REMEMBER ME
Pairing : Yewon
Genre : Yaoi, romance, hurt/comfort, drama etc.
Rate : T
Disclaimer : Yesung and Siwon belong to each other ^^
Warning : BL, Un-official Pair, aneh, alur maksa, ribet, etc.
A Yewon Fanfiction © 2013 by Fairy_Siwoonie
.
HAPPY READING
.
Cahaya matahari jatuh menerpa wajah Yesung. Perlahan kedua kelopak itu terbuka, membuat sepasang caramel yang tersembunyi di dalamnya kini terpampang dengan jelas, memperlihatkan kesan lelah yang memancar samar.
Yesung terdiam untuk beberapa saat. Hanya mengerjapkan matanya beberapa kali dengan gerakan perlahan. Ia bisa merasakan rasa sakit menginvasi sekujur tubuhnya. Ia lantas memutar kepalanya ke samping, matanya langsung melebar begitu menemukan sosok lain berada di sampingnya.
Jadi itu bukan mimpi?
Air mata Yesung mengalir perlahan. Namja yang tidur tanpa memakai sehelai benang pun di sampingnya itu benar-benar Siwon. Itu artinya apa yang terjadi tadi malam memang nyata, bukan hanya sekedar mimpi buruk seperti yang ia harapkan.
Perlakuan Siwon tadi malam yang terekam jelas dalam memori otaknya kini kembali berputar-putar, membuat dadanya terasa berdenyut menyakitkan. Kalimat-kalimat makian itu bagaikan ribuan jarum yang menghujam hatinya bertubi-tubi. Menyeretnya untuk mengingat kembali semua hal yang telah ia alami selama ini. Jadi ini yang ia dapatkan atas semua yang telah ia lakukan?
Sekarang semua sudah sangat jelas. Harapan dan keyakinan yang sebelumnya memang telah terkikis secara perlahan itu kini benar-benar hancur. Fakta-fakta ini terlalu nyata untuk dapat ia pungkiri lagi. Tak ada lagi cinta di hati Siwon yang tersisa untuknya.
Yesung berusaha menegakkan tubuhnya dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Rasa sakit yang teramat sangat langsung menginvasi bagian bawahnya ketika ia mengubah posisinya menjadi duduk. Membuat air matanya mengalir semakin deras, mengingat kembali bagaimana tadi malam Siwon memperlakukannya seperti barang yang sama sekali tidak ada harganya. Namja murahan. Namja tidak tahu diri. Slut. Bitch.
Ia terbiasa terluka. Ia terbiasa dianggap sampah. Ini bukan pertama kalinya ia diperlakukan dengan begitu kejam. Namun kali ini terasa sangat menyakitkan karena Siwon-lah yang melakukan itu padanya. Ia tidak akan sesakit ini jika bukan Siwon yang melakukannya.
Masih dengan terisak, Yesung menutupi tubuhnya dengan selimut kemudian bangkit dari bed. Rasa sakit itu terasa semakin nyata ketika ia melangkahkan kakinya dengan tertatih menuju kamar mandi.
Bruk!
Yesung ambruk ke lantai dengan bunyi debuman yang cukup keras. Cukup keras untuk membuat 'mimpi indah' Siwon terusik. Namja beriris obsidian tersebut sontak terbangun dari tidurnya. Matanya melebar begitu melihat Yesung tersungkur di lantai dalam keadaan half naked karena bagian bawahnya tertutup selimut. Ia beranjak bangkit, namun keterkejutannya menjadi dua kali lipat begitu mendapati dirinya tidak mengenakan apapun.
"Ye-Yesung?"
Mata Siwon semakin melebar begitu melihat bed tempat ia berbaring tadi tampak berantakan. Apalagi ditambah dengan cairan-cairan aneh yang telah mengering menghiasi permukaannya. Sperma dan.. darah?!
Mata Siwon sontak melebar sempurna. Meskipun tadi malam ia dalam keadaan mabuk, namun ia masih bisa mengingat dengan cukup jelas apa yang telah ia lakukan pada Yesung. Apalagi ditambah dengan melihat keadaannya sekarang. Sudah sangat jelas bahwa ia telah kembali menyakiti namja yang sudah lebih dari 3 bulan tinggal bersamanya tersebut.
Dengan gerakan cepat, Siwon mengambil celananya yang berserakan di lantai lalu memakainya. Kemudian ia menghampiri Yesung yang terisak di depan pintu kamar mandi.
"Ye-Yesung—"
"Pergi!" Yesung menyentakkan tangan Siwon yang hendak menyentuh bahunya.
"Yesung, maafkan aku.. ak-aku.. aku tidak bermaksud.. aku.."
Yesung terisak semakin keras membuat Siwon panik. Bahkan hanya untuk sekedar menyusun kata maaf pun Siwon seolah tak mampu. Pikirannya kacau. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Bruk!
Tiba-tiba Yesung jatuh pingsan membuat Siwon tersentak.
"Yesung?!"
Siwon segera menghampiri Yesung dan meletakkan kepala namja manis itu di lengannya. Ia kembali tersentak begitu merasakan suhu tubuh Yesung sedikit hangat.
"Yesung, bangun! Yesung-ah!" Seru Siwon panik. Ia menepuk-nepuk pipi Yesung, mencoba untuk mengembalikan kesadaran namja itu. Namun sia-sia.
Dari jarak yang begitu dekat, Siwon bisa melihat dengan jelas warna memar di pipi Yesung. Ada goresan dan darah yang telah mengering di sekitar pelipis namja manis itu. Tidak jauh berbeda dengan bibirnya yang terluka dan sedikit membengkak. Ditambah lagi dengan bercak-bercak merah keunguan di sekitar leher dan dada Yesung. Membuat Siwon megingat kembali apa yang telah ia lakukan tadi malam.
"Yesung?!" Siwon kembali memanggil nama Yesung, namun tetap tidak mendapatkan jawaban dari namja itu.
Siwon mengangkat tubuh Yesung dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ia semakin panik. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Memanggil bantuan? Tidak mungkin! Apa yang akan orang pikirkan jika melihat keadaan Yesung yang seperti ini?
Siwon meremas rambutnya frustasi. Apa yang terjadi pada dirinya tadi malam? Kenapa ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri? Bagaimana bisa ia melakukan hal itu pada Yesung?
Siwon masih berpikir keras mencari jalan keluar ketika tiba-tiba ponsel di dalam sakunya bergetar. Matanya langsung melebar begitu melihat nama Jessica tertera di layar ponsel berwarna hitam tersebut.
"Ye-yeoboseo?" Ujar Siwon, berusaha agar suaranya tidak terdengar gugup.
"Siwon, kau di mana?"
"A-aku.. aku di rumah. Ada apa?"
"Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Bisa menemuiku di restahurant dekat rumahmu?"
"A-apa? Bertemu? Se-sekarang?"
"Ya, ini sangat penting. Aku tunggu 30 menit dari sekarang!" Ujar Jessica sebelum kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Shit!" Siwon mengumpat. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menemui Jessica? Lalu Yesung?
"Arrgh! Kenapa aku bisa begitu bodoh?!"
Dengan tubuh sedikit gemetar, Siwon memindahkan Yesung ke atas sofa kemudian mengganti bed cover yang kotor tadi dengan yang baru. Setelah membaringkan Yesung kembali ke atas tempat tidur, ia mengambil pakaian dari dalam lemari kemudian memakaikannya pada Yesung.
"A-aku tidak akan lama," Gumamnya seraya menyelimuti tubuh Yesung kemudian keluar dari kamar tersebut.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
"Ada apa?" Tanya Siwon seraya duduk di depan Jessica.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu," Jawab Jessica
Siwon mengangkat alisnya, "Tentang?"
"Tentang kita, dan juga Yesung,"
Siwon mengerutkan keningnya.
"Aku akan pindah ke China hari ini,"
"A-apa?"
"Aku harap kau tidak mengikutiku lagi, Siwon-ah. Aku sungguh tidak ingin menyakitimu lebih jauh lagi. Aku tidak mau kau terus menungguku, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa mencintaimu,"
"Jessica, aku—"
"Aku mencintai orang lain, Siwon,"
Siwon melebarkan matanya, "Apa?"
"Kau ingat foto yang kau temukan di kamarku saat di Jepang dulu? Foto aku bersama seorang namja?"
"Wu Fan?"
Jessica mengangguk, "Aku masih mencintainya, Siwon-ah, sampai saat ini,"
"Tapi dia sudah meninggalkanmu tanpa kabar selama 4 tahun, Jessica! Kau masih menunggunya?" Siwon menatap Jessica tidak percaya.
Jessica menghela napas, "Aku tidak tahu, Siwon-ah. Selama ini aku sudah berusaha untuk melupakannya. Tadinya aku pikir dengan kau berada di sampingku, aku bisa melupakan Wu Fan dengan mudah, tetapi ternyata tidak. Aku tidak bisa mencintaimu, Siwon-ah. Aku mohon lupakan aku,"
"Jadi.. kau benar-benar tidak mencintaiku?"
"Aku benar-benar tidak bisa, Siwon. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yesung seperti yang kau pikirkan,"
Keduanya terdiam beberapa saat.
"Yesung itu namja yang baik, Siwon-ah. Dia tidak pernah meminta apalagi mengancamku agar menolakmu. Dia justru memohon padaku agar aku menerimamu,"
Siwon mengangkat kepalanya, "Apa?"
Jessica kembali menghela napas, "Kau ingat sebelum terapi kemarin Yesung memintaku untuk bicara berdua?"
Siwon mengangguk pelan.
"Kau salah besar jika mengira Yesung memaksa atahu mengancamku. Dia justru memohon padaku agar aku tidak menolakmu lagi, Siwon-ah. Dia bahkan berlutut padaku karena dia berpikir hanya aku yang bisa membuatmu bahagia. Dia ingin kau bahagia, Siwon,"
Deg.
Siwon tercekat. Yesung?
"Dia benar-benar mencintaimu, Siwon-ah. Kau adalah hidupnya. Dia bisa bertahan hidup sampai saat ini adalah karena dirimu. Setelah memintaku untuk menerimamu, dia juga memohon agar aku menghentikan terapinya. Dia tidak ingin sembuh, Siwon-ah,"
Siwon menggeleng, "Ka-kau pasti berbohong!"
"Tidak, Siwon-ah. Aku mengatakan yang sebenarnya. Dia menjalani terapi hanya karena kau memintanya. Dia ingin sembuh untukmu. Tetapi sekarang dia berpikir bahwa dia bukan orang yang kau inginkan. Dia berpikir bukan dia yang bisa membuatmu bahagia, jadi tidak ada gunanya lagi dia tetap hidup," Tambah Jessica. Setetes cairan bening kembali lolos dari iris emerald-nya.
"Dia mencintaimu. Dia bukan terobsesi padamu. Dia tidak seegois yang kau pikirkan. 3 bulan itu waktu yang lama, Siwon-ah. Dia tetap bertahan selama itu meskipun kau memperlakukannya dengan buruk. Dia bertahan untukmu. Tapi kau lihat sekarang? Akhirnya dia melepaskanmu karena dia ingin kau bahagia,"
Siwon kembali menggeleng. Bukan tidak percaya, ia hanya ingin tidak percaya. Ia tidak ingin percaya bahwa Yesung telah melakukan semua itu untuknya.
"Kau adalah hidupnya, Siwon-ah. Dia membutuhkanmu. Hanya kau yang bisa memberinya alasan untuk tetap bertahan hidup,"
"Cukup, Jessica! Jangan mencoba membuatku kasihan padanya! Itu tidak akan pernah berhasil!" Seru Siwon. Sungguh, ucapan-ucapan Jessica itu membuat dadanya tiba-tiba terasa sesak.
"Aku tidak memintamu mengasihaninya, Siwon. Aku hanya ingin kau melihat dia bukan hanya sebagai beban! Aku ingin kau peduli padanya,"
"Aku tidak peduli padanya,"
Lagi-lagi Jessica menghela napas berat, "Aku tahu, mungkin bagimu gay adalah sebuah dosa yang sangat besar. Tetapi seorang gay tetap manusia, Siwon-ah, bukan sampah. Kau tidak boleh menghukum Yesung seperti ini hanya karena dia seorang gay,"
Siwon membuang muka.
Jessica tersenyum. Ia tahu, Siwon hanya mencoba memungkiri bahwa apa yang ia katakan adalah benar. Ia tahu ia telah berhasil mengetuk hati namja tampan di hadapannya tersebut.
"Coba tanyakan pada hatimu, Siwon-ah, apa Yesung benar-benar orang yang jahat? Apa Yesung pantas mendapatkan semua ini? Tidak, kan?"
Siwon terdiam, memilih untuk pura-pura tidak mendengar pertanyaan Jessica.
"Dia sangat mencintaimu, Siwon-ah. Dia rela terluka untukmu. Apa dia tidak berhak mendapatkan sedikit kasih sayang darimu? Tidak harus sebagai seorang kekasih, kau bisa menyayanginya sebagai seorang kakak, teman atau apapun yang menurutmu benar,"
Siwon masih tetap diam.
"Dengarkan aku, Siwon-ah. Aku tahu kau adalah namja yang baik. Aku tidak ingin kau menjadi jahat hanya karena kebencianmu yang tidak pada tempatnya itu. Selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik, Siwon. Aku percaya padamu," Ucap Jessica seraya bangkit dari kursinya.
"Aku harus segera pergi. Aku harap kau bisa memahami kata-kataku tadi. Senang bisa mengenalmu, Siwon-ah," Jessica menepuk bahu Siwon seraya tersenyum, kemudian ia berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
Siwon masih terdiam di tempatnya. Kenapa ia tidak bisa menyangkal lagi? Apa kini hatinya juga membenarkan ucapan Jessica?
Tiba-tiba Siwon teringat bahwa ia meninggalkan Yesung di rumah sendirian. Ia langsung bangkit dari kursinya kemudian segera keluar meninggalkan restahurant tersebut.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Siwon menegerutkan keningnya ketika ia keluar dari mobilnya dan menemukan mobil Kibum terparkir di halaman rumahnya.
Shit!
Siwon kembali mengumpat. Kibum akan benar-benar membunuhnya jika menemukan Yesung dalam keadaan seperti ketika ia meninggalkannya pagi tadi.
Siwon menutup pintu mobilnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. Ia menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Yesung yang terbuka. Matanya sedikit melebar begitu menemukan hanya ada Kibum di sana, sementara bed tempat ia meninggalkan Yesung tadi kini kosong.
"Kibum?"
Kibum berbalik membuat Siwon bisa melihat wajahnya yang tampak shock. Namun raut terkejut itu seketika berubah begitu iris sewarna hazel tersebut bertemu dengan obsidian milik Siwon.
"Di-dimana Yesung?" Tanya Siwon seraya berjalan menghampiri Kibum.
Bugh!
Tiba-tiba Kibum memukul wajah Siwon membuat namja tampan tersebut jatuh menabrak pintu di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan pada Yesung?" Tanya Kibum dengan menatap Siwon tajam.
"A-apa? A-aku—"
"Katakan! Apa yang kau lakukan pada Yesung, huh?!"
"Kibum, aku—"
"Kenapa dia pergi?"
Siwon melebarkan matanya, "Apa?"
Srek!
Kibum melemparkan sebuah kertas yang sejak tadi dibawanya pada Siwon.
"Baca itu, Choi Siwon!"
Dengan ragu, Siwon membuka lipatan kertas yang diberikan oleh Kibum tadi kemudian membaca isinya.
Siwon hyung, apa kau sama sekali tidak ingat padaku?
Kau benar-benar tidak mengingat Jongwoon?
Deg.
Siwon tercekat membaca dua kalimat pertama yang tertulis di dalam kertas tersebut. Ia tidak perlu susah payah menebak siapa pemilik tulisan tangan itu. Siapa lagi kalau bukan Yesung?
Jongwoon? Bukankah itu nama seseorang yang ada di dalam bayangan-bayangan aneh yang sering mengganggunya akhir-akhir ini?
Seolah dengan menahan napas, Siwon melanjutkan membaca kalimat berikutnya.
Kau tahu, hyung?
Aku sangat bahagia saat bertemu denganmu di panti asuhan beberapa bulan yang lalu.
Aku selalu percaya jika suatu hari nanti Tuhan pasti akan mempertemukan kita lagi, karena seperti yang dulu sering kau katakan padaku, Tuhan sangat mencintaiku, Tuhan tidak akan membiarkan aku sendirian.
Tetapi saat itu aku juga sangat sedih karena ternyata kau sama sekali tidak mengenaliku
4 tahun sejak aku dipaksa pergi meninggalkanmu, aku selalu berharap dan menunggu kau datang mencariku, hyung
Saat kau datang hari itu, aku pikir kau sudah sembuh dan kau datang ke panti asuhan untuk menjemputku
Tetapi ternyata aku salah, kau datang sebagai orang yang berbeda.
Apa kau ingat kalau Jongwoon itu orang yang sangat keras kepala, hyung?
Aku tidak menyerah.
4 tahun aku menunggumu, 4 tahun aku bertahan hidup sendirian hanya karena aku yakin aku pasti bisa bertemu denganmu lagi,
Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan aku sendirian lagi
Aku memaksamu untuk membawaku bersamamu karena aku yakin, meskipun kau tidak mengingat apapun tentang aku, kau masih tetap Choi Siwon yang sama.
Choi Siwon yang sangat mencintaiku dan berjanji tidak akan pernah membiarkan aku sendirian lagi
Hyung-ku yang berjanji akan selalu ada di sampingku meskipun seluruh dunia menentang dan mengutuk kita
Tetapi ternyata lagi-lagi aku salah.
Aku terlalu percaya diri
Seharusnya aku tahu aku hanya sendirian
Seharusnya aku tahu hanya aku yang salah di sini
Kau benar. Kau bukan gay.
Hanya aku yang benar-benar gay
Seperti yang semua orang katakan, aku menyesatkanmu.
Aku menghancurkan masa depanmu.
Aku hanya akan menjadi beban untukmu.
Sekarang aku mengerti, hyung
Kau tidak membutuhkan aku
Hidupmu akan jauh lebih baik jika kau tidak pernah bertemu denganku
Maaf aku membuatmu membuang-buang waktu selama ini
Aku tahu tidak seharusnya aku berada di sini
Maaf karena aku membutuhkan waktu yang lama hanya untuk menyadari bahwa keberadaanku di sini adalah sebuah kesalahan
Aku sakit, hyung. Sungguh.
Kau adalah satu-satunya alasan untukku bertahan hidup
Aku masih tetap hidup karena aku tahu masih ada orang yang mencintai dan menginginkan keberadaanku
Tetapi sekarang aku tahu aku salah
Sejak awal keberadaanku memang sebuah kesalahan
Sekarang kau tidak perlu khawatir aku akan mengganggu hidupmu lagi
Aku berjanji aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu
Semoga kau bahagia dengan yeoja yang kau cintai, hyung
Maaf aku sudah egois sebelumnya
Anggap saja aku tidak pernah ada di dalam kehidupanmu
Anggap saja cintaku yang mengerikan ini hanya mimpi buruk untukmu..
Aku hanya ingin kau bahagia, hyung..
Terima kasih sudah pernah mengisi hari-hariku dengan kenangan yang indah..
Aku tidak akan pernah melupakanmu.. Siwon hyung..
Tangan Siwon yang memegang kertas itu tampak gemetar. Jantungnya berdegup kencang, matanya melebar, mengulang kembali setiap kata demi kata yang ditulis Yesung di dalam surat itu. Masih sama. Tidak ada yang berubah meskipun puluhan kali ia mengulangnya.
"Jo-Jongwoon?"
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian, Siwon-ah? Siapa Jongwoon? Dan apa maksud Yesung? Apa kalian pernah saling mengenal sebelumnya?"
Siwon menggeleng, memberikan jawaban yang ambigu.
"Donghae!" Seru Siwon tiba-tiba, membuat Kibum semakin menatapnya bingung.
"Donghae? Ada apa dengan Donghae?"
"Aku harus bertanya pada Donghae! Ya, aku harus bertanya pada Donghae!" Siwon meraih ponselnya masih dengan tangan gemetar, sementara Kibum hanya terus menatapnya dengan pandangan bingung.
"Hello, Lee Donghae yang sangat tampan di sini. Ada apa, Tuan Choi? Merindukanku, huh?"
"Donghae-ah, siapa Jongwoon?" Seru Siwon pada seseorang yang ia panggil 'Donghae' di seberang.
"A-apa?"
"Apa kau tahu siapa Jongwoon, Hae-ah? Katakan, Hae! Siapa Jongwoon?!"
"Si-Siwon, ada apa? Apa yang terjadi?"
"Jawab aku, Hae-ah!" Seru Siwon yang mulai kehilangan kesabaran, tangannya yang memegang ponsel masih terlihat gemetar, "Kau pasti tahu siapa Jongwoon, kan?"
"Kau sudah mengingatnya, Siwon-ah?"
Siwon melebarkan matanya, jantungnya berdegup semakin kencang, "Ja-jadi aku benar-benar pernah mengenal Jongwoon?"
"Jongwoon.. dia.. dia adik angkatmu, Siwon-ah,"
Mata Siwon melebar sempurna, "Apa? Adik angkatku?" Tanyanya terkejut.
"Aku tidak bisa menceritakannya, Siwon-ah,"
"Tidak, Hae-ah! Aku mohon ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi! Jongwoon adik angkatku? Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?"
"Aku tidak bisa, Siwon. Maafkan aku. Aku sudah berjanji aku tidak akan pernah mengungkit masalah ini,"
"Aku mohon, Hae-ah! Ini sangat penting untukku! Kau sahabatku, Hae! Aku mohon jelaskan padaku!"
Donghae terdiam beberapa saat sebelum kemudian mulai berbicara, "Kau benar-benar ingin tahu siapa Jongwoon?"
"Ya, katakan padaku siapa Jongwoon!"
"Jongwoon itu adik angkatmu, Siwon-ah. Sekitar 6 tahun yang lalu, kau membawanya dari Korea saat pulang liburan bersama orang tuamu. Setelah itu keluargamu mengadopsinya secara resmi karena dia tidak memiliki keluarga lagi,"
"Jadi Jongwoon adalah adik angkatku?"
"Ya, Jongwoon adalah adik angkatmu dan juga.. kekasihmu,"
Siwon kembali melebarkan matanya, "Apa?"
"Ya, kau dan Jongwoon pernah memiliki hubungan lebih dari sekedar hyung dan dongsaeng. Tetapi orang tuamu tidak menyetujuinya. Mereka berusaha untuk memisahkanmu dengan Jongwoon, tapi kau tetap bersikeras mempertahankannya,"
"I-ini tidak mungkin! Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?"
"Kau mengalami amnesia, Siwon,"
"Amnesia?"
"Ya, kau mengalami kecelakaan saat kabur bersama Jongwoon,"
"Lalu Jongwoon?"
"Orang tuamu memanfaatkan kesempatan itu untuk memisahkan kalian. Mereka membuang Jongwoon entah kemana dan melarang semua orang yang dekat denganmu untuk mengungkit apapun yang berkaitan dengan Jongwoon. Sebenarnya aku ingin menceritakan ini sejak dulu, tapi aku tidak berani,"
"Aku amnesia? Tetapi kenapa aku hanya tidak mengingat masalah itu?"
"Kau hanya kehilangan ingatanmu mengenai dua tahun terakhir sebelum kau kecelakaan, Siwon-ah,"
Siwon tercekat. Jadi Jongwoon adalah bagian dari masa lalunya? Dan Yesung yang selama ini bersamanya adalah Jongwoon yang sama?
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan Jongwoon, Siwon-ah? Apa yang terjadi? Apa kau mengingat sesuatu tentang Jongwoon?" Seru Donghae terdengar antusias.
"Aku.. aku bertemu dengannya.." Jawab Siwon dengan suara pelan, seluruh tenaganya seolah menguar entah kemana.
"Apa? Kau bertemu dengan Jongwoon?"
Srek!
Ponsel Siwon terlepas dari genggamannya dan langsung berserakan di lantai, membuat Kibum yang sedari tadi menatap Siwon kini semakin bingung.
"Ada apa, Siwon-ah? Jelaskan padaku!" Seru Kibum mulai terdengar frustasi.
Namun bukannya mengerti bahwa sahabatnya tersebut hampir kehilangan kesabaran, Siwon malah langsung bangkit dan menghampiri lemari besar di sudut kamar Yesung.
"Yah!" Kibum berteriak protes. Ia segera menghampiri Siwon yang saat ini tengah mengobrak-abrik isi koper besar yang baru saja ia ambil dari dalam lemari Yesung.
"Apa yang kau lakukan, huh?" Tanya Kibum.
"Pasti ada sesuatu di sini! Pasti ada sesuatu di sini!" Gumam Siwon kacau.
Kibum mengerutkan keningnya.
Gerakan tangan Siwon terhenti begitu menangkap sebuah foto berbingkai di dalam koper hitam tersebut. Matanya tiba-tiba melebar, membuat Kibum semakin mengerutkan keningnya.
"Dia.. aku.. aku.. dia.. Jongwoon.." Siwon kembali bergumam kacau.
Kibum langsung merebut foto di tangan Siwon. Matanya ikut melebar begitu melihat gambar yang terpampang di dalam foto tersebut. Foto Siwon yang memeluk Yesung dari belakang, sementara namja mungil berambut dark brown tersebut terlihat memegang seekor kura-kura di tangannya.
Kibum kembali menatap Siwon yang kini tampak seperti orang kehilangan arah, "Siwon-ah, apa ini Yesung? Kalian pernah saling mengenal sebelumnya?"
Siwon menggeleng tidak pasti. Tiba-tiba setetes cairan bening jatuh membasahi pipinya.
Kini Siwon tahu, Yesung tidak 'gila' seperti apa yang selalu ia pikirkan selama ini. Yesung bukan terobsesi padanya. Namja itu hanya berusaha mempertahankan apa yang ia anggap adalah miliknya. Selama ini Yesung tetap bertahan meskipun ia selalu memperlakukannya dengan sangat buruk karena namja manis itu ingin mendapatkan miliknya kembali.
Sekarang ia mengerti, meskipun ia sama sekali belum mengingat apapun tentang Jongwoon, namun ia bisa merasakan sesuatu yang nyata dari semua ini. Kini ia tahu alasan mengapa dadanya terasa sesak setiap kali ia melihat Yesung terluka. Ia bukan merasa kasihan pada Yesung, melainkan lebih karena sesuatu dari namja manis itu telah menjadi bagian dari dirinya. Ia bisa ikut merasa sakit ketika namja beriris caramel itu terluka. Hanya saja selama ini ia selalu berusaha menepisnya.
Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya sejak awal? Ia memiliki arti yang begitu besar untuk Yesung. Namja manis itu rela berlutut di hadapannya dan membuang semua harga dirinya hanya agar ia bisa kembali padanya. Yesung berusaha menahan luka fisik dan batin yang ia berikan hanya agar namja beriris cerah tersebut bisa tetap bersamanya. Yesung berusaha untuk membuat ia mengingat kembali tentang dirinya, namun apa yang ia lakukan? Ia justru selalu berusaha membuat Yesung membencinya dengan berbagai cara.
Dari awal, sejak ia membawa Yesung ke rumah ini, ia tidak pernah sekalipun bersikap baik pada namja itu. Yang selalu ia lakukan tidak lain hanyalah menunjukkan betapa ia sangat membenci Yesung. Ia selalu berusaha membuat namja itu menyadari bahwa keberadaanya di sana adalah sebuah kesalahan. Ia selalu berusaha membuat namja itu menyesal karena telah berani mencintainya.
"Aku harus mencarinya!" Seru Siwon tiba-tiba.
"Ya, kita memang harus mencarinya. Tapi bisakah kau jelaskan padaku terlebih dulu, apa yang sebenarnya terjadi di sini, huh?" Seru Kibum kesal.
"Aku tidak punya waktu, Kim Kibum! Aku harus mencarinya!" Jawab Siwon yang kemudian langsung berlari keluar dari kamar tersebut.
"Yah!" Kibum berteriak protes. Ia baru saja akan berlari menyusul Siwon, namun langkahnya terhenti begitu mendengar ponsel Siwon yang tergeletak di lantai bergetar.
"Hel—"
"Yah! Kau tidak sopan sekali mematikan telepon seenaknya!"
Kibum mendengus, "Kau tidak perlu berteriak, Donghae-ssi! Aku tidak tuli!"
"Eh? Kibum? Di mana Siwon?"
"Siwon baru saja keluar. Sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
"Apa benar Siwon bertemu dengan Jongwoon?"
"Jongwoon? Siapa Jongwoon? Apa hubungannya dengan Siwon?" Tanya Kibum penasaran.
"Jongwoon itu adik angkat Siwon, Kibum-ah. Dia menghilang sekitar 4 tahun yang lalu—"
"Tunggu!" Potong Kibum, "Adik angkat? Kenapa aku bisa tidak mengetahuinya?"
"Jongwoon datang tepat beberapa hari setelah kau pergi ke Amerika, Tuan Kim. Dan dia menghilang sebelum kau kembali ke Jepang. Ditambah lagi orang tua Siwon melarang semua orang untuk mengungkit apapun yang berkaitan dengan Jongwoon, jadi memang pantas kalau kau tidak tahu apapun tentang Jongwoon," Jelas Donghae.
"Kenapa Siwon juga tidak mengingatnya?"
"Aku akan menceritakannya padamu, tapi kau harus berjanji kau tidak akan menceritakannya pada siapapun, kau mengerti?"
"Baiklah, cepat ceritakan!"
"Siwon mengalami Posthypnotic amnesia, jadi—"
"Apa? Posthypnotic amnesia? Bagaimana bisa?"
"Bisa ijinkan aku menyelesaikan ceritaku dulu, Kibum-ssi? Sejak kapan seorang Kim Kibum menjadi sangat cerewet seperti ini, huh?" Donghae mendengus kesal.
"O-okay," Jawab Kibum pasrah.
"Siwon mengalami Posthypnotic amnesia, tetapi semua orang tahunya Siwon itu mengalami amnesia karena kecelakaan yang terjadi saat dia berusaha kabur bersama Jongwoon,"
"Siapa yang melakukannya? Dan kenapa Siwon ingin kabur bersama Jongwoon?"
"Orang tua Siwon yang melakukannya. Saat terjadi kecelakaan, mereka sengaja mengambil kesempatan untuk memisahkan Siwon dengan Jongwoon. Mereka sangat membenci Jongwoon setelah tahu bahwa Siwon dan Jongwoon memiliki hubungan lebih dari seorang hyung dan dongsaeng,"
"Apa maksudmu?"
"Ya, Siwon dan Jongwoon berpacaran,"
Kibum melebarkan matanya, "Apa? Siwon berpacaran dengan seorang namja?"
"Ya, seperti itulah. Hah~~ sayang sekali kau tidak melihatnya, Kibum-ah. Sangat manis sekali saat Siwon yang berasal dari keluarga anti-gay itu berubah menjadi seorang gay hanya untuk Jongwoon,"
"Berhenti bersikap tidak tahu situasi, Lee Donghae!" Seru Kibum, dan ia yakin saat ini Donghae pasti sedang mengerucutkan bibirnya kesal di seberang sana.
"Baiklah baiklah! Hah~ Jongwoon itu namja yang sangat manis, jadi tidak heran kalau akhirnya Siwon jatuh cinta padanya. Semua berjalan cukup lancar selama hampir satu tahun, tetapi keadaan langsung berubah drastis saat Choi ajusshi dan Choi ahjumma tahu tentang hubungan mereka. Ya, kau tahu sendiri bagaimana keluarga itu sangat membenci yang namanya gay meskipun di Jepang boys love bisa dikatakan hal yang biasa,"
"Lalu?"
"Ya, mereka mencoba segala cara untuk memisahkan Siwon dan Jongwoon. Dan malam itu, saat Siwon dan Jongwoon melarikan diri dari rumah, mereka malah mengalami kecelakaan. Siwon mengalami amnesia, dan Jongwoon dibuang entah kemana. Aku sudah pernah mencoba mencari namja itu, tetapi aku sama sekali tidak bisa menemukan jejaknya,"
"Tunggu! Siwon mengalami Posthypnotic amnesia? Dan itu perbuatan orang tuanya? Bagaimana bisa? Apa mereka tidak tahu bahwa itu sangat berbahaya, huh?"
"Aku juga tidak tahu. Mereka sengaja membuat Siwon melupakan semua hal yang berkaitan dengan Jongwoon, lalu mengatakan pada semua orang bahwa Siwon mengalami amnesia akibat kecelakaan sementara Jongwoon meninggal dalam kecelakaan itu,"
"Darimana kau tahu kalau Siwon sengaja dibuat amnesia? Dan bagaimana kau bisa yakin kalau Jongwoon dibuang?"
"Apa kau lupa aku ini punya bakat detektif, huh?"
"Ah iya, aku lupa kau itu selalu ingin tahu urusan orang," Kibum memutar bola matanya.
"Yah!"
"Lajutkan!"
"Dan ya, semua kembali berjalan seperti saat Siwon belum mengenal Jongwoon. Orang tuanya sangat senang, apalagi saat Siwon jatuh cinta pada dokter yang merawatnya di rumah sakit saat itu,"
"Jessica?"
"Ya, saat itu Jessica belum menjadi seorang spesialis kanker seperti sekarang. Dan kau lihat sendiri, kan? Siwon rela jauh-jauh pindah ke Korea hanya untuk mengikuti Jessica. Hah~ sepertinya dia memang sudah melupakan Jongwoon. Seperti apa keadaan Jongwoon sekarang, ya? Apa dia masih hidup?"
"Tunggu!" Seru Kibum lagi, "Jongwoon? Apa.. Yesung dan Jongwoon itu adalah orang yang sama?"
"Apa? Siapa? Yesung?"
"Ya, namja yang dibawa Siwon dari panti asuhan sekitar 3 bulan yang lalu,"
"Seperti apa ciri-cirinya?"
"Err, dia chubby, matanya sipit, cute, bibirnya mungil, tangannya kecil—"
"Apa? Tangannya kecil?"
"Ya, tangannya sanga imut,"
"Tidak salah lagi!"
"Apa?"
"Ya, itu pasti Jongwoon! Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
"Jadi.. dulu Yesung adalah kekasih Siwon?"
"Ya, sepertinya begitu. Bagaimana keadaannya, Kim Kibum?!"
"Aku tidak tahu. Dia baru saja pergi dari rumah Siwon dan sekarang Siwon sedang mencarinya,"
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Sepertinya Siwon benar-benar tidak mengingat siapa Yesung. Dia sangat membenci namja itu. Dia memperlakukan Yesung dengan sangat buruk selama Yesung tinggal di rumahnya. Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi, saat aku kembali dari Jepang tadi pagi tiba-tiba semua sudah jadi seperti ini,"
"Haiz! Kenapa semua jadi rumit seperti ini? Sepertinya aku harus ke Korea sekarang,"
"Ya, aku rasa itu ide yang bagus. Aku akan menjemputmu di airport,"
"Baiklah, aku akan langsung pesan tiket sekarang,"
"Okay, aku tunggu,"
Klik.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Yesung terus berjalan dengan langkah tertatih menelusuri sebuah gang kecil yang cukup sepi. Kepalanya terasa sangat berat. Ditambah lagi rasa sakit di sekujur tubuhnya, terutama di bagian bawahnya, membuat ia terus terbayang akan perlakuan Siwon tadi malam. Namun rasa sakit di tubuhnya itu masih tidak seberapa jika di bandingkan dengan luka di hatinya, rasa tidak percaya bahwa Siwon-nya tega melakukan hal sekeji itu padanya.
Sakit. Sungguh. Ia terbiasa mendapatkan cacian dari orang-orang yang selalu menganggap keberadaannya adalah sebuah kesalahan. Ia sering dimaki oleh orang-orang yang ingin ia lenyap dari dunia ini. Ia terbiasa terluka. Namun ia tetap tidak akan terbiasa jika Siwon yang melakukannya.
Dunianya telah berakhir sampai di sini. Ia telah melepaskan satu-satunya cinta yang ia miliki. Ia telah melepaskan satu-satunya alasan hidup yang selama ini ia pertahankan. Semua perlakuan Siwon memang menyakitkan. Namun bukan itu yang membuat ia akhirnya memutuskan untuk menyerah. Ia pergi karena ia tahu Siwon menginginkannya pergi.
Siwon, satu-satunya orang yang pernah membuatnya merasa bahwa dirinya berarti, kini menjadi orang yang paling tidak menginginkan keberadaannya. Ia menyerah karena kini ia tahu, sekarang ia mengerti bahwa Siwon bukan hyung-nya yang dulu lagi. Choi Siwon yang sekarang bukanlah hyung-nya yang begitu mencintainya. Choi Siwon yang sekarang adalah orang yang berbeda.
Ia bertahan hidup sendirian selama hampir 4 tahun karena ia percaya bahwa Siwon pasti akan mencarinya. Ia percaya bahwa masih ada satu orang yang menginginkan dirinya ada di dunia ini. Ia yakin bahwa Tuhan pasti akan kembali mempertemukannya dengan Siwon. Dan memang benar, Tuhan mempertemukan mereka kembali meskipun dalam keadaan yang berbeda. Ia tetap bertahan meskipun apa yang ia dapatkan sangat jauh dari apa yang ia inginkan, karena tadinya ia yakin, dirinya masih menjadi orang yang sangat berarti untuk Siwon seperti dulu. Tadinya ia yakin ini semua hanya masalah waktu. Namun apa yang Siwon lakukan tadi malam telah membuat semuanya menjadi jelas.
Ya, apa yang Siwon lakukan tadi malam telah berhasil menghancurkan keyakinannya bahwa masih ada cinta di dalam hati namja itu untuk dirinya menjadi serpihan-serpihan kecil. Jangankan cinta, belas kasihan pun ia tak menemukannya. Itu sudah menjadi alasan yang lebih dari cukup baginya untuk menyerah. Ia bertahan untuk Siwon. Namun jika apa yang ia pertahankan justru berusaha melepaskan diri, apa yang bisa ia lakukan?
Bruk!
Tubuh Yesung akhirnya menyerah. Terus berjalan cukup jauh dari rumah Siwon dengan kondisi tubuh yang seperti ini cukup membuatnya merasa lelah. Kakinya terasa lemas, tak kuat lagi menahan beban berat di dalam dirinya.
Mata Yesung berkunang-kunang, menatap langit yang tiba-tiba berubah menjadi sebuah layar lebar, memutar memori tentang perjalanan hidupnya yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Dimulai dari awal sejak ia mengenal apa arti hidup secara sederhana, ia langsung dihadapkan pada sesuatu yang bernama penolakan. Sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk ia dapatkan di usianya yang bahkan belum genap menginjak tahun ke lima.
'Tidak, Dad! Aku mohon biarkan Jongwoon tetap bersamaku!"
'Tidak, Ellena! Apa yang akan dikatakan calon suamimu jika mengetahui kau sudah memiliki seorang anak, huh?'
'Aku mohon, Dad! Jongwoon masih kecil..'
'Sudah Dad katakan sejak awal, keberadaan anak itu hanya akan menjadi beban untukmu! Untuk apa kau mempertahakannya, huh?'
'Please, Dad.. Jongwoon adalah anakku, aku tidak mungkin membuangnya..'
'Ini semua demi kebaikanmu, Ellena! Buang anak itu, atahu Dad yang akan menyingkirkannya dengan cara Dad sendiri!'
"Yesung?!"
Yesung kembali membuka matanya ketika mendengar sebuah suara memanggil namanya. Didapatinya seorang namja berambut dark chocolate berlari ke arahnya dengan raut wajah panik.
Mata Yesung sedikit melebar, "Kau?"
.
To Be Continued
