Kebiasaan yang selalu ada setiap hari Kamis yang selalu gadis itu hafal dan tak pernah bisa diganggu gugat: sebuah kedai dengan bartender yang tersenyum menenangkan dan ia yang menunjukkan arah ke meja yang terletak di sudut kedai paling dalam, dimana pot berisi tanaman sulur-suluran menghiasi jendela dan teralisnya, dan gadis itu akan menemukan segelas coffee latte yang masih mengepulkan asap bersama setangkai bunga mawar berwarna putih dan tulisan permintaan maaf.

Gadis itu paham, bahwa hari Kamis bukan hari baik untuk bertemu akibat kesibukan si pembuat surat itu. Tapi tetap saja hari itu tak terelakkan, dimana ia harus melewati kedai itu untuk mencapai laboratorium praktek yang terpisah dari kampus mereka dan sekaligus menghabiskan setengah jam waktu istirahatnya yang tak tahu hendak diapakan lagi.

Namun Kamis itu berbeda. Ia tahu dari Haku—pengelola kedai yang ia cukup akrab karena kesenangan mereka terhadap musik yang sama—yang entah bagaimana dan kenapa meletakkan sepiring meat cake yang tidak disukainya di meja itu.

Hyuuga Hinata tahu bahwa Kamis itu akan berbeda.


.

.

Kamis itu, di Kedai Kopi

{Setengah Jam Waktu Istirahat Hinata}

.

A Naruto Fanfiction

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: fluff (again & again), typo, AU, AR, gaje, OOC, etc!

.

Enjoy

.

.


"Ada apa ini, Haku-san?"

Pertanyaan itu, tentu saja meluncur begitu saja dari bibir mungil Hinata. Kepalanya tertoleh ke belakang, menatap Haku yang hanya tersenyum penuh rahasia.

"Itu hanya sebuah bonus, Hinata-chan."

"Tapi aku..."

Kata-katanya menggantung begitu saja, memikirkan bagaimana jika ia menolak pemberian orang. Jika saja ia setegas Sakura atau Ino, atau mungkin malah senior mereka yang bernama Temari, mungkin Hinata akan menolaknya halus. Tapi meskipun ia sama sekali tidak menyukai meat cake, ia tak sanggup untuk menolak. 'Mungkin nanti aku bisa memakannya belakangan atau bisa saja kuberikan pada Sakura-chan...ah, benar juga! Sakura-chan pasti kesini karena ia mengambil perkuliahan yang sama denganku!', pikir Hinata sembari menyamankan diri di bangku biasa ia melewatkan setengah jam berharganya untuk menikmati coffee latte-nya. Haku hafal benar dengan jam-jam dimana Hinata datang ke kedai itu dan pesanan apa yang disukainya. Ditambah lagi dengan bunga mawar putih dan surat berisi permintaan maaf yang saat ini digenggam jemari lentiknya tanpa dibuka, Hinata tak pernah merasa marah atau kesal.

'Tak apa, mungkin 'dia' sibuk...'

'Atau mungkin jadwalnya memang padat?'

'Ah, Uchiha Sasuke yang menjadi Pangeran Kampus datang kesini juga meski ia memilih perkuliahan yang sama dengan 'dia'?'

'Mungkin saja Sasuke-san memiliki janji dengan relasi bisnisnya disini karena kudengar dia mulai diserahi beberapa sektor usaha keluarganya yang sangat besar itu...'

Berbagai pikiran menghiasi benak gadis bersurai indigo yang masih saja menyesap kopinya dengan tenang. Yah, tak mungkin semua orang tidak memiliki urusannya masing-masing, bukan? Dan Hinata yang paling mengerti hal itu. Dia pun memiliki kesibukan mengurus dojo Ayahnya yang baru-baru ini diwarisinya, meski sang Ayah tahu bagaimana sibuknya dia dengan perkuliahannya yang sebentar lagi selesai, dan dia bisa lulus dengan gemilang di kampus yang dipilihnya, sesuai dengan ekspetasi keluarganya.

Hah!

Hinata tergagap dari lamunannya, buru-buru melihat jam tangannya dimana menyatakan setengah jam waktu istirahatnya sudah usai. Rasanya tak ingin pergi dari sini, ditambah lagi dengan angin semilir musim gugur saat ini...

Tapi tunggu, bagaimana dengan meat cake yang masih belum tersentuh di depannya? Apa dia harus membawanya ke laboratorium? Lagipula Sakura sama sekali belum datang meski setengah jam sudah berlalu dan tidak mungkin pula dia memberikannya pada Sasuke-san yang tidak dikenalnya. Jika ia membiarkannya begitu saja, kasihan Haku yang susah payah membuatkannya untuknya...

Nah, sekarang Hinata bingung dengan pikirannya sendiri akibat meat cake yang tidak berdosa ini.

"E-Eh, Haku-san...b-boleh kue ini dibungkus saja?"

.

.

Hujan! Hujan deras!

Segera turun begitu kaki-kaki jenjang Hinata melangkah lebar keluar laboratorium. Jika ia pulang saat itu juga, mungkin dia akan basah kuyup dan Neji akan memarahinya habis-habisan karena tidak meneleponnya alih-alih berjalan di tengah hujan. Meski begitu Hinata tak ingin merepotkan Neji! Pantang baginya untuk mengganggu kakaknya yang sudah sibuk itu hanya untuk menjemputnya.

Mungkin pilihan kedua lebih baik: mampir ke kedai kopi yang dikelola Haku.

"Ya ampun, Hinata-chan! Kau basah kuyup!"

Haku terlihat sekali terkejut melihat Hinata berdiri di depan pintu kedainya dengan nafas ngos-ngosan. Pemuda itu dengan cekatan mengambil handuk kering dan menyampirkannya ke kepala Hinata. Untunglah pada jam segini tak ada pengunjung di kedai ini, pikir Hinata lega. Jika saja ada pengunjung, atau mungkin malah 'dia' sendiri yang berada disini, pasti Hinata akan sangat-sangat-sangat-dan-sangaaaaaattt malu.

Mungkin saja dia akan segera berbalik pulang dan lebih terima dimarahi Neji akibat berbasah kuyup ketimbang dilihat 'dia' dengan penampilan berantakan begini!

"Nah, rambutku sudah lumayan kering, Hinata-chan."

"Aa! Te-terima kasih, Haku-san..."

Hinata dengan teburu-buru melangkah menuju mejanya yang biasa, dan dengan segera pula memekik kecil kala matanya mendapati sesosok pemuda yang sudah terlebih dahulu menikmati meat cake yang sama dengan yang dibawakan Haku tadi siang.

"N-Naruto-kun!"

"...Oh! Hinata-chan...?"

Senyum penuh rahasia Haku kembali tersungging, dan dengan perlahan, sosoknya mundur kembali menuju meja bartender, menggeleng kecil penuh pemakluman.

Indahnya masa muda.

.

.

Seharusnya Hinata memang tahu kalau Kamis ini bukan Kamis yang biasa. Seharusnya Hinata tahu mengenai meat cake yang biasa Naruto pesan saat ia berkencan dengan Hinata dan mereka memutuskan makan. Seharusnya Hinata menunggu lebih lama, jika ternyata Naruto saat itu akan datang ke kedai itu, dan Hinata bisa saja membolos praktek untuk sekali ini saja, dan ia tak akan kehujanan hingga membuat Haku dan Naruto khawatir.

Tidak, lebih dari itu. Seharusnya Hinata membaca isi surat yang tadi ia bawa-bawa, yang ternyata menyatakan tentang Naruto yang akan datang sebentar lagi alih-alih berisi permintaan maaf seperti biasa, dan bukannya malah membuangnya begitu saja ke tempat sampah, kemudian memasukkan bunga mawar putih itu ke tasnya begitu saja. Seharusnya Hinata lebih teliti lagi!

Seharusnya Hinata tahu, Kamis itu akan berbeda.

"Hei, sudahlah! Sekali-kali kita seperti ini juga tidak apa-apa, Hinata-chan!"

"T-tapi, Naruto-kun, pe-penampilanku berantakan begini..."

"Lagipula, kalau tidak begini, aku tidak bisa melihat sosokmu yang sedang malu setengah mati," cengiran muncul di wajah kekasih-tiga-bulannya itu, "kau terlihat sangat manis lho, Hinata-chan!"

"N-Naruto-kun!"

Haku tersenyum dari meja bartendernya yang jaraknya tak jauh dari meja dimana Hinata dan Naruto bercakap-cakap riang, kemudian mengedikkan bahu dan kembali melanjutkan kegiatannya mengelap gelas.


.

.

Setengah tahun yang lalu, ia melihat pertemuan onyx dan emerald yang saling jatuh cinta. Kemudian tiga bulan setelah kejadian itu, ia melihat kesalah-pahaman sepasang kekasih yang ternyata berujung sebuah lamaran, dan kali ini dia melihat sendiri betapa lovey-dovey pasangan indigo dan blonde ini.

Haku tersenyum lebar.

Bagaimana jika dia mulai memutuskan nama kedainya dan menyebarkan mitos mengenai kisah cinta mereka bertiga?

Atau mungkin akan ada lagi kisah semacam ini ke depannya?

Well, apapun itu, terjadilah.


.

.

END

.

.

.


Author Note:

terima kasih sebesar-besarnya kepada para reader dan :

Hairo-Azurro-Brown, maafkan saya yang tidak bisa berbahasa perancis dengan baik, karenanya saya menebusnya dengan chapter ketiga ini, saya mencantumkan status 'complete' sebagai berjaga-jaga apabila saya sudah benar-benar tidak memiliki ide untuk meneruskannya atau menghentikan sampai sini saja. Selamat membaca dan terima kasih atas segala penyemangatnya!

Aruzakira, maafkan pula segala macam 'ah' dan typo, dan selamat menikmati chapter ketiga ini. Saya tidak tahu apakah saya akan meneruskannya lagi atau tidak, dan terima kasih atas reviewnya!

dan Dijah-hime, terima kasih reviewnya dan selamat menikmati chapter ketiga ini!

cueekujana. argo, jawaban Sakura tergantung imajinasi dan ekspetasi masing-masing, apakah kamu menginginkan mereka happy ending atau sad ending? Dan tak luput dari terima kasih untuk reviewnya!

Orchidflen, terima kasih atas fave dan reviewnya, selamat menikmati chapter ketiga ini dan maafkan saya tidak bisa menjanjikan apakah akan diteruskan atau berhenti di chapter ini, happy reading!