NOTE : Jadi.. mengenai cerita ini, memang benar Kuroko akhirnya menikahi seorang—wanita tapi… eits! Mungkin author ada memasukan unsur Yaoi tapi bukan berarti 'BL asli'… soalnya pairing Kuroko x all disini lebih kayak, mereka memperebutkan posisi—siapa yang lebih dekat dengan Kuroko dalam artian 'sahabat'.
Meskipun nanti ada kata-kata yang menyangkut BL.
Terima kasih untuk reviewannya para senpai dan reader ^^ hehe.
Balesan reviewan 'guest' dibawah :3
.
.
Brak!
"Oi! Kakinya! Kakinya-nanodayo!"
"Murasakibara! Nunduk! Kita tidak bisa masuk ke dalam jika kau menghalangi pintu!"
"Tapi aku tidak mencoba menghalangi pintu Mine-chin, aku… tersangkut"
"Kagami! Tanganmu jangan megang-megang kesembarang tempat!"
"Aku bahkan tak memegang apapun, Hyuuga-senpai!"
"Bakagami! Awas kau mencoba mencari kesempatan pada partnerku yang sedang tak berdaya!"
"Huh? Kita tak boleh memegang Kuroko? Baiklah… *lepas*"
"AHO! KIYOSHI! KENAPA KAU LEPAS!"
Duk!
"Kise bodoh! Kenapa kau malah menyeret kepalanya!"
"Eh? Bagian ini yang paling aku suka-ssu!"
"Sudah kubilang jangan mencari kesempatan Kise! Kusangkutkan kau di ring basket!"
"Hidoii-ssu! Aominecchi!"
Tug!
"Eh-Eh! Pelan-pelan dong! Kalian gimana sih? Kuroko-kun nanti bisa tak sadar-sadar!"
"Otou-san… hiks.."
"Adaw! Teme! Orang sinting macam apa yang menginjak kakiku?! Kubalas kau *menginjak*! Huh! Rasakan!"
"… Daiki… itu kakiku.."
"… ! …"
"Oh"
.
.
Welcome to the past
GENRE(S) : Romance—(BL, Straight), Friendship, Family, Humor
WARNING : TYPO(S), CHAOS, 'FIC HIBURAN SEMATA'
AUTHOR : nshawol56/566
.
.
Seirin dan GoM kini saling gotong royong membopong tubuh phantom player mereka yang terkulai lemas beberapa saat lalu di jalan. Mereka membawa Kuroko ke apartemen Kagami yang tak seberapa jauh dari tempat mereka sekarang.
Nistanya, tak satu pun dari mereka yang mengangkat cowok bersurai biru langit itu dengan benar. Ditambah lagi mereka saling berebut satu sama lain.
Sejak awal, Kise-lah yang memonopoli kepala Kuroko, alasannya ia takut yang lain akan merusak wajah imut nan manis milik Kuroko.
Midorima mengangkat tubuh Kuroko bagian kiri dan Aomine di bagian tubuh kanan.
Kagami mengangkat kaki kiri Kuroko dan Kiyoshi di bagian kanan.
Akashi hanya mengawasi gerak-gerik anak buahnya dan Seirin itu.
Murasakibara menjadi penuntun jalan, sehingga ia berjalan di barisan paling depan dan sempat nyangkut di pintu apartemen Kagami. Izuki dan Hyuuga pun akhirnya turun tangan untuk mendorong cowok bertubuh Titan itu.
Riko dan Saaya hanya menatap khawatir Kuroko yang menjadi bahan rebutan cowok-cowok ranggas itu.
Sungguh? Ini Tetsuya Kuroko yang kita bicarakan. Seberat itu kah dia? Bahkan apa Akashi tak dapat berpikir saat itu? Dengan Murasakibara saja yang mengangkat Kuroko bukannya masalah selesai?
Bukan itu masalahnya. Para cowok itu.. tak mungkin membiarkan Murasakibara se-enak-enak udelnya maen megang Kuroko sendiri! Alhasil mereka cari akal supaya bisa modus! Yah gini deh jadinya.. sesuatu yang mudah jadi susah!
"Kagami, kamarmu dimana ya? Aku lupa" Koganei bertanya sembari mengedarkan pandangannya pada apartemen Kagami. "Seingatku…" Koganei menggerekan bola matanya kesana kemari, sebelum sebuah pintu kamar mengehentikan gerakan bola matanya ".. yang itu?"
"Hai. Benar yang itu senpai…" Kagami membenarkan posisi tangannya pada kaki Kuroko, dan sontak membuat semua orang menolehkan kepala begitu melihat adanya pergerakan. Mereka pikir Kagami bakalan nyari kesempatan, tapi… ternyata eh ternyata.. fiuh. Cuman mau ngeluarin kunci kamar kok.
Helaan nafas pun terdengar dimana-mana.
"Ayok.. masuk.." Furihata memutar knob pintu kamar kagami. Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, Kagami menghentikan langkahnya "Chotto matte. Kita akan menaruh Kuroko di kamarku?"
"Tentu saja, ada masalah? Apa kau menyimpan majalah porno juga seperti Aomine?" Tanya Midorima yang sudah sedikit pegal. Mendengar namanya disebut Aomine memberikan death-glare pada Midorima yang berada didepannya.
"I-IIee…" Kagami menggelengkan kepala pelan, tapi ia tak dapat menutupi semburat merah yang kini menajalar di pipinya "… hanya saja, itu kamarku" Entah apa yang ia pikirkan saat itu.
"Lalu? Kagami-kun. Jangan membuat kami semua berdiri didepan pintu seperti seorang pengemis yang menunggu sumbangan" Ujar Riko, sembari melipat kedua tangan didepan dadanya.
"Ba-Baiklah…" Mereka pun dengan perlahan masuk kedalam kamar Kagami. Kamarnya sangat sederhana, dan hanya ada satu kasur disana. Sebenarnya, kamar Kagami cukup luas, tapi karena yang masuk keroyokan, jadinya mereka saling menabrak satu sama lain.
Belum lagi, Akashi sempat dipermalukan oleh mereka. Tidak. Bukan dipermalukan oleh mereka sebetulnya, hanya saja.. mungkin ia mempermalukan dirinya sendiri. Siapa suruh dia cebol? Dia jadi nyangkut di antara sela-sela lemari dan dinding. Nggak tahu deh asal mulanya tuh mantan kapten GoM ampe bisa nyempil kayak upil gitu.
"Fiuuh.. Kagami~ kami minta minum yaa~" Koganei dan Mitobe langsung ngacir ke dapur begitu melihat tubuh Kuroko sudah terbaring dengan aman di kasur Kagami. Satu per satu mereka pun mulai keluar dari kamar.
"Ya.. ya.. kalian ambilah minum sendiri" Sahut Kagami sebelum ia membalikan badannya dan berniat masuk kekamarnya sendiri dimana Kuroko terbaring. Dengan cengar-cengir bak tante-tante girang, Kagami mulai melangkahkan kakinya dengan mantap! Entahlah apa yang membuatnya sesenang itu?
Apa hayoo…
"Ka-ga-mi-kun. Apa yang mau kau lakukan?"
Ngek?
"A-Aida Senpai…" Kagami menggerakan kepalanya secara patah-patah kearah Riko "Hum?" Riko memberikannya senyuman manisnya, tapi semua juga tahu, setiap kali seorang Riko tersenyum manis, belum tentu apa yang ia pikirkan juga sesuatu yang 'manis'.
"Kau mau apa, huh? Kagami-kun? Kami semua akan berkumpul diruang tamu untuk berbincang-bincang dengan Saaya, ini kan apartemenmu. Dimana sopan santunmu? Bukan hal baik membiarkan tamu sendiri diapartemenmu"
"Anou.. itu.. aku .. Kuroko…" Kagami kelabakan nunjuk sana-sini, sesekali menggaruk belakang kepalanya gugup. "Ikut aku, ne?" Riko menarik Kagami menuju ruang tamunya. Dan ia berani bersumpah, jika ia baru saja mendengar Kagami mengumpat 'Sial!'.
Tanpa sepengetahuan dua orang dari Seirin itu, dua orang lain muncul dari balik sebuah dinding.
"Hehe.. ayok, Kise"
"Hai! Aominecchi!"
"Ehem.."
Begitu dua makhluk hentai itu, menempelkan tangan mereka pada pintu kamar, seseorang kembali menghancurkan kesempatan mereka…
"Sstt! Bodoh! Jangan batuk-batuk disini! Sana minta Kagami obat OBH!" Desis Aomine sembari memelankan suaranya—tanpa membalikan tubuhnya untuk mengecek siapa yang tengah berdiri dibelakang mereka saat ini.
"Benar! Ini kesempatan bagus untuk memperhatikan wajah tidur Kurokocchi! Jangan ganggu kami-ssu!"
"Suaramu… Kise!" Aomine kembali ringan tangan padanya. "Ittai-ssu! Kau hobi sekali menjitak kepalaku!"
"Kau…! Ugh! Kecilkan suara cemprengmu! Kita bisa mati jika Akashi tahu kita berniat masuk ke kamar dan melihat wajah tidur Tetsu!"
"Hai-Hai.. aku mengerti"
"Aku juga.."
"Haha! Bahkan orang dibelakang kita juga ingin melihat wajah manis Tetsu saat ia tidur!"
"Hum! Hum! Asal kau berjanji untuk tak memberitahukan pada Akashicchi, kami akan mengajakmu-ssu!"
"Bagaimana jika ia sudah tahu?"
Aomine berdengus "Tak mungkin ia—" Aomine dan Kise membalikan badan mereka dan mendapati mata gunting sudah tepat berada didepan wajah mereka "—oh… ternyata ia sudah tahu" Lanjut mereka bersamaan.
(WTTP)
"Ne, Ne minna. Aku baru saja melewati kamar Kaga-chin, dan melihat Kise-chin dan Mine-chin tidur di lantai depan kamar yang ada Kuro-chin-nya, kenapa mereka tidur disitu?" Murasakibara bertanya sembari membuka bungkus makanan ringannya yang lain.
"Biarkan saja Atsushi.. mungkin mereka terlalu lelah" Jawab Akashi yang kini duduk pada—satu-satunya sofa diruang tamu Kagami. Disamping kanannya, Saaya duduk sembari memperhatikan Seirin dan GoM yang lain. Di sisi lainnya Midorima tengah memperhatikan Mr. Ribbit-nya.
Kagami dan para anggota Seirin berasa jadi jongos (*pembantu), karena mereka lesehan dibawah sedangkan para GoM dengan enaknya duduk disofa empuk—meski pemilik sofanya sendiri duduk melarat di bawah bersama timnya.
"Dengan gunting di jidat mereka?" Murasakibara masih saja melontarkan pertanyaan.
Mendengar kata 'gunting', semua orang sudah tahu siapa yang membuat Aomine dan Kise tidur di lantai. "Benarkah? Aku tak tahu gaya tidur mereka seperti itu?" Jawab Akashi santai.
'Ah~ Dasar cebol pembohong' Batin yang lain kecuali si polos Murasakibara. Saaya pun hanya tertawa kecil.
"Jadi.. Saaya? Bisa kau ceritakan kembali bagaimana kau bisa kesini. Maksudku kewaktu kami?" Riko mengalihkan pandangannya pada Kuroko versi cewek itu. Yang lain kini juga sudah menghentikan kegiatan mereka masing-masing dan fokus kepada cewek manis itu.
Yah, mau tak mau mereka harus percaya jika kini—benar-benar ada orang dari masa depan datang ke masa mereka. "Baiklah.." Saaya membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman "Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku adalah anak dari Tetsuya Kuroko. Aku datang kewaktu kalian dimasa lalu dengan mesin waktu yang aku ciptakan.." Saaya menahan kalimatnya ketika melihat Kiyoshi mengangkat tangannya.
"Ya, Paman Teppei?" Semuanya melihat ekspresi wajah Kiyoshi yang begitu serius. Mereka berpikir pasti ia akan menanyakan suatu pertanyaan yang penting. Tapi..
"Kau cewek yang pintar ya" Ucapnya sambil menampakan cengiran polos-polosnya.
Seririn dan GoM pun hanya dapat facepalm dibuatnya. Saaya hanya bersweatdrop ria "A-Ah.. Arigatou…?"
'Orang ini.. sama saja dimasa depan' Batinnya iba. "Mesin waktu yang aku ciptakan itu, untuk proyek ilmiahku yaitu pelajaran fisika—"
"—Eh?! Chotto matte! Kau kelas berapa? Terlebih lagi berapa umurmu?" Kagami tak habis pikir. Anak semuda ini membuat mesin waktu? Untuk pelajaran fisika? Apa masa depan begitu gila dengan kurikulum sekolah bak professor professional! Yang mengharuskan siswanya membuat mesin waktu? Jika Kagami berada masa itu, ia tak tahu berapa lama ia akan naik kelas.
"Aku? Hmm… umurku kini enam belas tahun, sama seperti kalian… itu berarti aku kelas satu SMA"
"MAJIDE?! (*SERIUS?)"
"Aku benar-benar tak akan pernah lulus jika berada di masa itu.." Koganei menepuk keningnya sendiri. Teman-temannya pun hanya manggut-manggut. Ia bersyukur hidup dimana kurikulum sekolah tak separah dan se-ekstrim itu.
"Kau datang dari tahun berapa, Saaya Kuroko-san?" Midorima bertanya sembari menggosok-gosok punggung Mr. Ribbit.
"Paman Shintarou, kenapa memanggilku dengan nama lengkap begitu. Itu tidak enak didengar, kau tahu? Panggil aku Saaya"
Midorima mentautkan alisnya. Memanggil dengan nama pertamanya? Itu pasti akan sangat canggung, karena mereka baru bertemu beberapa saat yang lalu. Meskipun Saaya datang dari masa depan, tapi kan.. tetap saja. Ia seperti tengah berkenalan dengan seorang siswi SMA biasa yang seumuran dengannya. Dan itu membuatnya sedikit…gugup.
Yah.. apa boleh buat.
"S..Saaya.. kau datang dari tahun berapa?"
Saaya tersenyum kecil sebelum menjawab "Aku dari tahun 2038"
"Souka.. jika dihitung dari umurmu.. juga dari tahun kau datang.. dan tahun sekarang ,Tetsuya pasti menikah pada umur 22 tahun. Apa aku benar?"
Saaya mengangguk "Yup! Itulah, Paman Sei! Selalu benar!" Ia mengacungkan jempol kearahnya. Akashi hanya membalas dengan tersenyum kecil.
"Saaya, apa yang terjadi di masa depan dengan kita semua.. maksudku.. kehidupan kami?" Hyuuga bertanya sembari meluruskan kakinya yang terasa pegal karena duduk bersila.
Mereka semua mendengar Saaya menghela nafas dalam "Kacau"
Dan satu kata itu membuat Seirin dan GoM mendelik. Seburuk itukah masa depan mereka? Apa mereka tidak ada yang menjadi orang sukses? Apa mereka menjadi gelandangan? Apa mereka tinggal di kolong jembatan? Apa mereka—
"—kenapa muka kalian begitu? 'Kacau' bukan berarti buruk. Kehidupan kalian dimasa depan.. begitu mengasikan. Bahkan aku bersyukur dapat lahir ditengah-tengah keluarga ini"
"Keluarga ini?" Murasakibara memiringkan kepalanya.
"Ya, Paman Atsushi.. kita semua adalah keluarga. Sebentar lagi kalian akan merasakan itu. Di masa depan nanti, meskipun kalian telah memiliki kehidupan masing-masing dan berkeluarga, kalian tetap sering—bahkan terlalu sering berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. mengingat-ngingat indahnya masa sekolah kalian. Juga masa kejayaan kalian semua di dunia olah raga basket" Saaya tersenyum lembut kearah mereka.
"Kalian benar-benar orang-orang hebat. Kalian semua sukses. Bahkan kalian berhasil.." Saaya menatap anggota tim Seirin "..menjadi nomor satu di Jepang"
Semuanya sontak tersenyum lebar, benarkah? Mereka menjadi nomor satu dijepang? Secerah itukah masa depan mereka?
Terlihat sekali di mata masing-masing anggota tim Seirin, kilatan semangat mulai menari dan membara. Kagami adalah yang terparah. Saking bersemangatnya suhu tubuhnya ikut meningkat.
"Ah. Bahkan kalian bertujuh, para GoM juga sangat terkenal di perbasketan Internasional"
"Bertujuh?" Izuki mengkerutkan keningnya "Oh! Paman Taiga, kelas berapa saat ini?" Saaya menyatukan telapak tangannya.
"Satu..?"
"Souka. Pantas saja GoM masih enam orang" Saaya memangkuk dagunya "Di kelas dua.. Paman Taiga akan menjadi anggota GoM yang ketujuh"
"EEEH?!"
"HELL YEAAH!" Kagami mengepalkan tangannya ke udara. "HELL NO!" Sahut cowok berkulit gelap yang baru saja sadar dari pingsannya lantaran terkena gunting sakti milik Akashi. Dibelakang, Kise mengikuti dengan masih terus mengelus jidatnya.
"Oi, Say! Kau serius?!"
"Tentu saja. Paman Daiki pikir aku mengarang cerita? Aku datang dari masa depan, Paman. Aku tahu semuanya" Saaya memincingkan matanya kearah Aomine "Dan.. jangan memanggilku dengan sebutan 'Say' ! Namaku Saaya! Itu seperti kau ingin memanggilku 'sayang' ! Dan itu menjijikan!" Saaya memeluk tubuhnya sendiri.
'Tapi.. Paman Daiki memang selalu menggangguku dengan panggilan itu' Batinnya.
"Lebih enak memanggilmu begitu. Lagi pula.. aku memanggil ayahmu dengan 'Tetsu' bukan 'Tetsuya'. Jadi, aku juga memanggil putrinya 'Say' bukan 'Saaya' " Jelas Aomine sembari duduk disamping Kise yang lebih dulu meleseh di lantai, bergabung dengan Seirin.
"Jadi.. itu membuat Kuroko mempunyai dua 'light' dalam satu tim?" Pertanyaan Kawahara membuat Kagami dan Aomine mematung ditempat. Itu benar. Jika Kagami masuk kedalam GoM.. siapa yang akan menjadi 'Light' untuk Kuroko?
"Sudah pasti aku!" Mereka kembali menunjuk diri mereka sendiri secara bersamaan.
"Hitam! Apa yang kau bicarakan! Aku light-nya Kuroko!"
"Huh! Teme, kau! Cahayamu terlalu redup untuknya!"
"Eh~ jangan menghina dirimu sendiri Mine-chin"
"Ini tak ada hubungannya dengan kulit, Murasakibara!" Aomine kembali menatap Kagami "Pokoknya aku light-nya!"
"Tidak!"
"Aku!"
"Tidak!"
"Aku!"
"Aku saja-ssu~!"
"DIAM KAU!" Kagami dan Aomine meninju Kise secara bersamaan, membuat model—yang selalu sengsara itu menghantam dinding. "H-Hidoii-s..su…"
"Saaya/Say!" Panggil Kagami dan Aomine pada putri Kuroko itu "Y-Ya?"
"Jadi siapa yang menjadi light-nya Kuroko/Tetsu?!"
"Uh.." Saaya memundurkan wajahnya beberapa senti. Wajah Kagami dan Aomine terlalu dekat dengannya "Sejujurnya…" Saaya menggaruk pipinya yang tak terasa gatal. Ia sepertinya bingung bagaimana menjelaskannya.
"Tak ada satu pun dari kalian"
Kagami dan Aomine cengo.
Mereka terpaku ditempat.
Mulut mereka terbuka lebar.
Suara Saaya masih bergema dalam otak mereka. "Tak ada satu pun dari kalian" "Tak ada satu pun dari kalian" "Tak ada satu pun dari kalian".
"Oi~ Oi~ Kagami~ apa kau masih hidup~" Tsucida dan Fukuda mentowel-towel bahu Kagami. Tapi tak ada reaksi apapun.
"Mine-chin~ Mine-chin~ kulitmu jadi tambah hitam~" Abaikan Murasakibara.
"Hah.. mereka pasti sangat syok-nanodayo"
"Kalau bukan mereka.. apa Kuroko-kun memiliki light baru?" Tanya Riko sembari menopang dagu dengan tangannya. "Ya"
"Apa?! Siapa yang berani menjadi light-nya Kuroko?! Sialan!" Kagami mulai murka. Ia mengangkat satu kakinya keatas meja dan mengepalkan kedua tangannya.
"Pasti ia light terburuk yang pernah ada! Ia pasti tak dapat mengalahkan aku dalam pertandingan satu lawan satu!" Aomine mulai berapi-api ingin melawan light baru Kuroko.
"Jadi? Siapa light-nya?" Izuki menjadi penarasan dengan light baru Kuroko.
"Huh? Dia berada diantara kita kok. Tepatnya disampingku" Yang lain mentautkan alisnya "Jangan bercanda Saaya. Disampingmu hanya Akashi" Hyuuga membenarkan posisi kacamatanya.
"Ya.. Paman Sei light-nya" Jawab Saaya lagi dengan santai.
"…"
"..."
"Oh… Daiki.. Taiga… masih ingin melawanku?" Kagami dan Aomine menggelengkan kepala bersamaan. Keringat dingin tiba-tiba membanjiri tubuh mereka.
"Tunggu! Bagaimana bisa Akashi nanodayo?"
"Entahlah… Otou-san juga tak pernah menceritakannya padaku. Hanya saja sampai saat ini… Paman Sei-lah light Otou-san.." Saaya menjentikan jarinya, sepertinya ia mengingat sesuatu "Otou-san hanya bilang… Paman Sei memperintahkannya begitu karena perintah Paman Sei—"
"—Absolute…" Jawab semua serempak. Saaya tersenyum kecil "Hihihi, Iyap!"
(WTTP)
"Ngh…" Cowok bersurai biru langit itu menggeliat dalam tidur—maksudku pingsannya. Ia merentangkan tangannya keatas, mencoba untuk merenggangkan kembali otot-otonya yang kaku. "Ugh.. aneh sekali mimpiku.. malam ini" Gumamnya, sembari berjalan gontai keluar kamar.
Dari kamar saja ia dapat mendengar banyak suara dari ruang tamu. Memang rumahnya pernah seramai ini? Belum lagi.. ada yang aneh dengan rumahnya. Kenapa perabotan juga letak dan susunan benda, semua terlihat berbeda?
Kuroko menggosok kedua matanya "Hmm… mungkin ini efek bangun tidur"
Kuroko kembali melangkah. Rambut bangun tidurnya yang—benar-benar berantakan itu menambah kesan manis pada image cowok mungil itu.
"Sudah pasti aku!"
'Suara Aomine-kun?' Kuroko mengikuti arah sumber suara.
"Hitam! Apa yang kau bicarakan! Aku light-nya Kuroko!"
'Sekarang suaranya Kagami-kun, apa yang mereka lakukan dirumahku?' Kuroko mengintip dari balik dinding. Ia melihat Seirin dan GoM yang tengah berkumpul diruang tamu. Ia juga melihat cewek bersurai biru langit seperti didalam mimpinya tadi.
"Huh! Teme, kau! Cahayamu terlalu redup untuknya!"
"Eh~ jangan menghina dirimu sendiri Mine-chin"
"Ini tak ada hubungannya dengan kulit, Murasakibara!"
'Hmm.. apa yang mereka perebutkan ya?' Tanya Kuroko pada dirinya sendiri.
"Tidak!"
"Aku!"
"Tidak!"
"Aku!"
"Aku saja-ssu~!"
"DIAM KAU!" Setelah melihat Kise manghantam dinding. Kuroko kembali berjalan menuju kamar—Kagami. "Sepertinya aku masih bermimpi.. aku bermimpi masih melihat cewek yang mengaku sebagai putriku.. lalu.." Kuroko melihat sekeliling ".. Aku bermimpi tinggal di apartemen Kagami-kun? Apa yang terjadi dengan otakku.." Kuroko membuka pintu dan segera membanting tubuhnya di kasur. "Lebih baik aku kembali tidur…"
Ya.. ya.. semua hanya mimpi Tetsuya Kuroko… Oyasuminasai~
(WTTP)
Seirin dan GoM masih terus berbincang-bincang seputar masa depan. Saking penasaran dan asiknya berkumpul bersama, mereka bahkan melupakan waktu yang sudah semakin larut. Lihat.. masing-masing dari mereka sudah mengerti apa yang dimaksud Saaya dengan keluarga.
Bila sudah bersama, waktu saja tak mereka perdulikan. Hingga pada akhirnya.. Kise membawa sebuah topik yang sensitive.
"Eh? Aku pikir Kurokocchi menikah denganku?" Kise menghela nafas, sembari mengibas poni pirangnya kebelakang.
"Huh? Sebuta-butanya Tetsu pasti ia memilihku!" Aomine meninju bahu Kise. Tak terima diperlakukan kasar, Kise menjambak rambut Aomine. Kau ini apa Kise? Wanita? Mainnya jambak-jambakkan.
"Oi! Oi! Jangan memperebutkan partnerku ! " Kagami kembali masuk kedalam pertempuran yang tak ada habisnya jika membicakan Kuroko.
Saaya berdengus "Cih. Paman! Kalau Otou-san menikahi salah satu dari kalian, aku tidak akan ada!"
Kise melepaskan rambut Aomine perlahan dan menatap Saaya "Ah.. itu benar-ssu.. tapi.. siapapun juga tahu, aku dan Kurokocchi sangat cocok!"
"KAMI TAK AKAN RELA MEMBERIKAN KUROKO PADAMU, KISE!" Seirin berteriak serempak.
"Hah.. kenapa selalu begini… ketika menyangkut Kuroko-kun…" Riko menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh~ jangan salah lho, Bibi Riko. Bahkan Bibi Riko juga mengidap penyakit 'Kuroko Complex' sama seperti yang lain… yah meskipun tak separah Paman-Paman ini.."
"Kuroko…"
"..Complex?"
"Nani?"
"Itu nama penyakit yang diberikan oleh istri-istri kalian, juga kerabat-kerabat kalian dimasa depan. Karena kalian selalu tak ingin lepas dengan Otou-san-ku. Meski kalian sudah beristri… kalian tetap saja berusaha nempel dengan Otou-san-ku" Jelas Saaya.
"Benarkah? Itu keren~!" Hyuuga menjitak Kiyoshi "Aho! Apa yang keren dengan itu!" Hyuuga menghadap Saaya "Lagi pula.. apa istri-istri kami tak akan cemburu atau merasa risih..?"
Saaya menggelengkan kepala "Majide? Istri macam apa mereka?!"
"Istri yang masuk dalam persatuan Fujoshi… fufufu~ bahkan aku salah satu anggotanya~"
"Kau pasti bercanda…" Midorima tak percaya apa yang ia dengar. Apa ia juga mengejar Kuroko seperti yang lain?
"Jadi? Saaya.. kau juga—"
"—Jangan panggil aku Saaya, Paman Sei. Kau biasanya memanggilku dengan Saaya-chan"
Akashi mendelik hebat. Chan? Chan? CHAN?! Sejak kapan Akashi Seijuuro memanggil nama seorang cewek dengan.. Chan?!
"Kalau kau tak memanggilku begitu.. aku tak akan menjawab pertanyaanmu, Paman Sei"
Oi ! Oi! Serius nih?! Saaya berani sekali melawan Akashi!
"Hah.. baiklah.." Akashi menolehkan kepala kearahnya "Saaya…chan…"
Yang lain bahkan tak berkata apa-apa, mereka cukup kaget. Ini pertama kaliannya mereka mendengar seorang Akashi memanggil cewek dengan tambahan 'Chan'. Dan… itu membuat mereka.. sedikit geli~ seperti tiba-tiba saja seseorang berbicara ditelingamu dan membuatmu merasakan nafas panas mereka.
"Hai? Paman Sei?" Saaya tersenyum kearahnya.
"Jadi.. apa grup kalian memasang-masangkan salah satu dari kami dengan Tetsuya?"
"Yup!"
"Dan.. melihat siapa yang paling cocok?"
"Yup!"
"Dan.. kalian memiliki sebutan masing-masing untuk pasangan yang berbeda dengan Tetsuya?"
"Y..Yup…?"
'Paman Sei memang hebat. Semuanya ia tahu, meskipun aku tak memberitahunya' Saaya hanya menampakan wajah (O,O) seperti ini saat itu.
Tiba-tiba.. Saaya menyengir lebar, membuat semua sempat bergidik sesaat. Sepertinya jiwa Fujoshinya sudah bangkit "Ingin tahu lebih banyak apa yang grup kami lakukan, ne? Baiklah.. aku sarankan… yang tak kuat mendengar atau melihatnya silahkan meninggalkan tempat ini…"
.
Dan.. dengan begitu… malam paling mendebarkan di apartemen Kagami bagi para GoM dan Seirin pun dimulai…
.
.
.
TBC
.
.
Preview Next Chap :
"Yah… banyak pairing… seperti AkaKuro, AoKuro.. KagaKuro… KiKuro dan sebagainya…"
"Bagaimana bisa KiKuro kalah dengan AkaKuro?! Kenapa pairingku dengan Kurokocchi bisa kalah oleh pairing Kurokocchi dengan kapten pendek-cebol-boncel-kuntet-bantet-kerdil-kate' nan seperti badan kurcaci itu?!"
"…"
"Fanfiction? Apa itu?"
"Itu seperti membuat cerita fantasi dari ide-ide.. fans itu sendiri"
"Rated M? Apa itu? Coba bacakan Saaya"
"Eh? Majide? Aku menikahi wanita yang tidak bisa masak—!"
"Heh? Kalau kau menikahi Kurokocchi, bagaimana kau memiliki keturunan-ssu?"
"Ya mudah! Aku suruh Tetsu operasi gender dan menambahkan hormon wanita padanya!"
"….."
"Souka…" Kuroko yang tiba-tiba saja muncul langsung menepak kepala Aomine.
.
.
Yup! ^^ selesai untuk chap dua! Bagaimana chap ini minna-san? :] RnR? FnF?
Di chappie ini , Kuroko jadi kayak pemeran figuran :[ tapi tenang saja! di chap selanjutnya Kuroko akan muncul kok! ^^ hehe.. ini baru awal dari 'semuanya' :p
Balesan review!
galaxyoung
Yup! Saya akan mencoba update secepat kilat ^^
Aiicha
Iyaaa! Makasih banyak Ai-chan! (boleh kupanggil begitu?) aku takut sudah ada senpai yang punya iide seperti ini… dan aku dibilang plagiat :[, tapi syukurlah ^^ hehe… yuppieee~ aku akan mencoba update kilat!
aiga
Makasih sudah mereview Aiga-san ^^ mamanya akan kluar ketika waktunya sudah tepat :3
NabilaAgain
Heheh, mamanya Tetsu-kun.. sejujurnya aku belum memutuskan karena… belum ada yang bisa menandingin saya *narsis* *dihajar fans kurobas*, tapi… pasti akan kluar kok ^^ jika author rasa alurnya sudah tepat hehe
Sekian
-nshawol566/56-
