Fuh, akhirny ada ide buat ngelanjutin fic ini. Sekedar pemberitahuan, tulisan yang di-italic dan dalam kurung itu artiny bahasa kucing (?) yang telah diterjemahkan ke bahasa manusia, dan biasanya percakapan jenis ini terjadi jika Cagalli sedang berinteraksi dengan kucing lain.

Well, happy reading :)

Gundam Seed/Destiny bukan punya saia... capek deh...


She is My Cat

Gundam Seed/Destiny (c) Sunrise

Second Wish : Another Side

Kekacauan yang tercipta, mengharuskannya melihat dunia tempat dia tinggal dari sisi lain.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Miauuuuuuuuuwwwww!? (Apa yang terjadiiiiiiii?)" Cagalli berteriak nyaring, tapi tentu saja suara itu hanya menggema dalam pikirannya, sementara suara yang keluar hanya miauw.

Sementara itu Kira masih menggendong kucing yang ia temukan di kasur Cagalli. "Dan bagaimana caranya kau bisa masuk ke sini?" ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, jendela kamar Cagalli tertutup rapat, pintu kamar memang tidak pernah dikunci jika Cagalli tidur. Tapi, pertanyaan paling utama, bagaimana kucing ini bisa masuk ke dalam? Dan mata Kira mendapati pakaian Cagalli berserakan di lantai. Geram, Kira memunguti pakaian tidur tersebut, dan wajahnya memerah ketika menemukan pakaian dalam Cagalli. "Ewwww, Cagalli, paling tidak sebelum kau pergi tolong bereskan pakaianmu!"

"Miaaaaauuuw! miauw, miauw! (Kiraaaaaaaa! Kau tidak sopan! Taruh kembali pakaian dalamku!)"

Kira menoleh ke arah kucing – yang sebetulnya adalah Cagalli. "Ada apa dengan kucing ini? Berisik sekali dia."

"Cagalli, Kira, kalian sudah..." kalimat Uzumi terhenti ketika hanya melihat sosok Kira di dalam kamar Cagalli. "Dimana adikmu, Kira?"

Yang ditanya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, paman. Dia tidak ada di kamar mandi juga. Tapi perlengkapan sekolahnya masih ada," Kira melirik tas sekolah Cagalli di atas meja.

Uzumi masuk ke dalam dan mengecek kamar mandi, kemudian mengecek lemari pakaian anaknya, bahkan sampai mencari ke kolong tempat tidur. "Dia tidak ada..."

"Ada apa? Jika kalian tidak cepat berangkat nanti..." wajah Caridad menyembul dari balik pintu, ia mengeritkan kening melihat sosok Kira serta Uzumi dalam keadaan bingung, dan ada sedikit kepanikan tergambar dalam wajah Uzumi. "Apa yang terjadi?"

"Cagalli tidak ada di sini," jawab Kira dengan nada bingung serta tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

Dengan cepat Caridad melangkah masuk ke dalam, memperhatikan keadaan sekelilingnya."Sejak kapan Cagalli memelihara kucing?" tanyanya ketika melihat sosok seekor kucing di atas kasur Cagalli.

"Miauuuuuuuuuw! (Bibi Caridad, ini aku, Cagalli!)"

"Aku ada rapat jam tujuh nanti..." Uzumi bimbang antara mencari anaknya atau melaksanakan kewajibannya sebagai seorang pemimpin perusahaan terbesar di Orb.

Tangan kecil Caridad menyentuh pundak Uzumi dengan lembut. "Pergilah, aku akan mencari Cagalli." pandangannya beralih ke Kira. "Kira, masuk ke dalam mobil sekarang, atau kau akan terlambat nanti."

Kira, meski dengan keadaan bingung dan sedikit ragu, mematuhi perintah ibunya. Sementara Uzumi masih berdiri terpaku di tempat.

"Tidak apa-apa, Uzumi. Mungkin Cagalli masih kesal dengan Kira karena kejadian kemarin, dan memutuskan untuk pergi duluan. Kau tahu kan bagaimana remaja yang sedang mengalami masa pubertas?"

"Yang pasti dia tidak pergi dari rumah tanpa izin seperti ini!" seru Uzumi, dia antara ingin marah dan menangis disaat yang bersamaan.

Tangan halus Caridad berpindah menyentuh pipi Uzumi. "Tidak apa-apa, ini Cagalli yang kita bicarakan. Dia pasti akan baik-baik saja. Aku akan menelepon keluarga Miriallia, siapa tahu Cagalli pergi ke sana. Dia selalu begitu kan, jika ada masalah. Ingat bagaimana marahnya dia saat kau melarang dia untuk pergi ke sana lagi karena di sana pernah ditangkap tiga teroris? Tetapi dia malah pergi ke sana sendirian saat tengah malam demi membuktikan kepadamu bahwa dia akan baik-baik saja."

"Aku melakukannya demi melindungi Cagalli!" Uzumi geram. "Dan perbuatan itu adalah sesuatu yang bodoh!"

"Tapi cara kau menyampaikannya salah, Uzumi." Caridad berusaha mereda emosi Uzumi. "Sehingga Cagalli tidak melihat niat baik dari laranganmu tersebut. Yang dia tahu hanyalah ayahnya tidak mengizinkan dia pergi ke tempat liburan favoritnya."

Yang mereka bicarakan adalah Miriallia Haw, teman SMP Cagalli dan Kira yang pindah bersama keluarganya ke wilayah pedasaan demi mengurus kebun serta peternakan milik kakeknya yang meninggal setahun silam. Setiap kali liburan, Cagalli selalu berlibur ke sana, dan menjadi tempat liburan favoritnya.

"Sudah, lebih baik kau pergi sekarang, aku yang akan mengurus mengenai Cagalli."

Uzumi tidak membantah, setelah mengiyakan dia berjalan keluar dari kamar Cagalli, disusul oleh Caridad, begitu pula dengan kucing berwarna orange yang sedari tadi hanya terdiam menyaksikan dan mendengarkan seluruh percakapan yang terjadi di dalam sana barusan.

"Ada apa dengan kucing ini?" tanya Uzumi setengah bingung. "Aku tidak tahu kalau Cagalli memelihara kucing."

Caridad menaikkan sebelah alisnya, dan menggeleng. Ketika keduanya sudah sampai di pintu depan, Uzumi yang berdiri di depan Caridad memutar tubuhnya kebelakang. "Aku akan menyuruh Kisaka untuk pergi ke tempat Miriallia."

Caridad melarangnya. "Biarkan aku dulu yang berbicara kepadanya. Pasti ada alasan kenapa Cagalli pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa."

Ketika Caridad sedang sibuk berbicara dengan Uzumi, Cagalli – dalam wujud kucingnya – sedang berusaha masuk ke dalam mobil. Dengan cara mengeong-ngeong, menggaruk-garung pintu mobil demi menarik perhatian Kira, tetapi Kira tidak membukakan pintu, dia malah menutup jendela pintu depan sambil menggerutu betapa berisiknya kucing itu dan ke mana Cagalli pergi sepagi ini.

Dan akhirnya mobil pergi tanpa Cagalli.

"Miauuuuuuuwwwww! (Tungguuuuuuuuuuuuuu!)" Cagalli berlari mengejar mobil sedan berwarna putih yang dikendarai oleh Uzumi.

Tetapi Cagalli tidak cukup cepat, mobil tersebut telah menghilang. Dalam hati Cagalli mengutuk kondisinya sekarang. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sekolah melalui jalan pintas.

Aku kira dengan wujud kucing aku bisa kuat berlari! Ternyata sama saja! Keluh Cagalli dalam hati, dia merasa nafasnya seperti sudah mau hilang. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sejenak di dekat sebuah rumah berpagar kayu.

'Brrrrrrm!'

Bunyi motor yang melaju kencang di sebelah Cagalli membuatnya terkejut. Motor berwarna putih dengan garis warna merah itu berhenti tepat di depan rumah berpagar kayu tersebut. Cagalli menggeram marah karena si pengedara motor membuatnya terkejut.

"Aku pergi dulu!" teriak seorang gadis dari dalam rumah. Disusul dengan suara pintu rumah dibuka dengan kencang.

"Stellar, jangan lupa pakai helm!" terdengar suara seorang wanita. Di saat yang bersamaan, sebuah helm melayang ke arah gadis yang mengenakan seragam sekolah ORB Internasional High School dan berhasil ditangkapnya dengan mudah. Tentu saja, dia adalah andalan tim basket putri OIHS.

Ternyata itu adalah Stellar Loussier, adik kelas Cagalli. Berarti yang menjemputnya adalah Shinn Asuka, kekasihnya. Dan suara wanita yang satunya lagi adalah suara...

"Jangan ngebut, Shinn Asuka!" Murrue Sensei memperingatkan Shinn yang berada di atas motor.

Shinn membuka kaca helmnya, kemudian menatap Murrue Sensei yang sudah berdiri di sebelahnya. "Iya, Sensei."

Sebetulnya Murrue Sensei bukan ibu kandung dari Stellar Loussier, Stellar bersama kedua kakak laki-lakinya diadopsi oleh Murrue serta pasangannya.

Suara klakson mobil mengejutkan ketiga orang yang tengah terlibat dalam sebuah percakapan.

"Murrue, ayo cepat, aku harus melanjutkan memeriksa tugas kelas 3-D." Mwu Sensei menjulurkan kepalanya dari dalam mobil.

"Tinggalkan saja ibu!" ucap Auel yang sudah duduk di kursi belakang.

Sting baru saja selesai mengunci pintu pagar rumah mereka. "Sudah tidak ada yang tertinggal lagi kan?"

"Sudah!" jawab Auel dan Stellar serempak.

"Oh, Sting, ingat hari ini jatahnya tim putri untuk latihan indoor." Stellar berkata sebelum mengenakan helm.

"Ya, aku ingat itu." sahut Sting yang merupakan kapten tim basket putra OIHS. Sekolah mereka memiliki dua lapangan basket, satu di dalam ruangan, sementara satu lagi di luar, dekat lapangan sepak bola.

"Kami berangkat dulu." pamit Shinn.

"Hati-hati di jalan, dan jangan ngebut Shinn! Atau aku tidak akan membelamu lagi jika kau terlibat dalam masalah meski aku adalah wali kelasmu!" Murrue Sensei adalah wali kelas 1-C.

Baru setelah motor Shinn melesat pergi dan menghilang di tikungan, Murrue Sensei masuk ke dalam mobil, dan mobil sedan itu pergi ke arah yang sama dengan motor Shinn.

Cagalli kembali berjalan setelah selesai melihat rutinitas pagi keluarga Mwu Sensei, tetapi langkahnya terhenti ketika tiba di dekat tempat sampah, ada dua atau tiga (atau bisa saja lebih) kucing liar di sana. Cagalli mundur dengan perlahan, namun sial baginya karena dia tidak sengaja menyenggol sebuah botol kosong hingga botol tersebut terjatuh. Membuat perhatian seluruh kucing tertuju kepada dirinya.

"(Hohohohoho, ada kucing baru rupanya!)" kucing paling gemuk berbicara.

"(Hei, dia lumayan cantik!)" ujar kucing yang berbadan kurus.

Sial! Cagalli membatin. Baru kali ini dia merasa takut ketika dikelilingi oleh kucing. Mungkin karena sekarang dia menjadi kucing, sehingga Cagalli mengerti apa yang dikatakan oleh kucing-kucing tersebut. Jika dalam sosok manusia, yang terdengar hanya suara 'meong' dan sejenisnya, dan itu terdengar lucu, meski kita tidak mengerti apa artinya.

Para kucing (yang ternyata semuanya adalah jantan) menatap Cagalli dengan tatapan mengerikan, tidak butuh waktu lama bagi Cagalli untuk menyadari bahwa dirinya dalam bahaya. Dengan segenap kekuatan yang dia miliki, Cagalli langsung berlari ke arah yang sudah dilaluinya, diikuti oleh para kucing yang tadi sedang sibuk menginspeksi tong sampah.

"(Apa ini, pagi-pagi sudah dikejar-kejar sama kucing!)" teriak Cagalli disela tarikan nafasnya yang tidak beraturan.

Di kejauhan terlihat sosok seorang murid perempuan, dari seragamnya nampaknya dia murid OIHS. Matanya membesar ketika melihat gerembolan kucing berlari ke arahnya."Kuciiiiiiiing!" ia berteriak histeris, dan berlari ke arah yang sama seperti Cagalli.

Suaranya terdengar familiar, Cagalli mengangkat kepalanya, dan melihat sosok yang tengah berlari di sebelahnya. "Miauw?! (Lunamaria?!)"

Gadis yang dipanggil Lunamaria melirik ke bawah."Iya, aku juga capek berlari-lari!"

Cagalli ber-sweat drop ria mendengar jawaban Luna. Dari sudut mata Cagalli, dia melihat sebuah gang kecil, ia pun berhenti mendadak, sementara para kucing terus mengejar Lunamaria (nampaknya mereka tidak menyadari bahwa yang mereka kejar sudah pergi) dan berbelok ke gang tersebut.

"(Selamat!)" teriak Cagalli bahagia.

'Klontang!'

Jantung Cagalli nyaris copot ketika mendengar suara tersebut, dia berpikir bahwa itu adalah kucing-kucing yang tadi mengejarnya, ternyata bukan. Yang bertanggung jawab atas suara tersebut adalah seorang pemuda berambut biru tua.

"Miauwwww... (Athrun...)"

Dengan nafas terengah-engah, Athrun menatap sosok kucing yang bersembunyi di balik tumpukan kardus bekas. "Ah, kucing. Halo," ia memberikan senyum.

Baru sekarang, Cagalli menyadari bahwa senyuman Athrun sangat menawan. Kenapa dia terlambat menyadarinya?

"Athruuuuuun-kuuuuuuuunnnnnn!" dari luar gang terdengar teriakan, yang rasanya bukan lain adalah para penggemar Athrun.

Athrun bersandar di tembok, sambil terus mengawasi gang, dia sempat melirik ke arah Cagalli, kemudian ia meletakkan telunjuknya di bibir, dengan maksud agar Cagalli tidak mengeluarkan suara apapun. Setelah dirasa cukup aman, Athrun menghela nafas panjang. "Yah, beginilah kegiatanku setiap harinya, berusaha kabur dari para penggemarku."

Cagalli tahu hal itu, tetapi baru kali ini dia melihat secara langsung bagaimana susahnya menjadi seorang Athrun Zala. Setiap hari dan setiap saat harus dikejar-kejar oleh para penggemarnya. Dulu, sebelum Kira berpacaran dengan Lacus, seperti inilah aktifitas mereka tiap harinya. Mulai dari pagi, hingga malam hari. Tidak aneh jika Kira sering pulang terlambat karena harus menghindari para penggemarnya.

"Aku harus pergi," Athrun mengelus-elus kepala Cagalli. "sampai jumpa lain waktu."

Cagalli hanya bisa melihat kepergian Athrun dengan perasaan campur aduk.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Cagalli tidak ada?" Kira berdiri di ambang pintu kelas 2-A.

"Ya, Cagalli belum datang." seorang pria berambut pirang menjawab sambil melirik ke belakang."Apa sesuatu terjadi kepada Cagalli, Kira?" ia bertanya dengan nada khawatir.

"Tidak, tidak apa-apa, Rey. Mungkin Cagalli sedang mampir di suatu tempat." Kira melihat ke dalam ruang kelas sekali lagi untuk memastikan bahwa Cagalli memang belum ada. "Kalau dia sudah datang, tolong kabari aku, Rey."

Rey mengangguk.

Tepat setelah Kira pergi, sosok Lunamaria muncul dengan nafas tersengal-sengal dan rambut berantakan, membuat Rey menarik satu alisnya ke atas. "Luna, apa yang terjadi?"

"Aku, aku dikejar-kejar oleh gerembolan kucing!" jawab Luna setelah nafasnya teratur.

Rey tersenyum simpul. "Mungkin mereka tahu bahwa kau tidak suka kucing, makanya..."

"Rey, itu tidak lucu!" omel Luna kesal. "Kucing-kucing menyebalkan itu, terkutuklah mereka!"

Rey tertawa, sudah menjadi rahasia umum bahwa Lunamaria Hawke benci (atau takut?) dengan kucing. Sangat bertolak belakang dengan dirinya, yang notabene penyayang binatang dan memelihara kucing serta anjing di rumahnya. "Baiklah, baiklah, nona penyihir, bagaimana kalau sekarang kau menenangkan diri dulu di dalam kelas?" ia merangkul Lunamaria dan menuntunnya masuk ke kelas.

.

.

.

.

.

"Jadi, Cagalli tidak masuk sekolah?" Uzumi mengulang pernyataan Kira agar dia yakin akan kebenaran ucapan Kira barusan.

"Ya, sekarang sudah jam istirahat, dan Cagalli tidak ada." ada jeda cukup lama sebelum Kira melanjutkan. "aku ragu kalau dia akan datang ke sekolah jam segini."

Uzumi menghela nafas. "Baiklah, terima kasih Kira. Aku akan menghubungi ibumu."

"Baiklah." Kira yang pertama kali memutuskan hubungan telepon.

Uzumi menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, pikirannya sibuk memikirkan kemana Cagalli mungkin berada, dan alasan kenapa dia melakukan ini. Dering teleponlah yang membuatnya tersadar. "Ya?" tanyanya dengan suara berat.

"Ini aku, Caridad," sahut suara di seberang telepon. "aku sudah menghubungi keluarga Miriallia, tetapi mereka mengatakan bahwa Cagalli tidak ada di sana."

Uzumi menghembuskan nafas kecewa.

"Tapi mereka berjanji, jika Cagalli datang ke tempat mereka, pasti kita akan segera dihubungi." Caridad berusaha menghibur Uzumi. "Mungkin Cagalli belum sampai."

"Semoga..." Uzumi masih kecewa.

"Aku akan mencoba menghubungi teman Cagalli yang lain, siapa tahu dia pergi ke sana."

"Baiklah. Dan, terima kasih, Caridad."

"Tidak perlu, Cagalli juga anakku, Uzumi."

Uzumi tersenyum sedih. "Kau benar. Maafkan aku." suasana sepi beberapa saat, hingga ketukan di pintu ruang kerja Uzumi memecah keheningan. "Maaf, aku harus pergi, rapat akan dimulai sebentar lagi."

"Baiklah, selamat bekerja." Caridad menutup telepon.

.

.

.

.

.

"Aku tidak melihat Cagalli seharian, Kira," tanya Athrun yang baru saja menenggak minuman dalam botol yang disediakan oleh klub sepak bola.

Kira menghembuskan nafas dengan berat. "Aku tidak tahu kemana dia pergi. Tadi pagi, dia sudah tidak ada di kamarnya."

"Kalian sedang bertengkar?"

Kira mengangkat bahu. Matanya menatap kosong ke arah matahari yang sebentar lagi akan kembali ke tempat peristirahatannya di ufuk sebelah barat.

"Mungkin dia masih marah karena kau menghancurkan kamar mandinya..."

Kira memutar bola matanya. "Yang benar saja! Dia bukan anak kecil yang akan ngambek dan kabur dari rumah hanya karena aku menghancurkan..." Kira berhenti bicara. "Heeeeei, enak saja! Aku tidak menghancurkan kamar mandinya!"

Athrun tertawa pelan. Tapi memang, absennya Cagalli benar-benar membuat sekolah ramai. Pasalnya, hari ini Cagalli berencana untuk mengadakan rapat dengan seluruh ketua klub organisasi murid untuk membahas rencana jadwal kegiatan sekolah. Rey akhirnya mengambil alih sementara jabatan Cagalli, dan berusaha semampunya untuk memimpin rapat (yang baru saja ia akui bahwa memimpin rapat itu sangat sulit. Tidak semudah yang dia lihat.) Ditambah dengan tidak tahunya Kira alasan dan keberadaan Cagalli, berbagai spekulasi mengenai keberadaan serta alasan Cagalli kabur mulai beredar.

Dan Kira tidak suka itu.

Athrun melirik ke pintu gerbang lapangan sepak bola, dan sosok Lacus sudah berdiri di sana. Dia membalas lambaian tangan Lacus. "Nampaknya tuan putrimu sudah tiba, Kira."

Kira berusaha menyembunyikan rasa gundahnya ketika menatap Lacus. Tapi Lacus tidak bisa ditipu, tentu saja dia tahu bahwa kekasihnya ini sedang resah.

"Baiklah, aku duluan yah, Kira." Athrun menepuk punggung Kira. "Dan semoga akan ada kabar dari Cagalli."

Kira tersenyum. "Terima kasih, Athrun."

Athrun berjalan menjauh dari Kira, sementara Lacus sebaliknya. Dan ketika wanita berambut merah muda itu sudah duduk di sebelah Kira, Athrun menoleh ke belakang dari balik pundaknya, terbesit rasa cemburu dalam sorot matanya.

Langit sore terlihat semakin dipenuhi oleh warna oranye bercampur dengan warna violet, aktifitas para manusia terlihat tidak seenerjik tadi pagi. Mereka semua berlomba untuk segera pulang ke rumah masing-masing, mengistirahatkan tubuh yang letih, dan pikiran yang kacau, atau hati yang terluka.

.

.

.

.

.

Di sisi lain, Cagalli masih berlari untuk menghindari para kucing jantan yang selalu muncul entah dari mana, dan menambah jumlah gerombolan kucing jantan yang sedang mengejarnya. Sial bagi Cagalli, sebab sekarang sedang musim kawin untuk para kucing, jadi itu menjelaskan kenapa para kucing jantan begitu bernafsu mengejar Cagalli dalam wujud kucingnya.

"(Sayang, jangan lariiiii!)" seekor kucing kampung yang, apa yah sebutannya? Buluk? Ya, buluk, tengah berlari tepat di belakang Cagalli.

"(Aku bukan kucing! Jadi berhentilah mengejarku!)" Cagalli menoleh ke belakang sambil terus berlari.

"(Tenang sayang, aku juga bukan kucing! Aku ini Siberian Husky!)" Kucing buluk lainnya, yang lebih kurus dan badannya penuh dengan luka mengeong dengan keras.

"(Haumea, tolong akuuuuuuuu!)" Cagalli berteriak.

Sepertinya Haumea mendengar permintaan Cagalli, dengan mengirimkan pria itu sebagai penolong Cagalli. Pria dengan rambut navy blue, dan iris mata berwarna zamrud yang mendamaikan jiwa.

"Hah? Itu kan kucing yang tadi pagi." Ucapnya begitu melihat Cagalli berlari ke arahnya.

Baru kali Cagalli merasa sangat bahagia melihat sosok Athrun. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berlari ke arah Athrun, dan bersembunyi di belakang kaki pria itu.

"Hei, apa yang kau lakukan?!" Athrun menoleh ke bawah, kemudian melihat ke arah Cagalli datang, dia sedikit terkejut ketika melihat segerombolan kucing. Mereka terlihat seperti kucing kelaparan. Fokus pandangannya kembali ke sosok Cagalli."Ah, aku mengerti sekarang..."

Athrun mengambil sebuah batu, kemudian melemparnya ke arah gerembolan kucing tersebut. Tapi, itu tidak mempan. Mereka marah, tapi tidak berani mendekat. Athrun kembali melempar batu, kali ini ukurannya lebih besar, baru para kucing pergi.

"Ternyata mengusir kucing yang ingin kawin itu, agak mengerikan juga." kata Athrun disela tawa paniknya.

"Miauuuuwww. (Terima kasih.)" kata Cagalli dengan perasaan senang dan lega.

Athrun berjongkok, dielusnya leher Cagalli. Awalnya dia kegelian, tetapi lama kelamaan dia jadi terbiasa. Rasanya sekarang Cagalli mengerti, kenapa kucing suka bila lehernya dielus-elus seperti ini. Ditambah lagi ini yang mengelus adalah pria tampan macam Athrun Zala.

"Nah, apa yang harus aku lakukan denganmu?" tanya Athrun. "Jika kau berada di luar, pasti kucing-kucing itu akan mengejarmu lagi. Huuummm," Athrun menggaruk-garuk dagunya. "Aku tahu! Kau bisa tinggal di tempatku untuk sementara waktu. Paling tidak, sampai kau menemukan pemilik lain. Atau yah, paling tidak sampai musim kawin selesai."

"Miauw? (Apa?)" Cagalli memiringkan kepalanya.

"Berarti aku harus memberimu nama..." Athrun mengangkat Cagalli dengan dua tangan, menatap tepat ke manik mata Cagalli. "Kau sama seperti dia, memiliki bola mata berwarna hazel..."

Athrun tahu apa warna mataku? Gumam Cagalli dalam hati.

"Hazel." Athrun menyeletukkan sesuatu. "Mulai sekarang, namamu adalah Hazel."

"Meong. Miauw! (Hazel. Lumayan bagus!)"

Athrun tertawa. "Kau suka kan, Hazel?"

"Miauw! (Iya!)"

"Nah," Athrun berdiri sambil menggendong Cagalli dengan satu tangan, sebab dia menggunakan tangan kirinya sebagai tumpuan untuk membantunya berdiri. "waktunya pulang, Hazel."

Cagalli tidak bisa melawan ketika Athrun membawanya pulang. Mau tidak mau dia setuju kepada Athrun, dia harus bersembunyi hingga masa kawin selesai. Tidak, dia harus bersembunyi sampai dia kembali menjadi manusia!

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Karena tidak boleh membawa hewan di dalam kereta dalam kota, Athrun akhirnya menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk tiba di unit apartemen Athrun.

"Paling tidak di sini diizinkan untuk membawa hewan peliharaan," kata Athrun sebelum membuka pintu. Archangel, Luxury Apartement memang mengizinkan penghuninya membawa satu hewan peliharaan mereka. Tetapi dilarang memelihara reptil, unggas serta burung.

"Ah, Athrun-Kun," sapa tetangga Athrun yang tinggal di unit 9-D, tepat di sebelah unit apartemen Athrun 10-D.

Athrun tersenyum kepada tetangganya. "Halo, Meer."

Gadis yang dipanggil Meer itu membalas senyuman Athrun. "Oh, apa itu kucing peliharaanmu?"

Athrun menatap Cagalli, kemudian kembali menatap Meer. "Ya, namanya Hazel."

Meer mendekati Athrun. "Halo Hazel, salam kenal." Meer mengelus-elus kepala kucing berbulu orange yang sedang dipeluk oleh Athrun.

"Rrrrrrrr! (Jangan sentuh kepalaku!)" Cagalli menggeram marah.

Meer langsung menarik tangannya. "Ah, nampaknya dia tidak suka denganku."

"Hazel, kau tidak boleh nakal!" Athrun menyentil telinga kiri Cagalli.

"Miauuuuw! Miauw miauw! (Hei! Ayahku saja tidak pernah menyentilku!)"

"Tolong maafkan Hazel, aku rasa dia masih trauma karena dikejar-kejar oleh kucing kampung tadi."

"Oh, jadi kau menyelamatkan dia, Athrun-Kun?" Meer menatap Athrun dengan mata berbinar. Membuat Cagalli ingin mencolok mata gadis itu saking kesalnya. Maksudnya, siapa yang tidak kesal dengan Meer.

Ya, dengan seorang Meer Campbel.

Untungnya dia sudah berbeda sekolah dengan Cagalli dan yang lainnya. Jika tidak, mungkin dia tidak akan bisa bersekolah dengan damai.

Wajahnya yang mirip dengan Lacus Clyne, banyak orang yang sering tertukar antara Meer dengan Lacus. Dan Meer pernah memanfaatkan hal itu. Dia pergi dengan seorang pria ke hotel terkenal, dan dia mengaku sebagai Lacus. Hanya dia, pria itu serta Haumea yang tahu apa yang sesungguhnya mereka lakukan di kamar hotel itu. Tetapi gosip menyebar, gosip yang sangat tidak mengenakan mengani apa yang dilakukan oleh Lacus (yang sebetulnya itu adalah Meer) dengan pria itu di hotel. Ketika ditanya, pria itu bilang bahwa malam yang dia habiskan bersama Lacus (Meer sungguh menyebalkan karena dia menggunakan nama Lacus!) adalah malam terindah dalam hidupnya, dan dia merindukan tidur sambil memeluk gadis itu.

Orang yang tidak tahu apa-apa, tentu langsung termakan gosip itu. Merasa namanya teremar, keluarga Clyne berusaha sebisa mungkin untuk menyelidiki asal usul gosip tersebut. Dan terbukti, bahwa gadis yang pergi bersama pria itu adalah Meer Campbel. Dan apa yang dikatakan pria itu bohong, dia hanya dibayar oleh Meer untuk berkata seperti itu. Karena skandal tersebut, Meer dikeluarkan dari OIHS. Dan dia melakukan permintaan maaf secara publik kepada Lacus Clyne.

Athrun mengangguk. "Ya, begitulah." terdengar bunyi kunci pintu terbuka. "Aku masuk dulu. Sampai jumpa, Meer."

Meer melambaikan tangan."Sampai jumpa, Athrun-Kun, dan Hazel."

Cagalli menghembuskan nafas kesal. Dia heran, kenapa Athrun bisa betah bertetangga dengan gadis macam Meer?

Mata hazel Cagalli membesar ketika melihat tempat tinggal Athrun. Ya, baru kali ini dia masuk ke sini. Bahkan mungkin menjadi wanita pertama yang menginjakkan kaki ke sini. Tidak ada yang istimewa dari unit apartemen Athrun, terlihat sederhana, tidak seperti yang selama ini Cagalli bayangkan. Tempat tinggal seorang putra tunggal dari Patrick Zala, sang milyader PLANT. Nampaknya, dia dengan Cagalli memiliki satu kesamaan, mereka tidak suka berpenampilan berlebihan, meski kondisi keluarga mereka memungkinkan Cagalli dan Athrun untuk tampil mewah.

Ada sebuah perapian, di atasnya ada foto-foto keluarga Zala. Sebuah meja bundar diapit dengan dua kursi yang terbuat dari anyaman, sebuah papan catur ada di atas meja itu. Di ujung ruangan terdapat sebuah jendela berukuran besar yang langsung terhubung ke balkon. Dapur serta ruang makan menjadi satu, dan berada di dekat jendela tersebut. Ada dua tangga di sini, satu tangga yang terbuat dari besi dan melingkar yang dekat perapian untuk naik ke lantai dua ke ruang baca, sedangkan tangga yang dekat dengan dapur sepertinya menuju ke kamar tidur.

Athrun meletakkan tasnya di atas konter yang memisahkan dapur dengan ruang makan, juga menurunkan Cagalli di sana. Ia berjalan menuju kulkas. "Apa kau lapar?"

Perut Cagalli bunyi, tapi rasanya hanya Cagalli yang bisa dengar. "Miauuuuwwww... (Sangaaaaaaaat...)"

"Ini untukmu," Athrun menyodorkan sebuah mangkuk yang terbuat dari stainless steel dan sudah berisi susu putih. "Setelah minum susu, aku akan memandikanmu, kemudian kita makan malam."

Ya, setelah seharian aku berlari dan bersembunyi dari kucing-kucing menyebalkan itu, aku benar-benar butuh berendam di dalam air... Tunggu, apa?! Cagalli menghentikan kegiatannya, dan menatap wajah Athrun seolah dia baru menyadari ada sebuah kalimat yang salah.

Athrun balas menatap Cagalli. "Kenapa, Hazel? Apa kau belum pernah dimandikan oleh pria tampan sebelumnya?"

Cagalli merasa tubuhnya memanas, terutama di bagian pipi. YANG BENAR SAJAAAAAAAAAAAA! Aku tidak mau mandi bersamamu! Cagalli langsung loncat dan berlari ke arah pintu.

"Hei, Hazel, tunggu!" Athrun secara refleks langsung mengejar Cagalli.

"Miauuuuuuuuwwwwww! (Keluarkan aku dari sini!)" Cagalli menggaruk-garuk pintu. Dia berhenti sejenak. Jadi begini rasanya menggaruk-garuk pintu? Aku ingin mencoba menggaruk dinding! Cagalli beralih ke tembok dekat pintu, dan mulai menggaruk-garuknya dengan semangat.

"Hazel, jangan!" Athrun mengangkat tubuh Cagalli.

"Miauw, miauw, miauw! (Lepaskan aku! Aku ingin menggaruk-garuk dinding!)" Cagalli meronta-ronta.

"Hazel, diam." Athrun memberi perintah dengan suara dingin.

Seketika itu juga Cagalli terdiam, dia bisa merasakan aura Athrun berubah. Begitu pria yang sedang menggendongnya memutar tubuh Cagalli hingga mereka saling tatap, Cagalli bisa melihat kalau Athrun sedang serius. Dia hanya bisa menelan ludah, sadar bahwa dia tidak dalam posisi untuk bisa melawan, terima kasih karena wujud kucingnya.

"Aku sudah menolongmu, jadi aku harap kau bisa bertingkah laku dengan baik, aku percaya kalau kau berbeda dengan kucing lainnya," Athrun menyipitkan matanya."jangan buat aku menyesal karena telah menolongmu, Hazel."

"Miauw... (Baik...)"

Athrun membuang nafas. "Nah, coba kalau kau begini dari tadi. Kau imut kalau diam seperti ini." Athrun mengecup hidung Cagalli, membuat gadis itu sempat membeku sesaat. Dia sangat berharap bahwa pipinya tidak memerah karena malu. "Aku akan menyiapkan air panas untuk kita. Dan aku harap, kau akan menunggu dengan tenang."

"Miauw. (Iya, bawel!)"

.

.

.

.

.

Meer mematikan laptop berwarna pink miliknya. "Haaah, enak yah jadi Hazel. Bisa mandi bersama Athrun..."

Telepon genggamnya berdering."Halo. Ini siapa? Oh, kau tukang yang memasang kamera pengawas di unit apartemen Athrun. Apa, minta bayaran tambahan? Hei, yang benar saja! Aku sudah membayarmu mahal tiga bulan yang lalu, dan kau hanya memasang kameranya hanya di ruang tamu saja! Apa, itu karena aku minta dipasangkan microphone juga? Hah, baiklah-baiklah, akan aku bayar nanti!" Meer mengakhiri percakapan tersebut.

"Dasar tukang peras," digigitnya ujung telepon selulernya."tapi demi mengetahui gerak-gerik Athrun Zala setiap hari, aku rasa itu sepadan..." Meer tertawa bahagia.

.

.

.

.

.

Cagalli hanya bisa menunggu dalam diam sambil mengamati Athrun menyiapkan air hangat di dalam bathtub berukuran besar tersebut. Dia tidak berani menatap sosok Athrun, sebab pria itu sekarang sudah setengah telanjang. Athrun sudah membuka kemeja sekolahnya, dan memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang terbentuk dengan sempurna, tetapi tidak berlebihan.

Sial, sial, sial, pakai lagi bajumu, bodoh! Atau paling tidak, pakai handuk! Gerutu Cagalli dalam hati. Tetapi, mau tidak mau Cagalli harus mengakui bahwa Athrun memang memiliki tubuh yang – oh demi Haumea – sangat seksi! Dia paham kenapa banyak murid perempuan yang rela untuk dihukum hanya demi menyusup ke loker tim sepak bola anak laki-laki. Rasanya, hukuman membersihkan toilet selama sebulan sepadan jika kau berhasil melihat seorang Athrun Zala topless.

"Huuuum, aku tidak punya sabun khusus kucing. Rey bilang sabun biasa juga tidak apa-apa, asal jangan terlalu banyak." Athrun sedang memilih sabun apa yang akan dia gunakan untuk memandikan Cagalli. "Ya sudah, pakai sabunku saja." Athrun mengambil botol berwarna hijau.

Dimatikannya keran air setelah dirasa air panasnya sudah cukup. Athrun menuangkan sedikit sebuah cairan berwarna kuning keemasan ke dalam bathtub. "Aku rasa sudah cukup." Athrun menatap Cagalli yang hingga kini masih belum berani menatap Athrun."Siap untuk mandi, Hazel?"

"Miauw... (Siap, jika aku mandi sendirian!)"

Athrun membuka celana panjangnya, dan membiarkannya begitu saja di lantai. "Nah, ayo kita mandi, Hazel."

Sudah aku bilang, aku ingin... Cagalli tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia melihatnya! Dia melihat seorang Athrun Zala dalam keadaan tanpa busana, telanjang, bugil, sepolos bayi yang baru lahir ke dunia. Tubuh Cagalli memanas, dia merasa sangat panas.

"Hazel, ada apa?"

Sedetik kemudian, Cagalli pingsan. Jika ini adalah anime atau manga, mungkin Cagalli sudah kehilangan banyak darah karena mengalami mimisan yang sangat hebat.

.

.

.

.

.

Cagalli merasakan tubuhnya sangat segar, dan sedang diterpa angin yang lembut dan hangat. Dengan perlahan, Cagalli membuka kelopak matanya, dan mendapatkan sosok Athrun sedang mengeringkan tubuhnya menggunakan hair dryer. Rambutnya masih basah, sebuah handuk kecil melingkar di lehernya, tetapi dia sudah memakai sebuah kaos putih, dan semoga dia sudah memakai celana juga!

"Hei, kau sudah sadar, Hazel?" tanya Athrun dengan suara pelan, ia mematikan hair dryer yang merupakan fasilitas dari pihak pengelola apartemen. Dengan lembut Athrun mengelus leher Cagalli menggunakan jari telunjuknya. "Kau pingsan tadi. Aku rasa kau pingsan karena suhu di dalam ruangan yang terlalu panas untukmu, maafkan aku, Hazel. Aku tidak akan mengulang kesalahan itu lagi."

"Miauw... (Bukan, aku pingsan karena...)" pipi Cagalli memerah. Bayangan Athrun tanpa busana kembali melintas dalam benaknya. Untungnya dia tidak mimisan.

"Tunggu sebentar ya, aku harus masak dulu. Baru setelah itu kita makan." Athrun mengelus-elus kepala Cagalli dengan lembut.

"Miauw? (Kau bisa masak?)"

Athrun terkekeh. "Kenapa? Apa aneh kalau seorang pria bisa masak?" Ia menyiapkan sebuah penggorengan. "Semenjak ibuku meninggal, aku harus bisa mengurus diriku sendiri, bahkan mengurus rumahku. Sebab ayah terlalu sibuk bekerja," Athrun menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan perlahan."aku rasa, itu salah satu cara untuknya untuk melupakan rasa sedihnya karena ditinggalkan oleh ibuku. Tapi karena itu, dia juga telah melupakanku. Anaknya, satu-satunya keluarga yang masih dia miliki."

Cagalli terdiam, dia bisa memahami perasaan Athrun. Memiliki ayah yang sibuk dengan dunianya sendiri, sampai-sampai dia melupakan anaknya sendiri. Meski dia dengan Uzumi tidak memiliki ikatan darah, rasa sakit yang Cagalli rasakan ketika melihat ayahnya sibuk bekerja ternyata lebih sakit dibandingkan rasa sakit ketika dia mengetahui bahwa dia hanyalah anak adopsi Uzumi.

"Aku tidak punya makanan kucing, aku harap kau suka ikan," Athrun sudah selesai memasak. "Ayo ke sini, Hazel."

Tanpa disadari, tubuh Cagalli bergerak sendiri. Dia bereaksi ketika Athrun memanggilnya. Ketika dia sudah tiba di dekat meja makan, dia menatap Athrun seperti tengah menunggu perintah selanjutnya. Perintah dari pemiliknya. Tuannya. Majikannya.

Athrun melempar sedikit bagian ikan goreng tersebut. Cagalli mencoba untuk langsung mengigitnya, tetapi berhasil. Kesal, Cagalli menggunakan salah satu tangannya, menancapkan kukunya di ikan itu agar ikan tersebut tidak bergerak-gerak. Athrun tertawa melihatnya. "Kau kucing yang unik, Hazel."

Berisik! Kalau sedang makan tidak boleh bicara! Ujar Cagalli dalam hati.

Athrun hanya tertawa dan mulai makan.

.

.

.

.

.

Suasana makan malam di kediaman Athha terasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ruang makan sepi dan hawanya sangat berat. Tiga orang sedang duduk dalam diam, tidak ada yang menyentuh makan malam yang sudah dingin itu. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing, sibuk memikirkan satu anggota keluarga mereka yang tidak diketahui dimana keberadaannya.

"Mungkin Cagalli, sedang butuh waktu sendiri..." kata Caridad pelan. Seolah dia tidak yakin dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

"Dan membuat seluruh keluarganya panik setengah mati?!" bentak Uzumi.

"Paman, sudahlah. Cagalli sudah besar, dia bisa menjaga dirinya." Kira angkat bicara.

"Bukan itu yang aku khawatirkan, Kira. Aku tidak peduli kemana dia pergi, bahkan ke luar angkasa sekalipun! Asal aku tahu dimana dia berada! Bukan seperti ini!" teriak Uzumi.

"Uzumi, cukup!" Caridad menaikkan nada suaranya. "Besok aku akan melapor ke polisi. Jadi aku mohon, berhentilah mengkhawatirkan Cagalli sejenak, dan pikirkan tentang dirimu untuk sejenak."

Uzumi berdiri. "Ayah macam apa yang bisa makan dengan santai sementara anaknya hilang?" dan meninggalkan ruang makan.

Caridad hanya bisa menghela nafas, sedangkan Kira tidak memberikan reaksi apa-apa. Dengan gerakan lamban, Kira mulai makan.

"Ibu, kau harus makan."

"Ya. Aku akan makan nanti, kau makan yang banyak yah, Kira." Caridad menyentuh tangan Kira yang duduk di hadapannya.

.

.

.

.

.

Sebuah keranjang buah sudah diberi slayer warna merah. Keranjang itu diletakkan di dekat tembok, di ujung tempat tidur yang terbuat dari kayu, yang berjarak hanya beberapa senti dari lantai kamar tidur yang juga terbuat dari bahan kayu yang sama.

"Maaf, tapi hanya ini yang bisa aku sediakan." kata Athrun pelan.

"Miauwww... (Bagus, aku harus menghabiskan malamku dengan tidur di dalam keranjang buah...)"

Athrun menidurkan Cagalli di dalam keranjang buah tersebut. Dan Athrun segera bersiap-siap untuk tidur juga. Cagalli sempat melihat Athrun membuka kaosnya. Aneh, padahal kamar Athrun bisa dibilang cukup dingin. Lalu kenapa pria itu malah membuka kaosnya?

Detik dan menit sudah berlalu. Sudah hampir satu jam lebih, tetapi Cagalli belum tidur juga. Dia butuh kehangatan, maksudnya, kehangatan dalam arti sebenarnya. Dia keluar dari keranjang buah, dan berjalan menuju ke kasur Athrun. Awalnya dia ingin tidur di dekat kaki Athrun, tetapi entah kenapa, dia tergoda untuk melihat wajah Athrun ketika pria itu sedang terlelap.

Damai dan tentram, begitulah wajah Athrun ketika dia sedang tidur. Cagalli tersenyum, iapun masuk ke dalam selimut, dan tidur melingkar di dekat wajah Athrun. Saking dekatnya, dia bisa merasakan nafas hangat yang dikeluarkan oleh pria itu.

Sayangnya aku mengalami semua ini dalam wujud kucing. Seandainya aku kembali menjadi manusia, aku pasti bisa membuat banyak penggemar Athrun iri...

.

.

.

.

.

Seorang pria paruh baya melempar dokumen yang baru saja dia periksa. "Sampah! Sekretaris macam apa dia? Membuat laporan semacam itu saja tidak becu!" ia memijit-mijit keningnya. Mata lelahnya melirik ke salah satu sudut meja kerjanya, di sana terlihat sebuah figura foto. Seorang wanita berambut ungu sedang memeluk seorang anak kecil berambut biru tua.

"Lenore... Maafkan aku..." Patrick mengambil figura tersebut. Ia menyentuh pipi Athrun dalam foto tersebut dengan lembut.

Di langit malam PLANT yang kelam dan sepi, terlihat sebuah bintang jatuh.


crap, om patrick agak OOC di sini! BTW, ide buat bikin Meer jadi tetanggany athrun itu bener-bener baru tercetus pas bikin chap ini, wuhahaha! BTW,meer serem amat yah... Gak mau deh saia punya tetangga macam meer...

Semoga chap ini cukup memuaskan :), see you in the next chap