Saia berhasil mengupdate fic ini. Cihuuuuuuy, I'm so proud of myself *do a victory dance*! Saia belum tau mau dibikin berapa chap fic ini, tapi bisa saia pastikan gak akan lebih dari 10 chap, target sih 7 chap.

Saia ingin berterima kasih kepada mereka yang telah ikut challenge Affair Week yang saia bikin dan untuk kawan-kawan yangtelah mau meluangkan waktuny untuk membaca dan memberi semangat untuk mereka yang menulis. Terima kasih banyak guys! Meski saia awalny sedikit ragu dengan challenge ini. Semoga challenge ini bisa rutin dilakukan! Hidup fandom Gudam Seed Indonesia!

So without further delay, the fourth wish

Gundam Seed/Destiny sepenuhny milik Sunrise, Bandai, dan kawan-kawan


She is My Cat

Gundam Seed/Destiny (c) Sunrise

Fourth Wish : I Just Want You to Be Happy

Terkadang kita melakukan sesuatu dengan tujuan untuk membuat orang lain bahagia.

Sayangnya, kita tidak tahu apakah kita memang membuat orang tersebut bahagia atau malah sebaliknya.


Seminggu setelah Cagalli berubah menjadi kucing, situasi sudah mulai membaik. Ya, Uzumi memang belum memaafkan Cagalli sepenuhnya atas menghilangnya dia selama seharian penuh. Pfff, ya, Cagalli tidak berencana untuk bolos sekolah dalam wujud kucing, terima kasih. Selama seminggu ini dia selalu merasa was-was, takut jika saat dia membuka mata setelah tertidur, dia akan berubah menjadi kucing lagi. Dia mulai risih melihat kucing liar, takut jika mereka akan mengejarnya lagi seperti waktu itu. Bulu kuduk Cagalli merinding, belum pernah dia merasa setakut ini hanya karena ide dikejar-kejar kucing. Dan belakangan dia semakin sensitif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kucing.

"Cagalli, kau tidak apa-apa?" Rey menegur Cagalli setelah semua orang keluar dari ruang OSIS.

Yang ditanya hanya tersenyum dan mengangguk.

"Gosip yang menyebalkan, huh?"

Cagalli melirik ke arah Rey dengan bingung, baru setelah melihat senyum menggoda Rey,dia mengerti apa maksudnya. "Ah, um, itu... Ya, menyebalkan." Cagalli menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Seminggu belakangan ini Athrun selalu dekat dengannya, katanya agar dia segera bisa menolong Cagalli jika dia tiba-tiba berubah menjadi kucing. Ugh, yang benar saja! Tidak cukupkah urusannya dengan kejadian aneh yang membuatnya berubah menjadi kucing? Sekarang dia harus menangani gosip tentang dirinya dan Athrun sudah berpacaran.

"Kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan Luna?"

Rey hanya tersenyum penuh arti. Semenjak festival musim panas tahun lalu keduanya sudah berpacaran. Ya, siapa yang bisa menolak pria pirang misterius yang seksi dan jago bermain piano? Mungkin Rey dikenal sebagai pria dingin yang tidak romantis, tetapi ternyata seorang Lunamaria Hawke berhasil menghidupkan sisi romantis dalam diri Rey. Pasangan yang beruntung, gumam Cagalli dalam hati.

"Kalian berdua sangat cocok, kau tahu itu. Dia seperti kstaria pribadimu atau sejenisnya."

Cagalli tertawa. "Aku tidak tahu kalau aku memiliki ksatria pribadi."

"Kau seharusnya melihat bagaimana tatapan Athrun setiap kali ada yang mendekatimu." Rey tertawa. Dia ingat beberapa adik kelas sempat ciut saat melihat tatapan membunuh Athrun jika mereka mendekati Cagalli, bahkan kakak kelas tidak luput dari tatapan membunuh Athrun. Syukurlah hingga saat ini tidak ada yang menghajar Athrun karena menghalangi niat para pria jomblo untuk mendapatkan hati Cagalli.

"Hei Rey, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"

Rey mengangguk. "Apakah keinginanmu yang teraneh pernah terwujud?"

Rey menaikkan sebelah alisnya. "Sayangnya aku tidak tahu karena aku tidak pernah membuat keinginan aneh. Tapi kau tahu, terkadang permintaan kita terkabul begitu saja. Anggaplah Haumea sedang berbaik hati kepada kita."

Cagalli mendengus. Ya, Haumea sangat baik hati kepadaku karena dia mengabulkan permintaanku untuk menjadi kucing. Atau mungkin ini pertanda dari Haumea agar aku lebih rajin lagi ke kuil? Oh ya, dia tiba-tiba teringat dengan SMS dari Miriallia, sehari setelah dia kembali ke wujud manusianya. Sahabatnya itu meminta penjelasan tentang menghilangnya Cagalli, tentu saja Cagalli tidak mengatakan bahwa dia berubah jadi kucing. Dia mengatakan apa yang sering dia katakan, dia ingin pergi ke makam orang tua kandungnya,tetapi tidak jadi karena berbagai alasan. Miriallia mengundangnya ke sebuah festival atau pameran kucing. Sahabatnya yang satu itu memang maniak kucing. Mungkin Cagalli harus datang ke sana, siapa tahu di sana dia akan mendapatkan penjelasan mengenai perubahan seharinya menjadi kucing.

"Dan pangeran berkuda putihmu hadir," suara bass Rey mengejutkan Cagalli. Matanya langsung tertuju ke pintu, dia melihat sosok Athrun berdiri di sana. Tersenyum.

"Hai, Rey."

Rey mengangguk. "Kau harus berhati-hati, sang Tuan Putri sedang bad mood."

"REEEY!"

Yang namanya dipanggil tertawa. "Ups, ternyata dia hanya bad mood kepadaku saja." Dia melambaikan tangan dan meninggalkan Cagalli berdua dengan Athrun.

"Jadi..." Athrun memasukkan tangannya ke kantong celana. "Satu minggu tanpa ada kejadian yang aneh?"

"Apa kau berharap sebaliknya, Athrun Zala?" Cagalli menaikkan sebelah alisnya.

"Aku akan menolongmu, aku akan selalu ada untukmu."

Cagalli mendengus. "Terima kasih, tapi aku rasa aku sudah tidak apa-apa sekarang."

"Oh, Kira mengajakku pergi untuk melihat sebuah festival kucing. Katanya temannya yang bernama Miriallia mengundangnya."

Cagalli mengembuskan napas. "Ya. Apa kau mau ikut?"

"Ya," Athrun mengangguk. "jika kau tidak apa-apa dengan itu."

Cagalli merapikan barang-barangnya. "Hari sabtu, kita bertemu di stasiun. Aku yang akan mengurus tiketnya. Kita pulang minggu sore dari sana."

Belum sempat Athrun bicara, Cagalli sudah keluar dari ruang OSIS. "Terima kasih juga, Cagalli..." Athrun menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Ini ide buruk, kenapa dia setuju dengan Kira dan memperbolehkan Athrun untuk ikut bersama mereka? Dia tidak peduli jika Kira sibuk dengan Lacus, toh dia ada Miriallia, dan jika sahabatnya itu juga sibuk dia bisa berkenalan dengan beberapa tetangga Miriallia, atau bahkan belajar berkuda. Sebetulnya dari saat Cagalli setuju untuk pergi ke acara ini merupakan awal dari ide buruk. Tetapi sesuatu mengatakan bahwa dia akan menemukan jawaban atas kejadian aneh yang menimpanya waktu itu.

Saat dia membuka pintu, kesunyian menyapanya. Cagalli sudah terbiasa dengan suasa sepi, jauh sebelum Kira dan Caridad masuk ke dalam rumah dan kehidupannya. Tetapi sekarang, saat menemukan rumahnya kosong, hati Cagalli terasa sakit. Dia sudah terbiasa pulang disambut oleh senyum hangat Caridad dan aroma makan malam, Kira yang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Dan terkadang, ayahnya juga akan menonton bersama Kira atau dia membantu Caridad di dapur. Mungki tidak ada yang menduga, seorang Uzumi Nara Athha ternyata bisa memasak, dan cukup handal. Yah, jika mengingat selama dua belas tahun Uzumi selalu memasak sendiri makanannya. Walau dia bisa membeli makanan di luar, tetapi jarang dilakukan. Dan kalau boleh jujur, Cagalli lebih suka masakan ayahnya (dan sekarang masakan Caridad juga) dibandingkan masakan luar. Tapi yah, bukan berarti Cagalli menolak jika diajak makan di luar. Cagalli mengembuskan napas dan mengunci pintu, melepaskan sepatunya dan merapikannya agar dia terlepas dari omelan Caridad jika dia tidak merapikan sepatunya. Kira sedang kencan dengan Lacus, itu sebabnya kakak kembarnya (ya, Cagalli sebetulnya sudah mengakui Kira sebagai kakaknya. Hanya saja tidak di depan umum) tidak terlihat di dalam rumah. Sementara ayahnya, mungkin sibuk dengan pekerjaannya. Bukan hal baru. Walau biasanya Uzumi selalu mengusahakan agar bisa makan malam dengan Cagalli saat dia masih kecil dulu. Semua berubah seiring dengan waktu, entah apakah itu baik atau buruk.

Dengan lesu dia berjalan menuju kamarnya yang gelap, hanya cahaya dari lampu jalan dari luar yang sedikit berbaik hati untuk menyinari kamar Cagalli, melempar tas ke atas meja sambil menutup pintu dengan kakinya. Ketika tubuhnya jatuh ke atas kasur empuknya, dia merasakan telepon genggamnnya bergetar. SMS dari ayahnya dan Caridad. Dia membaca SMS dari Caridad terlebih dulu, karena tidak biasa Caridad tidak ada di rumah untuk mempersiapkan makan malam. Cagalli ingin tahu alasannya.

Cagalli, maaf, aku diajak Ezalia untuk pergi makan malam. Dia menagih janjiku sebulan silam untuk pergi makan malam bersamanya. Aku tidak sempat menyiapkan makanan, karena aku pikir aku akan kembali saat makan malam. Kau tidak apa-apa kan makan di luar? Kira bilang dia makan dengan Lacus, ayahmu belum menjawab SMSku.

Ezalia Joule, ibu dari Yzak Joule dan rekan bisnis Patrick Zala. Terkadang Cagalli bingung bagaimana ceritanya seorang Caridad Yamato yang sangat sederhana bisa bersahabat dengan Ezalia yang super sibuk? Nampaknya tidak semua hal bisa dijelaskan, salah satunya adalah persahabatan. Mereka hanya, terjadi begitu saja. Persahabatan tidak bisa dijelaskan menggunakan logika, sama seperti cinta. Ketika kau menemukan seseorang yang bisa membuatmu nyaman, semua terasa benar.

Kedekatan mereka berdua tentu saja pernah menarik perhatian publik, bagaimana pun juga keluarga Athha dan Zala adalah pemilik perusahaan dengan pemasukan terbesar di dunia, memiliki ratusan cabang tersebar di mana-mana. Bukan rahasia lagi jika ada hubungan pribadi antara Ezalia dengan Patrick. Tapi semua itu hanya gosip, tentu saja. Patrick masih setia dengan mendiang istrinya, Lenore Zala. Ezalia, Patrick, Siegel dan Lenore adalah sahabat dari masa sekolah. Jika Ezalia mendekati Patrick, itu seperti mengkhianati sahabatnya sendiri.

Dan kenapa kedekatan Caridad dengan Ezalia menarik perhatian publik? Athha dan Zala adalah dua perusahaan yang selalu bersaing satu sama lain, walau untungnya hingga sekarang persaingan mereka masih dalam tahap wajar dan belum melewati garis. Para wartawan gosip–Cagalli bingung sejak kapan wartawan gosip peduli dengan persaingan dua perusahaan?–membuat-buat cerita yang mengatakan bahwa kedua wanita saling bertukar informasi mengenai kondisi perusahaan, atau yang terparah, mereka memiliki hubungan khusus. Hubungan yang lebih dari sahabat.

Kenapa ada orang yang mempersulit sebuah kenyataan sederhana : bahwa Caridad dan Ezalia hanya dua wanita yang bersahabat dan senang pergi berburu barang diskon dan bercakap-cakap tentang anak mereka sambil minum teh?

Tidak apa-apa, Bibi. Salam untuk Bibi Ezalia. Have fun :)

Dering tanda ada SMS masuk mengisi kamarnya yang sepi saat Cagalli tengah menyalakan lampu kamarnya, matanya berkedip untuk menyesuaikan perubahan cahaya yang cukup drastis. Dia kembali membaca SMS dari Caridad yang mengucapkan maaf dan terima kasih. Cagalli membuka SMS dari ayahnya yang dikirim dua jam sebelum SMS Caridad, berarti SMS ini masuk saat Cagalli sedang memimpin rapat OSIS.

Ayah harus pergi ke PLANT untuk menghadiri pembukaan cabang baru di sana. Pulang naik pesawat terakhir, kalian tidak perlu menunggu ayah pulang.

Pantas saja ayahnya tidak membalas SMS Caridad. Cagalli mengabarkan hal terebut kepada Caridad dan pergi untuk mandi tanpa menunggu balasan.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Mata hazel Cagalli menatap t-shirt dan celana panjang yang tergantung di belakang pintunya setelah dia selesai mandi. Sudah seminggu semenjak dia memakai kaos tersebut, sudah waktunya dia kembali ke pemiliknya. Cagalli melihat jam di dinding kamarnya, baru jam setengah tujuh, masih ada kereta ke pusat kota Orb. Setelah dia mengirim pesan ke Caridad dan Kira, dia memasukkan t-shirt dan celana panjang tersebut ke dalam tasnya. Dia mendengar dering telepon dari luar kamarnya, sedetik kemudian pintunya terbuka dan sosok Kira berdiri sambil memegang telepon selulernya di tangan kiri sementara tangan kanannya memegang kenop pintu kamar Cagalli.

"Kau mau pergi ke mana?" tanya Kira setelah memasukkan telepon selulernya ke saku celana.

"Tempat Athrun, aku mau mengembalikan sesuatu kepadanya."

Satu alis Kira naik. "Tidak bisa menunggu sampai besok?"

"Tidak." Cagalli menjawab, dia bersyukur karena pakaian Athrun sudah masuk ke dalam tas, atau dia harus menjelaskan kepada Kira untuk apa dia membawa pakaian?

"Ah, kencan dengan Athrun huh?" Suara Kira menggoda. Dan dia mendapatkan satu pukulan di rusuknya, cukup kencang sampai-sampai dia terbatuk-batuk. "Cagalli, kau kejam! Kau ingin membunuh kakakmu?!"

"Jika kau tidak berhenti meledekku dengan Athrun, ya!" Cagalli mendorong Kira keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. "Dan kau bukan kakakku, aku yang lahir duluan!"

Kira hanya tertawa sambil mengacak-acak rambut Cagalli. "Jangan pulang terlalu malam," kata Kira dari balik pundaknya.

"Iya, kakak." Cagalli bisa mendengar suara tawa Kira saat dia turun.

Sementara itu di tempat yang akan dituju Cagalli, Athrun sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Selepas latihan sepak bola dia langsung pergi belanja. Sialnya dia lupa kalau hari ini sedang diadakan diskon besar-besaran, dan Athrun mengalami dilema. Dia senang karena bisa belanja dengan setengah harga, tetapi dia harus berdesak-desakan dengan para konsumen lainnya di supermarket.

Dia baru saja hendak memasak saat mendengar suara ketukan di pintu, diliriknya jam digital yang tertempel di dinding. Jam tujuh kurang lima belas menit, siapa yang bertamu jam segini? Seingat Athrun dia tidak punya janji dengan siapa-siapa. Apa itu Meer? Tapi untuk apa dia datang ke tempat Athrun malam-malam begini? Dia bukan orang bodoh, dia tahu Meer menyukainya, tapi dia ragu jika gadis itu cukup berani untuk bertamu ke tempatnya jam segini. Ayahnya? Tidak, Patrick pasti akan memberi kabar jika ingin bertamu ke tempat anak semata wayangnya ini. Dengan penasaran dia membuka pintu. Athrun tidak siap ketika melihat siapa yang berdiri di balik pintu.

"Cagalli?" Nama Cagalli disebut dengan intonasi bertanya dibandingkan intonasi menyapa.

"Hai," Cagalli tersenyum kikuk. Dia tidak terbiasa melihat Athrun menggunakan apron. "Maaf aku seharusnya mengabarkan kepadamu dulu."

"Ah, um, tidak apa-apa," dia berdiri ke samping sebagai tanda agar Cagalli masuk. "ada apa?"

"Aku ingin mengembalikan pakaianmu yang waktu itu aku pinjam," dia mengeluarkannya dari dalam tas. "tenang sudah aku cuci."

"Terima kasih, kau tidak perlu mengembalikannya. Kau tahu itu." Athrun menerima pakaiannya, belum sempat dia bicara suara perut Cagalli membuat keduanya terdiam. Athrun yang pertama kali bereaksi, dan reaksinya adalah tertawa. Meski Cagalli melemparkan tatapan yang bisa membunuhnya, jika memang orang bisa mati hanya karena tatapan. "Aku sedang mempersiapkan makan malam. Kau mau makan?"

Dengan wajah memerah Cagalli menganggukan kepala, sementara Athrun berusaha sekuat tenaga untuk tidak tersenyum. Kapan lagi kau bisa melihat wajah seorang Cagalli Yula Athha memerah karena malu setelah perutnya bunyi? Athrun mempersilahkan Cagalli untuk ke ruang makan sementara dia menaruh pakaiannya ke atas.

Sambil menundukkan wajah, dia berjalan ke arah dapur dan mengambil minuman dari dalam kulkas. Dia melihat bahan-bahan masih belum diolah, dia duduk di atas lemari pembatas antara ruang makan dengan dapur. Dia membuka kaleng soda yang baru dia ambil dari kulkas. Matanya melihat ke seluruh sudut tempat Athrun, dan dia terkejut saat melihatnya sangat rapi dan bersih. Ya, siapa bilang remaja laki-laki tidak bisa menjaga kebersihan tempat tinggalnya? Fokus mata Cagalli tertuju ke sebuah sudut di langit-langit, dia tahu itu kamera CCTV, hanya saja dia tidak habis pikir untuk apa Athrun memasangnya? Setahunya apartemen Athrun tinggal cukup aman, memang lebih baik bersiap-siap daripada menyesal belakangan, tapi tetap saja.

Meer menggigit kuku ibu jarinya saat melihat Cagalli tidak melepaskan pandangannya dari kamera yang dia pasang. Apa Cagalli tahu? Apa Athrun tahu? Keringat dingin membasahi tubuh Meer padahal AC di kamarnya menyala.

"Melihat sesuatu yang menarik?" tanya Athrun.

"Ya, aku baru tahu kalau kau sangat perhatian dengan keamanan. Sampai-sampai kau memasang kamera CCTV segala."

"Huh?"

Cagalli menujuk ke arah kamera yang terpasang di sudut ruang tamu.

Meer langsung menutup laptopnya, wajahnya pucat pasi. Dia belum pernah sepanik ini.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Malam masih berlanjut untuk Caridad setelah dirinya dan Ezalia keluar dari sebuah restoran di pusat kota Orb City. Berbagai alasan yang dikeluarkan Caridad berhasil dibalas oleh Ezalia, dia mendapatkan restu dari Cagalli, Kira, heck bahkan Uzumi untuk mempersilahkan dirinya membawa Caridad jalan-jalan malam ini. Seperti yang dikatakan keluarga belum resmi Caridad, wanita itu berhak untuk bersenang-senang, setelah selama ini dia selalu menjadi ibu rumah tangga yang baik dan melayani mereka bertiga dengan baik dan penuh kasih sayang. Dengan pasrah Caridad membiarkan Ezalia menariknya masuk ke dalam sebuah bar, dan tentu saja beberapa orang melihat mereka. Hei, siapa yang tidak kenal dengan Ezalia Joule? Meski ini bukan PLANT, paling tidak di sini ada televisi kan?

Mereka duduk di dekat sebuah jukebox, Ezalia melepaskan jaketnya setelah memesan Bourbon sementara Caridad hanya memesan anggur putih. Mereka berterima kasih kepada pelayan yang membawakan pesanan mereka ke meja.

"Jadi, semua bahagia di rumah tanggamu dengan Uzumi?"

Anggur putih yang ditengguk oleh Caridad masih ke saluran yang salah, dia menepuk-nepuk dadanya, sementara Ezalia terlihat senang. "Ayolah Caridad, kalian sudah lima tahun tinggal di bawah atap yang sama. Tidak ada tanda-tanda untuk ke arah sana?"

"Ezalia, jangan bicara yang aneh-aneh!" Caridad mendesis setelah urusannya dengan anggur yang masuk ke saluran pernapasannya selesai.

Ezalia tertawa, seringai terbentuk di wajahnya. "Uzumi tidak terlalu buruk, iya kan? Dan aku rasa mungkin akan lebih mudah untuk Kira dan Cagalli jika kalian resmi menikah."

Caridad terdiam. Dia ingat dengan skandal setahun setelah dia tinggal serumah dengan keluarga Athha. Seorang wartawan dengan gamblangnya menulis 'Penghuni ilegal di rumah tangga Athha', tentu saja Uzumi langsung menemui wartawan tersebut. Caridad tidak tahu apa yang dilakukan Uzumi kepada wartawan tersebut, tetapi dia meyakinkan Caridad bahwa dia tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Bahkan wartawan tersebut meminta maaf kepada Cardidad dan keluarga Athha di sebuah acara televisi dan di koran tempat dia bekerja. "Aku tahu, tapi..."

"Aku yakin mereka menginginkan yang terbaik untuk kalian berdua, Caridad." Ezalia mengangkat gelasnya. "Untuk kejelasan hubunganmu dengan Uzumi!"

Caridad terkekeh pelan dan melakukan toast.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Uzumi merasakan sebuah pukulan keras di punggungnya, dia menoleh dan melihat Siegel Clyne berdiri di belakangnya. Semenjak Kira berpacaran dengan Lacus, mereka menjadi memiliki topik pembicaraan selain pekerjaan. Anak mereka. "Halo, Siegel. Terima kasih telah mau datang ke acara pembukaan ini," dia menjabat tangan pria berambut putih tersebut.

"Apa kau akan menginap di sini?"

Uzumi menggeleng. "Aku sudah membeli tiket penerbangan terakhir." Dia sedang menunggu taksi yang dipanggil oleh pihak hotel. Sebetulnya memang ada kamar yang disediakan untuknya oleh panitia acara, tetapi dia menolak. Dia ingin menghabiskan malam bersama keluarganya. Dia melihat jam tangannya, sudah jam setengah sepuluh. Butuh waktu dua puluh menit untuk mencapai bandara dari hotel, dan penerbangan dari PLANT ke Orb membutuhkan waktu satu jam. Paling lama dia akan tiba di rumah jam dua belas. Semoga Caridad sudah pulang saat itu. Dia tahu rencana jalan-jalan Caridad dengan Ezalia. Mereka berdua sudah berteman, dan sejujurnya dia sangat terkejut dan penasaran bagaimana kedua wanita itu bisa bersahabat. Tetapi dia tidak memikili kemewahan untuk mempertanyakan kehidupan pribadi Caridad.

"Bagaimana hubunganmu dengan Caridad?"

Uzumi berkedip. "Maaf, apa? Aku tidak mendengarmu."

Senyum Siegel mengembang. "Bagaimana hubunganmu dengan Caridad Yamato? Sudah memikirkan untuk serius menjadi pasangan suami-istri? Maksudku, kalian sudah tinggal serumah dan berbagi anak. Meski yah, tidak berbagi juga..."

Uzumi menghela napas. "Aku, tidak tahu..."

"Kenapa?"

"Bagaimana jika Caridad tidak mau denganku? Maksudku..." Tiba-tiba Uzumi berhenti bicara, dia seperti seorang anak remaja yang sedang curhat soal kehidupan cintanya! Ugh, yang benar saja! Siegel seolah bisa membaca pikiran Uzumi, dia tertawa.

"Tenang kawan. Jika menyangkut urusan cinta, umur bukan hal penting." Siegel menepuk pundak Uzumi. "Caridad sudah lima tahun hidup bersamamu, bagaimana mungkin kau bisa menarik kesimpulan bahwa dia tidak mau memiliki hubungan yang lebih denganmu? Kalian adalah orang tua terhebat yang pernah aku kenal. Dan kalian bahkan belum resmi menikah!"

Uzumi menepuk keningnya. Dia memang sempat ragu ketika mengajak Caridad tinggal bersamanya. Tetapi dia ingin Cagalli mengenal siapa keluargaya, Kira Yamato. Dan Uzumi menghormati wanita yang telah merawat Kira dan membesarkan pria muda itu menjadi sosok pria yang hebat seperti sekarang. Oleh sebab itu dia menawarkan kamar kosong di rumahnya kepada keluarga Yamato. Dia tahu Caridad sedang mengalami masalah keuangan, ditambah dengan wafatnya sang suami. Wanita itu terpaksa menjual rumahnya untuk melunasi seluruh hutangnya. Dia masih ingat ketika Caridad datang ke tempatnya, menangis dan merasa sangat malu dan tidak berdaya karena dia harus meminta tolong kepada Uzumi. Tetapi pria itu meyakinkan bahwa dia menolong dengan tulus dan tidak merasa terbebani.

Dia tidak mau berbohong, ide untuk menikah dengan Caridad sudah pernah terlintas dalam benak Uzumi beberapa kali. Bermula dari sebuah gosip tidak menyenangkan tentang hubungannya dan Caridad, dia memiliki keinginan untuk menjadikan Caridad sebagai istirnya. Mungkin awalnya agar tidak ada gosip antara mereka, tetapi semakin lama, alasan Uzumi berubah. Dia hanya ingin memiliki seorang istri yang akan menyambutnya pulang dengan senyum, menanyakan harinya dan mereka akan bercakap-cakap di ranjang sampai mereka tertidur. Dan saat itulah kenyataan memukul Uzumi dengan keras, Caridad selalu ada di sana untuknya. Dia sudah melakukan semuanya dengan Caridad, kecuali hal-hal intim yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang menikah.

Suara satpam hotel membawa Uzumi kembali ke dunia nyata, begitu juga dengan tepukan Siegel di pundaknya."Pikirkan baik-baik, Uzumi. Kami semua hanya ingin kalian bahagia."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Oh, ayolah, Kira! Aku sedang menonton serial ini! Ini episode terakhir!" Cagalli berteriak frustasi saat Kira merebut remote televisi dan memindahkan salurannya ke acara yang menyiarkan sebuah film dokumenter tentang tsunami.

"Kau bisa menonton siaran ulangnya besok. Film ini tidak ada di mana-mana, Cagalli! Kau bisa menonton serial ini secara online!" balas Kira.

Belum sempat dia menjawab, telepon rumahnya berdering. Dengan tatapan membunuh dia tidak melepaskan pandangan dari Kira dan berdiri untuk menjawab telepon. "Kediaman Athha dan Yamato. Oh, ayah... ya tadi Bibi Caridad mengatakan dia 'ditawan' oleh Bibi Ezalia, ya aku bilang juga begitu... aku dan Kira sedang menonton. Apa? Ya, baiklah. Hati-hati, sampai nanti."

Setelah Cagalli menutup telepon Kira bertanya. "Kenapa?"

"Ayah bertanya apakah Bibi Caridad sudah pulang atau belum."

Tidak ada percakapan apa-apa. Cagalli melipat kedua kakinya di sofa, perhatiannya terbagi antara game Fruit Ninja yang sedang dia mainkan di smartphone miliknya dan televisi. Kira masih belum memindahkan siarannya, dan jika Cagalli melihat jadwal acara televisi, film dokumenter itu akan habis satu jam lagi. Ugh, siapa yang bisa betah menonton film dokumenter selama dua jam penuh? Konsentrasi Cagalli pecah saat suara Kira terdengar di antara suara narator yang sedang menjelaskan tentang peragaan yang akan dilakukan untuk menjelaskan bagaimana tsunami bisa terjadi dan suara dari game.

"Apa kau tidak lelah memanggil ibuku dengan sebutan bibi?"

Cagalli membeku, dia membiarkan buah-buah itu terjatuh tanpa sempat dia potong untuk menambah skornya. "Kau sendiri? Tidak lelah memanggil ayahku dengan sebutan paman?"

Kira tidak menjawab, matanya tidak lepas dari layar televisi. Tapi Cagalli tahu pikirannya sudah tidak lagi sedang mencerna informasi yang dia dapat dari film dokumenter tersebut. "Apa yang ingin kau katakan, Kira?"

"Aku hanya ingin ibuku bahagia." Kira menghela napas, suara televisi dimatikan menggantikan suara sang narator. "Apakah kau setuju jika orang tua kita menikah?"

Cagalli tersenyum. "Aku kira kau tidak akan pernah bertanya. Tentu saja aku setuju."

Kira menarik Cagalli ke dalam pelukannya, mengecup kening Cagalli dengan lembut. "Aku senang jika kita setuju dalam hal yang sama."

Cagalli tertawa dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Kira. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita semua."

"Ya, aku juga." Kira memindahkan saluran televisi ke sebuah berita. "Ngomong-ngomong, bagaimana kencanmu dengan Athrun?"

Kira sekali lagi mendapatkan pukulan tepat di perutnya. "Cagalli!"

"Sudah aku bilang aku tidak kencan! Aku ada perlu dengan dia. Itu saja."

Kira hanya tertawa sementara wajahnya seolah berkata 'Ya aku percaya padamu.' dan kembali mengacak-acak rambut Cagalli, dia membiarkan adik pirangnya mengganti saluran televisi ke channel yang menyiarkan serial televisi tentang tokoh-tokoh dongeng yang hidup di dunia nyata setelah terkena kutukan...


Wuhehehehehe, ada yang bisa nebak judul serial televisi yang saia maksud? Saia lagi ngikutin serial itu sekarang :d. Maaf jika dalam chap ini tidak begitu banyak scene AsuCagany, dan yay, saia dari dulu pengen bikin pairing Caridad sama Uzumi.

Anyway, kritik dan saran amat saia harapkan