Ok, mungkin harus kuklarifikasi. Di chapter pertama aku bilang kalau fanfic ini adalah semacam penebusan dosa terhadap diriku sendiri. Jadi maksudnya, waktu bikin Siblings Chaos, aku menahan diri supaya fanfic itu tetap netral meski tergoda berulang kali buat ngeluarin hints HalixYaya dan TaufanxYing. Nah, itulah yang aku sesalkan. Gitu sih...

Jadi, ini bukan salah siapa-siapa, bukan karena siapa-siapa, ini salahku terhadap diriku sendiri

Terima kasih untuk yang udah review kemarin ^^

Silahkan dinikmati chapter selanjutnya


Dari ketiga kembar Boboiboy, yang paling ceria dan jahil sudah tentu Taufan. Mungkin, dia bagaikan matahari yang terus bersinar, meski tentu saja ada kalanya mendung, tapi dengan sinarnya ia selalu berusaha untuk membuat sekelilingnya ikut cerah.

Meski yang sadar akan hal itu sedikit.

Karena, yang sering dilihat oleh orang lain adalah sifatnya yang jahil tanpa batas.

"TAUFAAAAAAANNN!"

Gadis berkacamata keturunan cina bernama Ying, sedang mengejar teman sekelasnya yang kabur membawa salah satu kunciran rambutnya.

"Coba kejar kalau bisa, dasar kuncir kuda!" goda Taufan memeletkan lidahnya.

Wajah Ying memerah karena marah melihatnya. Ia merasa kesal melihat Taufan bisa lari jauh di depannya. Padahal, Ying adalah salah satu ace dari klub atletik putri.

Tapi, memang, Taufan itu bisa dibilang ace untuk semua bidang olahraga, kecuali bela diri yang dimonopoli oleh Halilintar.

Orang-orang di sekeliling mereka hanya geleng-geleng kepala. Terbiasa dengan pemandangan macam ini.

Ying berbelok mengejar Taufan namun kemudian terkejut karena pemuda itu sudah berhenti berlari dan sudah berbalik ke arahnya. Jadinya, karena belum sempat mengerem, lain ceritanya kalau ia pakai sepatu lari, sepatu sekolah biasanya cukup licin jadi sulit mengerem, ia menabrak Taufan dan terpelanting ke lantai. Sementara, pemuda itu hanya oleng sedikit namun berhasil tetap menjaga keseimbangannya.

"Aduuuh...," keluh Ying merasa kesakitan karena jatuh.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Taufan, kali ini sudah berhenti bercanda dan mengulurkan tangannya.

Ying cemberut ke arahnya dan menepis uluran tangannya. "Ini kan gara-gara kamu!"

"Maaf, aku cuma bercanda kok, jangan marah ya," katanya sambil senyum cengengesan, membantu Ying berdiri meski di protes oleh gadis cina tersebut. Ia kemudian mengulurkan salah satu kunciran Ying yang ada padanya.

Ada perubahan pada Taufan sejak kejadian ia didorong dari tangga oleh Harun. Sekarang, pemuda bertopi miring itu akan menghentikan sendiri candaannya kemudian meminta maaf. Meski tentu saja ia akan mengulanginya kembali besok kemudian meminta maaf lagi. Seperti tidak ada ujungnya.

"Uuuh... dasar," Ying mengambil kembali kunciran rambutnya dari tangan Taufan.

Gadis itu segera berbalik menuju kelas diikuti oleh Taufan yang tersenyum mengikutinya dari belakang.

IoI

Ying mengaku, dia bukan gadis yang feminin, bukan juga tomboy. Ia hanya cuek pada penampilannya, tidak seperti gadis kebanyakan yang meributkan penampilan. Ia senang memakai apa yang menurutnya nyaman, bukan apa yang menurutnya cantik.

Ia juga senang bergabung dengan klub atletik wanita. Tidak peduli kalau matahari yang terik akan membakar kulitnya yang putih.

"Hei, Ying!"

Ying menoleh pada tiga orang gadis, yang ia kenal sebagai murid kelas tiga yang sklub dengannya. Ia baru saja selesai berlatih dan hendak mengganti bajunya yang basah oleh keringat.

"Ya, kak, ada apa?" tanyanya.

Tak disangka tubuhnya didorong menghantam loker baju, membuat gadis itu terkejut dan sedikit kesakitan.

"Jangan belagu ya! Mentang-mentang larimu cepet terus kamu udah nggak mau ngehormatin seniro lagi?"

Menerima bentakan dari salah satu seniornya membuat nyali Ying ciut.

"Kamu memang niat pengen bikin kita malu ya? Masih kecil udah belagak, dasar cewek jelek! Gayamu tuh kampungan! Bikin sakit mata tahu nggak?"

"Awas ya kalau kamu ngerebut juara lagi di kompetisi besok! Dasar serakah!"

Dan akhirnya, mereka pun pergi tanpa membiarkan Ying membela dirinya sendiri. Gadis cina itu termenung di ruang ganti.

Jadi, masalahnya sebenarnya apa? Ia mulai menyalakan kembali otaknya yang sempat offline mendadak karena syok.

Ia memang kerap memenangkan kejuaraan atletik, mungkin hal itu membuat seniornya iri. Mungkin, ia terkesan seperti memonopoli semua kejuaraan dan tidak membiarkan yang lain mendapatkan kesempatan.

Ying mengernyit memikirkan hal itu. Mungkin, sebenarnya dirinya tidak salah, tapi ia tidak suka memikirkan kalau dirinya membuat senior-seniornya merasa tidak nyaman di klub atletik. Ying tidak pernah bermaksud untuk memonopoli semua kompetisi.

Mungkin ia harus lebih menahan diri dan membiarkan yang lain mendapatkan kesempatan.

Cuma, yang tidak ia mengerti kenapa seniornya sempat mencelanya jelek dan kampungan. Apa hubungannya dengan atletik?

Memangnya, dia jelek ya?

IoI

Klub atletik mungkin adalah salah satu klub yang berisikan anggota campuran. Maksudnya, hanya sedikit anggota yang merupakan anggota tetap. Kebanyakan adalah anggota dari klub olahraga lain, seperti klub basket, futsal sampai klub skateboard, seperti Taufan.

Yah, Taufan kali ini ditarik lagi oleh klub atletik untuk ikut kompetisi. Dirinya kebagian tugas di lari jarak pendek dan lompat jauh. Setidaknya, bukan lari jarak panjang, karena itu sangat merepotkan dan melelahkan.

Ia menoleh ke bangku penonton, dimana klub atletik putri memberikan dukungan. Memang kejuaraan atletik putra dan putri itu diselenggarakan di waktu yang berbeda.

Matanya melihat Ying yang duduk paling pojok, dan jujur saja, hampir tidak bisa dikenali. Untuk kali ini, rambut gadis itu terurai, tidak diikat. Dan daripada cantik, rambut itu terlihat kaku dan mekar, seperti kuntilanak.

Ada apa dengan teman sekelasnya itu, Taufan tidak paham. Tapi, wajah Ying yang murung dan bahkan tidak memberikan dukungan pada tim atletik putra dengan sepenuh hati membuat Taufan merasa penasaran.

Jadi, setelah selesai lari jarak pendek, ia yang berhasil memutuskan tali pita pertama, pertanda ia yang memenangkan lari jarak pendek tersebut, tak peduli dengan wasit atau panitia pertandingan, Taufan segera ngeloyor pergi keluar lapangan.

Ia tidak peduli soal penghargaan ataupun medali sekarang, toh ia melakukan ini bukan untuk dirinya tapi untuk klub atletik, biar mereka saja yang mewaikili dirinya.

Ia mengganti bajunya dan membawa tasnya, sempat ragu apakah dia harus mandi tapi karena tidak begitu berkeringat, Taufan memutuskan untuk cuek.

"Ying!"

Gadis itu tersentak dan menoleh padanya, begitu juga anggota tim atletik putri lainnya.

"Aku udahan nih, katanya kalau aku menang kamu janji mau traktir aku sesuatu," kata Taufan sambil mengedipkan satu matanya.

Ying menatapnya bingung, namun Taufan tidak memberikan kesempatan padanya untuk bertanya. Ia menarik lengan gadis itu agar mau berdiri kemudian menyeretnya keluar stadion, diikuti oleh tatapan penasaran anggota klub atletik yang lain.

"Aku nggak pernah janji kayak gitu ke kamu!" seru Ying ketika mereka sudah hampir keluar stadion.

"Emang nggak pernah, aku capek nih, temenin aku pulang yuk," pinta Taufan.

Gadis itu mengernyit heran, akhirnya Taufan melepaskan dirinya namun akhirnya ia tetap mengikuti langkah pemuda itu berjalan meninggalkan stadion di belakang mereka.

IoI

Ying berjalan di samping Taufan dengan perasaan mendung. Ia sedikit bersyukur karena teman sekelasnya ini menyeretnya pergi dari stadion, karena jujur saja, Ying terlalu galau untuk memberikan semangat ke klub atletik putra. Tapi masalahnya, demi solidaritas, ia harus ikut pergi.

Sekarang, setidaknya ia bisa pulang dan tidur di rumah.

"Itu rambutmu kenapa?"

Gadis cina itu mulai lelah dengan pertanyaan macam itu. Semua orang bertanya padanya hari ini. Tapi Ying terlalu malu untuk menjelaskan kalau ia sedang mencoba merubah penampilannya. Meski ia tahu itu bukan keputusan bagus. Alasan kenapa ia selalu menguncir rambutnya, bahkan ditambah topi atau bando, karena rambutnya kaku dan sulit diatur.

"Nggak kenapa-kenapa...," jawab Ying dengan lesu.

Taufan tampak tidak puas. Namun, untuk kali ini tidak bertanya lebih jauh.

"Eh, ke taman dulu yuk, aku capek nih jalan terus!" katanya dengan nada memelas. Perubahan sikapnya yang mendadak, membuat Ying bertanya-tanya apakah temannya ini mengidap bipolar atau minimal gangguan kepribadian.

Belum sempat Ying menolak, karena ia sedang ingin langsung pulang sekarang, Taufan sudah menarik tangannya menuju sebuah taman tak begitu jauh dari stadion.

Tapi, pada saat yang sama, Ying pun sedang tak punya tenaga lebih untuk berdebat dengan Taufan yang ia tahu cukup keras kepala. Jadi, ia membiarkan Taufan menariknya ke sebuah bangku taman dan duduk di sana.

Mereka berdua duduk di sebuah bangku di bawah pohon rindang. Suasananya sejuk, Ying melihat banyak anak kecil bermain di sekitarnya, juga ada beberapa pasangan yang tengah bermesraan di pojokan. Ia memutuskan untuk tidak peduli dan memangku tangan.

"Tunggu di sini sebentar ya."

Ying menoleh namun Taufan sudah pergi, entah mau kemana. Ke toilet mungkin?

Sang gadis cina mendesah. Ia mau pulang, merapikan rambutnya yang berantakan dan kemudian tidur.

Ying menyisir rambutnya dengan jarinya. Rambutnya yang kusut bahkan tidak membiarkan jarinya menyisir rambutnya dengan mulus.

Beberapa ujung rambutnya bahkan bercabang. Mungkin ini akibat ia selalu berjemur di bawah matahari dan tidak pernah telaten merawat rambutnya. Apa sebaiknya ia potong pendek saja? Atau sekalian model seperti laki-laki saja?

"Ini untukmu!"

Ying terkejut saat ada sesuatu yang dingin ditempelkan ke pipinya.

Ia menoleh dan melihat Taufan tersenyum jahil, kedua tangannya memegang jus yang dikemas dengan gelas plastik.

Ying mengernyit, ia tidak ingat titip jus pada Taufan, namun karena pemuda itu mendorong jus ke tangannya, Ying akhirnya menerimanya.

"Itu jus jambu, kamu suka kan?"

Ying memandang Taufan dengan heran, sementara pemuda di sebelahnya menyeruput jus miliknya, yang berwarna putih, dengan penuh senyuman.

"Ah segeeer, dari tadi aku haus banget!" serunya dengan senang.

Orang yang simpel.

"Biar kuganti uangnya," kata Ying. Ia memang tidak meminta dibelikan jus, tapi ia tetap tidak enak bila tidak mengganti uang temannya itu.

"Slow, Ying! Aku kan udah menang, anggap aja itu traktiran dariku," kata Taufan dengan senyum lebar.

Ying terdiam mendengarnya, teman sekelasnya yang biasanya selalu minta traktir ke semua orang yang dia kenal, kini justru mentratir Ying. Gadis itu sedikit tidak percaya dan mulai curiga kalau jusnya mungkin sudah diberikan sesuatu.

Taufan menatap Ying, Ying menatapnya dengan wajah curiga, kemudian pemuda itu tertawa.

"Ya ampun, itu nggak kuapa-apain! Tuh, kubeli dari warung yang ada di sana," belanya.

Ying masih belum meminum jus miliknya dan Taufan mendesah.

"Kata Gempa, makan atau minum sesuatu yang manis itu bisa memperbaiki mood," Taufan akhirnya jujur.

Memperbaiki mood?

Ying mengerjapkan matanya. Memang sih, ia tahu kalau semua orang pasti tahu kalau ia sedang sedih sekarang. Namun, tidak menyangka, Taufan yang jahil ternyata cukup perhatian juga.

Akhirnya, gadis itu menyeruput jus miliknya. Sari buah yang dingin dan manis memang membuat moodnya sedikit lebih baik.

"Makasih," katanya sambil tersenyum, sedikit merasa bersalah karena sudah curiga pada teman sekelasnya itu.

"Hehehe, sama-sama," kata Taufan, segera menghabiskan jus miliknya. Kentara sekali kalau memang dia haus.

Ying menyeruput jusnya perlahan, membiarkan rasa manis dan dingin dinikmati oleh mulutnya, sedangkan angin semilir yang sejuk membuatnya tersenyum.

"Hahaha, di rambutmu ada daun nyangkut tuh," kata Taufan sambil tertawa geli.

Wajah Ying kontan memerah mendengarnya, ia berbalik untuk melihat dimana daun yang nyangkut di rambutnya dan risau karena tak segera menemukannya.

Sebuah tangan terulur dan mengambil daun dari rambut di belakangnya. Taufan tersenyum padanya dan membuang daun gugur itu.

"Rambutmu kenapa sih? Tumben nggak dikuncir," tanyanya. Ini pertanyaan kedua dari Taufan.

Mungkin, jus pemberiannya semacam sogokan. Tapi Ying memutuskan kalau teman sekelasnya itu setidaknya berhak mendapatkan jawaban yang benar.

"Yah... lagi mau merubah penampilan... kan kamu juga suka ngejekin aku 'rambut kuncir kuda'...," jawab Ying, tak lupa menambahkan sindiran untuk temannya itu.

"Lah, kan aku udah bilang aku cuma bercanda...," balas Taufan. Ying memilih untuk tidak merespon dan meminum jusnya lagi.

Dan Taufan pun hanya diam, keduanya menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga.

IoI

Ada alasan kenapa Taufan itu jahil.

Ia paling tidak tahan melihat wajah murung atau tanpa ekspresi.

Karena itu ia selalu mengerjai Halilintar. Gempa jarang ia kerjai, adiknya yang paling baik dan manis sedunia, sudah cukup repot dengan segala macam hal seperti OSIS, pekerjaan rumah dan lain-lain.

Sedangkan, Ying, adalah gadis yang pemalu untuk sebagian orang namun kalau sudah mengenalnya, ternyata ia cerewet. Taufan tidak tahan kalau gadis itu mulai masuk ke mode 'pemalu' , ia kerap mengerjai gadis cina itu.

Tapi, ia tahu, mengerjai Ying yang tampak sedang murung hari ini, tidak akan memperbaiki apapun.

Di luar dugaan semua orang, Taufan, sama seperti saudara kembarnya yang lain, tidak pandai dalam urusan wanita. Jadi, jujur saja, ia tidak tahu bagaimana caranya agar wajah mendung itu segera pergi dari Ying.

Karena itu, meski biasanya ia terkenal bokek, atau tidak ada uang, karena Taufan memang boros, untuk kali ini, ia tidak keberatan mengeluarkan uang agar teman sekelasnya itu mau tersenyum kembali.

IoI

"Ayo ke sini."

Taufan memang orang yang penuh kejutan, Ying hanya mampu tercengang saat pemuda itu menariknya ke sebuah toko... yang entah bagaimana ia harus menjelaskannya. Toko ini menjual semua pernak pernik yang identik dengan wanita. Cat dindingnya saja warna pink. Tapi, Taufan tanpa ragu ataupun malu, menarik Ying masuk ke toko itu.

"Kita ngapain di sini?" seru Ying.

Taufan menariknya ke sebuah etalase aksesori rambut.

"Nah, sekarang tinggal pilih, kamu mau yang mana?"

Ying mengerjapkan mata menatap Taufan, tapi pemuda itu tampak asik memilih aksesori rambut yanga ada di depan mereka.

"Buatku?"

"Ya iyalah, masa buatku?" sindir Taufan.

"Nggak usah! Ngapain sih? Aku punya kok di rumah."

"Dibeliin bukannya seneng malah protes, ini tulus lho. Tulus dari hati yang paling dangkal," canda Taufan.

Ying mendesah, tidak bisa paham dengan pola pikir pemuda yang ada di sebelahnya. Matanya kemudian tertuju pada sepasang kunciran rambut berwarna biru muda berhiaskan kupu-kupu berwarna kuning.

"Oh yang ini ya?" tanya Taufan, segera menyabet kuncir rambut tersebut dan memeriksa harganya.

"Eh!? Bukan, nggak usah!" seru Ying, namun Taufan bersikap seakan tak mendengarkannya dan berjalan menuju kasir.

"Mbak, beli yang ini ya!" kata Taufan.

"Nggak usah, aku bisa beli sendiri!" Ying segera meraih dompetnya, namun kalah cepat dengan Taufan yang sudah menyodorkan uangnya.

"Terima kasih," kata mbaknya, tersenyum geli melihat sikap sepasang muda mudi di depannya.

"Taufan-" Ying segera mengejar Taufan yang keluar dari toko.

"Aduh, kamu bawel banget sih! Nih, pake sekarang," kata Taufan, wajahnya mulai jengah, menyodorkan kunciran yang baru saja ia beli.

Ying mengerjap, menerima kunciran tersebut namun hanya terpaku di tempat.

"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Taufan terlihat cemas.

"Ini... kenapa?" tanya Ying tidak mengerti.

Taufan menggaruk kepalanya kemudian membetulkan topinya.

"Aku nggak suka kamu murung terus seharian."

Ying mengerjapkan mata lagi, menatap Taufan yang tersenyum padanya. "Makanya, pakai kuncir ini, terus jangan murung lagi."

Ying termenung, wajahnya memerah sedikit. Ia hanya mengangguk kemudian segera memakai kuncir rambut tersebut. Rambutnya yang tidak disisir tidak rapi dan mencuat ke segala arah, meski sudah dikuncir tapi pasti masih terlihat berantakan. Namun Taufan terlihat puas. Senyumnya mengembang makin lebar.

"Nah, gitu dong. Itu baru Ying yang aku tahu," katanya.

Sang gadis cina hanya bisa merapikan rambutnya dengan kikuk. Entah kenapa jantungnya berdebar-debar tak karuan.

"Sebagai gantinya, nanti kalau kamu menang kejuaraan atletik, traktir aku makan di restoran ya!"

Dan perasaan berbunga-bunga itu segera melayang pergi entah kemana. Bodohnya ia sudah percaya Taufan melakukan semua ini dengan tulus tanpa maksud apapun.

"Enak aja! Makan direstoran kan mahal!" protes Ying, namun Taufan hanya tertawa.

"Nggak mau tahu, pokoknya kamu harus traktir aku kalau menang. Makanya, kamu harus menang!"

Ying cemberut menatap teman di depannya. Namun, ekspresi cemberutnya dengan cepat berubah menjadi senyuman cerah.

Ia mulai mengerti kalau semua tindakan aneh Taufan, mulai dari membelikannya jus dan kunciran, hingga tagihan traktiran semata-mata hanya untuk mencerahkan moodnya kembali. Dan meski kesal untuk mengakuinya, hal itu ternyata sukses besar.

"Makasih ya."

Taufan berbalik menatapnya dan tersenyum.

"Traktirannya jangan lupa."

"Kalau aku menang."

"Aku yakin kamu pasti menang."

"Sok tahu."

"Biarin, aku emang tahu kok."

Ying menyikut perut Taufan, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

Ying sempat ragu untuk kembali berjuang di kompetisi atletik, sempat tersirat mungkin seharusnya ia mundur saja. Tapi, entah kenapa, sekarang ia merasa harus menang, meski artinya harus mentraktir teman sekelasnya yang rakus itu.

"Dukung aku ya nanti."

Taufan tersenyum jahil padanya. "Kalau gitu, traktirannya harus dobel. Dukungan dariku tuh nggak murah lho."

"Ih dasar kamu!"

Keduanya beradu mulut namun dengan senyum lebar mengembang di bibir mereka masing-masing. Dan sepasang muda mudi itu pun melangkah pulang ditemani dengan sinar matahari dari ufuk barat.

IoI

Ying terkejut saat melihat ketiga senior yang ia tidak sukai, menghampirinya ketika ia tengah berlatih. Ia sudah bertekad untuk menang sekarang, tidak peduli kalau ia itu egois atau monopoli. Atletik itu kan olahraga perorangan, tidak ada gunanya menahan diri segala.

"Ying!"

Ying menoleh, terkejut melihat Taufan menghampirinya. Ia kemudian menarik gadis itu menjauh dari senior-senior yang tampak tak suka.

Tapi, kemudian senior-senior itu tampak ketakutan dan pergi menjauh, Ying menoleh pada Taufan yang tersenyum padanya.

Lho? Apa ada sesuatu yang ia lewatkan?

"Beliin aku es teh dong."

"Ih, belum juga kompetisi, udah minta ditraktir!"

"Biarin, aku lagi bokek nih! Haus banget! Beliin ya!" pinta Taufan dengan nada maksa, maksudnya, manja.

Ying mendesah, ia kemudian merogoh sakunya dan memberikan selembar uang pada teman sekelasnya itu.

"Nih, beli sendiri."

"Makasih!" Taufan segera berlari pergi dengan wajah puas.

"YING! BERJUANG YA!" teriaknya ketika sudah jauh, membuat semua orang yang ada di lapangan mampu mendengarnya. Wajah Ying segera merah padam sementara Taufan segera meluncur pergi menuju kantin.

"Kamu pacaran ya sama Taufan?" salah seorang anggota klub atletik nyeletuk padanya.

"NGGAK! Siapa yang sudi pacaran sama cowok kayak gitu? Dia kayak gitu cuma demi dapat traktiran doang tahu!" seru Ying kesal, membuat semua temannya terkejut. Namun, sang gadis cina berbalik dan

memainkan kuncir rambutnya dengan wajah yang masih merah.

Ia kemudian menatap senior-senior, atau lebih tepatnya, mencari senior-senior yang sudah menghilang dari lapangan.

Kemudian ia tersenyum kecil.

Dasar Taufan, ia harus mencari tahu apa yang sudah ia lakukan pada senior-senior tersebut, kenapa juga ia bisa tahu? Mengerikan.

Dasar cowok absurd.

Dan Ying pun kembali berlatih, berlari secepat mungkin dengan perasaannya yang cerah bagaikan mentari yang membakar kulitnya.

TBC


Taufanx Ying! Akhirnya! Jujur aja, aku juga suka FangxYing, tapi TaufanxYing juga suka.

Ah, Taufan yang jahil tapi ujung-ujungnya minta maaf, itu terinspirasi dari kakaku sendiri. Dia kalau bercanda sama temen-temennya, ujung-ujungnya pasti minta maaf juga. Kecuali sama aku, kalau sama aku sih dia nggak minta maaf, sial -_-"

Dan dari para review, ok Gempa?

Haha... aku punya sedikit rencana buat si kembar yang tertinggal sendiri itu. Karena fanfic ini bertema platonic relationship, jadi, kenapa nggak? Hehehe... sedikit agak kasihan, cuma liat ntar aja.

Jadi, chapter besok soal Gempa ^^

Ayo review! Review!