A/N: Thanks atas reviews nya minna-sama, dan Alicia to Usagi mempersembahkan Morte chapter 1! Gomen telat QAQ/

.

Disclaimer: KHR and its contents belongs to Amano Akira

The OC(s) here belongs to me.

All the brands inside belongs to its owner

All the legends inside are unknown for its truth and belongs to their countries

All the OC(s) name are only Fiction.

Etcetera~ ENJOY READING! R & R PLEASE

Note: [name] nama Arcana/ istilah dalam Tarot


Morte

Chapter 1: The Fool

"The Fool Arcana does not mean it that can be taken lightly. The Fool is number zero. It is the void from which all other things begin."

Suara air mengalir melalui shower. Sesosok gadis remaja berusia 16 tahun tengah memandangi pantulan dirinya di cermin. Jemarinya menelusuri cermin tersebut, mengamati rambut hitamnya yang panjang, matanya yang berwarna hitam kosong, serta sebuah tattoo dengan lingkaran yang mempunyai 8 jari-jari dengan ujung anak panah, mirip dengan symbol "roda dharma" atau biasa disebut roda kehidupan yang tak pernah berhenti berputar dalam agama Buddha, hanya saja di tengah lingkaran tersebut terdapat tengkorak, terukir di bagian perutnya.

Simbol Chaos.

Kemudian ia kembali beralih ke matanya. Ia menutup matanya sejenak, kemudian membukanya kembali. Dua mata berbeda warna terpantul. Merah pekat serta perak. Merah yang sama dengan milik ayahnya, tetapi lebih bercahaya, dipenuhi dendam. Perak yang lebih tajam dari milik 'ibu'nya, dipenuhi harapan akan 'malam' itu.

Malam yang ia harap tak pernah terjadi, tetapi terjadi.

Suara ketukan pintu bathroom membuyarkan lamunan gadis itu. Jemarinya beralih menyambar handuk dan melilitnya melingkari tubuhnya, menutupi tattoo. Kemudian memutar keran agar shower mati.

"Yu-" bahkan sebelum Dino Cavallone—yang mengetuk pintu—sempat menyelesaikan sepatah katapun, pintu terbuka dan menampakkan sosok gadis itu.

"Bukankah sudah kukatakan jangan panggil aku dengan nama itu?" katanya dengan nada kesal bercampur jijik.

"Oh ayolah, apa salahnya dengan nama Yu—" mendapati sang gadis menatapnya dengan tajam serta matanya yang berwarna merah berkilat, menandakan bahwa sang gadis tak akan segan-segan menjahit mulut Dino bila ia mengucapkan namanya, "—aku mengerti, Helen." kata Dino dengan pasrah.

"Helena." sahut Helena mengoreksi. "Tak kusangka paman ternyata seorang pedofile." sambungnya dengan nada mencemooh.

Dino ber-sweadropped sebelum menyangkal, "Hei! Kejamnya, aku kan hanya khawatir denganmu yang sudah di kamar mandi selama kurang lebih 1 jam. Mungkin kau tertidur lagi, atau—"

"Atau itu hanya alasanmu, om pedo." seakan ribuan panah imajiner menusuk menembus jantung Dino ketika mendengar Helena mengatakan hal kejam tanpa perasaan itu.

"Dasar bocah..." gerutu Dino menanggapi perkataan Helena.

"Maaf tetapi aku 16, om pedo." sanggah Helena.

"Kalau begitu aku gak pedo dong." sahut Dino dengan tampang innocent yang menurut Helena imut tetapi lebay buat om-om seumuran Dino.

"Ya ya, terserah," memutar matanya kemudian menatap Dino dengan tajam, "Kalau begitu bisakah anda keluar, Tuan Dino Cavallone bila anda tak punya urusan dengan saya? Berhubung sedikit dingin berpakaian minim seperti ini." ucap Helena lumayan risih. Memang, di ruangannya AC jarang dimatikan karena Helena suka ruangan bertemperatur minimun (dan Helena menganggap sebuah ruangan tidak layak bila membuatnya gerah atau berkeringat).

Dino terdiam sebelum akhirnya menyadari maksud Helena. Semburat pink tipis muncul di wajahnya menandakan ia malu. Oke, disini agak terbalik dengan siapa yang seharusnya malu, tetapi sudahlah, abaikan saja. Kemudian setelah mengatakan bahwa ia akan menunggu Helena di ruang makan, Dino pun keluar dari kamar Helena.


Makan siang di ruang makan Cavallone Mansion berlangsung canggung. Helena tak henti-hentinya mengeluhkan atmosfir ruangan yang menurutnya pengap, gerah. Sedangkan Dino masih malu tentang kejadian tadi. Satu teguran dari Helena membawanya kembali ke dunia nyata.

"Ada apa denganmu?" tanya Helena mengerutkan dahinya. Ia berjanji akan membunuh Dino bila Dino hanya memanggilnya demi makan siang belaka.

"E-eh? Ah tidak apa. Bagaimana kalau kita ke Central Park?" tawar Dino sembari menyunggingkan senyumannya.

"Bah! Kau bercanda, kuda bodoh?" sindir Helena dengan nada sarkatis. Sifat yang jelas turunan dari Xanxus dan Squalo.

Dino sendiri hanya menggedikkan bahunya dan berkomentar, "Hanya mencoba membuatmu senang dan rileks saja."

"Aku cukup rileks saat ini." kata Helena sambil menatap Dino dengan irisnya (yang sudah kembali) berwarna hitam kosong. Berbeda dengan iris merah rubynya atau iris peraknya.

"Kau pakai contact lens?" Helena mendengus mendengar pertanyaan bodoh yang dilontarkan Dino. Dino sendiri tahu bahwa dirinya sebenarnya tidak perlu bertanya demikian sebab ia tahu bahwa Helena sama sekali tidak menggunakan contact lens.

"Oke aku tahu, jangan menatapku dengan mata kosong seperti itu. Seram tahu." ujar Dino.

"Lebih seram dari iris heterochrome ku?" tanya Helena menaikkan satu alisnya.

"Well, tidak bisa dibandingkan dengan yang itu.." jawab Dino bergidik ngeri.

"Aku bercanda bodoh."

"Oh ya, bagaimana dengan kartu permainanmu?" lagi, Dino mendapat tatapan tajam yang menusuk dari Helena. Dalam hati Dino bertanya-tanya apa yang salah.

"Pertama, itu bukan kartu biasa atau mainan. Itu Tarot. Kedua Tarot bukan permainan biasa. Ketiga, aku bukan jenius yang bisa menghafal 78 kartu, terdiri dari 22 mayor dan 56 minor." Helena mengeluarkan tempat deck nya dan memandanginya dengan malas. Dino sendiri membatin bahwa ia tak mungkin bisa menghafal itu semua. Membosankan, itu menurut Dino. Dan hey, di abad 17 ini mana ada yang percaya dengan Tarot? pikir Dino.

"Jadi, tuan Dino Cavallone, berhubung saya tidak berniat pergi ke tempat kotor dan pengap serta gerah seperti Central Park, maka permisi." ujar Helena membersihkan sisa makan siang dan membawa piring kotor ke dapur. Tak lupa ia membawa decknya bersama.

"Lagi lagi sikapnya formal..." gumam Dino memandangi kepergian Helena. Tetapi kemudian matanya menangkap sebuah kartu tergeletak diatas meja dimana deck Helena tadi berada. Ia pun mengulurkan tangannya meraih kartu tersebut dan mengernyit pelan.

Sebuah kartu dengan gambar jester memegang tongkat dengan bundelan di ujungnya, diikuti seekor anjing di belakangnya. Kemudian terdapat angka "0" di bawah, dan "XXII" diatas.

Kemudian Dino membaca tulisan yang terdapat dibawah, "The Fool?"


"Momma!" teriak dua bocah kecil riang sembari mendekati Squalo. Duduk seseorang bertemperamen buruk bernama Xanxus di singsananya. Yue serta Hoshi berlari kecil disekitar Xanxus serta Squalo, mengakibatkan hal berikut terjadi;

VOIII! BOCAH BRENGSEK! JANGAN PANGGIL AKU BEGITU" teriakan serak basah melengking, Yue dan Hoshi dengan sigap menutupi telinga mereka.

PRANG! Suara barang pecah belah mengenai seseorang. Tanpa mengangkat kepala sekalipun, semua tahu siapa yang melempar dan siapa yang kena. Atmosfir di ruangan turun satu derajat, disusul suara berat Xanxus yang mengeluhkan suara cempreng Squalo, juga Squalo yang terus mengumpat terlebih karena Xanxus melempar sebotol penuh absinthe, arak dengan aroma dan rasa alkohol yang sangat kuat.

"VOI BOS BRENGSEK! APA MAUMU HAH?!"

"Tch. Diamlah sampah!" ujar Xanxus sembari mengambil langkah kearah Squalo

Dan sejurus kemudian, Yue menutupi mata kembarannya Hoshi dengan telapak tangannya, sementara Hoshi bertanya-tanya apa yang terjadi.

"Vo-mphh!" Squalo hendak melontarkan protes keduanya tetapi bibir Xanxus menginterupsinya dan beberapa saat kemudian Squalo pun terbuai atas ciuman mendadak Xanxus yang mulai memanas.

Sayangnya adegan itu tidak berlangsung lama berhubung pintu ruangan terbuka.

"Paman Dino!" pekik Yue menyambut sosok yang dengan berani (atau cari mati) membuka pintu tanpa izin serta dengan sukses menginterupsi ciuman XS yang hampir berubah menjadi ganas.

Hoshi yang melihat kedatangan Dino ikut menyambutnya dengan riang, "Paman Dino! LAMA TAK KETEMU!" ucapnya kegirangan dengan suara melengking tinggi. Iapun berlari menubruk Dino dan berakhir bergelayutan kepadanya.

"Hoshi curang! Paman Dino milik Yue!" protes Yue melihat kelakuan Hoshi yang seenaknya memeluk Dino. Bagaimanapun dialah yang pertama kali menyadari kedatangan Dino, kan?

"…" Hoshi tidak melakukan apa-apa kecuali bersembunyi dibelakang Dino, menjulurkan lidahnya sesaat kemudian menatap Dino berbinar-binar.

"Ahahaha..." Dino bersweatdrop melihat tatapan Hoshi yang berbinar-binar dan bingung ketika Yue memanyunkan bibirnya dan menatap Dino dengan tatapan sendu.

"Aku sayang Yue kok," ujar Dino mengulurkan tangannya untuk memeluk Yue. Dan ekspresi Yue seketika menjadi cerah, dengan riang ia berhambur ke pelukan Dino.

"Ne, ne! Paman Dino. Kalo Yue sudah besar nanti, Yue akan menikahi paman Dino!" pernyataan mendadak dari Yue mengalihkan perhatian Squalo dari ciuman yang sedari tadi berlangsung (Author: yaelah, gak brenti toh trnyata).

"Voiii! Jangan harap!" tegas Squalo emosi. Ampun deh, tak bisa ia bayangkan Yue sudah bisa melamar pria di usia 4 tahun. (salah siapa coba? Ciuman depan anak 4 tahunan?)

"Sampah..." Xanxus memicingkan matanya, memberikan deathglare singkat pada Dino. Sependapat dengan Hiu brengsek yang tidak setuju bahwa Yue akan menikahi kuda jingrak bodoh ceroboh itu.

"Shishishi~ Putri kecil melamar kuda, eh?" di ambang pintu, sosok Belphegor ikut nimbrung.

"Chessire!" bentak Yue mengerutkan dahinya. Ia tidak terlalu menyukai dongeng murahan dan menurutnya perumpamaan Bel itu murahan. Dan Yue memanggil Belphegor dengan sebutan chessire, salah satu karakter tokoh di Alice in Wonderland (satu-satunya dongeng yang Yue sukai).

"Muuu~ pastikan kau memeras kuda jingrak itu Yue!" sesosok bayi melayang di sebelah Belphegor. Mammon dan uangnya. Yue hanya memutar matanya menanggapi perkataan Mammon.

"Araa~~ Yue mau nikah sama Dino? Kyaaa sayang sekalii, Luss pengen lhoo~" kali ini bencong jambul ayam keluar, Lussuria. Hoshi dan Yue memanggilnya Luss-nee.

"Yue gak mau sama Luss-nee! Amit amit!" JLEB! Lussuria memanyunkan bibirnya dan berpundung ria di pojokan.

"Hei hei, aku bukan phedofile! Dan apa-apaan kalian ini. Kalian kan tahu aku sudah punya Kyo-ups." Dino menutup mulutnya, merutuki kebodohannya yang hampir mengucapkan nama kekasihnya tercinta itu. Bagaimanapun ia pasti akan diejek phedofile bila mereka tahu.

"Siapa?" tanya Mammon penasaran.

"Heh. Dasar kuda jingrak pedhofile." ucap Squalo mendengus. Tentu saja ia sudah dapat menebak siapa kekasih Dino.

"Shishishi~ Kuda jingkrak dengan burung kecil." Belphegor dengan perumpamaan fabelnya berkomentar.

"Araa~ ternyata sama skylark tohh" imbuh Lussuria. Terimakasih kepada Lussuria yang cerewet, seluruh anggota Varia minus Levi mengetahui salah satu rahasia Dino.

"Phedofile sampah." komentar Xanxus

"Phedofile itu apa?" tanya Yue menatap anggota Varia satu per satu.

"Pedhofile itu om om mesum, shishishi" jawaban ngawur dari Belphegor.

"Phedofile itu pecinta anak-anak" jawab Lussuria

"Muu. Aku tak akan kasih tau kecuali dibayar!" sudahlah, memang tak ada gunanya tanya sama Mammon.

" umm, jadi phedofile itu om mesum yang sayang sama anak-anak?" tanya Yue mengambil kesimpulan dari jawaban Chessire dan Luss-nee dengan muka polosnya yang imut-imut tanpa dosa.

"Voi! Bocah brengsek, kau akan tahu itu kelak. Nah sekarang mandilah! Dan kalian semua, pergi dari sini sekarang juga!" perintah Squalo, mulai pening dengan kehadiran anggota Varia yang muncul satu per satu. Kalau mereka lebih lama berada di sini, Squalo tidak bisa membayangkan kehebohan apa yang akan ditimbulkan.

"H-hei! Aku jauh jauh kesini untuk diusir?" Dino menggerutu agak kesal.

Yue menggerakan matanya menjelajahi ruangan, yang menyebabkan Squalo mengerutkan dahinya.

"Momma, dimana Hoshi?" satu pertanyaan dari Yue mengejutkan semua yang ada di ruangan.

"Aneh.. Daritadi ia bergelayut padaku. Kemana dia?" Dino menggaruk lehernya yang tidak gatal, mencari Hoshi tetapi nihil.

"Bocah itu sudah keluar daritadi," suara berat Xanxus memberi penjelasan.

"Shishishi, pangeran tidak melihatnya keluar."

"Muu, dia pasti berbakat menjadi assassin."

Lalu suasana dalam ruangan itu kembali seperti semula.

Sementara itu, di ruangan lain yang gelap, tanpa cahaya sekalipun. Bocah berambut perak ikal pendek terduduk memeluk kedua lututnya. Isakan tangis terdengar. Hoshi mengangkat kepalanya, wajahnya basah oleh airmata. Iris merahnya mengkilat, memancarkan dendam. Iri hati. Terluka.

"Tidak termaafkan…" gumamnya.


" Tarot, ya?" gumam Dino memainkan kartu [The Fool] ditangannya. Ia terus memandangi kartu itu dan sesekali berfikir.

Suara ketukan pintu dan Dino mempersilahkan orang yang berada di belakang pintu masuk. Romario.

"Boss—Itu tarot?" Dino mengangkat kepalanya dan memandang Romario bingung. Kenapa Romario terlihat takut? Batin Dino.

"Err, ya begitulah. Kau tahu tentang ini? Yu-maksudku, Helena memberi ini padaku." oke, sebenarnya tidak bisa dibilang memberi sih, karena kartu ini sebenarnya tertinggal. Tetapi bila mengingat bahwa Helena bukanlah orang yang ceroboh yang akan meninggalkan atau lupa pada barangnya itu rasanya agak tidak mungkin. Kecuali ia sengaja meninggalkannya.

"Oh, ternyats nona Helena yang memberikannya. Cocok sekali untuk Boss. Saya tidak menduga nona Helena punya ketertarikan pads tarot." Dino menaikan alisnya. Kini ia penasaran tentang apa yang dikatakan Romario.

"Maksudmu? Bagaimana kau tahu tentang tarot, Romario?"

"Tarot dulu sangat populer di abad 15 Boss. Dan kartu [The Fool] ini bisa berarti melambangkan sifat seseorang." jelas Romario.

"Oh," Dino memangku dagunya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya tetap memainkan kartu itu, "Lalu apa sifatnya?"

"[The Fool] melambangkan kepercayaan, dan memberitahu agar percaya pada hatimu sendiri tak peduli betapa gila atau bodohnya itu ." Dino tersenyum mendengar penjelasan Romario. Ternyata Helena tidak begitu berubah seperti yang ia kira. Sungguh surat cinta yang mengharukan.

"Geez Romario, lama sekali" Dino melirik learah ambang pintu. Matanya membulat.

"Fratelo? Astaga! Aku tak tahu kau akan pulang!" ujar Dino beranjak dari tempatnya, menyambut kakaknya Alfonso Cavallone.

"Aku kemari dan Romario menyuruh ku menunggu. Ternyatanya dia malah mengobrol denganmu," gerutu Alfonso, kemudian matanya terbelalak melihat kartu yang dipegang oleh Dino, "Dino, itu.. [The Fool]?" tanyanya tak percaya.

Dino mengangguk dan membatin tentang reaksi Romario dan Alfonso. Aneh, baginya. "Yap. Ada apa memangnya?" tanya Dino mengerutkan dahinya, "reaksimu aneh seperti Romario tadi. Apa yang salah dengan kartu ini?"

"Pertama, itu bukan kartu biasa. Itu Tarot. Kedua itu bukan mainan. Dan ketiga, ada 78 jumlah kartu, terdiri dari 22 major arcana dan 56 minor arcana.The Fool merupakan major arcana." Dino semakin heran. Kenapa jawabannya mirip dengan Helena?

" Ya, ya. Aku tahu." Dino pun memilih untuk mengabaikannya. Kemudian matanya menangkap apa yang dibawa oleh Alfonso. Ia mengenali simbol itu, "Surat dari Vongola?"

Alfonso hanya diam dan melempar surat itu dimeja kerja Dino, "Katakan, Dino.. Siapa yang memberimu kartu ini?" tanya Alfonso dengan nada cemas yang tidak dipahami Dino.

"Helena," jawab Dino singkat sembari membuka surat tersebutmdan mulai membacanya.

"Ngg, kepada Famiglia..."

Kepada Famiglia Cavallone.

Dengan berat hati, Secondo menyatakan bahwa Dino Cavallone berkhianat terhadap Vongola

Dan akan dieksekusi mati pada 01 Aug 17xx

Secondo mengharapkan saudara Dino menyerahkan dirinya

Atau Famiglia Cavallone dipastikan tidak selamat.

Maafkan aku, Dino-nii..

Tertanda, Vongola Decimo

Tsunayoshi Sawada

Dino mengerutkan keningnya, "Hei ini ditujukan untukmu," komentarnya sesudah membaca surat dari Vongola Decimo itu.

Eh? Tunggu dulu...

Ada sesuatu yang terlewat

Namanya tertera dan dituduh atas penghianatan?

"EHHH? APA MAKSUDNYA INI?!" teriak Dino histeris, ia tidak bisa menerima kenyataan dengan mudah! Lagipula pasti ada kesalahan, pasti! Bagaimana mungkin ia berkhianat kepada Vongola?

"Itu yang ingin kutanyakan padamu Dino, serta alasanku pulang kesini," Alfonso memijit keningnya perlahan, "Kali ini apa yang kau lakukan hingga Secondo memerintahkan Decimo untuk mengirim surat titah ini?"

"Aku tidak melakukan apapun!" tegas Dino kalap, "W-well, aku memang merusak vas bunga yang berada di ruangan kerja Tsuna, menghanguskan dapur ketika ingin memasak omelet di Vongola HQ, dan aku juga menghancurkan separuh ruangan perpustakaan Vongola.. Tapi itu bukan salahku! Gokudera melempar dinamitnya dan tahu-tahu meledak. Setelah itu, ternyata Kyouya yang ada di perpustakaan terbangun dengan mood yang sangat jelek. Lalu Lambo melempar granatnya dan I-Pin berubah menjadi bom...entah kenapa..." penjelasan Dino lebih dari cukup bagi Alfonso untuk menyadari kalau Dino itu BENAR-BENAR tidak berguna bila tanpa bodyguardnya. Bagaimana bisa ia menghancurkan vas bunga di ruangan Tsuna? Kalau Alfonso tidak salah, vas itu sudah ada sejak generasi Primo sampai sekarang dan adiknya menghancurkan barang antik itu.

Tapi Alfonso tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari keganjilan yang aneh.

Kalau soal vas, bisa saja Dino membayarnya walau semahal apapun harganya dan Alfonso tahu bahwa Tsuna akan menolak dengan tegas. Lagipula ia rasa Giotto tidak akan keberatan.

Soal dapur juga tidak apa. Aneh bila Secondo menyatakan Dino berkhianat hanya karena hal sepele. Bila diingat, kekayaan Vongola itu tak terhitung jumlahnya.

Tetapi lain kasusnya bila hal itu menyangkut alter-ego Vongola...

Menyangkut rahasia terkelam Vongola, terutama Vongola Nono.

"Ne, Dino... Apakah kau tahu tentang legenda tarot?"


"Chesire! Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Yue mengamati Bel serta Levi dengan iris onyx yang memancarkan rasa penasaran dan ketertarikan.

"Shishishi~ pangeran sedang bermain catur." jawab Bel tanpa mengalihkan perhatiannya dari papan catur.

"Ahh sial! Aku kalah!" ujar Levi mencak-mencak. Ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

"Shishishi~checkmate." kata Bel menyeringai puas. Sudah 3 kali ia bermain dengan Levi dan selalu menang.

"Yue mau coba!" menarik salah satu kursi terdekat dan memanjatnya, akhirnya Yue dapat melihat apa yang dinamakan 'catur' dengan dekat. Tangan mungilnya menggenggam pion dan kemudian memutarnya, memainkannya.

"Shishishi, bukan begitu cara mainnya." Bel mengambil pion yang digenggam Yue, menyusunnya di papan catur. Bel pun menjelaskan hal penting dalam catur serta peraturannya.

"Aku akan membantumu mengalahkan Bel, Yue!" ucap Levi antusias-

"Gak perlu! Yue ntar bukan menang tapi malah kalah telak!" -tetapi ditolak dengan kejam oleh Yue sendiri.

"Shishishi, pangeran setuju." komentar Bel.

Levi pun sukses mundung di pojokan, menggambar lingkaran kecil lingkaran kecil lingkaran besar, kulit pisang kulit pi-ehem! maksudnya di tanah dan menggumam, "sabar," sambil mengurut dadanya. Sudah menjadi nasib seorang Levi untuk selalu diperlakukan kejam...

Selang beberapa menit kemudian, Yue terlihat bosan. Sungguh, ia tak menyangka catur itu membosankan. Hanya menggerakkan pion ke kotak hitam putih.

Sementara di pihak lain, Belphegor kewalahan menghadapi Yue. Rajanya terjepit antara nesa dan kesatria Yue. Sejenak ia memandangi Yue, menyadari bahwa ia bosan. Seringai licik terbentuk di wajah Bel.

"Shishishi, pangeran bosan. Bagaimana dengan kartu tarot, Yue?" tawar Bel berusaha memancing ketertarikan Yue.

Yue mendongak dan menaikkan sebelah alisnya. Gotcha! Yue 'memakan' umpan Bel. "Tarocchi?"

Bel mengangguk dan mengeluarkan deck tarotnya. Ia mengambil kartu paling depan dan menunjukkannya pada Yue. "Carde da Trionfi. Kartu yang bisa memprediksi dan menjawab pertanyaan bagi para pencari jawaban (seeker)."

"Kesatria akan mati dan checkmate!" Yue bersorak kecil merayakan kemenangan pertamanya dalam catur. Bel terperangah-tidak percaya ia dikalahkan. Levi terkikik pelan.

"Shishishi, ternyata pangeran kalah, lain kali pangeran tak akan mengalah~"

"Bilang saja kau memang kalah, pake ngalah segala." cibir Levi, mendapat hadiah lemparan pisau penuh kasih sayang kearahnya, siap mencabut nyawanya bila Levi tidak menghindar.

"Ne, ne! Chessire, ajari aku tarot!" pinta Yue mengabaikan aksi lempar pisau Bel.

"Shishi, pangeran tidak terkejut Yue tahu tarot bukan permainan," Bohong. Bel amat terkejut, walau disembunyikan dengan baik oleh cengirannya.

"Eh? Bukannya disetiap permainan ada cara dan aturannya? Misalnya seperti kuda yang hanya bisa jalan dengan pola huruf L?" Yue memiringkan kepalanya. Rasanya Bel ingin menarik kata-katanya kembali, menyesali pikirannya yang tadi. Seharusnya ia tahu kalau Yue hanyalah anak kecil, bukan?

"Ah, Tarot lebih dari itu, shishishishi~"

"Misalnya?"

"Shishishi, kartu yang kau pegang-" Yue mengamati kartunya. The Fool. "-kartu itu bisa berarti dua hal." sambung Bel.

"Oh?" respon Yue membolak-balik kartu itu, menelusuri lekukan garis dengan telunjuknya.

"Shishishi, bisakah Yue menebaknya?" tanya Bel lebih kearah menantang.

"Ummm..." Yue menopang dagunya dengan sebelah tangan, berfikir sejenak, "Masa depan? Dan kepribadian seseorang, kurasa."

"Bingo. Shishishi, jadi dengan kartu ini," Bel mengambil kartu The Fool dari tangan Yue, "kau bisa melihat masa depan dan mengetahui sifat orang lain. Apakah dia jahat atau baik. Gampangnya, tarot dimainkan dengan cara mengacak dan membuka kartu. Biasqnya sih seperti itu," jelas Bel.

"Jadi The Fool menunjukkan pribadi yang bego?" tanya Yue lugu, sembari melirik-lirik kearah Levi. Bel terkekeh.

"Shishishi, tidak juga. Fool biasanya memberitahu untuk mempercayai hatimu, seberapapun gilanya itu. Well, mungkin memang agak tolol. Nah Yue, bisakah kau menebak sesuatu yang lain? Yang coba disampaikan oleh kartu ini?" tantang Bel lagi.

"Permulaan? Kosong? Entahlah." Yue menggedikkan bahunya.

"Dan darimana hipotesa itu muncul? Shishishi, jangan sembarangan, itu akan membahayakan lho."

Yue menggerakkan telunjuknya, menyentuh permukaan kartu itu. "Angka 0."

"Shishishi, sekali lagi benar. Angka 0 bukan berarti tidak ada, tetapi permulaan. Simplenya, ibarat sebuah wadah kosong. Buku kosong yang siap ditulisi berbagai pengalaman. Atau awal dari sebuah tragedi-" Bel terdiam sebelum melanjutkan, "-yah, tergantung posisi juga sih."

"Ne ne, asal usul tarot darimana?" Yue melontarkan pertanyaan untuk kesekian kalinya.

"Masih misteri. Tapi itu juga yang mengakibatkan tarot menjadi sebuah 'permainan' yang tak lazim. Terkadang rasa keingintahuan mendesak, tetapi lebih baik tidak tahu, shishishi~ jadi berjanjilah pada pangeran untuk tidak pernah membiarkan orang lain mengetahui bahwa kau bisa membaca tarot, karena kau punya potensial. Lebih sedikit lebih baik" Yue hanya mengangguk. Bila ia boleh jujur, ia sama sekali tidak mengerti perkataan Belphegor.

"Aku tahu, chessire." bohong Yue. Ia sangat tertarik pada tarot dan tidak ingin Bel membatalkan niatnya bila Bel tahu kenyataannya.

"Shishishi~"

Akhirnya sepanjang hari itu Yue lewati dengan belajar tarot dengan Belphegor.


Helena mematikan keran air wastafel. Ia akan berjalan keluar dapur ketika pinggulnya menyenggol daun pintu, mengakibatkan deck tarotnya terjatuh dan berserakan di lantai.

"Oh sial." gumamnya. Ia pun berjongkok, memunguti kartu-kartu tersebut dengan tergesa-gesa.

"berjanjilah pada pangeran untuk tidak pernah membiarkan orang lain mengetahui bahwa kau bisa membaca tarot"

Helena mendecih pelan. ia mengangkat kartu-kartu yang telah dipungutnya tanpa tersisa satupun itu tinggi-tinggi, dan kemudian melemparnya.

membiarkan kartu itu berserakan kembali.

Ia menyandarkan punggungnya ke dinding terdekat, menutupi wajahnya dengan satu tangan.

Pikirannya kembali lari ke masa-masa dulu.

Masa bahagia bersama keluarga Varia.

Dan masa kelam yang menghantuinya sampai saat ini.

Yang Helena mengerti, bahwa ia adalah penyebabnya.

Penyebab kenapa Varia terbantai, kenapa Varia dihapus dari Vongola.

Kenapa ia harus hidup di mansion Cavallone.

Kenapa ia sekarang sebatang kara.

Mammon mati karenanya.

Belphegor ditangkap karenanya.

Xanxus dieksekusi karenanya.

Hoshi menghilang karenanya.

Semua karena kesalahana Helena, kelalaiannya.

Tetapi tak sekalipun Squalo menyalahkannya.

"Berjanjilah padaku bahwa kau akan tetap hidup sampai 10 tahun kedepan, bocah brengsek!"

"10 tahun, ya?" ia sendiri tak mengerti kenapa ia masih hidup sampai sekarang, kalau bukan Dino yang terus menerus menghentikan aksi bunuh dirinya.

Ketika ia mencoba meledakkan diri sendiri, Dino datang dan memeluknya, menghentikannya bunuh diri. (karena Helena tak ingin mengajak siapapun untuk ikut mati bersamanya. Bila Dino memeluknya, maka besar kemungkinan Dino akan ikut meledak, maka Helena pun mengurungkan niatnya)

Atau ketika ia mencoba menyayat pergelangan tangannya, Dino pun menghentikannya. Helena sendiri tak mengerti kenapa Dino masih mau repot-repot mengurusnya, bahkan setelah Helena menghunuskan pedang kearah Dino, ia hanya meresponnya dengan senyuman hangat.

Helena pernah bertanya kepada Dino tentang hal tersebut. Dan jawaban yang diterimanya berupa penjelasan tentang janji yang dibuatnya dengan Squalo. Dino harus menjaga Helena tetap hidup atau Squalo sendiri yang akan mengakhiri hidup Dino bila Helena mati muda.

Tangannya naik ke lehernya, sebuah kalung bertengger disana. Kalung dengan permata berbentuk tanduk kecil yang bersinar ketika gelap.

Italian Horn yang diberikan oleh Xanxus. Sesuatu yang amat sangat berharga.

Ketika Helena larut dalam pikirannya, ia mendengar suara Dino yang berteriak keras.

"EHHH? APA MAKSUDNYA INI?!" Suara Dino terdengar amat sangat histeris, jauh di dalam hati, Helena merasa cemas.

Tanpa ia perintahkan, tubuhnya bangkit dan kakinya berlari kearah ruangan Dino, meninggalkan kartu yang masih berserakan.

Ketika ia sampai di ambang pintu, berniat membukanya, suara seorang pria menyihirnya, membuatnya membatu di tempat.

"Ne, Dino... Apakah kau tahu tentang legenda tarot?" Mata Helena melebar. Suara itu, suara yang amat ia kenal. Suara yang tak mungkin ia lupakan.

Clytemnestra (sang bangsawan).

Perasaan takut menyerang Helena. Otaknya terus mensugestikan dirinya untuk kabur, menjauhi ruangan itu. Tetapi, suara orang itu menyihirnya, membuatnya tak bisa menggerakkan jarinya sekalipun.

Mau apa dia disini? Batin Helena mulai memikirkan segala kemungkinan. Membantai Cavallone Famiglia? Atau mencarinya? Apapun itu, Helena yakin alasan kedatangan orang itu pasti membawakan berita buruk.

Karena orang itu memang selalu membawakan berita buruk.

Beberapa detik kemudian, Helena mulai menguasai dirinya kembali. Otaknya kembali memikirkan alasan yang lebih memungkinkan terkait perkataan orang itu.

Dia menanyakan tarot kepada Dino. Helena bisa mengatakan, bahwa orang itu tidak mengetahui keberadaannya disini.

Jadi Helena pun berusaha mengintip dan menguping kedalam ruangan, dengan sangat hati-hati ia mendekat sambil menahan nafasnya.

Ketika akhirnya ia bisa melihat dengan jelas kedalam ruangan tersebut, matanya terbelalak mengetahui apa yang terjadi.

Dino memegang sebuah kartu, kartu tarot. Walau tak bisa melihat dengan jelas, Helena tahu apa yang Dino pegang adalah The Fool. Ia bisa menebaknya dari aura yang terasa.

Pantas saja ia merasa kehilangan, ternyata salah satu kartunya kartunya hilang, dan entah bagaimana ada di tangan Dino. Helena menduga kalau kartu itu tertinggal saat ia pergi ke dapur, meninggalkan meja makan.

"Tidak, memangnya kenapa dengan Tarot? Dan hei, jangan bilang cuma aku yang gak tahu ya? Romario dan kau bersikap aneh ketika mendengar kata 'Tarot' memangnya kenapa sih? Kartu penyihir? Terkutuk?" gerutu Dino, sedikit bermain-main dengan kata-katanya.

Helena yang berada di luar, ingin rasanya dia menjitak kepala Dino atas kebodohannya.

"Well, jaga ucapanmu, Dino! Dewan bisa marah bila mereka mendengarmu berkata begitu!" bentak Alfonso waswas, jelas ada sesuatu yang hebat dari 'dewan' tersebut.

Dewan? Siapa dewan itu? Dan kenapa seorang Clytemnestra takut pada 'dewan'?

"Ahh—Helena? Apakah kau disitu?" suara Dino mengagetkan Helena juga Alfonso. Alfonso sendiri tidak tahu ada seseorang dibalik pintu, tetapi Dino menyadari keberadaan Helena!

'Sial!' umpat Helena dalam hati, dia ketahuan. Jadi apa yang akan dilakukannya? Dia pasti mati.

"Keluar dari situ." Suara berat dan dingin Alfonso membuat bulu kuduk Helena meremang. Dia tidak punya pilihan.

Dengan perlahan, Helena mengambil langkah demi langkah, menunjukkan dirinya di depan Alfonso dan Dino, berhenti tepat diantara mereka. Romario sendiri sudah meninggalkan ruangan atas perintah Dino.

"Kau—" entah kenapa, Helena merasa sedikit senang kala dia melihat wajah horror Alfonso, seperti takut pada dirinya. Aneh memang.

Sebaliknya, Dino semakin bingung. Matanya menatap Helena dan Alfonso bergantian, curiga dengan ekspresi dua orang itu. Helena, Dino tidak bisa mendeskripsikannya, tetapi Alfonso ketakutan, jelas tersirat di wajahnya.

Selang beberapa detik, Alfonso menarik nafas panjang, "Kurasa aku paham kenapa kau dianggap berkhianat, Dino." Ungkapnya misterius.

Helena terkesiap, dia mungkin masih remaja tapi dia tahu jelas arti perkataan Alfonso. Dino dituduh berkhianat karena dirinya, karena Helena sendiri.

Dino mencerna kata demi kata, "Maksudmu, aku berkhianat karena Helena?" tanya Dino memastikan.

Alfonso melirik Helena, dengan tatapan jijik dan Helena balas meliriknya dengan tatapan yang mencemooh Alfonso, kemudian kembali ke Dino dan mengangguk, perlahan.

"Kau berkhianat dengan Dewan, huh. Kenapa anak itu ada di sini?" Alfonso meminta penjelasan kepada Dino, sedang Dino sendiri mencoba menyatukan semua fragmen-fragmen yang berkeliaran di dalam otaknya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

"Well, dia dititipkan oleh salah satu temanku yang telah lama menghilang. Aku hanya memenuhi janjiku, itu saja." jawab Dino enteng, menggedikkan bahunya.

"Kau tahu siapa anak itu?!" Alfonso memicingkan matanya, menatap Dino tajam, menaikkan suaranya.

"—Maaf tapi aku masih disini, jangan anggap aku tidak ada." satu kalimat peringatan dari Helena yang saat ini menatap Alfonso dengan intens, penuh dengan kebencian, "Dan aku punya nama sendiri. Tentunya seseorang seperti mu tahu namaku, iya kan? aku bertaruh siapapun yang dianggap dewan itu menyebarkannya. Namaku cukup terkenal, bukan?" lanjut Helena, seringaian terpasang di wajahnya.

"Well, sangat terkenal, Cursed Witch." Ucap Alfonso mencemooh. Helena hanya menyeringai lebar. "Aku bukan seorang penyihir, tuan bangsawan." Balas Helena.

"Cukup mirip." Balas Alfonso lagi. Dino yang terabaikan, akhirnya bersuara.

"Aku tidak mengerti semua ini." Katanya, dahinya berkerut.

"Helena, apakah kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Dino, menatap Helena sekilas dengan wajah sedih, kemudian berpaling ke Alfonso. "Dan Al, apakah kau terlibat dengan semua ini? Maksudku—Varia. Pembantaian Varia." Baik Alfonso dan Helena mengangguk pelan.

"… Jadi, apakah Vongola juga terlibat dengan semua ini?" tanya Dino lagi.

Sekali lagi, Alfonso mengangguk.

"…." Dino terdiam. Dalam benaknya, berbagai hal merasukinya. Seluruh dunia ternyata membohonginya. Alfonso, Helena, Tsuna. Mungkin Kyoya—kekasihnya—juga. Dan tidak menutupi kemungkinan bila arcobaleno termasuk, dan itu artinya, Reborn. Ah, ternyata hanya dia yang bodoh disini. Mengingat Alfonso, mungkin kebanyakan Cavallone tahu. Romario mungkin tahu.

"… Aku akan kembali besok. Gadis itu bukan orang biasa. Kau harus menyerahkannya, Dino… Demi Cavallone." Dan Alfonso berlalu seperti angin. Meninggalkan Dino yang tertunduk dan Helena yang terdiam.


"Jadi Helena, bisakah kau menjelaskannya? Tentang ini semua, maksudku." Pinta Dino lebih kearah memaksa. Ekspresinya dingin dan tangannya mengepal keras. Helena meneguk ludahnya.

"Aku—aku tak tahu! A-aku hanya memahami sedikit dan—" sebelum Helena sempat menyelesaikan, Dino memotongnya dengan tidak sabaran.

"Aku hanya butuh penjelasan! Aku tak peduli bahwa hanya sedikit yang kau ketahui, atau itu benar atau tidaknya, aku tidak peduli! Aku ingin penjelasan Helena! Apa yang semua orang coba sembunyikan dariku?" Helena terdiam. Dino jarang sekali menaikkan nada suaranya dan Helena tahu, saat ini Dino berada di titik terendahnya. Titik dimana satu kesalahan, dapat membuat Dino—antara—meledak atau kehilangan semangat hidupnya.

Helena menarik nafas panjang. Jauh sebelum hari ini tiba, sebenarnya dia telah merencanakan akan memberitahu Dino tentang semua ini, dan mungkin ini merupakan saat yang tepat untuk menceritakannya. "

Semua ini dimulai beberapa tahun yang lalu, kau tahu… insiden pembantaian Varia…"

.

.

.

TBC


ettou.. gantung ya? gomen /A/ (sengaja buat gantung, fufufufu~ /dijitak) ah.. sementara ini dulu yah~ Chapter depan akan dijelaskan tentang insiden pembantaian Varia dengan lengkap (dan ya, chapter depan adalah flashback~)

Reviews dan feedbacks akan sangat membantu duo yang malas ini /plakked/

Flame juga boleh! Pokoknya apa aja yang bisa mengobarkan api kecil di hati author.. /apaan

Untuk story lain yang belum di update, harap bersabar desu~ writer blocks belum bisa diatasi QAQ/