REMEMBER ME
Pairing : Yewon
Genre : Yaoi, romance, hurt/comfort, drama etc.
Rate : T ( akan berubah seiring berjalannya cerita)
Disclaimer : Yesung and Siwon belong to each other ^^
Summary : Yesung, namja berusia 19 tahun yang tinggal di panti asuhan dan selalu menjadi korban pem -bully-an. Sampai suatu hari, seorang namja bernama Choi Siwon datang 'menyelamatkannya'. Namun bagaimana jika ternyata kedatangan Siwon justru membawa masalah yang lebih besar untuknya?
Warning : BL, Un-official Pair, aneh, alur maksa, ribet, etc.
A Yewon Fanfiction © 2013 by Fairy_Siwoonie
.
~ HAPPY READING ~
.
Yesung mencengkeram dadanya kuat. Ada rasa sakit yang tak terdeskripsikan namun terasa begitu nyata di sana. Rasa sakit yang sama dengan yang pernah ia rasakan, namun kali ini terasa jauh lebih menyakitkan. Cairan bening mulai terlihat jatuh membasahi kedua pipi pucatnya.
Yesung menggeleng pelan. Ia menghapus air matanya dengan kasar lalu berlari kembali ke kamarnya.
Brakk!
Pintu kamar Yesung terbanting dengan cukup keras. Namja manis itu jatuh terduduk dengan menyandar pada daun pintu di belakangnya. Air matanya kembali mengalir semakin deras. Mendapatkan perlakuan yang buruk dari Siwon sudah cukup menyakitkan untuknya, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa Siwon mencintai orang lain. Itu semua benar-benar membuat hati Yesung terasa hancur.
Yesung menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Berusaha agar Siwon tidak mendengar isakannya. Ia tidak mau Siwon mengasihaninya lagi. Ia ingin Siwon mencintainya. Tadinya ia berpikir, mungkin tidak apa-apa jika Siwon hanya mengasihaninya selama itu bisa membuat ia terus berada di samping namja tampan itu. Namun sekarang ia tidak mau lagi. Jika memang Siwon benar-benar mencintai Jessica, maka ia akan berusaha untuk membuat Siwon kembali padanya. Ia akan membuat Siwon kembali mencintainya.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Siwon menjauhkan wajahnya, "Apa masih perih?"
Jessica mengusap matanya dengan punggung tangannya, "Sedikit lebih baik," Jawabnya seraya tersenyum.
"Lain kali hati-hati. Lada itu seharusnya dimasukkan ke dalam makanan, bukan mata," Ujar Siwon lalu tertawa.
Jessica mengerucutkan bibirnya, "Aku tidak sengaja, Choi Siwon!" Ujarnya kesal, lalu berbalik dan kembali melanjutkan acara memasaknya.
Siwon terkekeh pelan, "3 tahun aku mengenalmu, kau sama sekali tidak berubah. Kau tetap saja ceroboh!"
"Haiz! Sudah-sudah! Cepat bangunkan Yesung! Nasi gorengnya sudah siap," Jessica mendorong tubuh Siwon menjauh.
"Baik, Nona Jung," Goda Siwon lalu berbalik dan keluar dari dapur, meninggalkan Jessica yang hanya menggelengkan kepalanya.
Siwon menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Yesung. Sebenarnya ia ingin sarapan berdua saja dengan Jessica, namun Jessica justru memaksanya untuk mengajak Yesung. Ia tidak mungkin menolak. Ia tidak mau terlihat buruk di mata yeoja yang dicintainya itu.
"Yesung, apa kau sudah bangun?" Seru Siwon seraya mengetuk pintu kamar Yesung.
Yesung yang masih menyandar di balik daun pintu tadi tersentak begitu mendengar suara Siwon. Ia dengan cepat menghapus air matanya lalu berlari naik ke atas bed dan berpura-pura memejamkan matanya. Terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki mendekat kearahnya. Sesaat kemudian ia merasakan seseorang duduk di sampingnya.
"Yesung, kau ikut sarapan tidak?" Ujar Siwon seraya mengguncang tubuh Yesung.
Yesung tetap memejamkan matanya, membuat Siwon berpikir bahwa namja manis itu masih tidur. Ia tidak mau Siwon melihat matanya yang merah karena baru saja menangis.
Terdengar Siwon berdecak kesal. Akhirnya namja tampan itu menyerah membangunkan Yesung, kemudian keluar dari kamar itu. Lagipula, bukankah itu yang memang ia inginkan? Ia ingin makan berdua dengan Jessica, kan?
Setelah terdengar suara pintu tertutup dan langkah kaki menjauh, Yesung membuka kedua matanya. Cairan hangat itu kembali meleleh di pipi pucatnya.
"Aku akan membuatmu kembali mencintaiku, hyung," Lirihnya nyaris tak terdengar.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung membuka-buka kulkas di dapur Siwon, bermaksud mencari bahan makanan untuk ia memasak. Ia ingin membuat sesuatu untuk Siwon saat namja tampan itu pulang kerja nanti. Namun ternyata tidak ada satu pun bahan makanan di sana kecuali beberapa bungkus ramyeon. Yesung berdecak. Siwon masih saja hobi memakan fast food dari restahurant dan ramyeon seperti ini.
Akhirnya Yesung memutuskan untuk ke supermarket terdekat dan membeli bahan makanan. Beruntung, saat pergi dari Cheonan 2 minggu yg lalu, ia tidak menolak ketika Sang Umma memaksanya untuk menerima uang darinya.
Yesung tiba di supermarket yang berada tidak jauh dari rumah Siwon. Ia langsung membeli bahan makanan secukupnya dan segera kembali ke rumah karena jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya juga sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tidak akan menarik lagi kalau ia selesai memasak setelah Siwon pulang.
Yesung mengamati kanan dan kirinya, memastikan tidak ada mobil atahu kendaraan lain yang akan membahayakan ketika ia menyeberang. Setelah sign untuk pejalan kaki menyala, Yesung segera menyeberang menuju rumah Siwon. Namun sampai di tengah jalan, tiba-tiba ia merasakan nyeri di kakinya. Rasa sakit itu datang tiba-tiba membuat ia langsung jatuh di tengah jalan.
"Arrgh!" Yesung mengerang merasakan kakinya semakin sakit. Rasa sakit yang sama seperti ketika 6 bulan yang lalu akhirnya ia mengetahui ternyata dirinya menderita kanker tulang.
Tiinnn!
Yesung sontak menoleh dan menemukan sebuah mobil berjalan dengan kecepatan yang cukup tinggi ke arahnya. Yesung panik. Ia tidak mungkin bisa menyelamatkan diri. Sementara orang-orang di sekelilingnya hanya berteriak memperingatkannya, namun tidak ada yang berani mengambil resiko untuk menolongnya.
Yesung memejamkan matanya ketika mobil berwarna hitam metalik itu semakin mendekat ke arahnya. Ia mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang terburuk. Ia tidak bisa melakukan apapun lagi selain membiarkan Tuhan melakukan apa yang ingin Dia lakukan.
Ciiiitt!
Semua orang yang tadi sempat menahan napasnya langsung menghela napas lega begitu Sang pengemudi mobil hitam metalik itu berhasil menghentikan mobilnya tepat beberapa inchi di depan Yesung.
Seorang namja beriris hazel terlihat keluar dari mobil itu dan langsung menghampiri Yesung.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau ingin mati, huh?!" Seru namja itu, yang tentu saja ditujukan pada Yesung.
Namun Yesung tidak menjawab, kakinya terasa semakin nyeri.
Kim Kibum –namja tadi mengangkat alisnya begitu menyadari ada sesuatu yang aneh dengan namja manis yang hampir tertabrak mobilnya itu.
"Hey, kau baik-baik saja?" Tanya Kibum seraya berlutut di samping Yesung.
"Ka-kakiku sakitth.." Yesung meringis kesakitan.
"Aku antar ke rumah sakit, ne?"
"Ja-jangan!" Yesung menahan tangan Kibum yang bermaksud untuk mengangkat tubuhnya, "A-aku tidak mau ke ru-rumah sakit,"
"Hey, kau harus ke rumah sakit!"
Yesung menggeleng, "Ak-aku tidak apa-apa. Se-sebentar lagi pa-pasti rasa sakitnya akan hilang,"
Kibum terlihat mengerutkan keningnya bingung.
"Haiz! Baiklah, di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang kalau begitu,"
Yesung kembali menggeleng, "Ti-tidak perlu, Tuan. Aku tidak apa-apa,"
"Kau pikir aku akan percaya melihat keadaanmu yang seperti ini? Kau tidak perlu takut, aku tidak akan berbuat jahat padamu. Kajja!"
Yesung menatap Kibum ragu. Namun sepertinya namja bersurai hitam pekat itu benar-benar bukan orang jahat. Akhirnya Yesung mengangguk pelan.
Kibum membantu Yesung berdiri, namun kaki Yesung benar-benar terasa sakit hingga namja manis itu kembali hampir terjatuh. Akhirnya Kibum mengangkat tubuh Yesung bridal style dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia ikut menyusul masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Di mana rumahmu?" Tanya Kibum.
Yesung meraih sebuah kertas kecil dari sakunya, lalu memberikannya pada Kibum.
Kibum mengangkat alisnya terkejut, "Kau tinggal bersama Siwon?" Tanyanya ketika melihat kartu nama yang diberikan Yesung itu tidak lain adalah kartu nama milik sahabatnya.
Yesung ikut menatap Kibum terkejut. Mungkin ia bertanya bagaimana Kibum bisa mengenal Siwon. Namun rasa nyeri di kakinya semakin terasa sakit, akhirnya ia hanya menjawab Kibum dengan anggukan pelan.
"Ah, jadi kau namja yg di ceritakan Siwon kemarin," Gumam Kibum.
Setelah sampai di rumah Siwon, Kibum kembali mengangkat tubuh Yesung dan membawanya masuk ke dalam rumah. Kibum membaringkan tubuh Yesung di atas tempat tidur lalu segera mengambil ponselnya dan menelepon Siwon karena Yesung terus mengerang kesakitan.
"Iya, cepat pulang dan bawa Jessica!" Seru Kibum sebelum kemudian mengakhiri sambungan teleponnya. Ia lalu duduk di samping Yesung.
"Apa masih sangat sakit?" Tanya Kibum cemas.
Yesung menggigit bibirnya dan menggeleng. Namun Kibum bisa melihat dengan jelas ada cairan bening di kedua sudut caramel itu.
Akhirnya setelah cukup lama menunggu dan tidak tahu harus melakukan apa, Kibum mendengar suara langkah kaki mendekat. Tidak lama kemudian terlihat Siwon dan Jessica berlari memasuki kamar itu.
"Ada apa, Kibum-ah?" Tanya Siwon.
"Tadi aku menemukannya jatuh di jalan dan dia bilang kakinya sakit," Jawab Kibum seraya berdiri, memberikan ruang yang cukup bagi Jessica untuk memeriksa Yesung.
"Lebih baik kalian menunggu di luar, aku akan memeriksa Yesung," Ujar Jessica.
Kibum dan Siwon mengangguk bersamaan kemudian keluar dari kamar itu.
"Di mana kau menemukannya?" Tanya Siwon pada Kibum.
"Tadi aku hampir menabraknya di dekat supermarket. Sepertinya dia habis berbelanja," Jawab Kibum.
Siwon mendengus kesal, "Haiz! Anak itu memang selalu menyusahkan! Sudah tahu sakit, masih saja berkeliaran di luar,"
Kibum hanya mengangkat alisnya bingung melihat sikap Siwon. Ia merasa ada sesuatu yg aneh di sana.
"Jessica?" Seru Siwon membuat Kibum langsung menoleh ke arah pintu kamar Yesung. Terlihat Jessica baru saja keluar dari kamar itu.
"Bagaimana keadaan Yesung? Tidak terjadi hal yg buruk, kan?" Tanya Siwon seraya bangkit dari sofa.
"Hal seperti ini mungkin akan biasa terjadi. Kondisi tubuh Yesung yang lemah membuat sel-sel kanker di dalam tubuhnya meningkat dengan cepat. Terapi yang dilakukan kemarin sepertinya tidak terlalu banyak membantu," Jawab Jessica seraya mengambil posisi duduk di sebelah Kibum.
"Lalu? Maksudmu Yesung tidak akan bisa sembuh, begitu?" Tanya Siwon lagi.
Jessica menggeleng, "Kemungkinan sembuh masih tetap ada. Yesung akan menjalani 5 kali terapi, setelah itu dia harus melakukan operasi pengangkatan sel-sel kanker dari dalam tubuhnya. Baru setelah itu kita akan tahu, Yesung masih bisa sembuh atau tidak,"
"Kenapa harus menjalani 5 kali terapi terlebih dulu? Kenapa tidak melakukan operasi sekarang saja? Bukankah lebih cepat lebih baik?" Siwon kembali bertanya.
Jessica kembali menggeleng, "Tidak semudah itu, Siwon-ah. Kalau kita melakukan operasi sekarang juga, maka resikonya akan sangat besar. Terapi ini dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh Yesung sedikit demi sedikit, jadi nanti ketika melakukan operasi, kemungkinan berhasil akan lebih besar,"
Siwon mengangguk mengerti.
"Siwon-ah, aku rasa sekarang kau harus memberikan perhatian lebih pada Yesung. Hal seperti tadi bisa terjadi kapan saja. Akan sangat berbahaya jika hal itu terjadi saat tidak ada satu orang pun yang ada di dekat Yesung," Ujar Jessica lagi.
Siwon tersenyum, "Tentu saja. Aku membawanya ke sini memang untuk membantunya, jadi aku tidak mungkin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya,"
Jessica ikut tersenyum, "Kau memang sangat baik, Siwon-ah,"
"Dan kau sangat bodoh karena menolak orang sebaik ini berkali-kali, Jung Jessica," Goda Kibum yang langsung disambut death glare dari Siwon.
Jessica tertawa kecil, "Jangan membicarakan itu! Tidak ada hubungannya dengan masalah Yesung, Kim Kibum!"
Kibum ikut tertawa seraya melemparkan tatapan mengejek pada Siwon.
"Aku sudah memberi Yesung sedative, jadi dia akan tertidur selama 3 sampai 4 jam ke depan. Saat dia bangun nanti, rasa nyeri di kakinya mungkin sudah hilang, jadi kalian tidak perlu khawatir," Ujar Jessica lagi, "Ah iya, sebaiknya kau tidak kembali ke perusahaan, Siwon-ah. Kau harus menjaga Yesung di rumah,"
"Baiklah, aku tidak akan kembali ke perusahaan," Jawab Siwon.
"Pekerjaanku juga sudah selesai, jadi aku akan menemani Siwon menjaga Yesung. Lagipula aku sudah lama tidak berkunjung ke rumah Siwon," Sambung Kibum.
Jessica kembali tersenyum, "Baiklah, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku masih harus kembali ke rumah sakit,"
"Aku akan mengantarmu," Ujar Siwon seraya bangkit dari sofa.
"Aku akan melihat Yesung," Kibum ikut bangkit dari sofa, lalu melangkah masuk ke dalam kamar Yesung.
Kibum membuka pintu kamar Yesung dengan hati-hati, lalu melangkah masuk menghampiri Yesung yang berbaring di atas tempat tidurnya.
"Huh~ kasihan sekali, di usiamu yang masih sekecil ini kau sudah harus menjalani hidup yang begitu rumit. Tidak punya orang tua, dan masih harus menderita karena penyakit berbahaya ini," Gumam Kibum seraya menatap wajah Yesung yang kini terlihat begitu nyaman. Tidak memancarkan raut kesakitan seperti tadi –yang entah mengapa juga membuat Kibum merasa cemas.
Kibum tersenyum, "Kau sama seperti dia. Tetapi aku harap kau lebih beruntung. Kau harus bisa mengalahkan penyakitmu ini," Ujarnya seraya mengusap rambut Yesung lembut.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Kibum menghampiri Siwon yang tengah menata makanan di atas meja makan. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, sepertinya tadi ia ketiduran di kamar Yesung cukup lama.
"Makanan dari restahurant?" Tanya Kibum seraya mengambil posisi duduk di hadapan Siwon.
"Dari mana lagi?" Siwon balas bertanya.
Kibum menggelengkan kepalanya, "Terlalu banyak makan fast food seperti ini tidak baik untukmu, Siwon-ah. Kenapa tidak menyewa pembantu saja? Aku yakin membayar satu orang pembantu tidak akan membuatmu jatuh miskin,"
"Okay, nanti akan aku pertimbangkan," Jawab Siwon acuh.
Kibum mendelik kesal.
"Ah iya, apa kau tidak membangunkan Yesung?" Tanya Kibum lagi seraya mengambil segelas air putih.
"Nanti kalau dia merasa lapar pasti juga akan makan sendiri,"
Kibum menatap Siwon aneh, "Perasaanku saja atau memang sepertinya kau tidak menyukai Yesung?"
Siwon hanya mengangkat bahunya.
"Hey, apa yang salah dengan anak itu? Sepertinya dia anak yang baik,"
"Jangan tertipu dengan wajah malaikatnya. Dia itu mengerikan,"
Kibum kembali mendelik, "Apa yang dia lakukan padamu sampai kau membencinya seperti ini? Aku tidak pernah melihat seorang Choi Siwon berbicara setajam ini sebelumnya,"
"Aku hanya menyarankan, jangan tertipu dengan wajah malaikatnya. Dia lebih mengerikan dari apa yang bisa kita bayangkan,"
"Lalu kenapa kau membawanya ke sini kalau kau membencinya?"
"Aku terpaksa. Lagipula dengan begini aku bisa lebih dekat dengan Jessica,"
"Jadi kau memanfaatkan Yesung, huh?"
"Aku tidak memanfaatkannya. Aku membantunya untuk sembuh, dan dia membantuku untuk mendapatkan Jessica, adil kan?"
Kibum mendengus, "Yesung itu masih kecil, Siwon! Kau akan menyakitinya kalau dia tahu kau membawanya ke sini hanya karena terpaksa!"
Siwon tertawa kecil, "Yesung itu sudah 19 tahun, Kibum-sshi. Sudah aku katakan, jangan tertipu dengan wajahnya,"
"Eh? Aku pikir dia masih 15 tahun. Wow~ dia terlalu imut untuk berusia setua itu," Kibum terkekeh pelan.
Siwon memutar bola matanya, "Jessica bahkan mengira dia masih 14 tahun,"
Kibum tersenyum, "Dia memang sangat manis,"
Siwon tersenyum meremehkan, "Kau tidak akan bisa berbicara seperti itu kalau tahu siapa dia sebenarnya," Ujarnya lalu bangkit dari kursinya, namun gerakannya terhenti ketika matanya bertemu dengan iris caramel milik Yesung yang entah sejak kapan sudah berdiri di pintu dapur.
Kibum yang melihat perubahan raut wajah Siwon pun langsung menoleh, mengikuti arah pandangan mata Siwon. Ia pun tak kalah terkejut ketika melihat Yesung berdiri tak jauh darinya dengan ekpresi yang sulit diartikan.
Mereka bertiga terdiam beberapa saat, seolah bingung dengan apa yang harus mereka lakukan atahu katakan.
"A-aku ingin mengambil minum," Ucap Yesung yang akhirnya mememecah keheningan. Ia berjalan ke arah meja makan dan mengambil segelas air putih.
"Maaf mengganggu," Ucap Yesung sekali lagi, ia kemudian kembali ke kamarnya meninggalkan Siwon dan Kibum.
"Haiz! Bagaimana kalau dia mendengar pembicaraan kita, Siwon-ah?" Tanya Kibum dengan suara pelan setelah berhasil mendapatkan kembali kesadarannya.
Siwon mengangkat bahunya, "Aku tidak peduli. Lagipula, meskipun dia mendengar pembicaraan kita, dia tidak akan merasa tersinggung atau sakit hati. Kau belum tahu saja dia itu seperti apa,"
"Tapi—"
"Sudah, tidak usah dipikirkan!" Ujar Siwon lalu keluar dari dapur meninggalkan Kibum.
Kibum berdecak kesal.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung mengunci pintu kamarnya dan berjalan menghampiri sebuah cermin besar yang terpajang di dalam ruangan bernuansa baby blue itu. Ia menatap pantulan dirinya beberapa saat dengan ekpresi datar. Sedetik kemudian ia menghela napas berat.
"Apa aku benar-benar serendah itu di matamu, hyung?" Ujarnya dengan suara pelan, masih tanpa mengalihkan tatapannya dari refleksi dirinya sendiri.
Yesung merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, "Kau pernah bilang aku tidak kalah cantik dari yeoja-yeoja itu, kan?" Gumamnya lagi lalu tersenyum aneh, "Aku akan mendapatkanmu kembali, Siwon hyung. Aku tidak peduli sekarang kau mencintai Jessica atau siapapun, yang pasti aku akan membuatmu kembali mencintaiku,"
Yesung memejamkan kedua matanya erat. Rasa sesak di dadanya membuat bulir-bulir bening itu kembali memaksa untuk keluar dari matanya.
"Aku tidak akan mati sebelum aku mendengar kau mengatakan bahwa kau mencintaiku!" Ucap Yesung lagi masih dengan suara pelan, namun menyiratkan kesungguhan yang begitu kontras. Lagi-lagi sebuah senyuman ambigu terukir di bibirnya, menghiasi wajah yang entah sejak kapan telah basah oleh air mata itu.
Tok tok!
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar itu di ketuk dari luar membuat Yesung tersentak. Namja beriris caramel itu buru-buru menghapus air matanya. Setelah memastikan tidak ada lagi jejak-jejak air mata di wajahnya, ia bergegas membuka pintu kamarnya.
Klek~
Pintu kamar Yesung terbuka. Namja manis itu sedikit mengerutkan keningnya begitu melihat sosok namja yang berdiri di depan pintu kamarnya seraya tersenyum.
"Kau?"
"Aku Kim Kibum. Kau tidak lupa padaku, kan?" Ujar Kibum –namja tadi, masih dengan tersenyum.
"Kau yang menolongku tadi siang, kan? Kenapa kau masih di sini?"
Kibum mengangguk, "Aku teman Siwon,"
"Ah iya, aku melihatmu berbicara dengan Siwon hyung tadi,"
"Kau mendengar pembicaraan kami?" Tanya Kibum, ada nada cemas yang samar terdengar dari pertanyaannya kali ini.
Yesung tersenyum tipis, "Aku tidak apa-apa,"
"Bohong!" Ujar Kibum membuat Yesung langsung menatapnya, "Kau masih terlalu amatir untuk menjadi seorang penipu profesional, Yesung-sshi," Tambahnya lagi seraya menghapus jejak air mata di pipi Yesung dengan jemarinya.
Yesung tersentak. Tanpa sadar ia menepis tangan Kibum menjauh dari wajahnya.
"A-aku tidak menangis!" Seru Yesung berusaha agar terdengar meyakinkan.
Kibum menghela napas, "Aku tidak akan mengejekmu kalau memang kau benar-benar menangis. Ucapan Siwon tadi memang sedikit keterlaluan,"
"Kau terlalu sok tahu, Kibum-ssi. Aku tidak menangis," Jawab Yesung dingin.
"Panggil aku 'hyung', aku lebih tua 4 tahun darimu," Ujar Kibum lagi masih dengan tersenyum, seolah mengabaikan kesan jengkel yang jelas terdengar dari ucapan Yesung barusan.
"Hmm, ya terserah, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, tetapi aku benar-benar tidak apa-apa, Kibum hyung,"
Kibum mengacak rambut Yesung pelan, "Bagaimana kakimu? Apa masih sakit?"
Yesung menggeleng, "Terima kasih sudah mengantarku pulang tadi,"
Kibum mengangguk, "Senang bertemu denganmu. Aku harus segera pulang sekarang. Lain kali hati-hati, ne?"
Yesung menganggukkan kepalanya.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Ctarr!
Malam itu Siwon terbangun karena bunyi petir terdengar menggelegar di luar. Namja bermata obsidian itu mengerjap beberapa kali kemudian mengamati sekelilingnya, menemukan benda berbentuk awan yang terpajang di sudut dinding kamarnya kini telah menunjukkan pukul 2 pagi.
Siwon berdecak. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan menatap keluar jendela. Terlihat pepohonan bergoyang-goyang tertiup angin disertai kilatan petir yang terus menyambar. Sepertinya di luar tengah terjadi hujan badai yang cukup hebat mengingat ini adalah pertengahan musim dingin.
"Aarrhh!"
Sebuah suara yang terdengar cukup keras membuat Siwon tersentak. Siwon terdiam beberapa saat, mencoba mencari tahu darimana asal suara itu.
"Yesung!"
Siwon berlari keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar Yesung. Beruntung pintu kamar Yesung tidak terkunci, jadi Siwon tidak perlu susah payah mendobraknya. Namja bersurai hitam pekat itu mengedarkan obsidian-nya menelusuri kamar Yesung, berusaha mencari tahu keberadaan namja manis Sang pemilik kamar.
Siwon mengerutkan keningnya. Kamar itu tampak begitu sepi. Yesung tidak ada di atas bed-nya. Kemana namja itu?
Ctarr!
"Aarrghh!"
Petir kembali menggelegar, kini disusul oleh teriakan yang sama dengan yang Siwon dengar beberapa saat yang lalu. Siwon menajamkan pendengarannya, menuntunnya mendekati lemari besar di sudut ruangan.
"Yesung?"
Siwon sedikit melebarkan matanya begitu menemukan namja yang sedari tadi dicarinya kini meringkuk di sudut ruangan. Wajahnya tersembunyi di antara kedua lututnya, dan tangannya menutup telinganya rapat-rapat.
Siwon baru saja beranjak akan menghampiri Yesung, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Bagaimana jika ternyata Yesung hanya ingin mencari perhatiannya? Jika mengingat apa yang telah namja itu lakukan untuk bisa tinggal bersamanya, bukan tidak mungkin kalau apa yang ia lakukan sekarang bisa saja juga hanya untuk mencari perhatiannya, kan?
Siwon menghela napas, "Yesung, bukankah aku sudah mengatakan padamu, apapun yang kau lakukan tidak akan bisa membuatku berubah pikiran. Jadi berhenti berpura-pura ketakutan seperti ini. Kau tidak akan bisa menipuku,"
Yesung tidak menjawab. Ia masih tetap pada posisinya, seolah kata-kata Siwon sama sekali tidak terdengar olehnya.
Siwon memutar bola matanya bosan, "Oh ayolah, apa kau pikir aku akan kasihan melihatmu seperti ini? Itu hanya badai, Yesung-ah, kau tidak perlu bersikap seperti anak kecil begini,"
Yesung tidak menjawab, namun Siwon bisa melihat namja itu menggeleng pelan. Barulah kemudian Siwon menyadari bahwa tubuh Yesung bergetar hebat. Apa mungkin Yesung bisa berakting sehebat itu?
"Yesung?"
Ctarrr!
"Aarrhhh!"
Yesung menutup telinganya semakin rapat. Suara husky-nya terdengar semakin parau disertai dengan isakan lirih.
Siwon langsung mendekati Yesung dan berlutut di depannya. Ia meraih bahu Yesung dan mencoba membuat namja itu menatapnya. Namun belum sempat Siwon melihat wajah Yesung, namja beriris caramel itu dengan cepat memeluk Siwon dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sang namja tampan.
Siwon baru saja akan melayangkan protes, namun kemudian ia merasakan tubuh Yesung yang berada di dalam peluakannya semakin bergetar. Kedua tangan Yesung mencengkeram erat T-shirt bagian depannya, menunjukkan bahwa namja itu benar-benar ketakutan.
"Yesung, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Siwon bingung. Ia berusaha melihat wajah Yesung, namun Yesung justru mencengkeram bajunya semakin erat.
Ctarr!
"Aarrhh!"
Yesung kembali berteriak dan mengeratkan pelukannya pada Siwon.
Slash!
Siwon tersentak. Sebuah bayangan samar melintas di pikirannya. Ia pernah mengalami hal yang persis sama. Ia pernah memeluk seseorang dalam keadaan seperti ini. Tetapi siapa?
"Di-dia hiks.. meninggalkanku.." Isakan lirih Yesung terdengar, menyadarkan Siwon dari lamunannya.
"Yesung?"
"Dia.. dia ti-tidak peduli padaku hiks.. ak-aku.. aku membencinya.."
"Yesung-ah, apa yang kau bicarakan? Dia siapa?" Tanya Siwon semakin bingung.
Yesung menggeleng kuat. Ia kembali mengeratkan pelukannya tanpa menjawab pertanyaan Siwon.
Siwon mengerutkan keningnya bingung. Apa mungkin Yesung hanya berpura-pura? Tidak. Ia bisa merasakan namja di pelukannya ini benar-benar ketakutan. Seorang aktor ternama pun tidak akan mampu berakting sehebat itu.
Entah sadar atau tidak, perlahan tangan Siwon bergerak mengusap punggung Yesung, mencoba membuatnya tenang. Ia tidak bisa melakukan apa-apa jika memang Yesung tidak mau mengatakan apapun lagi. Ia memang membenci Yesung, ia yakin ia membenci Yesung, namun di saat seperti ini ia tetaplah seorang manusia yang memiliki hati. Ia tidak mungkin mendorong Yesung dan meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti ini.
Petir kembali menyambar. Namun kali ini Yesung tidak berteriak lagi karena Siwon memeluknya erat. Entahlah, pelukan Siwon seperti menjanjikan rasa aman tersendiri untuknya.
Cukup lama, Siwon merasakan tubuh Yesung yang masih berada dalam dekapannya tidak lagi gemetar seperti tadi. Namja manis itu terlihat sedikit lebih tenang. Dan entah untuk alasan apa, Siwon merasa lega. Dengan hati-hati, ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yesung.
Yesung masih terisak. Selama hampir satu jam menangis di dalam pelukan Siwon sepertinya tidak cukup untuk membuatnya benar-benar tenang.
"Tidur lagi, ne? Sepertinya badainya sudah berhenti," Ujar Siwon dengan suara lembut.
Yesung mengangguk pelan. Ia mencoba bangkit dengan dibantu oleh Siwon, namun ia hampir saja kembali terjatuh jika Siwon tidak dengan sigap menangkapnya.
"Apa kau merasa sakit?" Tanya Siwon lagi.
Yesung menggeleng pelan tanpa menatap Siwon.
Siwon berdecak. Ia membenarkan posisi Yesung lalu mengangkatnya bridal style ke atas bed.
"Lebih baik kau tidur, ini masih malam," Ujar Siwon seraya menyelimuti Yesung.
Setelah memastikan Yesung bisa tidur dengan nyaman, Siwon beranjak pergi, namun kemudian ia merasakan jemari Yesung menggenggam tangannya. Siwon menoleh dan menemukan Yesung yang menatapnya sayu. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada tangannya. Yesung tidak menahannya erat, bahkan terasa hanya seperti menyentuhnya. Sepertinya namja manis itu benar-benar tidak memiliki kekuatan lagi. Hanya tatapan matanya yang menyiratkan ia ingin Siwon tetap menemaninya di sana.
Siwon ingin menolak, tetapi ada perasaan tidak tega mengetuk hatinya ketika melihat tatapan Yesung.
Siwon menghela napas berat, "Baiklah," Ucapnya setelah berpikir cukup lama. Dengan ragu, ia kemudian membaringkan dirinya di samping Yesung.
Perlahan Yesung memejamkan kedua matanya tanpa melepaskan tangan Siwon yang kini ia letakkan di dadanya, membuat Siwon bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup lebih cepat. Membuat Siwon tahu bahwa dirinya adalah orang yang istimewa untuk namja yang hampir terlelap di sampingnya itu.
Sepertinya Yesung memang sangat lelah. Tidak membutuhkan waktu lama, Siwon sudah bisa merasakan hembusan napas teratur dari namja manis di sampingnya itu.
Ini adalah pertama kalinya Siwon bisa mengamati wajah Yesung dari dekat tanpa mengkhawatirkan apapun. Yesung memang manis, terlalu manis untuk ukuran seorang namja berusia 19 tahun. Mau tidak mau Siwon harus mengakui itu. Namun biar bagaimana pun, Yesung tetaplah seorang namja. Seseorang yang memiliki gender yang sama dengan dirinya. Dan mengetahui kenyataan bahwa namja itu mencintainya adalah sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Dengan hati-hati, Siwon melepaskan tangannya dari genggaman Yesung. Ia lalu bangkit dari atas bed kemudian keluar dari kamar itu.
Siwon masuk ke dalam kamar mandi. Ia menyalakan kran dan membasuh mukanya berkali-kali, seolah dengan cara itu ia bisa menghapus pikiran-pikiran aneh di kepalanya. Ia kemudian menatap refleksi dirinya pada cermin besar di hadapannya.
Menyedihkan.
Entah bagaimana ia bisa mendapatkan kesan itu ketika menatap pantulan dirinya sendiri.
"Aku bukan gay," Siwon berucap lirih.
Siwon bukan gay. Ia yakin ia bukan gay. Ia membenci gay. Ia membenci Yesung. Ya, ia yakin ia membenci Yesung. Apa yang baru saja ia lakukan tidak lain hanya karena ia kasihan pada namja itu.
Tiba-tiba Siwon menggeleng kuat. Ia tidak bisa terus seperti ini. Yesung tidak boleh terus berada di sampingnya. Bukan karena ia takut tergoda pada Yesung. Ia yakin bukan karena itu. Ia bukan gay. Apapun yang Yesung lakukan tidak akan membuatnya berubah pikiran.
Siwon tidak peduli jika apa yang ia lakukan akan menyakiti Yesung. Setidaknya, baginya itu lebih baik daripada ia memberikan harapan palsu pada namja itu. Sampai kapan pun ia tidak akan bisa mencintai Yesung dengan cara yang sama. Ia yakin itu. Ia hanya akan berakhir dengan mengecewakan namja itu.
Siwon mencengkeram pinggiran wastafel dengan erat. Ia akan kembali pada rencana awal ketika ia akhirnya memutuskan untuk membawa Yesung bersamanya. Ia akan membuat Yesung membencinya. Ia akan membuat namja itu memutuskan untuk meninggalkannya. Memangnya seberapa besar namja itu mencintainya? Seberapa besar kemungkinan cinta yang tumbuh hanya dalam hitungan hari?
Siwon mengangguk pasti. Akan ia perlihatkan, seberapa jauh Yesung mampu bertahan.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung menggeliat pelan. Tangannya refleks bergerak melindungi wajahnya dari bias cahaya yang masuk menembus jendela kamarnya. Meskipun cahaya yang masuk ke kamarnya itu tidak terlalu silau mengingat hari ini masih musim dingin, tetapi tetap saja membuat Yesung terganggu.
Iris caramel Yesung bergerak ke sekeliling kamarnya. Dan matanya langsung melebar begitu menemukan benda biru yang terpajang di sudut ruangan kini telah menunjukkan pukul 7 pagi.
Dengan gerakan cepat, Yesung menyibakkan selimutnya kemudian berlari keluar dari kamarnya.
"Aish! Kenapa aku bisa kesiangan? Bagaimana kalau Siwon hyung sudah berangkat?" Yesung meruntuk seraya terus berlari menuju dapur.
Tap.
Langkah Yesung terhenti tepat di depan pintu begitu caramel-nya menemukan sosok tinggi yang sepertinya tengah sibuk memasak sampai tidak menyadari kedatangannya.
"Siwon hyung?" Panggil Yesung sembari melangkahkan kakinya menghampiri Siwon.
Siwon menoleh sebentar, kemudian kembali menyibukkan dirinya memasukkan bumbu ke dalam nasi goreng di depannya, "Hm, kau sudah bangun?"
Yesung mengangguk meskipun Siwon tentu saja tidak melihatnya, "Kau tidak ke perusahaan, hyung?"
"Tidak. Aku ada urusan penting hari ini," Jawab Siwon tanpa menatap Yesung.
"Oh, begitu," Yesung mengangguk mengerti, "Ah iya, biar aku saja yang memasak, hyung," Ujarnya lagi seraya bermaksud mengambil spatula dari tangan Siwon.
Klek.
Siwon mematikan kompor.
"Sudah selesai," Ujar Siwon masih dengan wajah datar, "Lebih baik kau makan duluan. Aku akan mandi dulu," Tambahnya lagi seraya berjalan keluar dari dapur.
"Memang kau mau pergi ke mana, hyung?" Seru Yesung.
"Aku ada janji dengan Jessica," Jawab Siwon bersamaan dengan tubuhnya yang menghilang di balik pintu dapur.
Senyuman di wajah Yesung langsung memudar. Kenapa ia merasa Siwon sengaja mengatakan itu untuk membuatnya terluka?
"Aku tahu kau peduli padaku, hyung," Ucap Yesung dengan suara pelan, yang mungkin hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya.
Ya, Yesung tahu, Yesung percaya Siwon peduli padanya. Ia memang tidak dalam keadaan baik-baik saja tadi malam, namun ia masih cukup sadar untuk bisa merasakan bahwa Siwon memeluknya dan menemaninya tidur. Bahkan sampai saat ini ia seolah masih bisa merasakan hangatnya tubuh Siwon yang memeluknya beberapa jam yang lalu. Dan itu cukup baginya untuk bisa menyimpulkan bahwa Siwon tidak benar-benar membencinya seperti yang selalu namja tampan itu berusaha perlihatkan.
Yesung melirik nasi goreng tadi dibuat oleh Siwon untuk sarapan mereka. Ia kemudian menyeringai samar, "kau tidak akan pergi kemana-mana, Siwon hyung,"
.
.
~~ To Be Continued~~
