Idea&Storyline:

©2015, ohmira. All rights reserved.

Translation:

©2015, pewdiepoo. All rights reserved.

.

Chapter 2:

( The Only Reason to Keep Breathing Has Been Taken Away )

.

Sehun meletakkan kepalanya diatas pangkuan Chanyeol seraya pandangan mereka tertuju pada layar tv. Mulut mereka sibuk mengunyah popcorn dan berusaha menutup rapat-rapat telinga mereka dari ocehan Byun Baekhyun. Malam minggu adalah malam favorite Sehun dibanding dengan malam-malam lainnya. Malam minggu berarti menonton bersama dengan kekasihnya dan juga sahabat baiknya. Enam tahun menyandang status sebagai kekasih Chanyeol adalah hal yang paling membahagiakan untuk Sehun. Sudah pasti, karena Chanyeol benar-benar mencintainya dan memberikan kebahagiaan untuknya. Meninggalkan kekelaman dari masa lalunya.

"Kau hanya memberiku kabar sebanyak tiga kali selama seminggu ini," Sehun mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya ia tidak ingin terdengar manja, tetapi ya inilah adanya.

"Kalau aku tidak salah ingat, saat aku menelfonmu, kau selalu sedang sibuk dan tergesa-gesa. Aku tidak ingin menganggu waktumu dan pasien-pasienmu."

"Lalu, kau membalas dendam? Kau cemburu dengan para pasienku, ya? Mereka semua kan, wanita yang sudah lanjut usia dan rentan karena penyakit mereka. Bahkan mereka tidak mempunyai tenaga untuk sekedar membersihkan bokong mereka."

"Ya karena itu, kan, kau memandikan mereka. Aku iri dengan mereka." Perkataan Chanyeol membuat Sehun tersipu hebat dan menghadiahi dorongan keras pada perut Chanyeol. Sehun melirik Baekhyun dengan ekor matanya yang terlihat masa bodoh dengan mereka. Lagipula, pemuda bermata sipit itu sudah kebal melihat adegan romantis antara Sehun dan Chanyeol.

"Ouch, kenapa kau memukulku?" Chanyeol merintih kesakitan. "Kenapa kau merona seperti itu? Aku rasa, kau hanya ingin menyentuhku."

"Hyung." Sehun merengek agar Chanyeol menghentikan aksinya. Kemudian ia bangkit dari posisinya untuk duduk dengan benar.

"Okay, okay. Dasar bayi," Chanyeol memeluknya dari belakang. Ia meletakkan dagunya diatas bahu Sehun. Menarik Sehun agar semakin mendekat dan duduk diatas pangkuannya. Sehun tidak mengerti dengan perasaannya. Setiap Chanyeol mengatai dirinya seperti bayi, Sehun merasa sedikit risih. Ia merasa Chanyeol menganggapnya hanya sebagai anak kecil yang masih takut untuk menjalani hidup. Dan sejujurnya, itu memang tidak salah. Tapi, ia terus berusaha untuk bersosialisasi, apalagi pekerjaannya menjadi seorang perawat di sebuah rumah sakit khusus memberinya banyak pelajaran.

"Seorang bayi yang senang mencium wanita paruh baya." Chanyeol bergumam dibahu Sehun. Perkataan Chanyeol membuat Sehun kembali pada kekesalannya. Sehun beralih menatap Chanyeol dengan pandangan tidak percaya.

"Harus berapa kali aku mengatakannya padamu? Nyonya Kim menderita Alzheimer, dan ia sangat merindukan anaknya. Ia menganggapku sebagai anaknya. Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan kalau seperti itu?" Sehun tahu wanita paruh baya mana yang dimaksud oleh Chayeol dalam ucapan sebelumnya. Ia melihat Sehun mencium pipi wanita tua itu sebulan yang lalu ketika ia mengunjungi Sehun. Dan sampai saat ini, Chanyeol terus-menerus mengungkit hal tersebut.

"Dengan begitu kau bisa menciumnya didepan umum seperti itu? Ketika aku ingin menciummu di bioskop minggu lalu, kau langsung memukul wajahku." Walaupun Sehun tidak melihat Chanyeol, Sehun tahu Chanyeol tengah menyunggingkan smirk nya.

"Kau ini benar-benar," Sehun memutar bola matanya dan menghela nafasnya. Ia memasang jurus mengerucutkan bibirnya.

"Aku hanya bercanda, okay. Berhenti mengerucutkan bibirmu seperti itu, kau sengaja mengundangku untuk menggigitnya?" Chanyeol menyambar bibir mungil Sehun dan membuat Sehun tersenyum dalam ciuman mereka. Chanyeol tahu betul bagaimana membuatnya bahagia.

Sehun mencoba untuk membalas ciuman Chanyeol ketika Baekhyun tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi. Chanyeol dan Sehun sama-sama terkejut. Ia mendorong Sehun untuk menyingkir darinya. Chayeol bingung, apakah ia harus menenangkan Sehun atau berlari mengejar Baekhyun.

"Kau diam disini. Aku akan melihat keadaannya." Chanyeol bangun dari duduknya dan langsung menuju ke kamar mandi.

"Ada apa dengan Baekhyun hyung?" Sehun sedikit tersadar dari keterjutannya. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya dan mengatur nafasnya. Setelah menunggu selama lima menit, rasa penasarannya tak tertahankan lagi. Suara yang ditimbulkan oleh Baekhyun sangat tidak enak didengar oleh telinganya.

Sehun berjalan mendekat kearah kamar mandi. Ia berhenti tepat didepan pintu. Ia tidak berani mendekat kearah Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun terlihat memuntahkan seluruh isi perutnya kedalam kloset. Sehun dapat melihat air mata menggenang diujung mata Baekhyun. Baekhyun pasti kesakitan. Chanyeol mengelus punggung Baekhyun secara perlahan. Sehun tidak tahu mengapa, tetapi melihat pemandangan mereka berdua seperti itu membuat perutnya bergejolak hebat.

Baekhyun bangkit untuk berkumur dan membasuh wajahnya dengan Chanyeol yang tetap berdiri disampingnya. Baekhyun langsung memeluk Chanyeol dengan erat.

"Aku rasa, aku tidak bisa terus-menerus seperti ini, Yeol. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku tengah hamil anakmu." Baekhyun menangis tersedu didada Chanyeol, sementara Chanyeol melayangkan kecupaan-kecupan singkat dipuncak kepalanya.

Sehun dapat merasakan hatinya hancur berkeping-keping dan meronta untuk meledak dari dalam rongga dadanya. Badannya mulai terhuyung. Ia menggigit bibirnya dengan gigi bergematar dan mengepalkan tangannya untuk mengotrol nafasnya.

Chanyeol menangkup kedua sisi wajah Baekhyun untuk menatap matanya.

"Ssh, kita hanya perlu membuatnya bahagia beberapa lama lagi. Ia sudah terlalu menderita selama ini." Chanyeol menghapus air mata yang mengalir diwajah Baekhyun dan merundukkan tubuhnya untuk mencium Baekhyun.

Melihat pemandagan yang tersaji dihadapannya, perlahan semua bayangan menyakitkan berputar dibenaknya, membawanya kembali ketika dirinya kepada kejadian sepuluh tahun yang lalu. Ketika ayahnya mencium seorang wanita yang bukan ibunya. Karena kenyataannya, saat itu sang ibu berada dipojok ruangan, tengah meringis hebat akibat sakit kanker yang dideritanya dan memejamkan matanya erat. Menghindari pemandangan dimana suami tak berperasaannya mencumbu wanita lain tepat dihadapan wajahnya. Sehun sangat marah kepada ayahnya, marah kepada sang perusak rumah tangga orang, menangis untuk kepercayaan ibunya yang dilanggar oleh ayahnya dan merasa frustasi karena tidak bisa berteriak dan menyumpahi ayahnya.

Dan sekarang, ia marah pada Chanyeol yang mengkhianatinya. Murka pada Baekhyun yang melanggar kepercayaannya dan merusak persahabatan mereka. Semua nya membuat kepalanya pening, ia ingin muntah. Kakinya lemas, gagal untuk menopang berat tubuhnya sendiri sampai akhirnya tubuhnya ambruk diatas lantai.

"Sehun…" Baekhyun dan Chanyeol terkejut.

Sehun menangis. Memeluk erat lututnya seakan itulah hidupnya. Baekhyun dan Chanyeol dapat melihat tubuh Sehun bergemetar hebat sampai Sehun tersedak oleh air matanya sendiri.

Kepanikkan mereka semakin menjadi dan mebuat Baekhyun kembalu terisak. Dada Chanyeol terasa sesak melihat Sehun yang terlihat sangat rapuh seperti itu. Ia ingin memeluk Sehun tetapi waktu mereka sedang tidak tepat. Ia tahu, Sehun pasti sangat hancur saat ini tapi ia tidak tahu bagaimana caranya menunjukkannya. Mengetahui Sehun begitu rentan tetapi ia tetap menyakiti anak itu membuanya tercekik oleh perasaan bersalah.

"Kalian pembohong! Pengkhianat! Kalian pengkhianat!" Sehun terus meneriaki kata tersebut ibarat sebuah mantra. Ia mundur sedikit dan menjambak rambutnya dengan penuh rasa frustasi. Frustasi dengan dirinya sendiri karena tidak mampu menghadapi kedua manusia tersebut. Sehun ingin berteriak dan melayangkan sumpah pada Baekhyun dan Chanyeol tapi ia tidak bisa. Ia membenci dirinya yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Ia ingin Baekhyun dan Chanyeol tahu bahwa ia sangat marah. Sehun merasa frustasi dengan status persahabatan mereka. Ia ingin Baekhyun dan Chanyeol seberapa terluka dirinya, terlampau luka sampai ia merasa bahwa tidak satupun tersisa bagi Sehun untuk bisa ia rasakan.

"Sehun, aku minta maaf." Akhirnya Chanyeol mengangkat suaranya. Ia tidak mengerti lagi bagaimana cara untuk mengendalikan keadaan ini. Sehun malah semakin menjadi. Tidak ada respon dari Sehun, ia hanya terus meneriaki kata-kata pengkhianat dan semakin menjambak rambutnya.

Perasaan bersalah menjalar keseluruh tubuh Baekhyun. Ia pernah melihat Sehun seperti ini hanya dua kali selama hidupnya. Pertama, ketika ayahnya kabur dari rumah bersama selingkuhannya dan meninggalkan dirinya yang baru berusia tiga belas tahun bersama sang ibu yang tengah sakit keras. Dan kedua, ketika pemakaman ibunya delapan tahun yang lalu. Ia tidak membayangkan dirinya akan menjadi alasan yang membawa tangisan hebat Sehun seperti ini setelah bertahun-tahun lamanya.

"Sehun, please. Jangan seperti ini.." Chanyeol berusaha kembali.

"Sehun, teriak padaku dan marahi aku kalau itu bisa membuatmu lebih baik."

"Sehun, kumohon, jangan menangis. Aku mohon, katakan sesuatu."

"Sehun, jangan menyakiti dirimu seperti itu…"

"Sehun, pukul aku!"

"Pergi kalian berdua dari hidupku!" Sehun akhirnya berteriak. Hanya itulah yang dapat Sehun katakan. Ia memejamkan matanya erat, menutup kedua telinganya erat dari dunia.

Perlahan, Chanyeol menarik Baekhyun yang masih terisak untuk ikut dengannya. Chanyeol tahu, Sehun butuh waktu.

Baekhyun berhenti tepat disisi Sehun dan menarik Sehun kedalam pelukkannya. Dan kemudian menangis bersama Sehun.

"I'm not sorry for fall in love, but I'm sorry for hurting you." Dengan itu, ia melepaskan Sehun dan berjalan menuju Chanyeol. Meninggalkan Sehun menangis sendirian.

Sehun merebahkan tubuhnya diatas lantai, terus memeluk tubuhnya sendiri. Ia merasa sangat aman dengan dirinya sendiri. Ia benci dengan apa yang ada didunia ini. dunia ini terlalu kejam untuknya. Betapa menyedihkannya nasib yang ditulis untuknya, membuatnya tersenyum untuk beberasa saat lalu membawanya kedalam tangis pada detik berikutnya. Ia terus menangis, tersedak oleh air matanya yang terlalu deras. Sehun berusaha memasok oksigen untuk paru-parunya. Bahkan ia merasa jijik untuk bernafas dengan udara dunia ini yang menjijikan. Ia ingin bersama ibunya. Ia sangat merindukan ibunya. Tidak seorangpu pernah menyayanginya seperti yang dilakukan oleh ibunya.

"Ibu…" Tubuhnya terasa mati rasa, sakit, nyeri. Tapi ia tidak bisa merasakan sakit hatinya.

Satu-satu alasan baginya untuk tetap bernafas telah dirampas oleh sahabatnya sendiri. Dan itu menyakitkan untuknya.

.

.

.

To be continued.

.

Yep, chapter 2 up! If this too short for you, I'm sorry, okay? because I made the translation sesuai sama chapter aslinya, hehehe =))