Laki-laki dan perempuan itu, sejak tadi hanya bertatap muka.
Di malam musim semi kota Konoha yang hangat, rasa-rasanya sungguh aneh hanya bertatap wajah saja, sementara doppio espresso hangat bersama sepiring kudapan hasil tangan seorang pengelola kedai kopi yang tak seberapa besar menunggu untuk dinikmati. Apalagi jika kalian bisa membayangkan bagaimana indahnya bunga pohon sakura yang ditanam tepat di depan kedai itu saat menggugurkan diri ke tanah...benar-benar cocok menjadi setting film bertema romansa yang sering beredar di kalangan awak muda!
Namun tentu saja bukan itu yang membuat sepasang muda-mudi itu tak berkutik dengan aroma berat dua cangkir doppioe espresso yang mengepulkan asap pertanda masih panas; mereka akan berpisah, jika orang lain melihat atmosfer berat di antara mereka. Dan suasana berat itulah, yang menyamai aroma berat kopi mereka.
Dan jika orang lain masih penasaran dengan masalahnya, mungkin masalahnya pun sama sekali tidak berbeda dengan kebanyakan pasangan lain: kurangnya pengertian.
Yah, hal tersebut tak bisa luput dari Yamanaka Ino yang manis dan tegas ini rupanya.
.
.
Kisah Lainnya Dalam Kedai Kopi
{Kali ini, giliran Ino}
.
A Naruto Fanfiction
Disclaimer: Naruto still belongs to Masashi Kishimoto
Warning: fluff (again), typo, gaje, flat storyline, AU, AR, etc!
.
Enjoy
.
.
Hei, musim semi tak selamanya mengartikan sebuah pertemuan. Mereka memang datang, dan kemudian akan pergi. Mood tak pernah terbatas hanya pada sebuah musim...ini pengetahuan baru yang dialami Ino yang tiga tahun yang lalu mengalami euforia berkepanjangan mengenai cinta.
Lebay, bukan?
Ia merasa begitu meledak-ledak; baik hati dan pikirannya, dan itu adalah mengenai perasaan cintanya pada Shimura Sai yang tampan dan baik—itu menurutnya ketika ia pertama kali bertemu di kedai kopi itu.
"Ino, kau ingat awal pertemuan kita?"
Senyum miris mengembang di wajah cantik itu; mana mungkin ia lupa. "Aa," angguknya, sebelum ia melanjutkan, "kita tak pernah begitu merasa senang ketika itu, hm? Bertemu di kelas yang Anko-sensei ajar ketika awal semester di pagi hari jam delapan, mengobrol segera setelah perkuliahan usai untuk memutuskan dimana kita akan meminum doppio espresso hangat di berbagai kedai kopi yang baru-baru ini menjamur di seantero perguruan tinggi Konoha—"
"Dan kedai kopi milik Haku-san ini yang pada akhirnya kita pilih."
Ino tersenyum saat Sai memotong kalimatnya, dan entah bagaimana spontanitas mereka berdua membuat kedua kepala itu tertoleh untuk memberi salam-senyum-dua-jari kepada Haku yang berada di meja bertender, menuai balasan yang sama dari pemuda cantik berambut panjang yang rupanya cukup akrab dengan Ino dan Sakura.
"Ya, kau benar, Sai. Dan setengah tahun kemudian, kau bertanya apa aku berminat menjadi kekasihmu."
Ino kembali menunduk untuk mendengarkan apa yang mungkin akan dikatakan oleh Sai. Tak pelak juga terdengar olehnya hembusan angin lembut dan helai demi helai kelopak yang bernama sama dengan sahabatnya yang jatuh dengan anggun bak seorang putri yang menari dengan indah. Hei, kenapa dia malah mendramatisir keadaan? Mereka mungkin hanya sekedar putus, hanya itu kan?
Yamanaka Ino adalah gadis yang sangat kuat—mental dan fisik! Oke, mungkin soal ketahanan berapa-jam-kau-bisa-lembur-di-tengah-malam dimenangkan dengan telak oleh Sakura, tapi saat ia mendapati gadis berambut merah jambu tersebut diganggu oleh sekawanan gadis yang sepertinya adalah fans berat Sasuke (asal kau tahu, saat itu mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih), Ino dengan serta merta melemparkan ember (beserta isinya yang notabene berupa air dingin) ke arah kawanan itu, mengusir mereka dengan sederetan kata kejam khas Ino dan Sakura pun selamat tanpa pernah diganggu lagi; mission accomplished!
Ino tak hanya selevel dengan seorang Ethan Hunt si agen rahasia dalam film Mission Impossible yang mampu melakukan segala hal itu, tetapi juga seorang perempuan yang bisa bertahan untuk memacari orang yang sama tenarnya dengan Sasuke—
"Ino? Apa kau mendengarku?"
—seperti halnya Shimura Sai.
"Aku...aku mendengarmu!" Ino memandang lurus alis Sai yang berkedut. Meski demikian, ia tetap terlihat tenang; yah, pemuda tampan yang selalu terlihat tampan, tenang, dan baik hati itu kini mengangkat cangkirnya, masih disertai kedutan alisnya yang heran melihat Ino yang melamun.
"Ja-jadi..." Ino bermain-main dengan ujung rambut pirangnya yang menjuntai setelah ia memutuskan untuk mengucirnya ke atas, kuciran kuda khas Ino. "Jadi, Sai...apakah kita akan...putus?"
Sebuah suara batuk.
Lima kali suara batuk, jika dihitung semenit kemudian.
Dan Yamanaka Ino merasa ia salah mengartikan tingkah diam kekasihnya itu.
"G-Gomen, Sai-kun! A-aku ingat kalau aku harus pergi dengan Sakura! J-Jaa ne!"
Kemudian Haku dan Sai hanya bisa menatap heran kepergian seorang gadis berambut pirang dengan wajah merah padam, berlari keluar dari kedai sesegera mungkin.
Oh, jadi mereka bukannya akan berpisah?
.
.
Yamanaka Ino, dengan bodohnya melupakan jadwal Sakura yang kencan dengan kekasihnya setiap hari Minggu—meski faktanya mereka selalu kerkencan setiap mereka bertemu di kedai kopi itu. Dan intinya, Ino pun terpaksa berjalan sendirian di tengah cuaca hangat bulan Mei itu dengan perasaan kacau balau...ah, malu! Jika dinngat tadi, ia pastinya telah menarik kesimpulan sendiri dengan hanya berdasar suasana berat yang Sai bawa. Lagipula, mau apa, sih, pemuda itu sampai-sampai membuatnya salah paham?
Yamanaka Ino penasaran!
"Aaah~! Kalau begini aku tidak akan punya muka bertemu lagi di kampus, dan aku akan salting sendiri saat mengirim e-mail dengan Sai-kun!"
Beberapa orang yang menoleh kaget dengan suaranya yang tiba-tiba dan tingkahnya yang berbicara sendiri, tapi ia tak peduli. Kaki-kaki jenjanngnya berbalik untuk kemudian terhenti mendadak akibat ia melihat sesosok orang yang dikenalinya, yang baru saja (beberapa menit, sebenarnya) tadi di kedai kopi langganan mereka.
Shimura Sai, yang tengah tersenyum padanya dengan (setengahnya geli, sementara setengahnya lagi) tersipu.
Dan sebuah kotak beludru berwarna biru yang tutupnya terbuka berada di tangan kanannya. Kekasih tampannya bersimpuh ala ksatria di cerita dongeng putri-putrian yang Ino pernah baca sewaktu kecil.
.
.
"Yamanaka Ino, maukah kau menikah denganku?"
.
.
Ooh, rupanya si pria tengah mempersiapkan diri untuk melamar kekasihnya.
.
.
.
END
.
.
.
