Chapter 3
Chanyeol terbangun dari tidurnya dengan kaget. Keringat dingin membasahi seluruh wajah dan tubuhnya, nafasnya terengah-engah. Chanyeol menelan ludah dengan sudah payah, dan berusaha menormalkan nafasnya. Jantungnya berdegup begitu kencang, hingga terasa seperti akan melompat keluar dari rusuknya.
Mimpi buruk itu lagi, mimpi buruk yang sama, yang telah menghantuinya sejak ia kecil. Chanyeol tidak mengerti kenapa mimpi buruk yang sama terus menerus berulang. Mimpi ini terus menghantuinya, terus menakutinya, terus membuatnya terjaga setiap malam.
Setelah nafasnya kembali teratur, Chanyeol mengayunkan kakinya turun dari kasurnya. Tenggorokannya terasa sangat kering. Chanyeol membuka pintu kamarnya, bermaksud untuk turun dan meminum air.
Chanyeol berteriak kaget saat mendapati ada seseorang yang berdiri di depan pintu kamarnya. Jantungnya kembali berpacu sekencang-kencangnya.
Seseorang itu juga ikut kaget mendengar teriakan Chanyeol. Tentu saja seseorang itu adalah Baekhyun. Baekhyun terbelalak kaget dan terkesiap saat mendadak Chanyeol membuka pintu dan berteriak.
"Astaga Baekhyun, apa yang kau lakukan di depan pintu kamarku malam-malam begini? Kau menakutiku." Chanyeol berusaha memelankan laju jantungnya.
"Ehm… maaf," Baekhyun menunduk menatap kakinya. "Aku takut tidur sendiri. Bolehkah aku tidur denganmu?"
Chanyeol sudah akan menjawab tidak seketika, tapi melihat sosok mungil Baekhyun yang memang tampak ketakutan, dia mendadak tidak tega menolaknya.
"Please?" Baekhyun memasang kitten eyes-nya dan menatap Chanyeol penuh harap. "Malam ini saja, ya ya ya?"
Chanyeol menghela nafas panjang, "Baiklah, tapi hanya malam ini saja."
"Yeyyy," Baekhyun berteriak senang dan mendadak memeluk Chanyeol. "Terima kasih, kau memang yang paling baik."
Baekhyun langsung berlari ke dalam kamar Chanyeol dan melompat naik ke tempat tidurnya, meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri terpaku di ambang pintu karena pelukan Baekhyun tadi.
Chanyeol menggelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan pikirannya. Tindakan Baekhyun memang tidak pernah bisa ditebak.
"Chanyeol, kau mau kemana?" Tanya Baekhyun saat melihat Chanyeol yang berjalan menuruni tangga.
"Minum," jawab Chanyeol singkat tanpa menghentikan langkahnya.
Baekhyun segera berlari mengejarnya, "jangan tinggalkan aku."
"Baekhyun, aku hanya turun sebentar untuk mengambil air minum, tidak akan lebih dari 5 menit." Chanyeol memutar bola matanya dan terus melangkah tanpa memperdulikan Baekhyun yang sedang mengejarnya.
Baekhyun mem-pout-kan bibirnya dan terus mengejar Chanyeol kebawah. Dia tidak mau ditinggal sendiri, tidak setelah semua mimpi buruk yang dia alami.
Baekhyun mengikuti Chanyeol ke dapur. Entah mengapa, Baekhyun mulai merasa tenang hanya dengan melihat sosok Chanyeol yang sedang minum. Tanpa disadarinya, Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol yang sedang memunggunginya dan menggenggam ujung belakang kaos Chanyeol.
Chanyeol memutar kepalanya saat dia merasa ada yang menarik ujung kaosnya dan mendapati Baekhyun-lah yang menarik ujung kaosnya. Ujung bibirnya terangkat melihat tingkah Baekhyun yang sangat menggemaskan.
Chanyeol melempar botol air minum yang sudah habis diminumnya ke dalam tempat sampah. "Apa kau benar-benar begitu ketakutan?" Baekhyun mengangguk. "Apa yang menakutimu?"
"Mimpi dan kenangan," jawab Baekhyun.
Chanyeol mengerutkan keningnya bingung, "maksudmu?"
Baekhyun terkekeh pelan melihat ekspresi bingung Chanyeol, "Mimpi dan kenangan yang buruk, kira-kira seperti itulah."
Chanyeol mengangguk-angguk, ternyata bukan hanya dia yang dihantui mimpi buruk.
.
.
.
Akhirnya malam itu Chanyeol benar-benar tidak mampu tidur. Bukan karena mimpi buruk seperti biasanya, tapi dengan lengan Baekhyun di sekeliling perutnya, kepala menyender di bahunya dan dahi menempel di lehernya, itu sama sekali tidak membantunya untuk tidur.
Jantungnya tidak bisa diajak bekerja sama. Setiap kali jantungnya sudah berdetak normal, sedikit saja gerakan dari Baekhyun dan jantungnya akan kembali berpacu cepat. Belum lagi ditambah dengan perasaan seakan ada ribuan kupu-kupu di dalam perutnya dan berbagai fantasi yang memenuhi kepalanya.
Chanyeol menghembuskan nafas panjang. Dia memutuskan untuk merilekskan saja tubuhnya yang sedari tadi kaku karena dia tidak terbiasa tidur sambil dipeluk seperti ini. Chanyeol meletakkan tangan kanannya di pinggang Baekhyun dan dia mulai merasa lebih rileks sekarang.
Ternyata lumayan menyenangkan juga saat ada yang bisa dipeluknya saat tidur. Perlahan Chanyeol kembali tertidur dengan senyuman menghiasi wajah tampannya.
.
.
.
Untuk kedua kalinya, Chanyeol terbangun malam itu. Dia kembali terbangun karena dia merasa sangat panas, yang seharusnya tidak mungkin karena sekarang bukan musim panas.
Dia menyadari area lehernya-lah yang paling panas, tempat dahi Baekhyun menempel di lehernya. Chanyeol mendudukkan dirinya untuk memastikan apa yang membuatnya merasa begitu panas.
Saat dia sudah duduk dia tidak merasa panas lagi, apa yang sebenarnya terjadi. Mendadak dia menyadari sesuatu. Chanyeol menempelkan telapak tangannya di dahi Baekhyun dan kecurigaannya benar. Kulit Baekhyun terasa begitu panas di bawah telapak tangannya, seakan terbakar.
Kepanikan mulai menyerang Chanyeol, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Baekhyun berkeringat dingin dan nafasnya terdengar berat, dia juga terus bergumam tidak jelas dalam tidurnya.
"Baekhyun," Chanyeol mengelus pipinya lembut dengan ibu jarinya. Baekhyun bangun dan berusaha untuk membuka matanya, seluruh tubuhnya terasa sakit dan panas, amat sangat panas. "Apa aku harus membawamu ke rumah sakit?"
Baekhyun menggeleng cepat, dan kemudian mengerang saat kepalanya terasa bertambah sakit karena dia menggeleng terlalu kuat. "Jangan," suaranya terdengar serak. "Mereka tidak akan senang jika mengetahui ada Shifter di tempat mereka."
"Jadi apa yang harus kulakukan?" Tanya Chanyeol.
"Berikan aku susu, susu akan membantuku sembuh," Baekhyun menjawab dengan lemah, semakin lama dia semakin tidak kuat menahan matanya tetap terbuka.
Chanyeol segera berlari ke bawah, melompati dua anak tangga dalam satu langkah. Dia membuka pintu kulkasnya, sialnya dia tidak menemukan susu sama sekali.
"Damn," rutuknya. Chanyeol memutuskan membawa air saja dulu untuk Baekhyun dan mungkin obat penurun panas. Nanti dia baru akan pergi untuk membeli susu untuknya.
Chanyeol kembali berlari kembali ke kamar dengan air dan obat ditangannya.
Chanyeol membantu Baekhyun untuk duduk dan kemudian memasukkan obat penurun panas yang dibawanya ke dalam mulut Baekhyun. Ditempelkannya bibir gelas berisi air di bibir Baekhyun dan perlahan memiringkan gelas itu, memaksa Baekhyun untuk menelan air beserta obat itu.
Baju Baekhyun basah karena keringat dingin dan Chanyeol tau dia harus melepaskan baju itu atau sakitnya malah akan semakin parah. Sudah pasti Baekhyun tidak akan mampu mengganti pakaiannya sendiri, bahkan membuka mata saja dia sudah tidak mampu.
Hanya mengganti bajunya saja kan, lagipula ini terpaksa. Chanyeol masuk ke kamar Baekhyun mengambil kaos dan celana pendek dari lemari Baekhyun dan membawanya kembali ke kamarnya dan meletakkannya di atas meja.
Chanyeol melepaskan kaos basah yang di kenakan Baekhyun, menampakkan tubuhnya yang berkulit seputih susu itu. Ditambah dengan keringat dingin yang membuat kulitnya seakan bersinar di bawah cahaya bulan, cukup untuk membuat Chanyeol menelan ludahnya dengan susah payah dan bagian bawahnya bersemangat.
Chanyeol berusaha mati-matian untuk melepaskan sisa pakaian Baekhyun secepat mungkin dan berusaha untuk tidak melihat. Dengan cepat dia memakaikan kembali pakaian yang kering pada Baekhyun.
Chanyeol menghela nafas panjang, ini benar-benar cobaan batin untuknya.
Setelah selesai mengganti pakaian Baekhyun dan menaruh handuk basah di dahinya, Chanyeol beranjak keluar rumah untuk membeli susu.
Untungnya ada toko yang buka 24 jam di dekat rumahnya. Disambarnya sebotol susu cair dan membayarnya di kasir.
Petugas kasir itu menatap belanjaannya dengan tatapan heran. Siapa yang datang ke toko untuk membeli susu pada jam 3 dini hari? Itu mengherankan memang, tapi petugas kasir itu memutuskan untuk diam saja dan melakukan pekerjaannya dengan cepat.
Setelah membayar, Chanyeol segera berlari kembali ke rumahnya. Dia masih mengkhawatirkan keadaan Baekhyun, karena demamnya benar-benar sangat tinggi. Begitu sampai dirumahnya Chanyeol segera berlari ke aras dapur dan menuangkan susu itu ke dalam gelas.
Chanyeol kembali kaget saat dia membuka pintu kamarnya dan tidak menemukan Baekhyun di kasurnya. Setelah berjalan mendekat, Chanyeol baru menyadari ada kucing putih yang berbaring di tempat tidurnya.
Baekhyun kembali berubah menjadi kucing. Baekhyun pernah memberitahunya kalau Shifter terlalu dikuasai oleh satu emosi, telinga dan ekor binatang mereka akan muncul, tapi sepertinya dia lupa memberitahunya apa yang menyebabkan mereka berubah sepenuhnya menjadi binatang.
Dan sekarang bagaimana caranya dia meminumkan susu ini ke Baekhyun yang sudah berubah menjadi kucing itu. Mudah kalau dia punya dot bayi atau boneka, tapi itu tidak mungkin ada di rumah seorang remaja lelaki kan?
Chanyeol menatap gelas susu itu sambil memutar otaknya. Mendadak dia mengingat, dulu saat dia masih berusia sekitar 5 tahun, dia pernah memungut seekor anak kucing dan membawanya kerumah. Eommanya memberikan susu untuk kucing itu, tapi karena kucing itu terlalu lemah untuk berdiri dan meminum susu itu sendiri, eommanya meminumkan susu itu ke si kucing dengan cara mencelupkan jarinya ke susu dan membiarkan kucing itu menjilati jarinya.
Sepertinya itu satu-satunya cara yang bisa dilakukannya sekarang. Chanyeol duduk dipinggir tempat tidurnya. Dengan lembut diangkatnya Baekkie (Chanyeol memutuskan memakai panggilan ini untuk sosok kucing Baekhyun) dan menaruhnya di pangkuannya. Baekkie mengeong lemah dan mengangkat kepalanya sedikit, menatap Chanyeol dengan tatapan memelasnya.
Chanyeol mengelus kepalanya dengan lembut. Kucing itu kembali menaruh kepalanya diatas kedua kaki depannya, sepertinya dia masih sangat lemah.
Chanyeol mencelupkan ujung jari telunjuknya kedalam gelas susu itu, dan menyodorkan jarinya kedepan kucing itu. Baekkie mengendus lemah, dan seperti mengetahui itu adalah susu, dia menjilatinya dengan semangat, sesemangat yang dia bisa dalam keadaannya yang sangat lemah itu.
Setelah setengah gelas susu itu diminumkan Chanyeol pada Baekkie, dengan jari dan akhirnya dengan sendok teh, Baekkie terlihat lebih baik. Kucing itu meregangkan tubuhnya dipaha Chanyeol, menyebabkan cakar-cakarnya yang tajam itu menusuk paha Chanyeol.
Chanyeol meringis pelan. Baekkie hanya nyengir saja, atau itulah yang dilihat Chanyeol dilakukannya, karena tidak ada tau apakah kucing bisa nyengir.
Baekkie menyurukkan kepalanya kearah perut Chanyeol dengan sayang, seakan mengucapkan terima kasih karena telah merawatnya. Chanyeol terkekeh pelan, dia membaringkan diri diatas kasurnya, sekarang dia merasa amat sangat mengantuk.
Chanyeol menguap lebar dan dalam beberapa detik saja dia sudah tertidur. Baekkie berlari kecil kearah wajah Chanyeol, dia menjilati wajahnya pelan dan kemudian tidur melingkar di dekat wajahnya.
Besok dia akan bangun cepat dan semoga saja tubuhnya sudah kembali menjadi manusia, dia akan memasakkan sarapan untuk Chanyeol sebagai rasa terima kasihnya. Dan semoga saja besok dia tidak ada rapat jadi dia bisa pulang bersama dengan Chanyeol.
Ya, dia memang satu sekolah dengan Chanyeol. Sudah selama dua bulan Baekhyun memperhatikan adik kelas yang setahun dibawahnya itu, hanya Chanyeol saja yang terlalu cuek dengan sekelilingnya sehingga tidak memperhatikan. Dua bulan bersekolah di sana, Chanyeol bahkan tidak mengenali ketua OSIS sekolahnya, yaitu Baekhyun. Pastinya dia kaget, saat dia bertemu Baekhyun dua hari setelah dia memungut kucing putih itu. Dia hampir terjatuh dari tangga saat bertemu dengan Baekhyun yang akan turun untuk membeli makanan.
Baekhyun atau lebih tepatnya Baekkie tersenyum saat mengingat kejadian itu.
Ini dia chapter yang ada Baekhyun sebagai bentuk kittennya lagi, karena kayaknya banyak yang suka sosok kucingnya Baekhyun ya? wkwk XD
maaf ya kalau ada yang bikin bingung, soalnya author kadang lupa masukin detail-detailnya /sembunyin di bawah meja/
Semoga gak jelek-jelek amat ya hahaha, thanks buat yang udah ngasih masukkan dan kasih tau letak kekurangan dari ff ini, I'm really appreciate it ^^
Review-nya jangan lupa ya reader-nim :*
