Previous
"Kau, setidaknya masih beruntung, Jaejoong-ah…" gumam Yunho tanpa mengalihkan pandangannya. "Orangtuaku…kini sudah di surga…"
Hening.
Jaejoong hanya mampu terdiam. Ia tidak biasa menghadapi masalah seperti ini. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak berguna, ia merasa tidak bisa menjadi teman berbagi bagi orang lain. Dan Jaejoong semakin terkejut kala melihat setitik cairan bening mengalir dari mata musang itu.
.
.
NOVEMBER WITH LOVE
Chang Min Sa
2014
Chapter 1
.
.
Kicauan burung di pagi hari juga teriknya sang raja siang telah mengganggu tidur nyenyak namja tampan itu. Namja tampan yang semalam sempat keluar itu masih mengelak untuk bangun. Ia mengubah posisi tidurnya tapi tak lama kemudian ia mendengar suara ketukan pintu yang kembali mengusik tidurnya.
"Yunho-yah! Kau harus bangun! Kita akan ke gereja pagi ini!" teriak seorang yeoja dari balik pintu itu.
Sambil menggerutu dalam hati, Yunho dengan berat hati mendudukkan diri di atas tempat tidur. Mengucek kedua mata musangnya lalu menguap lebar.
"Yunho-yah!"
"Ne, Jessie Noona! Aku akan segera turun!" balas Yunho sambil berteriak. Rupanya ia tak kuat juga mendengar teriakan fals itu.
Suara hentakan kaki dari balik pintu itu sedikit membebaskan Yunho untuk bernafas lega. Namja tampan itu meregangkan tubuhnya sebentar lalu segera beranjak ke kamar mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi, dilihatnya pohon tinggi yang ranting-rantingnya tertutup salju. Mengingatkan namja tampan itu akan seorang namja bermata bulat yang semalam ditemuinya di bawah pohon itu.
'Kim Jaejoong, apakah aku bisa bertemu denganmu… lagi?'
Menyadari matahari tak lagi sembunyi ─tapi justru semakin tinggi─ Yunho bergegas ke kamar mandi. Ia tidak ingin ditinggalkan rombongan yayasan untuk ke gereja. Lagipula, ia juga ingin berdoa…untuk kedua orangtuanya yang ada di surga.
.
NOVEMBER WITH LOVE
.
Yunho baru saja keluar dari kelasnya setelah mengikuti sedikit pengarahan dari pembimbing ketika sebuah teriakan nyaring mengusik telinganya. Sebuah suara yang tak asing lagi, setidaknya tak asing sejak semalam. Yunho berbalik dan segera melebarkan mata sipitnya. Tubuhnya sedikit terhuyung kala sebuah tubuh kecil menimpanya. Kalau saja Yunho tidak punya riwayat prestasi olahraga yang bagus, pasti ia juga akan ikut terjatuh.
"Chajatta!"
Yunho mengerjabkan matanya bingung. "J-jaejoong?"
Namja berkulit putih itu melepaskan pelukannya. Menegakkan tubuhnya lalu menatap Yunho dengan bola mata hitamnya. "Dari tadi aku mencari kelasmu. Ternyata di sini, eoh?" ceritanya riang. "Yunho-ah, kau akan ke gereja, kan?"
Yunho mengangguk pelan dan sebelum ia mengucapkan sepatah kata, sebuah teriakan lain memotong niatannya menjawab pertanyaan Jaejoong.
"JOONGIIEE!"
Kali ini seorang namja berwajah chubby tampak berlari menghampiri Yunho dan Jaejoong ─atau lebih tepatnya menghampiri Jaejoong. Namja berkulit putih itu mengatur nafasnya setelah sampai di hadapan keduanya.
"Ada apa, Chunnie?" tanya Jaejoong penasaran. Pasalnya tidak biasanya teman sekamarnya itu berteriak-teriak seperti tadi. Pasti ada suatu hal yang gawat.
Setelah merasa nafasnya stabil, namja bernama Park Yoochun itu berkata, "Aku mencarimu ke mana-mana. Kenapa kau meninggalkanku? Kau tidak ke gereja?"
Jaejoong menghela nafas kasar. Ia kira apa. Sambil berkacak pinggang Jaejoong berkata, "Aku akan ke gereja dengan Yunho." Membuat Yunho melebarkan matanya tak percaya. Pasalnya ia tidak menjanjikan hal seperti itu. Belum sempat ia protes, teman Jaejoong itu sudah melayangkan protes terlebih dulu.
"Yaaah, Hyung! Apa Hyung masih marah karena semalam tidak kutemani keluar? Aish, Hyung, jebaaal! Masa aku harus ikut rombongan pengurus? Andwae! Aku tidak mau pipiku melar, Hyuuung!" rengek namja berambut pirang itu. Bahkan mata sipitnya mulai berkaca-kaca.
"Kalau kau mau, ikut saja dengan kami. Apa repotnya sih?" balas Jaejoong cuek. Namja cantik itu bahkan memalingkan muka sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Grep!
Dengan tidak berperikekawanan, Yoochun memeluk Jaejoong erat. Bahkan rasanya Jaejoong bisa mendengar suara tulangnya yang retak. "Gumawo, Hyung! Gumawo!"
"Y-yoo-chun-nnie.. lep-ass! Se-saak!" beritahu Jaejoong sambil mencoba bertahan.
"Ah, mianhae. Mianhae…" ucap Yoochun sambil melepaskan pelukannya. Namja berpipi chubby itu juga menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Ah, sepertinya kedua makhluk aneh itu lupa dengan keberadaan satu namja lain yang sedari tadi diam mematung. Menyaksikan keanehan dua namja berkulit putih itu. Setidaknya, Jaejoong segera menyadari keberadaan teman barunya.
"Ah, mianhae Yunho-ah! Aku hampir melupakanmu." Kini Jaejoong berbalik menatap Yunho. "Ini teman sekamarku, namanya Park Yoochun. Dia lebih muda empat bulan dariku." Jaejoong memperkenalkan temannya yang sedari tadi merengek padanya, hingga ia melupakan keberadaan Yunho.
Namja bermarga Park itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mau tak mau, Yunho balas menjabat tangan namja itu. "Naneun Park Yoochun imnida."
"Jung Yunho." Jawab Yunho singkat.
"Jja! Kita harus segera ke gereja. Bukankah kau harus menyanyi nanti, huh?" potong Jaejoong sambil menyeret Yunho dan Yoochun menuju lapangan. Mereka harus berkumpul terlebih dulu di lapangan bersama para penghuni yayasan lainnya sebelum berangkat ke gereja. Mereka akan berjalan kaki ke gereja karena jarak ke tempat tujuan tidaklah jauh.
"Uhm, Hyung!" jawab Yoochun bersemangat.
Sementara Yunho, ia hanya mampu mengulas senyum tipis di bibir hatinya.
.
NOVEMBER WITH LOVE
.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke gereja Tri-Angles itu. Gereja yang berusia puluhan tahun itu masih berdiri kokoh di kaki bukit Shiver. Beruntung gereja itu masih terawat dengan baik. Begitu sampai di sana, rombongan dari yayasan segera mencari tempat duduk. Setiap tahun yayasan itu selalu mengadakan doa bersama ─untuk memanjatkan syukur─ setelah salju pertama turun, jadi tak heran jika anak-anak sudah hafal dengan agenda hari ini. Tapi sayang, satu satunya orang yang belum mengetahui tradisi itu hanyalah Yunho.
Namja tampan itu sedari tadi hanya mengikuti Jaejoong. Sesekali ia melihat lukisan dan ornamen di gereja itu. Yunho cukup kagum dengan bangunan itu, setidaknya meskipun tidak besar, gereja itu masih tetap terawat dengan baik dan indah.
"Yunho-yah! Sini!" Jaejoong memanggil Yunho begitu menyadari Yunho tengah berhenti beberapa meter darinya. Yunho juga melihat seorang yeoja muda tengah berdiri sambil mengukir senyum ramah di bibirnya. Menatapnya senang.
Yunho bergegas menghampiri Jaejoong sebelum namja cantik itu berteriak dan menimbulkan kegaduhan di tempat suci itu. Setelah berada cukup dekat, Yunho menyadari jika Yoochun sudah tidak ada di sana. Menyadari hal itu, Jaejoong menjelaskan.
"Yoochun sedang bersiap-siap dengan teman-temannya. Ia akan bernyanyi bersama grup paduan suara yayasan untuk memperingati hari ini." jelas Jaejoong masih mempertahankan senyuman manisnya.
Yunho mengangguk pelan lalu menatap yeoja di hadapan Jaejoong. Menatapnya heran.
Lagi-lagi Jaejoong menyela, "Ini Suster Victoria. Dia salah satu suster di gereja ini."
"Naneun Victoria imnida. Nuguseo?" ujar yeoja muda itu samba mengulurkan tangannya pada Yunho.
Sedikit ragu, Yunho menjabat tangan suster muda itu. "Choneun Jung Yunho imnida."
Setelah melepaskan jabatan tangan mereka, yeoja berpakaian putih itu berbisik pada Jaejoong, "Neomu kyeopta, ne, Joongie…"
Dan entah mengapa, Jaejoong segera menundukkan kepalanya. Semburat merah muda mulai terlihat di pipinya. Tapi setidaknya ia bisa menyembunyikannya dari namja bermata musang itu.
Tak lama kemudian, Yoochun berjalan tergesa ke arah mereka. Suster Victoria-lah yang menyadarinya terlebih dulu karena Jaejoong masih berusaha menyembunyikan urat (?) malunya dan Yunho yang menatap heran pada Jaejoong.
"Ada apa, Yoochun-ah? Bukankah seharusnya kau segera bersiap-siap?" tanya Suster Victoria setelah Yoochun berdiri di sampingnya.
"Ehm, itu…kami kekurangan anggota. Kami lupa kalau Eunhyuk baru saja diasuh seseorang kemarin jadi kami belum sempat mencari penggantinya." Terang Yoochun lalu menatap Jaejoong dengan pandangan memohon, "Hyung, ikutlah bernyanyi bersama kami, ne?"
Jaejoong, yang sudah mengangkat kepalanya terlebih dulu saat menyadari keberadaan Yoochun di sana, segera melebarkan matanya. "Mwo? Aniyo! Aku tidak mau!"
"Yah, Hyung! Lalu aku harus minta siapa lagi, dong? Aku tidak tahu siapa lagi yang bisa bernyanyi dengan baik selain Hyung. Ayolah, Hyung…"
Jaejoong mengangkat tangannya lalu menunjuk namja bermata musang di sebelahnya, "Yunho saja. Dia bisa bernyanyi dengan baik kok."
"Mwo?"
"Lagipula posisi Eunhyuk kan suara bass, sedangkan kau tahu sendiri kan tipe suaraku tidak terlalu baik di nada rendah." Jelas Jaejoong tanpa diminta.
Sementara Yoochun sedang berpikir, Yunho mengelak pada Jaejoong, "Tapi, Jaejoong-ie… kau kan belum_"
"Ok! Yunho hyung! Ayo, ikut denganku!" potong Yoochun sambil menarik lengan Yunho dan menyeret namja tampan itu ke ruangan lain.
Meninggalkan tawa ringan dari Jaejoong dan Suster Victoria.
.
NOVEMBER WITH LOVE
.
Acara tahunan itu berlangsung lancar, meriah, dan berwarna. Pasalnya inilah kali pertama wajah baru penghuni yayasan itu menampakkan diri. Selama ini ia hanya dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan ketika ia menunjukkan dirinya di antara grup paduan suara itu, semua orang akan menatapnya. Mayoritas menatapnya kagum. Wajah tampan tanpa celah, suara rendah yang terdengar seksi, juga tubuh tinggi proporsional. Bahkan beberapa yeoja yayasan itu tampak enggan mengerjabkan matanya.
Setelah pertunjukkan selesai, para anggota grup paduan suara itu membubarkan diri. Banyak juga anak-anak yang segera keluar dari gereja dan kembali ke yayasan. Mereka diperbolehkan untuk bermain dengan jutaan salju yang turun semalam. Yah, hitung-hitung refreshing.
Tapi ada pula segelintir anak yang masih bertahan di gereja itu. Entah sekedar mengobrol dengan para suster atau melihat-lihat kebun di dekat gereja itu. Lain halnya dengan namja cantik satu ini, ia sedang menunggu kedua temannya yang masih di dalam gereja. Mungkin briefing terakhir dari grup paduan suara.
"Jaejoong-ie!" panggilan rendah itu terdengar manis di telinga Jaejoong. Namja itu berbalik dan melihat teman barunya tengah membawa sebuah plastik berukuran sedang. Setelah sampai di depan Jaejoong, Yunho mengeluarkan isi dari plastik itu dan menyerahkan sebuah kotak berwarna putih. "Itu untukmu."
"Wae?" tanya Jaejoong bingung.
Yunho tersenyum tipis, "Gumawo, karena sudah mengajukanku untuk bernyanyi di sini. Aku senang bisa membantu mereka dan mereka bilang ini sebagai ucapan terima kasih untuk kerja keras kami." Terang Yunho tanpa diminta. Sebuah perubahan besar bagi Jaejoong yang jarang mendengar Yunho bercerita panjang layaknya sekarang.
Seolah teringat sesuatu, Yunho kembali melanjutkan ucapannya, "Ah, iya! Tadi Yoochun bilang ia sedang ada tamu jadi ia akan pulang dengan pengurus yayasan. Dia juga menyuruh kita untuk cepat kembali ke yayasan. Eottae?"
Jaejoong hanya diam, tapi tersenyum kemudian mengangguk.
Saat Yunho mulai beranjak satu dua langkah, barulah Jaejoong berkata, "Besok mari kita bersepeda ke bukit. Pagi hari, sebelum jam pelajaran dimulai. Aku akan menjemputmu."
.
NOVEMBER WITH LOVE
.
Keesokkan harinya…
Seperti janjinya, Jaejoong akan mengajak Yunho ke bukit sebelum jam pelajaran yang akan dimulai pukul 9 nanti. Sekarang masih pukul 6 dan Jaejoong sedang dalam perjalanan ke kamar Yunho. Suasana lorong yang sepi tak kunjung menurunkan semangatnya untuk pergi ke bukit Shiver bersama teman tampannya itu.
Namja cantik itu kini tengah mengenakan kaos V-neck berwarna hitam yang dipadu dengan celana jeans berwarna senada. Di tangannya, sebuah mantel berwarna putih menggantung rapi. Senyum manis terus terukir di bibir merahnya. Sampailah ia di depan sebuah kamar bercat cokelat dengan papan nama 'Jung Yunho'. Lekas diketuknya pintu itu hingga seorang yang ditunggunya tampak di depannya. Yunho mengenakan sweater abu-abu dan celana berbahan katun berwarna sama. Ia telah mengenakan mantelnya dan tampak sedikit terkejut dengan kedatangan Jaejoong.
"Sudah siap?" tanya Jaejoong sambil melebarkan senyumannya. Yunho mengangguk perlahan lalu keluar dari kamar, menutupnya dan menghadap Jaejoong. "Jja!" ajak Jaejoong mulai melangkah mendahului Yunho.
Sementara namja bermata musang itu hanya mengikuti teman barunya dalam diam.
skip time
Rupanya Jaejoong telah menyiapkan segalanya. Ia sudah menyiapkan dua sepeda yang masing-masing keranjangnya telah dipenuhi dengan peralatan piknik. Makanan, minuman, tikar, dan beberapa alat makan. Keduanya bergegas mengayuh sepeda sederhana itu selagi sang mentari masih belum menampakkan wajahnya.
Beruntung pagi itu tak sedang hujan salju. Hanya semilir angin musim dingin yang menyambut aktifitas pagi mereka. Sesekali mereka bercanda dalam perjalanan atau bersenandung ria. Jalanan yang sepi cukup membuat keduanya merasa nyaman. Dunia serasa milik berdua, eoh?
Sesampainya di kaki bukit, Jaejoong mengintruksikan Yunho untuk tidak menaiki sepeda saat jalan menanjak. Namja cantik itu mengajak Yunho berjalan sambil menjalankan sepeda menuju puncak bukit. Tempat di mana Jaejoong biasa menenangkan diri.
Setelah sekian menit berjalan, akhirnya sampailah mereka di puncak bukit itu. Hanya ada sebuah pohon besar yang rindang juga sebuah bangku berwarna cokelat di bawahnya. Jaejoong menyimpan sepedanya di belakang bangku itu, yang juga diikuti Yunho. Namja cantik itu segera mengambil peralatan pikniknya dan menggelar tikar di bawah pohon itu. Meski cuaca sedikit tak bersahabat tapi tak menurunkan niatan keduanya untuk menikmati sarapan pagi di tempat indah itu. Walau tak bisa melihat rerumputan hijau di bukit itu ─karena sebagian telah tertutup salju─ tapi Yunho bisa membayangkan betapa indahnya tempat itu jika ia datang saat musim tak lagi dingin. Mungkin datang saat musim semi atau musim panas tak ada salahnya.
"Yunho-yah! Makanan sudah siap!" kata Jaejoong sedikit berteriak karena sedari tadi Yunho terlihat asyik menikmati pemandangan di sekitar bukit daripada membantu Jaejoong mempersiapkan peralatan piknik.
Tak mau diteriaki untuk kedua kalinya, Yunho segera beranjak dari tempat. Menghampiri Jaejoong dan duduk di sebelah namja cantik itu. Menerima semangkuk nasi beserta sumpitnya. Yunho diperbolehkan memilih lauknya dan ia cukup terkejut begitu menyadari jika di depannya ada beberapa jenis masakan yang dibawa Jaejoong.
Dengan wajah tak percaya Yunho menoleh pada Jaejoong dan bertanya, "Kau yang memasak semua ini, Jaejoong?"
Jaejoong menatap Yunho dengan mata berbinar, tersenyum, lalu mengangguk pasti. "Tentu! Aku bahkan tak sempat tidur hanya untuk menyiapkan semua ini. Jadi jangan sampai ada yang tersisa, oke?" tuturnya dengan sedikit nada perintah di akhir kalimat.
Yunho menelan salivanya paksa. Matanya menatap tajam pada masakan di depannya. Bukannya khawatir tidak bisa menghabiskan semuanya tapi ia takut tak bisa berjalan setelah makan semua makanan menggoda itu.
"Nah, selamat makan, Yunho!" ucap Jaejoong sambil mulai memilih lauk pauk di depannya. Mengabaikan Yunho yang terlambat merespon perkataannya.
Sedikit ragu, Yunho mulai mengulurkan tangannya untuk memilih lauk dan segera memasukkannya ke dalam mulutnya. Dikuyahnya beberapa kali lalu mata musang itu membulat tak percaya.
"Bagaimana? Apakah kau suka, Yunho-ah?" tanya Jaejoong begitu menyadari perubahan raut wajah Yunho.
Hening beberapa detik. Yunho tak menjawab hingga membuat Jaejoong mengerucutkan bibirnya. Hendak mengucapkan beberapa kata, Jaejoong dikejutkan oleh aksi Yunho yang tak ia duga. Namja bermata musang itu segera mengambil beberapa lauk pauk yang lain dan memakannya cepat. Menimbulkan senyum simpul di bibir merah Jaejoong.
"Uhuk! Uhuk!"
"Makanya, kalau makan pelan-pelan saja, Yunho-yah! Lagipula tidak akan ada yang akan merebut semua makanan ini kok." Kata Jaejoong sambil mengelus pelan tengkuk Yunho untuk mengingatkan namja tampan itu.
Yunho meringis, tersenyum polos. Senyum yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun. Setidaknya senyum itu berhasil membuat hati Jaejoong bergetar.
"Kau tahu, Jae. Masakanmu sangat enak. Mashitta!" kata Yunho riang lalu mulai melanjutkan acara makannya.
Tanpa disadarinya, seseorang di sampingnya tengah berusaha menyembunyikan semu merah di pipi putihnya. Dengan ragu, ia mengambil lauk di depannya, menutupi kegugupan yang tiba-tiba menguasainya.
.
NOVEMBER WITH LOVE
.
09.35
Bruk! Grek! Bruk!
Suara gaduh di salah satu sisi pagar yayasan itu terdengar menarik bagi seorang namja paruh baya yang sedari tadi menunggu mangsa. Sepertinya hari ini ia bisa 'menangkap' sang tersangka. Dengan tergesa, namja berperawakan tinggi proporsional itu segera beranjak dari tempatnya. Menghampiri sumber suara yang tak lain berasal dari pintu belakang yayasan. Tempat bagi para pembolos untuk masuk ke yayasan di jam sekolah.
Lima meter di belakang tersangka, namja paruh baya itu menempakkan seringaiannya. 'Gotcha!' pekiknya dalam hati. Dilihatnya dua orang namja tengah mengendap memasuki kawasan yayasan dan hendak masuk ke gedung olahraga kalau saja mereka tidak diteriaki.
"Hei, kalian berdua! Berhenti di situ!" teriak namja paruh baya itu dan segera berlari menghampiri mangsanya sebelum kedua namja santapannya itu kabur. Dilihatnya kedua namja itu tampak mematung.
Begitu sampai di depan kedua pelajar itu, namja bermarga Choi itu menunjukkan raut tak bersahabatnya. Ia mengenali kedua namja yang tak lain adalah penghuni yayasan itu. Satu namja adalah seorang pelajar yang cerdas di segala bidang tapi juga pandai membuat ulah. Sementara yang satunya, sepertinya penghuni baru yayasan ini.
"Ada apa, Siwon Saenim?" tanya salah satu namja itu yang tak lain adalah Jaejoong. Namja bermata bulat itu memutar bola matanya bosan. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi dan itu sudah biasa baginya. Tapi kali ini ia membawa seorang teman, Yunho, yang notabene masih penghuni baru di yayasan itu.
Namja paruh baya bernama Choi Siwon itu sedikit mengerjabkan matanya, menyadarkan diri dari lamunannya yang entah ke mana. Ia menatap Jaejoong garang lalu berkata, "Kau terlambat lagi, Kim Jaejoong! Apa kau lupa jam berapa kelas di mulai?"
Jaejoong mengusap telinga kanannya yang terasa gatal lalu menjawab dengan santai, "Ya, aku tahu, Saenim. Jam 9 kan? Dan aku terlambat sekitar 30 menit. Iya kan?"
Siwon mengalihkan pandangannya pada namja tampan di sebelah Jaejoong ─Yunho─ yang tampak takut, lalu kembali menatap Jaejoong. "Lebih tepatnya terlambat 35 menit, Jaejoong." Siwon memejamkan mata sebentar lalu kembali bertanya. "Jadi kali ini apa penyebab keterlambatanmu, Kim Jaejoong?"
"Tadi kami sarapan di Bukit Shiver sambil menikmati sunrise lalu kami tertidur karena kekenyangan, Saenim." Terang Jaejoong tenang. Sama sekali tidak terlihat menyesali perbuatannya.
Siwon melirik namja di sebelah Jaejoong, kali ini namja berkulit coklat itu menundukkan kepalanya dalam. Mengabaikannya, Siwon kembali berbicara pada Jaejoong. "Baiklah. Alasan diterima. Tapi kau harus tetap menjalani hukumanmu. Bersihkan seluruh taman di yayasan ini dan jangan kembali ke kamarmu sebelum semuanya selesai. Arrachi?"
Jaejoong mengangguk patuh. Tanpa berkata lagi, Jaejoong meraih tangan Yunho dan mengajaknya menjauh dari guru kedisiplinan itu. Namja cantik itu tak merasa bersalah karena terlambat tapi ia merasa bersalah karena ia membawa Yunho dalam masalah ini.
.
NOVEMBER WITH LOVE
.
Sore harinya….
Setelah membersihkan seluruh taman di yayasan itu, Jaejoong mengajak Yunho untuk ke atap gedung. Mereka makan bersama sambil melepas penat karena kelelahan menjalani hukuman. Setelah makan siang yang terlambat selesai, keduanya berbaring menatap langit. Mengawasi barisan awan yang mulai berubah warna menjadi jingga.
"Mianhae, Yunho-ah…" kata Jaejoong memecah keheningan di antara mereka.
"…"
Jaejoong menghela nafas panjang. "Seharusnya aku tak menyeretmu dalam masalah ini dan kau tidak harus melaksanakan hukuman itu. Aku minta maaf."
"….."
Jaejoong memejamkan mata. Menikmati semilir angin musim dingin yang tengah berhembus menusuk kulit di balik mantel tebalnya. Meski terhalang tapi ia masih merasakan dingin.
"Gwenchana."
Jaejoong membuka mata. Ia mendengar Yunho menjawab ─meski terlambat─ permintaan maafnya. Namja cantik itu menolehkan kepalanya, menatap Yunho yang tengah mmperhatikan langit senja.
"Benar kau tidak apa-apa, Yunho-ah?" tanya Jaejoong memastikan.
Yunho menyunggingkan senyumnya. Mengganti posisi telentangnya, menatap namja cantik yang masih menatapnya. "Nan jeongmal gwenchana."
Untuk beberapa saat, Jaejoong mengakui beberapa hal pada diri Yunho. Namja bermarga Jung itu memiliki mata sipit yang tajam namun lembut, alis tebal, hidung mancung, bibir berbentuk hati, dan rahang yang tegas. Untuk sesaat Jaejoong bahkan lupa kalau ia adalah namja.
─(Author: ngarti kagak maksud kalimat terakhir?)─
"Jae… kalau aku boleh tahu, apa cita-citamu?" tanya Yunho yang telah mengubah posisinya menjadi telentang kembali. Membuat Jaejoong juga melakukan hal yang sama.
"Aku…ingin menjadi seorang pemusik. Penyanyi atau pengarang lagu."
"Kau bisa membuat lagu?"
"Hmm, sedikit. Yoochun yang mengajariku."
Hening beberapa saat. Angin kembali berhembus perlahan.
"Lalu, bagaimana denganmu, Yunho-ah? Apa cita-citamu?"
"…"
Jaejoong sedikit menyesal telah bertanya. Tampaknya namja tampan itu masih enggan berbagi masalah pribadi dengannya.
"Untuk sekarang, aku belum punya cita-cita yang pasti. Tapi aku ingin hidup di luar sana. Bukan di tempat ini, terkekang. Meski sebelumnya aku pernah mengalami trauma yang cukup besar, tapi aku sadar cepat atau lambat aku harus siap menghadapi dunia yang lebih besar di luar sana."
Hening lagi. Kali ini Yunho membiarkan ucapannya bergerak bersama angin. Berhembus menembus batas tempat dan waktu.
Tiba-tiba Jaejoong duduk dari posisi telentangnya lalu berkata dengan tegas, "Baiklah. Bagaimana kalau kita mewujudkan impianmu, impianku, impian kita?"
Yunho mengernyitkan dahinya bingung. Namja tampan itu mengubah posisinya, duduk di depan Jaejoong. "Bagaimana caranya?"
Jaejoong tersenyum makin lebar. "Kita kabur dari yayasan ini."
"MWO?"
.
.
TBC
.
.
Yohooo! Aku datang menyeret Chapter 1 untuk para reader-deul…
Ternyata ane dapet ilham dari Changmin (?) untuk melanjutkan ff ini.
Tenang aja, ff ini tidak akan menggunakan konflik berat. Cuma sekedar lovey dovey aja kok.
Btw, suka nggak sama chapter ini? Ini chapter terpanjang yang pernah aku tulis loh… kalo biasanya Cuma 10 halaman ini sampe 14 halaman. Hehehe…. Masih pendek? Mian….
Oh, ya… tak letihnya aku buat berterimakasih sama RedBalloon5 dan NickeYJcassie yang uda bersedia menanggapi keluh kesahku. Hehehe… apapun kurangnya aku, tolong ingatkan agar aku bisa berbenah diri, ne, Unnie-deul…
.
Last one, Review please!
