lama yah lanjut nya? sebenernya ini males-malesan lanjutin nya soalnya bakal ngira ini fanfic pasti sedikit yang bacnaya wahahah :'v jadi maaf yah kalau banyak typo, kata yang susah dipahami, makhlum campur bahasa alien, saya kan warga asli sana :'v
GAJE, ANEH, MENYEBABKAN DIARE DAN BIKIN LU SAKIT MATA. Derita tanggung sendiri yah :'v
.
.
.
Kurapika menatap guru di depan kelas dengan tatapan bosan. Beberapa kali dia membolak-balikkan halaman buku catatan nya untuk menghilangkan rasa bosan nya. Tidak hanya Kurapika, beberapa siswa dikelas nya juga sudah terlihat tidak bersemangat. Tentu saja, ini pelajaran terakhir. Yg mereka tunggu hanyalah bunyi dari bel pulang.
Kurapika menatap langit sejenak. Langit itu terlihat begitu indah dan cerah, mengigatkan nya kepada kedua orangtua nya. Ia sungguh merindukan mereka. Jika mereka berdua tidak meninggal karena pembantaian bus itu, mungkin hidup Kurapika akan lebih bahagia dan dia mempunyai banyak semangat. Tidak seperti sekarang, terasa begitu hampa seolah tidak ada rasa dihatinya.
Tak lama bel pun berbunyi. Seketika kelas menjadi ricuh karena kegirangan. Mereka pun membungkuk, memberi salam penghormatan kepada guru. Kurapika membereskan semua peralatan belajarnya, semua nya dimasukkan kedalam tasnya, tak ada yg terlupakan. Pergerakannya terhenti tiba-tiba. Dia pun kembali duduk dengan manis di bangkunya, tanggan nya dilipat diatas meja.
"Kurapika, ayo pulang.. apa kau mau bermalam disini?" ucap Neon polos. Machi hanya menatap Kurapika dengan datar.
"tentu saja tidak, bodoh. Kalian pulang duluan saja. Aku ada urusan… sedikit" ucap nya setengah-setengah. Ya bagaimana lagi, sebenarnya Kurapika juga ingin pulang dan lagi perut nya terasa sangat lapar karena saat istirahat dia tidak memakan apapun. Tapi sesuatu membuatnya mengurungkan niat nya untuk pulang cepat. Machi menatap Kurapika penuh selidik.
"oh, kalau begitu kami duluan." Ujar Neon dan hanya disertakan dengan anggukan dari Kurapika. Neon pun tersenyum pada Kurapika dan berjalan diikuti Machi. Tiba-tiba Machi berhenti dan menoleh kepada Kurapika yg masih memperhatikan mereka berdua.
"Kurapika... Hati-hati" ucap Machi datar. Kurapika langsung tersentak,
'a-apa maksudnya' batin Kurapika
"ah.. hn" ucap Kurapika singkat nan datar, tidak berbeda dari ekspresi sebelum-sebelum nya. Machi dan Neon pun berlalu dari kelas. Kini hanya ada Kurapika sendiri disana. sejenak dia meregangkan otot-otot tubuh nya yg sedikit kaku. Kurapika pun menelungkupkan wajahnya diatas meja. Dia merasa begitu lelah, namun pria brengsek itu menyuruhnya menunggu setelah pulang sekolah. Bukan nya Kurapika takut atas perintah Kuroro atau apa. Masalahnya dia memiliki pengalaman yang buruk waktu SMP. Saat itu dia juga disuruh menunggu seperti ini. Dia membantah dan langsung pulang kerumah begitu bel pulang berbunyi, toh Kuroro bukan siapa-siapa nya. Tetapi esok harinya dia dikejutkan dengan photo nya yang sengaja di edit. Photo nya yang sedang menggunakan pakaian wanita yang sangat manis, 'yang menurutnya' menjijikan. Dengan wajahnya yang super imut, Kurapika terlihat begitu manis, tetapi dia merasa itu sangat memuakan. Semua nya tersebar dikelas nya, beberapa photo tertempel di papan tulis. Saat itu Kurapika langsung tau siapa pelakunaya. Itulah hukuman yang Kuroro bicarakan. Benar-benar masa lalu yang sangat menyedihkan. Mengingatnya saja membuat nya merinding.
Lama ia menunggu Kuroro sampai akhirnya dia pun tertidur di kelas dengan kepala diatas meja yang dimiringkan menghadap jendela. Tak berapa lama Kuroro datang. Ia tahu ia telah membuat Kurapika menunggu sangat lama. Tapi itu sama sekali bukan urusannya. Dia juga harus menunggu dikelas sampai sekolah sepi agar bisa menemui 'gadis udik nya' itu. Kuroro memperhatikan wajah tidur Kurapika, begitu polos dan lucu. Kuroro hampir saja ingin mencubit pipi gadis itu saking gemas nya. Tidak ingin melewatkan ide jahil di otak nya, Kuroro pun mengambil handphone nya dan langsung megambil beberapa photo Kurapika. Sungguh terlihat sangat lucu. Detik selanjutnya Kuroro pun menatap sendu kearah Kurapika. Entah apa yang dipikarkannya, tapi tatapannya kepada Kurapika begitu penuh makna.
-SKIP-
"KAU.. KYAAA AKU SANGAT MEMBENCIMU" teriak Kurapika dengan wajah memerah sambil mencoba meninju, memukul dan menyakiti tubuh pria dihadapannya. Kini mereka berada di atap sekolah. Untung sekolah sudah sepi sejak beberapa menit yang lalu.
"bukan aku yang melakukannya, kau jangan salah paham dulu!" timpal Kuroro mencoba menghindar dari tinjuan Kurapika. Dengan gesit pria itu bergerak menghindar, tapi tak selalu berhasil. Kadang pukulan Kurapika sedikit mengenai bagian lengan dan bahu nya yang kekar.
.
.
-FLASBACK-
Kurapika terbangun dari tidurnya, menguap dan meregangkan otot-ototnya.
"aku rasa kemarin aku sedang menunggu dikelas, mungkin aku ketiduran."
"tapi kenapa tiba-tiba aku disini?" batin Kurapika kebingungan. Tentu saja, dia sangat ingat kemarin dia sedang menunggu dikelas, tapi sekarang dia sudah berada dikamar nya ini, tidur dengan nyenyak. Dia pun meremas bagian ujung selimutnya, wajah yang tadinya tenang kini berubah jadi super menyeramkan..
"si Lucilfer brengsek itu" desis nya. Dia pun menyingkapkan selimutnya dan bangkit dari tidurnya. Seketika mata nya membelalak hampir lepas dari tempatnya. Dilihatnya tubuh gadis itu telah memakai piyama biru miliknya. Jantung nya berdegup kencang, wajahnya memanas.
"si-siapa yang menggantikan seragamku?!" teriaknya dalam hati, wajahnya kini sudah menyaingi warna tomat. Dia merasa benar-benar malu!
-FLASHBACK END-
.
.
"kau itu harusnya bersyukur, aku telah mengantarmu pulang. Berterimakasihlah kepadaku. Harusnya kamu senang, yang mengantarmu adalah seorang pria baik sepertiku." Ucap Kuroro tidka mau kalah.
"aku benar-benar tidak senang! Kau, brengsek!" bentak Kurapika benar-benar merasa kesal. Wajahnya memerah. Lelaki didepannya ini telah dengan lancang menyentuhnya. Tiba-tiba Kurapika menghentikan gerakannya, Kuroro yang merasa bingung pun ikut berhenti. Ditatapnya gadis didepannya lekat-lekat.
Kuroro telonjak kaget melihat tiba-tiba Kurapika menjatuhkan dirinya. Kini dirinya tengah terduduk dilantai atap sekolah. Gadis itu menunduk sambil mendekap dadanya.
"kau… menyentuhku, dan melihat…. Padahal kau bukan siapa-siapa ku." ucap Kurapika gemetar. Kurapika sedikit menitikkah air mata. Dia merasa sangat malu, mengetahui Kuroro lah yang menggantikan baju nya. Tapi itu masih belum terbuktikan.
"H-hey.. kau jangan seperti itu. Kemarin bukan aku yang menggantikan baju mu. Sungguh, Itu.. temanku, dia perempuan kok." Balas Kuroro. Dia menatap sosok Kurapika yang terduduk di depannya lekat-lekat. Dia memang selalu menjahili Kurapika, tetapi ini pertama kalinya dia melihat Kurapika seperti ini. Kurapika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangganya, kemudian mendelik sedikit kearah pria yang ada dihadapannya. Dia pun bangkit, dan meninju wajah Kuroro.
"BODOH! APAPUN YANG KAU KATAKAN, AKU AKAN TETAP MEMBENCIMU." Ucap Kuraika, lalu berlari meninggalkan Kuroro diatap sendiri. si Lucilfer hanya meringis kesatikan memegang pipinya yang memerah. Seringai muncul diwajah tampan nya, walaupun tak kentara.
"mungkin memiliki type gadis seperti nya akan sulit."
BRUUUKKKK
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam lorong sekolah, tepatnya dari tangga menuju ke atap. Kuroro pun bangkit, sedikit memukul bagian belakang celana nya, dan berjalan masuk. Iia penasaran apa yang sedang terjadi. Dilihatnya Kurapika yang meringkuk kesakitan sambil memeluk kakinya. Seperti nya dia terpeleset.
"dasar ceroboh" ejek Kuroro. Kurapika masih meringkuk seperti udah sambil meringis. Sepertinya benar-benar sakit.
"apa kau terlalu senang bisa melihat wajahku ini, sampai-sampai kau ceroboh terjatuh dari tangga?" lanjut Kuroro, hanya di tanggapi dengan delikan dari Kurapika
"B-bodoh!" ketus Kurapika meringkuk kesakitan. Kuroro menghela napas, ia pun berjalan mendekati Kurapika dan menggendong nya ala bridal style.
"APA YANG KAU LAKU…. AARGH" protes Kurapika yang belum selesai, karena tiba-tiba Kuroro menekan bagian lutut nya yang sakit.
"diamlah, atau kau kujatuhkan" ucap Kuroro dingin. Dia tidak membawa nya ke UKS, ruangan nya terkunci. Lantas dia membawanya ke ruang kelas. Kuroro pun mendudukkan Kurapika di meja dekat jendela. Perlahan Kuroro menarik kursi dan mengambil tempat dihadapan gadis itu. Dia memijit-mijit bagian kaki gadis itu yang memerah.
"aww.." Kurapika meringis kesakitan. Matanya terpejam menahan sakit dikaki nya. Mungkin jika wanita lain yang mengalami ini, wanita itu akan menangis sambil menjerit atau bahkan pingsan. Untunglah Kurapika bukan gadis lemah seperti gadis-gadis biasanya. Kurapika membuka matanya sedikit. Pria itu kembali menyentuh sedikit bagian tubuh nya, tapi ia telah menolongnya. Tak bisa dipungkiri kalau gadis itu berpikir Kuroro memang pria yang baik, namun terkesan dingin.
"apa sangat sakit? Kau itu seperti anak kecil, bisa-bisanya terjatuh dari tangga." Kuroro menceramahi Kurapika. Kurapika hanya menatap kaki nya dengan tatapan memelas. Sungguh wajah yang menggemaskan. Seperti anak kucing bermata sedih yang meminta makan kepada majikannya.
Kuroro kembali menatap sosok Kurapika. Hari sudah semakin sore. Sinar oranye matahari yang memantul pada rambut Kurapika membuatnya sangat cantik. Kurapika memang gadis yang sangat cantik, mungkin Kuroro pun berpikir begitu.
Mata Kurapika membulat sempurna. Kuroro tiba-tiba mencium kaki nya yang sakit, yg memerah itu. Kenapa pria ini begitu nekad. Kurapika bukanlah gadis yang harus diperlakukan layaknya gadis kecil yang memelas kepada orangtua nya. Wajahnya terasa panas, tubuhnya menegang. Bahkan ia tak bisa bergerak saking terkejutnya.
Kuroro melepaskan bibirnya dari kaki Kurapika yang membengkak, dia pun mendongkak. Dilihatnya pipi gadis itu memerah sempurna. Kurapika menatap Kuroro tidak percaya. Kaki nya yang tadi nya terasa sangat sakit, kini sedikit berkurang. Apakah Kuroro mengucapkan mantra agar sakit di kaki Kurapika berkurang?. Dia membenci nya, tapi dia juga tidak bisa menolak nya.
Kuroro pun melepaskan peganggan nya dari kaki Kurapika dengan lembut. Ia pun bangkit dari duduknya.
"sampai kapan kamu mau melamun.." ucap Kuroro dingin. kemudian Kuroro menyelipkan tangan nya dibelakang lutut Kurapika, dan satu tangan lagi menyangga pundak Kurapika.
"kaki mu pasti terasa sakit untuk dipakai berjalan. Ayo, aku akan mengantarmu pulang" lanjutnya.
"a-aku…"
"hn.." Kuroro pun memperhatikan wajah Kurapika yang ada digendongan nya. Kurapika hanya menunduk.
"a-aku.. berat." ucap Kurapika pelan, wajahnya sudah benar-benar memerah.
"ya kau memang berat sekali. aku tinggal menjatuhkan tubuhmu jika aku tak kuat menahan tubuhmmu ini." Ucap Kuroro dengan polos. Kurapika tak merespon nya, namun pipinya makin merona saja. Terasa sesuatu bergejolak di dadanya. Mungkinkah..
Kuroro pun berjalan menuju parkiran dengan Kurapika yang berada di gendongan nya. Jantung Kurapika tak berhenti berdegup dengan kencang.
"jangan.. jangan lakukan hal ceroboh seperti tadi lagi." Ucap Kuroro seraya mempererat gendongan nya pada Kurapika. wajahnya yang begitu datar dan dingin, membuat Kurapika tidak percaya apa yang dikatakan pria itu tadi. Rona di wajah Kurapika makin-makin saja. Jantung nya berdegup semakin kencang.
"kau akan merepotkan ku jika kau ceroboh seperti tadi lagi." Rona pipi dan detang jantung Kurapika yang tadinya kencang tergantikan dengan persimpangan di dahi nya. Baru saja pria ini bersikap seperti seorang malaikat padanya, sekarang malah membuatnya kesal setengah mati seperti biasanya. Pria ini memang pintar mempermainkan perasaan orang.
"siapa juga yang ingin di tolong oleh pria brengsek seperti mu." Ucap Kurapika dengan ketusnya. Kurapika memalingkan wajahnya. Diam-diam, terlihat seringai tipis diwajah pria tampan itu.
Mereka pun sampai diparkiran. Kuroro mendudukkan Kurapika dikursi sebelah pengemudi. Dia berjalan memutari mobil dan masuk kedalam mobil.
-SKIP-
Mereka pun sampai dirumah Kurapika.
"terimakasih." Ucap Kurapika acuh tak acuh sambil membuka pintu mobil, hendak keluar.
"ya, kau yakin bisa berjalan sendiri?" Kurapika melirik Kuroro dengan tatapan tajam.
"tentu saja! Kau kira aku anak yang baru belajar berjalan." Bantah Kurapika seraya menutup pintu mobil dengan agak keras saking kesalnya. Baru beberapa langkah Kurapika berjalan, dia sudah terjatuh. Kaki nya kembali terasa sangat sakit, mungkin lebih dari yang tadi.
Kuroro menghela napas, sejenak dia menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil, lalu keluar menghampiri Kurapika. Dia pun berlutut dihadapan Kurapika.
"kau perlu bantuan." dilihatnya Kurapika yang sedang meringis kesakitan sambil mencoba berdiri.
"TIDAK.." bantah Kurapika. Diapun berjalan sebisanya. Kuroro hanya bisa menghela napas. Diapun memperhatikan Kurapika dari tempatya berdiri . sekali-sekali gadis itu hampir terjatuh karena tidak dapat menahan sakit di kaki nya.
"gadis bodoh." ucap Kuroro dingin. Dengan marah Kurapika meoleh kearah Kuroro.
"aku buka gadis bodoh!" ucapnya kemudian kembali berjalan dengan terpicang-pincang.
"hhh… besok, besok aku akan menjemputmu."
Kurapika membalikkan badanya dengan rasa terkejutnya.
"apa?!" Tanya Kurapika seolah tak mendengar apa yang dikatakan pemuda tadi.
"besok aku akan menjemputmu, kau tidak akan bisa berjalan sendiri ke sekolah denga keadaan seperti itu." Kurapika merasa perkataan Kuroro menyindirnya. Secara tidak langsung mungkin Kuroro berkata bahwa Kurapika adalah gadis yang lemah, yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.
"k-kau gila. Kau mau aku menjadi bulan-bulanan para gadis disekolah!" bantah Kurapika. Ya, bisa-bisa Kurapika menjadi sasaran pembulian para gadis atau fangirl Kuroro di sekolah.
"itu bukan masalahku. Besok aku akan menjemputmu… jam 6"
Mata Kurapika membelalak. "kau gila, itu terlalu pagi!" ucapnya dengan marah. Sekolah dimulai pukul 7.30, dan pria itu akan menjemputnya jam 6. Itu masih terlalu pagi!
"kau, bercanda kan?" Tanya Kurapika takut-takutan. Tidak salah dia menanyakan pada pria ini agar lebih jelas, Kuroro kan memang suka mempermainkan nya.
"terserah kau saja" ucap Kuroro seraya menaiki mobilnya. Dia pun pergi dari rumah Kurapika.
Kurapika menatap mobil Kuroro yang semakin menjauh. Dia pun menyadari sesuatu. Kuroro mengajak nya pergi ke sekolah sepagi itu agar tidak ada siapa pun yang dapat melihat nya, agar gadis-gadis disekolah tak membulinya karena mengetahui ia berangkat bersama Kuroro. Dia menyadari nya terlalu terlambat. Jauh dilubuk hatinya dia merasa senang. Kuroro bersikap baik kepada nya, pertama kalinya. Bagaikan malaikat yang datang dan menolong manusia yang sedang dalam keadaan sengsara. Perlahan Kurapika memegang dada nya. Jantung ya berdegup kencang. Rasa apa ini, jantung nya memang sering berdegup dengan kencang tapi ini… berbeda. Ada sesuatu yang berbeda didalam dada nya. Mungkin kah… mungkinkah ini saat nya seorang gadis Kuruta itu untuk jatuh cinta?
.
.
.
TBC
.
Review pliss :'v
Ini Gaje banget yah? Gomen, gak niat :'v
