Peralihan musim panas ke musim gugur ini benar-benar mengganggu Tenten. Bagaimana tidak? Ketika akhirnya ia bisa berjanji untuk menonton film terbaru di bioskop bersama—ehem—Neji setelah melalui berbagai macam 'jual mahal' dan kesibukan lain sebagainya, hujan malah tanpa ampun menghantam setengah hari libur yang sangat berharga-nya dan menyisakan jalanan becek untuk dilewati (jangan lupakan angin dingin yang berhembus kencang dan membuat orang-orang enggan keluar dari selimutnya). Kemudian jika ia memutuskan merampungkan tugas-tugas kuliahnya yang bejibun, cuaca malah panas seharian penuh dan membuatnya gagal berkonsentrasi, memberi efek lain untuk memaksa dirinya sendiri mencari tempat berteduh—karena di rumahnya sekalipun, AC adalah sebuah hal yang langka—sepeti halnya di kedai kopi yang sering dikunjunginya bersama Ino atau Hinata.
Sebenarnya ia sering berkunjung juga dengan Sakura, tapi sejak pangeran berkuda putih terkenal di kampus—siapa namanya? Oh, iya, Uchiha sasuke—menjadikannya pacar hanya dengan melakukan pendekatan selama semenit disertai kejahilan-kejahilan Itachi-senpai (Tenten mendengar ceritanya dari Ino yang selalu up-to-date dengan gosip itu), jadilah Tenten lebih sering melewatkan waktu minum kopinya dengan Ino dan Hinata. Yah, intinya kedai itu adalah langganannya di saat ia bersama teman-temannya atau saat cuaca sepanas hari ini.
Dan ia selalu memilih duduk di kursi luar, yang memungkinkannya menatap langsung para pejalan kaki yang berlalu lalang. Toh, cuaca hari ini disertai dengan angin yang berhembus menyejukkan. Tak ada salahnya menghirup secangkir capuccino sebagai temannya dalam menatap netbook-nya dan menyelesaikan tugas seperti saat ini, bukan?
.
.
Sedikit Esspresologist untuk Tenten
[Extended Ending]
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning: typo(s), flat storyline, fluffy, OOC, AU, etc!
.
Enjoy
.
.
Tenten tahu jika sama sekali tidak tepat memesan cappucino di saat ia duduk di luar seperti sekarang, karena pasti isinya akan mendingin dalam sekejap, menyisakan Tenten yang memberengut kesal dan menyesap sisa cangkirnya sembari menggerutu di depan cangkir yang tidak berdosa itu sebelum kemudian—
"Tenten-chan, di bibirmu masih ada foam yang tersisa."
—Haku keluar dari meja baristanya untuk memberesi cangkir-cangkir di meja luar sembari menegurnya untuk menghapus foam sisa di bibirnya, dan selalu disertai tawa kecil. tenten yang masih berkonsentrasi dengan netbook-nya kali ini hanya mengangguk saja, alih-alih ikut tertawa dan baru menyadari mengenai sisa foam di wajahnya. Yah, bukan salahnya, kan, jika ia terlalu malas untuk mengurusi sekedar foam yang tersisa sementara tugas di depan matanya seolah tengah menuntutnya habis-habisan?
Salahkan Orochimaru-sensei yang memberinya tambahan tugas kuliah akibat kelalaiannya dalam memenuhi absensi kelas...oh, sebenarnya bukan salah Tenten juga, toh Orochimaru-sensei sendiri terlalu sering meniadakan perkuliahan sehingga Tenten terlalu malas untuk bertanya setiap minggunya, dan ketika ia tidak masuk kuliah, ternyata Sensei nyentriknya itu malah mengadakan kuis dadakan.
Salahkan juga Sakura dan Hinata yang satu perkuliahan dengannya, yang malah lupa mengabarinya.
Salahkan ponselnya juga yang terlalu sering mati setelah sebulan sebelumnya (tak sengaja) dijatuhkannya dari lantai dua.
Oh, betapa kejamnya dunia bagi Tenten.
Menghela napas dalam-dalam, gadis bercepol dua itu berhenti mengetik sesaat dan memandangi jalanan di depannya yang tak terlalu ramai. Pikirannya mulai berkelana, mengandai-andaikan berbagai hal yang belakangan ini membuatnya kesal...seperti ia yang mengandaikan jika Neji tiba-tiba saja lewat di depannya dan menengok dengan wajah geli akibat Tenten yang lesu... atau jika Sakura lewat di depannya, SENDIRIAN tanpa ditemani Pangeran Uchiha itu, dan Tenten akan senang hati menggeretnya untuk membantu menyelesaikan tugasnya... atau jika Sai—pacar Ino—yang baik itu lewat dengan senyum anehnya dan dengan senang hati memberinya catatan komplit dengan kamus dan segala tetek bengek perkuliahan yang selalu saja rajin dicatatnya...
Tapi mana mungkin itu terjadi. Sekarang saja kampus sedang libur dan tidak mungkin ketiga orang itu lewat begitu saja.
Yah, mungkin Tenten akan mengobrol dengan Haku saja di dalam sembari memesan lagi secangkir cappucino.
.
.
Masih dengan netbook yang menyala dan Tenten yang menunggu pesanannya selesai, tiba-tiba saja Barista cantik itu mengajaknya mengobrol mengenai satu topik yang membuat Tenten mengernyit heran.
"Kopi berdasar kepribadian orang?" ulang gadis itu, dan Haku mengangguk pelan. Diletakkannya capuccino Tenten yang baru selesai dibuatnya, sementara ia tahu bahwa pelanggannya yang satu ini menuntut penjelasan—Haku bisa melihat dari tatapan matanya yang menyala-nyala penasaran. Sungguh gadis yang memiliki rasa antusias yang bagus, pikir Haku.
"Ya, jika menurut beberapa ahli, kau bisa menebak kepribadian seseorang dari kopi yang mereka minum. Misalnya, Tenten-chan," alis Tenten terangkat mendapati Haku yang menoleh padanya dengan senyum penuh rahasia, "kau suka dengan ketelitian, bukan? Yah, meski begitu, Tenten-chan adalah orang yang kreatif dan artistik, dan Tenten-chan juga berbeda dengan Ino-chan yang selalu mengikuti perkembangan tren. Yah, Tenten-chan bukan orang yang introvert dan pendiam, tapi juga—"
"Haku-san, bagaimana kau bisa menebak setepat itu?"
Haku tersenyum saja meski kalimatnya dipotong oleh Tenten yang sudah kelewat antusias. Ia hanya mengacungkan jari di depan bibirnya sebagai gestur 'rahasia' yang menuai cemberut pelanggan manisnya, kemudian kembali bekerja sebelum 'si-tukang-penasaran' Tenten menatapnya lekat-lekat.
"Ada apa, Tenten-chan?"
"Anoo... Haku-san, jika kau bisa menebak orang melalui kopi yang mereka pesan—"
"Kepribadian orang."
"Apapun itu, kau bisa menebak orang, kan? Bagaimana dengan N-Neji?"
Senyum Haku mengembang. Wah, wah, rupanya ada seseorang yang sedang cemas dengan hubungannya meskipun ia terlihat begitu easy-going?
"Kau tahu, Haku-san..." perlahan, volume suara Tenten merendah, seolah gadis itu sedang bicara satu hal yang sangat rahasia padanya, "Neji tidak pernah menanyakan hal-hal yang biasa Sasuke dan Sai tanyakan pada Sakura dan Ino, meski sifat mereka sama. Neji juga tidak pernah acuh dengan batalnya janji kami, atau meminta bertemu...meski aku juga mengerti, sih. Aku dan dia sama-sama sibuk, dan kami bahkan harus bersabar—atau mungkin aku saja yang bersabar—untuk satu kali pertemuan dalam sebulan ini...dan itu pun batal karena hujan tidak tahu diri ini..." Tenten memandangi dengan kesal rintik-rintik hujan yang mulai turun di luar kedai sana, dan melanjutkan curhat-nya lagi, "dan aku jadi resah...apa sebenarnya hanya aku saja yang ingin bertemu?"
Hening sejenak dengan jeda 'iklan' berupa rintik hujan yang bertambah deras.
Dan haku menjawab dengan kalimat, "Kau tahu tenten-chan? Neji selalu memesan espresso saat berada disini. Double espresso. Orang yang praktis dan pekerja keras...dan moody."
"Ba-bagaimana bisa tahu?"
"Oh, dan dia selalu tahu bagaimana mendapat sesuatu yang diinginkannya, Tenten-chan."
Tenten mengernyit, hendak menanyakan apa maksud Haku ketika pintu kedai terbuka dan menampilkan sesosok pemuda berambut panjang yang tengah basah kuyup dan lelah.
"Haku-san, bisa aku pinjam handuk kering? Dan aku pesan double espresso seperti biasa dan—Tenten? Ternyata kau sedang kemari? Aku...mencarimu di rumah dan kampus seharian ini..."
Uh-oh. Tenten merasa ada sebuah senyuman lebar di belakangnya setelah ia menoleh dan mendapati Hyuuga Neji menatapnya dengan penuh kelegaan.
.
.
"Ne-Neji?"
"Hm?"
"Apa ada urusan mendesak sampai-sampai kau mencariku seharian ini? Apa kau punya sesuatu yang ingin kau utarakan...padaku?"
"Oh, itu. Aku hanya ingin bertemu denganmu."
Sebuah kernyitan kembali menggelayut di alis Tenten.
"Hanya itu?"
"Hm, kenapa? Aku ingin bertemu denganmu setelah seharian bekerja keras mengurusi dojo-ku. Tidak boleh?"
"Tentu saja boleh! Hanya saja...kau kan bisa...meneleponku dulu?"
"Tidak penting. Aku lebih suka mencarimu ketimbang membuatmu menunggu."
Pipi merona menghias.
Sebuah senyuman penuh arti mengembang.
"Dasar Neji bodoh."
"Hei, meski begitu kau mencintaiku, kan?"
.
.
Sepertinya Hyuuga Neji memang tahu bagaimana cara mendapat hati Tenten yang sulit dan suka resah itu.
Bagaimana menurutmu?
.
.
.
END
[Thank you for reading and review!]
