Berbeda dengan apa yang dipikirkan orang kebanyakan, aku bukan fujoshi, tapi aku juga bukan homophobic. Aku tipe orang yang menerima semua jenis genre, mulai dari yaoi, yuri, shotacon, incest, lolicon dan sebagainya. Ada kalanya aku nggak suka yaoi, ada kalanya aku nggak suka straight pair, ada kalanya aku netral. Yah, intinya, suka-suka aku.

Untuk di fandom Boboiboy ini aku tegaskan, aku nggak mau nyemplung ke fandom yaoi. Come on! Berasa kurang banyak fanfic yaoi bertebaran di sini? Untukku sih, udah banyak banget... dan biasanya, aku lebih seneng nyantai di fandom non-mainstream.

Jadi, thanks, but no! Nggak peduli aku udah pernah buat fanfic yaoi rate M dengan tema hardcore sekalipun, sekalinya aku nggak suka yaoi di suatu fandom, ya nggak suka aja. Jadi, please! Don't ever ask me to make yaoi fanfic! Aku bukan orang yang bakal buat fanfic rekuesan orang, yah, mau kalau emang ceritanya aku juga suka. Tapi, yaoi? No, not in Boboiboy at least.

Tadinya aku mau bikin updetan Broken Piece dulu, but well, thanks for some people, aku ngerasa aku harus ngelurusin maksudku dengan chapter soal Gempa di chapter kemarin. I never think to make some yaoi, not shonen-ai, no BL, or anything like that from the start!

Yang aku pikir tuh, GempaxYaya. Buat beberapa orang yang udah baca fanficku dari kemarin, harusnya sih, sadar kalau aku nggak cuma ngehints HalixYaya, tapi juga GempaxYaya. Harusnya ya... Jadi gitu... jangan salah paham lagi, please. Jadi, bagi yang nggak suka GempaxYaya, silahkan mundur.

Silahkan dinikmati.


Kebanyakan orang beranggapan bahwa saat masa puber, yang sering dialami adalah cinta monyet. Ya, saat remaja, itulah saat dimana hormon mulai merubah tubuh serta perasaan menjadi lebih jelas secara jender dan di saat itu pulalah, mulai muncul ketertarikan terhadap lawan jenis.

Jadi, cinta yang muncul saat remaja dikatakan sebagai cinta monyet karena biasanya, para remaja merasa tertarik dengan seseorang, tapi berbeda dengan cinta orang dewasa. Apa bedanya sebenarnya? Banyak yang bilang kalau cinta monyet hanya tertarik dari segi fisik. Atau hanya 'suka-sukaan' saja, tapi tidak pernah memikirkan untuk menikah dengan orang yang disukainya sekarang.

Membingungkan, termasuk untuk Gempa.

"Gempa!"

Gempa menoleh, melihat sosok gadis berkerudung pink memanggilnya seusai rapat OSIS.

"Ya, ada apa?" tanyanya, otomatis senyum ramah terpulas di bibirnya.

"Uhm... aku minta resep biskuit buatanmu, boleh?"

Gempa mengerjap sekali.

Kemudian dua kali.

Karena ia tidak bisa memikirkan, darimana awal mula pertanyaan itu berasal, ia hanya memiringkan kepalanya sedikit dengan bingung. "Ya?"

"Uh, gini... waktu itu kan aku pernah bikin biskuit untuk Halilintar..."

Gempa sedikit mengernyitkan matanya, menerawang ke masa lalu. Ia ingat beberapa hari yang lalu, Halilintar pulang dengan sekotak biskuit, namun berbeda dengan biasanya, ia menendang Taufan yang hendak mencomot satu biskuit tersebut. Gempa langsung tahu kalau biskuit itu bukan dari secret admirer Halilintar seperti biasa.

Ternyata dari Yaya ya? Pantas saja...

"Terus?" tanya Gempa, mulai paham tapi masih belum bisa melihat dimana asal mula Yaya meminta resep padanya.

"Katanya, 'masih enak biskuit buatan Gempa', gitu," terang Yaya sampai akhir.

Gempa mengangguk-angguk. Nah, sekarang baru dia mengerti. Tak sulit membayangkan saudara kembarnya mengatakan hal seperti itu pada Yaya. Dari dulu, Halilintar memang pecicilan soal makanan. Kalau tak suka, kakaknya itu tak keberatan tidak makan seharian.

Hal itu yang mendorong Gempa untuk belajar masak hingga pandai. Tapi mungkin jadinya, Halilintar memang hanya suka makanan buatannya saja.

"Aku nggak pakai resep spesial kok. Cuma pakai resep biskuit biasa," balas Gempa. Ia belajar masak dari buku masak ibunya atau hanya browsing dari internet. Tidak ada yang spesial sama sekali.

Wajah Yaya terlihat kecewa. Gempa menjadi tak enak hati melihatnya. Ia memang ramah kepada semua wanita. Yah, bisa dibilang si kembar Boboiboy, ketiganya termasuk pemuda yang feminist, alias gentle terhadap perempuan.

Tapi, untuk Yaya, Gempa tidak suka melihat gadis itu murung. Gadis yang hampir sempurna itu, cantik, pintar, pekerja keras, tegas, tulus dan ramah, ia merasa gadis itu lebih cantik bila tersenyum.

"Mau bikin biskuit bareng?" tanyanya, merasa tak enak melihat sekretaris OSIS tersebut terlihat murung.

"Eh? Aku nggak mau ngerepotin kamu," kata Yaya lirih. Gempa hanya tertawa kecil.

"Nggak apa-apa. Kita bikin di rumahku gimana?" tawar Gempa lagi.

Melihat Yaya tersenyum balik padanya membuat Gempa merasa puas, ia tak suka melihat gadis pekerja keras ini murung.

"Oke deh."

IoI

Taufan memang kadang bisa sangat tidak sensitif pada situasi, alias cuek. Tapi, ada kalanya daya observasinya sangat mengagumkan. Mungkin itu terbentuk karena ia tumbuh di antara kedua saudara kembarnya. Sebagai anak tengah di antara keduanya, biasanya Taufan tidak kesulitan menebak jalan pikir mereka berdua.

"Aku pulaaaangg! Argh, panas banget!"

Taufan berlari kecil menuju dapur, dalam hati ingin meminta sang adik yang sudah pulang duluan untuk membuatkan es atau minuman yang menyegarkan. Namun, segera berhenti saat melihat pemandangan langka.

"Yaya?"

"Oh, hai Taufan."

Taufan mengerjap, menghilangkan rasa syoknya. Tidak heran ada sepasang sepatu berwarna pink di depan pintu. Dia kira siapa...

"Kalian ngapain?"

Sebenarnya tidak perlu bertanya pun, Taufan tahu Gempa dan Yaya sedang memasak. Tapi, anggaplah itu basa basi.

"Bikin biskuit," jawab Gempa. Ia tengah menggiling adonan menjadi pipih.

"Dalam rangka?" tanya Taufan lagi. Tidak biasanya ada perempuan sebaya dengan mereka datang ke rumah mereka. Kalau bukan kerja kelompok, biasanya tidak pernah.

"Nggak dalam rangka apa-apa. Aku minta diajarin bikin biskuit sama Gempa," jawab Yaya.

Taufan mangut-mangut. Matanya memperhatikan keduanya berinteraksi di dapur. Gempa yang sabar dan perhatian dengan Yaya yang kelihatan jelas, sangat antusias.

"Pokoknya digiling sampai tebalnya kira-kira satu sentimeter."

"Nggak boleh lebih dari itu?"

"Nanti kalau ketebelan kan jadinya keras."

Taufan mengambil kursi dari meja makan dan kemudian duduk sambil memperhatikan mereka berdua. Ia memperhatikan Gempa yang memandang Yaya dengan lembut, juga bagaimana Yaya memandang Gempa dengan kagum.

"Taufan? Kamu mau ikut bantu?" tanya Yaya, sadar kalau sedang diperhatikan.

"Nggak deh, capek baru beres main sepeda tadi," tolak Taufan halus.

"Oh ya? Belajar atraksi baru kak?" tanya Gempa.

"Iya, yang muterin sepeda di udara itu," jawab Taufan.

"Nah, sekarang dicetak. Tunggu, biar kucari cetakannya sebentar," Gempa segera membongkar lemari dapur. Sementara Yaya dan Taufan memperhatikan Ketua OSIS tersebut.

Taufan kemudian mengalihkan pandangannya ke Yaya.

"Gimana rasanya? Ada cowok yang lebih jago masak dari kamu?" goda Taufan. Wajah Yaya kontan memerah mendengarnya.

"Yah... hm... agak iri sih, tapi aku kagum kok," jawab Yaya sedikit terbata-bata.

Taufan tertawa kecil dan Yaya serta merta cemberut mendengarnya.

IoI

"Aku pulang."

Badan Yaya segera menegang mendengarnya. Sementara Gempa berbalik sambil tersenyum hangat.

"Kak Halilintar, pulangnya sore banget."

Sayangnya pernyataan sapa itu tidak dipedulikan oleh sang kembaran tertua, matanya menatap Yaya dengan tatapan tajam dan sedikit bingung.

"Mereka bikin biskuit bareng," yang menjawab Taufan, sibuk mengunyah biskuit yang sudah jadi.

"Kamu mau coba?" tanya Yaya.

"Yang ini Yaya yang buat, yang ini aku," tambah Gempa. Menyodorkan dua piring.

Halilintar mendengus kemudian mengambil biskuit buatan Yaya, kemudian melahapnya. Yaya diam, sampai menahan napas menanti komentar dari teman sekelasnya itu.

"Agak gosong."

Taufan tertawa kemudian tersedak biskuit yang dimakanannya. Sementara Gempa hanya menggelengkan kepala, memang kakaknya itu tak bisa memuji dengan benar dan terlalu frontal.

Yaya terlihat kecewa sementara Halilintar mengambil biskuit buatan Gempa. Kali ini tak ada komentar yang keluar.

"Aku mandi dulu," katanya.

Yaya mendesah, menatap kepergian Halilintar. Sementara Taufan yang sembuh dari tersedaknya kembali tertawa.

"Padahal kita bikinnya bareng, pakai cara yang sama, bahannya juga sama, kenapa punyaku jadinya kayak gini ya?" tanya Yaya, memakan biskuit buatannya sendiri. Agak keras dan pahit.

"Yah... kan nggak semua orang sekali coba langsung berhasil," hibur Gempa.

"Bukannya Yaya udah sering banget bikin biskuit?" ralat Taufan. Gempa mendelik padanya dan Taufan hanya tertawa kecil.

"Memang semua orang kan punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kak Halilintar juga nggak bisa masak, aku juga nggak pandai berhitung, Kak Taufan takut hantu, sama aja kan," hibur Gempa lagi.

"Tapi kan, kalau perempuan harusnya bisa masak," keluh Yaya.

"Nggak selalu kan? Ibu kami juga masakannya nggak begitu enak, tapi kami tetap suka," tambah Gempa lagi.

"Iya, ibu kalau masak jadinya sering keasinan," celetuk Taufan.

Yaya mendesah lagi kemudian tersenyum lirih. "Iya ya... yah, yang jelas aku harus belajar lagi... Makasih ya, udah ngajarin aku bikin biskuit," kata Yaya.

Gempa segera tersenyum balik. "Sama-sama."

Sementara Taufan memperhatikan keduanya, sambil mengunyah biskuit buatan Yaya. Ukh, pahit...

IoI

"Kamu ada hati sama Yaya ya?"

Gempa menekan pensil yang ia gunakan terlalu keras hingga ujungnya patah. Ia menoleh pada Taufan yang memandangnya dengan tampang serius. Bukti kalau kakaknya ini bukan sedang bercanda.

"Nggak kok," jawab Gempa, sedikit menyesal karena sempat salah tingkah.

"Ck, nggak usah bohong sama aku...," Taufan menyandarkan diri di meja belajar Gempa. Sementara sang adik mendesah dan mundur dari mejanya.

"Aku nggak bohong kak. Yaya itu cuma teman..."

"Kamu mundur karena Kak Hali?"

Gempa membelalakkan matanya. "Nggak aku-" ia berhenti bicara dan mengernyit. Sang Ketua OSIS bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri pintu kamarnya. Ketika ia membukanya, ia sama sekali tidak terkejut melihat Halilintar berdiri di sana.

"Ok, gini aja. Ayo kita bicarin semua ini, supaya nggak ada yang salah paham," saran Gempa.

"Kalau gitu, aku-"

"Kak Taufan juga."

"Lho kok? Aku nggak ada hubungannya-"

"Udahlah, ayo buruan!"

Dan ketiga saudara kembar itu pun segera berpindah tempat menuju sofa di depan televisi.

Halilintar memasang wajah serius yang sulit untuk dibaca. Taufan terlihat jelas kalau tidak mau berada di sana, karena ia tidak suka suasana serius. Sementara Gempa terlihat pasrah.

"Ok, begini. Mari jujur dengan perasaan masing-masing."

"Aku juga?" tanya Taufan. Gempa dan Halilintar kompak memandangnya dengan tajam. Sang kembaran anak tengah hanya bisa menutup mulutnya dan bersandar dengan lemas ke sofa.

"Aku sama Yaya nggak ada apa-apa. Aku juga nggak suka sama dia, maksudnya bukan dalam artian suka terhadap perempuan...," Gempa mulai menjelaskan. Saat Taufan memandangnya dengan tatapan tak percaya dan Halilintar memandangnya dengan tajam, Gempa mengacak-acak rambutnya.

"Ya ok. Gimana ya... aku nggak yakin. Iya sih, Yaya terasa sedikit lebih spesial dari perempuan-perempuan lain. Tapi, aku nggak bakal bilang aku suka sama dia. Maksudku..."

Gempa mendengus. "Yang jelas, Yaya cuma teman. Itu aja, titik."

"Yakin? Beneran?" tanya Taufan.

Gempa memandang Halilintar yang masih memasang tampang serius.

"Kamu bukannya nyerah karena Kak Hali kan?" tanya Taufan lagi.

Gempa mendengus. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Karena sang adik termuda tak kunjung menjawab, Taufan beralih pada kakaknya.

"Kak Hali sendiri? Perasaan Kak Hali sama Yaya gimana?"

Halilintar melirik pada Taufan, kemudian pada Gempa. Ia kemudian melirik ke arah lain.

"Entah."

Taufan menahan diri untuk tidak mengeluh. Memang kakaknya ini sangat irit kosakata. Tapi setidaknya dalam keadaan serius seperti ini, Taufan mengharapkan kakaknya mau bicara lebih panjang.

"Gini deh, biar kuperbaiki pertanyaannya. Yaya itu siapa buat Kak Hali?" tanya Taufan lagi.

Halilintar mengernyit sedikit. "Teman."

"Teman?"

"Iya teman."

"Nggak ada embel-embel apa-apa lagi?"

Halilintar melotot pada Taufan. Namun untuk kali ini, Taufan memikirkan jawaban barusan. Termasuk Gempa.

'Teman' untuk Halilintar artinya sangat luar biasa. Seingat kedua saudaranya, Halilintar tidak pernah memanggil siapapun sebagai teman.

Teman sekolah, teman sekelas, teman seklub memang ada.

Tapi, kalau cuma 'teman'?

Ini pertama kalinya.

Satu kata itu menjelaskan bagaimana spesialnya Yaya di mata Halilintar.

"Kak Taufan sendiri? Sama Ying?"

Taufan tersedak ludahnya sendiri.

"Nggak ada hubungannya," protesnya.

"Yah, supaya impas," tekan Gempa. Taufan mendesah dan cemberut sedikit.

"Ergh... uhm... gimana ya? Dia... manis."

"Manis?" tanya Gempa.

Taufan mengangguk. "Reaksinya lucu kalau kukerjai."

Gempa mangut-mangut.

"Jadi, Kak Taufan suka?"

Taufan mengernyit. "Nggak bisa dibilang suka juga...," jawabnya lirih.

Ketiga saudara kembar itu saling tatap dan mendengus bersamaan.

Mereka memang berbeda sifat, hobi dan keahlian.

Tapi, mereka mirip pada hal-hal yang aneh.

"Kataku sih ya, kamu nggak usah nyerah dulu Gempa. Kan Kak Hali nggak pacaran sama Yaya...," saran Taufan.

"Siapa yang nyerah?" tanya Gempa balik, membantah.

"Halah... ngaku deh..."

Halilintar bangkit dan menghampiri Gempa. Ia menempeleng sedikit kepala adik termudanya itu. Gempa terdiam, tidak melawan.

"Aku nggak butuh belas kasihanmu. Jadi, nggak usah ngalah."

"Siapa yang ngalah?" seru Gempa lagi.

"Kalau kamu sih, udah ketebak banget Gempa," tambah Taufan, sepakat dengan Halilintar untuk kali ini.

"Ampun, aku juga belum tentu suka sama Yaya...," keluh Gempa.

"Iya, tapi kamu tahan perasaan kamu kan?" tanya Taufan.

Gempa bungkam dan dia ditempeleng Halilintar lagi.

"Bego."

Gempa meraba dahinya yang ditempeleng terus oleh kakaknya.

"Namanya perasaan biarkan mengalir kayak air aja. Kan nggak tahu, bakal berkembang jadi bunga apa nggak," saran Taufan sok puitis.

"Maksudnya?" tanya Gempa dengan pandangan bingung.

"Maksudnya, kamu kan nggak tahu bakal suka Yaya atau nggak. Aku juga sama, Kak Hali juga sama. Kalau memang nanti kalian berdua ujung-ujungnya suka sama Yaya, yah.."

Di sini Taufan berhenti. Kedua saudaranya mengerjap menantinya melanjutkan perkataannya.

"Pasti jadinya sinetron banget entar."

Gempa menggeleng-geleng mendengarnya, sementara Halilintar segera menjitak adiknya yang suka bicara sembarangan itu.

"Aduh! Kok aku dipukul sih!?" protes Taufan. Halilintar hanya mendengus.

"Tapi, seenggaknya aku safe! Iyei!" Taufan melompat di sofanya, membuat Gempa memutar matanya. Untuk apa kakaknya senang padahal ia juga belum tentu suka sama Ying?

"Aku selalu tahu kalian berdua itu lebih mirip. Nggak heran suka cewek yang sama," ejek Taufan lagi.

"Oh ya? Kak Taufan mirip siapa?" sindir Gempa.

"Aku? Aku adalah aku! Original! Nggak plagiat!" seru Taufan, mulai ngaco.

"Apa katamu!?" Halilintar segera mengunci leher adiknya dengan lengannya.

"Argh! Kak Hali! Aku nggak bisa napas!"

Gempa hanya tersenyum melihat keduanya. Ia menatap Halilintar kemudian Taufan.

Dalam hati, ia paling tidak menginginkan mereka pecah kembali. Tak peduli ocehan Taufan, ia tidak mau berseteru dengan Halilintar dengan alasan apapun, apalagi perempuan.

Tapi... yah...

Belum tentu ia suka Yaya, belum tentu juga kakaknya itu suka Yaya. Jadi...

Lihat nanti saja deh...

IoI

"Yaya! Ini jepitanmu jatuh!"

Yaya berbalik dan melihat Gempa menyodorkan jepitan bunga miliknya.

"Oh makasih, aku aja nggak sadar ini jatuh," katanya merasa kagum dengan perhatian pemuda di depannya itu.

"Oh ya, ini."

Kali ini Gempa menyodorkan sebuah buku resep. Yaya kebingungan melihatnya.

"Ibuku jarang masak, tapi suka beli buku masak. Buku ini yang paling sering aku pake. Beberapa udah kutandain, gampang terus hasilnya juga enak," jelas Gempa.

Yaya membuka buku resep tersebut. Melihat beberapa halaman memang sudah ditandai oleh tulisan tangan yang ia kenal sebagai tulisan Gempa.

"Makasih... aku boleh pinjam?" tanya Yaya.

"Memang sengaja kubawa buat kupinjamkan ke kamu. Kalau kamu latihan terus, pasti lama-lama pinter masak kok," hibur Gempa. Senyum Yaya merekah dan pipinya sedikit kemerahan.

"Makasih..."

"Sama-sama. Kalau masakanmu udah enak, nanti masakin aku ya."

"Ih kamu!"

"Hahahaha..."

Sementara tak jauh dari sana...

"Kak Hali cemburu ya?"

Halilintar mendengus dan menjitak kepala adiknya yang jahil itu.

"Aduh!"

"Yang cemburu siapa?" tanya Halilintar, berbalik dan melangkah menjauh.

Taufan mengelus kepalanya. Ia melirik ke Gempa dan Yaya yang sedang asik bercengkrama. Kemudian menatap Halilintar yang pergi kembali ke kelasnya.

"Uh... semoga hidupku nggak berubah jadi kayak sinetron. Amit-amit...," doa Taufan tidak jelas.

Yah, untuk apa dipusingkan? Memang mereka semua belum mencapai apa itu 'suka'. Ibarat bibit yang dirawat bersama, belum tentu ketiganya akan berkembang menjadi bunga. Yang bisa mereka lakukan sekarang, hanya membiarkan bibit itu tumbuh sambil sesekali menyiraminya dan memupuknya, sampai nantinya akan tumbuh berkembang lebih jauh.

Kalaupun memang ketiganya berkembang menjadi bunga?

Taufan mendengus. Ia tahu, mungkin tragedi bisa terjadi, tapi yang pasti, tidak akan menjadi seperti sinetron. Atau malah jadi kayak dating sim game genre otome? Entahlah, tapi Taufan tidak merasa kedua saudara akan jadi seperti itu.

Ia harap begitu.

End


GempaxYayanya kurang? Hehe, aku merasa udah cukup karena di Deep Breaths pun hints mereka sudah muncul. Kan udah pergi belanja bareng, hehe. Bahkan kalau ada yang ngeh, chapter pertama HalixYaya, Gempa langsung nyiapin makanan buat Yaya tanpa diminta Halilintar kan? Dan gimana reaksi Gempa pas liat Halilintar ngebopong Yaya.

Sayangnya, mungkin nggak ada yang ngeh.

Kalau ditanya, Yaya sukanya siapa? Halilintar atau Gempa? Yah, sama kayak si kembar Boboiboy yang belum jelas dengan perasaan mereka, Yaya juga sama. Dia mungkin lebih condong ke Halilintar, tapi bukan berarti Gempa nggak ada kesempatan.

Antara Bad Boy dengan Nice Guy. Ada yang bilang, Bad Boy asik buat diajak pacaran, tapi Nice Guy lebih pas buat diajak nikah *ngomong apa sih?

Aku tahu, lebih banyak yang suka HalixYaya. Tapi, aku juga suka GempaxYaya. Kedua pasangan itu sama-sama manis.

Ok. Sekian fanfic gaje dariku. Terima kasih buat yang udah bersedia review, favorite, follow atau bahkan yang silent reader.

Sampai jumpa di fanficku yang lain ^^