She is My Cat
Gundam Seed/Destiny (c) Sunrise
Fifth Wish: Idiot in Love (With You)
Kamu tidak bisa memikirkan cinta dengan nalar dan otakmu. Cinta hanya bisa dimengerti oleh hati dan perasaanmu.
Satu hal yang tidak disukai Cagalli adalah menunggu. Dia selalu melakukan segalanya dengan cepat dan teliti, dia tidak suka menunggu-nunggu dan bergerak lamban. Pernah sekali dia menghardik remaja laki-laki karena berjalan terlalu lama di depannya, pernah juga Cagalli duduk di trotoar karena di depannya ada gerombolan para lansia.
Jadi bisa dibayangkan betapa kesalnya dia karena harus menunggu Athrun, padahal dia biasanya tepat waktu. Lacus dan Kira sedang sibuk membicarakan tentang konser Lacus selanjutnya bersama Rey. Persaingan antara Rey dan Nicol memang sangat ketat, tapi akhirnya Rey yang dipilih oleh pihak label. Mungkin karena Rey jauh lebih menjual dibandingkan Nicol.
Cagalli hampir membanting telepon selulernya ketika seseorang menyentuhnya dari belakang. "APA?!" hardiknya kesal. Wajahnya tambah tidak senang saat melihat sosok Yuuna tersenyum sumringah kepadanya, ugh, Cagalli ingin menjauh sebelum dia meninju wajah Yuuna.
"Pagi Dewi Kemenanganku yang cantik," Yuuna membungkukkan badan serendah mungkin (Cagalli sangat ingin mendorongnya ke rel. Tapi dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Jadi dia menahan diri) "kau hendak pergi ke mana? Apakah aku boleh menemanimu?"
Tarik napas, buang, tarik, buang, tarik, buang. Cagalli terus melakukan itu selama satu menit penuh. Setelah emosinya terkendali, dia memandang wajah Yuuna dengan senyum palsu terpasang di wajahnya. Senyum yang diajarkan ayahnya ketika mereka akan tampil di umum tetapi Cagalli tidak bisa memberikan senyum tulus. "Maaf, tapi tiketnya hanya ada empat."
Yuuna tertawa, campuran antara geli dan juga bahagia. "Tenang saja, Dewi Kemenangan! Aku akan membeli tiket. Ke mana kita akan pergi, oh dewiku?"
Cagalli mengingatkan diri untuk menghajar Dearka setelah kembali dari tempat Miriallia. Dearka yang memberikan nama panggilan 'Dewi Kemenangan' kepada Cagalli. Sebab tim basket mereka selalu menang setiap kali Cagalli menonton.
Huh, tapi rasanya menghajar Dearka tidak seru. Mungkin nanti dia akan meminta Miriallia untuk berfoto dengan Orga Sabnak, atlet kickboxing yang menjadi penyebab kenapa banyak remaja perempuan menggemari olahraga itu sekarang. Orga memiliki kepribadian yang mencolok. Ketika dia tidak berada di atas ring, dia sangat dewasa dan misterius. Tetapi setelah di atas ring, dia seperti anak kecil. Lepas, bebas, bahagia.
Dan Cagalli dengar Orga sudah beberapa kali mengajak Miriallia untuk kencan, tetapi dia menolaknya. Ya, karena Miriallia belum bisa move-on dari Dearka. Kadang Cagalli tidak mengerti kenapa Miriallia bisa suka dengan Dearka. Bahkan sampai putus dari Tolle untuk melakukan hubungan jarak jauh dengan Dearka.
"Bukan urusanmu, Yuuna." Yak, itu jelas-jelas bukan suara Cagalli.
Ia membuka matanya, merasa sangat lega melihat sosokAthrun berdiri di belakang Yuuna.
Yuuna menoleh ke belakang sekilas untuk menunjukkan wajah tidak senang. "Oh, Zala."
Senyum palsu Cagalli menghilang. "Bisa tolong pergi sekarang?"
Mulut Yuuna terbuka lebar. "Tapi Cagalli, kita ditakdirkan untuk menghabiskan akhir pekan bersama!" protesnya. "Peramal langgananku bilang, kalau aku ingin hubungan kita berkembang, kita harus pergi bersama akhir pekan ini!"
Terkadang Cagalli berpikir bagaimana jadinya dunia ini jika tidak ada peraturan dan hukum. "Maaf Yuuna, tapi aku hanya punya waktu lima menit untuk berpura-pura baik dan sopan kepadamu. Jadi sekarang, tolong, menjauh dariku."
Yuuna menjerit kecil saat tangan Athrun mencengkram bahunya dengan keras. "Oke, oke."
Athrun melepaskan tangannya lalu berjalan ke samping Cagalli, keduanya melipat tangan. Menunggu Yuuna untuk enyah, atau mereka akan mengenyahkan Yuuna. Untungnya Yuuna langsung pergi setelah itu.
"Kau terlambat." kata Cagalli tanpa melepaskan tatapannya dari Yuuna. Takut jika dia lengah sedikit, Yuuna akan menculiknya.
Athrun tertawa. "Maaf, tadi Meer meminta bantuanku untuk membetulkan pangangan rotinya."
Alis Cagalli naik sebelah. "Sejak kapan kau buka usaha jasa perbaikan alat rumah tangga?"
"Uh, sejak dua jam yang lalu?" Athrun menggeleng. "Pemanggang itu tidak bisa aku betulkan–hei jangan tertawa–karena kondisinya sudah terlalu rusak. Aku menyarankan Meer untuk membeli yang baru."
Cagalli menatap Athrun yang masih menceritakan soal pemanggang roti Meer, terkadang Cagalli bingung bagaimana cowok ini tidak engeh saat ada seorang cewek yang jelas-jelas menyukainya. Apa semua pria Zala memang tidak peka terhadap perasaan? Apalagi perasaan seorang perempuan?
Sebelum Cagalli sempat memberikan komentar soal Meer, Lacus memanggil mereka berdua. Suara pengemuman menggema, mengatakan bahwa kereta dengan tujuan ke Kerajaan Skandinavia akan masuk dari arah timur.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Kau tidak berubah-ubah lagi kan?" Athrun berbisik tepat di telinga Cagalli. Ugh, dia benci Kira! Kenapa dia harus duduk di sebelah Athrun? Amarahnya mendidih saat melihat Kira berkedip kepadanya. Apa maksud kedipan itu? Sial!
"Tidak," jawab Cagalli dengan suara cukup tinggi, tapi tidak sampai menganggu orang lain. Kira yang duduk di depannya menyeringai, sang adik langsung menendang kaki sang kakak. Dia berpura-pura kesakitan, sang kekasih langsung tertawa dan mengusap pipi Kira dengan penuh kasih sayang dan berkata bahwa Kira tidak selemah itu.
Cagalli ingin muntah.
Cagalli berdiri, Lacus bertanya. "Kamu mau ke mana, Cagalli?"
"Aku mau ke gerbong restoran," ia menepuk-nepuk perutnya. "aku masih lapar."
Kira memutar mata, padahal mereka baru sarapan dua jam yang lalu. "Hei, titip Cola yah!" Ia menyerahkan uang kepada Cagalli. Apapun demi menjauh dari pasangan ini.
Athrun terus memperhatikan Cagalli hingga dia tidak terlihat lagi. Kira dan Lacus saling melempar senyum. Mengerti, sangat mengerti dengan tatapan yang diberikan oleh Athrun untuk Cagalli bahkan setelah cewek itu sudah tidak terlihat lagi.
Terkadang Kira bingung, bagaimana dirinya bisa memiliki hubungan darah dengan Cagalli. Bahkan sampai menjadi saudara kembarnya. Mereka jelas-jelas berbeda, bertolak belakang. Untunglah Kira sangat peka terhadap perasaan, dan dia akan membantu adiknya untuk menyadari perasaannya terhadap Athrun.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Cagalli berjalan di belakang seorang pramugara yang mendorong troli, sebetulnya sih Cagalli bisa berjalan melewati si pramugara, lorongnya cukup jika Cagalli berjalan menyamping. Tetapi dia sengaja berlama-lama. Tidak semua gerbong penuh, mungkin penumpang akan naik dari stasiun yang lain.
Kening Cagalli berkerut saat melihat seekor kucing dengan warna kuning kecolekatan tengah tertidur pulas di salah satu kursi, sinar matahari menyinari tubuh gendutnya. Membuat bulunya terlihat bersinar. Apa itu kucing milik penumpang? Atau itu adalah kucing liar? Berita tentang kucing naik kereta bukan hal yang baru lagi, namun setahu Cagalli biasanya kucing-kucing itu hanya naik kereta dalam kota. Hah, mungkin mereka bosan berkeliling kota dan memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Atau mereka bosan dengan Orb dan pindah ke Kerajaan Skandinavia?
Entahlah, Cagalli kan tidak bisa bahasa kucing…
Wajah Cagalli memucat saat dia melihat mata kucing itu, warna matanya sama seperti warna matanya! Rasa panik tiba-tiba datang memasuki tubuhnya. Jika dilihat-lihat, kucing itu sama seperti wujud Cagalli ketika dia berubah menjadi kucing!
Cagalli menelan ludah, si pramugara sudah pergi sedari tadi, kucing tersebut bangun dan meloncat turun dari kursi.
"Hei, tunggu!" teriak Cagalli ketika melihat kucing itu berjalan menuju ke gerbong restoran,
Seorang penumpang menaikkan alis. "Perempuan itu bicara dengan siapa?"
Orang yang duduk di hadapannya mengintip dari balik buku tentang bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik, menggeleng dan kembali sibuk dengan dunianya. Sedangkan penumpang yang bertanya tadi menggaruk-garuk kepala.
.
.
.
.
.
Ada sepuluh gerbong di kereta ini, satu untuk gerbong barang, satu untuk gerbong mesin, dan satu lagi untuk gerbong restoran. Sisanya adalah gerbong penumpang. Gerbong Cagalli adalah gerbong sembilan, gerbong restoran berada di antara gerbong enam dan tujuh. Seharusnya Cagalli sudah sampai di gerbong restoran, tapi kenapa dia belum sampai-sampai juga? Dan ke mana perginya kucing yang dikejar Cagalli barusan?
Ketika Cagalli membuka pintu gerbong, dia kembali melihat dua penumpang yang duduk di sisi kiri, masing-masing di kursi nomor 10 dan 1. Sementara di sisi kanan ada lima penumpang, dua duduk berhadap-hadapan, tiga lagi duduk terpisah. Seorang wanita tua yang duduk di sisi kiri tengah bercakap-cakap dengan si pramugara; si pramugara menyeduh sebuah teh.
Dan kucing dengan bulu kuning kecolekatan itu ada di sana!
Cagalli melirik ke belakang, lalu ke depan begitu seterusnya hingga si pramugara tidak lagi menyeduh teh, dan kucing itu sudah bangun dari tidurnya. Tetapi kali ini dia berjalan ke arah Cagalli berdiri, bukan menuju gerbong restoran.
Kucing itu menatap Cagalli, yang ditatap balas menatap dengan bingung. Ketika Cagalli hendak membuka mulut untuk berkomentar, atau hanya sekedar berteriak, kucing itu bicara.
"Kamu harus lebih hati-hati dengan permintaanmu."
Ya, bicara. Dalam bahasa manusia, bahkan kucing itu memiliki aksen segala! Selanjutnya apa, kucing itu akan berdiri dengan dua kaki, memakai jas dan menyelamatkan seorang murid SMA yang dijodohkan dengan pangeran dari negeri kucing?!
"Ap, apa…"
Kegelapan menguasai pandangan Cagalli secara mendadak, membuatnya berhenti melemparkan pertanyaan yang menghantui dirinya semenjak kejadian ini terjadi.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"KUCING!"
Suara teriakan seseorang membangunkan Cagalli.
Tunggu, bangun?
Seekor anak kucing berbulu orange yang sedari tadi tertidur di atas meja terbangun, mata hazel miliknya tertuju ke sosok seorang penumpang perempuan yang menatapnya dengan tatapan horror. Seorang petugas berlari mendekat, sebelum semua tambah runyam, Cagalli dalam wujud kucing langsung kabur. Si petugas mengejar, tetapi tidak berhasil menangkap Cagalli karena pada saat yang bersamaan ada rombongan penumpang yang hendak masuk ke dalam restoran.
"Mama, ada kucing di bawah kursi kita!" teriak seorang anak kecil.
Cagalli yang tengah berhenti untuk mengatur napas hanya memutar mata, sebentar, kucing memangnya bisa memutar matanya? Yah, pokoknya wujud manusia Cagalli sedang memutar mata karena dia belum selesai mengatur napas ketika seorang petugas menyadari keberadaannya.
.
.
.
.
.
Athrun yang berdiri di antara gerbong Sembilan dan delapan hanya berdiri mematung saat melihat seekor kucing berlari dengan kecepatan penuh menuju arahnya. "Cagalli?" Athrun berbisik. Tunggu, bukannya wujud kucing Cagalli itu sudah dewasa yah? Bukan lagi anak kucing?
Pertanyaan itu langsung dijawab dengan suara meongan. Ia menatap Athrun dengan tatapan memelas, tangan kecilnya memukul-mukul ujung sepatu kets tua-tapi-masih-bagus milik Athrun.
"Oke, ini Cagalli." Athrun langsung mengangkat tubuh Cagalli, dan tampa dikomando kucing itu berusaha untuk masuk ke dalam jaket Athrun. Sebelum sempat Athrun bertanya (walau sebetulnya Athrun ragu dia akan memahami jawaban yang diberikan oleh Cagalli nanti) dia melihat seorang petugas kereta tengah berlari menuju ke arahnya.
"Ah," Athrun mengangguk paham. Kemudian dia menyembunyikan anak kucing itu di dalam jaketnya.
.
.
.
.
.
Napas Cagalli masih terengah-engah saat dia sudah tersembunyi dengan aman di dalam jaket Athrun. Samar-samar dia bisa mendengar si petugas bertanya kepada Athrun apakah dia melihat seekor anak kucing atau tidak. Dengan sopan Athrun menjawab tidak,
Saat itulah Cagalli baru tersadar bahwa dirinya berada dekat, sangat dekat dengan dada Athrun. Bahkan dia bisa merasakan detak jantung cowok itu. Dan sial, hal itu membuatnya tambah deg-degan. Udara segar menyambut Cagalli ketika Athrun membuka jaketnya.
Suara tawa Athrun terdengar. "Terkadang aku memang ingin membawamu dalam kantongku, tapi bukan dirimu dalam wujud kucing juga sih."
Dengan mudah Athrun mengangkat tubuh Cagalli dari dalam kantong kemejanya, sekarang kucing berbulu orange itu berada dalam telapak tangan Athrun.
"Apa yang terjadi, Cagalli? Kenapa kau tiba-tiba berubah setelah hampir tiga minggu tidak berubah?" tanya Athrun lembut.
"Aku melihat dan mendengar seekor kucing bicara! Dan aku–" Cagalli berhenti bicara, karena dia tahu bahwa yang terdengar oleh Athrun hanya meongan kucing.
Athrun menghela napas, wajahnya terlihat setengah lega setengah geli. "Syukurlah kau ingat kalau aku tidak mengerti bahasa kucing." Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Masih lima jam lagi kita tiba di Skandinavia. Kita tidak mungkin kembali ke gerbong, bagaimana kalau kau tiba-tiba kembali ke wujud manusia dan kau…"
Athrun berhenti bicara, dia menatap Cagalli.
Cagalli memang tidak begitu dekat dengan Athrun, tetapi Cagalli mengenal tatapan Athrun sekarang. Itu adalah tatapan Kira setiap kali kakak kembarnya memiliki ide gila, atau ngawur.
.
.
.
.
.
"Kau mau ke mana, Athrun?" tanya Kira heran.
"Aku mau mengambil buku dari koperku." Kata Athrun ketika dia melewati kursi yang ia dan kawan-kawannya tempati.
"Hei, apa kau melihat Cagalli?" tanya Kira bingung.
"Dia sedang mengobrol dengan seseorang di restoran."
Lacus dan Kira hanya saling tatap.
Lacus menatap plastik hitam yang digenggam oleh Athrun. Rasanya tadi Athrun tidak membawa plastik.
.
.
.
.
.
"Bukan tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu selama lima jam memang," Athrun terkekeh geli. "tapi setidaknya di sini sepi. Jadi tidak akan timbul masalah kalau kau tiba-tiba kembali ke wujud manusiamu."
Athrun melepaskan jaket dan memberikan atau lebih tepatnya membungkus wujud kucing Cagalli dengan jaket merahnya.
Athrun sempat membaca beberapa saat, tetapi ruangan ini tidak mendapatkan cahaya yang cukup sehingga Athrun menyerah. Telepon selulernya kehabisan batre setelah dipakai untuk bermain game, akhirnya Athrun tertidur. Dia sempat melihat kea rah Cagalli, tetapi kucing itu sudah bersembunyi di balik jaketnya.
.
.
.
.
.
Satu jam kemudian Cagalli baru kembali ke wujud manusianya. Dia merapatkan jaket Athrun untuk melindungi tubuh polosnya, Cagalli menatap Athrun yang tertidur dalam posisi duduk. Tanpa pikir panjang, ia mengecup kening Athrun sebelum mencari koper miliknya untuk mengambil pakaian baru.
Untunglah Cagalli meninggalkan dompet dan telepon selulernya dengan Kira.
.
.
.
.
.
"Hei, kau dengar katanya ada kucing di dalam kereta?"
"Oh ya? Aku tidak melihatnya."
"Kau belum membelikan aku Cola, Cagalli."
"Nanti aku belikan satu kardus!"
"Kau habis darimana, Cagalli? Kami sampai panic. Kami kira kau pergi."
"Uh, tertidur di restoran?"
"Athrun bilang kau sedang mengobrol dengan seseorang."
"Ya, pramugara. Aku memesan cokelat panas."
Kira dan Lacus hanya saling melempar pandang, kemudian menggeleng. Ya, tertidur di restoran tetapi kembali dari gerbong barang bersama dengan mereka kembali tidak bersamaan, tapi Kira tidak sebodoh itu. Jika bukan karena Lacus yang mengatakan bahwa Cagalli pasti tidak apa-apa.
Kira merasa hilangnya Cagalli hari ini berhubungan dengan hilangnya Cagalli beberapa waktu yang lalu. Dia tidak mau memaksa adiknya untuk bicara, dia akan menunggu Cagalli.
"Ya oke, cokelat panas." kata Kira pura-pura tidak percaya.
"Hei, apa maksudnya itu?" tanya Cagalli sambil berusaha mengalahkan keramaian stasiun kereta di ibukota Kerajaan Skandinavia.
"Oh lihat, itu Miriallia!" kata Kira dengan wajah sumringah, ia melambaikan tangan. Kemudian mengajak Lacus untuk berlari menghampiri Miriallia.
"Terima kasih," bisik Cagalli pelan.
Tapi Athrun tetap mendengarnya. Athrun selalu mendengar Cagalli.
"Tidak masalah," balas Athrun dengan senyum lebar.
From author's desk: Oh god, akhirny bisa update fic ini juga! Tapi maaf, setelah chapter ini, fic ini akan saia jadikan hiatus. Feelsny udah/sedang hilang, jadi saia tidak mau memaksakan diri dulu. Terima kasih untuk kalian yang telah membaca dan mengikuti fic ini, maaf jika saia mengecewakan kalian
Kucing yang saia maksud dalam chapter ini adalah kucing dari film The Cat Returns karya Studio Ghibli
. Filmny unyu dan pengisi suara tokoh utamany Baron Humbert von Gikkingen itu seksi, yang versi Jepangny yah. And yes, he is a cat.
So, sampai jumpa di fic yang lain, dan atau fic ini lagi dilain waktu *bows*
