REMEMBER ME
Pairing : Yewon
Genre : Yaoi, romance, hurt/comfort, drama etc.
Rate : T ( akan berubah seiring berjalannya cerita)
Disclaimer : Yesung and Siwon belong to each other ^^
Summary : Yesung, namja berusia 19 tahun yang tinggal di panti asuhan dan selalu menjadi korban pem -bully-an. Sampai suatu hari, seorang namja bernama Choi Siwon datang 'menyelamatkannya'. Namun bagaimana jika ternyata kedatangan Siwon justru membawa masalah yang lebih besar untuknya?
Warning : BL, Un-official Pair, aneh, alur maksa, ribet, etc.
A Yewon Fanfiction © 2013 by Fairy_Siwoonie
.
~ HAPPY READING ~
.
Yesung berlari masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka tas besar yang dibawanya dari Cheonan 3 minggu yang lalu, mengambil botol kecil dari dalamnya, kemudian keluar dari kamar dan kembali ke dapur.
Yesung mengamati sekelilingnya, memastikan Siwon tidak melihat apa yang akan ia lakukan. Kemudian ia menatap ragu botol kecil di tangannya. Menggigit bibir bawahnya, menunjukkan bahwa sebenarnya ia sendiri takut dengan apa yang akan ia lakukan.
Yesung menghela napas, "Maafkan aku, Siwon hyung," Ucapnya dengan suara lirih. Ia membuka tutup botol itu, dan siap menuangkan cairan di dalamnya ke dalam nasi goreng buatan Siwon tadi, namun tiba-tiba seseorang merebut botol itu dari tangannya membuat ia tersentak.
Yesung sontak menoleh, dan seketika caramel-nya melebar begitu menemukan Siwon berdiri di sampingnya dengan menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan?" Seru Siwon.
Yesung tergagap, "Ak-aku.. aku.. itu—"
"Apa ini?" Siwon mengamati botol kecil di tangannya, membaca efek yang tertera di bagian luar botol itu.
"H-hyung.. aku.. itu. ak-aku tidak—"
Mata Siwon melebar, "Kau berniat meracuniku, huh?" Serunya dengan kembali menatap Yesung tajam.
"Bu-bukan.. i-ini tidak se-seperti yang ka-kau pikirkan, h-hyung. Ak-aku—"
"Lalu apa ini? Kau tadi akan memasukkan cairan ini ke dalam sarapanku, kan?"
Yesung menggigit bibir bawahnya, "Ak-aku.. aku ha-hanya tidak mau ka-kau pergi dengan Je-Jessica.."
Siwon menatap Yesung tidak percaya, "Dengan mencelakaiku?"
Yesung menggeleng kuat, "Bu-bukan seperti itu, hyung. Aku—"
Siwon berdecih, "Tidak ku sangka kau selicik ini, Kim Yesung," Ujarnya sinis.
Yesung kembali menggeleng dengan cepat. Air mata mulai terlihat di kedua sudut caramel-nya, "Tidak, hyung! Aku mohon jangan berpikir seperti itu!"
"Lalu kau ingin aku berpikir seperti apa, huh?! Sudah sangat jelas kau ingin mencelakaiku agar aku tidak bisa pergi dengan Jessica! Kau ingin aku berpikir seperti apa?!"
Gelengan Yesung melemah, "Aku mencintaimu, hyung! Aku hanya—"
"Cih! Cinta? Yang seperti ini kau sebut cinta? Kau egois, Yesung! Kau tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima cinta bodohmu itu!"
"Tidak, hyung! Aku mohon jangan bicara seperti itu!" Air mata Yesung mengalir semakin deras.
"Cintamu itu mengerikan, Yesung! Apa nanti kau juga bisa membunuhku dengan alasan mencintaiku, huh?"
"Tidak, hyung! Aku tidak ingin mencelakaimu! Tidak!" Lagi-lagi Yesung menggeleng kuat.
"Lalu apa ini?!" Teriak Siwon seraya menunjukkan botol kecil tadi di depan wajah Yesung.
Yesung terisak semakin keras, "Tidak, hyung.."
Siwon tersenyum sinis, "Tidak? Jadi kalau aku membuatmu yang meminumnya, berarti aku tidak mencelakaimu, kan?"
Yesung langsung menatap Siwon dengan mata melebar, "H-hyung?"
Siwon menyeringai. Ia meraih rahang Yesung dan memaksa namja itu untuk membuka mulutnya.
Yesung menutup mulutnya dengan rapat dan terus menggeleng. Cairan bening semakin meleleh di kedua pipinya.
"Ayo minum! Kau bilang ini tidak akan mencelakaiku, kan? Buktikan!" Seru Siwon dengan suara keras.
Yesung tetap menutup mulutnya. Ia terus menggeleng, seakan memohon pada Siwon untuk tidak melakukannya.
"Kau yang mencintaiku saja tega melakukan ini padaku, apalagi aku yang jelas-jelas membencimu?"
Tiba-tiba Siwon menuangkan cairan itu ke dalam mulutnya membuat mata Yesung melebar. Namun ternyata Siwon tidak menelannya. Ia dengan cepat meraih tengkuk Yesung dan menempelkan bibir mereka.
Yesung yang tahu apa maksud Siwon langsung menutup mulutnya semakin rapat. Namun Siwon tidak menyerah sampai di sana. Ia menggigit bibir bawah Yesung dengan keras membuat Yesung mengerang. Saat itulah ia memasukkan cairan dari mulutnya ke dalam mulut Yesung dan memaksa namja itu untuk menelannya.
"Arrgh!" Yesung mengerang ketika Siwon melepaskan tahutan bibir mereka.
Siwon melepaskan tubuh Yesung dari cengkramannya, membuat namja manis itu langsung jatuh tersungkur ke lantai. Ia sendiri dengan cepat mengambil segelas air putih untuk berkumur agar sisa cairan di dalam mulutnya tadi tidak tertelan.
"Uhk!" Yesung mulai memuntahkan cairan bening dari mulutnya.
Yesung tahu obat itu akan bereaksi dengan cepat. Kyuhyun dulu pernah mengerjainya menggunakan obat itu ketika masih di panti asuhan. Dan memang terbukti, seluruh tubuhnya kini terasa lemas. Tadinya ia memang berniat memasukkan obat itu ke dalam makanan Siwon agar Siwon tidak bisa pergi dengan Jessica. Namun tidak dalam dosis sebanyak yang Siwon berikan padanya tadi.
Siwon mengusap bibirnya dengan kasar, lalu mengalihkan perhatiannya pada Yesung yang meringis kesakitan di lantai dengan memegangi perutnya.
Siwon tersenyum puas, "Mual, sakit kepala, dan badan lemas. Bagaimana rasanya?"
Yesung menggeleng pelan. Air mata masih terus mengalir membasahi kedua pipinya. Tangannya terus mencengkeram perutnya yang kini terasa tidak karuan. Kepalanya berdenyut sakit dan badannya benar-benar terasa lemas. Jauh dari akibat yang ia perkirakan akan terjadi pada Siwon ketika ia berniat memberikan obat itu tadi. Ia hanya bermaksud membuat Siwon merasa sedikit tidak enak badan.
"Kau gila, Yesung! Pshyco!"
"Uhk!" Yesung kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening, karena ia memang tidak makan apapun sejak kemarin.
Siwon melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Aku masih ada waktu untuk bertemu dengan Jessica," Ujarnya seraya menyeringai. Ia menatap Yesung sekali lagi dengan senyum mengejek, lalu pergi keluar meninggalkan dapur.
Yesung meraih ujung meja di sampingnya, mencoba mencari pegangan untuk membantunya bangkit. Namun rasa nyeri di kepalanya membuat ia kembali jatuh. Air matanya kembali mengalir. Apalagi ketika ia mendengar suara deru mobil Siwon menjauh meninggalkan halaman rumah. Jadi Siwon benar-benar tega meninggalkannya untuk Jessica? Bahkan dalam keadaan seperti ini?
.
.
~ 예 원 ~
.
.
"Selamat pagi, Tuan Choi," Sapa seorang namja ketika melihat Siwon berjalan memasuki perusahaannya.
Siwon hanya tersenyum sekilas dan terus berjalan menuju ruangannya.
"Eh? Siwon? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Kibum ketika ia berpapasan dengan Siwon di dalam lift.
"Apa yang salah? Ini kan perusahaanku," Jawab Siwon membuat Kibum mendelik kesal.
"Aku tahu ini perusahaanmu, Tuan muda. Tapi bukankah seharusnya hari ini kau libur?"
"Aku malas di rumah,"
Kibum mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hanya bosan,"
"Eh? Bukankah seharusnya kau menjaga Yesung di rumah?"
"Dia sudah besar, Kim Kibum. Dia bisa menjaga dirinya sendiri," Sahut Siwon kesal.
"Tapi dia sakit, Choi Siwon!"
Siwon berdecak, "Kalau kau mau, kau saja yang menjaganya,"
Kibum terlihat berpikir sebentar, "Aku rasa itu ide yang bagus. Aku juga tidak terlalu sibuk hari ini," Ujarnya kemudian, membuat Siwon langsung menatapnya.
"Apa?"
"Aku akan menjenguk Yesung. Tolong letakkan ini di mejaku, okay?" Kibum menyerahkan berkas-berkas yang tadi dibawanya pada Siwon yang menatapnya cengo.
Pintu lift terbuka, Kibum langsung berlari keluar tanpa mempedulikan Siwon yang masih menatapnya bingung.
"Kibum-ah, jangan katakan pada Yesung kalau aku di perusahaan!" Seru Siwon setelah mendapatkan kembali kesadarannya.
Kibum hanya tersenyum dan menunjukkan jempolnya sebelum kemudian pintu lift yang akan membawanya turun tertutup.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Kibum melompat turun dari mobilnya dan segera berlari masuk ke dalam rumah Siwon. Tidak perlu bertanya bagaimana caranya ia bisa masuk ke dalam rumah itu dengan mudah. Ia sahabat Siwon, kau ingat?
Tok tok!
Kibum mengetuk pintu kamar Yesung dengan sopan. Baiklah, meskipun ia masuk ke dalam rumah itu tanpa ijin, namun ia tetap tidak boleh masuk kamar Yesung seenaknya, bukan?
Tidak ada jawaban.
Kibum mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengetuk pintu sekali lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Setelah berpikir sebentar, akhirnya Kibum langsung memutuskan membuka pintu kamar Yesung.
Klek.
"Tidak di kunci?"
Kibum melongokan kepalanya ke dalam kamar Yesung, mengedarkan hazel-nya menelusuri ruangan bernuansa baby blue itu. Tidak ada siapapun.
"Yesung?" Panggil Kibum, namun kali ini tetap tidak ada jawaban.
Kibum menutup kembali pintu kamar Yesung, lalu melangkahkan kakinya ke dapur.
"Yesung?" Panggil Kibum lagi.
Kibum sedikit melebarkan matanya begitu melihat keadaan dapur Siwon yang berantakan. Ia baru saja akan kembali melangkahkan kakinya ketika ekor matanya menangkap sesuatu bergerak di bawah meja makan. Kibum berjalan mendekat. Tidak. Itu bukan sesuatu, melainkan seseorang!
"Yesung?!"
Kibum langsung berlari menghampiri Yesung yang tergeletak di samping bawah meja makan. Kedua mata Yesung terpejam erat, namun ia tidak pingsan. Kibum bisa mendengar dengan jelas rintihan kesakitan keluar dari bibir namja itu.
"Yesung, apa yang terjadi? Kau kenapa?" Tanya Kibum panik. Tangannya bergerak menepuk pipi Yesung pelan.
"Sa-sakitth.." Yesung merintih pelan. Tangan kanannya mencengkeram perutnya erat, menunjukkan bahwa ia benar-benar merasa kesakitan.
"Uhk!" Yesung kembali memuntahkan cairan bening membasahi baju Kibum.
Kibum semakin panik karena kesadaran Yesung seperti nyaris hilang. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkat tubuh Yesung dan membawanya ke kamar namja itu. Ia melepaskan baju Yesung yang kotor sebelum kemudian membaringkan namja manis itu di atas tempat tidurnya.
Kibum berlari keluar dari kamar Yesung. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa air dan handuk kecil.
"Yesung-ah, apa yang terjadi?" Tanya Kibum seraya duduk di samping Yesung. Ia membasahi handuk kecil tadi dengan air, lalu membersihkan wajah dan leher Yesung dengan hati-hati.
Yesung menggeleng pelan, mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa. Namun siapa pun tahu dengan pasti, ia sangat jauh dari keadaan 'tidak apa-apa'.
"Mana yang sakit? Apa perlu aku panggil dokter?" Tanya Kibum lagi, masih terdengar cemas.
Yesung kembali menggeleng, "Ja-jangan be-beri tahu Si-Siwon h-hyung.." Ucapnya terbata dengan suara lirih.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?"
Yesung memejamkan matanya erat. Sesekali terlihat ia meringis menahan sakit.
"Ak-kuh tidak apa-apa," Jawab Yesung masih dengan suara pelan.
Tiba-tiba ponsel Kibum bergetar menandakan panggilan masuk.
"Siwon?" Gumam Kibum begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Ya, aku di rumahmu,"
"..."
"Yesung?"
"..."
Kibum baru saja akan kembali menjawab ketika ia merasakan Yesung menggenggam tangan kirinya. Ia langsung menoleh dan menemukan Yesung menggeleng pelan, mengisyaratkan agar ia tidak memberitahu Siwon apa yang terjadi.
"Ye-Yesung baik-baik saja,"
"..."
"Yah! Apa maksudmu dengan membuat kekacauan? Yesung sedang sakit, ppabo!"
"..."
"Haiz! Terserah kau saja!" Seru Kibum lalu mematikan sambungan teleponnya.
Kibum kembali mengalihkan perhatiannya pada Yesung yang masih menatapnya.
"Kita ke rumah sakit, ya?" Bujuk Kibum lagi.
Yesung tetap menggeleng, "Aku tidak apa-apa," Jawabnya dengan suara lirih, nyaris terdengar seperti sebuah bisikan.
"Apa Siwon tahu kalau kau sakit sebelum dia pergi?"
Yesung menggeleng. Berbohong. Bagaimana mungkin Siwon tidak tahu? Justru Siwon adalah orang yang menyebabkannya seperti ini.
"Kita harus memberitahu Siwon, Yesung-ah. Biar bagaimana pun kau adalah tanggung jawabnya sekarang,"
Yesung kembali menggeleng, "Ak-aku mohon, jangan beritahu Siwon hyung. Aku tidak apa-apa,"
"Kau takut membuatnya khawatir, huh?"
Yesung mengangguk, meskipun sebenarnya bukan itu alasan ia tidak mau Kibum meberitahu Siwon tentang keadaannya.
"Tapi kau harus ke rumah sakit Yesung. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang serius padamu?" Kibum kembali berusaha membujuk.
Yesung tetap menggeleng.
Kibum menghela napas. Namja di hadapannya ini ternyata benar-benar keras kepala.
"Baiklah, aku akan mengambilkan baju yang bersih dan obat untukmu. Tunggu di sini, ne?"
Yesung hanya mengangguk pelan.
Kibum tersenyum. Ia bangkit dari bed Yesung lalu keluar dari kamar itu.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Brak.
Siwon menutup pintu mobilnya dengan kasar, lalu segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak bisa berhenti membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada Yesung akibat obat yang ia minumkan secara paksa tadi. Awalnya ia ingin menghindari Yesung seharian ini dengan alasan pergi bersama Jessica, namun sedari tadi yang ada di pikirannya tidak lain hanyalah bagaimana keadaan Yesung sekarang. Salahkan Kibum yang sama sekali tidak menjawab telepon dan pesannya!
Siwon memelankan langkah kakinya ketika hampir sampai di depan kamar Yesung. Ia sedikit melongokkan kepalanya dan mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Obsidian-nya sedikit melebar begitu melihat Kibum tengah membantu Yesung berbaring di atas bed-nya, kemudian meminumkan segelas air putih pada namja beriris caramel itu. Ada perasaan aneh yang ia sendiri juga tidak tahu bagaimana harus menamaianya ketika melihat pemandangan di depannya itu.
"Siwon hyung?"
Tiba-tiba suara Yesung terdengar, pelan namun masih cukup jelas untuk membuat Siwon tersentak dari pikirannya sendiri. Obsidian -nya kembali melebar begitu menemukan dua pasang manik cokelat menatap terkejut ke arahnya.
"Siwon, apa yang kau lakukan di sana?" Kali ini Kibum yang bertanya.
"A-apa? Aku?" Siwon menununjuk dirinya sendiri dengan gugup, "A-aku.. aku tidak melakukan apa-apa. Kalian lanjutkan saja!" Ujarnya dengan canggung, lalu dengan cepat berbalik meninggalkan pintu kamar Yesung.
"Siwon hyung?!" Seru Yesung, ia langsung bangkit dari bed-nya dan berlari mengejar Siwon keluar dari kamarnya.
"Siwon hyung!" Seru Yesung lagi, kali ini berhasil membuat Siwon menghentikan langkahnya di tengah ruang tamu.
Siwon berbalik membuat Yesung menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Kibum yang berlari di belakang Yesung.
"Apa maumu? Apa kau tidak melihat aku sedang buru-buru?" Tanya Siwon dengan menatap Yesung malas.
"Ki-Kibum hyung tadi ha-hanya membantuku, jadi kau—"
"Tunggu!" Ujar Siwon membuat Yesung tidak menyelesaikan ucapannya, "Kau tidak berpikir kalau aku cemburu melihatmu bersama Kibum tadi, kan?"
Kibum yang berdiri tidak jauh di belakang Yesung terlihat sedikit mengerutkan keningnya mendengar ucapan Siwon.
Tiba-tiba Siwon tertawa kecil, "Lucu sekali kalau kau sampai berpikir seperti itu, Yesung-ah. Kau tahu dengan pasti, aku sama sekali tidak menyukaimu, bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu? Dan lagi, aku juga tahu dengan pasti kalau Kibum itu straight, tidak gila sepertimu!" Ujarnya tajam membuat Yesung dan Kibum melebarkan matanya bersamaan.
"Choi Siwon!"
Siwon mengalihkan obsidian-nya pada Kibum yang saat ini tengah menatapnya tajam.
"Aku sudah pernah memberitahumu sebelumnya, kan? Namja yang terlihat sangat polos ini lebih mengerikan dari apa yang bisa kita bayangkan!"
"Jaga bicaramu, Choi Siwon!" Seru Kibum lagi.
Siwon menatap Yesung sekilas, lalu tersenyum meremehkan, "Untuk apa aku menjaga bicaraku? Kau takut namja ini akan sakit hati dengan ucapanku? Kau salah besar, Kim Kibum. Dia ini sudah tidak memiliki harga diri lagi. Dia bahkan rela melakukan apapun agar bisa tinggal bersamaku di sini,"
Yesung semakin melebarkan matanya, seakan ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar keluar dari mulut Siwon. Caramel-nya yang masih belum beralih dari sosok tampan itu kini mulai terlihat berkaca-kaca.
"Apa maksudmu, Choi Siwon?"
"Yesung itu gay, Kibum-ah," Jawab Siwon membuat Kibum semakin menatapnya terkejut.
"Kau ingat aku pernah mengatakan aku terpaksa membawa Yesung ke sini?" Siwon kembali menatap Kibum, "Namja yang terlihat sangat polos ini menggunakan kelemahannya untuk memaksaku agar membawanya tinggal bersamaku,"
Air mata mulai membuat jalannya di kedua pipi Yesung yang pucat. Seakan ada beban berat yang menekan dadanya dengan sangat kuat.
Siwon melirik Yesung sinis, "Kau lihat dia tidak mengatakan apa-apa, kan? Itu karena semua yang aku katakan adalah benar,"
"Sudah, hyung.." Pinta Yesung dengan suara bergetar yang amat lirih, namun masih terdengar cukup jelas untuk membuat Siwon menyeringai.
"Kenapa? Kau takut Kibum juga akan jijik padamu sepertiku, hm?"
Yesung menggeleng pelan. Sungguh ia tidak ingin terlihat lemah lagi di hadapan Siwon, namun ia sama sekali tidak bisa menahan air matanya. Kalimat-kalimat itu terlalu menyakitkan untuknya.
"Hentikan, hyung.. aku mohon.." Yesung mulai terisak.
Siwon mengangkat sudut bibirnya, "Air matamu tidak akan membuatku kasihan padamu, Yesung-ah, karena aku sudah tahu bagaimana dirimu yang sebenarnya, jadi lebih baik kau simpan saja air matamu itu," Ujarnya kemudian melangkahkan kakinya pergi keluar dari rumahnya.
Yesung mencengkeram dadanya kuat. Ia biarkan dirinya jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya benar-benar terasa lemas. Rasa sakit kali ini bahkan terasa ribuan kali lebih menyakitkan daripada efek obat yang ia minum pagi tadi.
Kenapa semua kata-kata menyakitkan itu harus keluar dari bibir Siwon? Yesung tidak akan peduli jika orang lain yang mengucapkan kalimat-kalimat itu. Namun kenapa harus Siwon –satu-satunya orang yang ia cintai di dunia, yang mengatakan itu padanya?
"Yesung, kau—"
"Pergi!" Yesung menyentakkan tangan Kibum yang hendak meraih tubuhnya.
"Yesung—"
"Pasti sekarang kau jijik padaku, kan? Aku tidak punya waktu untuk mendengar semua hinaanmu! Lebih baik kau pergi dari sini!" Yesung berteriak dengan suara bergetar.
"Yesung, aku mohon jangan seperti ini.." Kibum masih mencoba untuk menenangkan Yesung.
Yesung menutup kedua telianganya rapat-rapat. Matanya yang masih terus mengeluarkan bulir-bulir bening kini terpejam erat, menunjukkan betapa kali ini ia merasa sangat terluka. Sekuat apapun dirinya, sebesar apapun ia mencoba tegar, ia tetap manusia biasa yang bisa merasakan sakit. Ia sudah bersahabat dengan rasa sakit bahkan mungkin sejak ia dilahirkan ke dunia, tapi sungguh ia tidak bisa terbiasa dengan rasa sakit yang diberikan Siwon padanya.
"Ye—"
"Pergi pergi pergi!" Teriak Yesung keras membuat Kibum kembali tersentak.
"Ba-baiklah, a-aku akan pergi. Tapi aku mohon jangan melakukan hal-hal yang nekat, okay? Jangan terlalu di pikirkan kata-kata Siwon tadi," Ucap Kibum seraya beranjak bangkit. Ia menatap Yesung ragu, tidak tega meninggalkan namja itu dalam keadaan seperti ini. Namun sepertinya Yesung memang sedang membutuhkan waktu untuk sendiri, jadi mau tidak mau ia memang harus pergi.
"A-aku pergi," Ujar Kibum lagi, lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah Siwon sambil sesekali melihat ke belakang, seolah ia benar-benar tidak rela untuk pergi meninggalkan Yesung.
Yesung berusaha bangkit dengan berpegangan pada lemari kecil di sampingnya. Dengan tertatih, ia melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam kamarnya. Air mata masih terus mengalir membasahi kedua pipinya yang semakin pucat.
Yesung menarik koper besar yang ia simpan di samping pintu kamarnya, lalu mengambil semua pakaiannya dari dalam lemari kemudian memasukkannya ke dalam koper tadi. Namun gerakan tangannya terhenti begitu caramel-nya menangkap sebuah foto yang terselip di antara baju-bajunya.
Yesung menggeleng pelan, "Aku tidak bisa pergi dari sini," Gumamnya lirih, "Aku tidak boleh menyerah sekarang,"
Yesung menatap foto di dalam genggamannya itu penuh arti. Air matanya mengalir semakin deras.
"Kau dengar aku, Siwon hyung? Aku tidak akan pernah pergi dari sini sebelum aku mati," Ucapnya masih dengan suara pelan, namun sama sekali tidak menyiratkan keraguan.
Tiba-tiba Yesung tersenyum hambar. Pikiran-pikiran bodoh kembali melintas di kepalanya.
"Hidupku tidak akan lama lagi, kan?" Tanya Yesung entah pada siapa, karena kenyataannya di dalam kamar itu memang tidak ada siapapun selain dirinya, "Apa rasa sakit ini bisa membuatku lebih cepat mati?"
Yesung menyimpan kembali kopernya, kemudian membaringkan dirinya di atas bed. Memejamkan kedua matanya erat, merasakan satu lagi rasa sakit yang tanpa ia sendiri menyadari telah menghancurkan sedikit sisi pertahannya. Satu lagi rasa sakit yang berhasil mengikis kepercayaan yang ia coba yakini selama ini. Ada satu keraguan yang perlahan menyusup di dalam hatinya. Apa ia bisa berhasil?
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung menggeliat pelan, merasakan seseorang mengguncang-guncang tubuhnya. Caramel-nya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menemukan sosok Siwon berdiri di samping bed-nya.
"Cepat bangun! Kau harus terapi hari ini!" Seru Siwon dengan menatap Yesung kesal.
Satu lagi hal yang sangat Yesung benci. Ia tidak pernah lagi menemukan cinta di dalam obsidian itu untuknya. Yang ada hanya kebencian yang begitu menyakitkan.
"Hyung.. aku tidak mau terapi lagi," Ucap Yesung lirih, mencoba membuat Siwon mengerti keinginannya.
Siwon mendengus, "Berarti kau sudah siap untuk pergi dari rumah ini?"
Yesung menggeleng cepat, "Aku mohon, hyung. Ijinkan aku tetap di sini sebentar saja. Aku janji aku tidak akan lama lagi. Tapi aku mohon jangan memaksaku untuk terapi lagi. Rasanya sangat sakit, hyung.."
Siwon tersenyum sinis, "Tidak akan lama lagi? Darimana kau yakin kau akan segera mati? Penyakitmu itu tidak akan membunuhmu dalam waktu dekat, bisa saja kau baru akan mati satu atau dua tahun lagi. Dan selama itu kau akan tetap tinggal di sini, huh?"
Yesung menundukkan kepalanya dalam. Bukan karena ia takut, melainkan karena ia tidak mau lagi melihat kebencian yang semakin menyakitinya di dalam iris obsidian itu.
"Apa kau mau membunuhku?" Tanya Yesung membuat Siwon menatapnya terkejut, "Kalau kau ingin aku cepat pergi, kau bisa membunuhku. Aku tidak apa-apa,"
"Kau gila, Yesung! Aku tidak peduli! Sekarang cepat bersiap-siap, kita akan ke rumah sakit satu jam lagi!" Ujar Siwon, lalu mengambil langkah cepat keluar dari kamar Yesung.
Entah mengapa, tiba-tiba Siwon merasakan sakit. Ia bisa melihat dengan jelas, ada jejak-jejak air mata di kedua pipi Yesung yang masih pucat. Namja itu terlihat benar-benar menyedihkan. Sepertinya Yesung menangis semalaman. Dan lagi, satu yang paling Siwon benci adalah ketika ia melihat tatapan Yesung. Ia benci kesungguhan luar biasa yang terpancar dari caramel redup itu. Ia benci keyakinan Yesung bahwa namja itu akan berhasil membuatnya berubah pikiran.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung memejamkan matanya erat. Tubuhnya sesekali menggeliat merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya ketika cairan-cairan kimia yang baru saja disuntikkan ke dalam tubuhnya itu mulai bereaksi. Sangat sakit. Demi apapun, ia tidak akan mau melakukan ini jika bukan karena Siwon yang memaksanya. Obat-obat itu seakan bukan hanya ingin membunuh sel-sel kanker di dalam tubuhnya, melainkan juga membawanya mati secara perlahan.
Dan lagi-lagi kali ini ia sendirian. Siwon menolak untuk menemainnya dengan alasan yang ia tahu dengan pasti adalah sebuah kebohongan. Itu membuat rasa sakitnya seakan menjadi berkali lipat. Ia ingin Siwon ada di sini. Ia ingin Siwon menggenggam tangannya dan memberinya semangat untuk kuat. Ia ingin bukan bed cover putih tempat ia berbaring yang menjadi pelampiasan rasa sakitnya.
.
.
.
Sekitar pukul 7 malam, Siwon kembali ke rumah sakit untuk menjemput Yesung. Mereka segera pulang ke rumah karena Jessica mengatakan terapi kali ini lebih melelahkan, jadi Yesung harus banyak istirahat. Selama di perjalanan, seperti biasa, Siwon mendiamkan Yesung. Sementara Yesung sendiri seolah tidak memiliki kekuatan lagi untuk berbicara. Perutnya terasa mual. Ia ingin muntah, tetapi tidak berani mengatakannya pada Siwon. Ia mencoba menahannya dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
Sekitar setengah jam, mereka sudah tiba di halaman rumah Siwon. Sepertinya Siwon menyadari kali ini Yesung benar-benar lemas. Namja itu tidak berbicara apapun sejak dari rumah sakit tadi.
"Kau bisa masuk sendiri?" Tanya Siwon dengan suara datar.
Yesung menggeleng pelan. Badannya benar-benar terasa lemas. Ditambah lagi perutnya terasa seperti diaduk-aduk.
Siwon memutar bola matanya kesal. Ia segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Yesung. Ia memposisikan tangannya di perpotongan kaki dan punggung atas Yesung, kemudian mengangkatnya keluar dari dalam mobil.
Yesung menutup mulutnya semakin rapat ketika merasakan perutnya benar-benar mual. Namun sepertinya kali ini keberuntungan tidak sedang berpihak padanya. Ia memuntahkan cairan bening di baju Siwon.
"Yah!" Siwon berseru reflek. Ia dengan cepat menurunkan Yesung di halaman kemudian menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan, huh?" Seru Siwon marah.
Bukannya segera menjawab, Yesung malah kembali memuntahkan cairan bening dari dalam mulutnya.
"Haiz! Kau ini menjijikkan sekali! Tidak bisakan menahannya sampai di dalam, huh?"
"Yesung?"
Siwon sontak menoleh, obsidian-nya segera menemukan sosok Kibum berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kibum? Apa yang kau lakukan di sini?"
Bukannya menjawab pertanyaan Siwon, Kibum malah langsung berlari menghampiri Yesung yang setengah berbaring di halaman depan rumah Siwon.
"Apa Yesung baru saja melakukan terapi?" Tanya Kibum pada Siwon.
"Ya, kami baru saja dari rumah sakit," Jawab Siwon.
"Uhk!" Lagi-lagi Yesung memuntahkan cairan bening, namun kali ini mengenai T-shirt Kibum.
"Haiz! Yesung-ah!" Seru Siwon.
"Aku tidak apa-apa. Lebih baik kita segera masuk ke dalam!" Ujar Kibum, kemudian mengangkat tubuh Yesung dan membawanya masuk ke dalam rumah Siwon.
"Baiklah, kau urus saja dia! Aku ada urusan lain!" Seru Siwon.
Kibum mendengus kesal, "Dasar tidak punya perasaan!"
Kibum membaringkan tubuh Yesung di atas tempat tidur. Ia kemudian mengambil ember kecil dari dapur dan membawanya ke dalam kamar Yesung.
"Hoeks.." Yesung kembali memuntahkan isi perutnya di dalam ember kecil yang dibawakan Kibum tadi.
"Jangan ditahan, muntahkan saja," Ujar Kibum seraya terus memijat tengkuk Yesung.
Yesung menghela napas berat seraya menyandarkan tubuhnya pada kepala bed.
"Sudah?" Tanya Kibum memastikan.
Yesung hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.
"Malam ini mungkin kau akan sering muntah-muntah seperti ini," Ujar Kibum seraya membersihkan sudut bibir Yesung dengan handuk yang sudah lebih dulu ia basahi, "Kalau kau tidak keberatan, aku akan menemanimu di sini,"
Yesung menatap Kibum tidak mengerti.
Kibum tersenyum, "Terapi kedua, kan? Kau harus kuat. Masih ada 3 terapi lagi yang harus kau jalani dan itu pasti akan lebih sakit. Efek-efek yang muncul juga akan lebih dari ini,"
"Kau tidak membenciku?"
"Aku tidak memiliki alasan untuk membencimu," Jawab Kibum masih dengan tersenyum.
"Kenapa kau sangat baik padaku?"
Kibum terkekeh pelan, "Aku ini memang orang baik, Yesung-ah. Tidak hanya padamu,"
"Benarkah?"
Kibum menghela napas, "Kau ingin tahu sesuatu?"
Yesung mengernyit.
"Kau mengingatkanku pada seseorang," Ujar Kibum lagi membuat Yesung semakin mengerutkan keningnya.
"Aku pernah mengenal seseorang yang memiliki penyakit yang sama denganmu,"
"Kekasihmu?"
Kibum kembali tersenyum, "Dia adalah orang korea pertama yang aku temui saat kuliah di Amerika. Dia selalu membantuku dalam banyak hal. Dia adalah orang yang sangat luar biasa,"
Yesung memiringkan sedikit kepalanya.
Kibum terkekeh pelan, tangannya terulur mengacak rambut Yesung, "Kau benar-benar mengingatkanku padanya. Dia sangat imut, sama sepertimu. Saat itu, dia juga berusia 19 tahun ketika mengetahui kalau ternyata dia menderita kanker tulang belakang. Tetapi sepertinya kau lebih beruntung. Kau masih memiliki kesempatan yang besar untuk sembuh. Penyakitnya baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium akhir, jadi kemungkinan bisa sembuh memang sangat kecil,"
"Dia sangat optimis. Dia selalu meyakinkan kami bahwa dia akan sembuh dan kembali seperti dulu lagi. Padahal kami tahu, saat itu dia sangat kesakitan. Bahkan Dokter memprediksikan usianya tidak akan lebih dari 2 bulan lagi. Aku berusaha untuk selalu ada di sampingnya. Kami menghabiskan 2 bulan terakhir kami yang sangat berharga. Dan ya, Tuhan terlalu mencintainya. Dia benar-benar pergi,"
"Dia pasti yeoja yang sangat kuat,"
"Dia namja," Ujar Kibum membuat Yesung langsung menatapnya terkejut.
"Apa?"
"Jeremy, dia namja. Orang yang sangat aku cintai adalah seorang namja," Jawab Kibum seraya tersenyum, seakan apa yang baru saja ia katakan tadi adalah hal yang biasa.
"Ka-kau gay?"
"Ya, aku gay. Kau terkejut?"
Yesung speechless. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi dengan apa yang baru saja Kibum katakan.
"Menjadi gay atau straight itu pilihan, Yesung-ah," Ujar Kibum lagi, membuyarkan Yesung dari keterkejutannya, "Dan semua pilihan itu pasti memiliki resiko. Saat kau berani mengambil sebuah pilihan, itu berarti kau juga harus siap menanggung segala resikonya,"
"Siwon hyung tahu?"
Kibum menggeleng, "Aku tidak memberitahu siapapun termasuk Siwon. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada anak itu selama aku berada di Amerika. Aku juga tidak tahu apa yang membuat dia sangat membenci gay. Dan lagi, sepertinya dia juga tidak perlu tahu. Jadi aku harap, kau tidak akan memberitahukan hal ini pada Siwon,"
"Aku tahu kau anak yang baik, Yesung-ah. Siwon hanya terlalu sensitive pada setiap hal yang berhubungan dengan gay. Apalagi ditambah dengan dia tahu bahwa aku menyukainya. Kau harus kuat, ne?"
Yesung tersenyum tipis. Ada perasaan senang di dalam hatinya mendengar semua ucapan Kibum. Kibum membuatnya merasa tidak sendirian lagi.
"Kau jauh lebih manis saat tersenyum seperti ini. Lakukan lebih sering, okay?" Kibum kembali tersenyum seraya mengacak rambut Yesung pelan.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Siwon tengah berjalan menuju rumahnya ketika tiba-tiba ia mendengar suara teriakan Yesung dari dalam.
"Yesung?"
Siwon mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah. Matanya sedikit melebar begitu melihat kepulan asap dari arah dapur.
"Tolong!"
Suara Yesung kembali terdengar dari arah yang sama, membuat Siwon semakin tersentak. Ia langsung berlari masuk ke dapur. Matanya membulat sempurna begitu menemukan sosok Yesung meringkuk di samping meja dengan api yang mengelilinginya. Keadaan dapurnya benar-benar kacau. Apalagi ditambah dengan kepulan asap yang menghalangi pengelihatannya.
"Yah! Apa yang kau lakukan di sana, Yesung?! Cepat ke sini!" Seru Siwon.
Yesung yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar suara Siwon.
"H-hyung.. to-tolong aku hiks.. aku takut.." Isak Yesung. Wajahnya telah benar-benar basah oleh air mata.
"Cepat ke sini! Kau ingin mati terbakar, huh?" Seru Siwon panik.
"Ka-kakiku tidak bisa bergerak, hyung.. hiks.. tolong aku.. aku takut.."
Slash!
"Argh!"
Siwon mencengkeram kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
'Tolong aku, hyung hiks.. aku takut..'
'Jongwoon, kau di mana? Jawab aku!'
'Siwon hyung.. aku di sini.. tolong aku..'
'Kau di mana, Jongwoon?!'
'Aku takut, hyung.. hiks..'
"Arghh!" Siwon kembali berteriak.
"Hyung, kau kenapa?" Seru Yesung cemas.
'Aku takut, hyung..'
"Siwon hyung, kau kenapa?!" Seru Yesung semakin panik. Api di sekelilingnya semakin membesar dan Siwon malah sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
"Hyung, aku mohon tolong aku.. hiks.. aku takut!" Yesung kembali berteriak, berusaha membuat Siwon tersadar.
'Aku takut, hyung..'
Siwon mencengkeram kepalanya semakin kuat. Bayangan-bayangan aneh melintas di kepalanya tidak beraturan. Seperti sebuah roll film rusak yang membuat kepalanya berdenyut sakit.
"Siwon hyung!"
.
.
.
~ To Be Continued ~
