Chapter 2
"Kau sudah menyelesaikan tugas makalahmu?" Lelaki berkulit tan itu menyampirkan lengannya di pundak Chanyeol.
"Oh, hai Kai. Belum, kau?" Tanya Chanyeol balik, sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel.
"Kau bercanda, tentu saja sudah." Jawab Kai dengan nada mencemooh.
Chanyeol menghentikan aktivitas membereskan bukunya dan berbalik menghadap Kai. Chanyeol menatap lelaki yang lebih pendek daripadanya itu dengan tatapan kau-pasti-membohongiku.
"Oh, ayolah. Apa itu sesuatu yang aneh, saat seorang Kim Jongin menyelesaikan tugasnya dengan cepat?" Kai bertingkah pura-pura tersinggung.
"Well, sebenarnya itu lebih dari sekedar aneh. Kim Jongin yang itu, Kim Jongin yang tidak pernah mengerjakan tugasnya, Kim Jongin yang selalu menghiasi kasus pelanggaran sekolah, Kim Jongin si Playboy, mengerjakan tugas makalah hanya dalam waktu 3 hari setelah diberikan. Itu bukan aneh namanya, itu mustahil." Chanyeol memutar bola matanya kearah sahabatnya itu.
"Aku mengerjakan tugasku, walaupun memang tidak selalu. Dan aku tidak playboy, kau yang playboy," Kai memamerkan smirk khasnya pada Chanyeol.
Sekali lagi Chanyeol memutar bola matanya. "Kau menyalinnya, bukan mengerjakannya. Sejak kapan aku yang tidak pernah pacaran ini seorang playboy?"
Kai hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Chanyeol. Dia berjalan keluar kelas dan Chanyeol mengikuti dari belakang.
"Beritahu aku, bagaimana makalahmu bisa selesai dalam 3 hari?" Chanyeol bertanya lagi, saat mereka sudah hampir mencapai gerbang sekolah.
"Kau kenal dengan Do Kyungsoo?" Ekspresi Kai mendadak berubah serius.
"Kyungsoo? Anak kelas akhir yang bermata bulat seperti burung hantu? Murid teladan kesayangan guru-guru?" Tanya Chanyeol dengan nada tanya, apa hubungan semua ini dengan Do Kyungsoo.
"Ya, Do Kyungsoo yang itu. Aku menyukainya,"
Chanyeol terdiam, mendadak dia berhenti berjalan. Kai yang baru menyadari Chanyeol berhenti setelah beberapa saat, berjalan kembali kearah Chanyeol.
"Apakah itu mengejutkan bagimu? Aku sudah menyukainya sejak 3 tahun yang lalu." Kata Kai dengan nada enteng.
Ini mengejutkan, ternyata Kai yang seorang troublemaker meyukai Kyungsoo yang seorang murid teladan.
Chanyeol menepuk punggung Kai keras. "Itu diluar perkiraanku Kai. Tapi sepertinya dia membawa dampak yang baik bagimu, jadi dia yang membuatmu mengerjakan makalahmu? Apa hubungannya dengan makalahmu?"
"Ehm… dia yang membantuku mengerjakannya," Kai yang tersipu benar-benar bukan sesuatu yang menarik untuk dilihat. "Sebenarnya, rumahku dan rumahnya bersebelahan dan bisa dibilang kami adalah teman sejak kecil. Dulu aku hanya menganggapnya teman, hingga 3 tahun yang lalu aku begitu. Dan membuat makalah merupakan alasan yang masuk akal kan untuk menemuinya?"
Sekarang itu masuk akal.
"Semoga beruntung kalau begitu. Sampai jumpa besok," Chanyeol berjalan menginggalkan Kai, karena rumah mereka memang tidak searah.
"Chanyeollll…."
Chanyeol menoleh kearah suara itu. "Oh, hai Baek."
Baekhyun berlari kearah Chanyeol secepat yang bisa dia lakukan. "Kau berencana meninggalkanku lagi?" Tanyanya sambil mempoutkan bibirnya.
"Kukira kau ada rapat OSIS atau semacamnya." Chanyeol mencoba beralasan, sebenarnya dia belum juga terbiasa dengan kehadiran lelaki mungil itu di dalam hidupnya.
"Tidak mungkin ada rapat setiap hari kan?" Baekhyun mendesah pelan. "Aku tau, kau tidak suka aku berada di dekatmu, iyakan?"
Menatap puppy eyes –atau lebih tepat disebut kitten eyes– yang diberikan Baekhyun, Chanyeol hanya mampu menelan ludahnya dengan susah payah. Bukannya dia tidak suka, tapi dia hanya merasa tidak terbiasa.
"Yang penting aku tidak meninggalkanmu kan? Ayolah, kita pulang sekarang." Chanyeol menghindar dari keharusan menjawab pertanyaan itu.
Saat ini Baekhyun tinggal di rumah Chanyeol. Kebetulan rumah Chanyeol lebih dari cukup untuk menampung 2 orang. Jadi ini berawal dari saat Chanyeol mengetahui bahwa Baekhyun adalah kucing yang dipungutnya.
"Kau yang membawaku masuk. Namaku Byun Baekhyun."
Chanyeol menatapnya dengan mata membulat tak percaya. "Aku? Aku yang membawamu masuk? Tapi kapan, aku tidak merasa pernah membawa orang masuk ke rumahku. Itu tidak mungk.." Chanyeol berhenti berbicara saat mendadak dia mengingat sesuatu.
"Jangan bilang kau adalah kucing yang kupungut kemarin, karena itu akan sangat tidak masuk akal." Chanyeol menatap curiga lelaki bernama Baekhyun itu.
"Tapi memang itulah kenyataannya," Baekhyun menjawabnya dengan tenang.
"Tidak, tidak mungkin. Kau pasti menipuku."
"Mengapa aku harus menipumu?" Tanya baekhyun dengan bingung. "Aku akan membuktikannya."
Baekhyun memejamkan matanya dan memfokuskan pikirannya. Telinga kucing berbulu putih medadak muncul diatas kepalanya, diantara rambut berwarna coklat kemerahan Baekhyun.
Dan Chanyeol benar-benar menjerit dan melompat menjauhi Baekhyun dengan cepat. Dia pasti bermimpi, ini tidak mungkin sungguhan.
Chanyeol mencubiti lengannya dengan keras. Chanyeol meringis pelan, sakit, berarti ini bukan mimpi.
Chanyeol berusaha mengendalikan rasa takutnya. "Siapa kau? Dan apa maumu?"
Baekhyun menelengkan kepalanya, "aku lumayan terkejut kau tidak mengenaliku, tapi yasudahlah. Aku teman kecilmu, Byun Baekhyun. Orangtua kita saling kenal dan bahkan berteman baik, nuna-mu bahkan menikahi hyung-ku. Jadi bisa dibilang kita keluarga?"
Chanyeol bertambah bingung, apa maksudnya ini. Dia tidak tau kalau keluarga Byun memiliki 2 orang putra. Yang dia tau adalah, Byun Baekbeom memiliki seorang adik perempuan.
"Dan kau adalah mate-ku, pasanganku."
Chanyeol langsung batuk-batuk mendengarkan pernyataan Baekhyun. Mate? Pasangan? Apa-apaan ini?
"Sepertinya kau benar-benar tidak tau, mungkin kau memang belum mencapai waktumu." Baekhyun mengangguk-angguk seakan menyetujui perkataannya sendiri.
"Tolong jelaskan dengan perlahan padaku, kau membuat seakan-akan aku sudah gila," Chanyeol merasakan pusing dengan semua penjelasan yang diberikan Baekhyun.
"Baiklah, aku akan menjelaskannya. Tapi mungkin lebih baik kau duduk dulu dan aku akan membawakan air untukmu, karena kau terlihat seperti akan pingsan dalam waktu dekat."
Chanyeol duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Dia memijit pelan kepalanya yang terasa benar-benar pusing. Orang dengan telinga kucing bukan suatu hal yang normal ditemui kan?
Baekhyun datang membawakan segelas air untuk Chanyeol. "Minumlah."
Chanyeol meminum air itu dan lumayan berhasil mengurangi pusingnya. "Ehm.. Baekhyun," Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan bertanya. "Mungkin sebaiknya kau hilangkan lagi telinga kucingmu itu."
"Oh, baiklah." Dan telinga itu langsung menghilang.
"Terima kasih, itu lebih baik. Sekarang tolong jelaskan semuanya padaku."
"Baiklah, ini akan menjadi cerita yang panjang," Baekhyun memamerkan senyuman terbaiknya. "Aku adalah anak kedua dari keluarga Byun, tapi bisa dibilang aku tidak terlalu dianggap oleh keluargaku. Jadi mungkin kau hanya tau 2 anak dari keluarga Byun, hyung-ku dan yeodongsaeng-ku."
"Appa dan Eomma-ku menganggapku tidak cukup mampu untuk menanggung nama Byun, jadi kau taulah," Baekhyun tersenyum lemah. "Aku adalah Shifter yang mengambil bentuk kucing, mengikuti Eomma-ku."
"Shifter terbagi menjadi 4 golongan. Golongan Alpha atau pemimpin, golongan beta yang merupakan pasangan dari Alpha maupun Omega, Omega yang biasanya memiliki tugas sebagai petarung dan golongan Non-shifter yang merupakan keturunan shifter tapi tidak memiliki kemampuan untuk berubah."
"Aku adalah golongan Beta, dan kebetulan aku adalah Alpha-Beta. Jadi aku memiliki kedudukan paling tinggi diantara para Beta, seperti pemimpin para Beta. Dan ada juga Alpha-Alpha dan Alpha-Omega. Di Seoul, terdapat dua kelompok besar, kelompok Selatan dan kelompok Utara. Seperti namanya kelompok Utara menguasai Seoul bagian Utara, dan kelompok Selatan menguasai Seoul bagian Selatan. Dulu kedua kelompok ini berselisih, tapi sekarang sudah tidak lagi, jadi golongan Omega tidak bisa disebut golongan petarung lagi sebenarnya. Aku sendiri termasuk dalam kelompok Selatan."
"Sebenarnya di jaman sekarang, para shifter sudah tidak berselisih satu sama lain lagi. Tapi terkadang perlu pemimpin agar semuanya teratur dan itulah tugas dari Alpha. Bahkan sebenarnya dalam kelompok Selatan terdapat kelompok-kelompok kecil juga, biasanya lebih pada garis keturunan. Jadi satu keluarga memiliki satu Alpha, yang bertugas memimpin keluarga itu dan menghadiri rapat para Alpha. Selain itu terdapat juga Alpha-Alpha yang menguasai seluruh kelompok, biasanya hanya satu dalam kelompok."
Chanyeol tercengang mendengar cerita Baekhyun, seperti dongeng saja. "Kalau begitu, apa hubungannya denganku?"
"Kalau tidak salah kau adalah keturunan Alpha yang mengambil bentuk serigala, jadi ini sangat berhubungan denganmu." Baekhyun menatapnya penasaran, menunggu reaksinya.
"Well, itu mustahil." Chanyeol tersenyum mengejek. "Aku tidak tau apa maksudmu mengerjaiku, tapi usahamu lumayan juga."
"Jadi kau merasa aku membohongimu? Mungkin kau harus bertanya pada orangtuamu, atau yang lebih mudah, mungkin kau harus melihat ini." Baekhyun membuka kancing baju bagian atasnya dan menunjukkan tanda menyerupai tato di bawah collarbone kirinya. Tato itu berbentuk penulisan China dari kucing.
"Aku yakin kau juga punya, tapi punyamu adalah tulisan serigala dalam penulisan China." Baekhyun mengatakannya dengan nada yakin.
"Kau benar, aku memang memilikinya." Chanyeol mendesah pasrah. "Jadi aku adalah shifter dan tidak ada yang memberitahuku hingga sekarang?"
Chanyeol mulai mengingat kejadian-kejadian ganjil yang menimpanya. Lukanya yang sembuh terlalu cepat, saat dia berhasil selamat setelah jatuh dari atap rumahnya yang berlantai 2 tanpa luka yang benar-benar serius.
"Mungkin orangtuamu memiliki alasan khusus merahasiakan ini darimu, karena sepertinya kau belum mencapai waktumu juga. Memang biasanya lebih lambat pada Alpha, dalam waktu dekat kemampuanmu akan muncul. Menjadi shifter tidak selalu mudah," Sekali lagi Baekhyun menunjukkan senyum lemahnya. "Manusia selalu begitu bernafsu untuk membunuh kita."
Chanyeol merasa hidupnya tidak lagi senormal dulu.
Sejak saat itulah Chanyeol mulai merasa kehidupan SMA normalnya semakin menjauh. Sudah 2 minggu Baekhyun tinggal di rumahnya, dia menolak kembali kerumah karena katanya dia sedang kabur dari rumah. Dan dengan kitten eyes-nya, Baekhyun berhasil membujuk Chanyeol untuk membiarkannya tinggal.
Berkali-kali Chanyeol berusaha mencari alasan agar tidak pulang cepat, karena jujur saja dia masih lumayan takut pada Baekhyun. Dan sebagian dirinya masih belum percaya pada perkataan Baekhyun. Dia juga belum menanyakan hal ini pada orangtuanya, mungkin karena dia takut orangtuanya akan mengatakan bahwa itu benar.
"Chanyeol," baekhyun menjentikkan jarinya di depan wajah Chanyeol. Sepertinya dia sudah memanggil Chanyeol berkali-kali.
"Ya, ya," Chanyeol kembali fokus pada sekelilingnya.
"Aku sudah memanggilmu 4 kali. Apa yang ingin kau makan untuk makan malam? Aku akan memasakkannya untukmu." Baekhyun tersenyum, dan senyumannya berhasil membuat jantung Chanyeol berhenti berdetak untuk sepersekian detik.
"Apa saja boleh," jawab Chanyeol sambil memalingkan pandangannya kearah pohon di samping jalan. Dia tidak tau apa yang terjadi padanya selama 2 minggu ini. Sering dia menatap Baekhyun dan berpikir betapa memesonanya Baekhyun.
Tapi dia tidak mungkin suka padanya kan? Dia baru mengenalnya selama 2 minggu.
Atau memang itulah yang terjadi?
Hai reader-nim~~
Maafkan update yang lama ini T^T ujian sudah hampir membunuhku akhir-akhir ini, untung deh udah selesai yeayyy ^3^
Semoga ini bisa mengurangi rasa bingung kalian ya wkwk XD kalau rada gak nyambung, maklumilah karena ini memang dari ide author yg rada ngawur.
Btw, Merry Christmas and Happy New Year semua
Review ya~~ *Chuuu :*
