The coffee scene is directed from 'Coup(Lov)e' by Rhein Fathia

Lili tertawa kecil mengingat kejadian itu. Sejak saat itu mereka berempat bersahabat. Sejak saat itu juga Jin dan Asuka semakin dekat, dan akhirnya mereka menjalin hubungan yang akan berakhir dengan pertunangan beberapa minggu lagi. Ia meraih ponselnya, menghubungi Hwoarang. Sudah lama mereka tidak berhubungan, ia merindukan sahabatnya itu. Sahabat yang mungkin... Punya perasaan lebih?

"Disini Cho Hwoarang!" Sapa lelaki di seberang dengan ceria. Lili tertegun sesaat. Ia sadar, ia benar-benar merindukan pria ini.

"Ini Lili! Hei, bagaimana kabarmu? Hilang begitu saja sejak terakhir kita bertemu berempat dengan Asuka dan Jin di bandara!"

"Ah, Lili. Baik, baik, maaf, aku masih sibuk membuka cabang sekolah tae-kwon-do di Thailand, sepertinya kita sangat jarang berhubungan ya? Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Jin dan Asuka?" Hwoarang tersenyum dari seberang. Sahabatnya ini sangat rajin keeping contact dengannya.

"Aku, Jin dan Asuka baik-baik saja. Pertunangannya akan dilaksanakan mungkin tiga minggu lagi. Kau akan datang, kan?" Terdengar sebagai sebuah harapan daripada pertanyaan. Lili memang sangat berharap bisa bertemu dengan Hwoarang.

"Tiga minggu lagi? Bisa, bisa!" Hwoarang menjawab dengan yakin, "dua minggu lagi aku akan kembali ke Tokyo, tenang saja!"

"Aku titip oleh-oleh ya! Nanti antarkan langsung ke apartemenku," Lili menggoda Hwoarang yang sibuk tertawa di seberang. Sebenarnya, tanpa oleh-oleh pun tidak masalah. Asal pria itu datang, tak masalah.

"Jangan membuatku bangkrut sebelum sukses! Ah, tapi tidak apa-apa, akan kuantarkan langsung oleh-oleh itu ke apartemenmu, nona Rochefort!"

"Baiklah! Ah, sudah dulu ya? Aku masih harus menyelesaikan sesuatu. Sampai bertemu!" Lili memutuskan sambungan dengan hati berbunga-bunga. Ia tahu Hwoarang tak punya perasaan apapun padanya, dan ia tidak peduli. Perkataan Sebastian empat tahun yang lalu masih sangat membekas di hatinya.

"What does love means, ladies? It means, you're happy to see someone you love happy."

Apartemen Lili terasa makin sepi dan dingin. Ia menghela nafas. Sampai kapan akan seperti ini?Banyak sekali laki-laki mendekatinya, tapi ia menolak semuanya. Memang perasaan tak bisa dipaksa kan? Lili melirik jam yang tergantung di dinding. Jam sepuluh malam lewat dua puluh menit. Lili mematikan televisi di hadapannya dan berjalan ke arah kamar, meninggalkan ponselnya di atas sofa. Malam semakin larut.

~,

Hwoarang menjinjing sebuah tas menuju sebuah apartemen. Ia memencet bel dan tersenyum kecil. Setelah istirahat sehari, ia memutuskan untuk pergi ke apartemen Lili untuk memberikan oleh-oleh yang diminta. Sahabatnya itu hobi sekali mengoleksi boneka teddy bear, jadi ia membelikan teddy bear yang memakai kostum koki. Ia memencet bel sekali lagi dan seorang laki-laki membuka pintu. Hwoarang menaikkan sebelah alisnya. Siapa orang ini?

"Emilie, ada tamu datang!" Seru pria itu dan Lili berjalan ke arah pintu. Asuka dan Jin mengikuti dari belakang.

"Hwoarang?!" Asuka, Jin, dan Lili berseru kaget dan tertawa bersamaan. Mereka bertiga memeluk Hwoarang dan kembali tertawa. Asuka duduk kembali di sofa, diikuti Jin dan laki-laki yang membuka pintu.

"Kapan kau datang, heh? Tidak memberitahu!" Jin meninju pelan bahu sahabat laki-lakinya itu. Hwoarang tertawa dan ikut duduk di sofa. Ia meletakkan tas yang ia bawa di atas meja.

"Bukan surprise namanya kalau aku memberitahumu! Ah iya, dia siapa?" Tanya Hwoarang langsung to the point. Ia kurang nyaman melihat lelaki yang tidak dikenalnya ada di apartemen Lili. Eh?

"Ini Leo," Lili datang dari dapur dan membawa lima gelas minuman di nampan. Ia meletakkannya masing-masing di hadapan empat tamunya. Lili ikut duduk di samping Leo dan meraih tas yang diletakkan Hwoarang.

"Ini untukku? Wah, teddy bear! Terimakasih ya!" Lili tersenyum manis pada Hwoarang dan memeluk boneka itu. Asuka tersenyum penuh arti. Jin menyikutnya ringan, berusaha menyadarkan Asuka.

"Did I miss something silly?" Bisik Jin lirih pada Asuka. Asuka menggeleng pelan dan meraih tangan Jin. Ia menunjuk ke arah Hwoarang, Lili dan Leo. Jin menatapnya tidak mengerti dan Asuka tertawa pelan.

"Lihat Hwoarang, tatapannya garang sekali ke arah Leo!" Asuka tertawa pelan dan Jin ikut tertawa. Memang benar, Hwoarang menatap Leo dengan tidak suka, apalagi ketika Lili duduk di sebelahnya. Hwoarang menoleh cepat ke arah Asuka dan Jin. Mereka berdua tersenyum polos dan Hwoarang mengalihkan pandangannya. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara gelas yang diletakkan Asuka setelah ia tandaskan isinya. Jin menyentuh pelan lengan Asuka.

"Sepertinya suasana sudah tidak bagus, ayo kita pergi, tadi EO menghubungiku," Jin mengajak Asuka untuk segera kabur dari ruangan yang mencekam itu. Asuka mengangguk setuju dan berdeham cukup keras.

"Eh... Rochefort, Leo, Hwoarang, sepertinya kami harus pergi dulu, terimakasih minumannya,"Asuka dan Jin berdiri diikuti Lili yang mengantarkan mereka sampai pintu. Asuka melambaikan tangan pada Lili dan segera menyusul Jin yang berjalan terlebih dahulu. Masa bodoh apa yang akan terjadi di apartemen Lili, pikir Asuka enteng dan berlari kecil. Lili masuk ke apartemennya dan mendapati dua lelaki yang duduk berhadapan itu saling memandang. Ia menghela saja tidak ada pertempuran disini.

Di tempat lain, Asuka sedang melihat sekeliling, memutar bola matanya ke arah aula gedung yang akan ditempati untuk pertunangannya. Putih, dimana-mana putih. Ia memang sengaja meminta Jin untuk menjadikan putih sebagai warna utama. Entahlah, akhir-akhir ini Asuka senang sekali dengan segala sesuatu berwarna putih. Jin menyentuh pelan vas bunga besar dihadapannya dan tersenyum tipis. Seminggu lagi ia akan terikat dengan perempuan yang empat tahun lebih muda daripadanya, perempuan yang ia yakini bisa mengimbangi karakternya yang dingin dan serius.

"Aku ingin kopi hitam," celetuk Asuka santai dan melemparkan tatapan penuh harap pada Jin. Jin mengalihkan pandangannya dari vas yang sedari tadi ia lihat dan mengrenyit heran.

"Kopi hitam? Tiba-tiba sekali," Jin keluar dari gedung itu diikuti Asuka, mengedarkan pandangannya dan mendapati satu cafe kopi terkenal. Ia mengarahkan telunjuknya ke sana dan tersenyum kecil.

"Nah, itu ada cafe. Ayo kita kesana," Jin menggenggam tangan Asuka dan mengajaknya berjalan ke arah cafe yang dua blok di sebelah gedung itu. Mereka masuk dan memilih spot di pojok yang teduh dan sepi. Jin memesan secangkir cappucino dan Asuka, tentu saja kopi hitam dengan tambahan lava cake. Waitress yang mendatangi mereka berjalan menjauh. Keheningan menyelimuti mereka. Asuka mengambil novel serta kacamata baca yang ia bawa dan membacanya serius. Jin menatap wanita di hadapannya ini. Muncul satu pertanyaan di benaknya, pertanyaan yang selalu ia simpan selama bertahun-tahun. Kenapa harus kopi hitam?

Tak lama, waitress datang membawa pesanan mereka. Asuka tersenyum manis dan menutup bukunya, meletakkannya di atas meja. Menarik cangkir kopi miliknya dan meminumnya dengan santai, perlahan. Ia memandang lava cake yang tadi dipesannya, tak sabar untuk mencicipinya. Jin mengalihkan pandangannya dari Asuka ke cangkirnya sendiri. Saat Asuka akan menarik piringnya, Jin mencegahnya dengan bertanya tiba-tiba.

"Selama bertahun-tahun, aku selalu bertanya-tanya. Kenapa kau selalu memilih kopi hitam? Hanya pahit, pekat, tanpa gula?" Jin memandangnya serius. Asuka menarik nafas, dan mulai menjelaskan.

"Menurutku, kopi hitam merupakan ekuivalensi dari cinta," tutur Asuka perlahan dan serius. Jin mendekatkan dirinya ke arah Asuka dan tersenyum simpul, "explain please, my dear?"

Asuka mengubah posisi duduknya agar menjadi lebih nyaman. Ia menatap Jin penuh arti."Sebenarnya, semua kopi merupakan ekuivalensi dari cinta." Asuka melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas novel yang ia bawa. "Cinta itu seperti secangkir kopi. Banyak jenis dan ragamnya. Kopi punya banyak variasi, seperti cappucino dengan tambahan krim, susu, dan cokelat. Atau latte dan macchiato yang punya takaran susu berbeda. Bahkan dengan tambahan sedikit bahan saja, rasa kopi akan berbeda." Jin terkesiap dengan penuturan Asuka yang manis, lembut, mengalun. Jin menatap mata Asuka yang balas menatapnya lembut.

"Begitu juga dengan cinta. Ada orang yang mencintai karena parasnya, senyumnya, hartanya, bahkan karena... Emm, karena kekasihnya berbeda dengan orang kebanyakan." Asuka tersenyum lembut. Itulah yang Jin rasakan. Perbedaan dalam diri Asuka yang tidak dipunyai orang lain.

"Alasan tertentu itu bagaikan ingredients yang akan dicampurkan dalam segelas kopi. Apapun bisa menjadikan kopi biasa itu nikmat, tergantung selera masing-masing, kan?" Cetus Asuka. Jin manggut-manggut, setuju akan pendapat Asuka.

"Lalu, beberapa orang, termasuk aku, sangat menyukai kopi hitam. Tanpa campuran apapun, pekat, pahit. Bagi sebagian orang rasanya tidak enak. Sama seperti 'cinta saja' tanpa -orang bilang itu tidak menyenangkan. Tapi pecinta kopi hitam tidak bilang begitu,"

Jin masih menunggu kelanjutan kisah Asuka tentang kopi. Ia merasa pandangan Asuka makin menyeretnya menuju dunia mereka sendiri, yang tidak bisa dimasuki orang lain.

"Kopi hitam memiliki keistimewaan sendiri dari wangi murni kopi, juga rasa pahitnya. Sama seperti 'cinta saja', ada sensasi tanpa alasan yang sering kali membuat orang jadi tidak logis. Pahit. Orang yang mencintai tanpa alasan akan mengecap rasa pahit." Asuka menyeruput kopinya sebelum melanjutkan.

Jin menaikkan sebelah alisnya. "Apa berarti orang yang mencintai dengan tulus tanpa alasan akan selalu mengecap kepahitan?" Ia bertanya tak mengerti.

"Oh, bukan begitu maksudnya," Asuka melambaikan tangannya dan menggeleng pelan. "Misalnya cinta orangtua pada anaknya, itu salah satu contoh secangkir kopi hitam. Walaupun mereka harus bekerja keras demi menghidupi si anak, tapi mereka tulus. Karena rasa pahit tetap bisa dinikmati!" Asuka tersenyum dan menjentikkan jarinya. Jin masih tidak mengerti. Apakah itu hanya berlaku di keluarga?

"Lalu bagaimana dengan cinta lawan jenis? Apa tak ada 'cinta saja' tanpa alasan? Dan apakah selalu pahit?" Jin kembali mengejar jawaban Asuka.

"Ada, misalnya ketika kau mencintai seseorang tapi dia tidak punya perasaan yang sama. Pahit kan? Tapi karena ketulusan, kau harus merelakannya pergi. Kita harus menikmati rasa pahit the real meaning of love is when you're happy to see someone you love happy." Tandas Asuka mengakhiri pertanyaan Jin. Jin terpukau mengangguk perlahan.

"Pemahamanmu dalam sekali, Suki." Asuka menundukkan kepalanya perlahan, mengucapkan terima kasih. Mereka berdua bertatapan, tersenyum manis. Sepertinya, ini akan jadi lebih baik dari sebelumya.