VioletUngu29

Proudly present

.

.

.

.

The Testamen

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanya fiksi belaka. hanya untuk kepentingan hiburan semata.

OC, OOC, Typo(s), alur tidak menentu (sepat-lambat-maksa), EYD ala kadarnya, bahasa kacau, dan lain-lain, dan lain-lain.

tidak suka? lebih baik jangan baca.

.

Disclaimer : Naruto asli punya om Masashi Kishimoto.

Saya cuma pinjem Kakashi-nya sama beberapa tokoh lain :D

.

.

.

.

.

Happy reading all :D


Chapter 2

.

.

.

.

.

Tegang.

Entah kenapa hanya itu yang dirasakan Kakashi melebihi kakinya yang beberapa menit lalu diserang rasa kesemutan yang paling dibencinya dan kini yang bisa dirasakannya hanya pahanya. Lutut ke bawah, mati rasa. Entah apa yang akan dikatakan Hideo Matsushima nanti saat tahu hanya karena harus duduk setengah jam dalam posisi yang baik dan benar kaki Kakashi sudah kesemutan dan bahkan mati rasa.

Memalukan.

Kakashi harus bertahan. Apapun yang terjadi.

Dan dia harus bisa berdiri dengan normal nanti setelah sang kepala Klan selesai menanyainya banyak hal tentang dirinya –termasuk masker hitam di wajahnya itu. Bukan karena Hideo Matsushima tidak tahu apa-apa tentang Kakashi, hanya untuk memastikan sekali lagi –mengingat Hideo Matsushima dan Sakumo Hatake adalah sahabat lama.

"Jadi, berapa umurmu sekarang?"

"Tahun ini saya 29 tahun."

"Apa kau sudah pernah punya kekasih sebelumnya?"

"…belum."

Sial!

"Kau melajang selama 29 tahun masa hidupmu?"

"Bisa dibilang begitu."

Keparat! Bagaimana dia bisa mengatakan hal itu terang-terangan sementara dia sendiri belum beristri!?

"Dan alasanmu menerima tanpa protes surat wasiat ini…?"

Seketika Kakashi mengangkat wajahnya. "Saya…" melirik gadis yang duduk di sebelah Hideo Matsushima, dan berharap ekspresinya berubah –berhubung Yuka Matsushima adalah satu-satunya gadis cantik jelita yang pernah ditemui Kakashi, yang sangat amat jarang mengeluarkan ekspresi, jadi…– tapi yang terjadi justru gadis itu hanya menatapnya lurus-lurus seolah dia ikut menginterogasinya, "…ehem…!" dibersihkannya tenggorokannya sebelum dia menjawab dengan hal yang wajar, "Saya hanya ingin mengabulkan keinginan terakhir ayah saya. Itu saja."

Kalau saja ekspresi gadis itu berubah tadi, mungkin Kakashi akan mengarang sebuah alasan yang kontroversial, yang bisa langsung membuatnya direstui dan dinikahkan sesegera mungkin dengan gadis itu tanpa melewati tahap seleksi selanjutnya.

"…Aku kagum…" ujar pria dengan sedikit keriput di wajahnya itu –Hideo Matsushima adalah anak sulung kepala Klan terdahulu, dan yang dijodohkan dengan Kakashi adalah adik bungsunya, tapi selisih usianya cukup jauh dari Kakashi.

"…" seketika Kakashi kembali mendongak menatap pria itu, mengamati bagaimana dia bisa dengan begitu tenang meminum tehnya padahal dia ada dalam posisi duduk yang sama dengan Kakashi. Lalu Kakashi teringat. Karena terlalu berkonsentrasi agar tidak mengatakan hal yang salah, Kakashi lupa dengan berbagai suguhan yang sudah disediakan pihak tuan rumah untuknya.

"Biasanya tamu-tamu kami tidak ada yang tahan duduk dengan cara itu lebih dari lima belas menit, terutama untuk orang-orang mudanya," Kata Hideo Matsushima, "kecuali keluarga Hyuga tentu saja."

"Ini bukan apa-apa." Tidak mau citranya jatuh, Kakashi pun berlagak sok kuat. Padahal saat itu dia sudah tidak punya bayangan bagaimana rasa kakinya nanti setelah dia berdiri.

"Kakashi-senpai, kalau tidak kuat kau bisa meluruskan kakimu. Sungguh, tidak apa-apa. Peraturan ini hanya berlaku untuk tuan rumah." Kata si bungsu Matsushima.

"Ahahaha… tentu saja, aku tahu. Ahahaha…!"

KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI?!

"Yuka, sepertinya kakinya sudah mati rasa." Hideo berbicara di balik kipasnya dengan volume suara yang normal, yang tentu saja terdengar jelas oleh Kakashi.

Meronta dalam jiwanya, Kakashi hanya bisa diam saat akhirnya ketahuan.

"…" si bungsu Matsushima yang sangat amat cantik dalam balutan kimono suteranya itu hanya menatap Kakashi, "dia baik-baik saja. Lebih baik segera selesaikan pembicaraan ini. Hari sudah mulai malam dan Kakashi-senpai juga belum istirahat sejak sampai ke sini. Aku juga harus menyiapkan makan malam."

"Ah, kau benar. Kalau begitu, kita lanjutkan pembicaraan ini setelah makan malam. Yuka akan mengantarkanmu ke kamarmu, Kakashi. Berisitirahatlah." Dengan itu Hideo pun bangkit dan meninggalkan kedua shinobi kuat itu.

Kakashi mengikuti Yuka, menundukkan kepala sebagai ganti membungkukkan badan ketika Hideo berjalan keluar dari ruangan itu.

"Aku hanya memintamu untuk duduk dengan sopan." Kata gadis berambut hitam itu sambil menatap Kakashi dari tempatnya duduk.

"Matsushima dan Hatake jelas punya perbedaan mengenai definisi sopan di sini." Jawab Kakashi sambil berusaha berdiri dengan satu kaki yang mati rasa.

"Kau bisa bergerak kalau kau mau."

"Tidak ada yang mengatakannya padaku."

"Kukira senpai tahu."

"Haaaah…" akhirnya Kakashi berhasil berdiri dengan kakinya, "kenapa aku mau datang ke tempat ini?"

"Justru senpai yang mengajakku cepat-cepat pulang tempo hari."

"…" Kakashi menatap gadis itu dengan tatapan tidak terima sampai dia teringat, memang dia yang mengajak gadis itu cepat-cepat pulang ke rumah utamanya. Tempat mereka berada sekarang, "sial."

"Apa kau bisa berjalan?"

"Dimana kamarku?"

"…kau yakin bisa berjalan? Mungkin kau mau meluruskan kakimu sebentar di sini sampai kesemutannya hilang senpai."

"Dimana kamarku, Matsushima?"

"Kau bicara pada siapa? Semua orang di sini bernama Matsushima."

"…" seketika Kakashi terdiam, sadar ini adalah markas besar Klan Matsushima. Dan adalah kesalahan besar memanggil nama keluarga di markas keluarga mereka sendiri.

"Lewat sini…" Kakashi –berusaha– berjalan dengan normal saat mengikuti gadis itu menuju ke kamar yang akan dipakainya.

"Ini ruang keluarga, di sebelah sana ada kolam pemandian air panas kalau senpai mau…" gadis itu memberikan tur kecil pada calon suaminya yang mengikutinya, "Senpai mau makan apa? Biar kubuatkan nanti." Tanya gadis itu saat dia berjalan melewati sebuah danau buatan di sisi lorong rumah.

BUK!

"…senpai?" terdengar bunyi hentakan kaki yang keras menghantam lantai kayu dibawahnya dan itu menarik perhatian Yuka. Dan ketika Yuka melihat ke belakang, yang dilihatnya adalah Kakashi yang tertinggal beberapa pilar darinya. Kedua tangannya kuat mencengkeram pilar itu sementara kaki yang satu menopang berat tubuhnya dengan setengah ditekuk sebagai tumpuan dan kaki yang lain menggelepar di belakang tubuhnya. Pose yang aneh. Jelas memancing bebrapa pelayan yang lewat diam sebentar dan memperhatikan.

"Apa yang kau lakukan?" bisik Yuka yang seketika ada di sebelahnya.

"Ini… anu…" dengan kepala yang tertunduk Kakashi menjawab pertanyaan Yuka sebisanya.

DUK!

"ARGH!"

Yuka tahu betul kaki Kakashi yang menggelepar di belakangnya itu sedang mengalami masa-masa sulit dalam pemulihannya. Dan dia menendang kaki itu. bukan dengan tendangan keras yang mematahkan tulang, melainkan sebuah sentuhan ringan yang mengenai sasaran.

"Kakiku kesemuta…aargh!" dan sekali lagi.

"Berapa kali harus kubilang padamu, senpai?" wajah gadis itu tidak telihat senang ketika memberi beberapa 'sentuhan ringan' di kakinya, tapi Kakashi tahu gadis itu menikmati momen-momen yang terjadi, "jangan sok kuat."

"Ukh…" beruntung kesemutannya cepat mereda, jadi dia bisa kembali berdiri dengan benar. "Kalau saja aku tidak menyukaimu…"

"Hm…? Kau mengatakan sesuatu, senpai?"

Seketika Kakashi mengangkat wajahnya, "Aku akan menikahimu karena ini… khukhukhu… dan akan membalaskan dendamku atas kejadian ini padamu. Dengan caraku. Tunggu saja. Khukhukhukhu…" yang muncul di wajah Kakashi berikutnya adalah sebuah seringai, salah satu seringai yang paling mirip dengan rape face. Atau sebut saja itu rape face.

Percayalah, air muka Yuka sedikit berubah saat melihatnya.

"…ehem…" gadis itu megalihkan perhatiannya sebelum berkata, "kamar senpai ada di ujung lorong ini." Dan dia berlari meninggalkan Kakashi ke arah yang berlawanan dari arah yang ditujunya tadi. Takut sesuatu akan mengancam nyawanya.

"Hoi, kau mau kemana?!"

.

.

.

.

.

To be Continued


Halooooooo *lambai-lambai*

lama nggak ketemu yaaaa

akhirnya... setelah berbulan bulan cerita ini diupdate juga yak! *authornya pura-pura nggak salah*

yah... kuliah keras sih (curcol lho ini, jangan dimasukkan ke dalam hati)

tapi akhirnya update juga kaaaaaann... ^^v

saya mau mencoba biar ini jadi sungguhan komedi sih sebenernya, tapi nggak tau gimana menurut readers.

semoga berkenan yaaa...

oke, mungkin cukup sekian dulu cuap-cuapnya.

kalo ada sedikit waktu luang setelah baca, bolehlah ya kirim kirim review, komen-komen, ato ada yang mau curcol? boleh...

ada yang mau request kelanjutan cerita mungkin? boleh... semua boleh sama author...

sampai ketemu di chapter selanjutnya :D

salam peluk cium

VioletUngu ^^v