Buugh, buuggh!
BRAK!—CRACK!
"Ukh..." rintihan pelan mengalun setelah jeda sepersekian detik mengudara. Dia tidak cukup berani untuk menampakkan diri, hanya bersembunyi di balik celah sempit dan mengintip dari sela.
"H-Hiks!" isakan tertahan meluncur dari linguanya, sebagai perwujudan mendung yang menyelimuti melihat pemandangan yang terefleksi di iris topaz. Dia tak bisa berbuat banyak untuk membantu bocah bersurai biru yang kini menjadi objek retinanya. Andai dia punya keberanian dan nyali yang cukup seperti kawan—atau bisa juga disebut pemimpin—merahnya, pastilah kini dia sudah menerjang masuk dan menodongkan senjata apapun yang bisa dia peroleh. Namun sayang, dia hanya bocah berusia tujuh tahun yang cengeng dan manja. Tak pernah sekalipun dulu dia melakukan segala hal dengan mandiri karena pasti selalu ada yang melayani setiap keinginan yang terlontar, nyatanya kini dia harus mulai melatih diri untuk membuang sifat manjanya.
"Kau pikir aku tidak tahu, hm?"
Jambak.
"Kau tadi memberi kode kan? IYA KAN!?" suara barithone terdengar naik beberapa oktaf, membentak bocah dijambakannya. Yang dibentak hanya terdiam sambil meringis pelan. Hamparan langit cerah tertutup, menolak menatap si empunya suara.
"Jawab dan tatap mataku ketika aku bertanya, bocah!" namun diam tetap menjawab. Putus sudah urat kesabaran yang dimilikinya. Sambil merogoh saku celana, ia mempererat jambakan pada rambut sewarna langit tersebut. Tak berapa lama kemudian apa yang diinginkannya tersentuh, segera saja ia mengeluarkannya dan menyeringai senang. Tertawa kencang sambil berucap mengejek,
"Lihat apa yang kutemukan di saku celanaku~" nadanya dibuat ceria, "Hm... Sudah berapa lama kau tidak bertegur sapa dengannya? Ah~ lihat, dia rindu sekali padamu." sambil terkekeh dia menempelkan benda dingin itu ke pipi si bocah biru. Menggores tipis lapisan epidermis kulit seputih pualam tersebut hingga menyebabkan liquid merah mengalir mewarnai pipi yang bak kanvas polos.
"Hei, hei, Haizaki. Apa-apaan itu? Kan aku yang mengalami. Kenapa jadi kau yang marah?" sosok di pojok ruangan bersuara. Tampaknya ia mulai risih dengan kelakuan temannya.
"Diam kau! Jelas saja aku kesal, dia selalu berulah! Padahal lemah tapi lagaknya selangit. Masih mending si Akashialan itu, bisa melawan dengan gunting dan semacamnya atau setidaknya membalas perkataanku daripada dia yang hanya diam saja seperti ini. Menyebalkan!"
Orang yang disebut Haizaki tadi melempar bocah digenggamannya, mengurungkan niat untuk melukainya lebih jauh dengan cutter yang tadi ia goreskan di pipi anak tersebut.
"Wah, wah. Tak kusangka kau seorang masochist, Haizaki." lawan bicaranya menimpali dengan jenaka sambil menaikkan kacamata yang sempat merosot beberapa mili. "Dan sudah berapa kali kubilang untuk tidak memanggil anak-anak ini dengan marganya, huh? Sekarang mereka ini hanya anak terlantar." timpalnya sinis. Haizaki mendengus sebal, dia segera beranjak menuju ruang lain yang terhubung dengan ruangan yang tadi sempat ditempatinya bersama teman berkacamatanya. Ia menggosok kasar helai kelabunya dan memasukkan tangan lainnya ke saku celana.
"Terserah." sungutnya di kejauhan. Dia tertawa mendengar balasan kawan kelabunya itu, benar-benar malas berdebat atau takut padanya, heh? Pemuda itu beralih pada bocah bersurai pastel yang masih tersungkur di kaki meja.
"Nah Tetsuya, untung saja moodku kembali membaik karena Haizaki. Berterima kasihlah, aku tidak jadi memberimu 'pelajaran'." membungkuk dan menepuk-nepuk pelan surai yang kini berantakan namun tidak untuk waktu yang lama karena ia kembali menegakkan tubuh.
"Ini peringatan terakhir. Sekali lagi kau mencoba untuk meminta bantuan, kujamin organ tak bertulangmu itu akan jadi hidangan makan malam." ancaman tersurat di hamparan senyum rubahnya. Dia berbalik menuju ruangan yang sama dengan Haizaki, "ah, kami akan pulang malam. Jangan coba macam-macam, ya?" imbuhnya sebelum menghilang dibalik pintu yang mengeluarkan bunyi kunci ketika tertutup sempurna.
Bocah biru muda itu, Tetsuya namanya, bangkit dari posisinya. Wajahnya tetap tak menunjukkan ekspresi apapun meski binar matanya menyorotkan tanda-tanda traumatis. Dia duduk termenung menatap dinding berwarna gading pucat di depannya, entah memikirkan apa. Sosok yang sedari tadi mengintip akhirnya keluar, menampakkan helai keemasan yang dimilikinya. Dia menghambur kepada Tetsuya yang masih menatap kosong pada dinding, seolah-olah tengah bertelepati dengan dinding tersebut.
"K-Kurokocchi, ssu!" serunya sambil memeluk erat sosok yang lebih kecil darinya. Isakan yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah jua, mengisi kesunyian di ruangan sempit tanpa jendela dan ventilasi. Udara panas dan bau sumpek menguar di ruangan dengan satu set meja-kursi di pojok kanan dan karpet hijau lumut yang terlihat dekil itu, bukan ruangan yang baik untuk ditinggali pun ideal. Tetsuya mengerjap beberapa kali guna mengembalikan fokusnya pada ruangan dan anak laki-laki dihadapannya. Dia mengusap lembut surai mentari itu, menenangkan tanpa kata-kata. Sudah cukup ia mendapat 'pelajaran' hari ini, ia tak mau membuat orang khawatir juga padanya. Dia paling tidak suka membuat orang lain kerepotan.
"Aku baik-baik saja, Kise-kun. Jangan menangis."
Kise Ryouta, nama si pemilik surai sewarna mentari musim panas dan manik madu dihiasi bulu mata lentik. Ia mengangguk cepat dan semakin mengeratkan pelukannya pada Tetsuya, lupa jika pelukannya berbahaya bagi sosok mungil itu. Tangisnya mereda dan ia makin menenggelamkan dirinya pada Tetsuya.
"Ki-Kise-kun, lepas. Ses—Sesak." wajah Tetsuya memucat seiring dengan makin menipisnya pasokan oksigen yang masuk ke pulmonya. Kise tersentak dan buru-buru memutus kontak tubuh mereka seraya menunjukkan cengiran lebarnya yang bak mentari.
"Tee-hee~ Maaf-ssu, habis Kurokocchi enak dipeluk~" kekehnya. Tetsuya menatap datar pada sosok kuning tersebut sebelum pada akhirnya menghela napas pasrah.
"Ne, Kise-kun..." Tetsuya menatap Kise tepat di matanya, membuat si pemilik indra memerhatikan dengan seksama.
"Ya, Kurokocchi?"
"Kila-kila kapan yang lain pulang?"
"Maksudmu Akashicchi dan yang lain juga para pengasuh?"
"Iya."
"Eh? Ada apa? Tumben kau bertanya-ssu." alis Kise bertaut heran mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis seorang Kuroko Tetsuya. Perasaannya mengatakan bahwa akan terjadi hal buruk dan hal tersebut direncanakan oleh bocah berusia enam tahun di depannya ini.
"Jawab saja, Kise-kun. Ini penting." Kuroko menyahut cepat.
"Um—nanti malam. Mungkin sekitar jam tujuh-ssu." Kise meletakkan jari telunjuknya di bawah dagu, mengingat-ingat informasi yang dia dapat. Kuroko tersenyum simpul mendengarnya,
"Kise-kun, bisa bantu aku?"
.
.
Tuh kan...
.
.
Escape!
Disclimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Escape! © Hyori Sagi
Summary : "Ini peringatan terakhir. Sekali lagi kau mencoba untuk meminta bantuan, kujamin organ tak bertulangmu itu akan jadi hidangan makan malam."/ "Eeer—jadi, sebenarnya ada apa?"/ Gila. Pergerakkan macam apa itu? Baru dua minggu berpindah tempat tapi areanya sudah seluas itu. Benar-benar kelompok yang mengerikan/ "Dan sialnya ternyata, empat hari yang lalu.../
Rated : T atau mungkin M?
Warning : Little!GoM, Police!Seirin, mengandung unsur kekerasan dan pembunuhan untuk ke depannya, maybe OOC? Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari cerita ini.
.
Enjoy...
.
.
.
Hampir saja—benar-benar nyaris—burger yang sudah setengah jalan dikunyah olehnya meluncur bak roket mengudara ke angkasa luar. Dirinya segera menghantamkan beberapa pukulan telak ke dada, berharap hal tersebut dapat membantu makanan dalam kerongkongannya lewat dengan mulus dan tangan satunya meraba meja mencari gelas minum. Setelah meminum cola pesanannya dengan brutal, dia melayangkan tatapan tajam terbaiknya pada seonggok manusia (oke ini terdengar sangat kasar, memang. Tapi dia tidak peduli. Well, mengumpat orang yang membuatmu nyaris mati tersedak itu tidak salah kan?) yang kini cengengesan tidak jelas dengan ditambah efek bling-bling yang menyilaukan mata. Sudah menganggu waktu makan orang, tebar aura menjijikan pula. Menurut Kagami sih...
"Ada perlu apa kemari, Kiyoshi-senpai?" Kagami mendesis pelan. Berusaha meredam amarah dan kata-kata kasar yang sudah tak sabar untuk terjun bebas dari rahangnya. Si tertuju malah tertawa ramah, menimpali dengan santainya sambil menepuk-nepuk kepala Kagami tanpa rasa bersalah,
"Ahahaha, tidak usah formal begitu, Kagami. Biasa saja~"
Beberapa perempatan muncul di dahi Kagami. Lagi, dia melayangkan tatapan sebal ke seniornya yang hanya menanggapinya dengan tawa ringan. Seorang pemuda lain, yang dilupakan kehadirannya sedari awal, berdehem keras untuk mengembalikan fokus kedua temannya. Sontak saja Kagami menoleh padanya sedangkan partnernya hanya tersenyum.
"Kiyoshi, seriuslah sedikit. Waktu kita tidak banyak, tahu!" pemilik surai sekelam malam itu menjitak kepala partnernya dengan penuh kasih sayang, bukan dalam arti sesungguhnya yang pasti.
"Aduh, Hyuuga... Sakit, tahu~" orang yang dipanggil Kiyoshi sedikit merengut. Tentu saja itu hanya dusta belaka, buktinya dia tetap menampilkan cengiran khasnya. Si surai hitam, Hyuuga, mendecih kesal menghadapi kelakuan absurd teman seprofesinya. Dan Kagami hanya bisa melongo dengan tontonan yang disuguhkan para seniornya. Ok, ini mulai membosankan dan menyebalkan.
"Eeer—jadi, sebenarnya ada apa?" Kagami berkata canggung sambil mengusap tengkuknya.
"Ah ya. Hampir lupa. Ini gara-gara kau, daho." Hyuuga men-deathglare Kiyoshi yang duduk di sebelahnya yang sudah dipastikan hanya ditanggapi dengan tawa ringan, "jadi begini Kagami. Kau pasti sudah tahu tentang kasus penculikkan anak akhir-akhir ini kan?" Kagami mengangguk cepat, "sebenarnya kami sudah melakukan pengintaian terhadap terduga selama dua minggu. Tapi kami kehilangan jejak mereka. Sepertinya mereka menyadari bahwa mereka diawasi sehingga mereka segera menghapus jejak mereka ketika kami lengah. Dan itu menyulitkan kami untuk menemukan tempat persembunyian baru mereka. Terlebih lagi dari fakta yang kami dapat dalam dua minggu pengintaian, komplotan penculik ini merupakan kelompok veteran." Hyuuga menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku di belakangnya. Mata hitamnya menyapu sekeliling, mendapati restoran cepat saji yang mereka singgahi mulai sepi karena jam makan siang sudah berlalu beberapa jam yang lalu. Kagami sendiri mulai tertarik dengan kasus yang dipaparkan oleh detektif kepolisian berusia duapuluh tujuh tahun di depannya itu. Dicondongkannya tubuhnya dan dia bertopang dagu pada meja.
"Kelompok veteran? Kelompok apa?" tanya Kagami.
"Touou. Entah apa hubungannya dengan kriminalitas mereka. Nama itu terlalu bagus untuk sekelompok penculik, menurutku." Kiyoshi menimpali. Inspektur polisi berambut mahoni itu bersidekap, ekspresinya mulai terlihat serius. Sedangkan Kagami memasang tampang yang seolah berkata 'Plis, itu penjahat narsis amat sampai buat julukan untuk diri sendiri'. Hyuuga tak ambil pusing, dia segera melanjutkan,
"Ya, Touou ini terkenal dengan kelicikan dan kecerdasan mereka dalam mengelabui para instansi pemerintah, terutama kepolisian. Kelompok ini muncul ke permukaan kira-kira lima belas tahun yang lalu dan sempat vakum selama lima tahun sebelum akhirnya muncul lagi akhir-akhir ini. Entah apa yang menyebabkan kevakuman mereka itu, namun ada rumor yang beredar kalau kelompok ini sempat 'pindah' ke negara lain. Anak-anak yang mereka culik tidak pernah ketahuan rimbanya. Benar-benar seperti lenyap ditelan bumi. Sampai sekarang tidak diketahui apa maksud mereka menculik anak-anak itu, entah untuk dijadikan sebagai tenaga kerja, pekerja seks, atau malah diperdagangkan organnya. Anehnya, keluarga yang sempat melapor kehilangan anaknya, setahun kemudian pasti melupakan fakta tersebut. Mereka pasti akan bilang kalau mereka tidak punya anak seperti yang dilaporkan sebelumnya. Hhh... Sungguh gila kasus ini. Seperti sihir saja, membuat depresi tak henti-henti." Hyuuga menyudahi penjelasannya dengan helaan nafas lelah. Ia melepas kacamata tak berbingkainya dan memijat kedua matanya dengan jempol dan telunjuk kanannya.
Hening menghampiri ketiga pemuda berusia sekitar dua puluhan itu, sama-sama memproses informasi yang baru terekspos. Kagami kembali menyesap colanya yang tinggal separuh. Dia melayangkan pandangannya keluar jendela, menatap hiruk pikuk kota Tokyo di siang hari. Di seberangnya, Kiyoshi sibuk dengan ponsel miliknya sedangkan Hyuuga menatap lurus pada satu titik, melamunkan berbagai hal yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Keheningan itu akan berlangsung lama kalau saja Kiyoshi tidak segera memecahnya dengan seruan terkejut, hasil dari ponselnya yang berbunyi beberapa waktu lalu menandakan sebuah pesan baru masuk. Hyuuga dan Kagami serentak menoleh dan melayangkan tatapan bertanya pada pria itu sedangkan yang ditatap menunjukkan raut serius ketika membaca pesan masuk di ponselnya. Mulut Hyuuga baru akan terbuka untuk bertanya, namun nyatanya dia tidak lebih cepat dari Kagami untuk mengutarakan pertanyaan retoris yang biasa diucapkan seseorang yang penasaran dengan isi pesan milik temannya.
"Apa katanya? Dari siapa?"
Kiyoshi tidak langsung menjawab melainkan menyempatkan diri untuk membalas pesan tersebut. Setelah urusannya itu selesai, ia memasukkan ponselnya pada saku jaketnya dan menatap lurus ke mata Kagami sebelum melayangkan tatapan yang sama pada Hyuuga yang ada di sampingnya.
"Dari Riko. Dia bilang, Himuro berhasil melacak sedikit jejak Touou." kontan saja mata Hyuuga dan Kagami langsung melebar. Tidak disangka akhirnya mereka menemukan titik start yang sempat meghilang.
"Dimana itu?" sahut Hyuuga tak sabar.
"Sekitar sini. Sektor enam sampai tujuh belas."
Gila. Pergerakkan macam apa itu? Baru dua minggu berpindah tempat tapi areanya sudah seluas itu. Benar-benar kelompok yang mengerikan.
"Dan sialnya ternyata, empat hari yang lalu terjadi penculikkan di sektor tujuh. Pada keluarga Kise." sambung Kiyoshi menambah kegilaan yang sudah ada sebelumnya.
.
.
.
TBC~
Akhirnya update juga-ssuuuuu~~~~~ /narisalsa/ gak nyangka bisa update secepat ini~ Senangnyaa~ *tebar confetti*
Ah, chap ini banyak dialognya daripada narasinya~ Uhu, maafkan diri ini~
Dan ah, saya baru sadar waktu ngecek ff kemarin, ternyata ada fanfict berjudul sama buatan Anagata Lady. Maafkan saya atas ketidaknyamanan ini, saya tidak tahu kalau sudah ada ff yang memakai judul yang sama. Hontou ni gomennasaaiiii~ Tapi saya tidak memplagiat ceritanya kok. Seriburius deh, saya bener-bener gak tahu (atau mungkin saya lupa) kalau ada ff dengan judul yang sama. Huueee, jangan bakar saya~ /peluktiang/
Uhuhu, tu-tunggu, daripada dibakar, saya lebih milih terjun ke jurang. Tapi sebelum itu, saya bales ripiu dulu ya? *kedip-kedip penuh harap*
.
Haruna Tachikawa: Iya~ tee-hee~ Polisi yang polos-polos bego tapi tempramen gitu deh~ *kedip-kedip* (daritadi ini anak kedip-kedip mulu, kelilipan kali ya?) Aaa~ Makasih banyak~
Nozomi Rizuki 1414: Eh, benarkah? Benarkah? Benarkah? Benark—hhhmmpp! /dibekepNozomi-sankarenabawel/ Anak jalanan? Aaa-iya gak ya~? Maunya~? *lirik-lirik* Eh? Apanya yang kenapa? :_3a Hum... Liat nanti ya, ada Momoi apa nggak, hehehe, ditunggu aja~ /digiles/ Dan ini udah update~
Ginpachi-sensei: Si-Sii-Siap, Sensei! /hormatbendera/ Ini sudah saya update! (Duh, kenapa ada guru disini yak? Ketahuan kan saya gak belajar~ /mojok/)
Misamine: Ehehe, iya. Saya tahu dari Akashi yang baru pulang liburan~ Katanya ada yang pengen ff beginian dan kalau saya gak buat, nanti saya dikulitin pake gunting (?) TwT /apadah/
Ah, salam kenal juga, Usami-san~ /jabatjabatsemangat/
Benarkaaahhh~? *mata nge-blink ala Spongebob*
Huwaa, nggak nyampah kok~ Menurut saya gak ada yang namanya review sampah~ Dan makasih do'anya~~ Jadi malu~ /wut/
BOLEH BANGET MALAH! #CAPSLOCKKEINJEKSAKINGSENENGNYA
.
Yak, sekian sesi bales ripiunya, jangan lupa untuk kembali meninggalkan jejak di kotak review untuk membantu para Police!Seirin, ya~? Dadaaaahhhh~~~ /terjunkejurang/
Sign,
HS.
