Can anybody hear me?

Or am I talking to myself?

My mind is running empty

In the search for someone else

Who doesn't look right through me

It's all just static in my head

Can anybody tell me why I'm lonely like a satellite?

Lelaki dengan rambut kuning jabrik itu berhenti bernyanyi dan memainkan gitarnya dan menatap kosong langit-langit kamarnya. Ia menghembuskan napasnya berat. Batu kali ini ia merasakan kesepian yang teramat sangat. Ia membutuhkan kedua sahabatnya. Sangat membutuhkan, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tak bisa melakukan apapun selain menjauh dari kedua sahabatnya.

"Cih!" umpatnya dengan kesal. Tiba-tiba saja ia teringat akan suatu hal. Masih ada seseorang yang bisa ia mintai saran untuk semua ini. Seseorang yang sangat dekat juga dengannya walau akhir-akhir ini mereka jarang bersama. Seseorang yang tak akan mungkin meninggalkannya.

Ia bangkit berdiri dan langsung mengambil handphonenya. Dengan cepat ia menulis pesan singkat lalu segera mengirimkannya dan menunggu balasannya. Tak membutuhkan waktu yang lama, balasan pesan itu sudah sampai. Ia tersenyum dan tanpa pikir panjang langsung mengambil jaketnya lalu keluar dari kamarnya.

===\(^O^)/\(^v^)/===

Our Couple!

Desclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto, Our Couple punya Seina Hanagata.

Rate: T buat para remaja.

Genre: mungkin Friendship ama Romance dan sedikit Humor.

Warning: OC, OOC, AU, gaje, abal, asal-asalan bikin, typo sedikit buat jaga-jaga, dll. Pengunjung yang baik adalah yang meninggalkan jejaknya ^^

Summary: Konoha High School kedatangan murid baru yang langsung mengincar Gaara dan membuat Matsuri kelabakan, Sasuke ternyata di jodohkan dengan Hinata oleh ortunya dan Naruto yang ke datangan teman lamanya yang ternyata menyukai Naruto dari dulu! Apa yang akan mereka lakukan? Berhasil apa enggak mereka mempertahankan hubungannya? Sekuel dari Couple for Us! Check it out aje ye!

"Apa artinya kehidupan ini tanpa kalian berdua? Tanpa kusadari, ternyata kalian telah menjadi bagian terpenting dalam hidupku."

===\(^O^)/\(^v^)/===

_Chap:11_

"Yo, Nar!" sapa seseorang berambut nanas, Shikamaru sambil berjalan dengan malasnya menuju tempat Naruto duduk. Naruto menengok dan tersenyum sambil menepuk bangku panjang yang sedang ia duduki, menyuruh Shikamaru untuk duduk di sampingnya. Shikamaru menurut dan langsung duduk.

"Jadi, ada apa?" tanya Shikamaru langsung to the point. Naruto terdiam sesaat sambil menatap pemandangan di depannya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

"Menurut lo, apa yang harus gue lakuin?" tanya Naruto balik. Shikamaru menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti.

"Ya, lo pasti udah tau kan kalo gue sama Sasuke berantem di sekolah?"

"Oh, itu. Terus?"

"Ya, menurut lo, gue harus gimana? Gue ga mau kaya gini terus-terusan..."

Shikamaru terdiam sejenak. Sesungguhnya ia sangat malas untuk memikirkan bagaimana jalan keluar yang baik untuk masalah itu, tapi ia juga tak bisa membiarkan Naruto seperti ini. Ia pasti akan berusaha untuk membantu Naruto sebisanya walaupun ia sangat malas. Ia menyandarkan tubuhnya di bangku sambil menatap langit yang terlihat sangat cerah.

"Naruto, apa lo ngerasa Sasuke bener-bener sahabat lo?" tanya Shikamaru tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan matanya. Naruto menengok ke arah Shikamaru dan menatapnya dengan bingung.

"Maksud lo?" tanya Naruto balik.

"Ya, kalo lo merasa dia sahabat lo pasti semua bakalan baik-baik saja. Kalo bener Sasuke sahabat lo, dia seharusnya sekarang juga lagi mikirin gimana caranya biar bisa baikan sama lo dan nyelesaiin semua masalah ini. Jadi, menurut gue ya lo biasa aja sama Sasuke jangan malah kaya gini. Apa lo perlu bantuan dari orang luar?"

"Ga, gue ga perlu. Gue harus bisa nyelesaiin masalah ini sendiri hehehe… thanks ya, kata-kata lo bikin gue sadar."

"Santai aja, toh gue merasa gue belom bisa ngebantuin lo malahan. Oh iya, besok mulai sekolah lagi nah lo gunain kesempatan itu buat ngomong baik-baik sama Sasuke."

"Sip! Thaks banget ya, Shikamaru…"

===\(^O^)/\(^v^)/===

Gaara mencoba untuk memejamkan matanya, namun gagal. Entah bagaimana ia tak bisa tertidur dengan tenang karena terus terpikirkan kata-kata Sasuke.

"Acara pertunangan gue sama Hinata udah disepakatin dan akan diadain hari minggu nanti,"

Hari minggu nanti? Hari ini saja sudah kamis, berarti tinggal tiga hari lagi… apa yang harus gue lakuin dalam waktu tiga hari? batin Gaara sambil terus berusaha untuk memejamkan matanya. Merasa putus asa, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Saat ia sedang menuruni tangga, ia melihat seorang lelaki yang sangat ia kenal. Seorang lelaki dengan rambut yang dikuncir bagaikan nanas. Ya, siapa lagi kalau bukan Shikamaru Nara yang tak lain adalah pacar kakaknya sendiri.

Gaara duduk di samping Shikamaru dan menonton tv. Ia hanya bisa diam karena ia tak tahu harus mengobrol tentang apa dengannya. Jika harus jujur, Gaara tidak begitu dekat dengan Shikamaru. Mungkin di antara Sasuke, Naruto dan dirinya yang paling dekat dengan Shikamaru adalah Naruto.

"Gue udah denger ceritanya dari Naruto," kata Shikamaru tiba-tiba membuat Gaara menengok. Gaara tersenyum kecil. Entah bagaimana ia sudah bisa menebak jika Naruto pasti cerita kepada Shikamaru.

"Terus gimana menurut lo?" kata Gaara sambil kembali menatap tv. Shikamaru menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

"Mendokusai… ini terlalu complicated buat gue pikirin, jadi ya gue bilang aja selama kalian menganggap diri kalian sahabat maka semua bakal baik-baik aja. Ya, walaupun gue sendiri ga yakin sama kata-kata gue."

"Kata-kata lo bener kok, yang jadi masalahnya cuman satu, siapa yang bakal minta maaf duluan ato ngakuin kesalahannya duluan? Mereka berdua itu sama-sama batu kepalanya."

"Gue sempet mikir kalo kalian butuh orang ketiga, tapi gue ga yakin ada yang mau ikut campur sama urusan kalian."

"Orang ketiga, ya?"

Gaara terdiam dan terlihat sedang berpikir siapa yang bisa membantunya. Jika bisa, ia ingin orang ketiga ini tidak berhubungan sama sekali dengan masalah ini. Tapi, apa ada yang bisa mengambil peran itu?

Plok!

Gaara tersentak saat Shikamaru menepuk bahunya cukup keras. Ia melirik Shikamaru dengan bingung.

"Ga usah mikir terlalu keras gitu, tanpa harus lo pikirin sebenernya ada kok orang yang pas buat ngebantuin lo." Kata Shikamaru sambil bersandar pada kursi. Gaara masih bingung dan memikirkan apa maksud Shikamaru.

"Shika, ayo!" kata Temari cukup keras sambil menuruni tangga. Shikamaru berdiri dan melirik Gaara sambil tersenyum kecil.

"Gue duluan, ya. Gue yakin lo bakalan tau siapa orang itu." Kata Shikamaru sambil berjalan menjauhi Gaara.

"Gaara jaga rumah, ya. Jaa ne!" kata Temari sambil melambaikan tangannya dan pergi bersama Shikamaru meninggalkannya sendirian.

"Siapa, sih?" kata Gaara cukup keras sambil meremas rambutnya frustasi. Tiba-tiba saja Gaara teringat akan seseorang. Ia mengambil handphonenya dan membuka kontak. Ia terus mengusap layar handphonenya dan berhenti saat melihat nama yang ia cari.

"Serius cuman dia yang bisa bantuin gue?" kata Gaara dengan wajah yang sedikit ragu.

===\(^O^)/\(^v^)/===

Kelas X-4 terlihat cukup tenang. Bukan cukup lagi, tapi teramat sangat tenang. Tunggu dulu, mungkin kata tenang ini salah karena yang benar adalah menengangkan. Kenapa menegangkan? Karena sangat terasa ada hawa membunuh dan perang dingin dari Naruto dan Sasuke. Dan mungkin karena itu, tak ada satupun yang berani mendekati mereka termasuk Gaara.

"Gaar, makin parah ya?" tanya Kira sambil melihat Sasuke dan Naruto yang saling diam.

"Yah, kaya yag lo liat aja begimane?" jawab Gaara sambil menatap kosong keluar kelas.

"Kenapa ga kamu ajak ngomong? Mereka sahabatmu kan?"

"Gue cari aman aja deh dari pada ntar kena bogem nyasar."

Kira terlihat tidak begitu puas dengan jawaban Gaara. Ia menggembungkan kedua pipinya dan duduk tepat di hadapan Gaara.

"Tapi kamu kan sahabatnya!" kata Kira cukup keras sampai semua anak pada mengok ke arahnya.

"Apa liat-liat? Aku cantik, hah?!" kata Kira lagi dengan kesal.

"Cantik banget, kok~" jawab para anak cowok kompak yang langsung membuat Kira memblushing. Kira kembali menatap Gaara yang masih saja menatap kosong keluar kelas.

"Ih, pokoknya kamu ajak ngomong mereka!" kata Kira sedikit memaksa. Gaara mengalihkan pandangannya menatap Kira.

"Gimana kalo lo yang coba ajak ngobrol mereka?" kata Gaara dengan menantang. Kira terlihat kesal dan perempatan muncul di dahinya. Ia berdiri dan berjalan ke arah meja Sasuke dan Naruto. Gaara terlihat cukup kaget melihat Kira melakukan itu.

"Kira…" panggil Gaara pelan namun tak dihiraukan oleh Kira.

"Sasuke! Naruto! Jangan kaya gini napa! Kalian ntar cepet tua kalo kaya gini terus!" kata Kira cukup keras dan sedikit membentak. Sasuke dan Naruto hanya memberinya death glare. Kira tak mempedulikan tatapan kedua orang itu.

Plok!

"Ah, aku baru ingat aku punya cupcake! Kalian mau?" kata Kira sambil menepuk kedua tangannya.

"Hah?" kata Sasuke bingung.

"Kali aja mood kalian jadi bagus hehehe…" kata Kira sambil berjalan ke bangkunya dan mengeluarkan sebuah tempat makan dari tasnya. Ia kembali ke tempat Sasuke dan Naruto lalu membuka tempat makannya dan memberikan mereka cupcakenya.

"Itu cupcake buatanku sendiri, loh. Abisin ya hehehe…"

Sasuke dan Naruto menurut. Mereka menggigit cupcake itu sedikit. Cupcake itu sangat enak untuk mereka, tapi entah mengapa mereka berdua merasakan kepalanya menjadi berat dan pandangannya menjadi sedikit buram.

Bruk!

Tiba-tiba saja mereka berdua tak sadarkan diri. Semua anak hanya terdiam melihatnya. Kira tersenyum penuh kemenangan dan melihat jam tangannya.

"Sebentar lagi waktunya pulang, kan? Kalian semua langsung pulang, ya! Jangan pedulikan mereka, biar aku yang mengurusnya!" kata Kira memerintah sambil berjalan menuju bangkunya. Semua anak hanya mengangguk tanda mengerti. Gaara menatap Kira dengan tatapan yang mengatakan apa-yang-lo-lakuin?

"Itu pelajaran buat mereka. Biar mereka baikan lagi hehehe…"

"Tapi mereka ga mati kan?"

"Ya engga lah. Ga mungkin juga aku bunuh mereka, Gaara…"

"Terus kapan mereka bangun?"

"Ga tau hehehe…"

"Hah?! Seriusan?"

===\(^O^)/\(^v^)/===

Sasuke membuka matanya perlahan. Ia masih merasakan kepalanya sedikit berat walaupun tidak seberat tadi. Ia melihat sekelilingnya. Langit terlihat sudah gelap. Ia kini melihat jam tangannya. Pukul 19:15. Hah? Berapa lama aku tertidur? Batinnya sambil kembali melihat sekelilingnya. Terlihat Naruto yang masih belum sadarkan diri di bangku di sampingnya.

"Akirnya lo bangun juga," kata Gaara sambil berjalan mendekatinya dan duduk di bangku di depannya.

"Lo nungguin gue bangun?" tanya Sasuke. Gaara menggeleng pelan.

"Kita kekunci. Gue udah tereak-tereak tapi udah ga ada orang lagi. Hp gue juga udah lowbatt." Kata Gaara menjelaskan. Sasuke mengerutkan dahinya dan melihat handphonenya yang sudah mati karena lowbatt juga.

"Terus gimana cara kita keluar?" kata Naruto yang entah sejak kapan terbangun. Gaara hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.

"Kuso! Si Kira bikin cupcakenya pake apaan, sih?" kata Naruto sambil berjalan menuju pintu kelasnya dan mencoba untuk membuka pintunya yang terkunci.

"Eh, dobe! Gimana kalo lo telpon siapa gitu pake hp lo!" kata Sasuke memeritah. Naturo menengok dan menatapnya kesal.

"Hp gue mati, teme!" kata Naruto kesal karena dipanggil dobe.

"Cih, ga guna!" umpat Sasuke namun masih dapat didengar oleh kedua temannya.

"Apaan, sih?" kata Naruto sambil berjalan mendekati Sasuke.

"Lo yang apaan! Apa masalah lo, hah?" kata Sasuke sambil berdiri dan menatap tajam Nauro. Gaara hanya terdiam melihatnya dan menghembuskan napasnya berat. Ia akan melihat sejauh mana mereka berantem, jika sudah parah maka ia akan melerainya.

"Masalah gue? Lo masih nanya? Lo udah ngambil Hinata, pacar gue! Sadar, woi!"

"Lo kate gue mau apa dijodohin begitu, hah? Gegara itu juga gue putus sama Sakura!"

"Emang gue peduli? Kenapa lo ga nolak aja?"

"Gue udah nolak berkali-kali, ye! Lo sendiri juga malah flashback terus sama Shion!"

"Apaan, sih? Lo ga usah sok tau, deh!"

"Kau… adalah tempatku membagi kisahku… kau… sempurna jadi bagian hidupku apapun kekuranganmu…"

Sasuke dan Naruto tersentak saat mendengar Gaara menyanyika lagu Arti Sahabat dengan pelan namun masih dapat didengar oleh keduanya. Gaara terus bernyanyi sambil menatap kosong keluar jendela melihat langit yang gelap.

"Kenapa berenti? Lanjutin aje, anggep aja gue kaga ada…" kata Gaara tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Sasuke dan Naruto hanya terdiam dan memalingkan wajahnya.

"Nape pada diem? Lanjutin lah!" kata Gaara sambil menatap mereka tajam.

"Pfft…"

Naruto terlihat tak bisa menahan tawanya lagi. Sasuke juga terlihat menutup mulutnya menahan tawa. Gaara hanya menatap mereka berdua dengan bingung.

"Please, Gaar, lo ga cocok ngambek begitu… hahaha…" kata Naruto dengan tawanya yang tak bisa ia tahan lagi.

"Bener banget, lo ga cocok ngambek huahahaha…" kali ini giliran Sasuke yang tertawa. Melihat kedua temannya seperti itu, Gaara menjadi ikut tertawa juga.

"Padahal gue serius loh tadi. Kenapa lo berdua ga lanjutin berantem aja?" tanya Gaara saat sudah bisa mengendalikan dirinya.

"Udeh, ah! Gue capek gini mulu. Kaga enak!" kata Sasuke sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Iye, udahan nyok. Gue juga ga mau kaya gini terus!" kata Naruto sambil meninju lengan Sasuke pelan.

"Sekarang, gimana caranya kita pulang? Udah malem gini." Kata Gaara sambil melirik jam di tangannya.

"Dobrak aje! Kaga apa kan?" usul Naruto yang langsung disetujui Sasuke dan Gaara. Mereka berjalan menuju pintu kelasnya dan bersiap untuk mendobrak.

"Ichi…" kata Gaara.

"Ni…" kali ini giliran Sasuke.

"SAN!" teriak Naruto.

Brak!

Setelah mereka mengerahkan dengan penuh kekuatannya, akhirnya pintu kelas itu terbuka. Mereka terseyum senang saat berada di luar kelas. Saat mereka sedang asik menikmati udara yang segar, tiba-tiba saja Gaara mendapati Kira yang sedang tertidur di koridor.

"Loh, Kira kan itu?" kata Naruto sambil berjalan mendekati Kira.

"Dia nungguin kita?" kali ini giliran Sasuke.

"Entah. Gue yang anterin dia pulang deh, kesian kayanya dia capek banget." Kata Gaara sambil berusaha menggendong Kira dipunggungnya.

"Emang lo tau rumahnya?" kata Sasuke bingung.

"Kaga hahaha… ya udah gue bawa pulang aje, kali aje Temari tau rumahnya dimana,"

===\(^O^)/\(^v^)/===

"Gaar, capek ga? Kalo capek biar gue yang gantian gendong," kata Naruto menawarkan. Gaara menggeleng pelan.

"Selo, dia ga berat kok…"

"Eh, Nar, gue mau ngasih tau lo kalo hari minggu nanti acara tunangan gue,"

"Hah? Terus gimane?"

"Lo nanya ke gue, gue nanya ke siapa?"

Naruto hanya bisa terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Ia menatap Gaara yang hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Sasuke sendiri terlihat frustasi. Entah bagaimana, tiba-tiba saja Naruto mendapatkan suatu pencerahan.

"Gimana kalo kita ancurin aja acaranya?" kata Naruto sambil tersenyum jahil.

"Hah?!" hanya itu reaksi dari Sasuke dan Gaara.

_To be Continued_

Seina: Aaaa gilaaa maaf banget ya semuanya aku baru bisa ngelanjutin fic ini. maaf juga kalo chapter ini aneh ceritanya dan terkesan maksa dan sebagainya. Jujur aja aku lupa dengan jalan cerita chapter ini gegara laptopku abis diinstall ulang terus ga lama fdku ilang huuueee *curcol*.

Gaara: *pukpukin Seina*.

Sasuke: yaudah yang penting ceritanya dilanjutkan.

Naruto: berhubung banyak yang berubah di chapter ini, kalian bisa dengan bebas menuliskan semua pemikiran kalian untuk fic ini selanjutnya bagaimana di kolom review.

Gaara: tunggu, ini balesan review ga login buat Rajesh khahar ini udah update, maaf ya bikin kamu nunggu ampe 2 tahun.

Naruto: buat Guest ini sudah diupdate silahkan menikmati~.

Sasuke: untuk narusaku dan jjjjgkkk kita belom bisa kasih tau endingnya jadian sama siapa dan ini sudah update.

Seina: minna hontou ni gomennasai *bow* aku akan berusaha lebih baik lagi~

NaruSasuGaa: see you next chapter!