Bread
.Kaihun.
T
©EXOolfeu
Ini senin pagi pertama dibulan Februari, dan seperti hari-hari sebelumnya dimana teriakan dari segala penjuru meramaikan ruangan bernuansa klasik milik keluarga Oh. Kris yang terus mengolok adiknya, dan Sehun yang terus merengek antara merindukan susu dan kesal dengan ledekan si brengsek Kris.
Sehun masih mengenakan kaos oblong—Mamanya sempat bingung kenapa semua baju marsupilami Sehun ada di tong sampah—padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
"Sehun cepet mandi sana! Kamu tuh baunya ngalahin sampah didepan rumah." Lalu acara ngambek versi Sehun pun dimulai. Mogok makan, mogok minum susu, mogok bicara, dan kawan-kawan semogoknya.
"Pokoknya aku ngambek! Mama gausah ngomong sama aku! Papa juga! Uang jajan aku bulan ini mana? Kesiniin!"
Duh, lucunyaaaaaaa. –batin mama sehun.
"Ngambek kok masih minta uang jajan."
"BODO! JANGAN KETAWA YA KALIAN, AKU DENGER!" Jeritan dari depan pagar pun nyaut.
Tadinya Sehun kesal setengah mati. Gara-gara ini Sehun jadi tidak makan. Istirahat nanti ia akan membombardir kantin bersama Baekhyun dan Chanyeol. Matanya fokus keluar jendela mobil saat sosok hitam—maksudnya sosok yang berbaju serba hitam. Mantel hitam tebal, jeans hitam, ransel hitam, sepatu hitam, rambutnya saja, sih, yang coklat tua—sepertinya ia kenal. Tapi siapa, ya.
AH JONGIN!
Astaga bagaimana ini apa dia harus turun dan menawarkan tumpangan? –ewh hell no.
Atau sapa saja. 'Hai Jongin, selamat pagi ya.' –Fuck, NO! Lo aja sana sama nenek lo yang jalannya mundur.
Lalu Sehun berakhir dengan hanya memperhatikan bagaimana sosok itu menggosokkan telapak tangannya. Kenapa dia jalan kaki, memangnya apa guna mobil dirumah. Anggap saja sehun kejam karena membiarkan dia menggigil.
Sehun turun dari mobil dan buru-buru masuk kedalam sekolah saat jam menunjukkan beberapa menit lagi bel berbunyi. Dan terimakasih atas dewi fort— ah, terimakasih untuk Supir Han yang terbaik.
Ya beginilah kondisi kelas, ramai. Entah ini kelas atau Sehun salah masuk ke pasar malam. Berisik dari ujung ke ujung. Malas berkomentar, Sehun duduk dibangkunya, menempelkan pipi ke meja. Ah, lapar.
Sehun jadi berpikir kemana Jongin akan pergi sepagi itu. Jangan-jangan dia kuliah. Wah, keren sekali. Omong-omong tubuhnya semakin menakjubkan dari hari ke hari. Lupakan saja fakta bahwa ia baru kenal Jongin kemarin siang.
AH SIAL KEMARIN SIANG—
Lalu Sehun ingin tenggelam di dasar rawa-rawa saat mengingat peristiwa mimisan. Itu adalah yang paling tidak keren selama ia hidup.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi paaaaaaaak."
"Hari ini ada murid baru. Silahkan, masuklah dan perkenalkan diri."
Lalu Sehun ingin mimisan untuk yang kedua kalinya. Kali ini perutnya ikut melilit juga. Mungkin efek lapar—
"Saya Kim Jongin, pindahan dari Jepang. Mohon bantuannya, ya."
Tatapan mereka bertemu. Sehun kaku ditempat dan Jongin senyum manis didepan sana. Sehun semakin pening saat Jongin berjalan kearahnya—ke arah bangku yang kebetulan dibelakangnya—lalu berhenti sebentar dan mengacak lembut surai berantakan Sehun.
Kita bertemu lagi.
Singkat. Padat. Jelas. Dan masuk langsung ke dalam hati kecil Sehun. Jatuh cinta ternyata sebegini mendebarkan. Belum lagi kelas yang semakin heboh. Bunyi siulan dimana-mana. Dasar norak!
"Diam, semuanya diam!" Riuh mulai hilang setelah gebrakan meja yang ketiga dari Pak Guru yang menggeleng-gelengkan kepala didepan sana. Sehun mendapati dirinya menahan diri untuk tidak memutar tubuhnya kebelakang dan menggilai Kim Jongin.
Terkutuklah kau Kim Jongin sialan.
"Ketua kelas, kumpulkan tugas yang saya berikan kemarin."
Dengan itu Sehun sadar posisinya diujung maut. Tasnya kosong. Tidak ada buku tugas bersampul merah didalam sana. Hanya ada beberapa buku kosong dan sialannya itu sama sekali tidak membantu. Serahkan dirimu Oh Sehun.
Sehun berakhir dengan diusir setelah melayangkan rayuan maut serta penjelasan panjang kali lebar yang tidak ada gunanya. Sialan, tahu seperti itu lebih baik tadi ia tendang saja wajahnya.
"Pak," Jongin mengangkat tangannya. "Saya juga tidak mengerjakan tugas."
"Ah, tidak apa. Kamu kan anak baru jad—"
"Gapapa, pak. Saya dihukum gapapa, kok. Biar—
—bisa nemenin Sehun.
"—Adil. Iya, biar adil. Hehehe."
Semua yang dikelas terbengong.
"L-loh, Jongin?"
"Kenapa gak bawa buku tugas?" Jongin berdiri dengan lutut dan menaikka kedua tangannya. Sekali lagi tersenyum ke arah Sehun. Dengan manis. Amat manis. Sehun khawatir diabetes setelah ini.
"—lupa. Lo kenapa keluar? Kan lo anak baru. Masa Pak Gong tega ngusir lo dari kelasnya. Gak berperikemanusiaan banget itu orang. Dasar botak biadab."
Jongin tertawa pelan, "Ini pertama kalinya lo ngomong panjang lebar didepan gue. Gue keluar buat nemenin lo. Abis kasian kalo dihukum sendirian."
Duh, Sehun jadi salah tingkah, kan.
"HAHAHAHHAHA. Lo laper?"
'Ah monyet. Ini perut pake bunyi pula.' Batin Sehun ngenes.
"E-enggak kok. Gue gak laper."
"Bohong banget. Nih gue ada roti." Jongin buru-buru menelanjangi roti bulat pipih itu dan memasukkan kedalam mulut Sehun. Lagi-lagi Sehun dibuat salah tingkah. Jongin itu emang sialan, ya.
Kruyuk
Sehun sebenarnya ingin tertawa kencang. Sayang saja roti ini menyumpal mulutnya. Perut jongin bunyi kencang sekali. Jongin tertawa pelan—lagi, mungkin ini gayanya—lalu mendekatkan diri dan menggigit roti dibibir Sehun. Dengan hidung yang saling menempel satu sama lain. Dengan mata yang saling menatap dalam. Dengan wajah yang hanya berjarak beberapa senti.
.
.
.
Dear Hundiary,
Bread make me can't breath.
Oh Sehun.
.
.
.
Maaf ya telat beberapa jam ngepostnya. Gue baru pulang astaga sibuk banget gue gila /yaterus/ btw ada yang saran kenapa Kaihun-nya gak pake aku-kamu. Gue pribadi sih agak kurang srek mereka manggil aku-kamu padahal baru kenal. Seruan pake lo-gue muehehehe. Tapi nanti pas jadian mereka pake aku-kamu kok tenang aja.
Yang bilang alurnya kecepetan ini udah agak gue lambatin. Masih kecepetan gak? Kalo iya bilang yaaaa. Biar gue perbaiki lagi.
Yang minta lebih panjang ini udah gue panjangin. Yang bilang kurang cheesy, ini gimana? Masih kurangkah?
Terimakasih atas kritik dan sarannya. Yang punya ide boleh kok pm atau tulis aja di review. Kasih ide benda apa gitu nanti gue kembangin jadi cerita. See you tomorrow!
