REMEMBER ME

Pairing : Yewon

Genre : Yaoi, romance, hurt/comfort, drama etc.

Rate : T

Disclaimer : Yesung and Siwon belong to each other ^^

Warning : BL, Un-official Pair, aneh, alur maksa, ribet, etc.

A Yewon Fanfiction © 2013 by Fairy_Siwoonie

.


~ HAPPY READING ~


.

"Obat-obatan yang diberikan pada tahap ini sangat keras sehingga mempengaruhi sel-sel normal dan menimbulkan efek samping seperti rambut rontok, mudah terinfeksi, dan daya tahan tubuh menurun, jadi kau harus menjaga Yesung lebih baik lagi, Siwon-ah," Ujar Jessica.

Siwon mengalihkan perhatiannya pada Yesung yang saat ini terlelap di punggungnya. Namja manis itu sepertinya benar-benar kelelahan sampai ia ketiduran setelah selesai terapi satu jam yang lalu.

"Aku tahu," Jawab Siwon singkat.

"Aku sungguh-sungguh, Siwon-ah. Saat ini kondisi Yesung sangat lemah, bukan hanya fisiknya, tetapi juga psikisnya. Aku khawatir jika dia sendiri tidak memiliki keinginan untuk sembuh, semua usaha kita selama ini tidak akan ada gunanya. Sebesar apapun kita berusaha, semua itu hanya akan menjadi sia-sia jika tidak ada keinginan dari dalam diri Yesung sendiri untuk sembuh,"

"Aku akan menjaganya sebisaku,"

Jessica tersenyum, "Aku percaya padamu. Baiklah, lebih baik kalian segera pulang, Yesung harus banyak istirahat saat ini,"

Siwon ikut tersenyum, "Terima kasih, Jessica,"

"Ini sudah tugasku, Siwon,"

Siwon kembali tersenyum sebelum kemudian keluar meninggalkan ruangan Jessica dengan menggendong Yesung di punggungnya.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Siwon membaringkan tubuh Yesung dengan hati-hati di atas bed-nya. Ia tidak ingin Yesung terbangun dan melihat namja itu merasa kesakitan lagi. Sudah cukup ia melihat Yesung kesakitan saat terapi tadi. Ia tidak tega jika harus melihat Yesung kesakitan lagi karena efek pasca terapi kali ini.

Siwon terdiam dan menatap lekat-lekat wajah Yesung yang saat ini tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Hanya kulit wajahnya yang sedikit pucat yang menunjukkan bahwa namja itu tidak dalam keadaan baik. Bibir yang berwarna pudar dan lingkaran hitam samar di bawah matanya menambah kesan terluka di wajah manis tersebut.

"Apa aku sangat keterlaluan selama ini?" Gumam Siwon dengan suara pelan.

Siwon menyesal. Namja manis di hadapannya itu benar-benar terluka. Kenapa ia baru bisa melihatnya sekarang? Kenapa ia baru menyadari bahwa luka itu bukan hanya topeng? Apa selama ini ia memang sudah terlalu dibutakan oleh kebencian?

Selama ini ia selalu memperlakukan Yesung dengan buruk. Ia selalu berusaha membuat Yesung membencinya. Namun apa yang namja itu lakukan? Yesung tetap bertahan di sampingnya. Seharusnya ia tahu sejak awal bahwa semua yang ia lakukan hanya akan sia-sia. Seharusnya ia tahu bahwa cara-cara seperti itu tidak akan pernah berhasil pada namja yang ia anggap tidak memiliki harga diri tersebut.

Yesung bukan namja yang kuat. Semua pasti bisa melihat itu hanya dengan satu kali mengamati wajahnya. Namun pendiriannya sama sekali tidak bisa dikatakan lemah. Kepercayaan yang ia miliki tidak mudah dipatahkan begitu saja.

Siwon memejamkan matanya erat. Lagi-lagi ia merasakan sesuatu menekan dadanya. Membuatnya terasa sangat sesak dengan alasan yang tak pernah bisa ia mengerti.

"Kenapa kau harus mencintaiku, huh? Kau berhak untuk mendapatkan yang lebih baik, Yesung-ah,"

.

.

~ 예 원 ~

.

.

"Aku harus pergi ke Jepang, Siwon-ah. Jadi hari ini kau yang harus memastikan Yesung makan dengan baik dan benar, arra?" Ujar Kibum pada Siwon melalui telepon.

Siwon memutar bola matanya, "Kau ini sudah seperti Umma-nya saja, Kibum-ssi!"

"Aku serius, Choi Siwon!"

"Arra arra! Aku tahu. Aku akan memastikan namja itu makan dengan benar," Jawab Siwon kesal.

"Jangan membeli fast food! Yesung harus makan makanan yang sehat!"

Siwon berdecak, "Aku akan menyewa pembantu untuk memasak! Kau senang?"

"Ide yang bagus. Kalau kau tidak mampu membayar, katakan saja padaku, okay? Aku harus segera pergi. Besok pagi aku akan ke rumahmu. Jaga Yesung dengan baik!"

"Yah!" Siwon berseru protes, namun Kibum sudah lebih dulu memutuskan sambungan teleponnya.

"Dasar menyebalkan!" Gerutu Siwon. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kemudian melihat jam yang menggantung di sudut kamarnya.

"Jam 9, lebih baik aku membangunkannya," Gumamnya kemudian melangkah keluar dari kamarnya dan menuju kamar Yesung.

Siwon baru saja akan mengetuk pintu kamar Yesung, namun kemudian ia menyadari bahwa pintu berwarna crimson di hadapannya itu tidak tertutup rapat. Entah mendapatkan inisiatif darimana, Siwon melongkokkan kepalanya untuk mengintip ke dalam kamar tersebut melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Didapatinya Yesung tengah duduk di lantai dengan menyandar pada tempat tidurnya. Namja itu tampak sedang memeluk sebuah bingkai foto, hanya saja Siwon tidak bisa melihatnya dengan jelas karena posisinya terbalik.

Dada Siwon kembali terasa sesak begitu melihat aliran air mata di kedua pipi pucat itu. Kedua mata Yesung memang terpejam, namun sama sekali tidak menghalangi air matanya untuk terus mengalir. Obsidian Siwon kembali melebar saat menemukan helaian rambut yang cukup banyak tercecer di sebelah Yesung.

Siwon membuka pintu kamar Yesung dan masuk menghampiri namja manis itu.

"Yesung-ah.." Panggil Siwon dengan suara yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat Yesung tersentak.

Iris caramel Yesung sedikit melebar begitu menemukan Siwon berdiri di depannya dan menatapnya dengan raut wajah aneh. Dengan cepat ia menyimpan foto yang tadi didekapnya di bawah selimut, kemudian menghapus air mata di kedua pipinya.

"H-hyung, se-sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Yesung.

"Baru saja. Aku pikir kau belum bangun," Jawab Siwon dengan nada datar.

Yesung tersenyum, "Aku sudah bangun dari tadi,"

Entah mengapa, senyuman Yesung kali ini terlihat begitu menyakitkan di mata Siwon. Ia seolah bisa melihat dengan jelas bahwa senyuman itu benar-benar dipaksakan. Apalagi ditambah dengan jejak-jejak air mata yang begitu kentara di kedua pipi Yesung.

Dada Siwon kembali sesak, lagi-lagi masih dengan alasan yang sampai saat ini tidak ia mengerti. Apa sekarang ia merasa bersalah? Atau ia hanya merasa kasihan pada Yesung? Ia sendiri juga tidak tahu. Ia hanya merasa setiap kali ia menatap mata Yesung, iris caramel itu seakan menyeretnya untuk merasakan kepedihan yang sama. Luka yang terpancar samar itu seolah membuatnya ikut merasakan sakit.

"Hyung?" Panggil Yesung membuat Siwon tersentak dari pikirannya sendiri.

"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Yesung lagi membuat Siwon tergagap.

"A-aku.. aku hanya ingin memanggilmu untuk makan," Jawab Siwon cepat, "Kibum bisa membunuhku kalau kau tidak makan dengan baik,"

"Ma-makan?" Yesung tersenyum canggung, "Kau duluan saja, hyung. Aku akan makan sendiri nanti,"

"Ini sudah jam 9, Yesung. Kau mau sarapan jam berapa? Kau ingin Jessica marah padaku karena tidak menjagamu dengan baik, huh?" Siwon mendengus kesal.

Yesung menundukkan kepalanya, "A-aku tidak bisa berjalan. Ka-kakiku tidak bisa digerakkan lagi sejak tadi pagi,"

Siwon berdecak, "Kenapa tidak mengatakan dari tadi, huh?" Serunya membuat Yesung sedikit tersentak, "Aku akan memanggil Jessica,"

"Tidak, hyung!" Seru Yesung membuat Siwon kembali menatapnya, "Aku baik-baik saja. Aku tidak merasa sakit, hanya tidak bisa digerakkan saja. Sebentar lagi pasti juga akan sembuh,"'

"Tidak bisa seperti itu, Yesung! Kau terlalu menganggap remeh!"

Yesung tersenyum pahit.

'Seandainya kau berkata seperti itu karena benar-benar mencemaskanku, aku pasti akan sangat bahagia, hyung. Tetapi pasti kau hanya ingin Jessica datang ke sini, kan?'

"Aku tidak apa-apa, hyung. Kalau kau tidak keberatan, bisakah membantuku ke ruang makan?"

Siwon terlihat berpikir sejenak, kemudian ia mendengus kesal, "Kau memang keras kepala,"

Yesung hanya tersenyum.

Siwon mengangkat tubuh Yesung yang terasa semakin ringan dan membawanya ke ruang makan. Ia menarik satu kursi untuk Yesung dengan kakinya, kemudian ia sendiri mengambil posisi duduk berhadapan dengan Yesung.

"Makanlah!" Ujar Siwon seraya menyodorkan semangkuk bubur di hadapan Yesung.

"Terima kasih, hyung. Maaf merepotkanmu," Ucap Yesung, kemudian ia mengambil sendok dan mulai menyuapkan bubur tadi ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit.

Siwon hanya diam dan menatap Yesung yang sama sekali tidak melirik ke arahnya. Namja manis itu terlihat terlalu fokus memakan buburnya.

"Aku sudah kenyang, hyung," Ujar Yesung seraya menyingkirkan mangkuknya yang masih berisi lebih dari setengah.

"Kau harus menghabiskannya, Yesung! Apa kau tidak sadar sekarang kau sangat kurus, huh?"

Yesung mengamati dirinya sendiri, "Benarkah?"

Lagi-lagi Siwon berdecak.

Yesung mengusap belakang kepalanya seraya tersenyum canggung, "Aku memang kecil, hyung," Ujarnya. Namun senyum di bibirnya langsung memudar begitu ia menarik kembali tangannya dan menemukan beberapa helai rambutnya kembali rontok.

Siwon ikut melebarkan matanya. Ia bisa melihat dengan jelas raut wajah Yesung berubah.

Yesung kembali tertawa canggung, "Sepertinya rambutku akan segera habis,"

Sesaat suasana berubah menjadi canggung. Siwon bingung harus melakukan apa, sementara Yesung seakan tenggelam di dalam pikirannya sendiri.

"A-aku akan mengantarmu kembali ke kamar. Kau harus banyak istirahat," Ujar Siwon setelah cukup lama keduanya terdiam.

Yesung mendongkak, "Kau tidak ke perusahaan, hyung?"

"Aniya, aku ada urusan penting hari ini," Jawab Siwon seraya bangkit dari kursinya kemudian menghampiri Yesung.

Yesung hanya bergumam lirih.

Siwon mengangkat tubuh Yesung dan membawanya kembali ke kamar.

"Terima kasih, hyung," Ucap Yesung begitu Siwon membaringkannya di atas bed.

"Hm," Gumam Siwon pelan.

"Apa ini?" Tanya Yesung seraya mengambil sebuah box kecil berwarna merah yang jatuh dari saku Siwon.

Siwon tampak melebarkan matanya, "I-itu.. itu cincin,"

Senyuman di bibir Yesung langsung memudar. Siwon tidak perlu memperjelas kalimatnya untuk membuat ia mengerti mengapa namja beriris obsidian itu membawa benda tersebut.

Yesung kembali tersenyum, namun kali ini terlihat tulus meskipun masih ada kesan dipaksakan.

"Aku ingin tidur, hyung," Ujar Yesung seraya menyerahkan box berwarna merah tadi pada Siwon.

"Ba-baiklah, aku akan keluar," Jawab Siwon seraya memasukkan box tadi ke dalam sakunya, kemudian keluar meninggalkan kamar Yesung.

Yesung memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya kembali dan menatap langit-langit kamarnya.

"Tuhan, bisakah kau menjemputku lebih cepat lagi?"

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Siwon mematut diirinya di depan cermin, memastikan penampilannya sudah cukup sempurna terlebih dulu sebelum kemudian ia melangkah keluar dari kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika mendapati sosok Yesung tengah menonton TV di ruang tamu. Meskipun jaraknya dapat dikatakan cukup jauh, namun ia bisa melihat dengan jelas lagi-lagi ada aliran air mata di pipi yang semakin tirus itu.

Siwon berjalan mendekati Yesung, "Yesung?" Panggilnya membuat Yesung tersentak kaget.

Namja manis itu buru-buru menghapus air matanya sebelum kemudian menoleh ke arah Siwon. Sebuah senyuman –yang pasti dipaksakan—terukir di bibir plum-nya.

"Kau mau pergi, hyung?"

"Y-ya, aku mau keluar. Kau tidak apa-apa kan di rumah sendirian?"

"Aku akan baik-baik saja," Jawab Yesung masih dengan tersenyum.

"Baiklah, aku pergi dulu. Jangan tidur terlalu malam," Ujar Siwon sebelum kemudian ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah.

"Hyung!" Seru Yesung membuat Siwon yang baru saja akan membuka pintu mobilnya terhenti.

Siwon sedikit mendongak dan menemukan Yesung berlari ke arahnya.

"Ada apa?" Tanya Siwon.

Yesung menyodorkan box kecil berwarna merah pada Siwon, "Tadi jatuh di ruang tamu," Jawabnya seraya tersenyum.

Siwon mengambil box tersebut dengan ragu, "Te-terima kasih,"

Yesung kembali tersenyum dan mengangguk. Tiba-tiba ia melangkah mendekati Siwon, sedikit berjinjit untuk merapikan rambut namja tampan itu. Lagi-lagi ia tersenyum, seakan merasa puas dengan hasil kerjanya.

"Kau sangat tampan, hyung," Pujinya tulus, "Semoga kau berhasil,"

Siwon tercekat. Apa yang tejadi pada namja di depannya itu? Dimana Yesung yang begitu terobsesi padanya? Dimana Yesung yang bahkan pernah berniat meracuninya hanya agar ia tidak bisa pergi dengan Jessica? Apa namja itu sudah tidak mencintainya lagi? Apa namja itu sudah lelah sekarang?

Tidak.

Yesung masih mencintainya. Siwon bisa melihat genangan air di kedua pelupuk caramel di depannya itu meskipun sedikit tersamarkan oleh cahaya bulan yang temaram.

"A-aku masuk dulu. Di sini dingin," Ujar Yesung seraya mengusap belakang lehernya, "Hati-hati, hyung," Ucapnya sekali lagi sebelum kemudian berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah Siwon.

Air mata yang sejak tadi mati-matian ditahannya kini ia biarkan mengalir begitu saja. Lagipula Siwon tidak melihatnya, bukan?

Yesung berlari masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali menjatuhkan dirinya di lantai dan menangis di sana. Ia tidak perlu berpura-pura kuat lagi. Ia tidak perlu lagi meyakinkan siapapun bahwa dirinya baik-baik saja. Kini ia bebas menangis sepuasnya untuk menunjukkan betapa saat ini ia sangat terluka.

Semua sudah berakhir. Ya, semuanya, penantian dan pengorbanannya telah berakhir sampai di sini. Ia telah melepaskan apa yang selama ini mati-matian ia pertahankan. Siwon-nya, ia telah melepaskan namja itu untuk orang lain. Ia menyerah demi kebahagiaan namja yang sangat dicintainya itu. Apa yang seperti ini masih bisa disebut 'terobsesi'? Apa yang seperti ini masih pantas diragukan untuk bisa disebut cinta?

Yesung memang egois. Sebelumnya, ia selalu sendirian. Ia tidak memiliki siapapun untuk mengajarinya tentang pengorbanan. Tidak pernah ada yang membuat ia merasa ingin berkorban demi kebahagiaan orang yang ia cintai. Ia tidak pernah memiliki seseorang yang lebih berarti dibandingkan dengan dirinya sendiri. Namun itu semua sebelum Siwon masuk ke dalam kehidupannya.

Berkorban itu menyakitkan. Jika bisa, Yesung tidak ingin berkorban untuk siapapun seumur hidupnya. Ia ingin bahagia. Ia ingin mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun entah apa yang akhirnya membuat ia berpikir bahwa kebahagiaannya tidak akan berarti jika Siwon tidak bahagia. Kini, tidak ada yang ia inginkan lebih dari kebahagiaan Siwon. Ia ingin namja yang ia cintai itu bahagia meskipun itu berarti ia yang harus terluka.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

"Hati-hati, Nona Jung!" Siwon terkekeh pelan seraya terus menuntun Jessica memasuki sebuah restahurant mewah yang telah ia persiapkan sebelumnya.

"Ini dimana, Siwon-ah? Kenapa mataku harus ditutup?" Gerutu Jessica yang mau tidak mau harus mengikuti Siwon.

"Sebentar lagi kau juga akan tahu," Jawab Siwon masih dengan senyuman di wajahnya, "Okay, aku akan menghitung sampai tiga, baru kau boleh membuka matamu, arra?"

Jessica mengangguk.

"Satu.." Siwon membuka kain berwarna hitam yang sejak tadi ia gunakan untuk menutup mata Jessica, "Dua.. tiga.."

Jessica membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pengelihatannya yang sedikit kabur. Beberapa detik kemudian iris secerah emerald-nya melebar begitu mendapati dirinya sudah berada di dalam sebuah restahurant yang telah di-design dengan begitu mewah. Sudah bisa ia tebak, pasti Siwon yang telah menyiapkan semua ini untuknya.

"Ayo duduk.." Ujar Siwon seraya menarikkan sebuah kursi untuk Jessica.

"Terima kasih," Ucap Jessica.

Siwon tersenyum sembari duduk di hadapan Jessica.

"Siwon, kau—"

"Kau suka?" Tanya Siwon memotong ucapan Jessica.

"Kau berlebihan, Siwon-ah,"

"Bagiku tidak ada yang berlebihan jika itu untukmu, Jessica," Ujar Siwon masih dengan tersenyum.

Jessica menghela napas, "Kau selalu saja seperti ini, Tuan Choi!"

Siwon terkekeh, "Kalau kau sudah tahu aku memang seperti ini, kenapa harus protes, huh?"

Jessica memutar bola matanya.

"Makanannya, Tuan, Nona.." Ucap seorang pelayan yang datang membawakan makanan untuk Jessica dan Siwon. Di belakangnya ada 3 orang pelayan lagi yang membawakan makanan, minuman dan dessert. Meja yang ditempati oleh Siwon dan Jessica memang cukup besar mengingat itu adalah meja utama restahurant mewah tersebut.

"Terima kasih," Ucap Siwon.

Empat orang pelayan tadi membungkukkan dirinya sebelum kemudian berjalan pergi meninggalkan meja itu.

"Siapa yang akan menghabiskan semua ini?"

Siwon tertawa, "Tentu saja kau, Nona Jung. Kau sangat menyukai seafood, kan? Aku memesan semua ini khusus untukmu,"

Jessica kembali menghela napas, "Kau tidak perlu melakukan semua ini untukku, Siwon,"

Tiba-tiba Siwon menggenggam tangan Jessica membuat yeoja beriris cerah itu menatapnya.

"Aku mohon jangan menolakku lagi, Jessica. Biarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan,"

"Tapi kau tidak harus melakukan semua ini untukku, Siwon,"

Siwon melepaskan genggaman tangannya lalu meraih box kecil berwarna merah dari dalam sakunya.

"Menikahlah denganku," Ujar Siwon seraya membuka box kecil tadi sehingga sebuah cincin yang ada di dalamnya terlihat dengan jelas di hadapan Jessica.

Jessica terdiam. Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan lagi untuknya. Ia tahu bahwa namja tampan di hadapannya itu mencintainya sejak dulu. Namja itu masih terus berusaha mendekatinya meskipun ia sudah menolaknya dua kali. Sore tadi saat Siwon mengajaknya makan malam, ia juga sudah menduga bahwa Siwon pasti akan kembali menyatakan cinta padanya, apalagi mengingat apa yang kemarin Yesung katakan saat terapi. Jadi ia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk terkejut.

"Aku tidak bisa, Siwon," Ucap Jessica setelah cukup lama terdiam, membuat senyuman di bibir Siwon langsung memudar.

"Apa?"

Jessica menggeleng, "Aku tidak bisa, Siwon. Aku tidak ingin menyakitimu,"

"Menyakitiku? Kau justru akan sangat menyakitiku jika membuatku menunggu lagi, Jessica!"

"Aku tidak bisa, Siwon. Aku tidak mencintaimu,"

Siwon mmenggeleng, "Kau pasti berbohong. Aku tahu kau mencintaiku!"

"Tidak, Choi Siwon! Aku tidak mencintaimu! Aku tidak pernah dan tidak akan pernah bisa mencintaimu!"

"Kenapa, huh? Apa kau tidak percaya padaku?"

"Tidak, Siwon. Aku hanya tidak bisa. Kau pantas mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintaimu,"

"Tapi aku hanya mencintaimu, Jessica! Kau tahu itu!"

"Tapi aku tidak mencintaimu, Siwon. Aku tidak bisa!"

"Apa ini karena Yesung?"

"Apa?"

"Ini pasti karena Yesung, kan? Apa yang namja itu katakan padamu, huh?" Siwon menatap Jessica tajam.

"Ini bukan karena Yesung, Siwon! Aku tidak bisa karena aku memang tidak mencintaimu!"

"Tidak! Aku yakin ini pasti karena Yesung! Apa yang namja pshyco itu katakan, huh? Apa dia memintamu untuk menolakku?!"

Jessica menggeleng cepat, "Ini bukan karena siapapun, Siwon-ah! Kau tidak boleh berbicara seperti itu tentang Yesung! Dia itu namja yang baik!"

Siwon tersenyum sinis, "Jadi kau juga tertipu oleh topeng malaikatnya, huh? Dia memintamu mengasihaninya?"

"Tidak, Choi Siwon! Ini bukan salah Yesung!"

"Apa yang namja psycho itu lakukan, huh? Dia memaksamu? Atahu dia mengancamu? Katakan!" Seru Siwon. Matanya berkilat menahan amarah.

"Berhenti berbicara non sense, Choi Siwon! Yesung tidak serendah itu! Kau tidak pantas berbicara seperti itu!"

"Kenapa? Dia memang namja murahan!"

Plakk!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Siwon sebagai sambutan atas ucapannya barusan.

"Dia tidak melakukan apapun, Choi Siwon! Ini semua murni keputusanku!"

Siwon mengusap pipinya yang terasa panas, "Aku tahu kau mencintaiku, Jessica! Kau menolakku pasti karena namja tidak tahu diri itu, kan? Jawab aku!"

Jessica menggeleng, cairan bening mulai terlihat menggenang di pelupuk matanya, "Cukup, Siwon! Kau bodoh! Kau menyia-nyiakan orang yang sangat mencintaimu! Kau bodoh!"

Mata Siwon melebar, "Ka-kau tahu?"

Jessica menyeka air mata yang mulai jatuh di pipinya, "Ya, aku tahu,"

"Apa namja itu yang mengatakannya padamu, huh?"

"Berhenti berpikiran buruk tentang Yesung, Siwon! Kau tidak pantas membencinya hanya karena dia mencintaimu!"

"Aku memang membencinya! Aku sangat membencinya! Dia tidak mencintaiku! Namja gila itu terobsesi padaku!"

"Dia mencintaimu, Siwon! Kau bodoh!"

"Kau tidak tahu apa-apa, Jessica!"

"Kau membunuhnya, Siwon!"

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak melakukan apapun! Dia yang bersalah, kenapa semua orang malah menyalahkanku, huh?"

"Karena kau memang bersalah, Damnit! Bagaimana caranya untuk membuatmu mengerti, huh?!" Napas Jessica naik turun menahan emosi.

"Kalian semua yang tidak mengerti! Kalian tertipu oleh wajah malaikatnya! Kalian tidak tahu kalau dia itu sangat mengerikan! Dia itu pshyco! Dia gila!"

Plak!

Jessica menampar pipi Siwon sekali lagi. Air mata yeoja itu kembali mengalir membasahi wajah cantiknya.

"Hentikan, Siwon! Kau membunuhnya!"

Siwon tertawa aneh, "Cih! Sepertinya memang lebih baik dia mati. Atau akan lebih baik lagi jika dia tidak pernah ada di dunia ini,"

Jessica melebarkan matanya tidak percaya, "Kau yang gila, Choi Siwon!"

"Apa yang dia lakukan sampai kau membelanya seperti ini, huh?"

"Sudah aku katakan dia tidak melakukan apapun! Demi Tuhan kau mengerikan, Siwon! Kau bukan Choi Siwon yang aku kenal!"

"Kenapa jadi seperti aku yang penjahat di sini, huh? Kenapa semua orang membela namja gila itu?!"

"Dia mencintaimu, Siwon! Dan itu bukan kesalahan! Dia memiliki hak untuk mencintai siapapun yang dia inginkan!"

"Dia bersalah, Jessica! Namja tidak seharusnya mencintai seorang namja!"

"Tapi kau lebih bersalah, Siwon! Kau tidak seharusnya meperlakukan dia dengan buruk hanya karena dia mencintaimu!"

"Darimana kau tahu aku memperlakukannya dengan buruk, huh? Apa dia mengadu padamu?"

"Berhenti berpikiran picik, Siwon! Aku mendengar pembicaraanmu dengan Kibum kemarin. Yesung tidak mengatakan apapun padaku tentang itu!"

Siwon melebarkan matanya, "A-apa? Ka-kau—"

"Ya, aku tahu Yesung mencintaimu. Aku tahu selama ini kau memperlakukan Yesung dengan buruk hanya karena kau tidak suka caranya mencintaimu,"

"Kau tidak mengerti, Jessica! Namja itu pantas mendapatkannya!"

Jessica menggeleng, air matanya mengalir semakin deras, "Aku mohon berhenti melakukan ini padanya, Siwon-ah.. dia mencintaimu.." Isaknya.

"Tapi aku tidak mencintainya! Aku sama sekali tidak mencintainya!" Seru Siwon.

"Dia benar-benar mencintaimu, Siwon! Hanya kau alasan dia untuk tetap bertahan hidup!"

Siwon tersenyum sinis, "Berhenti bicara tidak masuk akal!"

"Dia hidup untukmu, Siwon!"

Siwon berdecih, "Aku tidak peduli padanya,"

"Baiklah, aku juga tidak peduli padamu! Semoga kau bahagia dengan keegoisanmu, Choi Siwon!" Jessica menghapus air matanya dengan kasar, lalu bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Siwon.

"Jessica!"

"Jangan mengikutiku! Aku membencimu!" Seru Jessica sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu restahurant, meninggalkan Siwon yang menatapnya frustasi.

"Aargghh!" Siwon meremas rambutnya dengan kasar.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Brakk!

Siwon menutup pintu rumahnya dengan kasar. Dengan langkah terhuyung dan tatapan gusar, ia berjalan menuju kamar Yesung. Matanya berkilat menunjukkan amarah yang luar biasa.

Brakk!

Suara pintu kembali terdengar dibuka dengan kasar. Mata Siwon menatap nyalang ke sekeliling ruangan. Didapatinya sosok yang dicarinya tidur di lantai dengan menyandar pada tempat tidurnya. Diabaikannya wajah yang terlihat begitu pucat, ia kembali melangkah dan menarik tangan Yesung dengan kasar.

Bugh!

Siwon melayangkan pukulannya menghantam wajah Yesung, membuat namja manis itu jatuh dengan cukup keras di atas tempat tidurnya.

"Akh!" Yesung reflek mengerang kesakitan. Iris caramel-nya terbuka, dan seketika melebar begitu bertemu dengan obsidian yang menatap tajam ke arahnya.

"Si-Siwon h-hyung?"

"Kau brengsek, Yesung!" Seru Siwon membuat Yesung semakin melebarkan matanya.

"A-apa?"

"Kau licik! Apa yang kau katakan pada Jessica, huh?!"

"A-aku.. aku—"

Siwon menarik kerah Yesung, "Katakan! Apa yang kau lakukan, Damnit?!"

"A-aku tidak—"

Bugh!

Siwon kembali menghantam wajah Yesung membuat namja itu terhempas ke atas tempat tidurnya. Cairan berwarna merah terlihat mengalir di sudut bibirnya.

"A-apa yang kulakukan, h-hyung?" Tanya Yesung dengan mata berair. Ia bisa melihat amarah yang begitu besar terpancar dari sepasang manik obsidian di depannya itu.

"Bitch! Kau yang memaksa Jessica untuk menolakku, kan?"

Mata Yesung kembali melebar, "A-apa?"

"Jangan pura-pura bodoh! Kau memang namja tidak tahu diri, Kim Yesung! Aku menyesal pernah menolongmu! Seharusnya saat itu aku membiarkanmu mati tenggelam!" Teriak Siwon dengan suara keras.

"H-hyung—"

"pshyco!"

Yesung menggeleng, air mata mulai berjatuhan di kedua pipinya, "Aku mohon jangan katakan itu, hyung.."

"Kenapa? Kau memang pshyco. Kau gila!"

Yesung menggeleng kuat, "Aku mencintaimu, hyung hiks.. sungguh.."

Siwon tersenyum sinis, "Kau menginginkanku, kan? Baiklah, aku akan memberikan apa yang kau inginkan!"

Yesung menatap Siwon bingung, namun belum sempat ia menghilangkan keterkejutannya, tiba-tiba Siwon menindihnya.

"H-hyung apa—"

"Diam!" Seru Siwon yang kemudian langsung menyambar bibir Yesung dan melumatnya dengan ganas tanpa memberikan Yesung kesempatan untuk melepaskan diri.

"Hmpphh.." Yesung memukul-mukul dada Siwon, mencoba membebaskan dirinya dari cengkeraman namja di atasnya itu.

Siwon melepaskan ciumannya dan mencengkeram kedua tangan Yesung dalam genggamannya. Ia menyeringai menatap Yesung yang terengah di bawahnya.

"Bukankah ini yang diinginkan namja murahan sepertimu, huh?"

Yesung menggeleng, "Ja-jangan, hyung hiks.."

Siwon tertawa, membuat Yesung bisa mencium dengan jelas aroma alkohol yang menguar dari mulutnya.

"Lebih baik kau simpan air matamu ini untuk orang lain, Yesungie. Aku tidak akan pernah tertipu oleh air matamu itu," Ujar Siwon, tangan kanannya terulur untuk mengusap air mata di pipi Yesung, "Kau menginginkan aku, kan?"

Yesung menggeleng lemah, berbanding terbalik dengan isakannya yang terdengar semakin keras.

"Jawab aku, slut! Jangan munafik! Kau menginginkan aku, kan?"

"Le-lepaskan hiks.."

Siwon menyeringai, "Dasar namja tidak punya harga diri! Kau memaksaku untuk mencintaimu dan sekarang kau pura-pura menolakku, huh?"

"Le-lepas—arrgh!" Yesung mengerang ketika merasakan tangan kanan Siwon meremas miliknya dengan kuat.

"Bitch!" Bisik Siwon sebelum kemudian kembali melumat bibir Yesung dengan ganas.

Yesung menggeliat tak nyaman. Cairan hangat mengalir deras dari kedua matanya yang terpejam erat. Lumatan Siwon dibibirnya semakin brutal hingga ia bisa mengecap rasa anyir dalam ciuman itu. Ditambah lagi dengan tangan Siwon yang terus meremas bagian bawahnya dengan kasar, membuat rasa sakitnya menjadi berkali lipat.

Siwon menyapu belahan bibir Yesung, berusaha mencari celah untuk masuk. Namun Yesung justru menutup bibirnya rapat-rapat membuat Siwon kehilangan kesabaran. Namja beriris obsidian itu kembali meremas milik Yesung dengan kuat membuat Yesung mengerang. Dengan cepat, Siwon langsung menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Yesung. Ia membelit lidah Yesung dan mengajaknya bertarung, namun namja dibawahnya itu sepertinya terlalu lemah untuk meresponnya.

Siwon merobek Tshirt Yesung tanpa melepaskan cengkeramannya pada kedua tangan namja manis itu. Ia melepaskan ciumannya dan menatap wajah Yesung yang kini basah oleh air mata dan saliva akibat ulahnya tadi.

"Ja-jangan hyung.." Yesung kembali memohon disertai isakan lirih. Matanya menatap jauh ke dalam iris obsidian Siwon, berusaha mencari belas kasihan dari mata yang kini terlihat begitu menakutkan untuknya.

Siwon menyeringai, "Aku akan membuatmu menyesal karena telah berani masuk ke dalam hidupku, Yesung," Ucapnya berbahaya.

Yesung menggeleng. Ia tidak bisa melakukan apapun lagi selain memohon pada Siwon agar melepaskannya. Memberontak pun kini seakan tidak ada gunanya lagi, kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan Siwon.

Seringaian Siwon semakin mengembang. Melihat wajah memelas Yesung seakan menjadi hiburan tersendiri untuknya. Entah menguar kemana rasa bersalah yang sempat mengetuk pintu hatinya beberapa hari belakangan ini. Saat ini yang terpancar di matanya hanyalah kebencian yang begitu besar dan keinginan untuk menghancurkan namja yang bahkan sebenarnya sudah terlalu rapuh itu.

Siwon kembali menundukkan kepalanya, namun kali ini ciumannya beralih ke leher pucat Yesung. Tangannya yang tadi bermain di bagian bawah tubuh Yesung kini bergerak naik, mengusap perut dan dada Yesung kemudian memainkan nipple-nya.

"Engh.." Yesung mendesah. Bukan karena nikmat, melainkan sakit karena hisapan dan gigitan kasar Siwon pada lehernya.

"He-hentikan h-hyung.." Isak Yesung dengan suara lirih dan parau.

Lagi-lagi Siwon menyeringai ketika mendengar isakan keluar dari bibir Yesung. Libidonya untuk menyakiti namja dibawahnya itu seakan terpacu.

Siwon melepaskan cengkeramannya pada tangan Yesung kemudian bangkit dari bed. Ia segera melepaskan satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya.

Yesung tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika Siwon melepaskan tangannya, ia berusaha bangkit dari bed dan segera berlari dengan langkah tertatih menuju pintu.

"Yah! Mau kemana kau?!" Seru Siwon. Dengan cepat ia langsung berlari dan menangkap lengan Yesung sebelum namja manis itu berhasil mencapai pintu.

"Lepaskan hyung hiks.. ak-aku tidak mau.." Isak Yesung seraya berusaha memberontak dari cengkeraman Siwon pada kedua lengannya.

Plakk!

Siwon menampar pipi Yesung dengan sangat keras membuat namja manis itu jatuh membentur pintu di belakangnya.

Brak!

Yesung memejamkan matanya erat. Ia bisa merasakan cairan anyir mengalir bersamaan dari pelipis dan hidungnya.

"Jangan lari dariku, bodoh!" Seru Siwon. Ia segera menghampiri Yesung yang hampir kehilangan kesadaran kemudian membawanya kembali ke atas bed dan menindihnya.

Yesung berusaha mendorong tubuh Siwon dengan sisa kekuatannya yang tidak seberapa. Air mata terus mengalir membasahi pipinya.

"Aku mohon h-hyung hiks.. jangan.."

"Bukankah ini yang kau inginkan, namja murahan?"

Yesung menggeleng lemah. Dadanya terlalu sesak bahkan hanya untuk sekedar mengeluarkan sebuah suara.

Srek.

Dengan satu gerakan cepat, Siwon berhasil melepaskan celana Yesung sehingga namja itu kini full naked sama seperti dirinya. Siwon tersenyum puas ketika melihat milik Yesung sedikit membesar akibat ulahnya tadi.

Air mata Yesung mengalir semakin deras. Kini tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain membiarkan Siwon melakukan apa yang diinginkannya. Siwon yang ada di hadapannya sekarang sama sekali bukan Siwon yang ia kenal. Ia tidak melihat apapun di dalam obsidian itu selain kebencian yang begitu besar.

"ARRGHH!" Yesung berteriak keras ketika merasakan milik Siwon memasuki dirinya tanpa persiapan apapun.

Tanpa memberikan kesempatan Yesung untuk menyesuaikan diri, Siwon langsung menggerakkan miliknya dengan gerakan cepat dan kasar di dalam hole Yesung.

"Arrghh! He-hentikan hyung hiks.. sa-sakit.."

Seolah tak mendengar rintihan Yesung, Siwon terus menghujamkan miliknya di dalam hole Yesung dengan brutal, membuat daerah itu seakan terkoyak. Yesung merasakan sakit yang luar biasa di bagian selatan tubuhnya. Bukan hanya merasa terbelah menjadi dua, ia bahkan merasa kini dirinya telah benar-benar hancur. Namun perlahan rasa sakit itu seakan menghilang bersamaan dengan kesadaran dirinya yang mulai menipis.

"Ka-kau ja-jahat h-hyunghh.."

Yesung mengernyit kesakitan saat merasakan Siwon menghujam dirinya dalam tempo yang semakin cepat dan brutal. Sama sekali tidak ada kenikmatan yang seharusnya ia rasakan ketika melakukan hal ini bersama orang yang sangat dicintainya. Yang ada hanya rasa sakit yang teramat sangat. Rasa sakit yang membuatnya berpikir mungkin mati saat itu juga adalah pilihan terbaik.

"He.. hen.. tik.. k-kan.." Rintih Yesung yang lagi-lagi hanya dianggap angin lalu oleh Siwon.

Sepertinya kali ini Yesung terlalu lelah untuk memberontak. Tak ada lagi kekuatan untuk melawan yang tersisa. Hanya rasa perih dan sakit luar biasa dari bagian selatan tubuhnya. Bahkan hanya untuk menolak ketika Siwon kembali meraup bibirnya pun ia sudah tak mampu. Ia hanya membiarkan bibir namja di atasnya tersebut terus mengulumnya dalam. Memaksa untuk saling bertukar saliva. Kasar dengan gigitan yang membuat bibirnya berdarah. Menambah perih luka akibat tamparan Siwon sebelumnya.

Yesung mencengkeram bed cover dengan kuat saat merasakan milik Siwon semakin membesar di dalam tubuhnya. Tubuhnya seakan terasa remuk, namun masih tidak sebanding dengan sakit yang ia rasakan di dalam hatinya.

Erangan kesakitan Yesung yang kian melemah tak menghentikan Siwon untuk terus menghujamkan miliknya. Yesung terluka. Sungguh. Bahkan air mata yang terus meleleh di kedua pipi yang tak se-chubby dulu itu pun seakan tak mampu lagi bahkan hanya untuk sekedar mengurangi rasa sakitnya.

"ARGHHHH!" Jeritan kesakitan keluar dari bibir Yesung, bersaing dengan teriakan samar Siwon saat cairan namja itu mengalir jauh di dalam tubuhnya, menjadi pertanda bahwa permainan menyakitkan itu kini telah berakhir bersamaan dengan pengelihatannya yang perlahan menghitam.

Sama sekali tidak ada cairan yang keluar dari milik Yesung. Menunjukkan bahwa namja itu benar-benar tidak menikmati permainan ini.

Cairan putih kental bercampur darah mengalir dari hole Yesung ketika Siwon mengeluarkan miliknya dari dalam tubuh namja dibawahnya itu. Darah yang menunjukkan betapa namja manis itu sangat terluka atas apa yang ia baru saja ia lakukan.

Siwon mengangkat kepalanya dan menemukan Yesung tergeletak dengan mata terpejam di bawahnya. Ada luka yang terpancar jelas dari wajah yang kini bersimbah air mata itu.

Siwon sedikit menggeser tubuhnya lalu ambruk di samping Yesung. Kepalanya terasa berat. Rasa lelah dan pengaruh alkohol perlahan membuatnya jatuh tertidur di sebelah namja yang sudah lebih dulu tak sadarkan diri tersebut.

.


To Be Continued