Disclaimer: All KHR! characters belongs to Amano Akira-sensei & all of the story contain belongs to KareshiKanojo.

Genre: Totally messed up!

Pairing: none, unless author change their mind *peace*

Rate: T+

Warning: may(be) OOC, may(be) AU, may(be) fail, and may(be) typo a lot.

.

New FF with KHR! charas: 8 Vongola Guardians & 1 Varia & 2 Millefiore & 2 Shimon by YuriakiAnna + k0ush4fukuj1 + KareshiKanojo

.

All characters we summon belongs to Amano Akira-sensei

.

Is it YAOI? Absolutely NO... is it Boys Love? Almost like that in a little chance...

.

STOP A MOMENT!

IF YOU DON'T WANT TO READ AND REVIEW, JUST ABANDON THIS FF (it's in Indonesian though) AND CONTINUE YOUR LIFE!

.


Lotto's Lucky Numbers Today: 00


.

Konon, surai merah menyala itu terkenal anti bicara. Tapi sebenarnya, ia hanya mengungkapkan keinginan hatinya dengan suara lirih hingga orang disebelahnya tidak mampu menangkap resonansi dari bibir pecah-pecahnya.

Plester putih yang mewarnai sebagian hidung dan kedua pipinya, menutupi beberapa luka gores bekas berdarah hasil berkelahi. Meskipun hal tersebut bukanlah keinginannya.

"Enma-kun?"

Si surai merah menoleh, mendapati salah satu sahabat karibnya kini mendatangi meja beserta kursi temnpat dirinya duduk dan menunggu selama hampir setengah jam dari tadi.

"Maaf ya, aku terlambat. Habisnya Lambo-kun merengek minta ikut, jadi kutidurkan dia terlebih dahulu." Lanjutnya.

Enma mengangguk ke arah pemuda yang memiliki iris cokelat gelap dan surai jabrik cokelat muda itu.

"Tidak apa-apa, Tsuna-san..." jawab Enma lirih.

"Sebagai permintaan maafku, akan ku traktir deh. Enma-kun mau makan apa?"

". . ."

Enma menunduk, membiarkan Tsuna menerka apa isi pikiran sahabat merahnya itu. Tapi boss Vongola ke sepuluh tersebut justru memberikan opsi lain yang tidak disangka-sangka sebelumnya.

"Bagaimana kalau kita ke restoran sushi milik ayahnya Takeshi-kun? Atau... kita jalan-jalan dulu? Jalan-jalan marathon dari Namimori ke Kokuyo kemudian dilanjut ke Shimon? Tapi terserah Enma saja, mau memilih yang mana."

Enma menggeleng, ia menolak keduanya. Tsuna tersenyum, sembari menggandeng tangan Enma yang terasa sedikit dingin. Mungkin pemuda itu gugup berjalan berdua bersamanya.

"Tsuna-san..."

"Iya, Enma-kun?"

"Maaf..."

Tsuna mengernyitkan dahinya, apa maksud Enma meminta maaf? Bukankah ia yang telat tadi? Enma terus saja menunduk, ia malu melihat wajah Tsuna yang imut itu lama-lama. Bisa-bisa nanti dirinya tidak mampu menahan diri. Enma mulai memukuli kepalanya, membuat Tsuna terkejut.

"Kamu kenapa, Enma-kun?"

"Maaf Tsuna-san... aku... hanya malu..."

"Eh? Malu? Malu karena kugandeng seperti ini kah? Tidak apa-apa, Enma-kun. Lagipula aku sedang senang hari ini."

Enma menghela nafas panjang, bukan karena ia bosan bersama Tsuna tapi karena ia merutuk dirinya sendiri yang enggan mencoba bahan obrolan apapun dan memulai percakapan dengan sahabat Vongola-nya.

Enma terkadang berpikir bahwa Tsuna orang yang aneh. Mau menyenangkan orang lain diatas kesenangannya sendiri. Sungguh... aneh! Meskipun Enma tidak tahu mengapa ia masih terus bersamanya dan merasa nyaman.

"Ternyata... akulah yang aneh." Gumamnya lirih.

"Eh? Apa kamu bilang barusan?" Tsuna mempererat gandengannya.

Enma menggeleng cepat, alisnya tetap saja mengkerut dengan tatapan sayu yang datar ke arah lurus. Ia tidak pernah habis pikir mengapa seorang Tsunayoshi yang begitu terlihat lemah bisa menganggap Enma dan kawan-kawannya yang lain sebagai orang normal, manusia biasa, dan bukan sebagai orang-orang dari dunia yang seharusnya tak boleh terjamah.

Enma sedikit menghentikan gerakan kakinya yang tadi melangkah agak cepat, sehingga membuat langkah si surai jabrik cokelat muda tersebut terhenti. Kemudian dirinya menoleh, mendapati Adelheid yang tengah berdiri tegap sambil melipat kedua tangannya ke depan dada 'oppai'nya.

Pantas perasaan Enma buruk sejak sebelum bertemu Tsuna, rupanya bawahan terpercayanya itu mengikuti gerak-geriknya. Pemuda bersurai merah tersebut teramat yakin jika Adelheid sudah berbuat demikian, maka mau tidak mau dirinya harus merelakan bawahan setianya yang cantik itu mengikutinya dan Tsuna hingga acara selesai.

"Oh... Adelheid-san, selamat siang."

Tsuna yang juga baru melihat keberadaan Adelheid, seketika langsung menyapanya dengan hormat. Tapi, gandengan tangannya ke Enma masih tetap erat. Membuat Adelheid sedikit cemburu. Gadis itu mengangguk cepat dan membalas sapaan Tsuna, sedangkan Enma cukup berdiam diri.

"Kalian mau kemana sebenarnya?" selidik Adelheid penuh kecurigaan.

"Kami... jalan-jalan..." timpal Enma lirih, pandangan matanya menatap Adelheid tanpa berkedip.

"Jalan-jalan? Dan kenapa hanya bersama dia?"

Entah kenapa Adelheid merasa nama Tsuna tidak boleh dikeluarkan melalui kerongkongannya. Rupanya gadis 'oppai' yang hanya setia pada Enma itu memang cemburu, padahal boss dari Shimon Famiglia dan Vongola Famiglia itu sama-sama laki-laki.

"Ah ano... apa Adelheid-san mau ikut dengan kami?" tawar Tsuna yang tiba-tiba, membuat semburat pink kemerahan tipis di kedua pipi gadis bersurai ebony dengan bentuk ekor kuda panjang tersebut.

"Kenapa tidak?"

Bayangan indah Enma hancur sudah. Adelheid menghancurkan impiannya, menghancurkan semuanya. Si surai merah itu menggeram dalam batinnya, hingga giginya saling bergemeretak. Sebal, ingin rasanya ia mengikat Adelheid dan mengurungnya di suatu tempat terpencil hingga anggota Shimon yang lain tidak ada yang mampu menemukannya, tapi... dirinya bisa membeku duluan. Enma tidak mau mengambil resiko dan hanya bisa pasrah menerima keadaan.

'Poor me...' celetuk Enma dengan naasnya di dalam lubuk hatinya yang terdalam.

.

.

End of Enma's Lotto Life Show!


a/n. ah akhirnya, setelah hiatus hampir 2 tahun dan lupa password akun sebelumnya... kami kembali lagi disini untuk menyajikan karya2 kami

well... meski mulai sekarang ada sistem aplot seminggu sekali (kalau review tidak ada) tiap cerita, kami harap minna-san yang mau dengan rela membaca karya2 kami plus mereviewnya tetap setia bersama kami

oh iya, kalau ada yang mau ditanyakan... silahkan PM atau di review saja ya...

sampai jumpa di minggu berikutnya! *bye bye kiss*

.

Shira: Ck!

Yuri: Apa sih? -_- *noleh ke para readers dan reviewers* ah ya minna-san kalau ada request setelah ini siapa, bilang saja ke bagian review atau PM, ditunggu...

Mamo: Un~ Mamo juga tidak sabar siapa selanjutnya yang akan terpilih oleh para readers dan reviewers...

Yuri: batas waktunya... karena kita apdetnya tiap seminggu sekali, jadinya kalo pas sehari sebelum apdet nggak ada yang request ya terpaksa kita adakan game Lotto sekali lagi *pout*

Shira: Ck! nyusahin aja!

Mamo: *senyum manis sambil tenangin kembarannya*