Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Salary Day?
Cast: EXO Official Couple
Rated: T
Genre: Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Words: 5870
BGSound: Wendy SM Rookies - Because I Love You
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading

Kyungsoo menghias kue ulang tahun yang dipesan, untuk seseorang bernama Park Chanyeol. Pesanan itu baru sampai tadi pagi, Kyungsoo menaburkan permen kecil berwarna-warni di atasnya. Kue yang ia pakai adalah kue dengan tekstur yang lembut, dengan krim tiramissu bercampur dengan whip cream.

Tulisan 'Happy Birthday YeollieYoda' tercetak dengan jelas di atas kue tersebut. Setelah menambahkan beberapa potong anggur kecil, Kyungsoo menyimpan kue tersebut di kotak dan memasukkannya ke dalam freezer.

Kue itu adalah kue terakhir, hari ini kuliahnya libur karena dosennya sakit dan ia hanya kerja setengah hari. Dengan riang ia pulang, menaiki bis yang sepi. Hal yang jarang ia lakukan karena akhir-akhir ini ia kena shift sampai malam sehingga ia sering ketinggalan bis yang menuju ke apartemennya.

Ia mampir ke restauran ayam goreng, dan membeli satu kotak ayam goreng untuk Kai. 'Anak itu pasti senang aku datang membawa ini, dia kan chicken mania.' Dengan riang ia berjalan ke apartemennya.

"Kai-ya, aku pulang!" sahutnya ringan, namun yang ia lihat Kai telah duduk dengan rapi di ruang tamunya. Kyungsoo mengernyit bingung, Kai terlihat segar. Rambutnya tertata, dan sepertinya baju yang ia pakai adalah baju baru-bukan baju Kyungsoo yang kekecilan untuknya lagi-.

"Kau mau pergi?" tanya Kyungsoo, ia meneguk air putih. Ia meletakkan kotak ayam goreng itu di meja dapur. Kai mendekatinya dengan buku memo, Kyungsoo tambah bingung. Kai membuka halaman pertama memo tersebut.

'Kyungsoo hyung gumawo.'

Halaman kedua: 'Karena kau mau menampungku beberapa minggu ini, kau mengajarkanku banyak hal.'

Halaman ketiga: 'Aku merasa senang, untuk pertama kalinya semenjak aku kehilangan eommaku, aku merasakan kehangatan. Akhirnya ada orang yang mengomeliku, aku senang berada disini.'

Halaman keempat: 'Tapi aku tidak bisa selamanya disini, aku punya kehidupan. Aku tidak ingin menyusahkanmu, jadi mungkin hari ini adalah hari terakhirku berada disini.'

"Mwo?" hanya itu ekspresi yang bisa Kyungsoo keluarkan, sebelah tangannya meremas kantung plastik yang membungkus kotak ayam goreng milik Kai. "Aku.. aku harus pulang. Sejujurnya aku saat ini sedang menyembunyikan diriku, kalau saja kau pernah melihat selebaran orang hilang yang ada di jalan, salah satunya ada data-dataku." Kyungsoo menahan nafas, entah mengapa bernafas rasanya susah sekali. Mendengar suara Kai, ini adalah kata-kata paling panjang yang pernah Kai ucapkan.

"Tapi tanpa pernah tahu siapa aku, kau menampungku. Kau memperlakukan aku seperti adikmu, aku senang sekali. Tapi aku sadar, tidak selamanya aku bisa bersamamu. Ini bukan tempatku, aku tidak berhak berada disini. Kita punya kehidupan yang berbeda, benar bukan?"

"Jadi, aku akan pergi. Dan setelahnya kita bisa menjalankan kehidupan normal kita yang lama, aku dan kehidupanku. Kau dengan kehidupanmu sebagai koki dan juga seorang mahasiswa," jelas Kai, ekspresi wajahnya datar sekali.

'Aku selalu ingin kau berbicara, tapi.. entah mengapa saat ini aku mengharapkan kau dan kediamanmu itu. Semakin kau berbicara, semakin kau mengejutkanku. Dan kata perpisahan yang kau sampaikan, entah mengapa aku tidak rela Kai. Tapi kau benar, kita punya kehidupan kita masing-masing.'

"G-Geurae. Tidak apa-apa kalau kau ingin pergi, maafkan aku selalu mengomelimu. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya terlalu cerewet hehe. Tapi tak bisakah kau tinggal untuk malam ini? Aku.. aku terlanjur membelikan ayam goreng spesial untukmu, bukankah kau suka?" tanya Kyungsoo.

Kai tersenyum, "Tentu.. aku akan tinggal. Terima kasih lagi hyung, berkatmu aku menemukan kepercayaan diriku untuk berbicara kembali."

Mereka memakan ayam goreng dengan diam, Kyungsoo memakan makanannya dengan lambat. Tiba-tiba rasa pusing menjalari kepalanya, kilasan-kilasan tentang pertemuannya dengan Kai yang tiba-tiba. Ia sungguh tidak menyangka bahwa ia juga harus berpisah dengan Kai secara tiba-tiba pula.

Hari mulai beranjak sore, dan Kyungsoo yang justru seolah-olah kehilangan kata-katanya. Ia hanya diam, tubuhnya lemas. Kai bahkan bukan siapa-siapa tetapi kata perpisahan membuat Kyungsoo kepikiran seperti saat ini.

TEEET!

"Kai, tolong bukakan pintu. Aku akan mencuci piring," Kai mengangguk. Kyungsoo berjalan ke dapur, dan Kai menuju ke pintu. Ia membuka pintu tanpa curiga, dan ia juga tidak bisa mengintip karena apartemen Kyungsoo ini tidak punya intercom.

"Kyungsoo ayo kita pergi ke- JONGIN?!" Kai mematung, ia tidak menyangka ia akan bertemu Luhan dan Baekhyun. Di depan matanya, di apartemen Kyungsoo. Orang yang tidak ia kenal sebelumnya, apa dunia memang sempit?

"Kau.. apa yang kau lakukan di apartemen Kyungsoo? Kemana saja kau selama ini?! Kenapa kau tidak membalas pesanku? Dan astaga, bagaimana bisa kau ada disini sementara kami telah mencarimu kemana-mana?" bentak Luhan. Kai mencoba menenangkan dirinya, ia menarik nafas panjang.

"Kyungsoo hyung di dalam." Baekhyun dan Luhan terkesiap, mendengar suara Jongin lagi. Jongin sangat jarang bersuara, dan ketika ia berbicara biasanya akan terdengar agak terbata. Tapi kali ini tidak, suaranya sangat tegas.

"Kyungsoo hyung?! Luhan ge, ada apa ini? Mengapa temanmu mengenal Jongin?" tanya Baekhyun. Kai atau Jongin, mempersilahkan mereka masuk. Namun ia masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar itu. Luhan dan Baekhyun masih belum bisa memproses apa yang terjadi, namun mereka masuk ke apartemen kecil itu.

Kyungsoo baru masuk, ia baru saja menjemur seprai tempat tidurnya di balkon. "Loh, Luhan gege? Ada apa ribut-ribut? Kai mana?" tanya Kyungsoo polos. "Kai?" tanya Baekhyun, Kyungsoo mengangguk. "Kai itu err dia teman baruku, ia ada disini selama beberapa minggu tapi sudah akan pulang. Kau siapa? Teman Luhan gege ya? Aku akan membuatkan minum, tunggu sebentar."

"KYUNGSOO! Kenapa kau tidak bilang? Kenapa kau menyembunyikan Jongin?! Bukankah aku telah menceritakan padamu? Sehun kehilangan sahabat karibnya, dan ia Kim Jongin! Calon pewaris perusahaan KJ, orang yang ada di apartemenmu ini! Kenapa kau tidak bilang?! Kenapa kau menyembunyikannya dariku?!"

"Gege.. apa maksud gege, aku tidak mengenal Kim Jongin. Yang tadi itu Kai," jawab Kyungsoo, belum pernah ia melihat Luhan semarah ini. Apalagi fakta kali ini Luhan marah kepadanya. "Omong kosong, pasti kau tahu Kim Jongin kan? Bagaimana mungkin kau tidak tahu Kim Jongin?! Kau sengaja kan menyembunyikan Jongin disini? Di apartemen kumuhmu ini!" kali ini Baekhyun yang berteriak. Luhan melirik Baekhyun, ia rasa kata-kata Baekhyun sedikit keterlaluan. Namun ada benarnya juga, mengapa Jongin bisa ada di tempat tinggal Kyungsoo?

Kyungsoo merasa pusing melandanya lagi, bahkan lebih parah. Mungkin anemianya kambuh, tapi sungguh ia tidak berbohong. Bukankah selama ini Kai tidak pernah menceritakan asal usul, bahkan nama saja harus Kyungsoo yang memberi. Kenapa Luhan dan Baekhyun menuduhnya?

Tapi.. kalau dipikir Kai memiliki ponsel yang bagus, bajunya awal bertemu dengan Kyungsoo juga bagus. Dan juga, kitchen set hadiah itu.. berasal dari KJ corp bukan? Aneh, padahal Kyungsoo tidak pernah ikut perlombaan apapun. Dan juga logo yang tertera pada kitchen set itu adalah Logo yang sama persis seperti yang ia temukan di balik ponsel Kai.

'Apakah benar Kai adalah Kim Jongin yang mereka sebutkan?' batin Kyungsoo. "Jawab Kyungsoo!" desak Luhan lagi.

Brukk!

"Ya! Kyungsoo-ya, kenapa kau ini? Bangun!" Luhan panik mendapati tubuh Kyungsoo tiba-tiba ambruk di hadapannya. Ia baru sadar, wajah Kyungsoo terlihat pucat. Telapak tangannya juga dingin, dahinya basah oleh keringat.

Klek.

Pintu terbuka, Jongin keluar dari dalam sana. "Jangan menuduhnya." Jongin berjongkok di hadapan Kyungsoo dan menggendong Kyungsoo. "Hari ini ia terlihat lelah, tapi kalian yang tidak tahu apa-apa datang dan menuduhnya. Ia tidak mengenal Kim Jongin, yang ia kenal adalah Kai. Lelaki asing yang mengikutinya sampai apartemen. Kau lihat apartemen ini? Kau benar Baekhyun hyung, apartemen ini kumuh dan menyedihkan. Bahkan pemiliknya hanya punya kulkas satu pintu yang kecil dan sudah berkarat, ia juga tidak punya televisi sehingga ia tidak bisa melihat dan mengenali Kim Jongin. Hidupnya sudah terlalu sibuk, ia bukan orang pintar jadi ia harus bekerja mati-matian untuk membayar kuliahnya, ia tidak punya waktu untuk mencari tahu Kim Jongin pewaris perusahaan KJ."

"Jadi, jangan salahkan dia. Ia bahkan tidak menyembunyikan Kim Jongin, hanya seorang Kai yang datang tanpa diundang ke kehidupannya. Jangan menilai orang serendah itu, dia hyungku." Baekhyun dan Luhan terpana, sejak kapan Jongin bisa berkata-kata sepanjang itu?

"Jongin.." lirih Baekhyun. "Geunyang gaseyyo.(just go)" Jongin menatap Baekhyun dan Luhan, "Jongin mianhae." Tambah Baekhyun. "Kalian tidak memiliki salah padaku, kalian harusnya minta maaf pada Kyungsoo hyung. Dan Luhan hyung, bukankah kau mengenal Kyungsoo dengan baik? Beberapa hari lalu aku melihat mobil Sehun mengantar Kyungsoo, di mobil itu pasti ada kau juga kan? Kenapa kau bisa menuduhnya?"

"Aku.."

"Ga! Aku akan pulang besok, jangan khawatir. Aku tidak ingin membebani hidup Kyungsoo lagi, aku akan kembali bersama kalian. Sekarang tinggalkan apartemen ini, aku akan merawat Kyungsoo." Tanpa bisa berkata apa-apa, Baekhyun dan Luhan meninggalkan apartemen itu. Jongin menutup pintu apartemen dengan kakinya, dan membawa Kyungsoo masuk ke kamarnya.

Jongin menyelimuti Kyungsoo, kemudian mengambil handuk basah untuk mengompres dahinya. "Mianhae, aku benar-benar tidak tahu. Mianhae, ini bukan gara-gara kau tapi kau kena imbasnya. Mianhae hyung.." Jongin mengangkat handuk itu, mengecek suhu tubuh Kyungsoo. Mencium dahi Kyungsoo lembut.

"Aku rasa aku menyukaimu, tapi aku takut.. mungkin kau akan seperti Luhan hyung dan Baekhyun hyung. Mereka pergi, dan aku tidak bisa memiliki cinta mereka. Jadi, aku tidak akan menyampaikan perasaanku ini. Biarlah kau hidup dengan baik di kemudian hari, tanpa mengenal Kai."

"Jaljjayo."

. . .

"Ungh.. Kai." Erang Kyungsoo, ia baru membuka matanya. "Kai, matikan penghangat ruangannya." Pinta Kyungsoo namun tak ada jawaban. Kyungsoo meraba-raba tempat tidurnya, dan tangannya menyadari ia sedang menggenggam sesuatu.

Memo.

Kyungsoo membukanya, dan ia ingin menangis saat itu juga. 'Hyung, aku pulang. Maaf soal kejadian kemarin, sekarang kau bebas melanjutkan hidupmu. Aku benar-benar minta maaf dan berterima kasih, entah kata apa yang bisa aku sampaikan lagi. Aku tidak akan pernah melupakanmu, dan satu hal.. saranghae?'

"Ini seperti terbangun dari mimpi indah, menyedihkan." Erang Kyungsoo, pusing yang ia rasakan belum sepenuhnya hilang. Ia melepaskan handuk di dahinya, tersenyum. Pasti Kai yang melakukannya bukan?

"Saranghae? Untuk apa kau menyampaikan perasaan cinta kalau kau pergi Kai? Itu semua omong kosong bukan? Harapan palsu." Kyungsoo melemparkan memo Kai ke bawah tempat tidurnya, berharap ia tidak akan pernah berpikir untuk membuka memo-memo tersebut lagi.

"Kau meninggalkan aku tanpa kata-kata, setidaknya apa susah menungguku bangun tidur?" keluh Kyungsoo, ia keluar kamar dan menuju dapur. Terkejut ada rumah anjing kecil di balkon belakang dapurnya. Anjing putih yang Kai bawa kemarin, Kyungsoo jongkok dengan jarak lima meter dari rumah anjing tersebut.

JJANGAH

Tulisan itu terlukis di atap rumah anjing tersebut, dan Kyungsoo menemukan kertas memo dan sebuah masker.

'Aku titip Jjangah bersamamu hyung, suatu saat aku pasti akan mengunjungi kalian. Pakai masker ini setiap berdekatan dengan Jjangah, setelah selesai pakai cairan pembersih tangan. Dan minum vitamin, jangan sampai sakit^^'

Kyungsoo menggigit bibirnya, anjing itu masih terlelap. "Jaljja Jjanggah-ya, kita akan menunggu Kai annio Kim Jongin-ssi bersama bukan? Dia pasti datang, di kemudian hari."

Kyungsoo memutuskan pergi ke tempat kerjanya, dan menyibukkan diri. Ia sangat sibuk karena cafe sedang ramai, syukurlah. Ketika ia tidak punya waktu, ia tidak akan sempat memikirkan Kai bukan?

"Kyungsoo!" Kyungsoo terlonjak, Luhan datang di depannya. "Kyungsoo mianhae, aku.. aku tak maksud membentakmu dengan kata-kata kasar kemarin, jeongmal mianhae. Aku hanya terbawa suasana."

"Anniya, gwaenchana." Jawab Kyungsoo. "Anniyo, neo.. angwaenchanaji.(Kau tidak baik-baik saja)" Kyungsoo tersenyum kecil. "Jangan panik, masih seperti sebelumnya. Aku tidak mengenal Kim Jongin, yang aku kenal adalah Kai. Dan Kai telah pergi, jadi semuanya berbeda."

"Kyung.."

"Ah, aku rasa aku harus menyiapkan pesanan untuk meja nomor sepuluh bukan? Gege mau pesan apa?" tanya Kyungsoo sambil berbalik ke kompornya, Luhan tahu pasti anak itu menyembunyikan raut sedihnya.

'Mungkin kau butuh waktu sendiri, Kyung.' Luhan meninggalkan cafenya, sementara Kyungsoo bernafas lega ketika Luhan telah pergi. Ketika Sulli mengajaknya ke acara tunangan Key di hotel KJ Kyungsoo memilih menolak. Lebih baik ia tidur dirumah daripada datang ke hotel milik Jongin bukan?

Hari ini ia menerima uang gajian lagi, Kyungsoo tersenyum miris mengingat bagaimana Kai dan ia bertemu di bawah halte bis. Semua berawal ketika Kyungsoo membukakan botol minum untuk Kai, tapi hari ini.. Kai tidak ada lagi di apartemennya.

Sepanjang perjalanan pulang Kyungsoo baru sadar, ada beberapa selebaran tentang Kai. Dengan hadiah satu juta won, Kyungsoo terkekeh. Kalau saja ia memiliki niat jahat bukankah ia pasti menagih uang satu juta won itu? "Jumlah yang lumayan untuk membayar biaya kuliahku." Tapi Kyungsoo bukan orang jahat kan?

4 months later

Jongin lulus dengan nilai sempurna, dan ia langsung melanjutkan kuliahnya di bidang bisnis. Ia tidak pergi ke luar negeri, ia menjalankan kuliahnya di salah satu universitas terkenal di Korea. Hubungannya dengan ayahnya telah membaik, dan Jongin lega ayahnya tidak sakit-sakitan lagi.

Hubungannya dengan teman-temannya juga membaik, ia bersahabat dengan Sehun lagi. Jongin bilang, ia tidak marah Sehun menjalin hubungan dengan Luhan. Justru Jongin senang, Luhan bersama dengan orang yang bertanggung jawab seperti Sehun dan Sehun mendapat orang yang penyayang seperti Luhan. Alasan yang sama juga ia berikan pada Baekhyun dan Chanyeol.

Ia memang masih sendiri, Jongin bersyukur ayahnya tidak menjodoh-jodohkannya seperti yang terjadi dalam drama. Ayahnya hanya ingin Jongin mendapat yang terbaik, baik namja maupun yeoja.

Lagipula, ia masih percaya pada lelaki di apartemen kumuh itu..

The autumn wind that blows into the window

passes through my empty heart

I lean against the cold wall

and look at the brightening dawn sky.

Musim telah berlalu lagi, daun-daun mulai berguguran akibat tanah yang membeku sehingga akar susah mencari air. Jongin merentangkan badannya, ia jadi ingat saat-saat dimana ia meninggalkan Kyungsoo yang masih belum sadar dengan badan demam. Sejujurnya saat itu ia benar-benar tidak ingin pergi.

I miss you but i can't go close to you

I need to leave you now

You, who gave me such big and warm love

Into my lonely and dry eyes.

Tanpa Kyungsoo tahu, Jongin sering menghentikan mobilnya di depan cafe tempat Kyungsoo bekerja. Hanya menunggu sampai lelaki itu masuk, atau pulang kerja. Terkadang mengikutinya dari jauh, berharap jika Kyungsoo baik-baik saja.

Tapi ia tidak bisa berdekatan dengan Kyungsoo, ia harus fokus pada ujiannya. Karena kalau ia mengikuti Kyungsoo terang-terangan, Jongin tak yakin ia mampu meninggalkan apartemen Kyungsoo lagi atau tidak. Ia terlalu ingin kembali, di rumahnya suasanya berlangsung seperti dulu. Hanya ada maid dan ayahnya, dan mereka semua jarang berbicara. Membuatnya merasa sepi.

Tapi kali ini Jongin bisa menemui Kyungsoo, 'I just gave you scars, but i hope you understand my heart someday.' Batin Jongin, ia menjalankan mobilnya ke cafe Kyungsoo. Hari ini Kyungsoo kerja sampai malam, jadi ia baru keluar pukul sembilan. Tak berapa lama Kyungsoo keluar dari cafe itu dan pulang ke apartemennya. Jongin mengikuti, dan begitu Kyungsoo berjalan dari halte menuju apartemen ia buru-buru memarkirkan mobilnya.

"Kyungsoo hyung!" Kyungsoo menoleh, Jongin tersenyum lalu berlari kecil menghampiri Kyungsoo. "Olaenmanhiya(it's been a long time), bagaimana kabarmu? Apa baik-baik saja? Kau tambah kurus, apa kau makan dengan baik? Apa alergimu masih kambuh ketika bersama Jjangah?"

Kyungsoo mematung, "Bogoshippeo, bogoshippeo, bogoshippeo." Sahut Jongin berulang-ulang. "Kau.. darimana saja?" tanya Kyungsoo lirih, Jongin mengacak rambut Kyungsoo. "Aku sibuk ujian, tapi aku lulus dengan baik. Bagaimana? Keren kan?"

Kyungsoo mendorong pelan tubuh Jongin dan lari masuk apartemennya, ia mengunci apartemen dan masuk ke kamarnya. Kemudian ia terisak pelan, ia tidak menangis saat Jongin pergi, ia tidak menangis ketika Luhan dan Baekhyun membentaknya, ia tidak menangis ketika Luhan mengatakan maaf karena membentaknya, tapi mengapa ia menangis ketika Jongin kembali?

'Kenapa kau kembali pabboya?' rutuk Kyungsoo, ia mematikan lampu dan menangis pelan.

Klek!

Pintu terbuka, Kyungsoo tahu itu Jongin. Siapa lagi yang menghafal kode apartemennya selain dia? Kai bertumpu pada lututnya dan memeluk Kyungsoo yang menangis. "Uljima, kenapa kau menangis hm? Hyung tidak suka aku kembali?"

"Shireo." Jawab Kyungsoo.

It was dark but i knew

That tears were flowing from your eyes.

"Apa Jjangah makan dengan baik?" tanya Jongin sambil menepuk-nepuk punggung Kyungsoo. "Bahkan setelah kau kembali yang kau tanyakan Jjangah! Aku membakarnya!" erang Kyungsoo. "Aku sudah menanyakan tentangmu di bawah tadi, tapi kau malah berlari. Pilihan yang salah, karena aku masih menghafal kode apartemen ini."

"Benarkah?" Jongin mengangguk. "Kenapa kau kembali? Kau bilang kita bisa menjalani kehidupan normal seperti yang lalu, tapi kau kembali. Maumu apa?!" bentak Kyungsoo. "Kau."

"Hah?" tanya Kyungsoo. "Mauku kau, awalnya aku berencana seperti itu. Aku kira aku bisa melupakan semuanya, tapi ternyata tidak. Hampir mati setiap kali aku memikirkanmu, aku benar-benar suka padamu hyung."

"Kau juga suka pada Luhan gege dan Baekhyun-ssi." Jongin tertawa, "Kalau aku terus menyukai mereka, Sehun dan Chanyeol hyung akan memarahiku. Jadi aku menyukaimu, karena kau belum ada yang memiliki."

"Mwoya? Dasar menyebalkan, seharusnya kau selamanya diam seperti dulu." gerutu Kyungsoo. "Tapi kan kau yang menyuruhku untuk berbicara lebih banyak, agar aku tidak dipandang lemah oleh orang lain. Bercanda, aish.. aku benar-benar jatuh cinta padamu."

"Aku tidak, pergi sana! Aku tidak mau dimarahi lagi karena menyembunyikan pewaris KJ corp di apartemenku yang kumuh." Lagi-lagi Kyungsoo mendorong Jongin. "Tidak akan ada yang memarahi lagi. Lagipula, kalau kau tidak mencintaiku mengapa kau menangisiku? Mengapa kau merawat Jjangah padahal kau alergi? Semua gara-gara aku kan?"

"Aku membuang Jjangah! Aku melemparkannya ke tengah jalan agar Jjangah terinjak ban mobil." Tegas Kyungsoo. "Tadi kau bilang kau membakarnya, lalu yang menggonggong dari tadi itu siapa? Kucing?"

"Baiklah aku kalah." Jongin mencium pipi Kyungsoo, "Begitu dong." Kyungsoo menautkan alisnya kesal. "Seingatku, aku menyuruhmu berbicara agar kau tidak dimanfaatkan mereka. Bukan untuk menggombal."

"Aku akan menyalakan lampunya." Jongin bangkit, namun Kyungsoo menahan lengannya. "Jangan berani-berani, aku tidak ingin terlihat mengerikan." Jongin terkekeh, ia tahu mata Kyungsoo pasti sembab. "Geurae," Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo ke atas tempat tidur kecilnya dan memeluk lelaki itu sampai tertidur.

. . .

"Kai! Bangun!" Kyungsoo mengguncang-guncang tubuh Jongin, ia harus kuliah satu jam lagi tapi tamu asing yang kembali ke rumahnya ini tidak bangun-bangun. "Ya! Bangun kau pemalas! Kau tidak ingin sarapan apa? Tidak baik tertidur sampai siang hari, ayo bangun Kai!" namun Jongin tak bergeming, bahkan ketika Kyungsoo telah membuka jendela kamarnya.

"BANGUN! Aish, aku akan menyirammu kalau kau tidak kunjung bangun." Ancam Kyungsoo, "Palli ireonaaaaa!" jeritnya, mungkin orang yang tinggal di lantai bawah apartemen Kyungsoo akan terganggu karena teriakan-teriakan nyaringnya. "Kim Jongin-ssi, jebal ireonasseyo." Bisik Kyungsoo di telinga Jongin.

Grep!

Jongin memeluk pinggang Kyungsoo hingga Kyungsoo menimpa tubuhnya. "Namaku Kim Jongin, salam kenal." Kyungsoo menautkan alisnya mendengar suara Jongin yang parau. "Arasseo, aku sudah tahu dari empat bulan lalu kalau kau adalah Kim Jongin." Jongin makin mengeratkan pelukan ditubuhnya.

"Aku bukan lagi Kai, aku bukan lagi orang yang kau kira akan mencuri uang gajianmu. Aku bukan orang yang akan menggunakan sebatang pensil dan memo untuk berkomunikasi, aku bukan orang yang akan menghancurkan dapurmu lagi. Aku Kim Jongin, aku tidak mungkin mencuri uangmu, aku bisa berbicara, dan aku sudah bisa memasak."

"Otakmu bergeser ya, lepaskan aku!" tapi Jongin tetap memeluk Kyungsoo. "Tidak akan, aku sudah pernah melepaskanmu, dan itu tidak akan terjadi lagi. Jangan pikirkan yang pernah Luhan hyung dan Baekhyun hyung katakan dulu, aku tidak perduli tentang bagaimana keadaan apartemenmu. Aku tidak pernah protes ketika bersamamu kan? Jadi, apakah kau mau menerimaku dan semua sisi burukku?"

"Kau bicara apa," Kyungsoo menarik tubuhnya dari Jongin, dan kali ini berhasil. "Cepat bangun dan mandi, aku mau kuliah." Ia berjalan keluar dari pintu kamarnya, namun sebelum menutup pintu Kyungsoo menoleh ke arah Jongin.

"Kalau aku tidak menerimamu, aku sudah memanggil security untuk membawamu keluar." Setelah berkata seperti itu, Kyungsoo langsung menuju dapur. "KAU MENERIMAKU? JINJJHA? WOAH!" Jongin menjerit senang, ia bangkit dari tempat tidurnya. "Molla, aku tidak mau membahasnya lagi." Jawab Kyungsoo dari dapur.

"Tapi tunggu, kau menerimaku disini atau menerimaku sekaligus sebagai namjachingumu? Hyung! Aku mencintaimu!" jerit Jongin. "Jangan teriak-teriak! Apartemenku tidak kedap suara, kau kira ini apartemen mewah?"

"Tapi aku cinta.." Kyungsoo berbalik sambil berkacak pinggang. "Apa itu cinta? Apa cinta semacam makanan untuk Jjangah?" Jongin menggertakkan giginya kesal. "Cinta itu perasaan yang lebih suci dari apapun di dunia ini, cinta itu tulus. Cinta itu menerima segala kelebihan dan kekurangan orang yang kita cintai, cintaku padamu lebih tinggi daripada bintang di galaxy." Mungkin Jongin baru saja kerasukan arwah Kris Wu, model pecinta galaxy yang terkenal itu.

"Andeullyeo.(i can't hear you)" jawab Kyungsoo sambil memakan sarapannya, "Yaa! Do Kyungsoo!" teriak Jongin dari dalam kamar. "Guk guk guk.." Kyungsoo melirik ke bawah meja, Jjangah datang sambil mengibas-ngibaskan ekornya senang. "Tuanmu sudah datang, sana.. jangan dekati aku lagi hattcchiiiw."

Seolah mengerti Jjangah masuk ke kamar Kyungsoo dan menemui Jongin. "Jjangaaahhh! Anakku, aku merindukanmu! Aaa kenapa bulumu rontok semua? Kau dikeramasi dengan shampoo apa Jjangah-ya? Kyungsoo hyung~"

"Karena shampoo anjing mahal, dan aku tidak mungkin membeli shampoo anjing yang lebih mahal dari shampooku sendiri jadi aku belikan saja shampoo untuk rambut berkilau. Tidak boleh ya?" ingin rasanya Jongin membenturkan kepalanya ke pintu, shampoo berkilau mengandung banyak garam dan alkohol yang tidak baik untuk anjing.

'Sayang kau kekasihku.. Jjangah, ayo nanti kita ke dokter.' batin Jongin sedih.

Kyungsoo meninggalkan Jongin di apartemennya ketika ia kuliah, sepulang kuliah ia datang ke cafe dan pulang ketika sore hari. Aktifitas yang sudah Kyungsoo lakukan selama hampir dua tahun, namun entah mengapa Kyungsoo tidak pernah bosan.

Ia suka menjalani hidupnya yang monoton dan menyedihkan, tidak ada televisi, tidak ada ponsel yang mahal, ditemani komputer lama yang Kyungsoo harus menunggunya menyala selama lima belas menit setiap ingin memakai. Tapi ia bahagia kok, mungkin Tuhan ingin membuat hidupnya lebih berwarna dengan mengirim Kim Jongin. Walau mungkin kehadiran Kim Jongin menyusahkan tapi ia tetap bersyukur.

Sampai ia menyadari apartemennya kosong melompong, hanya tinggal tempat tidur, meja makan, dan kulkas mungilnya. "P-Perampok? Oh tidak, ya Tuhan.. apa yang terjadi. Apartemenku! Kim Jongin!"

Seorang haraboeji datang, "Nak, apartemenmu ini sudah dikosongkan. Seseorang sudah membayar uang sewamu, dan kau bisa meninggalkannya." Kyungsoo melebarkan matanya yang sudah lebar. "MWO?! MENINGGALKAN?!" haraboeji itu hampir terkena serangan jantung ringan mendengar teriakan Kyungsoo.

"Iya! Tinggalkan apartemen ini! Kau itu.. berisik! Kau tidak sadar siapa yang tinggal disampingmu? Aku! Aku senang kau telah pergi, peluangku terkena serangan jantung berkurang. Sekarang pergi! Cepat!"

"Y-Ye haraboeji." Kyungsoo langsung berlari, ia tidak sadar selama ini ia suka mengganggu tetangganya. Ia turun dan memikirkan nasibnya, bagaimana mungkin apartemennya dikosongkan sementara ia tidak punya tempat tinggal baru.

Tin.. tin..

"Jongin! Apartemenku!" jerit Kyungsoo. Jongin yang duduk di balik kemudi mengisyaratkan Kyungsoo untuk masuk. "Apartemenmu sudah aku kosongkan, barang-barangmu yang penting sudah aku pindahkan. Jadi ayo kita pergi," ajak Jongin. "Pergi? Kemana? Lalu apartemenku? Barang pentingnya belum semua, kau bahkan meninggalkan lemari esku."

"Tinggalkan saja kulkas berkarat itu, itu bahkan tidak dingin dan tidak patut disebut lemari es! Kita akan pindah, aku sudah membeli apartemen baru untuk kita. Di Apguejong," rahang Kyungsoo seolah jatuh. Apguejong adalah distrik di daerah Gangnam dan itu adalah tempat yang mewah, Kyungsoo rasa Kim Jongin sudah gila.

"APGUEJONG?! Yaaa! Biarpun kau adalah pewaris KJ corp tapi kalau kau ingin tinggal di tempat mewah seperti itu, tinggal saja sendiri! Aku tidak mau! Kembalikan barang-barangku!" Jongin menggeleng. "Barang-barangmu sudah ditata disana, kalau kau mau ikut ayo, kalau tidak kau tinggal saja dengan lemari es dan tempat tidurmu. Lagipula di Apguejong apartemennya tidak bocor, dan kedap suara. Dekat dengan universitasmu juga bukan? Jadi bagaimana?"

"Err.." Kyungsoo menimbang-nimbang. "Mau tidak? Kalau tidak mau aku akan meninggalkanmu, lagipula aku harus bertemu dengan rekan bisnis aboeji nanti malam."

"Baiklah, dasar pemaksa!"

One year later

"Happy anniversarry chagiya." Jongin memeluk Kyungsoo, "Happy anniversarry too." Jongin mengacak rambut Kyungsoo. "Kau memang bukan cinta pertamaku, tapi kau adalah kekasih pertamaku. Jadi.."

"Itu karena kau selalu ditolak." Jawab Kyungsoo, "Dengarkan aku dulu, dasar tidak romantis." Kyungsoo tertawa kecil, biar hubungannya dan Jongin selalu diwarnai teriakan dan umpatan, tapi Kyungsoo tahu Jongin adalah cintanya yang paling sempurna. "Kau adalah kekasih pertamaku dan aku juga berharap kau yang terakhir, jadi jangan pernah menganggap aku akan meninggalkanmu. Karena aku akan terus mencintaimu, masih sama seperti waktu-waktu sebelum ini, dan akan terus sama di waktu-waktu yang akan datang. Saranghaeyo."

"I love you too, lebih daripada yang kau pikirkan." Jongin mencium bibir Kyungsoo lama, memeluk pinggang Kyungsoo dengan kedua lengannya. "Ngomong-ngomong, aku mencium bau hangus." Kyungsoo melepaskan ciuman itu tetapi masih berbisik di bibir Jongin.

"Tidak! Masakanku!" Jongin berlari mematikan kompor. Akhir-akhir ini Jongin lebih sering memasak daripada Kyungsoo, karena ia memang telah kursus memasak sebelum bertemu lagi dengan Kyungsoo. Dan hasilnya cukup memuaskan.

Jongin kembali lagi, "Bagaimana? Hangus tidak?" tanya Kyungsoo, "Hangus sedikit tapi masih bisa diselamatkan kok." Kyungsoo mengangguk, Jongin merogoh saku celananya. Ada kotak bludru berwarna biru, "Surprise? hehe" ucap Jongin tak yakin.

Kyungsoo membuka kotak itu, dua buah cincin. "Aku kira, kita sudah melalui waktu yang cukup lama untuk masuk ke hubungan yang lebih serius. So.. what do you think? Would you marry me?"

"I think, i can't say no after all. Of course yes, Jonginnie." Dengan penuh bahagia, Jongin mencium dahi Kyungsoo. "Thanks." Bisik Jongin, sebelum mereka berakhir ke ciuman yang lebih dan lebih daripada yang mereka pernah lakukan sebelumnya.

END!

Woah, finally, an end(?) ^^

Rcl jusseyo, ^^

Thanks for reviewers, maaf ga bisa nyebutin namanya. but thank you so much guys :3

And for Zycho Gege, wkwkw. udah dibales zizy ge XD biar sepupunya percaya lol. and for kaikim too(?) entahlah yang jelas terima kasih buat semua reviewers :) Saranghaja kkkk.