Tittle : Y and J
Main Cast : Wu Yifan | Kim Jongin | Xi Luhan
Rate : M
.
.
.
.
Menginap di hotel adalah selingan menyenangkan bagi Jongin. Kadang saat suasana hatinya buruk, ia akan merasa sedikit puas jika dapat melakukan sesuatu yang menurutnya mengasyikkan pada pelayan hotel; membentak pelayan hotel tanpa tahu dimana letak kesalahannya. Sayangnya, segala kemewahan di dunia tidak menjamin ia bisa tidur nyenyak saat sedang tidak dalam keadaan yang baik.
Atau saat ia sedang khawatir. Dan, malam ini, ia sungguh khawatir. Ia mondar-mandir di kamarnya. Memandang bulan yang baru muncul di luar jedela dan perlahan bergulir melintasi langit malam. Lalu, ia mondar-mandir lagi.
Di meja samping tempat tidur nomor satu itu sudah ada dua botol wine yang telah kosong.
New York. Jaraknya separuh bumi dari sini; ia sudah memeriksanya di Google Maps. Ia dan Eunhee selama ini gagal bersatu padahal tinggal di negara bagian yang bersebelahan. Dengan rencana kepergiannya ke benua yang berbeda, harapan apa yang mereka punya?
Eunhee akan memulai kehidupan yang berbeda, sebagai seorang ibu muda yang mengasuh bayinya sendiri, empat hari lagi. Pejuang, pahlawan. Perempuan dengan tanggung jawab yang tidak kecil akan memulai petualangan terbesar dalam hidupnya. Hidup jauh dari orang yang ia kenal.
Berbahagialah untuknya, katanya dalam hati. Segalanya akan berjalan sebagaimana mestinya.
Setiap kali memikirkan perempuan itu, ia merasakan kerinduan yang begitu menusuk hingga terasa nyeri. Namun, segala kerinduan itu bukan jaminan mereka akan punya masa depan bersama. Walaupun berulang kali Jongin sudah berusaha untuk membuat mereka tetap bersama, namun takdir berkata lain.
Mungkin mereka punya kebiasaan yang lama kelamaan akan membuat sebal satu sama lain. Mungkin secara fisik mereka hampir mirip. Mungkin mereka berada di jalur yang berbeda dan ditakdirkan untuk terus begitu.
Tapi jauh di lubuk hatinya, Jongin berharap situasinya tak harus demikian. Ia mencintai Eunhee begitu dalam sampai tak sanggup membayangkan harus merasakan yang lain. Berhenti mencintai saudara kembarnya itu sama saja seperti berhenti menghirup udara.
Namun, sebesar apapun cintanya, tidak bisa mengubah kenyataan bahwa ia terikat dengan perjanjian yang dibuat oleh Abojinya. Yang paling mudah mereka lakukan adalah berdamai dengan kenyataan.
Bagaimana bisa ia membayangkan hidup tanpa Eunhee?
Yah, walaupun ia hanya menemui Eunhee sekurang-kurangnya 2 kali dalam satu bulan.
Entah bagaimana, akhirnya Jongin berhasil tidur selama beberapa jam.
KLIK… KLIK…
Suara pintu terbuka karena kartu di tap ke mesin otomatis yang akan membuka pintu kamar hotel nomor 240 itu. Yifan muncul dengan perlahan. Setelah ia mendapatkan kunci kamar Jongin, ia segera memasuki kamar hotel itu; dibantu oleh kekuasaan Kim Sungsoo. Sebelumnya, Sungsoo menyuruh salah satu utusannya untuk memeriksa beberapa nama tamu hotel yang sering di kunjungi anaknya itu.
Ia terkejut melihat Jongin berada di atas tempat tidur sendiri dengan keadaan yang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Bau alkohol mulai menusuk hidungnya ketika ia berada beberapa centi meter di dekat tempat tidur itu.
Yifan memperhatikan wajah Jongin yang terlelap dan beberapa kali menggumamkan nama seseorang; ia tidak yakin karena pelafalannya tidak jelas. Setelah memastikan keadaan Jongin yang berada di bawah alam sadarnya dengan tangannya yang menepuk pelan salah satu pipi Jongin,
"Bangun," nada suara Yifan tampak tinggi. ia menepuk beberapa kali pipi Jongin, namun taka da respon yang berarti. Ia menoleh ke arah pintu hotel yang terbuka sedikit, disana berdiri Chansung dan dua orang pelayan hotel. Yifan meminta pada pelayan segelas susu steril. Setelah beberapa saat menunggu, seorang pelayan pria dengan rambut klimis masuk membawa segelas susu steril putih.
Tanpa membuang banyak waktu, Yifan mengangkat kepala Jongin lebih tinggi dari tubuhnya, kemudian memegangi mulut Jongin dan meminumkan segelas penuh susu steril itu. Chansung yang berdiri di ambang pintu sedikit mengeryit ngeri, karena sepengetahuannya, belum pernah ada seorangpun yang memperlakukan Tuan Muda nya seperti itu, kecuali keluarga Kim tentunya.
Walau matanya terpejam, namun, tubuh Jongin bereaksi. Ia beberapa kali tersedak ketika susu putih itu memasuki kerongkongannya.
"Minum yang banyak," suara Yifan yang pelan terdengar sangat berat.
"Uhuk… Uhuk…"
Setengah gelas susu putih sudah masuk ke dalam tubuh Jongin, Yifan menghentikannya. Sekitar wajah Jongin dipenuhi cairan putih itu, hingga mengalir ke kemeja abu-abunya.
Belum sadar juga, Yifan melepaskan kungkungan kepala Jongin kemudian membantu Jongin untuk berdiri. Ia merangkulkan sebelah lengannya ke perut Jongin, sedangkan lengan kiri Jongin, ia rangkulkan ke lehernya, kemudian menguncinya dengan pegangan erat. Ia berjalan menuju kamar mandi yang berada di dekat lemar hotel itu.
Air keran wastafel mengalir, setelah Yifan memutarnya. Tangan kanannya, menadah air keran itu untuk membasuh permukaan wajah Jongin beberapa kali.
Mata Jongin sedikit terbuka setelah basuhan yang ke delapan, walau matanya masih berat, namun ia dapat melihat di depan cermin dirinya yang sedang dalam rangkulan Yifan.
"Brengsek!" umpat Jongin kesal ketika mendapati wajah Yifan yang datar dari cermin. Ia mencoba melepaskan diri dari Yifan, dan Yifan melepaskannya. Tubuhnya terhuyung, sebelum…
BRUK
Jongin ambruk di lantai kamar mandi itu tanpa pergerakan.
Lelaki bermarga Wu itu hanya mendesah pelan, kemudian membungkuk untuk mengankat tubuh Jongin.
"Dasar keras kepala."
Sepertinya, Jongin harus berpikir ulang untuk menginap di salah satu hotel pamannya, Kim Jongdae.
.
.
Yifan mengeluarkan selimut cadangan dari lemari di kamar Jongin; selimut Jongin sebelumnya diikatkan pada jendela kamarnya, untuk keluar dari kamarnya melalui jendela. Yifan menyelimuti tubuh besar lelaki itu. Kemudian sekali lagi dia menyentuh leher lelaki itu untuk memastikan suhu tubuh Jongin.
"Sebaiknya tidur nyenyak," kata Yifan seolah respon dari raut kekhawatiran yang nampak dari wajah Jongin. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 2 pagi.
Tanpa suara paling lirih pun, ia hanya menggerakkan badannya. Dia pergi ke jendela dan menutup gorden tebal sehingga kamar menjadi terang dengan cahanya lampu kamar itu, tanpa ada pantulan cahaya dari gedung pencakar langit atau rumah-rumah di sebelah rumah itu.
Kemudian, Yifan menuju pintu, sambil memegang gagang pintu, dia menengok ke belakang. Sekali lagi, ia melihat lelaki yang terbaring dalam cahaya yang minim dari lampu meja di sebelahnya. Lelaki itu terlelap.
Yifan membuka pintu, lalu menginjakkan kakinya di ruangan yang terang sambil menyipitkan mata. Ditutupnya pintu dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan suara. Kim Sungsoo duduk di sofa dan sedang minum kopi. Di atas meja terletak nampan besar berisi teko kopi dan kudapan kecil. Kudapan itu tinggal separuh. Ada secangkir kopi di atas nampan itu yang masih utuh belum tersentuh. Suasana beku itu menggenangi seluruh ruangan.
Ketika Yifan memasuki ruangan itu, Sungsoo meletakkan cangkir kopi di atas alas cangkir, lalu menoleh ke arah Yifan yang sedang berjalan ke tengah ruangan.
"Sudah selesai?" tanya Sungsoo.
"Sudah, ahjussi," jawab Yifan dengan mengangguk.
"Duduklah,"
Setelah duduk di hadapan Sungsoo, pria tua itu menatap wajah Yifan.
"Bagaimana hari-hari pertamamu, apa kau betah?"
Yifan menganggukkan kepalanya dua kali. "Ne,"
"Kau pasti lelah," kata Sungsoo. "Mau minum kopi?"
Yifan berkata, "Terimakasih. Tapi aku tak minum kopi, ahjusii."
Sungsoo mengangguk. Kemudian dia mengeluarkan amplop tebal dari saku bagian dalam jasnya, lalu menyodorkannya kepada Yifan.
Ujar Sungsoo, "Itu surat perawatan untuk kakekmu. Aku sudah memindahkannya ke rumah sakit di Hongkong. Rumah sakit yang terbaik."
"Berarti… Kakek sudah mulai di rawat?" kata Yifan,
"Iya. Kakekmu sudah dirawat sehari yang lalu." Ujar Sungsoo menyunggingkan senyum sedikit,
"Terimakasih banyak, ahjussi," ujar Yifan. Lalu ia memasukkan amplop itu ke dalam saku di balik jacket parkanya, "Jika tidak ada anda, mungkin kakek akan menungguku mengumpulkan uang bertahun-tahun untuk biaya perawatannya."
Sungsoo menggeleng, "Tidak. Jangan berterimakasih padaku. Aku hanya membalas jasa-jasanya, Yifan."
Yifan mengangguk tanpa kata.
"Pasti butuh tenaga luar biasa, ya?" tanya Sungsoo,
"Untuk?"
"Jongin. Anak itu pasti banyak merepotkanmu."
Yifan terkekeh, "Mungkin karena usianya masih muda."
"Hari ini aku akan berangkat ke Amerika selama beberapa hari kedepan dengan istriku. Bisakah aku mempercayakan Jongin padamu?" pinta Sungsoo
"Anda bisa percaya pada saya, ahjussi."
Kemudian, Sungsoo mengangguk sedikit, ia melihat jam tangannya untuk memastikan waktu. Ia bangkit dengan tenang,
"Baiklah. Kau bisa tidur sekarang," kata Sungsoo, "Aku harap dia tak melakukan ini lagi padamu," Sungsoo memegang pergelangan tangan Yifan yang terbungkus beberapa untai perban. Ia juga meliri beberapa kali luka lebam di sudut bibir dan tulang pipi Yifan yang masih bengkak dan memerah. Tatapannya menembus kedalaman mata Yifan.
.
.
Ketika Luna membangunkan Yifan, waktu menunjukkan pukul 5 lewat sedikit pada hari Sabtu. Saat itu Yifan bermimpi sedang berjalan kaki menyeberangi jembatan batu yang panjang. Dia adalah satu-satunya orang yang sedang berjalan di jembatan itu. Sungai itu indah dan besar, tampak pasir sana sini. Air mengalir perlahn, pohon-pohon besar tumbuh di sekitar sungai, dan beberapa ibis sedang mencari mangsa di gosong pasir. Dedaunan hijau terang berjuntai, menyentuh permukaan air dengan lembut. Pemandangan bagaikan gambar pada piring tembikar China. Pada saat itulah Yifan terbangun, menengok jam di samping bantalnya. Siapa yang membangunkannya pagi-pagi buta, tentu saja dia dapat menebak sebelum melihat dengan jelas fisiknya, karena warna suaranya.
"Yifan. Apa semalam kau melihat Tuan Jongin?" tanya Luna, tanpa ucapan 'selamat pagi,' tanpa ucapan 'kau sudah bangun?'
"Ada apa?" kata Yifan. Suasana masih gelap. Dan dia masih berada di dalam kesadaran yang terbagi.
"Tuan Jongin tak ada di kamarnya," Luna melanjutkan, "Beruntung Tuan dan Nyonya Kim tadi buru-buru berangkat, jadi tak sempat ke kamar Tuan Jongin."
"Mungkin dia sedang jalan-jalan pagi,"
"Dia tak pernah bangun pagi sebelumnya."
.
.
Selewat pukul 10 pagi pada hari Sabtu, Jongin berkunjung ke Sukiya-zukuri. Rumah itu berdiri di puncak tanjakan di kawasan Kyoto. Burung-burung berbadan ringan terlihat hinggap di puncak pohon besar di halaman rumah tersebut. Biasanya suasana begitu hening, namun pada musim panas, suasana berubah drastic, dipenuhi kicauan ibis yang memekakkan telinga.
Jongin memencet bel yang terpasang pada gerbang. Menyebut namanya ke intercom, lalu menghadapkan wajahnya ke arah kamera pengawas. Daun pintu kayu terkuak secara otomatis, kemudian Jongin melangkah masuk, pintu itu tertutup lagi. Seperti biasa, Jongin menyeberang halaman dan menuju pintu utama rumah itu.
Di depan pintu utama, terdapat beberapa kursi halaman yang terbuat dari kayu jepang, dan di salah satu kursi itu, duduk seorang perempuan sedang menimang seorang bayi yang hampir seluruh tubuh mungilnya tertutup oleh kain putih tebal. Usianya kurang lebih 21 tahun, rambutnya keriting, dan kulitnya putih bersih. Dia mengenakan baju terusan berenda berwarna krem halus selutut dan mengenakan kuciran untuk mengikat rambut panjangnya.
Nama perempuan itu Kim Eunhee.
Sambil tetap duduk di kursinya, Eunhee memandang Jongin dan mengangguk.
"Selamat pagi," sapa Jongin lalu duduk di kursi di hadapan perempuan itu dan meletakkan sebuah koper hitamnya di samping kursi itu.
"Pagi, ahjussi," Eunhee menggerakkan kecil tangan mungil bayi yang masih terbungkus penutup tangan berwarna putih.
Jongin meraih tangan mungil itu dan menggerakkannya dengan gerakan kecil, senyum menggembang di bibirnya, "Pagi, Taeoh."
Satu kecupan ia daratkan pada pipi gembul Taeoh, kemudian ia mencium kening Eunhee selama beberapa detik kemudian melepaskanya.
Dengan beberapa gerakan, akhirnya Eunhee bangkit dari duduknya dengan bantuan Jongin yang menjadi tumpuannya.
"Kau pasti belum makan, aku sudah memasak, ayo makan,"
Mereka beriringan berjalan menuju ruang makan yang berada tak jauh dari pintu utama. Rumah dengan arsitektur Jepang di bangun 10 tahun lalu dan turun ke beberapa bekas pemilik dan akhirnya rumah itu jatuh ke dalam pemilikan Jongin dua tahun lalu, walaupun masih dalam bantuan Kim Jongdae, pamannya.
Beberapa foto dirinya dan Eunhee dari masa ke masa terpasang di dinding ruang tengah. Ada pula figura kayu kecil yang berdiri di atas meja di sudut ruang tamu dengan foto-foto Taeoh dalam beberapa pose. Rumah ini adalah rumah rahasia milik mereka berdua, walau Jongdae mengetahui dan menjamin atas kepemilikan Jongin, ia sampai saat ini dapat merahasiakan dari Keluarga Kim. Meskipun, tidak menutup kemungkinan, mereka sudah mengetahui akan rumah ini.
Mereka sudah berkumpul di meja makan. Jongin duduk di samping Eunhee yang sedang menyusui Taeoh. Beberapa kali, tangan Jongin mengelus pipi Taeoh yang penuh dengan ASI.
Kemudian, mata Jongin memperhatikan meja yang di penuhi dengan omelet, ayam goreng, kue dadar, buah- seperti orang kelaparan.
"Sejak dulu nafsu makanmu memang besar, oppa," kata Eunhee ketika melihat Jongin yang sedang melahap makanan itu.
"Ingat waktu kita lomba makan pie dulu?" tanya Jongin.
"Tentu," jawab Eunhee. "Kau yang menang."
"Yeah. Tapi aku sakit perut semalaman." Jongin mencondongkan badan untuk berbicara dengan Eunhee. "Itu karena kau memakan tanpa henti,"
.
.
Sesuai dengan kebulatan tekadnya semalam, Yifan memutuskan mulai mencari keberadaan Jongin lagi, pagi ini. Kalau berkonsentrasi mencarinya sepanjang hari, pasti sedikit banyak petunjuk akan dapat diperoleh. Sudah satu hari kemarin, ia mencari di apatemen Luhan, di club malam tempat biasanya Jongin berada, di kampus, bahkan di tempat-tempat yang biasanya Jongin kunjungi pun tak membuahkan hasil.
Dia membuka buku telepon yang ia ambil dari kamar Jongin satu per satu. Yifan bisa menyanyakan dari sederet buku telepon itu tentang keberadaan Jongin.
Ada juga cara lain; pasang iklan satu halaman besar di koran. "Tuan Muda Jongin, tolong hubungi secepatnya. Yifan." Kalimat yang konyol. Lagi pula, seandainya Jongin melihat iklan semacam itu, sulit dibayangkan ia akan segera menelepon Yifan. Lagi pula, anak muda mana yang mau repot-repot membaca iklan berbaris di koran?
Cara lain lagi adalah meminta kantor detektif yang besar untuk mencarinya. Mereka pasti mahir dalam pencarian semacam itu. Mereka memiliki berbagai metode serta koneksi untuk melakukan pencarian orang. Dengan petunjuk-petunjuk yang ada, mungkin mereka bisa menemukannya secepat kilat. Ongkosnya juga pasti tak terlalu mahal. Tetapi mungkin lebih baik cara itu digunakan sebagai cara terakhir, pikir Yifan. Lebih baik mencari dengan kakinya sendiri. Dia merasa lebihh baik memukirkan lebih lanjut aa yang bisa dia lakukan sendiri.
Ia merebahkan diri di atas sofa ruang tamu, dan berpikir keras. Raut wajahnya serius, dan tangannya masih menggenggam gagang telepon.
"Kim Jongdae,"
Paman Jongin,
Walau Yifan sempat ragu, namun, ia segera membuka kembali buku telepon kecil yang masih terbuka beberapa halaman di atas meja. Ia mencari nama Kim Jongdae dari halaman satu ke halaman yang lainnya. Tangannya dengan mahir memencet nomor ponsel itu, dan sambungan tersambung.
Suara seorang laki-laki terdengar dari panggilan diseberang. Setelah Yifan mengatakan maksud dan tujuannya mengapa ia menelpon Kim Jongdae, pria itu memberitau kemungkinan dimana Jongin berada, namun dengan syarat jika Yifan merahasiakannya dari Tuan dan Nyonya Kim.
.
.
Dengan berpakaian t-shirt biru tua lengan panjang, celana chino krem, serta sepatu kets, Yifan berjalan menuju jalan aspal naik, lalu berdiri di depan pintu gerbang kayu sembari beberapa kali melihat secarik kertas berisi alamat yang tertera dan mencocokkan pada nomor rumah yang terukir di kayo kotak di samping pintu itu. Minggu sore ini udara panas mengantarkannya ke negara ini.
Yifan memencet interkom dan bertanya apakah benar kediaman yang dituju.
Setelah pintu kayu terbuka secara otomatis, kakinya melangkah masuk, menyusuri halaman yang beberapa bagiannya ada besi-besi jemuran yang berisi pakaian-pakaian bayi memenuhi besi-besi melintang itu. Wangi khas bayi menguar di dekat ia berdiri sekarang; menunggu sang penghuni rumah untuk menyambutnya.
Tak berapa lama kemudian, seorang perempuan muncul dari balik pintu utama. Perempuan berambut cokelat itu sedang mengucir rambut-rambut panjangnya. Yifan sedikit tertegun ketika mereka bertemu mata. Perempuan itu tersenyum kepada Yifan,
Wajah itu, mirip sekali dengan…
"Siapa Eunhee?" suara dari belakang perempuan itu memecah keheningan.
Kim Jongin. Lelaki yang baru saja muncul dari belakang perempuan itu sembari menggendong seorang bayi dan sesekali menciumnya dengan gemas. Kim Taeoh.
"Kau!" Jongin meninggikan suaranya setelah melihat sosok yang berdiri tak jauh dari pintu utama itu. Suara Jongin yang menyeramkan membuat sang bayi bergerak gelisah dan memecahkan tangisnya. Dengan refleks, Jongin mendekap erat Taeoh kemudian menimangnya untuk menghentikan tangisan itu.
Eunhee segera mengambil alih anaknya dari gendongan Jongin kemudian menimangnya dengan tenang,
"Katanya ia ingin bertemu denganmu, oppa," kata Eunhee yang sudah meninggalkan mereka dalam keterdiaman.
"Bagaimana kau bisa kesini?" tanya Jongin penasaran.
"Bisakah kau persilahkan tamumu untuk masuk?" tanya Yifan masih berdiri di tengah halaman itu,
"Pergi!" Jongin berteriak sembari mendorong tubuh Yifan untuk beranjak pergi dari halaman rumahnya, "Tak seharusnya kau disini,"
Dorongan Jongin membuat Yifan sedikit terseok. Dengan mengumpulkan tenaganya, Jongin menendang kaki Yifan,
BRUK
Tubuh Yifan terjatuh, membuat Jongin tersenyum puas.
"Pergi, atau aku akan me…"
"Oppa!"
Sambil memandang kedua lelaki di halaman rumah itu, Eunhee berteriak.
Jongin segera menghentikan tendangannya, kemudian berjalan menuju pintu utama. Jongin menggenggam erat tangan Eunhee saat dirasanya kembarannya itu akan menghampiri Yifan, namun, Eunhee menatap penuh harap pada kakaknya dan melepaskan genggaman itu secara perlahan. Eunhee melangkahkan kaki menuju halaman, tempat dimana Yifan baru saja berdiri dan menepuk beberapa bagian badannya yang terkena pasir.
"Ayo, masuk. Yifan-ssi," ajak Eunhee dengan tersenyum ramah,
.
.
Untungnya, musik diputar di rumah itu. Jika tidak, mereka akan benar-benar duduk dalam diam. Ruang makan itu teramat sederhana. Yifan duduk di depan meja di hadapan Eunhee, sedangkan Jongin duduk di sebelah Eunhee. Di atas meja rendah yang terbuat dari papan kayu utuh yang tebal, tersedia sup kacang dalam mangkuk kecil, nasi putih, telur dadar juga beberapa potong ikan goreng. Di dinding tak ada lukisan atau semacamnya, bahkan vas bunga pun tak terlihat. Tak ada hiasan dinding apapun di ruang makan itu. Berbeda jauh dengan keadaan rumah mereka di Korea.
Melihat sosok Eunhee, Yifan membayangkan jika Jongin mempunyai rambut panjang, kulit putih dan buah dada besar.
Sambil memiringkan gelas sakenya, Yifan mengedarkan pandangan ke sekeliling sekali lagi.
"Habiskan makananmu dan kembalilah ke Korea," ucap Jongin sarkastik sembari melahap salmon gorengnya dengan nasi,
Eunhee menggelengkan kepala, kemudian menyentuh pergelangan tangan Jongin, memberi isyarat agar tidak berkata seperti itu.
"Aku tak ingin ada pertengkaran di rumah ini. Jadi, jaga sikap kalian masing-masing," walaupun kurang sopan, namun perkataan Eunhee menjadi perkataan terakhirnya di atas meja makan saat itu karena tangisan Taeoh yang terdengar dari arah kamarnya.
Mereka dalam keheningan yang mereka ciptakan sendiri, hanya terdengar genting sendok garpu bergesekan dengan mangkuk keramik. Kedua lelaki itu makan dalam diam.
Setelah menyelesaikan makanannya, Jongin meletakkan kasar kedua sumpitnya dan memandang Yifan dengan tatapan tajam.
Yifan membalas tatapan itu dengan tak kalah tajamnya,
"Kau. Kenapa kau bisa kesini? Hah?"
Yifan mengambil segelas air putih kemudian menegaknya, "Aku akan membawamu pulang."
"Shireo! Aku tak ingin pulang!"
"Dan kau akan membuat bingung kedua orang tuamu?"
"Aku tak peduli!" Jongin berkata dengan penuh penekanan di setiap katanya, Yifan mendengus,
"Peduli atau tidak, kau harus pulang. Tak seharusnya kau tinggal disini. Di rumah seorang perempuan yang sudah mempunyai anak."
"Cih! Tau apa kau tentang Eunhee? Kau bahkan tak tau apa-apa tentang keluargaku. Jangan campuri urusan kami."
"Itu tugasku."
"Kalau begitu, kembalilah ke Korea dan katakana pada majikanmu itu jika aku akan baik-baik saja disini."
"Tidak segampang itu, Jongin."
Jongin sedikit merinding. Ini kali pertamanya Yifan memanggil namanya selain 'kau'. Suara itu memekakan telinganya. Entah kenapa seperti angin berdesir di hatinya ia sedikit tertarik dengan suara itu.
.
.
Seolah-olah menghapus tulisan dari papan tulis, Yifan membersihkan pikirannya, lantas sekali lagi ia menggali ingatannya. Seraya menggenggam erat tangan Yifan, perempuan itu menatap lurus wajah Yifan. Perempuan itu tak mengalihkan pandangan barang sedikitpun. Yifan sama sekali tidak bisa memahami makna aksi perempuan itu. Sepasang mata yang jernih dan murni, yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Yifan merasa bisa kapan saja tersedot dalam pesona itu kalau lebih lama menatap mata Eunhee. Karena itu, Yifan memalingkan pandangan dari perempuan itu dan menatap keadaan sekelilingnya yang gelap hanya terpancar cahaya lampu dari teras rumah itu.
Sambil tetap duduk di kursi kayu yang berada di tengah halaman rumah. Seperti biasa, cahaya lampu penerangan duniawi di kota memudarkan cahaya bintang. Meskuipun langit cerah dan bersih, hanya beberapa bintang yang terlihat malam ini.
Tiba-tiba Yifan menyadari bahwa Eunhee sudah tak menatap matanya lagi dan melepaskan genggaman tangannya.
"Aku harap kau bisa menyimpan apa yang ku ceritakan, Yifan-ssi,"
Yifan mengangguk sebagai jawaban dari permintaan perempuan itu.
"Aku tak bisa mengucapkan kata-kata yang belum kau dengar," kata Yifan. "Tapi ketahuilah, kau akan sanggup melewati ini semua. Kelihatannya memang tidak mungkin, tapi semuanya akan membaik. Kau tidak akan sama seperti dulu ketika dia masih berada di sisimu dan Taeoh, tapi… kau akan baik-baik saja karena kau memiliki Jongin."
"Kupikir kau tak bisa berkata panjang lebih dari dua kalimat, Yifan."
Yifan tersenyum tulus, "Betul," Yifan melanjutkan, "Percayalah, hidupmu akan menyenangkan lagi, ku jamin. Aku kadang masih sedih dengan kenyataan jika keluargaku meninggalkan aku dan kakek, tapi aku bisa bertahan. Aku yakin kau juga begitu. Kau wanita yang kuat, Eunhee."
Yifan menahan nafas, menekan pelipisnya dengan jari. Ia enggan menyinggung tentang kedua orang tua Eunhee.
"Aku sama sekali tak tau cara memulainya," Eunhee berusaha menemukan secercah tekad dalam hatinya, "Demi anakku, aku harus berusaha."
Matanya sembari melirik ke dalam rumah, dimana Jongin dan Taeoh sedang bermain di atas sofa ruang tengah yang tembus pada halaman itu karena penuh dengan dinding kaca.
.
.
Warna-warni menakjubkan di Disneyland berputar-putar mengelilingi Taeoh yang sedang dalam gendongan Jongin. Eunhee bertukar pandang dengan Yifan, tau jika mereka pasti sama-sama setuju. Setelah Taeoh lahir, Jongin dan Eunhee belum pernah pergi ke taman bermain. Tidak seperti hari ini, mereka bertekad memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
"Begini saja," usul Eunhee. "Kalian berdua naik, aku akan memotret kalian."
"Tidak!" sahut Jongin. "Aku kan mengajak kesini untuk bersenang-senang bersama, bukan dengan dia!"
Yifan mengernyit ketika jari telunjuk Jongin berada tepat di depan wajahnya. Intimidasi.
"Bagaimana kalau kita duduk disana?" Jongin menunjuk dengan dagunya, sebuah taman yang terletak di dekat komedi putar, "Kita makan disana,"
"Ide bagus, Jongin," gumam Eunhee pelan,
Jongin ingin sesuatu yang mengesankan dan tidak biasa, jadi ia menyiapkan hari ini. Yah, walaupun ia harus terima jika Eunhee mengajak Yifan untuk ikut. Dia bersikeras harus ke Disneyland. Meskipun tak mungkin menaiki semua wahana ekstrem karena Taeoh.
Mereka duduk di kursi kayu yang panjang, Jongin masih berdiri di dekat kursi itu sembari menggendong Taeoh dan menggumamkan kata "Ahjussi" pada Taeoh. Tentu, bayi itu belum bisa berbicara karena umurnya yang baru menginjak 14 bulan, bayi itu hanya tersenyum menganggukkan kepala ketika Jongin mendekatkan wajahnya pada bayi itu.
Eunhee menyiapkan beberapa bento dari rumah, yang berisi sushi dan potongan buah segar. Memberikan satu porsi pada Yifan yang duduk di sebelahnya.
Cuaca bulan Agustus di Jepan sangat panas, dan taman bermain itu ramai dengan anak-anak dan keluarga mereka. Ada keindahan ganjil dalam smua dekorasi di sana, taman yang geometris dan cantik, baling-baling kertas warna warni serasi yang ia lihat ke manapun menoleh
Sambil menunggu Yifan menyelesaikan bento buatannya, dan Jongin menghabiskan waktu dengan menimang Taeoh, Eunhee memotret beberapa detail di Disneyland. Eunhee memperbesar gambar di kameranya pada seorang gadis kecil yang sangat bersemangat, berputar putar mengintari kaki ayahnya yang berdiri tak jauh dari mereka, kepang kecil-kecil rambutnya melayang-layang.
Lalu matanya menangkap Jongin yang sedang berdiri, mengangkat Taeoh yang meronta kegirangan di atas kepalanya, Jongin tertawa lebar melihat reaksi Taeoh. Berulang kali, Jongin memutar kakinya, kemudian menaik turunkan gendongan pada Taeoh. Menciumnya beberapa kali di beberapa titik wajah Taeoh dengan gemas. Hidung Jongin pun sesekali menggesek pada pipi gembul Taeoh, merasakan kulit bayi yang kenyal dan halus.
Ia memotret beberapa pose saudara kembarnya dan anaknya, Eunhee juga mengabadikan moment itu dengan merekam dalam video.
Yifan terperanggah, ketika melihat senyum Jongin yang lepas tak henti ia sunggingkan. Mata itu membentuk bulan sabit, dan deretan giginya terlihat karena tawa Jongin terkadang merekah.
"Lihatlah, ia bahkan seperti seorang ayah," ucap Eunhee pada Yifan,
Yifan mengangguk tanpa sadar,
"Ne. Taeoh sangat mirip denganmu dan Jongin," Yifan melanjutkan, "Kalian benar-benar mirip,"
Eunhee mengangguk setuju tanpa kata, ia menarik pergelangan tangan Yifan untuk bangkit,
"Ayo, kita berfoto," Yifan segera meletakkan kotak bentonya di atas kursi dan mengikuti langkah Eunhee. Perempuan itu mendorong Yifan mendekati Jongin,
"Lihat kesini,"
Ini bukan jenis foto yang ia ambil. Mereka, yang menjadi obyek foto hanya terdiam ketika lensa itu membidik mereka. Ia mengabadikan dua orang lelaki dengan seorang bayi berada dalam salah satu gendongan lelaki berkulit tan. Ekspresi kaget Jongin menggendong Taeoh yang tersenyum lebar, juga Yifan yang wajahnya mengerutkan kening heran.
"Eunhee!" Jongin tersadar, ia berjalan ke arah adiknya, dengan masih menggendong Taeoh yang mengemut jari-jarinya,
"Ini bagus, oppa," ucap Eunhee sembari tersenyum lebar, "Ayo kita foto berempat. Tunggu aku akan meminta bantuan orang lain dulu,"
Setelah seorang perempuan berseragam mengabadikan gambar mereka berempat, lengkap dengan warna-warni, cahaya, dan gerakan-gerakan dari orang disekitar. Mereka mendongak, takjub dengan balon udara yang setiap awal pekannya akan di lepaskan pada jam-jam tertentu, benar-benar takjub dan girang.
.
.
Mereka dalam keheningan ketika berada dalam taksi yang akan membawanya ke rumah Eunhee di puncak tanjakan Kyoto. Taeoh yang tertidur dalam pangkuan Eunhee yang duduk di kursi penumpang, perempuan bersandar pada bahu Jongin itu sesekali memejamkan mata dan terbangun karena merasakan pergerakan anaknya. Jongin tertidur dengan kepala yang menyender di permukaan kursi penumpang, sedangkan Yifan terjaga di kursi penumpang sebelah supir.
Dapat dilihat Yifan dari kaca spion di depan tengah taksi itu, keluarga kecil yang sedang terlelap, seperti tak ada gangguan apapun. Supir taksi terus menyetir mengikuti petunjuk jalan dari GPS. Yifan sesekali lagi bersandar di joknya.
Yifan memperhatikan arah yang dituju taksi itu, sudah melewati tanjakan menuju rumah Eunhee. Dan beberapa saat kemudian, taksi itu terhenti dan supir taksi mematikan GPS dan argo yang sedari tadi berjalan. Setelah membayar beberapa yen, Yifan keluar dari taksi dan membuka pintu belakang kursi penumpang, ia membangunkan Eunhee dengan pelan. Perempuan itu terbangun kemudian dengan cepat keluar dari taksi itu. Sedangkan Jongin, Yifan beberapa kali menepuk pergelangan tangan lelaki itu, namun tak ada pergerakan apapun.
Sang supir sekilas melirik Yifan dan Jonggin dari kaca spion.
"Hey,"
Tidak ada jawaban, ia menarik tubuh Jongin keluar kemudian menggendongnya di punggung. Setelah sebelumnya, ia menutup pintu taksi itu dan mengucapkan kata terimakasih dan maaf pada sang supir.
Lelaki China itu merebahkan tubuh Jongin di kamar yang terletak di dekat kamar Eunhee dan Taeoh. Sedangkan ibu dan anak itu sedang duduk di sofa ruang tengah. Taeoh terbangun dan menangis beberapa kali.
Setelah Yifan menyelimuti tubuh Jongin yang tertidur pulas di atas tempat tidur, ia meninggalkan kamar itu dan berjalan menuju ruang tengah, menghampiri Eunhee dan Taeoh. Ia duduk di sebelah Eunhee, memperhatikan dengan detail bagaimana Eunhee menggoda Taeoh dan membuat anak bertumbuh gembul itu tertawa,
Eunhee menoleh ke arah Yifan, kemudian ia tersenyum. Beberapa saat kemudian Taeoh yang berada dalam gendongannya, di letakkan di atas pangkuan Yifan. Lelaki itu terlonjak kaget, namun ia segera mengubah ekspresi dinginnya dengan senyuman tipis ketika Taeoh berusaha untuk menggapai wajah Yifan dengan kedua tangannya, Yifan menundukkan kepalanya ke arah Taeoh sehingga tangan mungil itu dapat meraba wajahnya. Lama kelamaan, Taeoh memukul kepala Yifan kemudian menjambak rambut Yifan dengan gemas,
"Taeoh," Eunhee berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Taeoh yang menjambak-jambak rambut Yifan, "Yifan-ahjussi akan kesakitan kalau begitu,"
Taeoh menggeleng ketika ia berhasil dilepaskan dari rambut Yifan dan kembali dalam pangkuan ibunya. Bayi itu menangis sesaat setelah Eunhee menimangnya.
.
.
Jongin keluar balkon dengan mengenakan setelan olahraga adidas hitam dan slipper putih untuk menyaksikan bintang. Tanggannya memegang secangkir kopi panas. Sudah lama ia tidak meminum kopi. Ia tak ingin tertidur malam ini. Eunhee dan Taeoh akan berangkat ke New York esok siang, dimana dirinya dan Yifan juga akan bertolak ke Korea setelah penerbangan saudara kembarnya itu. Sebagai ganti mendesah, ia menggerang kecil. Menyesali takdir yang terjadi dalam hidupnya adalah hal yang sering ia lakukan.
Sambil duduk di kursi taman yang ia letakkan di balkon, minum kopi sedikit demi sedikit dan memandang bintang-bintang adalah kegiatan yang melankolis. Jika hari-harinya di Korea terisi dengan Luhan, maka berbeda untuk beberapa hari belakangan yang terus memikirkan Eunhee. Jongin berusaha menginat berbagai hal tentang dunia lama.
Sebuah derap kaki menuju balkon sedikit membuyarkan konsentrasinya, Jongin tidak menoleh ketika sosok pemilik langkah itu berdiri di depannya dengan menyandarkan kedua lengannya ke pagar kayu pembatas balkon.
"Meskipun kalian sama, tapi, tak ada nasib yang sama."
Jongin tidak menjawab perkataan Yifan,
"Kau tau?"
Lama keduanya tidak membuka mulut. Yifan tengelam dalam dunianya sendiri, sedangkan Jongin berusaha menenangkan diri sambil bernapas dalam-dalam. Balkon itu sangat hening. Hanya terdengar samar-samar suara tangisan Taeoh yang sedang di tenangkan oleh Eunhee.
"Tak seharusnya kau terlibat sejauh ini."
"Sama sekali tak masalah," kata Yifan,
"Yeah. Esok saatnya ku kembali ke kehidupan yang tak pernah kuinginkan,"
"Kau hanya tak ingin mencoba,"
"Mencoba?"
"Ya. Seolah kau mengerti semuanya. Alasan dibalik ayahmu melakukan ini semua,"
"Tidak… Tidak. Aku mengerti betul."
"Segala sesuatu memiliki dua sisi," ujar Yifan, "Sisi buruk dan sisi baik. Jangan terus membela diri,"
"Kau sungguh menyebalkan," kata Jongin.
Yifan hanya membisu.
"Berhentilah dari pekerjaan ini," pinta Jongin
Lelaki di hadapan Jongin itu menggeleng, "Tidak. Aku akan berhenti jika ayahmu yang meminta,"
"Kenapa? Kau butuh uang?" tanya Jongin, "Jika kau melakukannya karena uang. Aku akan memberimu uang setiap bulan dengan syarat kau harus berhenti."
Ia merogoh saku celananya, membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa kartu kreditnya. Kartu kartu itu di lemparnya ke wajah Yifan. Jongin menyeringai penuh kemenangan.
Yifan tertawa kecil, "Apa itu yang bisa kau andalkan, Jongin? Uang?"
"Aku memang miskin. Tak sepertimu yang dilahirkan dari kalangan yang berada. Tapi setidaknya aku bisa mencari uang sendiri, dengan jerih payahku. Tak mengandalkan orang tua sepertimu, Jongin"
Jongin geram, matanya memerah.
Ia bangkit dari kursinya dan menyiram lengan Yifan dengan kopi panas. Yifan tak mengaduh, ia hanya terlonjak kaget. Belum lagi, Jongin melepaskan pukulannya tepat ke wajah Yifan yang masih membiru akibat pukulan Jongin beberapa waktu lalu.
Dengan cepat, Yifan menghempaskan tangannya yang basah terkena kopi panas itu kemudian menarik pergelangan tangan Jongin. Ia mendorong Jongin dan memojokkan tubuh yang lebih kecil darinya itu ke jendela tiga langkah dari tempatnya ia berdiri. Kuncian lengannya yang menyilang pada dada Jongin, membuat Jongin tak berkutik. Lelaki China itu menajamkan pandangan pada mata Jongin yang sedang berkedip dan berusaha memalingkan wajahnya.
"Seharusnya kau belajar untuk menghargai orang lain…" suara Yifan tampak dingin, "Kim Jongin."
.
.
.
TO BE CONTINUED
A/N:
Kim Eunhee disini adalah Joo Eunhee -yang belum tau dia, klik link ini :
. /b503bb4682148db5428e3d09e3513b9a/tumblr_mwxy8xfqZx1rsinjto1_
Kemudian, untuk Taeoh, itu sebenarnya anaknya Ricky Kim, mirip sekali dengan Jongin :
. /ea1584e0ab179aa86c9067fce97311b4/tumblr_nd79r8m7kL1s6bbrro1_
Di chapter ini belum di jelasin Taeoh itu anak siapa, mungkin di chapter-chapter depan pelan-pelan akan ketahuan.
Review itu kesadaran sendiri, jadi saya sangat menghormati dan berterimakasih bagi yang sudah menyempatkan REVIEW, FAVORITE, FOLLOW-nya ! :)
Dan saya akan lanjut jika peminatnya banyak.
Terimakasih juga pada;
Putrifibrianti96 – mole13 – aldi . loveydovey – Zeekai – sayakanoicinoe – cute – chokailate – zazaza – nadia – echacheon – guest – cphoet . tlhi – jungdongah – jongin48 – keepbeef chicken chubu – chotaein 816 – driccha – eviaquariusgirl – babywolf jonginnie'kim – rinie . moet – kainieris -
