She is My Cat

Gundam Seed/Destiny (c) Sunrise

Third Wish : Jealousy

Manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki olehnya. Mereka selalu menginginkan lebih.

Lebih dari apa yang bisa mereka bisa syukuri, lebih dari apa yang bisa mereka jaga...

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Athrun membuka matanya dengan perlahan, sensasi ingin bersin tiba-tiba hinggap ke dirinya. Membuat dia bersin didetik berikutnya. Ada apa ini? Dia tidak pernah bersin pagi-pagi sebelumnya? Apa dia sakit? Atau ada yang sedang membicarakannya? Atau...

Ada seekor kucing tengah tertidur dengan pulas di dekat wajahnya.

Pria berambut biru tua itu tertawa pelan melihat sesosok kucing berwarna orange tengah tidur, dadanya naik-turun dengan teratur. Dengan jari telunjuk dia mengelus tengkuk kucing tersebut, tetapi dia tidak memberikan reaksi apa-apa. Mungkin masih tidur, atau pura-pura tidak merasakan sentuhan Athrun? Senyumannya belum hilang ketika membungkus tubuh kucing itu dengan selimut. Apa pun alasannya, Athrun bangun dari tidurnya. Membuka gorden berwarna putih yang menutupi jendela di belakang kasurnya, sekaligus membuka jendela dan menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih belum tercemar polusi udara. Kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sekarang hari minggu, yang artinya tidak perlu ke sekolah. Tetapi Athrun memang selalu mandi pagi jam segini, bahkan jika tidak memiliki rencana keluar kemana-mana. Dalam hati dia berencana untuk belanja keperluan Hazel, karena nampaknya dia tidak keberatan jika Hazel tinggal dengannya dalam waktu yang cukup lama sekali pun.

.

.

.

.

.

Suara keran terbuka membuat Cagalli terjaga, entah sejak kapan telinganya jadi sensitif dengan suara. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menyesuaikan diri untuk menatap cahaya yang menerjang masuk ke dalam ruangan yang asing baginya.

Ini, di mana...? Cagalli membatin. Dia keluar dari balik selimut, mengangkat tubuhnya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan, potongan-potongan kejadian kemarin menari-nari dalam ingatannya dengan sususan kronologi waktu yang tepat. Ah, dia ingat sekarang. Tubuhnya tiba-tiba menggigil kedinginan begitu mengingat bahwa dirinya dikejar-kejar oleh kucing jantan yang sedang ingin kawin kemarin, seharian. Wajah pucatnya dengan cepat berganti ke wajah memerah begitu ingat apa yang terjadi antara dirinya dengan Athrun.

Dan entah bagaimana caranya, tetapi pria itu tiba-tiba -olah dia bisa mendengar bahwa Cagalli memanggilnya dalam hati. Dia muncul dalam keadaan setengah telanjang, rambutnya masih basah, tetapi dia tidak ada niat untuk mengeringkannya dalam waktu dekat. Mata hijaunya menatap ke arah tempat tidur. "Ah, Hazel, sudah..." dia berhenti.

Apa, kenapa? Kenapa dia berhenti? Apa dia telah melihat sesuatu yang tidak pantas untuk dilihat? Apa jangan-jangan Cagalli secara tidak sengaja... buang kotoran di atas kasur Athrun? Cagalli amat berharap bahwa bukan seperti itu, dan nampaknya, memang bukan. Jika melihat ekspresi Athrun yang terkejut, dan, apa itu? Darah? Ada darah keluar dari hidungnya. Apa Athrun kalau pagi suka mimisan?

Belum selesai Cagalli menciptakan berbagai spekulasi mengenai kondisi Athrun, dia merasakan sesuatu yang lain dengan tubuhnya. Dia bisa merasakan lembutnya selimut Athrun di kakinya, empuknya kasur Athrun di bawah sikunya. Siku? Sebentar, apa kucing memiliki siku? Apakah sikunya... Cagalli mengangkat tangan kirinya. Aneh, seharusnya yang dia lihat adalah kaki kucing... Matanya berpindah tempat ke arah dada.

Dan seketika itu Cagalli merasa dirinya seperti baru diguyur air dingin.

Dia sudah kembali ke wujud manusianya! Wujud manusianya dalam kondisi telanjang!

Refleks, Cagalli langsung menyambar bantal di dekatnya dan menimpuk bantal itu ke wajah Athrun – yang sedang kehilangan sebagian nyawanya karena pemandangan dihadapannya tumbang ke belakang – dan Cagalli segera membungkus tubuhnya.

"Da, dasar pria mesum!" suara Cagalli menyalang.

Athrun berdiri sambil mengambil posisi defensif, siapa tahu Cagalli akan menimpuk benda lainnya. Darah sudah berhenti keluar dari hidungnya, tetapi masih terlihat sedikit sisa-sisa mimisan di bawah hidungnya. Mau tidak mau Athrun membersihkan noda itu menggunakan punggung tangannya. "Siapa yang mesum! Seharusnya aku bertanya bagaimana kau bisa berada di kamarku! Dalam keadaan..." wajahnya memerah, dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Yah, toh rasanya tidak perlu kan?

"A, aku..."

"Dan kemana perginya Hazel?" Athrun memotong suara Cagalli.

Yang ditanya tidak menjawab. Yang bertanya ikut terdiam.

Semenit kemudian, Athrun membuka mulutnya, terlintas sebuah ide gila dalam benaknya. Ide yang bisa menjelaskan bagaimana Cagalli bisa berada di sini dalam kondisi tanpa sehelai benang, dan hilangnya Hazel. "Tidak mungkin... Kau, Hazel?"

Dengan perasaan bercampur aduk ; malu, marah, sedih, kesal dan bingung, Cagalli memberikan satu anggukan kepala sekali. Sambil mempererat cengkramannya terhadap selimut yang membungkus tubuh polosnya.

Keduanya kembali larut dalam sunyi pagi yang damai.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Tidak ada suara dari unit apartemen ini, selain suara televisi yang memang dibuat untuk menyala otomatis saat jam enam pagi. Jendela besar dibuka selebar-lebarnya, mengizinkan udara pagi yang segar masuk ke dalam. Terlihat dua sosok saling duduk berhadapan di ruang makan. Sarapan masih utuh, meski masakan itu sudah dingin. Athrun menatap Cagalli yang sudah mengenakan kemeja putihnya yang kebesaran dan celana pendek warna hitam yang juga kebesaran jika dikenakan oleh Cagalli. Mulut Athrun terbuka dan mata melotot karena tidak percaya. Ekspresi yang jelek memang, para penggemar Athrun mungkin akan merasa geli jika melihat ekspresi Athrun sekarang. Tapi rasanya, itu wajar. Mengingat apa yang baru saja dia dengar dari Cagalli.

"Tapi itu, tidak mungkin." Suara serak Athrun akhirnya menghancurkan kesunyian.

Cagalli mengendus kesal, jadi usahanya untuk mejelaskan apa yang sedang terjadi kepadanya hanya berbuah sebuah kalimat seperti itu? "Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi itu kenyataannya. Seharian kemarin aku seperti orang... maksudku kucing, ah terserah kau mau menganggapku apa! Pokoknya intinya, seharian kemarin aku seperti itu! Dan itu sangat menyusahkan!"

Athrun menelan ludah berkali-kali, dia masih bimbang. Disatu sisi, Cagalli menceritakannya seolah hal itu memang terjadi kepadanya, disisi lain, Athrun tidak percaya bahwa ada yang bisa berubah menjadi kucing. Setelah menimang-nimang sesuatu, Athrun berkata. "Kalau begitu, apakah kau ingat yang terjadi di kamar mandi semalam?"

Rasa panas segera menjalar ke seluruh bagian tubuh Cagalli, dengan wajah sedikt kesal (karena diingatkan mengenai kejadian itu) dan malu (karena dia teringat bahwa dia telah melihat sesuatu yang tidak boleh dilihatnya) ia menggebrak meja. Dia tidak mengerti kenapa melakukannya, semenit kemudian Athrun berdahem.

"Baiklah, aku anggap jawabannya iya."

Sunyi kembali.

"Lalu, bagaimana kau bisa kembali menjadi manusia?" sekali lagi Athrun yang mengalahkan kesunyian yang menguasai ruang makannya.

Cagalli mengangkat bahu. "Entah. Aku tidak mengalami mimpi-mimpi yang aneh, dan begitu aku terbangun, aku sudah jadi manusia."

Dagu Athrun menyentuh dadanya, ekspresi wajahnya terlihat serius.

"Sudahlah, mau dipikirkan bagaimana juga, tidak akan mendapatkan jawabannya." Cagalli mengambil sumpit dan mulai makan.

"Lalu, apa yang akan kau katakan kepada keluargamu?"

Pertanyaan barusan membuat gadis berambut pirang itu berhenti makan. Tubuhnya menjadi dingin. Dia lupa, seharian kemarin tidak ada yang melihat sosok manusianya. Sehingga Cagalli Yula Athha dinyatakan menghilang. Cagalli menelan ludah. "Aku... Akan aku pikirkan." jawabnya pelan, seperti mencicit.

Athrun tidak bicara apa-apa lagi, dan menyantap sarapan yang ia masak.

Dering telepon membuat konsentrasi Cagalli pecah, dan berhasil mengalihkan perhatian Athrun dari makanannya. Dalam diam sang tuan rumah berjalan menuju ke telepon yang tergantung di tembok dapur. Dia sempat berpikir bagaimana jika Kira yang menelepon? Apakah dia akan jujur kepada sahabatnya itu? "Ya, dengan Athrun Zala..." matanya membesar begitu mendengar suara dari seberang sana. "Ayah..."

Cagalli menelan bulat-bulat bakso berukuran besar itu, tadinya dia ingin mengigit setengahnya. Tetapi begitu mendengar Athrun menyebutkan kata 'ayah' bakso tersebut terjun bebas dalam kondisi bulat utuh ke dalam mulut Cagalli. Dalam perjuangannya menelan bakso, Cagalli melirik ke punggung Athrun. Tidak, tidak boleh! Cagalli tidak boleh menguping pembicaraan antara ayah dan anak ini! Maka ia kembali fokus ke meja makan, tangannya dengan gelalapan mencari gelas berisi jus jeruk dengan harapan cairan tersebut bisa membantu si bakso untuk melesak masuk ke dalam.

Tidak ada sampai sedetik setelah Athrun tahu siapa peneleponnya, pria itu sudah menutupnya. Yang, tentu saja, membuat Cagalli tertarik. Ya, sudah jadi rahasia umum bahwa hubungan anak-ayah dalam keluarga Zala sedang kacau. Dan sekarang Cagalli dibuat percaya bahwa itu bukan hanya sekedar gosip. Athrun berjalan kembali ke meja makan dengan mata tertutup dan tangan terkepal. Dia berusaha menahan letupan emosi, nampaknya. Jika saja Cagalli tidak ada di sini, pasti dia sudah mengamuk.

Baru kali ini nampaknya sunyi berhasil membuat salah satu di antara mereka tidak nyaman. Cagalli masih diam menatap Athrun yang mengunyah makanannya dengan tidak berselera.

"Kenapa kau tutup?" Cagalli memberanikan diri untuk bertanya. "Ayahmu pasti..."

"Aku tidak mau membicarakannya" Athrun berhenti makan, mata dinginnya menatap Cagalli. Membuat gadis itu terkejut. Sebab baru kali ini, dan semoga hanya sekali ini saja, Cagalli ditatap begitu dingin oleh Athrun.

"Aku kira kau bisa memahami sedikit perasaanku, Cagalli." bisik Athrun.

"Maaf..." Cagalli bingung kenapa dia harus meminta maaf. Tapi dia merasa bahwa dia harus melakukannya.

Tidak ada suara, tidak ada gerakan. Seolah waktu berhenti berputar. Namun itu hanya imajinasi saja. Athrun menunduk ke samping, sementara Cagalli melihat tembok dari balik pundak Athrun.

"Paling tidak," suara serak Cagalli terdengar. "kau memiliki kenangan mengenai ibumu..."

Athrun menaikkan sebelah alisnya, kemudian menatap Cagalli bingung.

"Kau lupa? Kedua orang tua kandungku meninggal ketika aku masih bayi, dan aku dibesarkan seorang diri oleh ayahku. Yah, tidak seorang diri juga sih, tapi intinya ayahku tidak menikah." Cagalli menghembuskan nafas, berusaha mengurangi sesak dalam dadanya. "Kau, jauh lebih beruntung daripada aku, Athrun. Dan seharusnya kau mensyukuri itu." kepalanya tertunduk setelah selesai bicara. Tidak berani menatap Athrun.

Athrun tersenyum. Lucu, pikirnya. Dulu, dia sering iri melihat keluarga Cagalli dan Kira yang selalu ramai. Tetapi ternyata, orang itu malah iri dengannya. Ia menggelengkan kepala. "Manusia, dia tidak bisa puas dengan apa yang dia miliki, huh?"

"Eh?" Cagalli mengangkat kepalanya.

"Tidak, bukan apa-apa." Athrun tersenyum. Dan kembali makan. "Ayo habiskan sarapanmu. Setelah ini kita akan pergi."

"Hah, pergi ke mana?" Cagalli bingung.

"Membeli pakaian, tentu saja. Kau tidak mungkin pulang ke rumah hanya mengenakan kemeja kedodoran dan celana kelonggaran kan?" Athrun tersenyum geli.

Wajah Cagalli memerah. "Te, tentu saja, bodoh!"

.

.

.

.

.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Cagalli risih.

Athrun tidak menjawab, dan terus mengamati Cagalli. Sebab saat ini gadis itu sedang memakai kaos yang memang sengaja Athrun beli untuknya dulu. Tadinya Athrun ingin memberikannya sebagai hadiah kado ulang tahun, tetapi dia mengurungkan niatnya. Kaos berwarna putih dengan lambang negara Orb di belakangnya itu membungkus tubuh Cagalli dengan sempurna, berhasil menonjolkan lekuk tubuh Cagalli yang selama ini selalu ia sangkal. Sementara celananya, Cagalli sudah berganti ke celana panjang warna hitam punya Athrun dulu waktu masih kelas 3 SMP. Dalam hati Athrun bersyukur karena tidak jadi memberikan kaos itu dulu, dan tidak membuang pakaian lamanya.

"Ayo jalan." kata Athrun pelan.

"Tunggu!" Cagalli menarik ujung kemeja biru langit yang dipakai oleh Athrun. "Apa kau lupa? Aku tidak punya uang sekarang."

"Kau bisa menggantinya besok-besok," Athrun tersenyum tulus.

"Terima kasih..." Cagalli tidak berani menatap mata Athrun sekarang.

Athrun membuka pintu, dan pada saat yang bersamaan, Meer keluar. Wajahnya sumringah. Bermaksud ingin menyapa Athrun, Meer membuka mulutnya, tetapi dengan cepat mulutnya terkatup rapat ketika melihat sosok berambut pirang juga keluar dari unit apartemen Athrun.

"Dan jangan lupa, aku berarti butuh tas berpergian juga." kata sosok berambut pirang itu. Yang dikenali Meer sebagai Cagalli Yula Athha.

"Kalau begitu kita pergi ke Mall Orb saja, di sana ada toko tas yang murah."

"Oh aku tahu, yang baru buka itu? Lacus pernah mengajak Kira ke sana, dan katanya tas-tas di sana bagus dan lumayan kuat." Cagalli mengucapkan semua itu sambil menunggu Athrun mengunci pintu.

Setelah pintu terkunci, keduanya melenggang pergi tanpa melirik ke arah Meer. Mungkin mereka tidak menyadari kehadiran gadis berambut merah muda itu di dekat mereka.

Kalap, Meer langsung masuk ke unitnya lagi. Dia bangun kesiangan hari ini, sehingga tidak punya waktu untuk melihat kegiatan Athrun di pagi hari karena dia sendiri sibuk bersiap-siap untuk pergi. Dengan perasaan bercampur aduk dia memutar ulang remakan dari unit apartemen Athrun, yang sayangnya hanya menjangkau ruang tamu saja, dapur dan ruang makan masuk ke dalam blindspot si kamera. Gadis itu membuka matanya lebar-lebar, tidak ada orang yang masuk setelah Athrun pulang. Tetapi kamera sempat rusak dari jam sepuluh malam hingga enam pagi. Meer kesal setengah mati ketika menyadari ada sekitar delapan jam, Athrun bebas dari pengawasannya. Dan dalam waktu delapan jam, apa pun bisa dilakukan. Hanya Haumea, Athrun dan Cagalli yang tahu apa yang terjadi dalam kurun waktu tersebut.

Jam setengah sembilan pagi, Athrun baru turun dari lantai dua. Aneh, biasanya dia memulai rutinitas pagi dari jam enam. Apa yang terjadi?

"Cagalli, kau mau sarapan apa?" Athrun berteriak dari dapur.

Eh, apa? Cagalli? Sarapan? Jantung Meer semakin tidak karuan. Perutnya tiba-tiba melilit.

"Terserah kau saja." Cagalli turun dari lantai dua, mengenakan kemeja putih Athrun yang kebesaran untuknya, dan celana pendek Athrun. "Hei, kau punya jus jeruk?" Yang terdengar hanya suara Cagalli, sosoknya sudah menghilang karena sudut kamera yang tidak memungkinkan untuk merekam semua ruangan.

Jantung Meer seolah berhenti berdetak saat melihat sosok Cagalli turun.

"Ap, apa ini...? Kenapa, kenapa ada Cagalli di dalam unit apartemenmu,Athrun-kun? Dan," Meer menatap horor, jijik, iri, kesal, dengki, dan seluruh emosi negatif nampaknya terpatri di wajah Meer sekarang. "dia mengenakan kemejamu? Bahkan kalian sarapan bersama! Jangan katakan..."

Sedetik kemudian, layar laptop Meer menghitam. Tanda bahwa kamera mengalami kerusakan, tetapi satu jam kemudian sudah benar lagi. Dan itu adalah saat Athrun dan Cagalli hendak keluar dari unit apartemen Athrun.

Tanpa disadari, Meer menangis. Dan dia juga ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Jam makan siang sudah lewat ketika Cagalli dan Athrun duduk di sebuah restoran, dengan lima tas plastik belanjaan, dan satu tas perjalanan. Cagalli membeli celana, kaos dan pakaian dalam untuk keperluan tiga hari, sebab menurutnya, itu adalah jangka waktu yang telah ia rancang dalam cerita bohongnya demi menjelaskan alasan kenapa dia tidak nampak seharian kemarin. Beberapa orang menatap mereka dengan tatapan heran sekaligus geli. Maksudnya, siapa sih yang packing pakaian untuk pergi di restoran? Tapi mereka berdua tidak ambil pusing dengan tatapan itu.

"Tapi itu artinya kau akan berbohong kepada mereka." Sergah Athrun.

"Aku rasa, ini kebohongan yang baik. Dan jauh lebih mudah dibandingkan menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang tejadi kepadaku. Kau yang melihatnya secara langsung saja tidak percaya, bagaimana mereka yang tidak."

Athrun menelan ludah. "Baiklah. Kau ingin bilang pergi ke mana? Dan kenapa..."

"Aku," Cagalli terdiam. "akan mengatakan bahwa aku tadinya berniat pergi ke PLANT. Tapi, di tengah perjalanan, aku menjadi ragu, dan pulang..."

"Kenapa ragu?"

"Entah, aku merasa, seperti mengkhianati ayahku sendiri, jika pergi ke sana..." Cagalli menghindari tatapan Athrun.

Untunglah pesanan mereka sudah tiba, sehingga Cagalli bisa menghindari topik pembicaraan yang satu ini. Sunyi berhasil menemukan mereka, dan ia menari-nari di antara Cagalli dan Athrun yang sibuk makan.

"Oh ya, ini," Cagalli mendorong satu kantong plastik. "ini pakaian yang aku pinjam darimu. Terima kasih."

"Untukmu saja. Tadinya, aku memang berniat untuk memberikan kaos itu kepadamu." kata Athrun dengan wajah memerah.

"Justru karena itu..."

"Huh?"

"Hanya kau orang yang mengerti kondisiku, jadi kau harus menyediakan pakaian yang bisa aku pakai jika sesuatu terjadi kepadaku. Bu, bukannya aku berharap bahwa aku akan terus berubah-ubah macam itu, tapi, aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa berubah jadi kucing dan kembali menjadi manusia. Jadi..." kalimat itu terucap tanpa ada kontak mata.

Athrun tersenyum, mengangguk paham. "Baiklah, akan aku jaga pakaian ini."

"Jangan terlalu berlebihan." gumam Cagalli kesal.

"Aku akan mengantarmu sampai ke stasiun."

"Kalau begitu, cepat kau habiskan makananmu."

.

.

.

.

.

Pria berambut biru tua itu tidak bisa berhenti tersenyum, pikirannya masih betah berlama-lama dalam kejadian yang baru saja ia alami tiga jam yang lalu.

"Kalau ada apa-apa, hubungi aku." kata Athrun yang berdiri di hadapan Cagalli.

"Kalau aku menjadi kucing, bagaimana caranya menghubungimu?" Cagalli bertanya dengan ketus.

"Kau tahu di mana rumahku, dan bagaimana cara ke sini." Athrun tersenyum ketika sebuah kalimat melintas dibenaknya, dia tidak bisa untuk tidak mengatakannya. "Rumahku, sudah menjadi rumahmu juga, Cagalli."

Reaksi yang diberikan sesuai dengan harapan Athrun. Wajah gadis itu memerah, dan dia menjadi gugup.

"Bawel," hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Cagalli. Tapi Athrun tidak mempermasalahkannya.

Kereta yang akan ditumpangi Cagalli sudah masuk ke stasiun. Athrun melepaskan kepergian Cagalli dengan senyum hangatnya.

Setelah mengantar Cagalli, Athrun tidak langsung pulang. Dia duduk di stasiun sambil mengenang apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Cagalli dalam kurun waktu kurang dari 24 jam ini. Tidak masuk akal, tapi itu terjadi. Nyata, senyata degup jantung Athrun yang lepas kendali ketika melihat sosok Cagalli di tempat tidurnya, senyata tatapan malu-malu Cagalli yang menatapnya. Athrun sangat berterima kasih kepada Haumea, karena telah memberikan hadiah terbaik dari segala hadiah yang telah diberikan oleh Haumea sebelumnya. Dia bisa melihat sosok lain Cagalli. Sosok malu-malu Cagalli, emosi Cagalli, segala sesuatu yang mungkin, tidak pernah diperlihatkan Cagalli kepada orang lain. Dan Athrun sudah melihatnya.

Kunci unit apartemennya ia putar menggunakan jari telunjuknya, dia berjalan sambil bersenandung, yang tentunya hal ini menarik perhatian petugas keamanan apartemen ini. Pria itu menduga bahwa Athrun sedang jatuh cinta, dan meski si tertuduh mengelak, faktor usia dan pengalaman tidak bisa ditipu.

"Halo, Athrun-Kun."

Athrun berhenti memutar kunci dan mencari sumber suara, yang ternyata adalah tetangganya, Meer. "Halo, Meer. Apa kau mau pergi?"

Yang ditanya mengangguk. "Ya."

"Ah, hati-hati di jalan yah."

"Tadi pagi aku lihat Cagalli keluar dari tempatmu." Meer berkata tanpa basa-basi lagi.

Otak Athrun yang tadinya berfungsi dengan sangat baik tiba-tiba menjadi rusak karena ucapan Meer. Apakah dia benar-benar melihat Cagalli keluar dari unit apartemennya tadi pagi? Sebanyak apa yang diketahui oleh Meer? Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Berarti ini waktunya untuk memulai sebuah sandiwara.

"Ah, itu. Kemarin Cagalli menghubungiku. Dia, sedang ada masalah." jawab Athrun asal. Ya, sebetulnya tidak asal juga sih. Dia ingat tadi si petugas keamanan juga sempat bertanya mengenai wanita berambut pirang yang turun bersama dengan dirinya. Dan dia menjawab hal yang sama. Reaksi yang diberikan oleh si petugas keamanan tentu saja menggoda Athrun, dan mengingatkan Athrun kalau mereka masih di bawah umur (peringatan ini benar-benar membuat jantung Athrun meloncati satu detak). Lalu reaksi macam apa yang akan diberikan oleh Meer?

Meer terkejut, dia menutup mulut menggunakan kedua tangannya. "Oh, aku tidak tahu kalau hubungan kalian sedekat itu..."

"Eh, ah, ya, tidak sedekat itu juga." Athrun jadi salah tingkah. "Dia sedang dalam perjalanan menuju PLANT, dan entah kenapa, tidak jadi. Dia memintaku untuk menjemputnya di stasiun kereta pusat."

Jarak antara Orb dengan PLANT lumayan jauh. Jika ditempuh menggunakan kereta api, butuh waktu sekitar delapan jam, sedangkan jika naik pesawat butuh waktu sekitar satu jam. Sementara jika naik mobil atau bus, butuh waktu sekitar empat belas jam lebih. Tergantung macet atau tidak jalanannya. Dan harga tiket pesawat ke PLANT sangat mahal. Athrun menduga bahwa tipe seperti Cagalli lebih memilih untuk naik kereta daripada naik pesawat. Semoga dugaannya benar.

"Jam berapa kau pergi?" Meer bertanya penasaran. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan Athrun ketika kamera yang ia sembunyikan rusak.

"Ah, sekitar jam sebelas, mungkin? Aku lupa waktu pastinya, sebab aku panik." Athrun mengerutkan keningnya. "Kalau tidak salah tadi malam ada banyak wartawan di bawah, jadi agak sulit untuk keluar." Athrun sempat mencuri dengar dari petugas keamanan bahwa tadi malam polisi menggerebek salah satu penghuni apartemen ini karena dia adalah bandar narkoba.

Meer ber'oh' ria. "Kenapa Cagalli tidak menelepon ke rumahnya?"

Athrun tersenyum, atau lebih tepatnya berusaha untuk tersenyum. Pertanyaan Meer sudah menyentuh bagian privasinya, dan dia tidak suka itu. "Jika aku mempertanyakan kepercayaan yang telah diberikan oleh seorang wanita yang meneleponku malam-malam untuk menjemputnya, pria macam apa aku ini? Aku tidak akan mempermasalahkan apa alasannya. Jika dia sendiri yang sudah siap untuk berbicara, aku akan mendengarkannya."

'Kliiik' Akhirnya pintu apartemen Athrun terbuka.

"Selama sore, Meer." Athrun memberi senyuman kepada tetangganya sebelum dia masuk ke dalam.

Meninggalkan Meer yang berdiri dalam balutan perasaan kesal dan frustasi.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Cagalli menghembuskan nafas dalam-dalam. Apakah keputusannya tepat? Well, ini juga bukan keinginannya untuk berbohong kepada keluarganya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi. Kondisi memaksa Cagalli untuk berbohong. Sebab dia merasa kebohongannya lebih masuk akal daripada kenyataan yang dia alami. Dengan gerakan pelan, dia mengetuk pintu rumahnya.

Wajah yang muncul adalah wajah cemas dan pucat milik Caridad. Matanya yang sembam dan merah mendadak berubah menjadi bahagia begitu melihat sosok Cagalli. "CAGALLI!" seru wanita itu sambil memeluk Cagalli.

Saat itu, Cagalli bisa melihat dua anggota keluarganya yang lain dari balik pundak Caridad. Ayahnya yang cemas, dan Kira yang lega.

Uzumi melangkah mendekati Cagalli. Caridad melepaskan pelukannya dan memberi jalan bagi Uzumi. Ia pergi ke belakang untuk menutup pintu, dan menyuruh Cagalli untuk masuk ke ruang tamu. Ayah dan anak berdiri hadap-hadapan sekarang.

'PLAK!'

Satu tamparan mendarat di pipi Cagalli. Senyum bahagia Caridad seketika itu menghilang. Kira berdiri dan mendorong kursi ke belakang dengan kasar.

"U, Uzumi..."

"Aku tidak ingat pernah mendidikmu untuk kabur seperti ini, Cagalli." kata Uzumi dingin. Cagalli tahu ayahnya sedang berusaha mengendalikan emosi.

"Mungkin, itu karena kau tidak pernah mendidikku," Cagalli bergumam lirih. Dia berlalu sambil menabrak pundak ayahnya.

"Apa katamu tadi?!" bentak Uzumi. "Cagalli Yula Athha, kita belum selesai bicara!"

Yang dipanggil tidak menggubris, dia langsung naik ke lantai dua. Kira yang bingung akhirnya memutuskan untuk menyusul Cagalli ke atas.

"Uzumi, hentikan!" Caridad menyela.

"Hentikan?! Caridad, bukan begini caraku mendidik anakku! Jika dia berbuat salah, dia harus bertanggung jawab!"

"Tapi kau tidak perlu menamparnya segala!" Caridad membalas dengan suara sedikit ditinggikan.

"Dia anakku, dia tanggung jawabku!"

"Apa kau lupa, dia juga anakku! " Baru kali ini, Caridad berteriak dengan lantang.

Uzumi menggeram marah, tangannya terkepal di samping. Nafasnya naik turun tidak karuan. Dia melihatnya, Caridad menangis. Hatinya seperti tertusuk sebilah pisau ketika sadar bahwa dia sudah membuat Caridad menangis. Dengan perasaan bersalah, Uzumi menghapus genangan air mata dari pelupuk mata Caridad. "Maafkan aku."

Hanya ada suara isak tangis Caridad.

.

.

.

.

.

Cagalli menghempaskan tubuhnya ke kasur, matanya panas, pipinya sakit, hatinya remuk. Ini bukan keinginannya sendiri. Dia tidak pernah mau terbangun menjadi kucing, dan besoknya sudah kembali menjadi manusia. Dia tidak tahu apa yang terjadi.

"Apa? Apa kau akan memarahiku juga?" tanya Cagalli ketika melihat sosok Kira dari ekor matanya.

Kira mengambil posisi di sebelah Cagalli. "Tidak perlu. Aku rasa tamparan dari Paman Uzumi sudah cukup."

"Aku..." Cagalli menutupi matanya dengan tangan kanannya. Semenit kemudian, terdengar isak tangis Cagalli.

Kira menghembuskan nafas. Dia tidak mengerti alasan Cagalli pergi dari rumah kemarin, dan dia tidak bisa memaksa Cagalli untuk bercerita. Paling tidak, bukan saat ini. Ia mengelus-elus rambut adiknya, dan membiarkan tangis Cagalli meledak. Lembayung senja terlukis di langit sore, membuat suasana tambah pedih.


Saia sengaja bikin Cagalli balik ke wujud manusiany setelah Athrun bangun, biar gak klise. Si tokoh utama pria ngeliat tokoh utama wanita yang seharusny tidak ada di sampingny ketika bangun pagi :p

Dan eeee, nampakny mood menulis saia lagi terjun bebas tanpa parasut ini #pokerface, jadi maaf, kayakny saia bakalan lama update fic-fic lainny *kaya situ pernah cepat aja nge-update fic :v*

Anyway, terima kasih sudah mau membaca fic ini :). Kritik dan saran amat saia harapkan :)