aku sudah membuat—"
Prank!
Siwon menyentakkan nampan yang di bawa Yesung hingga apa yang ada di atasnya jatuh berhamburan di lantai. Bahkan kopi yang masih cukup panas itu sebagian menyiprat ke baju Yesung.
"Aku mengijinkanmu tinggal di sini bukan untuk menggangguku ataupun mencampuri urusanku!" Ujar Siwon tajam, "Dan satu hal lagi, apapun yang kau lakukan tidak akan bisa membuat aku mencintaimu karena aku BUKAN gay! Aku mencintai seorang yeoja!" Lanjut Siwon sebelum kemudian keluar dari rumahnya, meninggalkan Yesung yang masih terpaku.
Yesung tersenyum hambar. Ia mengambil pecahan gelas yang berserakan di lantai lalu membawanya ke dapur. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar.
Yesung membuka Tshirt-nya yang sedikit basah karena terkena tumpahan kopi tadi. Ia kembali tersenyum pedih saat melihat dadanya memerah, begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih. Ia melemparkan Tshirt-nya ke atas tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi, menyalakan kran kemudian membenamkan dirinya di dalam bathub. Membiarkan rasa dingin air yang terus mengalir itu menginvasi seluruh tubuhnya. Membuat ia tidak merasakan apapun lagi.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Siwon melemparkan berkas di tangannya ke atas meja lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Kedatangan Yesung benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman. Seandainya ia tidak tau jika Yesung mencintainya, mungkin ia tidak akan seperti ini. Mungkin ia masih bisa menganggap Yesung seorang dongsaeng dan menyayanginya. Namun sekarang? Berada di dekat Yesung saja ia merasa risih, apalagi menyayanginya?
Terdengar pintu ruangan itu terbuka, namun Siwon sama sekali tidak mempedulikannya. Ia masih sibuk dengan pikirannya tentang Yesung.
Seorang namja yang masuk ke dalam ruangan itu mengerutkan keningnya ketika melihat keadaan meja kerja Siwon. Berkas-berkas berhamburan dengan sangat tidak rapi dan bahkan sebagian tercecer di lantai.
"Siwon?" Panggil namja itu membuat Siwon mengangkat kepalanya.
Namja tadi mengangkat alisnya begitu melihat raut wajah Siwon yang tampak kusut. Ia dengan cepat menarik kursi dan duduk di depan Siwon.
"Kau baik-baik saja?" Tanya namja beriris hazel itu cemas.
Siwon menghela nafas, "Aku tidak apa-apa, Kibum-ah,"
Namja yg dipanggil Kibum tadi terlihat tidak terlalu percaya dengan jawaban Siwon. Mengenal Siwon selama lebih dari 15 tahun sudah lebih dari cukup baginya untuk mengerti arti dari setiap sikap dan raut wajah sahabatnya itu. Dan kali ini ia yakin Siwon tidak dalam keadaan 'tidak apa-apa'.
"Apa ini tentang Jessica? Kau ditolak lagi?" Tanya Kibum.
"Haiz! Kau mengejekku, huh?" Siwon menatap Kibum kesal.
Kibum tertawa pelan, "Aku tidak mengejek. Kau memang sudah ditolak dua kali oleh Jessica, bukan?"
"Jessica hanya mengatakan dia belum siap. Jadi itu artinya aku masih tetap punya kesempatan,"
Kibum kembali tertawa, "Aku heran, apa yang membuatmu begitu mencintai Jessica? Kau sampai pindah ke Korea hanya untuk mengikuti yeoja itu, kan?"
Siwon tersenyum, "Aku tidak tau. Aku hanya merasa nyaman berada di dekat Jessica,"
"Dan aku yang akhirnya menjadi korban. Aku jauh-jauh kuliah ke Amerika selama 4 tahun, dan akhirnya aku hanya dipaksa untuk menemanimu mengurus perusahaan di Korea," Sahut Kibum kesal, membuat Siwon tertawa. Siwon tau Kibum hanya bercanda. Kibum sudah seperti saudara untuknya meskipun mereka pernah berpisah selama 4 tahun karena Kibum memilih untuk kuliah di Amerika sementara ia tetap berada di Jepang.
"Ah iya, aku menemukan cara baru untuk bisa dekat dengan Jessica," Raut wajah Siwon tiba-tiba berubah.
Kibum mengangkat alisnya, "Cara baru?"
Siwon mengangguk antusias, "Kemarin aku membawa seorang namja dari panti asuhan. Dia menderita kanker tulang belakang. Jadi aku bisa memanfaatkannya untuk dekat dengan Jessica,"
"Maksudmu kau membawa namja itu hanya agar kau bisa dekat dengan Jessica?"
Siwon terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan jika ia membawa Yesung karena namja beriris caramel itu mencintainya dan memaksa untuk tinggal bersamanya, bukan?
"Ya, aku hanya kasihan padanya. Panti asuhan itu tidak memiliki cukup biaya untuk pengobatannya. Lagipula dengan begitu aku bisa dekat dengan Jessica. Tidak ada yg salah, kan?" Siwon kembali tersenyum canggung.
Kibum mengangkat bahunya, "Kau tau apa yang kau lakukan,"
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung keluar dari mobil Siwon kemudian mengikuti namja tampan itu masuk ke dalam Seoul International Hospital. Yeah, akhirnya ia yang harus mengalah dan terpaksa mengikuti terapi. Ia tidak mau Siwon mengusirnya dan ia harus kembali ke panti asuhan itu lagi. Sekarang, ia hanya bisa berharap terapi itu gagal. Ia tidak mau sembuh jika akhirnya ia harus hidup tanpa Siwon. Lebih baik ia meninggalkan Siwon karena ia mati daripada ia harus hidup sendirian lagi.
Langkah Siwon terhenti di depan pintu sebuah ruangan. Yesung yang berjalan di belakangnya pun otomatis ikut menghentikan langkahnya.
Siwon mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali sampai kemudian terdengar suara seorang yeoja dari dalam yang mempersilahkan mereka untuk masuk. Siwon membuka pintu berwarna putihitu lalu masuk ke dalam dengan diikuti oleh Yesung.
"Jessica, apa aku menganggu?" Tanya Siwon pada seorang dokter wanita yang ia panggil Jessica.
Jessica tersenyum, "Tentu saja tidak, Siwon-ah. Kita sudah ada janji sebelumnya, bukan?"
Siwon pun tersenyum. Ia lalu duduk di hadapan Jessica sementara Yesung mengambil posisi duduk di sampingnya.
"Apa dia yang bernama Yesung?" Tanya Jessica seraya menatap Siwon dan Yesung bergantian, masih dengan tersenyum.
"Ya, dia Kim Yesung yang aku ceritakan padamu kemarin," Jawab Siwon.
Jessica mengangguk mengerti, "Aku tidak percaya dia sudah berusia 19 tahun. Dia terlihat lebih imut daripada seorang yeoja berusia 15 tahun," Ujarnya lalu terkekeh pelan.
Siwon ikut terkekeh. Ada rona merah yang terlihat samar menghiasi pipinya, namun terlihat cukup jelas oleh Yesung yang duduk di sampingnya.
Yesung tau, Siwon hanya akan bertingkah seperti itu di depan orang yang disukainya. Jadi.. dokter bernama Jessica itu adalah yeoja yang dimaksud Siwon kemarin?
"Kenapa kau diam saja, Yesung-ah?" Tanya Jessica yang sepertinya menyadari perubahan raut wajah Yesung.
Yesung hanya membuang muka dan lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Jessica.
"Tsk, kau tidak boleh bersikap seperti itu pada orang yang bertanya padamu, Yesung-ah!" Seru Siwon memperingatkan.
Yesung menundukkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa,"
"Hey, jangan terlalu kasar seperti itu, Siwon-ah. Mungkin Yesung hanya merasa gugup karena akan melakukan terapi," Ujar Jessica, "Kau belum pernah melakukan terapi sebelumnya, Yesung-ah?" Tanyanya pada Yesung.
Yesung hanya menjawabnya dengan gelengan pelan.
Jessica tersenyum, "Mungkin rasanya akan sangat sakit. Tetapi setelah 2 atau 3 hari pasti rasa sakitnya akan menghilang. Kalau kau menjalani terapi ini secara rutin, kau masih memiliki kesempatan besar untuk sembuh,"
"Aku tau," Jawab Yesung pelan.
"Err, aku ada urusan sebentar, Jessica. Aku akan menjemput Yesung setelah terapinya selesai," Ujar Siwon lalu beranjak bangkit dari kursinya, namun tiba-tiba Yesung meraih tangan kanan Siwon membuat Siwon menatapnya.
"H-hyung, aku.. aku takut. Bisakah ka-kau menemaniku?" Pinta Yesung penuh harap.
Siwon melepaskan genggaman tangan Yesung dengan paksa, "Aku sibuk, Yesung-ah. Lagipula kau sudah dewasa, seharusnya kau tidak perlu takut hanya karena hal seperti ini,"
"Aku rasa Yesung benar, Siwon-ah. Terapi seperti ini biasanya akan sangat sakit. Mungkin akan lebih baik kalau ada orang terdekat yg menemaninya," Ucap Jessica.
Yesung kembali menatap Siwon penuh harap. Meskipun ada kekecewaan yang terlihat samar di kedua caramel-nya.
"Aku akan menemaninya lain kali. Hari ini aku sangat sibuk. Aku pergi dulu," Ujar Siwon seraya tersenyum pada Jessica lalu keluar dari ruangan itu.
Jessica berdecak, "Dasar tidak punya perasaan!"
"Apa kalian sudah lama saling mengenal, Noona?" Tanya Yesung membuat Jessica langsung menatapnya.
Jessica tersenyum, "Aku mengenal Siwon sekitar 3 tahun yg lalu. Jangan terlalu dipikirkan ucapannya tadi, ne? Dia sama sekali tidak bermaksud mengabaikanmu. Mungkin dia memang sangat sibuk,"
Yesung hanya mengangguk pelan.
"Ah iya, apa ada kemungkinan aku tidak akan sembuh setelah melakukan terapi, Noona?" Tanya Yesung lagi.
Jessica mengangkat alisnya, "Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau harus optimis, Yesung-ah. Itu adalah kunci utama kau bisa sembuh," Ujarnya lalu tersenyum.
"Kalau aku sendiri tidak yakin aku akan sembuh, berarti ada kemungkinan semua terapi ini gagal, kan? Aku bisa tetap mati,"
"Hey, kau tidak boleh pesimis seperti itu. Meskipun ada kemungkinan terapi ini bisa saja gagal, tetapi kita tetap harus berusaha. Kau pasti ingin sembuh, kan?"
Yesung menghela nafas, "Baiklah, aku siap,"
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Sekitar pukul 7 malam, Siwon kembali ke Seoul International Hospital untuk menjemput Yesung. Begitu ia sampai di sana, Yesung baru saja keluar dari ruang terapi bersama Jessica.
"Apa kalian menunggu lama?" Tanya Siwon.
Jessica tersenyum, "Tidak. Kami juga baru saja selesai,"
"Ah iya, Jessica, kau sudah tidak sibuk, kan? Bagaimana kalau kita makan malam bersama di luar?" Tawar Siwon.
"Hyung, aku lelah. Aku ingin pulang," Pinta Yesung seraya memegang lengan Siwon. Wajahnya terlihat benar-benar kelelahan. Namun sepertinya Siwon tidak terlalu mempedulikannya. Ia berpikir mungkin ini adalah salah satu trik Yesung agar ia tidak bisa makan malam bersama Jessica.
"Kita hanya makan malam sebentar, Yesung-ah. Atau kau ingin pulang duluan?" Ujar Siwon seraya melepaskan tangan Yesung dari lengannya, membuat Yesung menatapnya kecewa.
"Hey, kau tidak boleh seperti itu, Siwon-ah! Sebelumnya aku sudah mengatakan padamu efek dari terapi ini, bukan? Yesung pasti sangat kelelahan. Lebih baik kalian segera pulang," Sambung Jessica.
Siwon berdecak, "Baiklah. Kalau begitu kami pulang dulu. Kapan kami harus kembali ke sini lagi?"
"Yesung akan menjalani terapi selama satu bulan sekali. Jadi kalian bisa datang ke sini satu bulan lagi," Jawab Jessica seraya tersenyum.
"Apa tidak perlu check-up beberapa hari atau seminggu sekali, begitu?"
"Tidak perlu. Kecuali kalau Yesung merasa ada yang sakit pada punggung atau nyeri pada bagian tubuhnya yang lain, kalian harus segera ke rumah sakit,"
"Ah baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu, Jessica. Kau juga harus istirahat dan jangan lupa makan, okay?"
Jessica tertawa pelan, "Aku bukan anak kecil lagi, Choi Siwon!"
Siwon ikut tertawa, "Kau selalu terlihat seperti anak kecil di mataku, Nona Jung,"
Jessica memukul lengan Siwon, "Sudah cepat pulang! Yesung harus segera istirahat!"
"Okay, sampai bertemu besok," Siwon mengacak rambut Jessica pelan lalu melangkah pergi tanpa mempedulikan Yesung.
"Noona, aku pulang dulu," Ucap Yesung pelan lalu menyusul Siwon yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Selama dalam perjalanan menuju rumahnya, hanya keheningan yang mendominasi mobil milik Siwon. Siwon hanya fokus mengemudikan mobilnya seakan tidak menganggap keberadaan Yesung di sampingnya. Sementara Yesung yang merasa begitu lelah hanya memilih menyandarkan kepalanya pada kaca mobil dan memandang keluar. Ada cairan bening yang terlihat di kedua sudut caramel-nya, namun tersamarkan oleh pencahayaan termaram di dalam mobil itu.
Begitu sampai di halaman rumahnya, Siwon melihat Yesung tertidur. Namja manis itu benar-benar terlihat kelelahan dan sakit. Terbesit rasa tidak tega di dalam hati Siwon untuk membangunkannya. Namun kemudian ia buru-buru menepisnya. Ia berpikir, bisa saja Yesung hanya pura-pura untuk menarik perhatiannya, bukan?
Akhirnya Siwon memutuskan untuk membangunkan Yesung. Siwon mengguncang tubuh Yesung pelan, namun Yesung hanya melenguh dan malah menyamankan posisinya. Siwon berdecak. Ia lalu mengguncang tubuh Yesung dengan sedikit keras dan kali ini berhasil membuat Yesung menggeliat.
Yesung membuka sedikit matanya, "Ada apa, hyung?" Tanyanya dengan suara pelan.
"Kita sudah sampai. Cepat turun!" Seru Siwon lalu keluar dari mobilnya.
Yesung menegakkan tubuhnya dan mengamati sekelilingnya. Ah, ia memang sudah berada di halaman rumah Siwon. Yesung mengusap matanya beberapa kali lalu keluar dari dalam mobil. Kepalanya berdenyut sakit begitu ia menginjakkan kakinya di halaman. Terapi tadi benar-benar membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Inilah salah satu alasan ia tidak mau menjalani terapi sejak dulu selain karena keuangan Sang Umma memang tidak mendukung.
Yesung memejamkan matanya sebentar, mencoba menghilangkan rasa sakit di kepalanya.
"Cepat, Yesung! Apa yang kau lakukan di sana?!" Seru Siwon yang sudah berdiri agak jauh di depan Yesung.
Yesung menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau terlihat begitu lemah di hadapan Siwon. Ia tidak mau Siwon semakin mengasihaninya.
"Ne, hyung," Jawab Yesung masih dengan suara pelan, lalu melangkahkan kakinya mengikuti Siwon.
Siwon berdecak kesal, "Aku lapar! Kau sudah menghancurkan rencana makan malamku," Ujarnya sinis lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Yesung.
Yesung menghentikan langkahnya. Ada rasa sakit yang membuat matanya terasa semakin memanas. Apa Siwon memang benar-benar tidak peduli padanya?
Yesung mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak mau menangis sekarang. Dengan langkah tertatih, ia kembali berjalan menyusul Siwon masuk ke dalam rumahnya.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Malam itu Yesung terbangun dan merasa haus. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan langsung pergi ke dapur. Namun langkahnya terhenti di ruang tamu begitu melihat Siwon tertidur di sofa dengan TV yang masih menyala di depannya. Yesung mengurungkan niatnya untuk mengambil minum dan berbalik menghampiri Siwon.
Yesung mematikan TV yang masih menyala tadi lalu berlutut di samping Siwon. Perlahan tangannya terulur dan mengusap wajah Siwon lembut, tidak ingin membuat namja tampan itu terbangun. Sebuah senyuman perlahan terukir di wajahnya, namun juga bersamaan dengan kepedihan yang terlihat begitu samar.
Tangan Yesung beralih menyentuh bibir Siwon. Mencoba merasakannya, namun tetap dengan berusaha agar tidak membuat namja yg dicintainya itu terusik. Sebuah senyuman hambar kembali terukir. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Siwon. Melepaskan semua kerinduannya melalui sentuhan itu. Ada rasa manis dan sakit yang datang bersamaan ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Siwon.
Yesung berusaha untuk mengendalikan dirinya, namun sepertinya perasaannya memiliki jalan pikiran sendiri. Perlahan ia melumat bibir Siwon lembut. Mengingat kembali ketika pertama kali ia merasakan manisnya bibir itu. Rasa itu masih tetap sama, membuatnya yakin jika Siwon yang ada di depannya sekarang masih tetap Siwon yang sama. Seseorang yang telah mengalihkan dunianya begitu rupa.
Yesung memejamkan kedua matanya, hingga tidak menyadari ketika perlahan kedua obsidian Siwon terbuka. Siwon mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Dan seketika iris obsidian itu membulat sempurna begitu menyadari Yesung tengah mencium bibirnya.
Siwon langsung mendorong tubuh Yesung dengan kasar membuat Yesung jatuh dan punggungnya membentur meja dengan sangat keras.
Yesung hanya memejamkan matanya bersamaan dengan cairan hangat yang saat itu juga langsung jatuh membasahi kedua pipinya. Ia tau ia akan segera mendapatkan rasa sakit itu lagi. Tetapi baginya tidak masalah, apa yang penting adalah ia telah bisa kembali merasakan bibir Siwon dan melepaskan beban berat di dalam hatinya. Rasa sakit yang selalu menyiksanya selama ini.
Siwon mengusap bibirnya dengan kasar lalu menatap Yesung tajam. Kemarahan terpancar jelas dari kedua iris obsidian-nya.
"Apa yang kau lakukan?!" Seru Siwon marah.
Yesung membuka matanya dan menatap Siwon sayu. Ada luka dan kecewa begitu iris caramel itu bertemu dengan obsidian yang memandang jijik ke arahnya. Ia tau ia baru saja melakukan kesalahan, namun ia tetap tidak akan menyesalinya.
"Kau menjijikkan, Kim Yesung! Aku bukan gay! Berani sekali kau menciumku, huh?!" Seru Siwon lagi.
"Maaf, hyung.." Ucap Yesung pelan.
Mata Siwon semakin melebar. Namja itu baru saja mencuri ciuman darinya saat ia tidur, dan dengan mudahnya ia mengatakan 'maaf'?
Tiba-tiba Siwon menarik tangan Yesung membuat namja manis itu tersentak. Siwon terus menarik tangan Yesung dan membawanya keluar dari rumahnya.
"H-hyung.. sa-sakit.." Yesung meringis seraya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Siwon.
Siwon tidak mempedulikannya. Ia terus membawa Yesung keluar dari rumahnya lalu menghempaskan namja bemata caramel itu di halaman.
Yesung hanya memekik tertahan dengan air mata yang mulai menghiasi kedua pipinya. Tubuhnya yang masih sakit karena efek terapi kemarin belum menghilang kini terasa benar-benar hancur. Ditambah lagi dengan udara dingin yang berhembus kencang menusuk kulitnya.
"Seharusnya aku memang tidak membawamu tinggal bersamaku! Kau sakit, Yesung! Kau gila!" Seru Siwon dengan mata berkilat.
Yesung menatap Siwon dan melebarkan matanya. Bibirnya yang memucat mulai terlihat gemetar.
"Pergi dari sini! Terserah kau mau pergi kemana! Yang pasti, saat aku kembali nanti, aku tidak mau melihatmu masih berada di sini! Aku sudah mengijinkanmu tinggal di sini, tapi ternyata kau justru berbuat kurang ajar!" Seru Siwon lagi.
Yesung membuang muka, "Aku tidak mau pergi," Jawabnya membuat mata Siwon melebar.
"Apa kau benar-benar tidak memiliki harga diri, huh?"
Yesung tetap tidak menatap Siwon. Namun kemudian isakan lirih terdengar lolos dari bibir pucatnya. Tetapi sayang sekali hal itu tetap tidak bisa mencairkan kemarahan Siwon. Tidak ada perubahan yang berarti di raut wajah tampan namja itu melihat Yesung menangis.
"Aku tidak mau tau. Kau harus pergi dari sini! Aku tidak mau melihatmu lagi!" Desis Siwon tajam. Ia lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Yesung yang masih menangis di halaman rumahnya.
Yesung membiarkan tubuhnya jatuh lemas di halaman yang dingin. Ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri. Namun meskipun Tuhan memberinya kekuatan, ia tetap tidak akan pergi dari tempat itu. Seperti yang sudah ia katakan, ia lebih baik mati daripada harus hidup tanpa Siwon. Ia tidak peduli Siwon mengatakan ia gila. Ia tidak peduli sekeras apapun Siwon akan menyakitinya. Ia akan tetap berada di sana sampai Tuhan yang akan membawanya pergi.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Malam itu jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari ketika Siwon kembali ke rumahnya. Ia langsung berdecak kesal begitu melihat Yesung masih berbaring di halaman rumahnya. Dengan cepat, ia keluar dari mobilnya dan langsung berlari menghampiri Yesung.
Kedua mata Yesung terpejam erat. Bibirnya yang semakin pucat masih terlihat gemetar. Namun kini tubuhnya yang basah karena terkena butiran salju juga menggigil kedinginan.
Siwon melebarkan matanya. Apa Yesung tetap berada di sana dengan posisi seperti itu selama ia meninggalkannya lebih dari 5 jam?
"Siwon hyung.." Yesung mengigau lirih menyadarkan Siwon dari keterkejutannya. Isakan lirih kembali terdengar lolos dari bibir plum yang pucat itu.
Siwon berlutut di samping Yesung dan meletakkan punggung tangannya di kening namja itu. Matanya semakin melebar begitu merasakan suhu tubuh Yesung sangat tinggi.
"Siwon hyung.." Isakan Yesung kembali terdengar pilu. Matanya terpejam erat seakan menunjukkan betapa ia sangat kesakitan.
Tanpa pikir panjang, Siwon langsung mengangkat tubuh Yesung bridal style dan membawanya masuk ke dalam rumah. Wajahnya terlihat begitu panik. Ia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Yang pasti ia merasa sangat takut. Entah takut karena ia bisa saja disalahkan jika terjadi apa-apa pada Yesung mengingat kini Yesung adalah tanggung jawabnya, atau mungkin karena alasan lain.
Siwon membaringkan tubuh Yesung yang masih menggigil di atas tempat tidurnya. Ia langsung meraih ponsel dari dalam sakunya lalu menelepon seseorang.
"Jessica, bisa kau ke sini sekarang? Yesung demam," Ujar Siwon pada Jessica di line seberang masih dengan panik.
"..."
"Baiklah, aku tunggu," Ujar Siwon sebelum kemudian menutup teleponnya.
Siwon kembali memeriksa suhu tubuh Yesung yg semakin meninggi. Wajah Yesung terlihat sangat tidak nyaman dan kesakitan. Tiba-tiba rasa bersalah mulai menjalar di dalam hati Siwon, namun ia buru-buru menepisnya. Ini bukan benar-benar kesalahannya. Ia tidak meminta Yesung menunggunya di luar, bukan? Ia tidak mungkin sengaja membuat Yesung seperti ini.
Siwon masih terus berperang dengan pikirannya ketika tiba-tiba ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia segera bangkit dari bed Yesung dan langsung berlari ke arah pintu.
"Ada apa, Siwon-ah?" Tanya Jessica begitu Siwon membuka pintu.
"Ah, akhirnya kau datang juga, Jessica! Demam Yesung sangat tinggi! Aku tidak tau harus melakukan apa!" Jawab Siwon panik.
"Di mana Yesung sekarang?"
"Ada di kamarnya. Ikuti aku!" Ujar Siwon lalu masuk ke dalam rumahnya dengan Jessica mengikuti di belakangnya.
Siwon membawa Jessica masuk ke dalam kamar Yesung. Sampai di sana, Jessica langsung menghampiri Yesung yang masih menggigil di atas bed-nya.
"Yah! Kenapa kau tidak mengganti bajunya, Siwon-ah?" Jessica menatap Siwon tajam.
Siwon melebarkan matanya, "A-apa?"
"Yesung bisa mati kedinginan dengan baju basah seperti ini! Kau ganti bajunya dulu, aku akan menunggu di luar," Ujar Jessica lalu bangkit dari bed Yesung.
"Kenapa harus aku?"
"Karena tidak mungkin aku yang akan menggantinya, Choi Siwon. Dan sangat tidak mungkin Yesung akan mengganti bajunya sendiri!" Jessica menatap Siwon kesal.
"Ta-tapi aku—"
"Cepat ganti bajunya! Lagipula kalian sama-sama namja, kan? Kau tidak perlu merasa malu untuk mengganti baju Yesung," Ujar Jessica lagi sebelum kemudian keluar dari kamar Yesung.
Siwon menatap ragu antara Jessica dan Yesung yang terbaring di atas bed-nya. Ia terlihat berpikir cukup lama sebelum akhirnya ia menghampiri Yesung dan melepaskan pakaiannya.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
"Bagaimana, Jessica? Yesung baik-baik saja, kan?" Tanya Siwon pada Jessica yang baru keluar dari kamar Yesung setelah lebih dari 1 jam Siwon menunggu.
"Apa yg sebenarnya terjadi, Siwon-ah? Kenapa Yesung bisa seperti ini?" Jessica malah balik bertanya.
Siwon mengangkat alisnya, "Seperti ini bagaimana?"
"Aku melihat banyak luka memar di punggung Yesung. Apa Yesung jatuh atau bagaimana? Yesung itu menderita kanker tulang belakang, Choi Siwon. Seharusnya kau lebih hati-hati menjaganya!"
Siwon tercekat. Luka memar? Berapa kali ia membuat punggung Yesung membentur sesuatu?
"Apa yang terjadi?" Tanya Jessica lagi membuat Siwon tersentak.
"A-aku.. itu aku tidak tau. Tadi aku menemukan Yesung sudah seperti itu di luar saat aku pulang dari perusahaan," Jawab Siwon berbohong. Biar bagaimanapun ia tidak mungkin memberitahu Jessica jika ia yang menyebabkan Yesung seperti ini, bukan?
"Baiklah, kau boleh melihatnya. Aku ingin ke toilet sebentar," Ujar Jessica lalu melangkah meninggalkan Siwon.
Siwon kemudian masuk ke dalam kamar Yesung. Obsidian-nya segera menemukan sosok Yesung yang berbaring tengkurap di atas bed-nya dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Siwon melangkahkan kakinya perlahan menghampiri Yesung lalu duduk di sampingnya. Dengan ragu, ia membuka selimut Yesung dan melihat punggung putih pucat itu berhiaskan perban dimana-mana.
Yesung kini sudah terlihat lebih nyaman daripada saat 2 jam yang lalu ketika Siwon menemukannya pingsan di halaman. Mungkin Jessica sudah memberinya obat penenang dan pain killer.
Siwon mengulurkan tangannya menyentuh dahi Yesung yang kini terasa hangat, tidak panas tinggi seperti tadi. Ia menghela nafas lega entah untuk apa.
"Untuk saat ini aku rasa memberinya obat penurun panas saja sudah cukup," Ujar Jessica yang entah sejak kapan sudah berada di kamar itu, "Aku juga sudah menangani luka-luka dipunggungnya. Kalau besok keadaannya belum membaik, kita harus membawanya ke rumah sakit,"
"Terima kasih, Jessica. Maaf kau harus datang ke sini pagi-pagi seperti ini,"
Jessica tersenyum, "Ini memang tugasku, Siwon-ah. Aku ini seorang dokter, kau lupa?"
Siwon ikut tersenyum, "Lebih baik kau menginap di sini sampai besok pagi. Di luar juga masih hujan salju. Ada 1 kamar tamu yang tidak terpakai. Kau bisa tidur di sana,"
"Baiklah, aku juga sangat mengantuk. Aku keluar dulu. Kau juga harus istirahat," Jessica kembali tersenyum sebelum kemudian keluar dari kamar itu.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Pagi itu Yesung terbangun dan mulai merasakan sakit di bagian punggungnya begitu juga kepalanya yang terasa berat. Namun ia kemudian tersenyum saat medapati dirinya kini berada di dalam kamar. Itu berarti Siwon tidak jadi mengusirnya. Tidak sia-sia ia menunggu Siwon di luar semalaman.
Dengan sangat hati-hati, Yesung bangkit dari tempat tidurnya. Ia lalu berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah tertatih menuju dapur. Namun kemudian ia menyesali kenapa ia tadi harus pergi ke dapur begitu melihat Siwon dan Jessica dengan posisi yg siapapun pasti sudah bisa menebak dengan mudah bahwa mereka berdua tengah berciuman.
.
To Be Continued~~
.
A/N : Yosh! FF ini pokoknya isinya penuh dengan penyiksaan, jadi buat yang nggak suka melihat Yesung teraniaya disarankan buat jangan baca XD #plakk
