Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Salary Day?
Cast: EXO Official Couple
Rated: T
Genre: Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Words: 5597
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading

Klek!

Kyungsoo memasuki pintu apartemennya, kemudian ia melepas sepatunya dan meletakan sepatu itu di rak. Ia tersenyum melihat selimut biru lautnya terlipat rapi di atas sofa, sepertinya Kai telah belajar banyak.

"Aku pulang~" sapanya riang. Ia melihat punggung Kai yang masih belum bergerak, lelaki itu masih berdiri di balkon. "Kai? Sedang apa berdiri disitu? Masuklah, kau bisa kedinginan." Kyungsoo memperingatkan, Kai menoleh dan kemudian ia berbalik dari balkon dan mengekori Kyungsoo ke dapur.

"Aku baru saja belanja, jadi kita akan makan banyak hari ini. Oh ya, ngomong-ngomong mulai minggu depan aku akan kuliah. Jadi, aku akan berada di luar lebih lama. Apa kau masih tetap mau bertahan di apartemen kumuh ini? Kalau kau masih mau aku titip apartemenku ya," sambil berkata Kyungsoo dengan cekatan menata belanjaannya ke lemari kecil, dan memasukkan yang lain ke kulkas.

Ia meraih apron yang lagi-lagi bermotif pororo dan memakainya. Tapi ia menyadari bahwa Kai sedari tadi tak menunjukkan ekspresi apapun tapi menatap Kyungsoo terus, lama-lama Kyungsoo merasa aneh. "Kau, duduk saja di meja tengah. Aku akan memasak dulu,"

Dan ketika Kyungsoo mencuci beras, ia lega mendengar suara langkah kaki Kai yang menjauh. Ia memotong daging, dan lobak. Membuat kimbab dan sup jagung mungkin menyenangkan, karena ia lelah dan kedua makanan itu dapat dengan cepat dibuat.

Setelah selesai Kyungsoo langsung menghidangkan makanan di meja, dan duduk berhadapan dengan Kai. Ia makan dengan cepat karena sedari tadi perutnya sudah berteriak minta diisi, namun ia sedikit terganggu melihat Kai yang hanya mengaduk-aduk sup jagungnya.

"Kau kenapa Kai? Apa masakanku tidak enak? Kalau tidak enak aku akan membuatkan-"

"Annio." Kyungsoo tersentak, Kai membuka mulutnya lagi. "O-Oh baiklah. Ya sudah mungkin kau memang tak ingin makan." Jawab Kyungsoo pada akhirnya. Ia jadi takut mendengar suara Kai yang dingin. Kai masih belum menyendokkan sup itu ke mulutnya.

Kyungsoo mendekatkan kimbab ke piring Kai, "Kalau kau tidak suka sup jagung bilang saja, kau makan kimbab ini saja." Kai menggeleng dan menyuapkan sup jagung ke mulutnya, Kyungsoo bernafas lega. "Apa kau ada masalah?" tanya Kyungsoo, meski ia tahu takkan dijawab.

Kai menggeleng, 'Pasti anak ini punya masalah. Ya sudahlah, mungkin memang bukan hakku untuk bertanya. Tapi.. aku penasaran, demi Barack Obama!'

Ting!

Kai mengangkat kepalanya, melihat Kyungsoo menampilkan ekspresi kesal dan mengerucutkan bibirnya. Suara barusan itu adalah suara sumpit yang berbenturan dengan meja. Kai ingin sekali tertawa.

Ia memegang punggung tangan Kyungsoo, dan meremasnya pelan. Kyungsoo menatapnya bingung, tapi Kai hanya menggeleng dan tersenyum kecil. Seolah mengatakan 'Gwaenchana' perlahan Kyungsoo tersenyum.

"Ya, aku mengerti. Maaf aku hanya mudah penasaran,"

. . .

Sehun's House

Sehun, Luhan, dan dua orang teman mereka yang lain yaitu Chanyeol dan Baekhyun makan bersama di rumah Sehun. Sesekali meja makan yang biasanya sepi itu berisik karena pertengkaran kecil Baekhyun dan Chanyeol.

Sehun hanya menanggapi dengan datar, biasanya akan ada Jongin yang menggodanya atau menjadi penengah diantara mereka berlima, meski hanya dengan sikap. Sehun memaklumi Jongin yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan biasanya Sehun dan Jongin hanya bisa berkomunikasi lewat jejaring sosial tanpa membutuhkan suara. Tapi meski begitu, ia tetap sangat dekat dengan Jongin. Apalagi hanya Jongin yang seumuran dan teman Sehun yang paling dekat.

Ya, mereka berempat bersahabat cukup lama. Awalnya Jongin dan Chanyeol, mereka berteman karena berada dalam satu klub basket. Kemudian Sehun datang, ia adalah murid baru, tapi langsung dekat dengan Jongin karena mereka sekelas.

Sementara Chanyeol, lelaki itu bertambah sibuk karena ia masuk ke klub musik apalagi ia sudah mendekati ujian akhir jadi ia belajar serius. Namun lama-lama, Sehun mengenalkan Baekhyun sepupunya pada Chanyeol dan Jongin.

Lelaki manis itu memiliki energi positif dan seperti magnet bagi orang di sekitarnya, semua berjalan normal. Kemudian Sehun datang dan mengenalkan Luhan pada sahabat-sahabatnya, Luhan sendiri adalah seseorang yang lebih tua empat tahun dari Sehun dan Jongin dan dua tahun lebih tua dari Baekhyun dan Chanyeol. Tapi ia masih bisa bersosialisasi dengan mereka karena jiwa mudanya, lagipula tak ada yang percaya kalau Luhan adalah yang tertua di antara mereka.

Semua berubah mulai Jongin datang di pagi hari dengan wajah lusuh dan memar di pipinya, Sehun sampai mengguncang tubuh Jongin karena ia penasaran. Setahunya Jongin bukan orang yang suka berkelahi, apalagi ia adalah anak dari Kim Jongwoon pengusaha sukses jadi ia harus menjaga nama baik keluarganya.

Ternyata justru memar tersebut ia dapatkan dari ayahnya, malamnya ayahnya menyuruh Jongin untuk menyelesaikan urusan sekolahnya dan mulai berpikir di bidang bisnis. Tapi Jongin dengan tegas menolak, meski ia tidak banyak berbicara.

Bahkan Jongin bilang, ia ingin membangun perusahaan sendiri dari awal. Dan ia tidak mau menjalankan KJ corp karena pemberian ayahnya. Ia bukan orang yang seperti itu, ia bahkan rela dihapus namanya dari daftar pewaris.

Sehun yang membaca chat dari Jongin hanya bisa diam, ia tidak pernah tahu kalau Jongin dipaksa sampai seperti itu. Tapi tentu saja, hal itu wajar. Jongin adalah anak laki-laki satu-satunya, dan Jongwoon juga sering sakit. Kalau perusahaan jatuh di tangan yang salah, maka habislah KJ. Siapa yang tak menginginkan perusahaan itu? Perusahaan besar dengan dana yang terus mengalir, memiliki berbagai sektor industri. Semua orang pasti akan berubah jadi iblis kalau berhadapan dengan uang dan kekuasaan bukan?

Itulah maksud Jongwoon, ia ingin KJ yang ia besarkan dengan susah payah bisa terus berjaya untuk Jongin. Ia ingin Jongin membesarkan perusahaan itu sebagaimana yang ia lakukan, ia ingin mengajari Jongin agar anaknya mengerti. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya, dan malam itu berakhir dengan Jongwoon menampar Jongin sampai anak itu terjatuh.

"Sehun!"

Sehun menoleh menatap Luhan yang baru saja menyenggol pundaknya. Ia diam, Luhan terlalu mengenalnya dan itu membuatnya tak bisa berbohong. "Nan gwaenchana." Jawab Sehun sebelum Luhan sempat membuka mulutnya untuk bertanya.

"Orang suruhan appa Jongin pasti menemukannya, Jongin pasti akan baik-baik saja." Luhan menjelaskan, berusaha menguatkan Sehun. "Aku hanya khawatir Lu, kau tahu kan Jongin tidak bisa mengurus dirinya. Ia ceroboh dan keras kepala, appanya telah memblokir kartu kreditnya. Jadi bagaimana mungkin ia bisa makan? Ia bahkan terancam tidak naik kelas dan tidak lulus, ujian kelulusan bahkan sudah di depan mata."

"Jongin sudah dewasa Hunnie, kalau ia tidak sanggup ia pasti pulang. Kalau tidak artinya ia baik-baik saja, bukankah kau sendiri tahu ia keras kepala? Ia takkan menyerah sampai dirinya berhasil kan? Pikirkan ujianmu, kalau kau tidak lulus itu juga bahaya."

"Hei, sudahlah.. Jongin itu pasti baik-baik saja. Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mencarinya," Chanyeol menenangkan mereka semua. Kemudian Sehun mengangkat sebelah alisnya, "Sebenarnya.. apa di antara kalian ada yang tahu mengapa Jongin tiba-tiba kabur? Selain masalah dengan ayahnya, kalau hanya masalah dengan ayahnya Jongin pasti masih menghubungiku tetapi ini. Aku rasa ia bahkan memblokirku di beberapa akun jejaring sosial."

"Mwo?!" tanya Chanyeol, kemudian Chanyeol membuka ponselnya. "Dia juga memblokirku beberapa hari yang lalu. Apa ada hal yang tidak kita ketahui dari Jongin, Hun?" Sehun mengangkat bahunya.

"Chanyeol hyung, sampaikan kabar kalau orang suruhanmu sudah menemukan Jongin."

"Pasti."

.

.

Baekhyun dan Luhan sedang duduk bersama di taman, sementara Sehun dan Chanyeol bermain di dalam. Baekhyun terlihat gelisah, bahkan soda di dalam gelasnya berkecipak karena tangannya sedikit bergetar.

Luhan hanya diam saja, ia tahu Baekhyun. Anak itu selalu bersikap seperti itu kalau ia sedang punya masalah, dan Luhan takkan bertanya sampai Baekhyun sendiri yang akan bercerita. Luhan membuka ponselnya, sudah berpuluh-puluh pesan ia kirim tapi Jongin tidak membalasnya.

Ia sedikit khawatir, bagaimanapun Luhan mengenal Jongin jauh lebih lama daripada Sehun. Hanya saja Sehun tidak mengetahuinya, dan baik Luhan maupun Jongin tidak mau Sehun tahu hal itu.

"Gege,"

"Hm?" Luhan masih belum mengalihkan pandangannya dari ponsel, ia hanya melirik Baekhyun sekilas. "Apakah gege percaya tentang cheotsarang?(cinta pertama)" Luhan menaikkan sebelah alisnya, pertanda bingung.

"Wae?" tanya Luhan bingung. "Cheotsarang, saat paling indah. Saat pertama kali kau mengenal cinta, bukankah itu menyenangkan?" tanya Baekhyun lagi.

"Oh.. tentu saja itu menyenangkan. Cinta pertama adalah memori yang takkan mudah untuk dihapuskan."

Flashback

BRAK!

"Hei!" jerit Luhan tidak terima, gara-gara anak ini ia harus terpental beberapa meter. Belum lagi tubuhnya yang terasa sakit. "Jeongsohamnida!" anak itu berteriak sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

"Kau! Berapa umurmu hah? Kau bahkan bukan anak SMA tapi mengendarai mobil, apa orangtuamu tidak mengajarimu tentang hal ini?!" jerit Luhan kesal, "Jeongsohamnida hyung, a-aku terburu-buru."

"Tidak perduli terburu-buru atau tidak, aku bisa saja membawamu ke kantor polisi terdekat!" bentak Luhan lagi. Anak itu masuk ke mobilnya, "Ya! Bocah tengik! Aish, saekkiya aku benar-benar akan melaporkanmu akkkk!" begitu Luhan akan berdiri, ia harus terjatuh lagi karena kakinya terkilir.

Lalu ia melihat anak kecil itu keluar dari mobil sambil membawa kotak obat kecil, ia duduk di hadapan Luhan. "Aku benar-benar terburu-buru tadi, maafkan aku." Ia mengoleskan obat merah di kaki Luhan yang terkilir.

"Nan yeoja anniya! Aku bisa mengobati kakiku sendiri, dan kau.. kau bilang kau terburu-buru tapi kenapa kau mengobatiku huh?"

"Aku tidak mau melukai seseorang karena aku, namaku Kim Jongin." Anak itu menatap mata Luhan, "A-aku Luhan." Jawab Luhan gugup, tatapan tegas Jongin entah kenapa membuatnya malu. "Luhan? Nama yang bagus, kau bukan dari Korea ya?"

"Memang bukan, aku adalah anak kuliah dan aku harusnya mengikuti upacara penerimaan mahasiswa pertukaran pelajar hari ini. Tapi kau menabrakku, aish." Gerutu Luhan, "Mianhae, apa kau mau aku antarkan?"

"Tidak, kau anak kecil bagaimana mungkin aku diantar oleh anak seumuranmu. Sudah kau pergi saja, aku akan menuju kampusku." Jongin tersenyum, "Kau.. memiliki mata yang indah. Apa hyung tahu, jantungku berdetak tak karuan ketika kau menatapku."

End of flashback

"Cinta pertamaku, datang secara tiba-tiba. Kami saling tertarik meski kami dipertemukan dalam keadaan yang aneh, hanya melalui tatapan mata kami jatuh dalam pesona masing-masing. Namun, itu adalah cinta pada pandangan pertama. Dan kami dipertemukan dua tahun setelahnya, dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk saling mencintai lagi. Karena aku telah mencintai orang lain, yaitu Sehun." Jelas Luhan, jelas tidak ada yang tahu. Bahwa cinta pertamanya adalah Kim Jongin, sewaktu anak itu masih SMP dan Luhan sudah kuliah. Ketika mereka bertemu, justru Jongin dikenalkan Sehun bahwa Luhan adalah kekasihnya. Meski begitu keduanya sering bertukar pesan, dan dari situ Luhan baru tahu Jongin memiliki kelainan.

Mereka bertukar pesan sebagai seorang sahabat. Tanpa sepengetahuan Sehun, karena meski tanpa ada hubungan apa-apa. Luhan tidak mau Sehun tahu hal itu, karena Sehun pasti mengira yang tidak-tidak soal hal itu.

"Lalu cinta pertamamu sekarang bagaimana ge?" tanya Baekhyun. "Dia menghilang. Humph.. entahlah, aku tidak bisa menemukannya." Jawab Luhan datar, berusaha agar Baekhyun tidak mencurigai kata-katanya.

"Tapi ngomong-ngomong, ada apa soal cinta pertama?" Baekhyun mendesahkan nafas panjang. "Nae cheotsarangi.. adalah Chanyeol." Luhan tidak kaget, siapa yang tidak bisa melihat aura cinta dari kedua pasangan berisik itu?

"Lalu?" tanya Luhan bingung, apa jangan-jangan Chanyeol tidak menyukai Baekhyun? "Chanyeol juga menyukaiku, dan kami menjalin hubungan.. dua minggu lalu. Backstreet." Jawab Baekhyun pelan, Luhan terkejut juga. Mengapa Baekhyun dan Chanyeol tidak mengumbar soal itu?

"Wae?" Luhan bertanya penasaran. "A-aku yang meminta. K-karena s-sebenarnya.. itu.. Jongin..."

"Kau ini kenapa? Katakan yang jelas!" Baekhyun langsung menempelkan telunjuknya di bibir, ia takut suara Luhan terlalu besar hingga memungkinkan Sehun dan Chanyeol mendengarnya. "Sebulan lalu, Jongin bilang ia menyukaiku lewat chat, seperti yang gege tahu Jongin tidak pandai berbicara. Tapi aku tidak memberi jawaban, aku bahkan mendiamkannya karena aku selalu terfokus pada Chanyeol."

"Mwo?!" Baekhyun menggigit bibirnya sebelum meneruskan kalimatnya, "Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari Chanyeol apalagi setelah Chanyeol juga seolah berkata ia juga menyukaiku, aku makin berdebar. Chanyeol adalah cinta pertamaku, dan di sisi lain aku tidak bisa menolak Jongin. Aku tidak tega,"

"Sampai kemudian sebelum aku dan Chanyeol jadian, kami sempat berciuman. Berciuman dengan status hubungan yang belum jelas, dan aku tahu Jongin mengawasi kami. Tapi aku tidak bilang pada Chanyeol, aku hanya mau hubungan kita dirahasiakan dulu. Dan masalah-masalah itu datang, Jongin menghilang. Aku takut, hubunganku dan Chanyeol juga menjadi salah satu alasan. Tapi Chanyeol tidak tahu kalau Jongin suka padaku."

"Baekhyun!" mendengar nada suara Luhan yang meninggi Baekhyun hanya bisa menunduk. "Mianhae gege, jangan marah padaku. A-aku tidak bermaksud membuat Jongin seperti ini,"

"Aish.. kalau begitu kita harus mencari Jongin tanpa sepengetahuan Sehun dan Chanyeol."

. . .

Kai, atau mungkin Jongin. Keluar di siang hari ketika Kyungsoo masih kuliah. Ya hari ini Kyungsoo mulai kuliah lagi dan dia akan pulang lebih akhir dari biasanya. Ia menuju sebuah toko kecil dan membeli sim card baru untuk ponselnya.

'Aku harap dengan mengganti sim cardku Sehun, Chanyeol hyung, Luhan hyung maupun Baekhyun hyung tidak bisa melacakku.' Batin Kai, ia segera mengganti nomor ponselnya dengan yang baru.

Ia menatap selebaran yang ditempel di dinding-dinding, selebaran itu mengandung banyak hal. Seperti selebaran diskon, pembukaan tempat wisata baru, konser, festival kembang api, dan yang terakhir orang hilang.

Kai berhenti menatap deretan selebaran orang hilang itu, dan diantaranya ada dua selebaran tentang dia. 'Hm, mereka mencariku? Geurae, kalian tidak akan menemukanku secepat itu. Sebenarnya mereka mencariku karena kepentingan, atau mencariku karena harta?' batin Kai kesal. Ia memakai topi hoodienya dan segera meninggalkan tempat itu.

Kai merobek beberapa selebaran tentang dirinya, takut-takut Kyungsoo melihatnya. Kemudian ia mematahkan simcard lamanya dan membuangnya ke tempat sampah. "Selamat tinggal, dunia lama."

.

..

"Aku pulang. Hah! Lelahnya, ish sudah dosen itu memberiku tugas setumpuk, kali ini Key bujangnim marah-marah lagi. Dia tidak lihat kantung mataku? Masih tega-teganya memarahiku. Dasar tidak berperi-kokian."

"Mwoji?" Kyungsoo yang mengomel-ngomel terkejut ketika merasakan dingin di pipinya. Kai datang membawa sekaleng cappucino dingin. "Eoh? Kau beli? Gomapta!" Kai mengangguk kecil. Kyungsoo meminum cappucino itu dalam sekali tegukan.

"Tinggal bersamaku membuatmu rapi ya? Haha, baguslah itu perubahan yang baik. Jjang!" ia menunjukkan kedua ibu jarinya. Kai hanya tersenyum, "Eyy.. kau tersenyum lagi, teruslah berekspresi. Kau tahu setiap hari aku seperti berbicara dengan patung. Karena kau tidak berbicara, keadaanmu seolah-olah tidak nyata buatku tahu. Aku takut kau adalah seorang hantu,"

'Itu bagus, kalau kau menganggapku hanya sebuah ilusi. Karena aku mungkin tidak selamanya berada disini, karena aku.. baru saja tertarik padamu. Suatu saat nanti, ada saat dimana aku akan pergi. Aku tidak ingin kau memberi harapan, jadi anggap saja aku hanya sebuah bayangan semu yang lama-lama akan tertelan kegelapan.' Batin Kai, ia menatap Kyungsoo yang mulai memejamkan mata.

Kai tersenyum lagi, ia mengarahkan kepala Kyungsoo ke pegangan sofanya yang keras. Tapi sepertinya Kyungsoo tidak terlalu perduli karena terlalu mengantuk. Kai mengambil selimut biru laut yang biasa ia pakai dan memakaikannya di badan Kyungsoo.

"Jaljja."

. . .

Suara mesin-mesin yang mulai beroperasi mengganggu indera pendengaran Kyungsoo, juga suhu yang berubah panas membuatnya terbangun. Kyungsoo menegakkan tubuhnya, dan memijat lehernya yang terasa kaku akibat tidur berbantalkan pegangan sofa.

"Jam berapa ini?" erangnya, ia membuka matanya. Dan langsung membelalak begitu jam menunjukkan angka 10, "AKU TERLAMBAT!" ia langsung melemparkan selimutnya dan berlari ke kamar mandi. Kuliahnya dimulai jam 11 dan ia butuh empat puluh lima menit untuk sampai ke kampusnya, bisa-bisa ia tidak diperbolehkan masuk lagi oleh dosen Lee.

Keringat seakan membasahi tubuhnya, bagaimana bisa Kai membiarkan pemanas ruangan tetap menyala sampai pukul 10 pagi? Dasar! Apa Kai tidak tahu bagaimana prinsip hemat listrik?

Kyungsoo mandi dengan terburu-buru dan memilih satu stel baju berwarna hitam –kebiasaannya- ia kemudian keluar menuju dapur, berusaha mencari sereal instan untuk mengisi perut. Tapi nyatanya di meja ada nasi yang habis dihangatkan (meski overcooked) dan Jajangmyun (dengan kuah yang terlalu hitam)

Tapi masa bodoh, setidaknya Kai telah membantunya untuk makan dengan cepat. Tanpa perduli bagaimana rasanya Kyungsoo memakan semua itu. Ia berusaha tidak menoleh ke arah kompor dan bak pencucian, karena itu pasti mengerikan. Kebiasaan Kai, Kyungsoo tidak tahu apakah di masa lalu Kai tidak bisa mencuci piring. Atau mungkin Kai amnesia, tapi masa ada orang amnesia sampai lupa bagaimana mencuci piring? Ah entahlah, anggap saja Kyungsoo tidak mau tahu karena itu sangat membantu menurunkan emosinya yang mulai memuncak.

Annyeong chingudeul~

Kyungsoo hampir tersedak Jajangmyun keras yang ia makan, ia menyesal berterima kasih. Karena bagaimanapun, apa Kai tidak mencoba masakannya? Bisakah ia membedakan mana mie yang sudah termasak dan mana yang belum?

Tapi demi krabby patty mengapa ada lagu theme song Pororo di rumahnya?! Secinta apapun Kyungsoo pada karakter pinguin berkacamata itu ia tidak akan menggunakan theme songnya sebagai ringtone. Bisa mati dikubur Key kalau ia ketahuan memakai lagu kekanak-kanakan seperti itu.

Tapi tunggu, ringtone?

Kyungsoo bahkan lupa mencharge ponselnya semalam, mungkin ia juga lupa kalau ia punya ponsel. Tidak ada yang menghubunginya, atau mungkin ponselnya sepi karena ia tidak punya waktu untuk mengurus SNS miliknya.

Kyungsoo melangkah, ia berjalan ke arah kamar Kai. Dan membuka pintunya, tetapi kamar itu kosong dan sudah rapi. Lagu itu masih berdering, dan Kyungsoo meraba kasur kemudian ia menemukan sebuah ponsel yang lebih bagus dari miliknya.

"Igeo mwoya? Ponsel siapa sebagus ini?" gumam Kyungsoo, di panggilan tersebut adalah sebuah nomor yang tidak tersimpan. Tapi entah mengapa Kyungsoo mengangkatnya, siapa tahu itu panggilan penting bukan? Tanpa melihat siapa yang menghubungi Kyungsoo menerima panggilan tersebut.

"Yeobboseyyo?" Kyungsoo berkata dengan sangat pelan. "Chukkahamnida! Karena anda telah membeli sim card ini, anda adalah pengunjung ke seratus. Anda mendapatkan bonus panggilan selama 60 menit dan souvenir yang bisa diambil-"

"Heeh, aku kira apa." Kyungsoo langsung memutuskan panggilan tersebut. "Tapi, nomor sim card baru? Berarti Kai baru saja membeli nomor baru? Untuk apa?" gumam Kyungsoo. Ia mengembalikan ponsel itu, namun matanya melirik pada dua huruf yang ada di cover ponsel. 'KJ' huruf yang sepertinya sering ia lihat.

"KJ? Mwoya.. mungkin hanya kebetulan, aku rasa aku terlalu sering menonton film." Kyungsoo memandang jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. "S-Setengah sebelas? AAA eotteokhae? Eomma! Aku terlambat! Aish, dasar pororo!" setelah menyumpahi ponsel Kai, Kyungsoo buru-buru berlari meninggalkan apartemennya.

Luhan's restauran

Kyungsoo mengawasi Sulli yang sedang mengelap jendela, anak itu meski kerjanya hanya bersih-bersih ia melakukannya dengan baik. Meja pengunjung sudah bersih sedari tadi, benar-benar pegawai rajin.

Tubuhnya tidak bersemangat, tugas dosen Park yang kemarin saja belum selesai hari ini dosen Lee menghukumnya karena terlambat. Hidup menjadi seorang mahasiswa memang tidak adil, selalu tersiksa tugas.

"Oppa! Musun iriya?" Sulli menepuk bahu sempit Kyungsoo dari belakang. Kyungsoo diam, "Ada masalah? Apa kuliahmu bermasalah? Apa nilaimu turun? Atau ujianmu gagal? Atau mungkin kau dikeluarkan?!"

"Yaish, shikkeureo!" bentak Kyungsoo, "Ups hehe." Sulli menutup mulutnya. Kyungsoo sedang menghias kue yang akan dipajang di etalase toko. "Nan gwaenchana." Jawab Kyungsoo sekenanya.

"Gotjimal. Aku tahu bagaimana Kyungsoo oppa, kalau ia tidak memandang mataku berarti ia sedang menyembunyikan sesuatu." Goda Sulli. Kyungsoo menghembus nafas dalam. "Hmm, geurae. Aku memang berbohong, aku tidak ingin membicarakannya Ssul."

"Ah.. begitu, baiklah. Aku akan pergi, bye-bye!" Sulli baru saja akan meninggalkan tempat itu tapi Kyungsoo menahan lengannya. "Ssul," panggilnya. "Hm?"

"Kau.. ponselmu berapa harganya?" tanya Kyungsoo, ia baru saja melihat Sulli memainkan ponselnya, itu mirip dengan milik Kai. "Ah, ponsel ini aku beli beberapa bulan yang lalu. Mungkin harganya sekarang lebih murah, terakhir kali aku tahu enam ratus lima puluh ribu won. Tapi sekarang ada yang lebih baru, dan harganya satu juta won! Sesange~ aku harus masuk kuliah yang bagus dulu supaya aboeji mau membelikan. Kenapa? Apa oppa mau beli ponsel baru?"

"Haish.. anniyo. Tidak mungkin aku beli ponsel seharga satu juta won kalau apartemenku masih berwujud seperti itu! Memang penghasilanku sebanyak aboejimu apa? Kau ini! Sudah sana kembali kerja!"

"Ey.. dasar, oppa pasti PMS." Gerutu Sulli, Kyungsoo tidak menjawab meski kata-kata itu mengganggunya. Yang lebih mengganggunya, ponsel Kai keluaran terbaru sepertinya, bahkan segelnya belum sepenuhnya dilepas.

"Satu juta won." Gumam Kyungsoo, kalau Sulli punya ponsel itu maka itu adalah hal wajar. Ayah Sulli adalah seorang profesor, ia bekerja hanya untuk mengisi waktu luang saja. Sementara ibu Sulli adalah Jaksa, sudah jelas keluarganya berkecukupan. Tapi untuk Kai.. bagaimana mungkin ia memiliki ponsel seharga satu juta won ketika ia menumpang di rumah Kyungsoo tanpa membawa apa-apa? Bahkan kalau saja Kai punya, berarti Kai orang kaya kan? Orang kaya mana yang tidak tahu bagaimana cara menempatkan sesuatu seperti Kai?

Sementara Kyungsoo, ia sudah bekerja mati-matian. Tapi ponsel yang ia punya bahkan harganya tidak sampai lima ratus ribu won, menyedihkan bukan?

"Sudahlah, mungkin Kai memang sungguhan lupa ingatan." Kyungsoo tak ingin membahas hal ini dan memilih melanjutkan pekerjaannya.

Sehun's house

"Para pesuruhku tidak bisa menemukan Jongin, padahal mereka telah menempel pengumuman seharga satu juta won." Gerutu Chanyeol, ia memetik-metik senar gitarnya tak beraturan. Menimbulkan suara yang mengganggu telinga.

"Aku sudah mencoba melacak nomor ponselnya melalui GPS, tapi sepertinya ia memasang alat pemblokir pelacakan. Dan ia juga mengganti nomor ponselnya, anak gila satu itu." Gerutu Sehun, matanya tak lepas dari layar laptop miliknya.

"Sepertinya ia berencana benar-benar menghilang, sudahlah. Mungkin ia punya alasan, kalau ia memblokir semua situs yang ia miliki berikut juga dengan akun jejaring sosialnya maka itu tandanya ia masih hidup. Kita tidak perlu mengejarnya, kau juga tahu bagaimana Jongwoon-ssi memperlakukan Jongin. Seperti algojo menawan tawanannya, Jongin tidak bisa memberontak karena belenggu tak kasat mata itu. Mungkin sekarang ia telah bahagia di tempat lain, mendapat kebebasan yang tidak bisa ia rasakan. Kita harus pikirkan sisi itu juga," jelas Chanyeol.

"Kau benar, aku hanya khawatir bagaimana keadaan anak itu. Apakah ia hidup di tempat yang layak?" Chanyeol terkekeh. "Harusnya, kau tahu kan mana mungkin Jongin hidup di tempat yang kumuh? Anak itu gengsinya tinggi sekali, ia pasti tidak bisa bertahan di tempat yang kecil dan jelek. Mungkin ia ada di luar negeri, uang mereka kan tidak pernah habis meski dipakai bersenang-senang."

"Tapi hyung, maid Jongwoon-ssi bilang ayahnya telah memblokir kartu kredit Jongin." Chanyeol diam, "Tapi Jongin belum kembali kan? Anak itu keras kepala Hun, kalau kita melihat ia merangkak di halaman rumahmu ini barulah saat itu kita tahu Jongin sedang menderita. Kalau mendengar kabar darinya saja tidak, maka ia baik-baik saja. Keokjong hajima~"

"Eum." Sehun menyalakan ponselnya, niatnya ingin bermain game.

Battery Low

"Mwoya.." kesal Sehun, ia kemudian mendatangi Luhan yang sedang membaca tabloid di ruang tamu Sehun. "Baby Lu~" panggil Sehun manja, Luhan menutup tabloidnya.

"Wae uri adeul?" jawab Luhan sambil menggoda, ia dan Sehun sangat suka menggunakan panggilan yang lucu. mungkin karena Sehun belum sepenuhnya dewasa, dan Luhan adalah orang yang lumayan childish.

"Pinjam ponsel~" Luhan mencium pipi Sehun cepat, "Dasar. Aku kira kenapa," Sehun terkekeh dan memainkan ponsel Luhan di sudut sofa. Sementara Luhan kembali sibuk dengan tabloidnya.

Sehun baru saja ingin membuka aplikasi mainan, namun matanya sedikit terganggu melihat jendela pemberitahuan Luhan. 'Pesan tak terkirim?' batin Sehun. Ia membuka jendela pemberitahuan itu, pesan itu tak terkirim tetapi semua pesan itu dikirim ke nomor yang sama.

To: 0112***

Neo eoddiya?

To: 0112***

Kau kenapa? Apa ada masalah?

To: 0112***

Sehun dan Chanyeol mencarimu, cepat pulang.

To: 0112***

Jongin. Apa kau tidak perduli kepadaku?

To: 0112***

Semua pesan dan panggilanku gagal, kau menonaktifkan ponselmu?

To: 0112***

Setidaknya kalau kau tidak ingin pulang demi aku, lakukan demi teman-temanmu. Atau kau tidak perlu pulang, kabari saja dimana kau?

To: 0112***

Apa kau pergi gara-gara kau ditolak Baekhyun?

To: 0112***

Kalau iya, maka kau pengecut. Kau tahu Baekhyun mencintai Chanyeol, jangan memaksakan cinta. Ingat kau bisa merelakan aku bersama Sehun, harusnya kau bisa melakukan hal yang sama pada Baekhyun.

To: 0112***

Cepat pulang Kim Jongin, jebal.

Rahang Sehun mengeras membaca pesan-pesan itu, ada hubungan apa Jongin dengan Luhan kekasihnya dan Baekhyun sepupunya? Benarkah sejauh itu? Mengapa Sehun sebagai sahabat terdekat Jongin tidak pernah diberitahu?

Atau mungkin... Jongin tidak bisa mengungkapkannya?

'Benar, Jongin untuk berkomunikasi secara normal saja ia kesusahan bagaimana bisa ia menjelaskan semua itu? Seharusnya sebagai teman aku mengerti, apa mungkin cinta pertama yang pernah aku tanyakan ke Jongin adalah Luhannie? Jongin bilang kalau cinta pertamanya tidak tahu bagaimana dia kan? Ia hanya mengikuti cinta pertamanya selama beberapa minggu saja, kemudian cinta pertamanya tidak ditemukan lagi dan pindah ke luar negeri. Dan Luhannie memang baru saja ke luar negeri sampai perkenalan kami, dan aku mengenalkannya kepada teman-teman.' Batin Sehun. Ia ingat mata Luhan tidak bisa lepas dari Jongin, dan Jongin meski ia tidak menatap Luhan ia malah mengalihkan pandangan dari Luhan. Seolah-olah kekasih Sehun itu tidak ada.

'Kenapa aku tidak peka?!' Sehun menjerit dalam hati, ia tidak marah sungguh. Karena Jongin justru menghormati Luhan menjalin hubungan dengan Sehun. Ia hanya menyesal, kalau tahu bahwa cinta pertama Jongin adalah Luhan tentu Sehun akan meminta maaf. Ia mungkin akan marah kalau jadi Jongin, cinta pertamamu malah menjalin hubungan dengan sahabatmu. Tapi Jongin tidak..

'Ingat kau bisa merelakan aku bersama Sehun, harusnya kau bisa melakukan hal yang sama pada Baekhyun.' Pesan Luhan terngiang-ngiang di benaknya. 'Apa maksudnya itu.. ditolak? Apa jangan-jangan Jongin menyukai Baekhyun dan menyampaikan perasaannya? Aish bocah sialan itu, kenapa ia harus jatuh cinta dengan kekasih teman-temannya?!' kesal Sehun. Ia tidak marah, ia hanya merutuki ke-tidak beruntungan Jongin dalam urusan percintaan.

"Lu.."

"I-ya?" jawab Luhan ragu, sedari tadi Sehun memegang ponselnya ia tidak mendengar suara game yang biasa Sehun mainkan. Tapi ekspresi Sehun serius sekali, jantung Luhan rasanya seperti drum yang dipukuli dug dig dag!

"Kau.. ada hubungan apa kalian?" tanya Sehun dengan suara rendah. Skakmat! Luhan bisa merasakan kakinya seolah tak bertulang di bawah sana, "K-Kalian?" Luhan menjawab terbata. "Iya, kalian. Jongin, kau, dan Baekhyun."

"Aigoo Sehunnie mianhae! Aku benar-benar tidak selingkuh! Sungguh, jangan marah kepadaku ataupun Jongin. Kami tidak selingkuh di belakangmu, aku bersumpah! J-Jongin adalah kenangan di masa lalu, hanya saja kebetulan kami bertemu secara tiba-tiba! Maafkan akuuuu~" Luhan menghambur ke sisi Sehun, rasanya ingin menangis sekarang juga.

Tiba-tiba sekelebat bayangan Kyungsoo muncul. 'Gege, Kau hanya uke yang tertindas oleh anak SMA.' Luhan kesal karena sepedas apapun kata-kata Kyungsoo, yang ia nyatakan adalah kejujuran. Yang Luhan suka sekaligus benci dari Kyungsoo adalah ia anak yang jujur, Luhan jarang mengetahui kalau Kyungsoo berbohong. Tapi karena kejujurannya itu, Kyungsoo jadi jarang menyaring kata-katanya.

"Lu, jangan menjerit heboh. Aku kan tidak menuduh kalian berselingkuh, yang aku tanya kalian ada hubungan apa?" Sehun memecah keheningan. "Eh? Kau tidak marah?" Sehun mengangguk. "Yaksokhae, aku tidak akan marah. Jadi sekarang berceritalah kau ada hubungan apa?"

"Dia cinta pertamaku, aku tahu ia sering mengikutiku. Dan waktu itu aku sempat tertarik, tapi hanya tertarik. Kemudian aku kembali ke China, dan ya.. ketika aku kembali kau mengenalkan aku pada teman-temanmu dan disana ada Kim Jongin."

"Oh.. lalu? Apa hubungan kalian dengan Baekhyun hyung?" Luhan mengendikkan bahunya. Kemudian ia menarik bahu Sehun agar ia bisa berbicara dengan pelan. "Aku tidak tahu dnegan jelas hubungan Baekhyun dengan Jongin. Yang aku tahu, Baekhyun kemarin bilang Jongin sempat menyampaikan perasaannya tapi Baekhyun tidak perduli. Kemudian ia menolaknya, dan beberapa saat sebelum Jongin pergi, ia melihat Chanyeol mencium Baekhyun. Padahal sejujurnya Baekhyun dan Chanyeol belum berpacaran, mereka backstreet dari kita beberapa hari ketika Jongin menghilang."

"Jinjjha?" Luhan mengangguk. "Aku merasa bersalah pada Jongin, aku tidak tahu kalau kau cinta pertamanya Lu." Luhan menyandarkan kepalanya ke bahu Sehun. "Na do molla, aku tidak tahu kau sahabat Jongin."

"Kalau begitu, aku tidak akan mengusik Jongin lagi. Mungkin ia perlu waktu, bagaimana mungkin ia bertahan di antara kita dengan masalah ini, kalau Jongin tidak ingin kembali dalam waktu dekat, maka kita tidak akan mencarinya juga. Ia butuh privasi,"

"Sejak kapan kau dewasa Hunnie?"

"Sejak aku tahu kau seperti anak-anak Lu." Luhan menjitak kepala Sehun, "Biar bagaimanapun aku lebih tua empat tahun darimu Hun! Empat! Panggil aku gege!"

"Shireooo~"

. . .

Tek!

Kyungsoo terkejut, ia tertidur di meja cafenya. Dan ketika ia membuka mata, orang yang pertama ia lihat adalah Key sedang menggebrak mejanya. "Aish bujangnimm! Aku ini lelah, lagipula cafe juga sudah tutup. Jangan bangunkan aku."

"Justru karena cafe sudah tutup aku membangunkanmu, kenapa kau belum pulang?" tanya Key lalu duduk di depan Kyungsoo. "Bujangnim tidak lihat hujan deras? Bagaimana mungkin aku pulang kalau aku tidak membawa payung? Heul,"

"Oh, kau pakai saja payungku. Ada di meja resepsionis, ini aku ambilkan teh. Minum ini untuk menghangatkan tubuh." Kyungsoo berbinar, "Jinjjha? Aku boleh meminjam payungmu? Aigoo gomapta, tumben sekali bujangnim baik padaku. Jjang deh~" Kyungsoo meminum teh hangatnya.

"Ya! Kau ini, aku kan sudah bilang aku ini sebenarnya baik, hanya kau membuatku kesal. Jadi aku suka memarahimu, sudahlah aku pulang dulu, aku sudah dijemput."

"Ehem, dijemput calon suami. Selamat berkencan bujangnim~ saranghaeyo."

"Diam kau kerdil! Cepat pulang dan kunci cafe ini!" Kyungsoo tertawa kecil. "Arasseo."

Setelah mengunci cafe Kyungsoo berjalan dan memayungi dirinya dari hujan deras. Untung saja jarak apartemennya dekat dengan cafe. Kalau jauh bisa-bisa ia membeku kedinginan di jalan. Baiklah, maklumi saja Kyungsoo suka mengeluh. Mungkin kalau mengeluh itu adalah berlian, Kyungsoo sudah bisa merenovasi apartemennya menjadi istana kerajaan.

Ia menaiki apartemennya dan memasuki pintunya. "Aku pulang~" Kyungsoo melipat payung dan meletakkan sepatunya. "Guk~" mata Kyungsoo membelalak, hewan berbulu putih berhenti di depannya.

"KYAAAAAA! KAIIII!" jeritnya, ia langsung naik ke atas pot bunga. Kai datang dengan tergopoh mendengar jeritan Kyungsoo. "Kau.. apa kau yang membawa makhluk berbulu itu masuk apartemenku? Hattchiw!"

Kai mengangguk, ia menggendong makhluk berbulu-anjing- itu. "Kau.. kau boleh membawa apapun masuk kemari asal jangan makhluk berbulu. Aku tidak bisa, aku hattchiiww alergi." Jelas Kyungsoo susah payah.

Kai menatap Kyungsoo dengan puppy eyes andalannya, begitu pula dengan anjing tersebut. Telinga anjing itu jatuh di sekitar pipinya, memandang memelas. "Baiklah, terserah kalian. Hattchiw Kau boleh menjaga anjing itu, asal jangan sampai dekat denganku dalam jarak lima meter."

"Kalau saja dia tahu setelah aku menghilangkan Kai aku menderita alergi hebat pada hewan berbulu. Hatchiww! Aish, mengganggu saja." Kyungsoo menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil, kemudian menuju ke dapur.

Ia membuang sisa jajangmyun gagal milik Kai ke tempat sampah, kemudian mencuci piringnya. Ia mendengar langkah kaki Kai masuk ke dapur, "Jaga jarak lima meter!" Kai mengangguk dan duduk di sudut dapur.

"Kai, aku mau menasehatimu. Kalau menghangatkan nasi, kau bisa melihat timer di magic com ini kan? Kau harus menekan angka 15 menit, agar tidak menjadi overcooked. Dan memasak Jajangmyun, kau menuangkan terlalu banyak bumbu. Juga mienya belum matang Kai, terlalu keras. Lain kali kalau Mie itu terasa kenyal di lidah baru kau bisa mematikan airnya."

Kai hanya mengangguk, kemudian ia keluar dan mengambil sebuah handuk untuk Kyungsoo. Dari belakang ia mengeringkan rambut Kyungsoo yang sedikit basah karena terkena tetesan hujan. "Gumawo." Bisik Kyungsoo.

"Hm," jawab Kai. "Whoa, kau mengeluarkan suara lagi. Daebak~" Kai menutup mulutnya, secara reflek ia menutupkan handuk itu ke kepala Kyungsoo yang masih memasak. "Yak, Kai!" gerutu Kyungsoo.

Mereka makan bibimbab buatan Kyungsoo dengan damai, sementara anjing milik Kai makan di dekat balkon. "Kai, aku mau tanya." Kai mendongakkan kepalanya, "Tadi pagi, kau kemana? Ah tunggu jangan dijawab!" Kyungsoo berlari ke kamarnya dan keluar dengan sebuah memo dan pensil.

"Kali ini kau harus menjawa, arachi?" Kai mengangguk, ia menuliskan 'Taman' di memo tersebut. "Oh kau pergi ke taman, kenapa kau tidak membangunkanku aku terlambat tahu haha. Lalu, kalau pagi menjelang kau matikan penghangat ruangannya, kita harus hemat listrik. Tagihanku bisa membengkak kalau kau membiarkan perabotan menyala."

'Kau kedinginan, hyung.'

"Benarkah? Tapi alasan aku terbangun karena aku kepanasan, baiklah lupakan. Hyung?" tanya Kyungsoo heran. Kai kembali menuliskan sesuatu di memo itu. 'Karena kau baru kuliah, kau lebih tua setahun dariku.' Kyungsoo hanya mengangguk.

"Ah iya! Ponsel! Tadi pagi aku menemukan ponsel Kai, apa itu milikmu?" Kai meletakkan sendoknya ke mangkok hingga terdengar bunyi dentingan kecil. Ia mengangguk, "Oh, itu milikmu. Tidak apa-apa, hanya panggilan dari pemilik konter ponsel. Katanya kemarin kau pembeli ke seratus, jadi kau berhak mendapatkan souvenir." Jelas Kyungsoo.

"Maaf aku lancang mengangkatnya, hanya saja ponsel itu berdering dan tak ada yang mengangkat. Aku kira itu adalah panggilan penting," Kai meraih kertas itu, 'Tidak apa-apa.' Kyungsoo merasa lega membacanya.

"Baiklah, lain kali kalau kau pergi jangan lupa membawa ponselmu ya!" Kyungsoo mengambil mangkok miliknya dan milik Kai, berencana mencucinya. Namun ketika ia berbalik, Kai malah memeluk pundak sempitnya dari belakang.

"Deulleo, gomapta, hyung." (Listen, thanks, hyung) Kyungsoo mematung, ia mencengkram mangkok yang ia pegang. Suara Kai begitu tegas, juga pelukannya yang hangat. "Terima kasih untuk apa?" Kai melepaskan pelukannya, Kyungsoo menatap Kai namun lelaki itu hanya menggeleng.

"Dengar Kai, kau memiliki suara. Aku tahu kau tidak bisu, dan aku tahu kalau kau tidak memiliki kesulitan dalam berbicara. Suaramu tegas, tidak terbata, kalau yang di halte itu karena kau kedinginan kan? Aku tidak tahu apa alasanmu, tapi kau tidak harus menyembunyikan suaramu. Jangan berdiam, kalau kau diam orang tidak akan tahu maksudmu. Orang akan semena-mena terhadapmu karena mereka pikir kau tidak melawan. Tapi sekarang kau disini, di apartemenku. Dimana hanya ada aku dan kau, aku tidak akan marah kepadamu atau memperdayamu bukan? Jadi kalau kau ingin bicara, bicara saja. Arasseo?"

"Hm." Balas Kai singkat. "Ish, aku berjanji akan membuatmu berbicara suatu saat nanti." Kyungsoo kembali menuju dapur, sementara Kai masuk ke kamarnya. Perkataan Kyungsoo sedikit mengganggunya.

'Jangan berdiam, kalau kau diam orang tidak akan tahu maksudmu. Orang akan semena-mena terhadapmu karena mereka pikir kau tidak melawan.'

Ia jadi teringat wajah ayahnya, ayahnya yang keras. Ia rasa ayahnya ada benarnya juga, selama ini ayahnya menyuruhnya melanjutkan KJ di usia dini, agar ia mengerti. Agar ia tidak mudah tertipu, kalau ia menjalankan usaha dari awal akan lebih banyak tantangan bukan? Apalagi ia anak tunggal, akan susah membagi konsentrasi antara KJ dan perusahaan yang baru.

"Aboeji.." batin Kai lirih. Ia mengerti bagaimana Jongwoon menjaga KJ corp dengan baik, seluruh waktunya tercurah hanya untuk KJ dan keluarganya. Jongwoon adalah ayah yang hebat, namun ia juga keras. "Aboeji mianhatta."

Kai memejamkan matanya, kalau dirasa-rasa ia butuh pulang. Ia telah mengganggu kehidupan Kyungsoo, mengacaukan dan menyusahkan lelaki mungil itu. Lalu keluarganya, ayahnya yang sakit-sakitan. Teman-temannya.. sekolahnya yang terbengkalai.

'Aku harus pulang,' batin Kai.

TBC._.

maaf php, tapi ini terlalu panjang buat dijadiin end._. jadi aku bagi 2 part.

dan part terakhir aku publish minggu atau senin maybe :) jangan marah T.T

RCL?^^