Kagami berjalan pelan menyusuri pedestrian tanpa menaruh fokus pada sekitar. Berkali-kali tubuhnya bertubrukan dengan orang-orang namun tak dihiraukannya, bahkan ia pun tak melontarkan maaf yang terang saja langsung memicu amarah mereka. Namun sekali lagi ia tak peduli, makian yang terlontar hanya dibiarkan berlalu bagai angin. Toh kalau mereka sudah puas memakinya mereka akan langsung melongos pergi seraya menggerutu kesal, jadi tak perlu diambil pusing oleh lelaki berambut merah tua itu. Tanpa dikomando, kepingan-kepingan memorinya kembali berputar pada kejadian beberapa jam yang lalu.

.

.

"Dan sialnya ternyata, empat hari yang lalu terjadi penculikkan di sektor tujuh. Pada keluarga Kise."

Kagami berjengit dan reflek bangkit sambil menggebrak meja, membuat beberapa pengunjung yang tersisa dan petugas restoran menoleh ke arahnya sedangkan Hyuuga dan Kiyoshi menatap heran. Kedua belah bibir Kagami membuka dan menutup seperti hendak melontarkan sesuatu namun urung dilakukannya dan segera kembali duduk dengan gusar, Hyuuga terheran-heran dengan reaksi juniornya tersebut begitu pula dengan Kiyoshi yang langsung melempar tatapan bertanya pada Hyuuga, dibalas dengan kedikan bahu dari pemuda berkacamata itu. Kagami mengusap wajahnya dengan lelah lalu ia mengacak pelan rambutnya dengan frustasi sebelum akhirnya menjawab rasa penasaran Hyuuga dan Kiyoshi yang tersampaikan secara tersirat padanya,

"Aku cukup mengenal keluarga Kise. Anak perempuan sulung keluarga itu adalah teman SMA-ku jadi aku lumayan dekat dengan keluarganya. Tapi selama aku mengenal mereka, aku tidak pernah tahu kalau mereka punya anak kecil. Setahuku keluarga Kise hanya mempunyai dua anak, temanku itu dan adik perempuannya. Adik perempuannya pun sewaktu aku SMA sudah duduk di bangku SMP, sekarang dia sudah kuliah. Jadi tidak mungkin terjadi penculikkan anak kecil pada keluarga Kise." kini giliran Hyuuga dan Kiyoshi yang terkejut, tak menyangka bahwa pemuda di depan mereka memiliki keterkaitan dengan keluarga korban.

"Tapi mungkin saja anak kedua mereka itulah yang diculik." terka Kiyoshi.

"Mustahil. Dia kuliah di Amerika." Kagami membantah cepat, "Temanku baru memberitahuku seminggu yang lalu. Ini," Kagami memperlihatkan sebuah e-mail di handphone yang dia ambil dari saku celananya. Hyuuga dan Kiyoshi membacanya dengan cermat,

"Benar juga." Hyuuga kembali menghempaskan diri di bangku restoran, memijat pelan keningnya yang terasa penat. Kiyoshi terlihat berpikir keras di seberang setelah mendapat informasi yang sangat bertolak belakang dengan informasi sebelumnya.

"Ah, aku ingat sesuatu!" seruan Kagami sontak membuat kedua seniornya menegakkan tubuhnya dan menaruh seluruh fokus pada Kagami, "Keluarga Kise sempat pindah ke Kanagawa, mungkin kita bisa mengeruk informasi dari kepolisian setempat mengenai mereka. Siapa tahu mereka pernah terlibat kasus atau semacamnya." sambungnya cepat.

"Bodoh, kita juga punya agen untuk menyelidiki hal-hal begini. Kenapa harus bekerja sama dengan Kepolisian Kanagawa? Kau pikir kami tidak sanggup, hah?" Hyuuga mendengus sebal mendengar saran Kagami yang terdengar merendahkan Kepolisian Tokyo.

"Bukan begitu, Hyuuga. Menurutku saran Kagami ada benarnya. Akan lebih efisien jika Kepolisian Kanagawa yang menangani ini karena Kanagawa adalah daerah kekuasaan mereka, otomatis jaringan mereka juga lebih luas dan banyak sehingga memungkinkan mereka untuk memperoleh informasi lebih cepat dan detail dari kita." Kiyoshi buru-buru menyela dengan bijak agar temper Hyuuga tidak tersulut dengan lontaran balasan dari Kagami mengingat pemuda Leo itu sama temperamentalnya dengan Hyuuga, bahkan lebih. Hyuuga menghela napas dan mengedikkan bahunya pasrah. Terserah saja, pikirnya, yang penting mereka bisa mendapat informasi yang dibutuhkan. Lagipula dengan begini pekerjaan mereka juga sedikit berkurang.

"Baiklah kalau begitu, aku akan segera ke kantor memberitahu Riko sekaligus menghubungi Kepolisian Kanagawa." Kiyoshi bangkit dari kursinya dan menyampirkan tas selempangnya yang tadi tergeletak di atas meja,

"Aku ikut. Aku harus membuat laporan." Hyuuga ikut berdiri dari posisi duduknya, menyusul Kiyoshi yang hendak berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan Kagami yang memilih berdiam diri sejenak untuk menghabiskan makanannya sambil mencari jalan keluar alternatif guna memecahkan kasus tak berujung itu.

"Ah ya, hampir saja aku lupa. Oi, Kagami!" Kiyoshi berteriak pada Kagami yang hampir melamun,

"Huh? Kau belum pergi, Senpai?" balas Kagami sedikit heran.

"Jahat sekali~ Kau mengusirku?" rengekan manja mengudara dan langsung disambut sikutan tajam di pinggang oleh pemuda yang berdiri tepat di sampingnya, "Aaw, sakit Hyuuga~ Kau sepertinya senang sekali menyakitiku." sebelum Hyuuga sempat melancarkan serangan berikutnya, Kiyoshi buru-buru menyelesaikan urusannya dengan Kagami. "Ini daftar nama anak-anak yang disinyalir diculik oleh Touou. Ingat baik-baik, ok?" sebuah buntalan kertas melayang mulus ke arah Kagami dan terjatuh tepat di meja yang sempat menjadi tempat rapat dadakan mereka. Kagami mengangguk pelan sebagai balasan tanpa menoleh lagi pada pemuda mahoni itu, sibuk melihat-lihat nama yang tercetak disana. Kiyoshi dan Hyuuga telah menghilang di perempatan jalan, membiarkan pemuda urakan itu menyimpan baik-baik nama-nama tersebut di otaknya.

.

Tak terasa waktu telah berlalu cukup lama, sudah hampir dua jam Kagami berada di Maji Burger selepas kepergian dua seniornya. Dirinya masih tenggelam dalam kesibukkan meneliti nama-nama yang tertera di buntalan putih tersebut. Dari semua nama yang ada, ada sekitar enam nama yang membuatnya tertarik.

Akashi Seijuurou, Aomine Daiki, Kuroko Tetsuya, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi, dan Momoi Satsuki.

Nama-nama itulah yang menarik perhatiannya sedari awal ia membaca kumpulan nama disana. Selain nama-nama tersebut erat kaitannya dengan warna, hanya mereka ber-enamlah yang diculik dalam kurun waktu berdekatan, ditambah dengan bocah Kise yang tadi diceritakan oleh Kiyoshi. Riwayat keluarga mereka pun sangat bertolak belakang, sama sekali tak ada indikasi bahwa Touou menculik mereka untuk mendapatkan uang. Mungkin jika hanya melihat Akashi dan Midorima, bisa disimpulkan bahwa yang mereka incar adalah uang. Namun sayangnya hipotesis itu terpatahkan begitu dirinya membaca riwayat keluarga keempat anak lainnya yang berasal dari keluarga biasa saja. Umur mereka pun beragam mulai dari lima tahun sampai yang tertua delapan tahun, benar-benar seperti penculikkan yang dilakukan random tanpa pandang bulu. Satu lagi yang membuatnya bingung, beberapa dari mereka berasal dari daerah yang berbeda. Memang Kuroko, Aomine, Midorima, dan Momoi berasal dari daerah yang sama, Tokyo, meskipun di sektor berbeda dan tak berdekatan, namun sisanya berasal dari Kyoto dan Akita. Sebenarnya apa yang ada dipikiran komplotan penculik tersebut sampai mondar-mandir kesana kemari hanya untuk menculik seorang anak kecil? Bukannya dia menyarankan maupun mendukung, tapi secara logika, akan lebih mudah bagi mereka untuk menculik anak-anak dari daerah yang sama. Selain lebih cepat dan efisien mereka juga menghemat biaya kan? Tapi kenapa sampai berbuat sejauh ini? Bahkan dirinya sempat melihat data seorang anak bernama Wei Liu yang berasal dari China pun turut menjadi korban kejahatan kelompok veteran itu.

Mengerang frustasi mendapati dirinya tak bisa menerka jalan pikiran para penculik brengsek itu, Kagami melempar ringan buntalan tadi ke meja dan menangkupkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya sendiri yang bertengger di meja. Pusing dan penat menyergapnya, membuat pemuda kelahiran dua Agustus tersebut menggerutu sebal dengan volume rendah. Merasa cukup dengan masa gloomy-nya barusan, Kagami kembali menegakkan tubuh dan menghabiskan cola-nya yang sudah kehilangan soda, selanjutnya ia memerintahkan kedua tungkai kakinya untuk meninggalkan restoran cepat saji favoritnya tersebut.

Baru saja ia melepas telapak tangannya dari permukaan kaca pintu restoran, manik ruby-nya tak sengaja menangkap siluet biru muda di ujung jalan, mengingatkan Kagami akan anak yang ditemuinya beberapa waktu lalu. Kelereng merahnya membelalak begitu melihat sosok anak tersebut memang benar anak yang menabraknya di perjalanan menuju Maji Burger. Namun bukan itu yang membuatnya melebarkan kelopak matanya, melainkan karena kemiripan si anak dengan foto di daftar yang Kiyoshi berikan barusan. Bukan, bukan mirip, melainkan memang dia yang berada di foto!


.

.

Escape!

Disclimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Escape! © Hyori Sagi

Summary : "Bodoh, kita juga punya agen untuk menyelidiki hal-hal begini. Kenapa harus bekerja sama dengan Kepolisian Kanagawa? Kau pikir kami tidak sanggup, hah?" / "Kita hanya menebal pancing kok. Tidak telang-telangan mencebulkan dili ke laut sepelti kemalin malam." / Akhirnya... Apakah akhirnya Tuhan mendengarkan do'a-do'a yang selalu mereka panjatkan tiap malam? Apakah ini adalah saat-saat dimana akhirnya do'a mereka dikabulkan?

Rated : T (Tapi ada kemungkinan naik di beberapa chapter depan)

Warning : Little!GoM, Police!Seirin, mengandung unsur kekerasan dan pembunuhan untuk ke depannya, maybe OOC? Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari cerita ini.

.

Enjoy...

.

.


###

"A-Apa-ssu?! Kurokocchi sudah gila ya!?" kedua topaz membeliak kaget mendengar penuturan teman birunya barusan, menganggap ada yang rusak di kepalanya akibat benturan dengan lantai pada kejadian sebelumnya. Si pemilik manik musim panas di depannya hanya menatap datar, tapi jika diperhatikan lebih seksama terpancar kekesalan si pemilik yang berhasil ia tutupi dengan ekspresi datarnya.

"Aku masih walas, Kise-kun. Jahat sekali kata-kata Kise-kun." dijawab dengan nada monoton,

"Ta-Ta-Tap-Tapi, tapi itu ide gila, Kurokocchi! Kau mau disiksa lagi-ssu?" tergagap-gagap dalam menjawab membuatnya malah terlihat seperti lebih muda dari temannya itu, padahal faktanya ia lebih tua satu tahun dari bocah biru muda tersebut.

"Memangnya Kise-kun tidak mau pelgi dali sini?" anak yang dipanggil Kise itu terdiam,

"Kita hanya menebal pancing kok. Tidak telang-telangan mencebulkan dili ke laut sepelti kemalin malam." Kise mengerjap beberapa kali, ini Kurokocchi beneran masih umur enam tahun atau sebenarnya dia orang dewasa yang terperangkap di tubuh anak kecil? Kok bahasanya tinggi banget? Kise membatin heran.

"A-Aku... Tapi aku takut Kurokocchi. Kalau ketahuan gimana?" Kise memainkan ujung kaosnya yang telah kumal—efek tidak dicuci dengan benar—menandakan anak lelaki itu mulai termakan ajakan Kuroko meski masih ragu. Kuroko menggeleng tegas sambil menggumam 'tidak' sebagai jawabannya, menggenggam tangan Kise untuk meyakinkan. Jika saja situasinya tidak seperti ini pasti Kise akan segera menerjang Kuroko saking imutnya, namun sayangnya kondisi saat ini tak mendukung hal tersebut. Setelah berpikir sejenak akhirnya anak dari keluarga Kise tersebut mengangguk, menyanggupi rencana yang telah disusun oleh Kuroko, "Coba ulangi lagi rencanya-ssu. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang dapat membahayakan kita-ssu." pinta Kise beberapa saat kemudian.

"Jadi peltama, kita kelual dali sini lewat ventilasi kamal mandi dekat gudang. Setelah kelual, kita segela pelgi ke pelempatan jalan depan untuk membeli tahu bebelapa olang dewasa bahwa kita butuh bantuan tapi jangan telang-telangan, pakai kode. Lalu setelah itu kita kembali lagi kesini lewat ventilasi lagi dan jangan sampai meninggalkan jejak." papar Kuroko lancar dengan lidah cadelnya. Serius deh, ini Kuroko beneran anak umur enam tahun?

"O-Ok-ssu. Akan kucoba." Kise memantapkan hatinya. Kuroko mengangguk dan segera berdiri disusul Kise yang langsung mengekor Kuroko menuju kamar mandi yang terletak di pojok dapur, tepat di sebelah kiri ruang kamar yang mereka tempati tadi. Memastikan rumah tersebut benar-benar kosong dan tidak ada pengasuh yang tersisa, mereka segera masuk ke kamar mandi dan memanjat ke atas toilet. Kise menggendong Kuroko untuk mencapai ventilasi yang terletak tepat di atas kloset. Tanpa membuang waktu, Kuroko segera menarik penutup ventiliasi, mencoba membukanya. Tapi naas, tenaganya tidak cukup untuk membuatnya terbuka. Jangankan terbuka, bergeming pun tidak.

Melihat itu Kise menyarankan Kuroko untuk mengambil kursi, membiarkan dirinya yang berusaha membuka penutup besi tersebut. Kuroko mengangguk paham dan keluar kamar mandi untuk membawa sebuah kursi tinggi dan sebuah obeng –entah darimana ia mendapatkannya— Kise segera memanjat kursi yang telah dibawakan Kuroko dan berusaha mencungkil besi penutup dengan obeng. Lima menit tanpa hasil membuat Kuroko dan Kise diserang rasa gelisah dan takut, bahkan kini Kuroko ikut memanjat dan membantu Kise dengan sebuah gunting.

Hampir saja Kise menangis frustasi karena tak kunjung berhasil kalau saja indera pendengarnya tidak menangkap suara besi yang terlepas dari tempatnya. Ia menatap Kuroko dengan wajah bahagia yang tersepuh wajah menangis dan dibalas dengan wajah antusias berbalut datar milik anak berkaos hitam tersebut. Segera, mereka menarik penutup besi itu bersamaan dengan sekuat tenaga hingga terlepas dari tempat seharusnya.

Langit biru langsung menyambut penglihatan mereka. Semilir angin musim semi menyapu lembut wajah mereka. Rindu, rindu sekali mereka rasanya dengan sensasi tersebut. Meski baru beberapa menit yang lalu Kuroko keluar dari rumah busuk ini, namun rasanya tetap berbeda. Ada sensasi aneh dan menyenangkan yang menggelitik mereka, menyeruak keluar dari kalbu. Jika saja Kuroko tidak menepuk pundaknya, mungkin Kise tak akan pernah tersadar dari euforia yang tengah ia rasakan saat ini.

Kuroko menggeleng lemah seraya memasang senyum tipis sendu khas anak kecil, "Ayo, Kise-kun. Waktu kita tidak banyak." Kise mengangguk lemah, menahan air matanya yang berontak untuk bercumbu dengan pipi putihnya. Ia memanjat terlebih dahulu agar dapat membantu Kuroko turun nantinya. Setelah kakinya menapak pada tanah ia menahan Kuroko agar tidak segera turun karena ia harus mencari pijakan yang lebih tinggi, barulah setelah ia mendapatkan sebuah tong sampah berukuran sedang ia mengomando Kuroko untuk segera turun.

Hup!

Melompat pelan dari atas ventilasi, akhirnya Kuroko mendarat dengan mulus dalam dekapan Kise. Dengan segera mereka berlari ke arah perempatan setelah mengembalikan tong sampah tadi ke tempat semula agar tidak menimbulkan kecurigaan.

.

.

Kini mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit, terlebih lagi mereka hanya anak kecil, memilih dari sekian banyak orang yang berlalu lalang di persimpangan besar adalah masalah besar. Mereka tidak tahu yang mana yang dapat mereka percaya, salah-salah mereka malah bertemu dengan teman salah satu pengasuh di rumah mereka. Saling menautkan jari erat untuk menguatkan dan agar tak terpisah, hanya itu yang mereka bisa lakukan sekarang ini. Berhasil keluar dari kandang singa berakhir dengan kebingungan di tengah belantara, kira-kira seperti itulah keadaan mereka sekarang. Sampai sebuah teriakan membuyarkan kebingungan mereka,

"Hei! Kau, anak berambut biru muda!" suara itu, Kuroko mengenalinya. Ia menoleh kesana kemari mencari sumber suara tadi dan mendapatinya tengah berlari ke arah mereka dari seberang jalan. Kuroko bersyukur pada saat-saat seperti ini hawa keberadaannya disadari oleh orang, mungkinkah efek Kise yang ada di sebelahnya?

Kise menelengkan kepalanya bingung, menatap Kuroko dengan heran,

"Dia manggil Kurokocchi-ssu?" tanyanya. Kuroko mengangguk pelan mengiyakan,

"Ayo hampili dia, Kise-kun. Dia olang baik." dengan pelan dan semangat Kuroko menarik tangan Kise digenggamannya. Yang ditarik hanya bisa pasrah dan mengikuti kawan yang baru dikenalnya beberapa hari.

Padahal jarak mereka masih cukup jauh, namun orang yang memanggil Kuroko tadi sudah berhasil meraih mereka, mengangkat keduanya dengan tangan-tangannya yang kekar. Orang yang ternyata pemuda tersebut terlihat tak percaya sekaligus lega tersirat di mimiknya. Tanpa berkata apapun dia membawa keduanya ke sebuah restoran cepat saji, apa namanya, entahlah, mereka berdua belum terlalu pandai membaca bahasa asing.

Setelah mendudukkan mereka berdua di kursi yang empuk, pemuda tadi bertanya,

"Kalian mau makan apa? Katakan saja, aku yang bayar." mendengar tawaran tadi, jiwa anak-anak mereka memuncak dan dengan cepatnya langsung memilih makanan yang terpampang di menu. Lupa akan tujuan utama mereka. Pemuda itu terkekeh melihat tingkah laku kedua anak bersurai mencolok di depannya. Tapi tak berlangsung lama karena ia langsung memfokuskan pikirannya.

Setelah pesanan terhidang di meja dan para anak itu melahap hidangannya dengan lahap dan antusias, mulailah pemuda itu membuka percakapan,

"Perkenalkan, aku Kagami Taiga. Dan apakah benar kau bernama Kuroko Tetsuya?" pertanyaan yang terlontar dengan nada biasa namun menimbulkan efek yang luar biasa. Bocah bersurai langit itu langsung tersedak vanilla milkshake pesanannya begitu pertanyaan tadi terlontar. Bocah berambut pirang di sebelahnya pun langsung menghentikan kegiatan makannya dan menatap Kagami dengan tatapan tidak percaya. Dalam sekejap mereka saling mendekatkan diri dan menatap Kagami dengan was-was setelah beringsut menjauh. Terang saja hal tersebut membuat Kagami kebingungan.

"H-Hei, ada apa? Maaf kalau tiba-tiba bertanya. Aku tidak bermaksud jahat kok. Sungguh." kelabakan menghadapi respon barusan pasalnya dia memang kurang bersahabat dengan anak kecil, sepertinya efek dari wajah sangarnya. Kuroko dan Kise saling tatap dan pada akhirnya kembali tenang meski kewaspadaan mereka meningkat tajam.

"Memang kenapa, Tuan?" bukannya menjawab, Kuroko malah balas bertanya.

"Yah, eem... Kau mirip dengan anak yang ada di foto milik seniorku." mendengar jawaban Kagami membuat kewaspadaan Kuroko dan Kise meningkat. Hidup di tengah kebohongan-kebohongan besar membuat mereka terbiasa untuk selalu berwaspada meski orang tersebut terlihat baik pada mereka dan Kagami sadar itu. Mata mereka menceritakan semuanya dalam kebisuan, dia hanya ingin memastikan sebelum melakukan tindakan.

"Tuan, apa... Apa pekerjaan Tuan?" Kise memberanikan diri berkecimpung ke dalam obrolan Kagami dan Kuroko. Menatap takut-takut sambil memainkan garpu dan sendok di tangan mungilnya. Kagami berpikir keras, haruskah ia memberitahu mereka? Tapi jika tidak, mereka pasti akan tutup mulut.

"Baiklah, ini rahasia kita saja ya? Jangan sampai ada yang tahu." Kagami mendekatkan diri kepada langit dan matahari di depannya, mengecilkan volume suaranya sehingga tidak ada yang bisa mendengar selain mereka bertiga. Kise dan Kuroko mengangguk cepat seraya ikut mendekatkan diri mereka pada Kagami, jantung mereka berdebar cepat dan rasa was-was memenuhi diri mereka. Tanpa sadar mereka meraba saku celana mereka yang ternyata masih tersimpan gunting dan obeng yang tadi digunakan untuk membobol ventilasi,

"Aku adalah—

.

.

.

.

.

—seorang polisi yang sedang menangani sebuah kasus besar—

.

.

.

.

.

—Kasus penculikkan anak."

.

Akhirnya... Apakah akhirnya Tuhan mendengarkan do'a-do'a yang selalu mereka panjatkan tiap malam? Apakah ini adalah saat-saat dimana akhirnya do'a mereka dikabulkan?

.

.

.


TBC~


A/N:

Wehei, diri ini sedang senang menggunakan mark "A/N" seperti di atas, tee-hee~ /gakpenting/ #dibuang

Ah, akhirnya bisa di-update juga ini fict satu~ Maaf kalau chap ini fail abis dan banyak typo bertebaran, entah kenapa akhir-akhir ini sedang susah untuk mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata. Efek ngirit suara karena bosen ngomong (?), mungkin.

Dan makasih untuk yang sudah baca, fav, follow, dan review. Mohon dukungan, kritik, dan sarannya selalu untuk keberlangsungan fict ini, kawan~ /bungkukbungkukhormat/

Oh ya, maaf juga belum sempet bales ripiu-ripiu indah nan unyu para ripiuwers sekalian. Insya Allah akan saya bales lewat PM secepatnya, mohon ditunggu ya~? #tebarbungamelati (Siapa juga yang nungguin, coba?)

Akhir kata, terima kasih sekali lagi bagi yang sudah berkenan membaca terutama yang rela meninggalkan jejak di kotak bawah. Saya sangat menghargai apresiasi readers sekalian terhadap karya saya, jaa na~~ /nyungsepkedalamselimut/

Sign,

HS.