Chapter 4

Baekhyun bergerak-gerak dalam tidurnya, dia mulai terbangun dari tidurnya. Baekhyun menguap dan meregangkan lengannya, tapi lengannya tidak terasa seperti seharusnya.

Baekhyun mem-pout-kan bibirnya saat dia menyadari dia masih dalam sosok kucingnya. Baekhyunmeregangkan kaki depannya sejauh mungkin dan kemudian kaki belakangnya.

Sepertinya demamnya sudah menghilang dan Baekhyun sangat bersemangat hari ini.

Baekhyun baru menyadari wajah Chanyeol yang sedang tidur berada dekat sekali dengannya. Baekhyun memperhatikan wajah tampan lelaki tinggi, saat tidur wajahnya bahkan lebih tampan lagi. Wajahnya memancarkan ketenangan yang jarang dimunculkannya saat dia tidak sedang tidur.

Baekhyun berjalan mendekatinya dan kemudian menjilati sisi kanan wajahnya. Chanyeol hanya mengerang pelan dan memutar posisi tubuhnya menjadi menghadap kearah kanan, hampir menggencet Baekhyun dengan lengannya.

Baekhyun mengeong protes sambil berlari cepat menghindari lengan Chanyeol. Raksasa itu tetap tertidur nyenyak seakan tidak ada yang bisa mengganggunya.

Baekhyun tidak menyerah, dia melompat naik ke bahu kiri Chanyeol. Baekhyun menjilati telinga kiri Chanyeol, hingga lelaki itu mulai bergerak-gerak dalam tidurnya. Melihat Chanyeol masih tetap tertidur juga, Baekhyun menggigit pelan telinga Chanyeol dengan gigi-gigi kucingnya yang tajam. Tetap saja Chanyeol tidak terbangun, hanya kembali berputar ke posisi tidur awalnya saja.

Ini percobaan terakhir. Baekhyun berjalan dan melompat naik ke perut Chanyeol. Baekhyun kemudian menyurukkan wajahnya ke perut Chanyeol, membuat lelaki itu mulai bergerak-gerak karena geli.

Karena Chanyeol belum juga terbangun, Baekhyun memutuskan melakukan sesuatu yang lebih agar lelaki itu bangun. Baekhyun menyusup masuk ke dalam kaos Chanyeol dan mulai menyurukkan wajahnya lagi, membuat lelaki itu terbangun dan mulai tertawa histeris karena geli.

Baekhyun terus menyurukkan wajahnya ke perut Chanyeol dan bahkan juga menjilatinya, hingga Chanyeol kehabisan nafas karena terus tertawa.

"Cukup Baekhyun, aku tidak sanggup tertawa lagi," ujar Chanyeol dengan nafas terengah-engah dan airmata menggenangi matanya.

Chanyeol menaikkan kaosnya dan menggendong Baekhyun, mengeluarkannya dari balik kaosnya. Chanyeol meletakkannya di atas ranjang, tapi Baekhyun kembali memanjat naik ke atas perutnya.

Chanyeol terkekeh melihat tingkah kucing itu. "Kau benar-benar nakal ya, Baekkie?"

Baekhyun memiringkan kepalanya dengan lucu, mendengar nama panggilan barunya.

Chanyeol kembali tersenyum melihat keimutan kucing kecil itu. "Aku akan memanggilmu Baekkie saat kau sedang dalam sosok kucingmu, bagaimana?"

Baekhyun berjalan ke arah wajah Chanyeol, dan menjilati dagunya, seakan berkata dia menyukai panggilan barunya itu.

Chanyeol benar-benar tertawa sekarang, dia mengelus kepala Baekhyun. Baekhyun menyurukkan kepalanya ke telapak tangan Chanyeol yang hangat dan mengeluarkan suara seperti mendengkur dari kerongkongannya.

Chanyeol menggaruk bagian belakang telingannya, membuat Baekhyun kembali mengeluarkan suara mendengkur halus.

Chanyeol melirik jam digital di sampingnya, "Sial, kita terlambat."

Dengan cepat dia berlari ke kamar mandi. Baekhyun hanya duduk dan melihat kesibukannya saja, lagipula dia tidak akan bisa ke sekolah dengan tubuh seperti ini.

Dia memperhatikan Chanyeol yang keluar lagi dari kamar mandi hanya dalam 5 menit, hanya dengan sebuah handuk yang menutupi bagian bawahnya, memperlihatkan abs-nya yang sempurna. Baekhyun menatap tubuh Chanyeol, terpesona dengan yang dilihatnya. Kapan dia bisa memiliki tubuh sebagus itu? Sepertinya tidak akan.

Chanyeol sepertinya tidak menyadari ada yang sedang memperhatikannya. Secepat mungkin, dia mengenakan seragam sekolahnya, melempar kaosnya ke tempat tidurnya dan kebetulan mengenai Baekhyun.

Baekhyun mengeong protes saat kaos itu mengenainya. Saat dia berhasil keluar dari bawah kaos itu, Chanyeol sudah tidak lagi berada di kamar.

Baekhyun melompat turun dari ranjang dan berlari ke luar. Chanyeol sudah berada di bawah saat Baekhyun keluar.

Baekhyun mengeong dengan keras, berusaha memanggil Chanyeol. Chanyeol yang mendengarnya mengeong, melihat ke atas tangga. Dilihatnya Baekhyun yang menatap tangga dengan tatapan takutnya. Setelah jatuh sekali waktu itu, Baekhyun tidak berani menuruni tangga sendiri lagi saat dalam sosok kucingnya.

Chanyeol memutar bola matanya, tetapi tetap naik keatas untuk membawa kucing itu turun. Chanyeol mengangkat kucing itu pada bagian lehernya, Baekhyun kembali mengeongkan protesnya.

Chanyeol membawa Baekhyun ke dapur dan meletakkannya di atas meja makan, kemudian menuangkan susu dan cereal ke dalam sebuah mangkuk.

"Makanlah," kata Chanyeol, sambil menaruh mangkuk itu di depan Baekhyun.

Baekhyun menatapnya dengan tatapan apa-kau-gila. Mana mungkin seekor kucing memakan cereal dan susu?

"Memang mungkin agak aneh, tapi aku tidak punya makanan apa-apa lagi dirumah. Jadi makanlah dulu itu, nanti baru kubelikan makanan kucing," Kata Chanyeol membela diri.

Baekhyun tampak ragu, dia menatap isi dari mangkuk itu. Haruskah dia memakannya? Tapi perutnya lapar dan kata Chanyeol tidak ada makanan lain, jadi dia pun memakannya dengan terpaksa.

Melihat seekor kucing kecil memakan cereal benar-benar sangat menggemaskan. Kucing kecil itu memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri, berusaha mengambil cereal itu dengan lidahnya. Chanyeol tersenyum melihatnya, hampir saja dia lupa dia sudah hampir terlambat. Secepat mungkin dia menghabiskan kopi dan rotinya.

"Baekhyun, aku pergi dulu ya. Nanti akan kuberitahukan wali kelas-mu kau sakit," Chanyeol pun pergi dan sesaat kemudian terdengar suara pintu ditutup dan dikunci.

Baekhyun menatap makanannya tidak bergairah, mendadak nafsu makannya hilang sama sekali. Dia tidak suka sendirian dirumah, dia benci sendirian.

.

.

.

Kelas sudah kosong, hanya tersisa Chanyeol dan Kai.

"Kai, cepatlah," seru Chanyeol, yang sudah berada di ambang pintu kelasnya.

"Sebentar, aku harus menyelesaikan ini sekarang," sahut Kai, yang masih sibuk menulis.

"Apa sebenarnya yang kau kerjakan?" Chanyeol menghampiri Kai, dan melirik kerjaan Kai. "Soal matematika? Apa yang merasukimu kali ini?"

"Ayolah, tidak bolehkan aku mengerjakan soal matematika?"

"Bukan begitu, hanya saja ini bukan dirimu, sama sekali tidak seperti dirimu."

"Kyungsoo yang menyuruhku mengerjakannya," melihat tatapan meminta penjelasan Chanyeol, Kai melanjutkan, "Sekarang dia seperti pembimbingku, mungkin. Nilaiku menurun drastis dan orang tua-ku memintanya untuk membantuku belajar. Dia menyuruhku untuk mengerjakan soal-soal ini dan harus selesai hari ini."

"Dari penjelasanmu, aku mendapat gambaran bahwa Kyungsoo itu orang yang sangat galak. Tapi itu tidak mungkin kan?" Setau Chanyeol, Kyungsoo adalah orang paling baik yang dia kenal.

"Kau tidak mengenalnya cukup baik kalau begitu. Dia bisa benar-benar little devil jika dia mau, dan dia sering mau saat dia bersamaku," Kai mendesah pasrah.

"Tapi kau menyukainya kan," tanya Chanyeol dengan nada menggoda.

"Begitulah," Kai tertawa pelan, seakan menertawai fakta dia sebenarnya meyukai orang yang dia sebut little devil.

"Oh ya, Chanyeol," Kai menatap Chanyeol dengan senyum jahil dibibirnya. "Kau tinggal sendiri kan?"

"Iya," jawab Chanyeol ragu, melihat senyum Kai.

"Aku menumpang di rumahmu sebentar ya? Boleh ya? Sampai aku menyelesaikan soal-soal ini saja, agar Kyungsoo tidak bisa menghukumku?" Kai memohon pada Chanyeol.

Chanyeol ragu, dia tidak yakin Baekhyun masih berbentuk kucing atau tidak dan di sisi lain dia tidak enak hati menolak permintaan Kai. Kalau sampai Kai tau dia tinggal dengan Baekhyun, anak itu akan langsung memberitahukan pada seluruh sekolah, dan sudah pasti dia dan Baekhyun akan menjadi bahan ejekan.

"Ehm.. sebenarnya, dirumahku sedang ada saudaraku. Dan… dia benar-benar adalah orang yang menyebalkan. Kau tidak akan mau bertemu dengannya," Kai menatapnya tidak percaya.

"Percayalah padaku saat aku bilang dia benar-benar adalah orang yang menyebalkan. Dia membuatku benar-benar tidak betah di rumah, hanya dengan keberadaannya dirumahku saja aku sudah benar-benar terganggu. Dia terus-terusan mengikutiku ke sepenjuru ruangan dan mengoceh tiada henti. Dia juga mengacaukan seluruh rumahku. Pokoknya dia adalah orang paling menyebalkan yang pernah kutemui."

"Baiklah, baiklah, aku mengerti," ujar Kai sambil mengangkat tangannya tanda meyerah. "Tapi kau harus mengajakku ke rumah mu kapan-kapan."

Chanyeol nyengir padanya, "Pasti."

Kai membereskan barang-barangnya sambil terus mengeluhkan omelan Kyungsoo yang akan diterimanya nanti. Dan bahkan, sepanjang perjalanan keluar sekolah, dia tetap terus mengeluhkannya.

Tanpa mereka berdua sadari, Baekhyun mendengar pembicaraan mereka berdua dari saat Chanyeol mulai beralasan agar Kai tidak datang ke rumah nya. Dan sekarang dia masih berdiri di balik pintu kelas Chanyeol yang terbuka, sehingga saat melewatinya kedua lelaki itu tidak menyadari kehadirannya.

Baekhyun tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya tadi. Tadi pagi, setengah jam setelah Chanyeol berangkat ke sekolah, Baekhyun kembali lagi ke sosok manusianya. Dia memutuskan untuk masuk sekolah saja dan dengan alasan sakit, wali kelasnya memaklumi keterlambatannya.

Baekhyun menanti Chanyeol di depan gerbang sekolah setelah pulang sekolah, tapi karena lelaki tinggi itu tidak juga muncul, Baekhyun memutuskan untuk naik dan mencari ke kelasnya. Tidak sengaja, dia mendengar Chanyeol menyebut-nyebut tentang orang di rumahnya, jadi Baekhyun berhenti untuk mendengarkan dan yang didengarnya benar-benar mengguncangnya.

Saat Kai dan Chanyeol keluar, Baekhyun buru-buru bersembunyi di balik pintu.

Tanpa terasa, air mata mulai membasahi pipinya, ternyata Chanyeol hanya menganggapnya pengganggu. Hatinya terasa benar-benar sakit, Chanyeol menyebutnya meyebalkan.

Tapi bukankah itu memang sudah pasti, dia mengganggu hidup Chanyeol dengan mendadak muncul di depan rumahnya. Dan bahkan dia memaksa Chanyeol mengizinkannya menumpang dirumahnya. Dia memang hanyalah seorang pengganggu, orang tidak berguna.

Baekhyun berjalan pulang dengan langkah gontai. Dia akan mengucapkan selamat tinggal pada Chanyeol, berterima kasih atas semua yang sudah dilakukannya dan kemudian menghilang dari hadapannya. Ya, dia akan melakukannya.

Tapi, itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Dia menyayangi Chanyeol, mencintainya malah sejak dulu, bahkan saat Chanyeol tidak mengingatnya, dia tetap menyayanginya sepenuh hati. Dan saat orang yang kau sayangi berkata kau adalah orang yang menyebalkan, itu menyakitkan.

Saat Baekhyun masuk ke dalam rumah, dia melihat Chanyeol sedang duduk di sofa dan menonton televisi. Tanpa suara, dia duduk di sebelahnya dengan lutut terlipat dan lengan memeluk lutut.

Chanyeol meliriknya, merasa bingung dengan kelakuan Baekhyun.

"Ada apa denganmu?" Chanyeol bertanya, menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Menurutmu aku menyebalkan ya?" Baekhyun tertawa mengejek. "Kenapa kau tidak mengatakan langsung padaku saja? Aku bisa pergi dan kembali ke rumahku, kalau kau memang menganggapku menyebalkan."

Chanyeol kaget mendengar ucapan Baekhyun, "Aku.. Kau tidak menyebalkan, Baek. Aku tidak bermaksud begitu."

"Sudahlah Chanyeol, aku tau aku memang menyebalkan dan tidak berguna. Terima kasih untuk semuanya dan maaf atas semua gangguan yang kuakibatkan padamu selama ini. Aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini, aku akan kembali ke rumahku," Baekhyun tersenyum lemah dan beranjak naik kekamarnya.

Untuk beberapa saat, Chanyeol hanya terdiam di tempatnya, tidak tau apa yang harus dilakukan. Setelah menyadari Baekhyun akan pergi meninggalkannya, Chanyeol segera berlari keatas, ke kamar Baekhyun.

"Baek, dengarkan aku, kumohon," Chanyeol berusaha menghentikan Baekhyun membereskan barang-barangnya.

Baekhyun berhenti membereskan barang-barangnya dan membalik tubuhnya menghadap Chanyeol, "Kau tidak usah menjelaskan apa-apa, yeol. Aku sudah menyusahkanmu selama ini dan aku tidak ingin menyusahkanmu melebihi yang sudah, jadi biarkanlah aku pergi."

Baekhyun tersenyum, kali ini senyum tulusnya, dan Chanyeol kembali terdiam. Rasanya tubuhnya tidak lagi mematuhi komando otaknya, bahkan saat Baekhyun berjalan melewatinya Chanyeol hanya diam saja.

Baru saat suara pintu depan dibuka, Chanyeol tersadar dari lumpuhnya dan mulai kembali berlari ke bawah mengejar Baekhyun.

Chanyeol berlari keluar rumah dan menyambar lengan Baekhyun, menghentikannya. Chanyeol memutar tubuhnya dan memeluk tubuh mungilnya. Baekhyun terkesiap.

"Kau tidak pernah menyusahkanku, kaulah yang membuat hari-hariku lebih berwarna sejak kau hadir. Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi rumahku akan terasa benar-benar sepi tanpamu. Jadi jangan pergi ya?" Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dengan erat, seakan tidak mau melepasnya pergi.

Awalnya Baekhyun berusaha memberontak dari pelukan Chanyeol, tapi Chanyeol tetap tidak mau melepaskannya. Perlahan, Baekhyun berangsur tenang, Chanyeol selalu mampu menenangkannya. Tanpa bisa ditahannya, air matanya mengalir deras dari matanya. Kedua lengannya memeluk tubuh Chanyeol dengan erat.

Chanyeol membiarkannya menangis hingga dia menjadi tenang dengan sendirinya. Dia hanya mengelus punggung Baekhyun tanpa mengatakan apapun.

Chanyeol melepaskan pelukannya dan memegangi kedua sisi wajah Baekhyun dengan telapak tangannya, membuatnya mendongak menatap mata Chanyeol, "Jangan pergi."

Baekhyun mengangguk pelan. Dia tidak akan meninggalkannya, setidaknya tidak sekarang.

Senyum Chanyeol merekah, membuat wajah tampannya terlihat semakin memesona dan jantung Baekhyun berpacu cepat hanya karena senyum itu.

Chanyeol mendekatkan wajahnya ke Baekhyun. Baekhyun yang tidak tau apa yang sebaiknya dia lakukan hanya memejamkan matanya erat-erat, wajah Chanyeol sangat dekat dengan wajahnya dan semakin mendekat hingga Baekhyun dapat merasakan napas Chanyeol di wajahnya.

Chanyeol mencium kedua mata Baekhyun, menghapus air matanya. Dan lelaki tinggi itu hanya terkekeh pelan saat Baekhyun mem-pout-kan bibirnya, terlihat agak kecewa karena ternyata Chanyeol hanya mencium matanya saja.

"Jangan terlihat kecewa begitu," Chanyeol mengacak rambutnya. Chanyeol mencium pipi kanan Baekhyun dan kemudian berbisik di telingannya, membuat bulu kuduknya merinding. "Mungkin nanti." Dan Chanyeol langsung berjalan masuk ke rumahnya, meninggalkan Baekhyun yang berdiri terpaku.

Chanyeol tersenyum lebar, menampakkan sebagian besar deretan gigi-gigi putihnya, dia benar-benar bahagia karena Baekhyun tidak jadi pergi dari rumahnya dan sepertinya sekarang dia sudah mulai menyadari perasaannya pada Baekhyun.


Hai semua, HAPPY NEW YEAR!

semoga chapter ini gak mengecewakan kalian ya reader-nim, soalnya ini agak mengecewakan buat author ;-;

reviewnya lagi ya :*