Idea&Storyline:
©2015, ohmira. All rights reserved.
Translation:
©2015, pewdiepoo. All rights reserved.
.
( a/n: I really am thankful to you guys who keep an eyes on this trans fic, glad to read ur review. but before, I just wanna make a note on you guys. seriously, this fic was so long chaptered. 29 chapters if you guys wanna know. And most of chapter wont be more than 2000w, I've checked it. I don't wanna ruin what the original author has done her best to write-down this fic. I'll keep posting the chapters one by one. If you guys feels disappointed bcs of 'too short chapter', I wont force you for wasting time on reading this . Thank you ;D )
.
Chapter 3:
( The New Life )
.
Sehun menelan salivanya dengan berat. Pandangannya mengabur total. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya seakan mengering tanpa membasahi pipinya. Setelah Chanyeol dan Baekhyun meninggalkan rumahnya kemarin malam, ia hanya meringkuk dan menangisi ibunya sampai ia jatuh tak sadarkan diri. Ketika ia membuka matanya kembali pada pukul empat pagi, seluruh tubuhnya seakan mati rasa sampai-sampai rasa sakitnya tak bisa lagi ia rasakan. Setelah itu, Sehun mengunci dirinya dikamar mandi, mengisi bath tube dengan air dingin lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya sampai tubuhnya bergetar dan menggigil. Sampai akhirnya, tepat pukul tujuh ia bangkit dari acara berendamnya dan langsung mengenakan seragam perawatnya. Ia menaikki kereta untuk sampai ke rumah sakit dimana tempatnya bekerja. Dan disinilah ia sekarang, diambang rooftop rumah sakit, berfikir untuk menyelesaikan seluruh penderitaannya dengan menjatuhkan diri kebawah sana karena ia sudah tidak mempunyai alasan untuk hidup lagi.
"Sehun?" seseorang menanggilnya dari belakang sana. Sehun memutar wajahnya dan mendapati rekan kerjanya tengah berdiri di ambang pintu atap.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Luhan mengerutkan alisnya seraya mendekat kearah Sehun untuk melihat wajah Sehun dengan jelas. "Kau tampak mengenaskan." Komentar Luhan dengan ekspresi kasihan. Ya, Sehun memang terlihat sangat mengenaskan dengan wajah, mata yang membengkak, hidung yang memerah seakan dirinya habis ditampar oleh hantu.
Sehun berdeham pelan, menarik nafasnya seolah-olah seperti orang yang sedang flu seraya menghadapkan tubuhnya kearah Luhan, "Tidak ada. Aku hanya membutuhkan udara segar." Suaranya terdengar serak di telinganya sendiri.
Melihat keadaan Sehun saat ini, Luhan tidak percaya dengan jawaban yang dilontarkan oleh Sehun. Tetapi, ia tidak ingin membuat Sehun merasa tertekan.
"Kau tahu, kan, jika kau membutuhkan teman untuk mencurahkan isi hatimu, kau bisa mempercayaiku." Luhan menepuk pelan bahu Sehun, berusaha memberikan Sehun kekuatan melalui tepukan sederhana itu untuk menghadapi apapun masalah yang tengah dihadapi olehnya saat ini.
Sehun memberikan sebuah senyum tipis. Hidupnya saat ini tidak sama seperti hidupnya dahulu ketika ia masih kecil. Setidaknya, saat ini ia masih memiliki orang yang peduli padanya walaupun tanpa orang terpenting dalam hidupnya sebelum ini, kekasih dan sahabatnya yang sudah pergi. Bagi Sehun, kedua orang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya sudah mati bersamaan dengan hatinya.
"Omong-omong, Suho mencarimu. Ia bilang bahwa ada sesuatu hal yang harus ia bicarakan denganmu. Ayo kita temui dia." Luhan menarik Sehun untuk pergi menemui Suho.
Sesampainya mereka dilorong rumah sakit, Luhan mengatakan bahwa ia harus menemui pasiennya. Setelahnya, Sehun kembali melangkahkan kakinya ke ruangan Suho, sang suster kepala. Ia melemparkan senyum tipisnya kepada beberapa pasiennya yang tengah berjalan-jalan untuk menghirup udara segar dan beberapa kerabat dari para pasien yang tengah mengunjungi mereka. Ya, dunianya memang sudah berubah. Orang-orang disekitarnya kini, tidak lagi mencaci dirinya. Tidak seperti teman-temannya ketika ia berada dimasa sekolahnya dulu. Ia menyukai saat-saat dimana ia menghabiskan waktunya bersama pasien-pasien yang ia rawat. Mereka semua mengingatkan Sehun kepada mendiang sang ibunda yang meninggal akibat kanker. Sehun tidak sempat membawa ibunya untuk mendapatkan perawatan dirumah sakit khusus ini. Bahkan Sehun tidak mempunyai uang untuk membelikan obat untuk ibunya kala itu. Dan Sehun sangat menyesali itu. Tapi sekarang, kesempatan itu terbuka lebar untuknya. Ia ingin merawat pasien-pasien disini sebagaimana ia ingin merawat ibunya sendiri. Ia tidak ingin para pasiennya bernasib sama seperti ibunya. Sekarang ia tahu, Sehun tahu bahwa dirinya masih mempunyai alasan untuk tetap hidup. Ia harus tetap hidup untuk pasien-pasiennya.
Begitu sampai didepan pintu ruangan Suho, Sehun langsung mengetuk pintu tersebut. Ketika ia dipersilahkan untuk masuk, Sehun membuka pintu tersebut dan disambut oleh senyum menawan Suho.
"Duduklah," Suho memberikan Sehun perintah untuk duduk dibangku yang tersedia di hadapannya.
"Luhan hyung bilang kau ingin menemuiku."
"Ya, memang benar. Tapi tunggu, apa yang terjadi denganmu? Wajahmu terlihat sedang tidak baik." Tanya Suho penasaran.
"Tak apa. Aku hanya merasa sedikit tidak enak badan. Mungkin aku demam." Kebohongan kedua yang ia lakukan dalam pagi ini.
"Seorang perawat terserang demam terdengar sedikit tidak baik. Kau harus memeriksakan dirimu. Aku akan mengizinkanmu untuk pulang lebih awal hari ini," Suho mulai menceramahinya dan Sehun sudah terbiasa dengan hal tersebut. Suho adalah seseorang yang sangat perhatian. Dan Sehun berterimakasih akan hal itu. Setidaknya, seseorang mencemaskan dirinya untuk tidak jatuh sakit ketika dirinya sudah dalam keadaan tersakiti oleh hidupnya. Alasan lain baginya untuk tetap hidup.
"Ya, aku pasti akan melakukannya. Kau tenang saja." Sehun memberikannya sebuah senyum.
"Baiklah kalau itu katamu. Oh ya, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu." Suho menutup berkas salah satu pasiennya dan beralih menatap Sehun dengan serius. "Neena sedang dalam cuti kehamilannya saat ini. Jadi, Nyonya Kim memintamu untuk menggantikan posisi Neena untuk merawatnya secara intensif. Apa kau mau?"
Sehun mengenal Nyonya Kim secara pribadi. Beliau pernah menjadi salah satu pasiennya sebelumnya, ketika dirinya dirawat karena kankernya yang sudah mencapai stadium terakhir. Tetapi setelah itu, beliau memutuskan untuk rawat jalan di rumahnya karena beliau ingin menghabiskan masa-masa terakhir hidupnya dengan keluarganya. Itulah yang Neena katakan pada Sehun.
Kalau Sehun menerima pekerjaan ini, itu artinya ia harus selalu berdekatan dengan sang pasien. Dan itu juga berarti ia harus pindah ke mansion Nyonya Kim. Tetapi ia masih bisa mengambil hari liburnya pada setiap penghujung minggu. Dan ini adalah tujuan Sehun dalam hidupnya, merawat pasien yang menderita sakit kanker. Dan mungkin, inilah waktu yang tepat untuknya memenuhi keinginannya tersebut. Dan ia bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan menyibukkan diri untuk lari dari bayang-bayang kejadian menyakitkan kemarin malam yang terus menghantuinya ketika ia sedang sendiri. Ia harus memulai hidupnya kembali tanpa Chanyeol dan Baekhyun. Ia harus membuktikan pada mereka bahwa ia mampu melanjutkan hidupnya tanpa mereka. Sehun tidak butuh pengkhianat seperti mereka dalam hidupnya.
"Aku setuju, aku akan mengambil tawaran itu." Sehun mengucapkan kata-katanya dengan tegas. Mungkin ini adalah saat dimana dirinya hidup dengan dirinya sendiri. Menutup dunia disekitarnya untuk dirinya sendiri. Melakukan apa yang ia inginkan, tanpa memperdulikan orang lain. Jika orang lain mampu merasakan bahagia dalam hidup mereka, dirinya juga bisa.
"Semudah itu kau menyetujuinya? Setahuku, kau punya seorang kekasih yang sangat lekat denganmu untuk mendiskusikan keputusanmu ini." Suho terdengar konyol. Chanyeol memang biasa menunggu Sehun dirumah sakit ini untuk makan siang bersama atau menemani Sehun untuk makan malam ketika ia mendapat tugas jaga malam.
Sehun tersenyum tipis atas perkataan Suho. Ia tidak ingin membuat Suho berspekulasi yang tidak-tidak dan kemudian menginterogasinya seperti seorang penjahat.
Suho mendesah kalah seraya mempertemukan kedua telapak tangannya hingga berbunyi.
"Baiklah kalau begitu. Kau membuat tugasku menjadi lebih ringan. Semua rincian ada didalam berkas ini. Kau bisa memulai pekerjaanmu besok. Untuk selebihnya, kau dapat menelfonku kapanpun kau mau, okay."
"Tapi untuk saat ini, kau harus memeriksakan dirimu dan kau boleh pulang lebih awal. Semoga beruntung dengan pekerjaan barumu."
.
"Terimakasih untuk makan malam ini," Kyungsoo bergumam tepat didepan bibir Jongin. Tangan kanannya mengalungi leher Jongin sementara tangan yang lainnya mengelus paha bagian dalam Jongin.
"Apa yang kau maksud dengan 'makan malam'?" Jongin tersenyum miring, membuahkan sebuah pukulan pelan dipahanya oleh Kyungsoo. Jongin terkikik begitu melihat semburat merah muda diwajah Kyungsoo.
"I will miss you and your stupid slash perverted jokes." Kyungsoo menarik Jongin agar mendekat kearahnya sementara tangan Jongin melingkar di pinggang Kyungsoo. Kyungsoo mendaratkan bibirnya diatas bibir ranum milik Jongin. Jongin menjilat bibir bawah Kyungsoo sebagai permintaan izin. Kyungsoo sedikit terkesiap dan tanpa babibu Jongin langsung mengambil alih lidah Kyungsoo dan mendominasi permainan. Jongin menjilat langit-langit mulut Kyungsoo yang terasa manis. Mereka diam berada dalam posisi mereka untuk beberapa saat sampai akhirnya Kyungsoo melepaskan tautan bibir mereka dan terengah. Mereka kehabisan nafas dan nafas hangat yang Jongin hembuskan dapat Kyungsoo rasakan membelai wajahnya.
"Tetapi terlalu mencintai orang yang kau bilang sesat ini." Jongin mencium dahi Kyungsoo dan mebuat Kyungsoo tertawa kegelian. Tawa Kyungsoo membuat Jongin bergetar. Ia hanya terlalu mencintai pemuda ini. Delapan tahun mereka habiskan bersama untuk menjalin kasih, nyatanya masih tidak cukup bagi Jongin untuk tidak membuat detak jantungnya berhenti setiap kali ia berada dekat dengan Kyungsoo. Mereka hanyalah remaja yang di mabuk cinta. Mengingkan sentuhan satu sama lain ketika sedang tidak bersama. Jadwal kerja Jongin sebagai pebisnis yang sangat padat jadwal panggung Kyungsoo yang tidak tentu sebagai penyanyi membuat mereka sedikit kesulitan untuk menghabiskan waktu bersama. Setiap moment yang mereka habiskan bersama terlalu sempurna sehingga membuat mereka sulit untuk lepas.
"Kalau begitu, kita akan bertemu minggu depan." Kyungsoo menelusuri rahang Jongin dengan ibu jarinya, mengagumi kesempurnaan kekasihnya tersebut.
"Apakah itu isyarat untukku untuk pergi?" Smirk Jongin yang menggoda masih tersungging diatas wajah tanpa cacat itu. Ia masih menjebak Kyungsoo dalam posisi mereka tanpa ada minta untuk bergerak menjauh sedikitpun.
"Yap, karena penerbanganku sekitar tiga puluh menit dari sekarang. Dan aku benar-benar harus pergi." Kyungsoo memasang senyum permintaan maafnya. Ia mencium bibir Jongin sekali lagi untuk menghilangkan ekspresi merengut yang tengah dipasang oleh Jongin. Setelahnya, Jongin tersenyum seperti orang bodoh dan bangkit dari tempat duduknya.
"I love you." Jongin mencium hidung Kyungsoo sebelum benar-benar keluar dari mobil.
"I love you too." Balas Kyungsoo serta melambaikan tangannya kearah Jongin.
Mobil Kyungsoo sudah melaju jauh dan hampir tak terlihat lagi oleh pandangan Jongin sebelum ia memasuki mansionnya. Ia mendapati kakak laki-lakinya tengah memasang senyum miring kearahnya seraya menyandarkan beban tubuhnya kepada mobilnya. Jongin yakin si bodoh itu tengah memergokinya saat ini.
"Having a smexy time with your little secret, huh?" mendapati Jongin yang tak kunjung menjawabnya, ia melangkah mendekat kearah Jongin dan melangkah masuk kedalam rumah mereka secara bersama. Jongin mengabaikan kakaknya itu.
"Aku jadi penasan apa reaksi Mama kalau aku mengatakan bahwa kau masih bersama dengan makhluk kecil menyeramkan namun menggemaskan itu. Aku yakin, dia pasti benar-benar memiliki sesuatu yang sampai membuatmu masih saja bertahan dengannya walaupun Mama sudah mengatakan tidak untuknya." Kris mendengus dengan kata-katanya sendiri. Ia mengangkat tangannya untuk merangkul bahu Jongin. Jongin hanya memutar matanya malas.
"You sure have such a pain on ass. I don't really think that your existence after almost a month disappereance is just to be Ma's goo goo eyes." Jongin menghempaskan tangan Kris dan melangkah menuju kamar ibunya. Perawat baru ibunya pasti sudah berada disini sekarang. Namun Kris tetap mengekor dibelakangnya.
"Emm, I need to, if not, Ma will treat me like a stepson like she used to."
Jongin berusaha menutup telinganya rapat-rapat. Tidak ingin meladeni pertengkaran yang sedang dipancing oleh Kris saat ini. Itu hanya akan membuang waktunya. Ia memutar gagang pintu kamar ibunya dan sesosok bertubuh tinggi membuatnya terkesiap detik itu juga, dan begitupun dengan sosok bertubuh tinggi itu. Dan untuk beberapa saat, mereka saling menatap satu sama lain tanpa bersuara.
"Wow, look who we have here. Such a nice bubble butt." Ungkap Kris yang sukses membua Sehun memerah.
"They're cute." Dan dengan itu, Kris mendapatkan sebuah pukulan dibelakang kepalanya dari Jongin.
.
.
To be continued.
.
Yes there here is, chapter 3. I'm in the middle on my way to dreamland and I remained that I have a promise on you guys to post one chapter one day hahaha=)) fyi, in the last seven paragrahps, I decide to make some dialogues stood still in english bcs its too explicit(?) or maybe will confussing you guys if I translate it.
And also, if you guys wanna have some chit-chat with me, just meet me on my twitter pevvdiepoo. Ayo kita kenalan! ( cieee wkwk )
For your information again, maybe I will not be going post the 4th chapter tomorrow. because I have something deadly important to do I really am sorry, okay? /kisseshugs
