REMEMBER ME

Pairing : Yewon

Genre : Yaoi, romance, hurt/comfort, drama etc.

Rate : T

Disclaimer : Yesung and Siwon belong to each other ^^

Warning : BL, Un-official Pair, aneh, alur maksa, ribet, etc.

A Yewon Fanfiction © 2013 by Fairy_Siwoonie


~ HAPPY READING ~


.

.

"Siwon hyung!" Yesung kembali berteriak untuk kesekian kalinya, berharap Siwon akan segera tersadar dan menolongnya. Ia terus memukul-mukul kakinya sendiri, namun tetap saja sia-sia, kedua kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Air matanya perlahan mulai mengalir, bersamaan dengan keringat yang sejak tadi sudah membasahi wajahnya.

"Hyung.. aku mohon.. aku takut.." Isakan Yesung mulai terdengar melemah. Keputusasaan terlihat memancar samar dari kedua caramel-nya.

"Yah! Apa yang terjadi?"

Yesung mengangkat kepalanya, matanya sedikit melebar begitu melihat sosok Kibum berlari ke arahnya dengan raut wajah panik.

Kibum berusaha menghindari api sebisa mungkin, lalu dengan cepat ia mengangkat tubuh Yesung dan segera membawanya keluar dari dapur.

"Siwon, matikan apinya!" Seru Kibum lagi membuat Siwon tersentak.

"A-apa?"

Kibum mendengus, "Matikan apinya, ppabo! Rumahmu bisa habis terbakar!"

Siwon kembali tersentak. Ia melihat sekelilingnya dengan mata melebar, seakan baru menyadari jika tengah terjadi kebakaran yang cukup besar di dapur rumahnya. Dengan cepat ia berlari mengambil benda berwarna merah yang tergantung di sudut ruangan, sementara Kibum langsung membawa Yesung ke dalam kamarnya.

"Yesung-ah, kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya Kibum seraya merebahkan tubuh Yesung di atas bed-nya.

Yesung hanya menggeleng pelan, namun air mata masih terus mengalir membasahi kedua pipinya yang memerah, membuat Kibum semakin cemas.

Kibum mengulurkan tangannya, menyentuh kedua pipi Yesung. Dan tepat seperti dugaannya, wajah Yesung terasa panas karena terlalu lama terjebak dalam kebakaran tadi.

"Yesung-ah, katakan sesuatu! Apa ada yang sakit?" Kibum kembali bertanya masih dengan raut wajah cemas.

"Kakiku hiks.." Jawab Yesung pelan disertai isakan.

Kibum melebarkan matanya, "Apa kakimu tidak bisa digerakkan lagi?" Tanyanya seraya memeriksa kaki Yesung.

Yesung mengangguk pelan.

"Tunggu sebentar, okay? Aku akan meminta Jessica datang ke sini," Ujar Kibum, kemudian ia segera berlari keluar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Bugh!

Kibum melayangkan pukulannya membuat Siwon langsung jatuh tersungkur ke lantai.

"Yah! Apa yang kau lakukan?!" Siwon menatap Kibum bingung.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang kau lakukan, huh? Kau mau membiarkan Yesung mati terbakar?!" Seru Kibum, matanya berkilat menahan amarah.

"Ak-aku—"

"Kau keterlaluan, Choi Siwon!" Seru Kibum memotong ucapan Siwon, "Aku tahu kau membenci Yesung, tetapi bukan berarti kau bisa bersikap seperti ini padanya!"

"Tadi aku—"

"Kau membencinya hanya karena kau tahu dia gay, kan?" Kibum kembali memotong ucapan Siwon, "Dia tidak bersalah, Siwon-ah. Semua orang berhak mencintai dan dicintai oleh siapa pun. Kau tidak seharusnya bersikap seperti ini padanya!"

Siwon mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, "Dia bersalah, Kibum-ah. Dia tidak seharusnya berada di sini," Ujarnya seraya berusaha bangkit.

"Kau yang membawanya ke sini!"

"Karena dia memaksaku!"

"Kenapa kau tidak menolaknya? Itu akan lebih baik daripada kau terpaksa membawa dia bersamamu dan membuatnya menderita!"

"Kau tidak tahu apa-apa, Kim Kibum! Sudah aku katakan jangan kasihan padanya! Dia itu mengerikan!"

"Jaga bicaramu, Choi Siwon! Kau tidak pantas mengatakan hal itu hanya karena dia gay!"

"Dia bukan hanya gay, Kibum-ah! Dia itu phsyco! Dia gila!"

Bugh!

Kibum kembali melayangkan pukulannya membuat Siwon sedikit limbung ke belakang.

"Sudah aku katakan, jaga bicaramu, Choi Siwon! Sudah cukup kau membuat dia terluka!"

"Kau tahu apa, huh? Kau tidak tahu apa-apa tentang namja phsyco itu! Darimana kau tahu aku membuatnya terluka? Dia mengadu padamu, hm?"

Sudut bibir Kibum terangkat, "Dia tidak perlu mengatakan apapun untuk menunjukkan bahwa dia terluka, Siwon-ah. Hanya saja kau terlalu buta untuk bisa melihatnya. Dia terluka secara fisik dan mental. Semua orang pasti bisa melihat itu tanpa dia mengatakannya,"

"Kau belum mengenal namja itu, Kibum-ah,"

"Kau yang belum mengenal Yesung, Siwon-ah,"

Siwon membuang muka, "Kau terlalu sok tahu, Kibum-ah. Lebih baik kau tidak ikut campur. Lagipula ini sama sekali bukan urusanmu,"

"Ini urusanku, Choi Siwon. Aku tidak mau sahabatku berubah menjadi orang yang tidak memiliki hati seperti ini,"

"Kau yakin hanya karena itu?"

Kibum mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Siwon.

"Kau terlalu baik padanya, Kibum-ah. Apa jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padanya, huh?" Siwon tersenyum ambigu.

"Kalau aku menjawab iya, apa itu masalah untukmu?" Kibum balik bertanya, membuat Siwon langsung menatapnya terkejut, "Aku berhak mencintai siapapun yang aku mau, Siwon-ah. Tidak ada yang memiliki hak untuk melarangku. Tidak kau, dan tidak siapapun juga,"

"Ki-Kibum? Kau ga-gay?" Tanya Siwon dengan mata melebar.

"Kalau aku gay, apa kau juga akan memperlakukan aku seperti Yesung, huh?"

Mata Siwon semakin melebar, menatap Kibum tidak percaya.

"Aku gay atau bukan, itu tidak penting, Siwon-ah. Kita tidak sedang membicarakan aku di sini. Kita sedang membicarakan Yesung,"

Kibum menghela napas, kemudian menjatuhkan dirinya duduk di sofa ruang tamu, "Aku tahu kau sangat membenci semua hal yang berhubungan dengan gay, Siwon. Aku tahu kau pasti sangat membenci Yesung, apalagi setelah tahu bahwa dia mencintaimu dengan cara yang menurutmu tidak seharusnya. Tetapi itu sama sekali tidak menjadi alasan untuk kau bisa memperlakukan dia seenaknya,"

Siwon diam, membiarkan Kibum melanjutkan ucapannya.

"Apa kau sama sekali tidak merasak kasihan padanya, Siwon-ah? Di usianya yang baru 19 tahun dia sudah tidak memiliki siapapun lagi. Dia tidak memiliki keluarga yang seharusnya memberinya semangat untuk menghadapi penyakitnya. Apa kau tidak bisa melihat bahwa dia sangat membutuhkan seseorang, huh? Dia membutuhkan seseorang untuk membuatnya tetap kuat,"

"Sudah aku katakan aku tidak peduli padanya, Kibum-ah,"

"Kau bukan tidak peduli padanya, Siwon. Kau hanya tidak mau mencoba untuk peduli. Kau sudah terlalu dibutakan oleh kebencianmu yang tidak seharusnya itu,"

"Kau tidak tahu apa-apa, Kibum!"

"Aku memang tidak tahu semuanya. Tetapi aku tahu dengan pasti apa yang aku katakan,"

"Dia itu gila, Kibum. Dia tidak mencintaiku, dia terobsesi padaku!"

"Dia benar-benar mencintaimu, Siwon, hanya saja dengan caranya sendiri. Aku memang belum lama mengenal Yesung, tetapi aku bisa melihat ketulusannya di matanya. Aku tidak memintamu untuk mencintainya seperti dia mencintaimu, aku hanya ingin kau tidak menyakitinya lebih dalam lagi. Dia sudah terlalu terluka, Siwon-ah,"

"Aku hanya tidak mau dia terlalu berharap padaku, Kibum-ah. Karena aku tidak akan pernah bisa mencintainya dengan cara yang dia inginkan,"

"Tetapi caramu salah, Siwon. Kau tidak perlu membuat dia membencimu. Cara-cara kasar tidak akan berhasil pada namja seperti Yesung,"

Siwon mengangkat alisnya, "Apa maksudmu?"

"Aku mengenalmu sejak kecil, Siwon-ah. Aku tahu kau tidak sejahat itu. Kau hanya berusaha membuat Yesung berhenti mencintaimu. Aku benar, kan?"

"Aku tidak tahu, Kibum. Aku hanya merasa sangat tidak nyaman dengan Yesung berada di dekatku. Aku ingin dia pergi. Lagipula kau tahu aku sangat mencintai Jessica, kan?"

"Kau hanya tidak mau mencoba untuk menerimanya, Siwon. Yesung itu namja yang baik. Suatu saat nanti dia pasti akan mengerti kalau kau tidak bisa mencintainya seperti dia mencintaimu. Dia hanya perlu waktu untuk memahami dan belajar melepaskanmu,"

Siwon terdiam. Kembali, ia merasakan sesuatu menekan dadanya, membuatnya terasa sakit dengan alasan yang tidak ia mengerti. Kali ini ia tidak bisa memungkiri bahwa apa yang Kibum katakan adalah benar.

"Jessica?" Suara Kibum kembali terdengar, membuat Siwon tersadar dari pikirannya sendiri.

Siwon mengangkat kepalanya dan menemukan Jessica berjalan keluar dari kamar Yesung.

"Bagaimana keadaan Yesung? Dia baik-baik saja, kan?" Tanya Kibum.

"Aku sudah mengatakan, kaki Yesung mungkin akan sering tidak bisa digerakkan seperti tadi. Kanker itu berada di sekitar tulang belakang bagian bawah, jadi bagian tubuh yang akan lebih dulu terserang adalah kaki. Aku hanya bisa memberinya sedative sehingga dia bisa tertidur sampai rasa nyeri di kakinya hilang, tetapi kita tetap harus melakukan operasi," Jawab Jessica setelah lebih dulu duduk di samping Siwon.

"Tidak ada luka bakar?"

"Ada beberapa bagian tubuh Yesung yang memerah, tetapi aku sudah mengobatinya," Jawab Jessica lagi, kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Siwon, "Siwon-ah, kau harus benar-benar menjaga Yesung dengan baik. Kondisi tubuhnya benar-benar lemah. Tekanan darahnya juga sangat rendah. Aku khawatir dia tidak akan bertahan saat menjalani operasi nanti,"

"Te-tentu saja, aku pasti akan menjaga Yesung," Jawab Siwon terdengar sedikit gugup.

"Apa dia makan dengan baik?"

"Ma-makan?" Siwon sedikit tersentak mendengar pertanyaan Jessica. Bagaimana ia harus menjawab? Ia tidak pernah memperhatikan Yesung. Bahkan ia belum pernah melihat Yesung makan selain malam ketika pertama kali Yesung datang ke rumah itu.

"Kondisi tubuhnya yang lemah bisa saja diakibatkan oleh pola makan yang tidak teratur. Yesung harus dalam kondisi baik saat menjalani operasi nanti. Kalau kondisinya seperti ini, atau bahkan lebih buruk, jangankan berhasil, dia bisa bertahan sampai operasinya selesai saja aku tidak bisa menjaminnya," Jelas Jessica.

"Aku juga akan membantu menjaga Yesung," Ujar Kibum.

Jessica tersenyum, "Yesung membutuhkan kita,"

.

.

~ 예 원 ~

.

.

"Eungh~~" Yesung melenguh, tangannya reflek bergerak untuk menutupi matanya ketika dirasakannya silau cahaya matahari menerpa wajahnya.

"Ayo bangun, Tuan muda! Jangan jadi pemalas!" Seru sebuah suara. Sedetik kemudian Yesung merasakan seseorang mengguncang tubuhnya, membuat ia mau tidak mau harus membuka matanya.

Yesung mengerjapkan matanya, "Kibum hyung?"

Kibum –seseorang tadi tersenyum, "Ayo bangun! Ini sudah jam 7, Yesungie,"

Yesung mengusap matanya, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang masih mendominasi sistem koordinasi tubuhnya, "Sedang apa kau di sini, hyung?"

"Aku datang untuk melihat keadaanmu dan memastikan kau makan dengan baik hari ini," Jawab Kibum masih dengan tersenyum, "Bagaimana kakimu? Apa masih sakit?"

Yesung menggeleng, "Aku sudah bisa menggerakkannya lagi," Jawabnya seraya menggerak-gerakkan kakinya yang masih berbalut selimut tebal, "Terima kasih kemarin sudah menolongku, hyung. Aku berhutang banyak padamu,"

Kibum mengacak rambut Yesung pelan, "Kau tidak perlu berterima kasih, Yesung-ah,"

Yesung tersenyum tipis. Entah kapan terakhir kali ia tersenyum seperti itu selain pada Sang Umma di Panti asuhan dulu. Ia tidak bisa berbohong bahwa ia merasa nyaman dengan Kibum berada di sampingnya. Ia tahu, mungkin Kibum begitu baik padanya hanya karena ia menderita penyakit yang sama dengan namja bernama Jeremy yang diceritakan Kibum kemarin. Ia hanya senang, Kibum membuatnya merasa tidak sendirian lagi.

"Ah iya, aku tadi membawakan makanan untukmu. Kau mandi dulu, okay? Aku akan menunggumu di ruang makan," Ujar Kibum lagi, tentu saja masih dengan tersenyum.

"Makanan untukku?"

Kibum mengangguk, "Cepat mandi! Aku akan menyiapkan makanannya dulu, okay?" Kibum kembali mengacak rambut Yesung, kemudian keluar meninggalkan kamar itu.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Yesung menghampiri Kibum yang tengah duduk sembari menuangkan susu di meja makan.

"Di mana Siwon hyung?" Tanya Yesung, membuat Kibum menghentikan kegiatannya.

Kibum mengangkat kepalanya, kemudian tersenyum begitu menemukan Yesung berdiri di hadapannya, "Siwon ke perusahaan. Dia ada meeting penting pagi ini,"

"Ooh," Gumam Yesung seraya mendudukkan dirinya di depan Kibum, "Kau tidak pergi ke perusahaan, hyung?"

"Tidak, aku libur hari ini," Jawab Kibum, "Ayo makan! Aku akan mengawasimu sampai kau menghabiskan makanan ini!"

Yesung mengerutkan keningnya, "Kau pagi-pagi datang ke sini hanya untuk membawakan aku makanan?"

Kibum mengangguk, "Kemarin Jessica mengatakan kondisi tubuhmu sangat lemah. Aku yakin selama ini kau pasti tidak makan dengan baik. Benar, kan?"

Yesung memajukan bibir bawahnya, membuatnya terlihat sangat imut, "Aku tidak selera makan, hyung. Lidahku terasa sangat pahit. Siwon hyung juga sangat jarang makan di rumah,"

"Kau harus makan dengan baik, Yesungie. Kondisi tubuhmu harus benar-benar bagus saat menjalani operasi nanti. Kau juga sangat ringan untuk ukuran seorang namja,"

"Bukankah operasinya masih sekitar 2 bulan lagi?"

"Iya, tetapi kita tetap harus mempersiapkannya dari sekarang. Sudahlah, cepat makan, setelah itu kita akan jalan-jalan ke taman,"

Yesung mengerutkan keningnya, "Jalan-jalan ke taman?"

Kibum mengangguk, "Kemarin Jessica juga mengatakan kau harus lebih sering begerak agar tulang dan ototmu tidak kaku,"

Yesung mengerucutkan bibirnya, "Noona itu cerewet sekali," Gerutunya.

Kibum terkekeh pelan, "Dia hanya ingin yang terbaik untukmu, Yesung-ah,"

"Aku tahu," Jawab Yesung bosan, kemudian menyuapkan bubur hangat ke dalam mulutnya, "Kau membeli bubur ini, hyung?"

"Aniya. Aku meminta pembantuku untuk memasaknya. Kau tidak boleh terlalu banyak memakan masakan restahurant, Yesung-ah,"

Yesung kembali tersenyum, "Terima kasih,"

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul 8 ketika Yesung dan Kibum tiba di taman yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah Siwon, jadi cuaca masih cukup sejuk. Kibum membawa Yesung duduk di atas bangku panjang yang berada di bawah pohon, sehingga Yesung tidak terkena sinar matahari secara langsung.

"Kau tunggu di sini dulu, okay? Aku akan membeli minuman di sana sebentar," Ujar Kibum seraya menunjuk mini market yang berada di seberang taman.

"Jangan lama-lama, hyung. Aku tidak suka sendirian di sini," Jawab Yesung.

Kibum tersenyum, "Aku tidak mungkin meninggalkanmu lama-lama," Ujarnya lagi seraya mengacak rambut Yesung, kemudian setengah berlari pergi ke mini market yang ia maksud tadi.

Yesung melepaskan topi yang dikenakannya, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku. Ia menengadah menatap langit yang begitu cerah, mengingat musim dingin telah berakhir sejak beberapa hari yang lalu.

Tiba-tiba sebuah senyuman samar terukir di bibir plum Yesung. Matanya terpejam, seolah tengah mengenang sesuatu yang begitu indah.

"Sudah hampir lima tahun, hyung. Apa kau benar-benar tidak mengingatku?" Gumamnya dengan suara pelan, yang mungkin hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya.

"Oppa! Oppa!"

Yesung membuka matanya, dan iris caramel itu segera menemukan sosok seorang yeoja kecil berdiri di sampingnya dengan membawa rangkaian bunga baby's breath di tangannya.

Yesung sedikit mencondongkan badannya untuk mensejajarkan wajahnya dengan tinggi yeoja kecil itu, "Ada apa adik kecil?"

"Ini untukmu," Ujar yeoja tadi seraya memberikan rangkaian bunga yang dibawanya pada Yesung.

Yesung mengangkat alisnya, "Untukku?"

Yeoja kecil tadi mengangguk imut, "Ini dari Oppa tampan di sebelah sana!" Ucapnya lagi sembari menunjuk sebuah pohon yang berada tidak jauh dari tempat Yesung duduk.

Yesung langsung mengalihkan caramel-nya mengikuti arah telunjuk yeoja itu. Alisnya kembali terangkat begitu melihat sosok seorang namja berdiri di balik pohon tersebut. Apalagi dengan penampilan namja itu yang mengenakan jaket berkerudung dan kacamata hitam, membuat Yesung tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Seperti baru menyadari bahwa Yesung memandang ke arahnya, namja tadi langsung menarik tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru.

Yesung mengerutkan keningnya, "Siapa dia?"

"Aku tidak tahu, Oppa. Dia hanya menyuruhku memberikan bunga ini padamu," Jawab yeoja kecil tadi seraya tersenyum lebar.

Yesung kembali mengalihkan perhatiannya pada yeoja kecil yang masih berdiri di sampingnya, "Terima kasih, ne?" Ucapnya seraya tersenyum.

Yeoja tadi kembali mengangguk, "Bunga itu sangat cantik sepertimu, Oppa!" Serunya seraya berlari meninggalkan Yesung, kemudian ikut bermain bersama teman-temannya di taman tersebut.

Yesung terkekeh pelan mendengar pujian yeoja kecil tadi.

"Ada apa?" Tanya Kibum yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Yesung.

Yesung menggeleng, "Anak kecil tadi memberikan bunga ini padaku," Jawabnya masih dengan tersenyum.

"Anak kecil yang baru dari sini tadi?" Kibum kembali bertanya sembari duduk di samping Yesung.

"Entahlah, dia bilang ada seseorang yang menyuruhnya memberikan ini padaku,"

Kibum mengamati rangkaian bunga di tangan Yesung, "Sepertinya kau memiliki pengagum rahasia," Ujarnya seraya terkekeh pelan.

Yesung menatap Kibum bingung, "Pengagum rahasia?"

"Kau tidak tahu makna baby's breath?"

Yesung menggeleng masih dengan wajah blank-nya.

"Baby's breath itu menunjukkan cinta yang terpedam. Jeremy yang mengatakannya padaku,"

Yesung tertawa kecil, "Aku baru pertama kali mendengarnya,"

Kibum ikut tertawa, "Aku juga tidak tahu. Jeremy sangat menyukai filosofi-filosofi seperti itu,"

"Dia namja yang sangat beruntung,"

Kibum mengangkat alisnya, "Apa maksudmu?"

"Ya, dia beruntung karena memilikimu, hyung. Pasti dia sangat bahagia, di saat-saat terakhir hidupnya, ada seseorang yang sangat mencintai dan selalu setia menemaniinya,"

Kibum tersenyum, "Dia justru pernah memintaku meninggalkannya,"

Yesung mengerutkan keningnya, "Dia memintamu meninggalkannya?"

Kibum mengangguk, "Dia mengatakan dia tidak ingin menjadi egois. Dia tidak mau menjadi beban untukku, yang padahal kenyataannya aku sama sekali tidak merasa terbebani. Dia takut tidak bisa membuatku bahagia,"

"Maksudmu?"

"Dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi. Cepat atahu lambat dia akan pergi meninggalkanku. Dia tidak mau aku masih terikat dengannya saat dia pergi. Dia bahkan memaksaku untuk segera mencari penggantinya, agar aku tidak sendrian. Dia takut membuatku terluka karena melihatnya kesakitan,"

Deg.

Yesung terdiam.

Apa ia telah menjadi egois?

Jeremy, namja itu meminta Kibum meninggalkannya karena ia tahu hidupnya tidak akan lama lagi. Sementara dirinya? Ia bahkan mati-matian mempertahankan Siwon untuk terus berada di sampingnya padahal ia tahu ia akan segera mati.

Apa arti cinta tidak sesederhana yang ia pikirkan selama ini?

"Apa kau meninggalkannya, hyung?"

Kibum kembali tersenyum, "Tidak. Aku tetap menemaninya, karena aku tahu dia membutuhkanku. Aku tahu dia tidak benar-benar menginginkan aku pergi meninggalkannya. Dia hanya mencoba untuk berkorban. Dia tidak ingin aku ikut terluka bersamanya,"

"Berkorban?" Yesung bergumam lirih.

Kibum menatap Yesung, "Apa?"

"A-apa? Tidak ada," Jawab Yesung seraya tersenyum canggung, "Dia namja yang hebat,"

"Aku tahu. Dan aku yakin, kau pasti tidak kalah hebat darinya. Kau harus bertahan menghadapi penyakitmu ini,"

Yesung kembali menengadahkan kepalanya menatap langit.

'Tapi aku ingin pergi saja..'

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Yesung menggeliat. Matanya mengerjap seraya mengamati sekelilingnya.

Kamar?

Yesung memejamkan matanya, lalu membukanya kembali untuk memastikan bahwa ia benar-benar sedang berada di kamarnya. Membutuhkan waktu beberapa saat sampai ia mengingat bahwa tadi ia jalan-jalan bersama Kibum seharian, dan mungkin saja ia tertidur saat perjalanan pulang.

Yesung menyingkirkan selimut tebal yang tadi menutupinya, kemudian beranjak bangkit dari bed-nya. Ia menggeliat sekali lagi sebelum kemudian melangkah keluar dari kamarnya.

Yesung berjalan menuju dapur, bermaksud untuk mengambil segelas air putih. Namun langkahnya terhenti di ruang tamu begitu melihat Siwon berada di sana bersama Kibum.

"Kenapa harus sekarang, Siwon-ah? Apa kau tidak memikirkan perasaan Yesung, huh? Kau tahu dengan pasti dia sangat mencintaimu!" Ujar Kibum membuat Yesung mengerutkan keningnya. Apa yang sedang mereka bicarakan?

"Aku tidak bisa menunggu lagi, Kibum-ah. Jessica akan pindah tugas ke China minggu depan. Aku tidak mungkin mengikutinya pindah lagi. Dan aku ingin ada ikatan di antara kami sebelum dia pergi," Jawab Siwon.

"Jadi kau akan menyatakan cintamu pada Jessica lagi?"

"Ne, dan aku akan mengajaknya bertunangan sebelum dia pergi,"

Mata Yesung melebar mendengar ucapan Siwon. Seakan ada ribuan pisau yang tiba-tiba menusuk hatinya, membuatnya terasa sangat sakit. Tanpa ia sadari setetes cairan bening jatuh membasahi pipinya.

"Kenapa harus bertunangan secepat ini, Siwon? Bagaimana kalau Yesung mengetahuinya?"

Yesung mengusap air matanya yang tidak mau berhenti mengalir. Dengan cepat ia berlari masuk ke dalam kamarnya sebelum sebuah isakan lirih lolos dari bibirnya.

Yesung berlari masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Tangannya mencengkeram wastafel dengan kuat, seakan tengah berusaha menahan tubuhnya yang tiba-tiba terasa lemas.

Jadi ini akhir dari semuanya?

Apa ia benar-benar harus menyerah sampai di sini?

'Aku tau dia tidak benar-benar menginginkan aku pergi meninggalkannya. Dia hanya mencoba untuk berkorban. Dia tidak ingin aku ikut terluka bersamanya,'

Yesung terisak mengingat ucapan Kibum pagi tadi. Apa ia harus berkorban? Lalu bagaimana dengan pengorbanannya untuk tetap berada di samping Siwon selama ini?

Perlahan, kenyataan yang selama ini berusaha ia tepis mulai menyeruak. Keyakinannya bahwa ia akan berhasil membuat Siwon kembali padanya kini tidak sebesar dulu lagi. Ia selalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan berhasil mendapatkan Siwon-nya kembali. Ia selalu berusaha menepis fakta-fakta yang ia takutkan.

Namun kini semuanya telah menjadi lebih jelas. Terlalu nyata untuk dapat ia pungkiri lagi. Sangat jelas, bahwa Siwon telah mencintai orang lain. Menyakitkan, memang, ia merasa sangat sakit ketika tidak bisa menepis kenyataan itu lagi. Sangat sakit ketika hatinya sendiri percaya bahwa kenyataan itu memang benar.

Yesung tersenyum hambar, namun air matanya masih terus mengalir, membuatnya terlihat begitu menyedihkan.

Hampir 5 tahun. Apa yang ia harapkan setelah 5 tahun semuanya berlalu? Semuanya masih sama seperti dulu? Tidak. Seharusnya ia tahu bahwa semuanya pasti telah berubah. Seharusnya ia tidak terlalu percaya diri bahwa hanya dirinya yang berada di dalam hati Siwon sampai saat ini.

Siwon bukan gay. Benar. Siwon bukan gay sebelum bertemu dengan dirinya dulu. Siwon hanya menjadi gay untuknya. Dan sekarang? Semuanya kembali seperti dulu lagi. Siwon melupakannya dan mencintai seorang yeoja.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Kibum baru saja masuk ke dalam apartment-nya ketika tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Alisnya langsung bertahut ketika melihat nama Yesung tertera di layar ponselnya. Mereka memang sempat bertukar nomor telepon pagi tadi.

"Yeoboseo?"

'Kibum hyung, boleh aku bertanya sesuatu padamu?'

Kibum mengerutkan keningnya. Ia bisa mendengar dengan jelas bahwa suara Yesung di seberang sedikit gemetar.

"Yesung-ah, apa kau menangis? Apa yang terjadi?" Tanya Kibum cemas.

"Kau mengenal Jessica Noona kan, hyung?" Yesung kembali bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Kibum sebelumnya.

"Yesung—"

"Apa dia yeoja yang baik, hyung?"

"Yesung-ah, ada apa?"

"Jawab aku, hyung! Apa dia yeoja yang baik?"

"Y-ya, dia yeoja yang baik," Kibum menjawab pertanyaan Yesung, meskipun sebenarnya ia masih bingung apa yang terjadi dengan namja itu.

"Apa Siwon hyung benar-benar mencintainya?"

"Apa maksudmu, Yesung-ah? Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Jawab aku, hyung!"

"I-itu aku.."

"Aku tahu. Terima kasih," Ucap Yesung tanpa menunggu Kibum menyelesaikan ucapannya.

"Yesung-ah, kau—" Ucapan Kibum terpotong saat mendengar tanda panggilan diputuskan oleh Yesung.

Kibum mencoba menghubungi Yesung berkali-kali, namun Yesung sama sekali tidak menjawab panggilannya. Setelah cukup lama, ponselnya kembali bergetar, namun kali ini menandakan pesan masuk.

'Aku baik-baik saja, hyung. Jangan mencemaskan aku.'

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Pagi itu, Siwon tengah meminum kopi di ruang tamu rumahnya sembari membaca koran ketika tiba-tiba Yesung datang menghampirinya.

"Hyung, hari ini terapi ketigaku, kan?" Tanya Yesung membuat Siwon langsung menatapnya.

"Ya, hari ini kau terapi," Jawab Siwon sedikit bingung. Sejak kapan namja beriris caramel itu terlihat begitu semangat untuk menjalani terapi?

"Ayo cepat berangkat! Aku sudah siap!" Ujar Yesung lagi, dengan tersenyum.

"Ba-baiklah, Jessica juga sudah mengirim pesan padaku," Siwon melipat koran di tangannya, kemudian bangkit dari sofa. Namun langkahnya terhenti ketika merasakan Yesung menggenggam tangannya.

"H-hyung.."

Siwon memutar kepalanya menatap Yesung.

"Ha-hari ini ka-kau temani aku terapi, ne? Satu kali ini saja," Pinta Yesung dengan menatap Siwon penuh harap.

"Yesung, aku—"

"Aku mohon, hyung. Aku.. aku janji ini yang terakhir. Aku tidak akan pernah memintamu menemaniku lagi,"

Siwon menatap Yesung yang kini menundukkan kepalanya. Ia bahkan bisa merasakan jemari Yesung yang menggenggam tangannya terasa dingin, menunjukkan bahwa namja itu sangat gugup.

"Baiklah," Jawab Siwon singkat, membuat Yesung langsung menatapnya dengan mata melebar.

"Benarkah?"

"Ya, aku akan menemanimu satu kali ini saja,"

Yesung tersenyum lebar, "Kajja kita pergi!" Serunya seraya menarik tangan Siwon keluar dari rumah.

Siwon yang masih bingung dengan sikap Yesung yang –menurutnya—aneh hanya membiarkan tangannya ditarik oleh namja manis itu.

Saat mobil Siwon keluar melewati pintu gerbang, seorang namja keluar dari balik pohon yang berada di depan rumah besar itu.

"Sepertinya dia sudah tidak membutuhkanmu lagi. Lebih baik kau ikut bersamaku saja," Gumam namja berkacamata hitamitu seraya mengelus cangkang kura-kura di tangannya.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

"Pagi.." Sapa Jessica seraya tersenyum ketika melihat Yesung dan Siwon memasuki ruangannya.

"Pagi," Balas Siwon juga tersenyum.

"Bagaimana keadaanmu, Yesung-ah? Kau siap untuk terapi hari ini?"

Yesung tersenyum, "Aku baik, Noona,"

"Baiklah, lebih baik kita langsung ke ruang terapi saja," Ujar Jessica seraya beranjak bangkit dari kursinya.

"Noona, bisa kita bicara sebentar?" Pinta Yesung membuat Jessica dan Siwon langsung menatapnya.

"I-ini tentang penyakitku. Aku ingin bicara berdua saja denganmu," Ucap Yesung lagi.

"Err, baiklah," Jawab Jessica, "Siwon-ah, bisa kau menunggu di luar sebentar?"

Siwon menatap Yesung curiga, "Kenapa aku tidak boleh mendengarnya?"

"Ini privasi seorang dokter dan pasiennya, Siwon. Ayo cepat keluar!" Ujar Jessica.

Siwon berdecak, "Baiklah, aku akan keluar," Ujarnya kemudian pergi meninggalkan Yesung dan Jessica di ruangan itu.

"Apa yang ingin kau bicarakan, Yesung-ah?" Tanya Jessica seraya kembali duduk di kursinya.

"Noona, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Apa kau mencintai Siwon hyung?"

"Apa?" Jessica menatap Yesung terkejut, "Kenapa kau bertanya seperti itu, Yesung-ah?"

"Jawab saja, Noona. Aku mohon.."

"Aku.. aku tidak tahu, Yesung-ah. Lebih baik kita tidak membicarakan ini,"

Tiba-tiba Yesung bangkit dari kursinya dan langsung berlutut di depan Jessica membuat yeoja berambut blonde itu terkejut.

"Apa yang kau lakukan, Yesung-ah?"

"Katakan kau mencintainya, Noona. Aku mohon.."

"Yesung, aku tidak bisa—"

"Aku mohon, Noona. Dia sangat mencintaimu. Aku mohon jangan menolaknya lagi.."

Jessica bangkit dari kursinya dan berlutut di depan Yesung, "Jangan seperti ini, Yesung-ah. Aku tidak bisa.." Ucapnya seraya menangkup wajah Yesung yang tertunduk.

"Aku mohon padamu, Noona. Aku ingin dia bahagia.. hiks.. hanya kau yang bisa membuatnya bahagia. Aku berjanji aku akan melakukan apapun yang kau minta. Aku mohon jangan menolaknya lagi.." Isak Yesung.

"Aku tidak ingin melukaimu, Yesung-ah. Aku tahu kau sangat mencintainya.." Jessica ikut terisak.

Yesung menggeleng cepat, "Aku tidak apa-apa, Noona. Sungguh. Ak-aku.. aku hanya ingin melihatnya bahagia sebelum aku mati.."

"Tidak, Yesung! Kau tidak akan mati! Kau pasti akan sembuh!"

Yesung kembali menggeleng, "Aku tidak ingin sembuh, Noona. Aku.. aku hiks.. tidak mau hidup lebih lama lagi. Aku tidak mau terlalu lama menjadi beban untuk Siwon hyung.."

"Yesung, jangan bicara seperti itu!"

"Ini terapiku yang terakhir, Noona. Jangan membuatku bertahan lagi hiks.." Air mata Yesung mengalir semakin deras, "Aku tidak bisa hidup tanpa Siwon hyung. Tetapi aku juga tidak mau keberadaanku menjadi beban untuknya.."

"Yesung—"

"Aku mohon padamu, Noona.. Aku ingin melihat Siwon hyung bahagia.. tolong aku.."

Jessica langsung menarik Yesung ke dalam pelukannya, "Aniya, Yesung-ah! Aku tidak bisa melakukanya. Aku tidak bisa menyakitimu dan juga Siwon.."

"Aku baik-baik saja, Noona! Kau justru akan sangat menyakitiku kalau kau tidak melakukannya!"

Jessica menggeleng, air matanya mengalir semakin deras, "Jangan seperti ini, Yesung-ah.."

Yesung melepaskan pelukan Jessica, kemudian menghapus air mata di kedua pipinya sendiri, "Aku tidak apa-apa, Noona. Demi Tuhan. Berjanjilah padaku kau akan membuatnya bahagia,"

Jessica menggeleng, "Aku mohon Yesung.."

"Tidak, Noona! Aku mohon lakukan ini untukku. Ini permintaan terakhirku. Aku akan pergi dengan tenang jika sudah melihatnya bahagia bersamamu,"

"Kau tidak akan mati, Yesung-ah!"

"Tapi aku ingin mati, Noona! Kau tidak mengerti! Aku lelah! Aku tidak ingin hidup lagi! Aku tidak punya alasan untuk hidup!" Yesung kembali terisak.

"Aku mengerti, Yesung-ah!"

"Kau tidak mengerti! Kau tahu, Noona? Aku bertahan hidup selama bertahun-tahun hanya karena aku yakin aku bisa bertemu lagi dengan Siwon hyung! Dia satu-satunya alasan bagiku untuk tetap hidup! Sekarang kau lihat? Bukan aku orang yang dia inginkan! Bukan aku yang bisa membuatnya bahagia!"

"Yesung—"

"Biarkan aku pergi, Noona.. Kalian masih memiliki waktu yang banyak untuk bahagia. Aku berjanji padamu, Siwon hyung adalah namja yang baik. Kau pasti akan bahagia bersamanya.."

"Bukan itu masalahnya, Yesung. Aku hanya tidak bisa.."

"Aku akan melakukan apapun.."

"Aku tidak memintamu melakukan apapun, Yesung! Berhenti melakukan sesuatu yang menyakiti dirimu sendiri!"

"Kau orang yang baik, Noona. Aku percaya Siwon hyung akan bahagia bersamamu. Aku mohon.."

Jessica menghapus air matanya, "Lebih baik kita terapi dulu, okay? Siwon pasti sudah menunggu kita," Ujarnya seraya tersenyum.

Yesung ikut menghapus air matanya, "Kau benar. Siwon hyung pasti sudah terlalu lama menunggu kita,"

"Kajja!"

.

.

~ 예 원 ~

.

.

"Kau siap, Yesung?" Tanya Jessica.

Yesung mengangguk pelan.

Jessica tersenyum, "Berjuanglah. Kau pasti bisa melewati semua ini," Ujarnya memberi semangat. Kemudian ia menyuntikan cairan di tangannya ke lengan kiri Yesung.

Yesung memejamkan kedua matanya. Mulai merasakan efek cairan kimia tadi bereaksi di dalam tubuhnya.

Siwon hanya diam di samping kanan Yesung. Memperhatikan ketika kedua caramel itu terpejam semakin rapat, menunjukkan bahwa pemiliknya saat ini mulai merasa kesakitan. Tangan Yesung mencengkeram kuat bed cover berwarna putih di bawahnya, seolah dengan begitu ia bisa sedikit berbagi rasa sakitnya dengan benda mati itu.

"Engh.." Sebuah erangan kecil lolos dari bibir Yesung, menunjukkan bahwa rasa sakit itu kini semakin mendominasi setiap aliran darahnya.

Wajah Yesung mulai berkeringat, membuat siapa saja yang melihatnya seakan bisa ikut merasakan kesakitan yang ia rasakan.

Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tiba-tiba Siwon menggenggam jemari kanan Yesung. Sungguh, ia merasa hatinya sakit melihat keadaan Yesung saat ini.

Yesung membuka matanya ketika merasakan seseorang menggenggam tangannya. Ia tampak terkejut begitu melihat bahwa Siwon-lah yang menggenggam tangannya dan menatap ke arahnya. Namun kemudian ia seolah langsung merasa hangat ketika menemukan kecemasan di dalam obsidian itu. Rasa sakit yang sejak tadi menginvasi tubuhnya kini seakan menghilang entah kemana.

Yesung tersenyum pada Siwon, seakan tengah meyakinkan namja tampan itu bahwa ia baik-baik saja. Padahal siapapun yang melihat keadaannya saat ini pasti tahu bahwa ia sangat jauh dari kata 'baik-baik saja'.

"Engh.."

Lagi-lagi erangan kecil lolos dari bibir Yesung yang kini terlihat pucat, padahal ia sudah mati-matian menahannya.

Siwon menggenggam tangan Yesung semakin erat, seolah tengah mencoba menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki untuk membuat namja manis itu tetap bertahan. Ia tidak pernah tahu jika Yesung begitu kesakitan setiap kali menjalani terapi. Dan ia justru selalu mencari alasan ketika namja itu meminta dirinya untuk menemaninya. Ia mengabaikan kekecewaan yang ia tangkap dengan jelas terpancar dari sepasang manik caramel itu setiap kali ia memberikan kebohongan sebagai alasan.

Kini Siwon bisa melihat, wajah yang selalu ia anggap mengerikan itu tampak begitu kesakitan. Luka yang selalu ia anggap hanya sebuah topeng itu kini terpampang jelas di hadapannya. Kini ia baru menyadari bahwa jemari yang ada di dalam genggamannya itu terasa semakin kurus. Pipi itu kini juga terlihat lebih tirus, tidak se-chubby dulu lagi. Berat badan Yesung juga terasa semakin ringan setiap kali ia menggendongnya. Satu hal kini bisa ia lihat dengan jelas, namja itu terlihat lebih lemah daripada ketika ia membawanya dari panti asuhan dulu.

Tiba-tiba Yesung menggenggam tangan Siwon dengan kuat, membuat Siwon tersentak dari pikirannya sendiri.

"Ak-kuh ja-janji ini ya-yang ter.. akh.. khir.."

.

.

To Be Continued