Musim gugur, 2009

Jin membolak-balik map dan kertas-kertas di hadapannya, mencari sebuah kertas yang ia maksud. Semua pepohonan gugur daunnya, dan tiba-tiba ruangan yang ia tempati terasa lebihdingin. Perhatiannya terarah pada telefon yang berbunyi. Ia mengangkatnya dengan sebuah... Harapan?

"Jin Kazama here." Sapanya pendek sambil tetap mencari kertas yang ia inginkan.

"Sepertinya file itu sudah ada di kumpulan file yang kau pegang sekarang, Jin. Sudah kucari-cari dibagian registrasi, tetap saja tidak ada." Suara dari seberang membuat harapannya mencelos.

"Kau yakin, Hwoarang? Tapi ini acak dan susah sekali mencarinya!" Jin menggerutu kesal pada seseorang bernama Hwoarang itu.

"Seingatku itu diurutkan dengan alfabet, lalu kau memutuskan untuk mengelompokkan itu menjadi beberapa bagian. Yah, mungkin saja alfabet A itu ada di belakang alfabet H?"Hwoarang tertawa mengejek.

"Sudahlah. Akan kucari lagi." Jin menutup sambungan itu dengan kesal dan kembali mencarinya. Ia mengumpulkannya dan membacanya satu persatu.

"Dimana ya?" Ujarnya pelan sambil membalik kertas itu satu persatu. Ia menarik acak satu kertas dari tumpukan kertas di tangannya.

"Nah! Ini dia!" Jin tersenyum senang melihat kertas di hadapannya. Kertas bertuliskan namaseseorang itu ia baca baik-baik. Ia mencari kolom nomor telfon dan meraih ponselnya. Mengetikkan nomor yang tertera di kertas itu dan menyimpannya. Ia tersenyum manis dan memasukkan kertas itu kedalam laci meja. Ia mengangkat telefon kantornya dan menyambungkan diri ke Hwoarang.

"Hwoarang, persiapkan dirimu, kita akan kencan buta! Hahaha..."

Asuka memejamkan matanya kelelahan diatas kursi kayu di depan rumahnya. Pakaian santainya tertiup angin sepoi-sepoi yang berhembus. Setelah berlatih rutin di dojo milik ayahnya, ia merasa badannya harus segera diistirahatkan. Memang, sudah lama sekali ia meninggalkan latihan rutin sejak The King of Iron Fist Tournament 5. Matanya makin terasa berat dan tubuhnya terasa melayang-layang. Pertemuan dengan Jin Kazama musim panas yang lalu benar-benar sulit dilupakannya. Beberapa kali ia bermimpi tentang pria itu, dan sampai sekarang ia masih menyimpan harapan bahwa suatu saat mereka akan bertemu lagi.

Ponselnya berbunyi keras mengagetkan Asuka. Ia menggerutu jengkel dan melihat nomor tidak dikenal menghubunginya.

"Halo, Asuka Kazama disini. Siapa kau?" Sapa Asuka sedatar mungkin. Ia sangat kelelahan dan tidak ingin menunjukkan amarahnya.

"Hai, Asuka." Suara berat yang selama ini terngiang-ngiang di kepalanya kembali menyapanya. Asuka segera menegakkan punggungnya dengan wajah terkejut dan melihat layar ponselnya. Ia kembali menempelkannya ke telinga dan berbicara dengan nada sedatar mungkin.

"Ya? Siapa kau?" Asuka merasakan jantungnya berdebar-debar. Mungkinkah ini...

"Aku Jin. Jin Kazama." Nah! Tepat sekali! Laki-laki ini yang membuatnya terbayang-bayang selama semusim dan itu benar-benar mengganggu hidupnya!

"Ah, Jin-kun! Ada apa?" Asuka menetralkan suaranya. Berusaha mempersiapkan mental akan apa yang nanti Jin katakan.

"Err, begini. Hwoarang ingin kembali bertemu dengan Lili, maksudku dengan Lili yang asli. Masalahnya, Hwoarang tidak mau mengajak Lili secara langsung dan dia minta ditemani..." Jin menggantung kalimatnya dan Asuka menahan nafas.

"Lalu?"

"Katakan kepada Lili kalau Hwoarang ingin bertemu dengannya. Dan kalau bisa, kau ikut juga menemani Lili,"

"Kapan? Dimana?" Asuka merutuki dirinya. Pertanyaan yang bertubi itu membuatnya terlihat sangat bersemangat, dan pasti terlihat bodoh di mata Jin.

"Nanti Hwoarang akan mengatakannya pada Lili via chatting. Terima kasih, Asuka-san."Sambungan terputus, Asuka menghela nafas. Sepertinya ia akan kembali jadi cupid Lili.

Lili menarik tangan Asuka, mengajaknya berlari ke depan sekolah secepat mungkin. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dan rencananya Asuka akan menghabiskan waktu di ruangan ekskul karate bersama teman-temannya. Tapi, Lili dengan cekatan membuatnya tidak bisa melaksanakan rencananya.

"Hei, Rochefort! Kau ini kenapa? Ini baru bel pulang sekolah dan aku berencana ingin duduk-duduk di ruangan karate! Hei, hei! Apa-apaan ini!" Lili mendorong Asuka masuk ke limo-nya sembarangan. Kepala Asuka terbentur pintu dan kakinya tersangkut saat didorong. Ia mengelus-ngelus kepalanya dan Lili memberi perintah pada Sebastian untuk melaju.

"Crazy slut! Kau ini kenapa, bodoh?! Ah, sakit sekali!" Asuka mengumpat kesal pada sahabatnya yang sekarang sibuk dengan ponselnya.

"Hwoarang mengajakku bertemu hari ini, tepat ketika jam pulang sekolah. Kita harus cepat!First impression is the most important!" Lili tersenyum manis dan Asuka menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Memangnya dia ingin bertemu dimana?"

"Jika aku bilang sekarang kau pasti akan memaksa turun," Lili mengambil botol air dari kaca di depannya dan menuangnya ke dalam gelas. Asuka mengambil gelas yang tersedia di hadapannya dan mengangsurkan gelas itu ke arah Lili. Lili mengisinya dan Asuka menenggaknya sampai tandas dalam tiga tegukan.

"Hei, Rochefort. Dia sendiri atau membawa temannya?" Asuka meletakkan gelasnya.

"Mungkin sendiri, dia tidak bilang apa-apa," Lili mendekat ke Asuka dengan rasa ingin tahu, "memangnya kenapa?"

"Kalau dia bersama temannya setidaknya aku ada teman mengobrol," dalih Asuka dengan wajah gugup.

"Bilang saja kau berharap ada laki-laki yang kau temui musim panas kemarin agar bisa berkencan dengannya!" Lili tertawa keras mengejek Asuka yang tersipu.

"Apa salah berharap?" Balas Asuka diiringi tawa Lili.

"Ah, masa SMA. Cinta, dimana-mana cinta," sahut Sebastian, supir tua Lili yang sedari tadi diam mendengarkan.

"Tentu! Apa kau dulu juga seperti itu, sensei?" Lili terbiasa memanggil Sebastian dengan'sensei' setelah Sebastian mengajarinya tentang Street Fighting.

"Bisa dibilang seperti itu," Sebastian terkekeh kecil, "tapi ketika kami berusaha menjalin hubungan, perempuan itu menyukai laki-laki lain."

"Benarkah? Wah, apa sensei tidak merasa sakit hati?" Asuka ikut dalam pembicaraan itu.

"What does love means, ladies?" Sebastian melirik ke arah spion, "it means, you're happy to seesomeone you love happy. And when she tells me, I think letting go is the best way."

"Kenapa sensei melakukan itu?" Lili menatap Sebastian tidak percaya.

"Kita tidak bisa meminta takdir untuk dijatuhcintakan dengan siapa kan? Dan ketika kenyataannya tidak sesuai dengan harapan, tak ada cara lain selain membiarkannya pergi. Karena cinta tidak bisa dipaksa." Sebastian tersenyum dan kembali fokus menyetir. Keheningan menyelimuti sisa perjalanan mereka. Asuka sibuk memperhatikan jalan, Lili sibuk memutar-mutar gelas di hadapannya.

"Nah, ini tempatnya, nona. Hubungi jika sudah selesai," Sebastian membuka kunci mobil. Asuka dan Lili keluar dari limo, memandang sekeliling. Asuka merasa kebingungan, kenapa harus disini?

"Taman bermain?" Asuka bertanya jengkel. Tempat ini sangat tidak disukainya karena menurutnya membuang-buang uang.

"Kazama, please give those men one smile. First impression is everything!" Asuka mengangguk setelah Lili berbicara. Lili mengajaknya masuk dan mencari cafe tempat Hwoarang dan Lili berjanji bertemu.

"Kau yakin?" Asuka berbisik ragu pada nona tinggi di sebelahnya. Lili mengangguk dan menunjukkan chat history-nya dan Hwoarang.

"Dia sendiri yang bilang!"

"Baiklah," Asuka mendorong pintu cafe dan mencari seseorang bernama Cho Hwoarang. Ia menatap Lili ragu dan menggelengkan kepalanya.

"Rochefort, aku akan menghajarmu jika laki-laki itu tidak datang!" Serunya cukup keras. Lili membungkam mulut Asuka.

"Asuka-san!" Seorang laki-laki menyapa dari arah belakang. Asuka menoleh dengan tidak yakin dan mendapati Jin duduk bersama laki-laki yang (mungkin) bernama Cho Hwoarang itu. Jin melambaikan tangannya dan Lili menarik tangan Asuka untuk menghampiri kedua laki-laki membungkukkan badan, disambut dengan anggukan kecil pria-pria tampan itu.

"Ah, silahkan duduk!" Pria yang berbicara dengan logat Korea itu mempersilahkan Asuka dan Lili duduk. Ia tersenyum manis dan Lili membalasnya. Asuka hanya tersenyum tipis, berusaha meredakan kegugupannya karena pria di hadapannya sekarang.

"Aku Cho Hwoarang. Senang bisa bertemu dengan kalian! Ini Jin Kazama, temanku yang menemui salah satu diantara kalian waktu itu," Lili menatapnya dengan terpesona. Asuka tertawa kecil. Sepertinya Lili jatuh cinta dengan teman chattingnya itu.

"Aku Emilie de Rochefort, panggil saja Lili. Ini temanku, Asuka Kazama," Lili memperkenalkan diri dan Asuka membalasnya dengan anggukan. Hwoarang tersenyum senang.

"Nah, Lili-san, jadi siapa yang bisa mengajariku Kazama Style Martial Arts?" Hwoarang kembali membuka pembicaraan. Ia mengaduk-aduk vanilla latte di hadapannya. Seorang waitress datang membawa menu, Lili memesan melya sedangkan Asuka memilih jenis kopi favoritnya, black coffee. Jin terkesiap melihat pilihan kopi wanita di hadapannya dan melirik cangkir yang ada di atas meja.

"Asuka bisa mengajarimu," Lili menjawab setelah waitress itu pergi. Asuka menunjuk dirinya dan mengangkat alisnya, mengisyaratkan ketidaksetujuan.

"Sebenarnya kan aku bisa mengajarimu tuan Cho, kau saja yang tidak mau." Jin menyahut sedikit kesal.

"Tidak seru jika kau yang mengajariku. Aku ingin diajari seorang wanita cantik bermarga Kazama!" Hwoarang berdalih dan tertawa. Jin menggelengkan kepalanya, menyimpan sedikit jengkel karena Hwoarang menggoda Asuka.

"Boys..." Asuka mengibaskan tangannya. Lili tertawa kecil dan waitress yang tadi kembali dengan dua cangkir kopi. Hwoarang menyerahkan cangkir berisi kopi hitam ke arah Lili dan diteruskan ke Asuka, begitu juga dengan secangkir melya yang dipesan Lili.

"Kau serius ingin belajar Kazama Style Martial Arts?" Jin bertanya sebelum menyeruputkopinya. Hwoarang menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa kecil.

"Aku hanya ingin tahu saja, untuk senang-senang. Bosan berkelahi dengan gaya Korea. Coba-coba, apa tidak boleh?"

"Kau tidak ingin belajar Street Fighting, Hwoarang-kun?" Asuka tiba-tiba menyahut.

"Street Fighting? Sepertinya menarik! Bagaimana maksudnya?" Hwoarang bertanya dengan rasa ingin tahu dan Lili menjawabnya secara lengkap. Terjadi percakapan seru diantara mereka berdua dan sisa dua orang ini merasa diabaikan. Asuka hanya bisa memainkan pegangan cangkir dihadapannya dengan bosan. Jin menatap wanita yang sedang duduk di depannya sekarang ini.

"Kenapa tiba-tiba?" Jin bertanya pada Asuka. Asuka mengangkat sebelah alisnya, apanya yang tiba-tiba?

"Kenapa tiba-tiba menawari Hwoarang untuk belajar Street Fighting?" Ulang Jin. Asuka mengangkat bahunya dan terkekeh.

"Aku sedang malas mengajarkan Kazama Style Martial Arts pada orang-orang. Kebetulan Lili sangat menguasai Street Fighting. Besides," Asuka berbisik lirih pada Jin, "I think Lili likes Hwoarang!"

"How come?!" Jin membulatkan matanya. Asuka melirik ke arah Lili yang sangat bersemangat menjawab pertanyaan Hwoarang. Asuka merasa, sahabatnya ini benar-benar tertarik pada Hwoarang.

"Look at her. She's glad to talk with Hwoarang! I'm her bestfriend, so, I just... Know it," Asuka menjawabnya ringan. Jin menganggukkan kepalanya, setuju dengan perkataan Asuka beberapa detik yang lalu.

"Hei, Jin, Asuka-san," panggil Hwoarang riang, "aku dan Lili ingin bermain di wahana-wahana itu. Kalian mau ikut? Atau duduk disini seperti sepasang kakek dan nenek?" Jin memukul kuat lengan pria di sampingnya. Hwoarang menjerit kesakitan dan Lili hanya tertawa pelan.

"Ayolah, Asuka! Sekali-sekali saja bermain di sini!" Lili mengedipkan sebelah matanya. Asuka sudah sangat hafal tentang tingkah sahabatnya itu, tandanya ia ingin dibantu. Asuka hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

"Kau ikut tidak, Jin?" Hwoarang bertanya lagi pada sahabatnya itu. Di bawah meja, Hwoarang menyenggol kaki Jin agar Jin mau ikut.

"Aish, baiklah!" Jin mengangguk kecil dan Hwoarang spontan tertawa keras. Ketiga orang di meja yang sama dengannya menatapnya dengan pandangan heran.

"Kenapa melihatku seperti itu? Sudahlah, ayo cepat. Aku ingin segera melihat seorang CEO Mishima Zaibatsu yang dingin bermain wahana taman bermain umum!" Mereka berempat tertawa keras dan beranjak meninggalkan cafe itu. Lili dan Hwoarang sibuk menentukan mereka akan pergi ke mana. Asuka hanya bisa melihat sekeliling dengan bosan dan berusaha keras menahan dirinya agar tidak berbicara banyak-banyak. Jin menatap Hwoarang dan Lili yang sedang berdebat dengan heran dan geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu sudah sangat akrab? Sepertinya itu tidak berlaku pada Asuka dan Jin.

"Kita ke Istana Boneka!" Seru Lili sambil tertawa senang. Asuka terlonjak kaget dan melambaikan tangannya, sangat tidak setuju dengan ide Lili. Hwoarang dan Jin menatap Asuka dengan heran. Bukannya semua perempuan suka boneka?

"Apa? Aku tidak suka boneka! Kalian bertiga saja! Aku tunggu diluar." Asuka menjawab kesal saat menyadari tatapan aneh Hwoarang dan Jin. Saat mereka sampai di depan Istana Boneka, Asuka tetap tidak mau masuk. Akhirnya Hwoarang dan Lili masuk bersama-sama. Jin tersenyum canggung, haruskah ia mengajak Asuka masuk? Lupakan rasa canggungmu, ayo ajak dia masuk! Sisi pikiran Jin mendukungnya. Ia menghela nafas.

Dengan santai Jin menggandeng tangan Asuka dan menariknya ke dalam. Asuka berusaha memberontak, tapi pegangan Jin di pergelangan tangannya sangat kuat.

"Masuk saja, siapa tahu ada yang kau suka disini," bisik Jin, mendekatkan dirinya ke arah Asuka. Lili terlihat bersemangat memilih boneka bersama Hwoarang. Lihat, di keranjang itu saja sudah ada dua boneka. Asuka menggelengkan kepalanya. Terlihat boneka-boneka berjejer dengan rapi di etalase-etalase besar. Jin menariknya ke suatu tempat dan memberikan sesuatu untuknya.

"Apa ini?" Asuka mengangkat apa yang diberikan Jin padanya. Boneka dengan bentuk api?

"Ambil, aku yang bayar. Anggap saja hadiah perkenalan." Jin menjawab dengan santai dan kembali mengajak Asuka mengikuti Hwoarang dan Lili yang sudah mempunyai empat boneka di keranjang mereka. Mereka menuju kasir dan Lili tertawa melihat Asuka menjinjing tas plastik berisi boneka pemberian Jin.

"Kau beli boneka?" Lili tertawa keras, "nyatakah ini?"

"Dia yang belikan," Asuka menunjuk Jin dengan telunjuk kanannya, "aku tidak minta."

"Mana? Mana? Sini lihat!" Lili membuka tas plastik itu. Asuka tertawa dan membiarkan sahabatnya itu membongkar-bongkar apa yang dia bawa.

"Boneka ini boyish sekali. Cocok untukmu," Lili menggelengkan kepalanya dan mengembalikan boneka itu ke tasnya. Asuka mengambil tas itu dari tangan Lili dan berjalan cepat mengikuti dua pria yang sudah berjalan jauh di depannya.