Asuka meraih remote dan mematikan televisi apartemen Lili yang menyala di hadapannya. Jam-jam seperti ini acara hanya berkisar pada berita, sangat tidak menarik baginya. Sebentar lagi ia,Lili dan Sebastian akan pergi ke Osaka untuk berlatih persiapan mengikuti The King of Iron Fist Tournament 6 di dojo ayah Asuka. Sudah lama sekali sejak ia terakhir berlatih di dojo ayahnya, dan ia yakin minimal ia akan ada disana selama seminggu karena tubuhnya pasti tidak bisa diajak kompromi. Ia memperhatikan Lili yang sibuk menata perlengkapannya untuk dibawa ke Osaka, mulai dari tas berisi baju, aksesori, dan tidak lupa teddy bear koki pemberian Hwoarang. Untuk barang terakhir itu, Asuka tidak kaget. Setelah Hwoarang menyerahkan boneka itu pada Lili dua minggu yang lalu, Lili tak pernah absen untuk bercerita soal kejadian ketika Hwoarang dan Leo bersitegang dengan tatapan mata itu.
Lili duduk di sofa kecil yang terpisah dari kedua lelaki di hadapannya. Hwoarang menatap Leo garang sedangkan Leo membalasnya dengan tatapan tidak suka. Suasana sudah makin panas dan Lili tidak ingin apartemennya hancur lebur karena orang-orang ini berkelahi disini. Keheningan menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara decakan Hwoarang dan hembusan nafas Lili. Perempuan tinggi itu tersenyum manis dan berusaha mencairkan suasana dengan memulai obrolan.
"Bagaimana Thailand?" Pertanyaan itu ditujukan untuk Hwoarang. Lili tertawa dalam hati saat tiba-tiba Hwoarang menegakkan bahunya dan menjawab pertanyaan Lili dengan tegas.
"Baik, sepertinya pembukaan cabang Tae-Kwon-Do-ku sangat diminati disana, mungkin sebentar lagi aku akan mencoba ke Eropa." Hwoarang melirik Leo dengan tatapan kemenangan. 1-0 untuk Hwoarang!
"Ah, begitu rupanya," Lili mengalihkan pandangan pada Leo dan bertanya manis, "bagaimana dengan liburanmu? Is Cuba make you happy?" Kuba? Hwoarang menaikkan alisnya.
"Aku lebih suka liburan bersamamu ke Swiss saat kita masih 12 tahun. Lucu sekali melihatmu merengek ingin coklat padahal saat itu gigimu sedang sakit. Di Kuba tidak ada yang seperti itu,"tawa Leo dan Lili meledak dan Hwoarang merasa tersisihkan. Liburan bersama? Sedekat itukah?
"Kau masih mengingatnya? Memalukan!" Skor imbang untuk keduanya.
Pembicaraan itu masih diteruskan, dibumbui hangatnya (atau mungkin panasnya) tatapan dari dua orang yang tidak sengaja saling berkompetisi itu. Leo sangat mudah akrab dengan semua orang termasuk Jin dan Asuka, tapi kenapa tidak dengan Hwoarang? Lili menggeleng perlahan dan Leo kembali membuat Hwoarang menatap mereka berdua lurus-lurus.
"Emilie, kau bilang kau akan mengantarku melihat-lihat Tokyo? Sekarang saja, aku sedang bersemangat!" Bersemangat untuk dihajar, eh? Hwoarang mengepalkan tangannya kesal. Secara tidak langsung orang itu mengusirnya. Lili mengangguk pelan.
"Hwoarang-kun, aku dan Lili akan berjalan-jalan. Mau ikut atau..." Hwoarang menatap lelaki di hadapannya dengan pandangan kesal dan menyala-nyala. Ia memotong perkataan Leo dengan keras, "aku pulang saja. Sampaikan pada Lili kalau aku pulang." Hwoarang berdiri dan segera keluar dari apartemen itu dengan perasaan acak-acakan. Leo menarik bibirnya, membentuk sebuah kurva senyuman yang lucu. Lili menatapnya heran dan menyentuh bahu Leo perlahan. Lili makin bingung saat tiba-tiba Leo tertawa cukup keras.
"Kau tidak apa-apa, Eleonore?" Lili bertanya dengan tatapan khawatir.
Gadis manis berambut pendek itu menoleh ke arah sepupunya yang cantik itu dan berbisik lirih."That Hwoarang, he loves you, Emilie..."
